[Freelance] (Confessions) (Chapter 1)

Judul:Confessions (chapter 1)

Author: Jung Eun Gi

Rating: PG-15

Length: chaptered

Genre: romance,angst,family

Main cast: Jessica Jung, Kris Wu

Support cast: Krystal Jung, Suho, Im Yoona, others find in the stories

Author’s note: cerita ini murni dari hasil pemikiran otakku, so don’t bash don’t judge andplease appreciate it. Please tinggalkan jejak setelah membaca sebagai penyemangat untuk melanjutkan part seterusnya, gomawo readers~ sorry for typos, imperfection is human! Enjoy reading ^^

Ff ini juga pernah di publish di wordpress pribadiku di jungeungi.wordpress.com

Poster by http://www.minus.com/baboracoon

 

Author POV

Jessica sampai di kelasnya yang baru dan melangkah dengan anggun menuju kursi paling belakang dekat jendela. Ketika ia memasuki kelas itu, semua mata memandangnya dengan kagum baik laki-laki maupun yang perempuan. Hanya satu orang saja yang menganggap hal itu sudah biasa,Suho.

 

Suho sudah berteman dengan Jessica sejak kelas 1 SMA dan baru di kelas 3 ini, ia sekelas dengan gadis itu. Jessica tidak mempunyai banyak teman dekat selain Suho. Setahunya, Jessica mempunyai sahabat yang tinggal di LA dan di Korea, Suho adalah sahabat satu-satunya bagi Jessica.

 

Mata Jessica langsung terarah pada Suho dan berjalan menghampiri laki-laki itu.

“Suho annyeong. Aku duduk di belakangmu saja ya?”,Tanya Jessica sambil melirik Chanyeol yang sudah duduk di sebelah Suho.

 

Tanpa menunggu jawaban dari Suho,Jessica langsung menarik bangku dan duduk di belakang laki-laki itu. tidak lama kemudian, ia sudah sibuk memainkan iphone 5-nya.

 

Jessica Jung, seorang perempuan cantik dengan rambut yang dicat cokelat tua, kulit putih dan tubuh mungil, merupakan cewek populer. Bagaimana tidak? Ia seorang fashionista sekaligus fashion blogger ditambah lagi ia berasal dari keluarga kaya. Banyak anak perempuan yang menjadikannya sebagai fashion icon di sekolahnya dan banyak laki-laki yang naksir padanya. Ia pindah dari LA ke Korea dan melanjutkan SMA nya di sini.

 

 

KRINGG!

 

 

Bel sekolah berbunyi tanda kelas akan dimulai sebentar lagi. Anak-anak yang lain mulai kembali ke bangku mereka masing-masing dan bersiap-siap memulai pelajaran sambil menunggu guru mereka untuk masuk kelas. Hanya Jessica yang masih asyik memainkan iphone nya di atas meja.

 

 

Jessica POV

 

“Baiklah anak-anak, nama saya Choi Siwon dan kalian bisa memanggilku Choi sonseng. Aku akan menjadi wali kelas kalian selama 1 tahun ke depan dan harap kerja samanya”, suara guru Choi menggema dalam ruangan dan aku masih menundukkan kepalaku, memperhatikan layar iphone dalam genggamanku.

 

“oh iya, akan ada murid baru dari Kanada yang akan menjadi bagian dari kelas ini, silahkan perkenalkan dirimu”,ucap guru Choi dan aku mendongakan kepalaku untuk melihat murid baru yang dimaksud Choi sonseng.

 

“Anyeonghasseyo Kris Wu ibnida”

 

Hey, he’s cute. Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku ketika melihatnya. Laki-laki jangkung asal kanada dengan rambut yang di cat cokelat muda berhasil mengalihkanku dari iphone yang daritadi menyita perhatianku. Aku menopang daguku dengan sebelah tangan dan memperhatikan wajah Kris yang mempesona itu.

 

“Baiklah Kris selamat datang di kelas ini. Silahkan duduk di sebelah…mm…Jessica Jung. Baik semuanya mari kita mulai pelajaran kita hari ini”, Choi sonseng mempersilahkan Kris duduk dengan tangan yang mengarah padaku.

 

What? Wait, Kris is going to sit next to me! OMG ,teriakku dalam hati. Kris menolehkan kepalanya ke arahku dan pandangan kami saling bertemu. Aku tersentak dari lamunanku seakan terhipnotis dengan kedua matanya yang tajam. Ia melangkahkan kedua kakinya menuju arahku dan duduk di sebelahku.

 

 

Kris POV

 

Aku mengedarkan pandanganku ke arah yang Choi sonseng maksudkan dan mataku menangkap sesosok perempuan dengan rambut cokelat tua lurusnya yang bersinar terkena sinar matahari pagi. Ia terlihat sedang memperhatikanku lekat-lekat dengan kedua matanya yang bulat sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan.

 

Aku melangkahkan kakiku ke arahnya lalu duduk di sebelahnya dan mengeluarkan buku dari tasku. Merasa diperhatikan, aku menolehkan kepalaku pada gadis yang menjadi teman sebangkuku dan memergokinya sedang memperhatikanku dari tadi. Got you! Aku baru saja menangkap basah seorang gadis yang memperhatikanku secara diam-diam. Ha! Pikirku bangga.

 

Tadinya aku pikir, seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, pasti mereka akan salah tingkah dan langsung membuang muka ketika dipergoki saat sedang memperhatikan laki-laki yang mereka sukai. Tapi hukum itu sepertinya tidak berlaku bagi gadis di sebelahku ini. Ia malah terang-terangan beradu pandang denganku masih dengan posisinya yang sama daritadi. Ekspresi datar terpampang pada wajah cantiknya.

 

Aku menaikkan kedua alisku dan ia terlihat tersentak pelan lalu segera melakukan hal yang sama sepertiku, mengeluarkan buku dari tas ransel studded hot pink-nya.

 

 

Jessica POV

 

Sungguh memalukan. Baru kali ini aku tertangkap basah sedang memperhatikan seorang laki-laki. Well, selama ini kan selalu aku yang memergoki orang-orang yang memperhatikanku entah itu laki-laki atau perempuan. Tidak peduli apa yang sedang kukenakan atau apa yang kulakukan, mata mereka selalu melekat padaku. Jangan berpikir hal itu menyenangkan, being the center of attention, maksudku. Lama-lama kau akan gerah karenanya.

 

Bahkan keadaan semakin parah ketika Kris memandangku tepat di mata. Pikiranku tiba-tiba kosong dan aku tidak tahu harus berbuat apa selain memandang ke dalam sepasang mata indah miliknya.

 

Aku memperhatikan Choi sonseng yang sedang membicarakan hukum newton di depan kelas, ya wali kelasku itu guru fisika kelas 3 di sekolah ini. Sungguh membosankan belajar pada hari pertama masuk sekolah. Untung saja sekarang sudah bulan juli yang artinya sebentar lagi Summer Holiday akan segera tiba!

 

 

Author POV

Secara tidak sadar, Jessica sudah menarikan pensilnya di atas buku tulis Fisika, menggambar sketsa baju yang tiba-tiba melintas begitu saja dalam benaknya. Jessica berpikir untuk membawa buku sketsanya lain kali jika tidak ingin semua buku tulis pelajaran dijadikan sasaran empuk untuk menyalurkan bakatnya.

 

Jessica memang pandai menggambar dan ia sepertinya ingin menjadi fashion designer, stylish atau model. Pokoknya semua yang berhubungan dengan fashion. Well, fashion is her passion. Ia sendiri masuk jurusan IPA juga karena tuntutan dari orangtuanya, padahal nilai Jessica di bidang IPA biasa-biasa saja alias sedikit di atas rata-rata.

 

Ketika sedang asyik menggambar, sebuah tangan menyenggolnya sehingga gambarnya tercoret oleh pensilnya sendiri. Jessica mendongakkan kepala untuk mengetahui siapa pelakunya dan ia mendapati Suho yang tengah melototinya.

 

Jessica balas melototi Suho dengan kening berkerut sambil bertolak pinggang dengan kedua tangannya meminta penjelasan. Suho hanya mengedikkan kepalanya ke arah papan tulis, menyuruh Jessica memperhatikan pelajaran. Jessica hanya menjawab asal membentuk kata-kata “arasseo, arasseo”dengan mulutnya tanpa suara dengan jengkel. Namun pada akhirnya ia menuruti kata-kata Suho untuk memperhatikan pelajaran.

 

Kris memperhatikan dalam diam gerak-gerik kedua orang itu dan menyimpulkan bahwa kedua orang itu sudah saling kenal atau mungkin sudah berteman dekat. Entah kenapa tingkah laku mereka berhasil menyita perhatiannya dari penjelasan tentang hukum Newton. Ia mempunyai feeling bahwa kehidupan SMA nya di Korea tidak akan seburuk yang ia kira.

 

 

KRING!!!

 

 

Akhirnya bel yang sudah di tunggu-tunggu berdering juga. Dengan begitu, 2 jam pelajaran Fisika pun berlalu. Jessica menyambutnya dengan penuh sukacita. Ia menguap dan menyatukan kedua tangannya di udara, meregangkan tubuhnya kemudian membungkukkan badannya dan menyandarkannya di atas meja dengan kedua tangan yang dilipat. Ia pun menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya itu dengan malas.

 

Tiba-tiba, Suho membalikkan badannya menghadap Jessica dan menjitak kepala gadis itu.

 

Ya! appa…”,pekik Jessica sambil meringis dan mengusap-usap puncak kepalanya.

 

“Eyy salah sendiri kau tidak memperhatikan pelajaran. Kau mau tidak naik kelas, ha?”,omel Suho.

 

Heol. Apa boleh buat? habisnya membosankan”,balas Jessica.

 

Eo?  Anyeong, namaku Suho. Kau bisa bicara bahasa Korea bukan?”,perhatian Suho teralih pada teman sebangku Jessica,Kris.

 

Ya baboya! Tentu saja dia bisa bahasa Korea. kalau tidak, mana mungkin dia bisa bersekolah di sini. Aish jinjja”,celetuk Jessica kesal.

 

 Ne, aku bisa berbicara bahasa Korea, mungkin kadang suka salah-salah sedikit. Karena itu, aku mohon kerja sama dan bimbingan dari kalian semua”,jawab Kris sambil membungkukkan sedikit badannya.

 

“Eyy kau ini bicara apa. Sudahlah tidak perlu bersikap formal terhadap kita. Kita kan temanmu”, sahut Chanyeol yang dibalas dengan senyum simpul dari Kris. Oh tidak, Jessica sangat menyukai senyum itu.

 

 

***

Jessica POV

 

Aku baru saja sampai di rumah dan menjadi bersemangat karena melihat mobil orang tuaku di pekarangan rumah. Mereka biasanya akan pulang di malam hari saat aku sudah tertidur atau bahkan hanya beberapa hari berada di rumah ini karena berpegian ke luar negeri atau luar kota. Aku sangat merindukan mereka karena kita jarang bertemu.

 

Aku segera memasuki rumah besar bertingkat yang biasanya sepi dan hanya dihuni olehku dan pelayan-pelayan di rumah ini. Begitu ahjumma Kim membukakan pintu untukku aku segera bertanya padanya dengan semangat sambil menggenggam kedua tangannya penuh harap.

 

Ahjumma, mom and dad ada di sini? Di rumah ini?”

 

Ne, kau pasti sudah tidak sabar bertemu mereka kan? Cepat masuk, mereka ada di ruang makan”,jawab ahjumma Kim dengan senyum ramah di wajahnya.

 

Aku segera berlari masuk menuju ke ruang makan,tidak sabar untuk bertemu mom and dad, meninggalkan ahjumma Kim yang berteriak mengingatkan ku untuk tidak berlari dalam rumah dan mungkin sekarang ia sedang menggeleng-gelengkan kepalanya pelan karena aku tidak mendengarkan nasihatnya itu.

 

“Mom? Dad? I’m home!!!”, aku berseru begitu langkah kakiku menghantarku pada ruang makan di rumah ini. Langkah kakiku terhenti saat menyadari bahwa orangtuaku tidak hanya berdua di ruangan itu, melainkan ada seorang gadis bersama mereka. Aku yakin wajahku ini dipenuhi ekspresi tanda tanya saat memandang gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

 

Jessica, we miss you honey. How’s your school?”,mom  bangkit berdiri dari duduknya,menghampiriku dan memelukku erat.

 

Aku membalas pelukannya,”It was great,mom. But who is that girl anyway?” Aku memelankan suaraku ketika bertanya tentang gadis yang sekarang sedang mengobrol dengan dad.

 

Oh, right. Come with me, honey. Let’s join them”,Mom menarik tanganku pelan untuk bergabung dengan dad dan gadis itu.

 

Aku duduk di sebelah mom dan berhadapan dengan dad yang duduk di sebelah gadis itu. Pandanganku tak pernah lepas dari gadis dihadapanku dengan rambut hitam panjang  yang mungkin seumuran denganku. Menyadari bahwa aku terus-terusan memandangnya, ia menatapku dan langsung menundukkan kepalanya.

 

“Ehem, hi Jessie. How’s your day? Was it fun?”, Dad membuka percakapan basa-basinya.

 

Yeah… “,jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku dari gadis itu.

 

Menyadari tatapanku yang mengintimidasi gadis di hadapanku, Dad langsung membuka mulutnya lagi,bersiap-siap menjelaskan sesuatu padaku. Instingku berkata ada sesuatu yang tidak beres di sini. Entahlah, feeling-ku tidak enak.

 

Dad menyikut pelan tangan gadis itu sehingga ia mendongakkan kepalanya dan menatap dad serta mom yang dibalas dengan anggukkan support dari mereka berdua. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya,masih dengan kepala yang tertunduk ia memperkenalkan dirinya dengan suara pelan.

 

Anyeonghasseyo, Krystal ibnida. Mohon bantuannya. Semoga kita dapat berteman dengan baik”,seraya membungkukkan badannya ke arahku. Ia melirikku sekilas dengan malu-malu dan salah tingkah, lalu menundukkan kepalanya kembali.

 

“Bukan berteman,tapi lebih tepatnya bersaudara”,Dad mengoreksi ucapan gadis itu, maksudku Krystal.

 

Aku yang mendengar kata-kata terakhir Dad, hanya bisa diam sambil memutar otak. Apa maksud pembicaraan ini? Tidak bisakah mereka bicara langsung to the point? Berbicara bertele-tele seperti ini hanya membuatku pusing menebak-nebak semuanya.

 

Ne?”,hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.

 

“Jessie, Krystal adalah anak dari sahabat mom di San Francisco. Orang tuanya baru saja meninggal dalam kecelakaan. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di sana. Ayahnya orang Korea jadi dia bisa berbicara bahasa Korea dan mom and dad akan mengurusnya mulai sekarang. Ya kan Krystal?”,jelas mom panjang lebar yang disertai dengan anggukan lemah dari Krystal.

 

“oh iya, mulai besok Krystal akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu, Jess. Dia lebih muda darimu 2 tahun jadi dia akan duduk di kelas 1. Mulai besok kau pulang-pergi sekolah bersama dia, ya? dad sudah beritahu supir juga”,tambah Dad.

 

Mwo?”,seperti orang linglung, aku hanya bisa mengeluarkan sepatah kata.

 

Otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Bagaimana bisa mom and dad melakukan ini semaunya sendiri tanpa berunding denganku terlebih dahulu? Jadi mulai sekarang aku akan tinggal satu rumah dengannya? Juga ke sekolah yang sama? Mom and dad yang akan mengurusnya mulai sekaranag? Hah, mengurus anak sendiri saja mereka hampir tidak pernah ada di rumah,bagaimana mau mengurus anak orang lain? Apakah mereka pikir mengurus anak hanya bisa dipenuhi dengan uang?  Bagaimana denganku? Apakah selama ini mereka bahkan peduli denganku? Selalu saja ditinggal sendirian di rumah yang terasa sepi ini.

 

Tanpa berkata apa-apa, aku bangkit dari dudukku dan keluar dari ruang makan itu tanpa memperdulikan panggilan dari mom di belakangku. Saat ini aku sedang benar-benar kesal dengan mereka.

 

 

***

            “Oh Stephanie, what should I do?”, aku bertanya pada sahabatku yang tinggal di LA melalui skype dan menatap wajahnya melalui layar computer Macintosh-ku yang terletak di meja panjang berwarna putih dalam kamarku dengan tatapan putus asa.

 

Aku sudah bersahabat dengannya sejak kecil dan bahkan ia sudah kuanggap saudara sendiri. Aku tidak keberatan jika memang ia menjadi saudaraku daripada gadis tak dikenal yang bernama Krystal itu. memang sih, aku dan Steph sering berantem, but that’s what friendship is all about, right?

 

Bahkan kita mempunya fashion blog sendiri yang bernama TIFFandJESS. oh iya, hanya aku saja yang memanggilnya dengan nama asli yang bahkan kadang suka aku singkat hanya dengan memanggilnya “S” saja, seperti dalam film seri gossip girl yang aku gilai itu. semua teman-temannya di LA memanggilnya Tiffany. Aku lebih suka memanggilnya Stephanie karena menurutku nama itu lebih manis.

 

Well, just face it, J. it’s not that bad having a sister though.” Jawab Stephanie.

 

Yeah, right. It’s not bad if the one who became my sister was you, S. Bagaimana jika ternyata dia adalah seorang psykopat seperti di film Orphan? I can’t even imagine what could happen”, aku memijit keningku dengan sebelah tangan dengan mata terpejam bila mengingat film Orphan yang waktu itu pernah kutonton bersama Suho. Mengerikan!

 

Oh, come on Jess. Don’t be so silly. Aku rasa kau terlalu banyak menonton film. Cobalah bersikap terbuka dan berteman dengannya. Don’t judge a book from its cover ,J. mungkin saja dia akan menjadi sahabatmu. Lagipula kau tidak mempunyai teman dekat selain Suho, kan?”,Stephanie masih tetap pada pendiriannya. Seharusnya aku tahu bahwa Steph akan berkata seperti ini mengingat ia adalah orang yang positive thinking, berbeda denganku yang lebih sering negative thinking.

 

Well, mau bagaimana lagi? Having one best friend is much better than having a bunch of fake friends.” Aku membela diriku di depan Stephanie.

 

Stephanie memutar kedua bola matanya, tahu bahwa meyakinkanku membutuhkan tekad dan kegigihan yang kuat serta waktu yang tidak sedikit. Dulu, ia sering menceramahiku tentang ini dan itu, hal sepele sekalipun. Mungkin dulu aku lelah mendengar nasihatnya tapi sekarang aku mulai merindukan ocehannya itu. oh I miss you, S.

 

“Terserah kau saja, Jess. Well, I gotta go. The class is almost started. Good luck with that, J. hubungi aku kapan saja jika ada masalah. Email, skype atau apalah. Bye!”, Stepahanie melambaikan sebelah tangannya di depan layar dengan senyum eyesmile khasnya yang sukses membuat kaum laki-laki tergila-gila.

 

Aku lupa bahwa di LA masih pagi. Tiba-tiba aku merasa homesick, meskipun sekarang rumahku adalah di tempat ini, di Korea Selatan. Aku merindukan Stephanie dan sekolahku yang dulu, dimana murid-murid mengenakan pakaian bebas ke sekolah yang artinya aku bisa menyalurkan selera berpakaianku dengan bebas. Setiap tempat yang sering kami kunjungi dan setiap kegiatan yang kami lakukan sepulang sekolah maupun saat weekend.

 

Aku mematikan komputerku, mengambil sweater MANGO merah-ku yang tergeletak di lengan sofa kamarku lalu mengambil dompet J.ESTINA yang berwana peach serta ponselku dari laci meja dan berjalan keluar kamar.

 

 

***

Di sinilah aku, berjalan seorang diri tanpa arah dan tiba-tiba kakiku sudah menghantarku pada pertokoan di Garosugil atau Three-lined street, Gangnam. Rumahku memang berada di kawasan Gangnam yang merupakan versi Beverly Hills ala Korea dan tadi aku sempat menaiki bus menuju ke tempat ini.

 

Aku keluar rumah diam-diam dan hanya berpesan pada Ahjumma Kim bahwa aku tidak makan malam. Saat ditanya mau kemana, aku berbohong bahwa aku akan pergi dengan Suho. Sekarang, aku hanya bisa berharap Mom atau dad atau ahjumma Kim tidak menelpon Suho untuk memastikan aku sedang bersamanya. Aku benar-benar sedang ingin sendiri saat ini.

 

Aku berhenti di depan toko music, berhenti sejenak lalu masuk ke dalam, menuju corner tempat Album lagu new release. Mataku mencari-cari album yang aku inginkan baris demi baris pada rak CD.

 

chajattda!”, seruku dalam hati. Akhirnya ketemu juga, aku langsung mengambil album yang aku inginkan dan berjalan menuju kasir.

 

Aku keluar dari toko itu setelah membayar di kasir. Ketika aku sampai di luar toko, langkahku terhenti ketika menyadari laki-laki tinggi jangkung dengan rambut cokelat mudanya. Ia menatapku tepat di mata, tersenyum simpul dan melambaikan sebelah tangannya sedangkan tangan yang lain menggenggam kamera DSLR yang tidak aku ketahui jenisnya.

 

“Kris?”

 

 

***

Kris POV

 

Aku berjalan di sepanjang jalan Garosugil setelah mengunjungi toko kamera langgananku. Ya, aku senang memotret dan aku akan memotret apa saja yang kuanggap menarik. Meskipun aku tidak akan berprofesi sebagai fotografer di masa depan karena aku harus melanjutkan usaha bisnis wine dan perkebunan anggur ayahku, tetap saja tidak ada salahnya menyalurkan hobi, bukan?

 

Aku melewati sebuah toko CD music dan berniat untuk mengacuhkannya dan terus berjalan ketika sudut mataku menangkap sosok yang tidak asing. Spontan, aku berhenti di tempat dan menatap sosok itu yang dibatasi kaca jendela, mengamati gerak-geriknya yang sedang mencari-cari sesuatu dalam rak yang berjejer rapi di dalam toko. Ya, teman sebangku-ku, gadis populer di sekolah, Jessica Jung.

 

Aku menatap wajah mulusnya dari balik kaca jendela dan mengakui dalam hati bahwa ia cantik. Tidak heran jika ia adalah gadis populer di sekolah. setelah tersadar dari lamunanku, aku mengangkat kamera yang dari tadi sudah berada dalam genggamanku dan memotret gadis itu dari berbagai Angle lalu menatap puas hasil potretanku itu. wajahnya menarik, dengan kulit putih mulus, bibir tipis dan kerutan tipis pada dahinya yang menunjukkan bahwa ia sedang focus mencari sesuatu. Rambut cokelatnya dibiarkan terjuntai dengan poni yang dijepit ke atas, memperlihatkan dahi mulusnya yang sempurna.

 

“Bahkan dengan candid saja ia sudah terlihat cantik”, gumamku pelan. Aku segera menggelengkan kepalaku sebelum pikiranku melantur kemana-mana. Tidak, tidak. Aku tidak boleh jatuh ke dalam perangkap gadis itu, bahkan kalau bisa aku menjauhinya. Menurutku semua perempuan sama saja. Mereka hanya mengincar wajah tampan atau harta, apalagi untuk gadis populer sepertinya.

 

Tanpa kusadari, gadis itu keluar dari toko dan berhenti melangkah karena melihatku. Pandangan kami bertemu dan tanpa sadar, aku mengulum senyum dan mengangkat sebelah tanganku, menyapanya.

 

 

 

***

Author POV

           

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tinggal di daerah sini?”, Jessica mendongakkan kepalanya untuk menatap Kris.

 

“Aku habis dari toko kamera di sekitar sini. Mm, begitulah”, jawab Kris sedikit menutupi ia tinggal dimana sambil mengangkat kedua bahunya acuh. Ia tidak ingin sampai Jessica tahu bahwa ia berasal dari keluarga yang berada.

 

Menurutnya, semua wanita itu materialistis, sama seperti ibunya yang sudah lama bercerai dengan ayahnya karena masalah harta entah apa itu, ia tidak mau tahu. Ia benci dengan ibunya yang sudah tega meninggalkan ia dan keluarganya. Ia takut bahwa Jessica termasuk tipe wanita seperti itu terutama ia gadis populer dan fashionable ditambah lagi berasal dari keluarga kaya yang pasti sering menghabiskan banyak uang entah untuk kecantikan atau untuk memenuhi selera fashionnya yang tinggi.

 

Jessica menganggukkan kepalanya, bingung harus berkata apa lagi. Selama ini ia selalu cuek dengan siapa saja sehingga tidak punya banyak teman meski ia merupakan cewek populer di sekolahnya. Jessica orang yang sangat sulit untuk percaya pada orang lain terutama dengan pemikiran-pemikiran negatifnya itu. Lagipula, ia lebih nyaman berteman dengan laki-laki yang TIDAK menaksirnya seperti Suho dan Chanyeol daripada berteman dengan perempuan-perempuan genit yang setiap harinya hanya bergosip dan sirik terhadap orang lain.

 

“Kau sendirian? Kau naik apa ke tempat ini?”, Tanya Kris basa-basi meskipun ada sedikit rasa ingin tahu juga.

 

Ne,  aku naik bus ke sini. Hanya butuh 10 sampai 15 menit dari rumahku ke sini. Ya, aku lapar. Mau menemaiku makan?”, tawar Jessica dengan perut yang agak keroncongan. Ia juga kaget ketika menyadari bahwa dirinya mengajak Kris makan bersama. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan Date, hanya makan biasa seperti yang sering dilakukannya bersama Suho.

 

“Tentu. Aku juga belum makan. Mau makan dimana?” Di luar dugaan, Kris menerima ajakan Jessica.

 

 

***

Dua orang itu berjalan menyusuri pertokoan di sepanjang Garosugil, menimbang-nimbang restoran apa yang akan mereka pilih untuk makan malam. Jessica menghentikan langkahnya di depan sebuh restoran Itali yang sederhana, lalu membalikkan badannya menghadap Kris.

 

“Kita makan di sini saja. Bagaimana?”

 

“Teserah kau saja”, sahut Kris tak acuh dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya.

 

Mereka memasuki restoran sederhana itu dengan dekor yang menciptakan suasana hangat nan tenang dengan penerangan agak redup yang diatur sedemikian rupa dan duduk berhadapan di sebuah meja dekat jendela lalu memesan pesanan masing-masing. Lasagna untuk Jessica dan Vetucini Carbonara untuk Kris. Ketika Jessica akan memesan Wine untuk minumnya, Kris langsung menahannya dan membatalkan pesanan gila Jessica itu.

 

Ya! michyeosseo? Bagaimana kalau kau sampai mabuk? Kau kan pulang sendirian. Lagipula tidak bagus minum wine terlalu sering. Jika kadar alcohol dalam tubuhmu terlalu banyak, bisa menyebabkan kerusakan hati. Kau kan masih muda”, omel Kris tidak peduli jika ia berbicara non-formal terhadap gadis di hadapannya itu.

 

“Aish, dasar bawel. Arasseo, arasseo. Kalau begitu aku pesan peach tea saja”, Jessica mengganti menu minumannya.

 

Setelah perdebatan kecil itu, Susana canggung dan hening kembali menyelimuti kedua orang itu, bingung memikirkan topic pembicaraan selanjutnya.

 

Ya, kau dari Canada, kan? Kapan kau pertama kali sampai di Korea? Bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka ikut pindah ke sini atau menetap di sana?”, Jessica membuka percakapan terlebih dahulu, tidak nyaman dengan suasana canggung antara dirinya dengan Kris.

 

“Mm, kira-kira seminggu yang lalu. Mereka tetap di Canada. Aku tinggal sendirian di sebuah partemen agak dekat dengan sekolah meski ada tanteku dan suaminya yang tinggal di korea juga. Aku tidak enak jika harus tinggal dengan mereka, takut merepotkan”

 

Jessica menggangguk-ngangguk pelan sambil memainkan minumannya dengan memutar-mutar pelan sedotan dalam minumannya dan sebelah tangan mendekap sebelah pipinya.

 

“Do you miss home,Kris? Being alone in nowhere, it’s just terrible”, Jessica menundukkan kepalanya, menatap sedotan yang ia putar-putarkan dalam gelasnya.

 

Kris tersentak pelan ketika mendengar Jessica berbicara dalam bahasa inggris. Ia tidak tahu kalau gadis ini bisa berbicara dalam bahasanya.

 

“Of course I do, but life goes on, Jess. We can’t stuck in our past. I can’t just sit around in my apartment, wandering about my life back then in Canada. This is where I am now, in Seoul”, kata-kata Kris ada benarnya juga, tapi pada kenyataannya Jessica amat merindukan kehidupannya dulu di LA.

 

Jessica tersenyum pahit mendengar kata-kata Kris, matanya masih menatap gelas minumannya dan tidak lama kemudian, pesanan sudah dihidangkan di atas meja mereka.

Mata Jessica membulat dan mulutnya mengerucut saat menatap Lasagna yang masih panas dihadapannya, lalu mulai melahapnya.

 

Ya, aku baru tahu kalau kau bisa berbicara bahasa Inggris”, kata Kris setelah menelan sesuap vetucini dalam mulutnya.

 

Jessica mengosongkan makanan dalam mulutnya sebelum menjawab, ”Ne, aku tinggal di LA sebelum akhirnya orang tuaku memutuskan untuk pindah ke sini. Dan sekarang, aku merasa homesick meski sudah 2 tahun tinggal di sini.” Jessica kembali menyuapkan sesendok lasagna ke dalam mulutnya.

 

“Oh begitu, pantas saja kau bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Hey, kau ternyata makan dengan lahap juga, ya. Aku kira para perempuan akan mengontrol makanan mereka. Banyak juga kan yang tidak makan di malam hari? No offense.” Kris agak kaget ketika menyadari piring Jessica yang sudah setengah kosong. Tadinya ia kira Jessica akan memesan salad atau menu diet lainnya.

 

“None taken”,jawab Jessica enteng.

 

“Aku akan memakan apapun yang ingin aku makan. Lagipula, aku mengidap maag sehingga harus makan tepat waktu meski hanya sedikit”, lanjut Jessica menjelaskan.

 

Ketika mereka sudah selesai makan, Kris bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kasir untuk membayar. Tentu saja mereka membayar makanan mereka masing-masing karena mereka baru mengenal satu sama lain hari itu juga. Jessica segera mengecek ponselnya untuk melakukan selca sebelum Kris kembali. Ia suka mengabadikan kegiatan-kegiatannya dalam ponselnya itu dan akan ia cetak serta menempelkannya dalam scrapbook.

Jessica menyadari ada 5 misscall  dari Suho dan tahu bahwa ia harus segera pulang. Tepat sekali Kris sudah selesai membayar dan berdiri di tepi meja tempat mereka makan tadi.

 

“Ayo pulang”, ajak Kris.

 

Tepat saat mereka berada di luar pintu restoran, Jessica mencegah Kris dengan memegang sebelah pergelangan Kris yang berjalan di depannya. Kris membalikkan badannya menghadap Jessica.

 

Wae? Ada yang ketinggalan?”

 

Jessica menggelengkan kepalanya dan berkata “Ani, let’s take a picture … together”

 

 

 

TBC

14 thoughts on “[Freelance] (Confessions) (Chapter 1)

  1. moment krissicanya keren thor,,
    gimana suho klo tw jessica punya saudara ya??
    wah sica eonni udah berani minta foto bareng ma kris hehe
    ditunggu nextnya ya

  2. lanjut!! suka sama sifatnya KRISSICA…
    tapi ga tau kenapa feel ku ilang gara gara ada cast krystal disini….
    pokoknya jangan lama lama publish chapter 2 ne? ^^

  3. Wahh thor jadi demen sama krissica couple nih ahhhhh :9 , apalgi sica minta foto breng sama kris ahhh ga kebayang lg thor , next chapternya ditunggu ya thor ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s