[FREELANCE] The End of Her Tears (Chapter 2)

Tittle : The End of Her Tears

Author : Hepi Diana (@HepiDiana18)

Genre : Romance, Angst, Family, Marriage Life, Sad, Friendship

Rating : PG 17 || Length : Chaptered

Main Cast :

SNSD – Jessica | EXO – Kris

Other Cast :

SNSD – Tiffany | SNSD – Taeyeon | SNSD – Yoona | SNSD – Hyoyeon | SNSD – Yuri

Disclaimer : Allrights belong to SM Entertainment. I am just the owner of the storyline and arts.

Author Note : You do not have to wait longer, here’s the second chapter, happy reading^^

===

“Ya, tunggulah disini sebentar.” Kris membungkukkan badannya sekilas pada Baekhyun, Chen dan Yoona yang tengah duduk di sofa tebal ruang tengahnya. Setelah mendapatkan anggukan hangat dari ketiga orang itu, ia berjalan cepat ke arah lain di dalam rumahnya. Kepalanya menolehi ke beberapa arah ruangan kemudian menggeleng.

Kris berjalan dengan cepat, mungkin setengah berlari. Dengan langkah cepat itu ia menaiki tangga dan wajahnya memanas begitu melihat wanita yang di carinya tengah merapikan buku-buku tebal di rak di sudut ruang kamarnya. Mungkin ia sudah benar-benar membenci orang itu, melihatnya saja membuat tekanan darahnya naik tiba-tiba.

“Jessica!” Serunya dengan langkah yang semakin cepat.

Jessica, karena merasa di panggil akhirnya ia menoleh ke arah suara dan tanpa di duga sang suami yang memanggilnya itu dengan kasar menarik rambut panjangnya. Buku yang tengah di pegangnya terjatuh ke lantai hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Ia mencoba melepaskan tangan Kris sambil mengaduh kesakitan.

“Kris… kris! Appooo.. arggh..” kulit kepalanya terasa terkuliti oleh sebilah samurai tajam begitu Kris melepaskan tangannya dengan satu hentakan keras. Rasa sakit yang membuat matanya berkaca-kaca.

“Turun ke bawah dan pasang wajah terbaikmu di depan rekan kerjaku.” mata elang Kris berhasil membuat tubuh Jessica bergemerutuk dengan lantai. Lagi-lagi suasana mencekamlah yang di hadapinya saat bersama suaminya sendiri, “Awas saja kau mempermalukanku!” kecamnya.

Jessica menggigit bibir bawahnya. Sebelum di maki lebih panjang, ia bangkit dengan sisa-sisa semangatnya. Ia berlari ke kamar mandi dan mengusap wajah pucatnya dengan air. Sejenak, di tatapnya wajahnya sendiri dari pantulan kaca panjang di ruangan itu. Wajah yang sangat sulit tersenyum itu terlihat jauh lebih buruk dari sebelumnya. Kehidupan barunya bersama Kris telah membuat putaran roda penderitaan yang baru terus bergerak. Hidupnya begitu mengenaskan.

===

Annyeong haseo.” Sosok dengan senyum menawan itu muncul dari dapur dengan baju bercorak bunga mawar, di tangannya terdapat nampan coklat berisi empat gelas teh panas. Semakin dekat dengan sofa, maka semakin jelas juga mata ketiga insan yang berada disana melihat sempurnanya ciptaan Tuhan satu ini. Berwajah malaikat, kulit yang putih halus tanpa segores luka, rambut yang panjang terurai dan juga senyuman yang menambah paket kesempurnaan dirinya. Ia bagaikan sebuah lukisan yang benar-benar hidup. Semuanya menatap takjub sosok Jessica Jung, kecuali namja yang paling tinggi disana, ia hanya menampakkan wajah datar meskipun orang yang di takjubkan itu duduk tepat di sampingnya.

Aigo… kau cantik sekali, Noona. Bahkan tanpa menggunakan gaun pengantin.” puji Baekhyun, kata-kata itu terlontar tanpa kesadarannya.

Kamsa hamnida.” Jessica menuduk sopan, rona merah bersemu di pipinya.

Kris berdeham. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan bola matanya bergerak menatap satu persatu rekan kerjanya itu. Ia mulai mengangkat suara, mengarahkan mereka untuk memulai bahasan rapat sore itu. Mendengar orang memuji Jessica membuatnya muak.

Rapat rahasia yang hanya dihadiri orang-orang penting itu di mulai. Rencana demi rencana terucap dengan rapi. Berkali-kali mereka menggigit bibir ketika tengah memikirkan sebuah strategi. Kris, Yoona, Baekhyun dan Chen, empat orang dari dua kubu yang berbeda, kali ini membicarakan sebuah rencana bersama. Merebut lahan lain dan memperluas cabang kekuasan, itulah yang menjadi topik utama. Usaha yang sedikit licik itulah yang membuat rapat kali ini harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Satu jam berlalu dengan obrolan panjang yang beberapa kali di jeda dengan meneguk teh panas buatan Jessica. Kelima orang itu masih duduk di sofa yang mulai terasa memanas. Puncak meeting mulai di capai, kesulitan-kesulitan dalam mencari jalan keluar membuat pertemuan itu bisu karena para hadirin telah membeku menjadi sesosok patung.

Eottokkhae??” Yoona menggigit bibir tipisnya. Wajah kebingungan tergambar dengan jelas dari kanvas berbentuk bulat tak sempurna wajahnya. Ia memainkan jemarinya. Putus asa.

“Boleh aku menyumbangkan pemikiran?”

Semua orang memalingkan wajahnya, menatap si pemilik suara yang memasang wajah dengan senyuman tipis. Jessica menjadi sorotan.

“Ehm..” Jessica menarik nafasnya, “Penekanan dalam usaha mengosongkan lahan perusahaan lain tidak akan menjadi hal yang terlalu rumit kalau kita sudah memikirkan langkah demi langkah kecilnya. Kita harus menitik fokuskan bagaimana caranya lahan besar perusahaan tembakau itu bisa benar-benar kita kendalikan, jalan utamanya akan sangat lancar apabila kita bisa menutupi tujuan untuk pengalihan lahan kerja dengan rapi. Begitu mengajukan proposal, kita harus bisa memikat hati mereka dengan jaminan kuat akan pengalihan buruh mereka pada salah satu cabang perusahaan kita, terserah dalam bidang apapun itu, yang penting adalah bagaimana caranya mereka mempercayai trik kita satu itu. Lalu, ketika kita mulai mendapatkan dampak ketidak sesuaian skill buruh dalam cabang yang kita berikan, kita tinggal memindahkan mereka pada cabang hutan industri. Itulah yang utama. Tapi, semua harus kita pikirkan sampai pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi di kemudian hari, mungkin saja akan terjadi demonstrasi besar-besaran dari buruh perusahaan tembakau. Maka, sejak dini kita harus menyiapkan dana besar. Dan mulai dari sekarang juga, kita harus menyiapkan data besar bagaimana dampak buruk rokok pada masyarakat luas yang merupakan hasil produksi dari perusahaan tembakau itu. Intinya, kita harus berhati-hati sampai pada titik terkecil sekalipun.” Jessica menangkup kedua telapak tangannya begitu selesai menyampaikan buah manis otak kecilnya.

Baekhyun, Chen dan Yoona menatap Jessica takjub. Sepanjang lamanya bibir Jessica melancarkan idenya, mereka bahkan tak mampu mengedipkan mata masing-masing. Khotbah panjang wanita itu berhasil membuat mereka tertegun akan kepintarannya. Mereka yang merupakan tokoh utama dalam drama rapat itu saja tak sampai terpikirkan sejauh itu. Sisi keemasan itu muncul dengan sendirinya dari balik sosok Jessica Jung.

“Hhh..” Baekhyun menghembuskan nafas panjang. Sedetik kemudian terdengar suara dari tepukan telapak tangannya, “Kau pintar sekali, Noona.”

Seulas senyum kembali menghiasi wajah Jessica, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan pujian dari tamunya hari ini, “Aniyo, Tuan tak perlu memuji seperti itu.”

‘kriiing…’ Deringan telepon rumah memecahkan suasana.

“Maaf, aku izin permisi untuk mengangkat telepon.” Jessica membungkukkan badan lalu berlalu ke arah ruangan tempat telepon rumah berada.

Tersisa empat orang di ruangan itu. Mereka saling bertukar pandang. Dalam benak masing-masing masih memikirkan bagaimana caranya melancarkan ide pemberian Jessica semulus mungkin.

“Aigo.. Istrimu itu, selain cantik, ternyata dia benar-benar pintar.” ujar Chen tiba-tiba, “Pantas saja kau jarang membawanya keluar rumah, kau pasti takut kalau ada orang lain yang langsung mengincarnya. Hahaha…”

“Kris, kenapa kau tak mengangkatnya jadi sekretaris pribadimu di kantor, hah?” Baekhyun menaikkan dagunya.

“Hei, apa-apaan kau itu? Istrinya itu sudah cukup jadi seketaris pribadi di rumah saja.hahaa..” Chen menyikut lengan Baekhyun bersamaan dengan ledakan tawa khas-nya.

Kursi yang ia duduki semakin panas, sama dengan hawa tubuhnya yang terus meningkat akibat geram. Kris hanya bisa menahan kekesalannya dengan senyuman getir pada kedua rekan kerjanya itu. Dalam hatinya ia menyerapahi kedua orang tersebut. Kalau saja mereka bukan rekan kerjanya, ia pasti sudah menghantam mereka hingga babak belur atas pembalasan dari ucapan-ucapan yang ia anggap tak berbobot sama sekali.

“Aku tahu .. Aku tahu kenapa kau memasang wajah seperti itu, Kris.” yeoja yang tersisa seorang diri dalam ruangan itu bermain dengan batinnya, “Aku tahu betapa murkanya kau kepada mereka berdua saat ini. Kau pasti geram karena yeoja yang mereka puji bukanlah kekasihmu yang berasal dari keluarga ‘Hwang’ itu, kan?”

===

Langkah berat dari gesekan alas kaki dan lantai rumahnya terdengar semakin keras. Setelah menyelesaikan rapat bersama ketiga rekannya hari ini, ia memutuskan masuk kedalam kamarnya untuk menenangkan pikiran. Matanya memerah menahan amarah. Posisinya di tepi tempat tidur dengan tangan yang mengepal kuat membuatnya terlihat semakin menyeramkan.

Hingga detik inipun kepalanya masih di buat panas. Aliran listrik aktif bermain naik turun dalam tubuh pria itu layaknya jaringan floem pada proses fotosintesis. Jemari besarnya bergetar namun tak seirama dengan detak jantungnya yang tengah memburu.

Ia bangkit dan meraih selembar foto dari beberapa tumpukan kertas kerjanya. Foto penuh warna yang terlihat hitam putih oleh sepasang bola mata gelapnya. Seorang wanita bergaun selutut dengan senyum yang indah, harusnya itu yang Kris lihat, bukan seorang wanita bergaun merah kusut dengan linangan air mata. Matanya tengah buta, semua yang ia lihat pada foto sungguh berbeda dari kenyataan.

Lehernya bergerak dengan cepat begitu mendengar suara gerakan pintu. Foto wanita di tangannya terjatuh begitu saja saat tahu wanita yang tinggal satu rumah dengannya sudah ada di ambang pintu dengan segelas teh di atas nampan kecoklatan. Wajah wanita itu tak bisa di tebak, entah ya baik-baik saja atau tengah ketakutan.

“Ini teh untukmu.” ujarnya –Jessica.

Lagi, emosinya memuncak. Kris menggertakkan geriginya lalu bangkit dari posisi semula. Tanpa babibu dan basa basi tak penting lainnya, ia  langsung menarik lengan Jessica dengan keras, menghilangkan keseimbangan yeoja itu hingga nampan yang ia bawa terjatuh. Suara khas pecahan kaca ke lantai-pun terdengar. Tanpa memperdulikan hal itu, Kris tetap menyeret Jessica keluar kamarnya.

“Kris!!” yang bisa Jessica lakukan hanyalah menjerit, berharap suaminya tahu kalau ia tengah menolak keras perlakuan kasarnya itu untuk kali ini.

Bosan dengan suara jeritan wanita itu, akhirnya Kris membantingnya ke dinding.  Sangat kasar hingga Jessica bisa merasakan kesadarannya hampir hilang untuk beberapa detik. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya ketakutan. Baru saja ia merasakan kebahagiaan saat menemani pria itu rapat, namun kali ini ia harus kembali pada dunianya yang sebenarnya, dunia dimana ia hanyalah seorang wanita terbuang.

“Jangan besar kepala kau!” cerca Kris membelah dunia.

“A..apa maksudmu?” matanya kembali berair, nyaris saja cairan bening itu terjatuh.

“Kau pikir hanya karena pujian mereka itu berarti kau itu berguna untukku? Hah?!”

“Aku tak pernah berpikir begitu, Kris!”

“Munafik!” Kris menaikkan tepi bibir kanannya, “Kau pikir aku akan terpancing?”

Akal Jessica melayang. Entah bagaimana caranya lagi agar bisa mengerti kemauan suaminya itu. Semua hal yang ia lakukan selalu saja di nilai salah. Dan sekarang ia di sebut tengah memancing? Hey, memancing apa lagi?

“Kau tak perlu bertingah seakan kau itu wanita paling baik di dunia!”

“Ya! Bagaimana lagi? Aku hanya melakukan segala hal yang harus ku lakukan sebagai seorang istri, Kris!”

“Jadi kau pikir sekarang kau adalah wanita terbaik? Wanita paling tegar? Wanita paling perhatian atau yang seperti apa? Cih!”

“Aku tak pernah berlagak munafik seperti itu!”

“Apapun yang kau lakukan tak akan pernah ada artinya!”

“Jadi apa lagi yang kau mau, Kris?” Jessica mengeratkan urat lehernya, sementara pelupuk matanya berusaha keras membendung derasnya air mata yang hendak turun.

“Harusnya sebelum kau mengatakan hal itu kau harus sadar kalau apapun yang kau lakukan tak akan pernah menguntungkan. Kau tak akan pernah menjadi lebih baik daripada Tiffany!!”

Bibir Jessica berhenti bergerak. Kapal pesiar besar serasa menghantam pelabuhan dasar jantungnya. Hantaman kapal pesiar itu berakibar hingga luapan air lautnya menembus permukaan dunia baru, permukaan kulit bersih seorang Jessica. Sebuah nama yang seseorang yang entah ia tak tahu siapakah pemiliknya membuatnya tak bisa menahan air mata lagi. Tiffany, entah siapa wanita itu.

“Ti… Tiffany..” bibir merah Jessica melantunkan nada bicara yang tak  percaya.

Mata Kris mengabur, isi kepalanya kosong dalam kilatan waktu. Ia mengedip-ngedipkan matanya  begitu sadar dengan apa yang barusan Jessica ucapkan. Sebuah nama yang membuatnya kembali tertekan. Sebuah nama yang membangkitkan ingatan masa lalunya yang begitu kelam.

“Siapa dia?” ucap Jessica lirih.

Plakk— sebuah tamparan keras di pipi kanan Jessica menjadi jawaban singkat dari pertanyaannya. Kombinasi petir dan angin tornado seakan menjadi latar belakang suasana di antara pasangan suami istri itu. Rumah mereka tak akan bertahan lama apabila keadaan diantara mereka akan terus meraja lela semacam itu.

“Kau tak pantas menyebutkan namanya.” ucap Kris ketus. Ia menarik nafas panjang lalu meninggalkan Jessica yang masih membeku pada dinding rumah. Ia tertunduk menatap lantai, antara diam menahan sakit dan juga memikirkan seseorang pemilik nama ‘Tiffany’.

Harusnya ia tak memikirkan nama itu. Harusnya ia tak peduli pada siapapun yang ada dalam kehidupan Kris. Harusnya ia tak menambahkan lebih banyak beban pikiran karena lelaki yang selalu menyakitinya. Bukankah ia menikah dengan Kris hanya untuk kebahagiaan ibunya? Bukankah ia tak pernah mengenal Kris sebelum ini? Jessica menutup kedua matanya, mencoba menarik kesimpulan yang terlihat samar-samar dalam fokus matanya.

“Salahku sendiri yang terlanjur mencintaimu, Kris…”

===

Ruangan itu begitu hening. Suara di luar kamarnya tak terdengar sedikitpun. Bukan karena dinding kamarnya yang tercipta dari puluhan lapis baja tebal, namun itu karena memang tak ada orang lain selain dirinya di rumah itu.

Jessica memegangi jemari kakinya, sementara lututnya tengah menumpu sendagu pemiliknya. Hingga tengah malam seperti ini matanya masih enggan untuk tidur. Dadanya terus di buat gusar karena sang suami belum juga pulang. Kris meninggalkan rumah semenjak memalingkan badannya setelah memberikan lesatan telapak tangan di pipi Jessica.

Ia tahu ini adalah hal yang bodoh. Ia menyiksa fisiknya untuk tidak beristirahat dengan cepat hanya karena menunggu Kris, laki-laki yang tak pernah mengatakan sedikitpun kata manis secara tulus kepadanya.

Jessica bergerak dari lamunannya setelah beberapa puluh menit kemudian ia  mendengar suara mobil  memarkir di hadapan rumahnya. Ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke pintu utama rumah. Perlahan di bukanya gorden biru muda di samping pintunya  untuk memastikan kalau orang itu benar-benar Kris.

Dan  benar saja, orang itu memang benar Kris. Ia terlihat kusut dengan tatanan  rambut dan kemeja yang ia pakai. Begitu menutup pintu mobil dan berjalan ke pintu rumah, ia berkali-kali terhuyung. Kakinya tak pantas di sebut benar-benar menginjak tanah.

Jessica mundur begitu Kris membuka pintu, ia mengendap  dan berdo’a agar Kris tak melihatnya. Namun, belum selesai ia menyukupkan panjang do’a-nya, ia sudah di buat terlompat dari persembunyiannya ketika tiba-tiba Kris terjatuh ke lantai.

“Kris!!!”

Jessica membalik badan Kris yang lemas. Ototnya layu bagaikan pengguna opium. Matanya tertutup, terlihat tidur namun raut wajahnya menggambarkan mimpi yang begitu buruk. Kris pingsan.

Dengan cucuran keringat kepanikan, Jessica berusaha mati-matian membopong tubuh besar Kris. Jessica mengurungkan niatnya untuk mengantarkan Kris hingga masuk ke dalam kamar karena lengannya yang melemas. Membopong tubuh Kris dalam beberapa langkah saja sudah membuatnya kewalahan, apalagi mengantarnya naik tangga hingga sampai ke kamarnya yang ada di lantai kedua? Itu mustahil untuk seorang wanita seperti Jessica.

Jessica menurukan tinggi badannya, menjatuhkan Kris dengan penuh hati-hati ke atas sofa ruang tengah itu. Ia bangkit untuk mengunci pintu utama lalu menyalakan penghangat ruangan. Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah berlari gelabakan ke kamarnya untuk mengambil selimut. Semua terlakukan dengan otomatis, Jessica selalu lupa dengan hal yang telah terjadi padanya dan Kris.

“Kris… Kau kenapa?” ucapnya lirih setelah menyelimuti tubuh besar Kris dari ujung jemari kaki hingga dadanya. Jessica menepuk-nepuk pelan bahu Kris seraya berdo’a agar sang suami segera sadarkan diri, “Kris…”

Tiba-tiba bahunya bergerak kecil, mata Kris juga bermain untuk beberapa saat. Jessica yang melihat itu panik bukan kepalang, entah perasaan apa yang tengah melaut samudera di hatinya.

“Uhhuukk..”

Kris terbatuk dan dalam detik yang sama Jessica di buatnya  terdiam. Laki-laki itu belum sadar dari keadaannya, matanya kembali terpejam. Namun, satu  hal yang membuat jantung Jessica tak percaya, yaitu sebuah aroma sengit yang tiba-tiba masuk ke hidungnya. Baru saja ia mencium aroma alkohol saat Kris terbatuk.

“Jadi? Kau pulang malam dan menghabiskan waktumu untuk bermabukan?” tanya Jessica seorang diri. Sistem sarafnya bekerja tak teratur, yeoja itu tak tau harus melakukan apa atau sedang merasakan apa.

Jessica menghembuskan nafas panjang, ia menggenggam telapak tangan kanan Kris dengan erat hingga mampu merasakan kulit dingin suaminya itu. Ia mengatup  bibirnya dan mulai mengamati wajah tidur Kris yang baru kali ini bisa di lihatnya dalam jarak yang begitu dekat.

“Kenapa aku bisa mencintai laki-laki kejam seperti mu?”

Jessica bergerak mencium kening Kris, ciuman pertama yang ia berikan pada suaminya. Dalam masa singkatnya saat melekatkan bibirnya pada kulit kening Kris, ia berdo’a.

“Tuhan, cepatlah sembuhkan dia dan aku ingin rumah tangga kami menjadi lebih baik.” Jessica menghembuskan nafasnya perlahan, “Saranghae.” tambahnya pelan seraya membaringkan kepalanya di atas sofa.

===

Pagi ini Kris di kejutkan dengan keberadaan Jessica di sampingnya. Ia menekan-nekan keningnya, mencoba mengingat hal apa saja yang telah terjadi. Ia tak menemukan titik terang dari itu, dengan geram dan kesal ia bangun menuju kamar mandi lalu bersiap untuk berangkat ke kantornya.

Sementara itu, setelah beberapa puluh menit berselang, Jessica baru menggerakkan kelopak matanya. Ia terbangun dan tangannya terlebih dahulu menghapus permukaan sofa. Alangkah tak percayanya dia kalau sosok Kris sudah menghilang dari tempat itu.

Dengan sigap ia berlari menuju kaca di samping pintu rumah, begitu di tengok, mobil pribadi Kris memang sudah lenyap dari tempat biasa ia memarkir.

“Kau sudah berangkat bekerja?” gumamnya, “Kau baik-baik saja? Bukankah keadaanmu semalam benar-benar buruk, Kris?”

Ia meremas ujung bajunya, pagi hari ini sudah di habiskannya untuk memusingkan diri untuk seorang Kris yang tak pernah mencintainya.

===

Jam bekerja belum juga usai, semua masih berjalan seperti biasa sebelum jam makan siang yang akan tiba setengah jam lagi. Di ruang sekertaris yang di dominasi karyawati itu suasana kerja maupun istirahat terlihat sama, beberapa dari mereka berkumpul membuat lingkaran dan memulai sesi untuk bergosip ria. Di antaranya berdirilah orang yang sangat dekat dengan Kris, Yoona.

“Hei! Aku yakin! Kau pikir mataku ini sudah minus, apa?” Hyoyeon, staff dengan rok hitam itu menunjuk-nunjuk matanya.

“Yah, bisa saja orang yang kau lihat itu salah.” timpal Yuri sambil mengibas-ngibas tangannya.

“Atau mungkin hanya mirip.” tambah Yoona.

“Ya! Kalian ini susah sekali di beri tahu.” Hyoyeon menggertakkan giginya, “Aku benar-benar melihatnya saat itu, suasana di sekitar distrik sedang sepi, aku melihatnya melintas seorang diri.”

“Aku masih belum percaya, Hyo. Bisa saja orang itu hanya mirip.”

“Aku tahu kalau banyak orang yang berwajah mirip di dunia ini, tapi tidak untuk yang satu ini!”

“Apa yang membuatmu seyakin itu?” Yoona menaikkan alis kananya.

“Matanya!” tegas Hyoyeon, “Banyak yeoja berwajah cantik di kota ini, tapi tak banyak yeoja bermata secantik Tiffany! Aku yakin kalau itu benar-benar Tiffany!”

“Humm..” Yuri mengangguk.

“Tapi yang membuatku ragu hanya satu.”

“Apa?” tanya Yuri dan Yoona bersamaan.

“Orang yang ku lihat itu berpakaian dengan sangat rapi, sangat mewah walaupun sederhana. Itu berbeda sekali dengan Tiffany yang kita ketahui, kan? Tiffany itu hanya yeoja miskin yang tinggal sebatang kara di kota ini. Dia terlihat cantikpun hanya karena bantuan Tuan Kris, kalau saat  ini, mana mungkin dia masih bisa berpenampilan anggun kalau tak ada Tuan Kris yang membiayai hidupnya.” Hyoyeon melipat tangannya setelah menceritakan hipotesis panjangnya.

“Ya! Berarti itu memang bukan Tiffany.” Yuri memutar kedua bola matanya.

“Ah, tidak! Tidak! Aku kembali pada keputusan awalku, itu memang benar Tiffany! Bisa saja kan kalau sekarang ia sudah menjadi wanita kaya raya.”

“Tak semudah itu, Hyo!” sundul Yoona.

“Sudahlah, intinya aku yakin kalau yeoja yang ku lihat saat itu memang benar Tiffany!”

Pintu ruang sekeris tiba-tiba di buka dengan kasar, semua karyawan di dalam berlomba-lomba kembali ke meja masing-masing. Kecuali Yoona, Yuri dan Hyoyeon yang masih membeku begitu tahu atasan tertinggi merekalah yang membuka pintu itu.

“Siapa yang kalian bicarakan?!” sergapnya dengan mata tajam kepada ketiga karyawati itu.

TBC!!

© Hepi Diana, 4 Agustus2013

PREVIEW CHAP 3 :

“Hei! Jawab!!!” suara melengking dari hempasan buku tebal ke atas meja membuat ketegangan semakin menjadi-jadi. Hyoyeon meneteskan keringat dingin ketakutannya.

*

“Aku memang tahu kalau kau masih ada disini, Tiffany.. Aku tahu itu.” ujarnya lirih bersama alunan pilu dari nafasnya, “Kau pasti akan kembali padaku untuk melanjutkan kisah cinta kita yang tertunda.”

*

“Kenapa kau pulang larut malam dengan keadaan seperti ini?” mata Jessica menatap Kris dengan nanar.

“Yeah, bitch..” Kris memaikan tangan kanannya, “Hanya bersenang-senang dengan beberapa wanita bodoh di bar. Hahaha..”

*

“Apa maumu?”

“Kau cemburu dengan perempuan tadi, huh?” ia kembali menyeringai, “Ingin diperlukan sama sepertinya?”

“Apa maumu, Kris?!”

===

Chapter 2 ini udah saya posting seminggu yang lalu di blog saya ^^/ Siapa itu Tiffany? Dan kenapa bisa Kris dan Jessica menikah? Temukan jawabannya di “[PROLOGUE] The End of Her Tears” yang sudah saya post di blog pribadi saya. Maaf kalo saya lambat update di JJF, menjelang liburan ini makin sibuk. Chapter 3 akan saya post tanggal 21 di blog saya yaa… Makasih yang udah nungguin FF ini🙂 ~ My blog : http://hepidiana.wordpress.com

[HepHep]

49 thoughts on “[FREELANCE] The End of Her Tears (Chapter 2)

  1. Shtdmn! Fck you krisssssssssssssssssssss (sorry bahasanya) jerk! Tega! Iblis!
    Sumpah emosi banget sma karakter Kris disini.. Sama jessi juga! Knapa ndk ninggalin that jerk?!-_-
    Demi apa ya! Rambutnya ditarik, ditampar. Itu udah keterlaluan bnget-_- kok bisa Kris sejahat itu?! (ºДºщ)
    Pleaseee buat si Tiffany ndk inget siapa Kris, trus buat Kris menyesal sma perbuatannya ke jessi di ff ini-,-v
    Update asap ne thor^^ I’m waiting forward hakhak~ ㅋㅋㅋ

  2. Kris jahat and kasar banget sama jessica. Masa bisa2nya kris ngelakuin itu sama istrinya yang cantik and baik kaya jessica coman gara2 masih inget sama mantan pacarnya. Aduh aku jadi ikut ikutan sedih baca nasip jessica yang teragis di ff ini. Tapi ffnya tetep bagus ko🙂

  3. uuuggh krisss,rasanya benci banget sm kamu di crita ini
    namja kok gak ada sopan2nya sm wanita
    huwaa onnie kasiannya dirimu😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s