Reminded Christmas [Ficlet]

FF-Reminded Christmas

Title : Reminded Christmas
Genre : Romance
Rating : T
Length : Ficlet
Cast :

  1. Jessica [SNSD]
  2. Kris [EXO]

Note : FF ini sebenarnya sudah satu tahun selesai dibuat. Cuma, nggak sempet di publish. Terus, kemarin juga mau di publish, tapi karena suatu alasan ditunda jadi hari ini. Maaf soal typo dan alur yang terlalu dipaksakan. Happy reading!

Disclaimer © Artists are belonging to God, their company, and their parents. This story is belonging to me.

© Himma Isya Haniyya

 

Author POV

Seorang perempuan tampak sedang mengusap-usap kedua telapak tangannya di depan tungku api menyala. Ia sepertinya benar-benar kedinginan. Perempuan itu segera menoleh ke belakang, kekasihnya sedang berjongkok dan menatapnya hangat dengan lengan yang melingkar di lehernya.

 

“Kau tidak kedinginan Kris?”

Kris menggeleng pelan, “Sudah tidak tepatnya. Apa kau masih kedinginan?”

“Iya. Badai tadi benar-benar hebat. Untung aku bersamamu, kalau tidak … mugkin aku sudah terbang jauh.”

Kris mencolek ujung hidung Jessica dan terkekeh pelan. “Justru itu, kau harus banyak makan! Itu juga salahmu karena kau terus mengelak perintahku.”

 

Jessica menggembungkan pipinya kesal. Tadi ia bersama Kris nekat keluar di tengah-tengah badai salju. Awalnya mereka terjebak didalam kantor mereka berdua—Jessica adalah sekretaris Kris—tapi Jessica terus merajuk untuk pulang ke rumahnya meskipun Kris sudah melarang berkali-kali.

 

“Ayo mandi dan ganti bajumu! Kau nanti bisa sakit Jessie!”

“Ahh … tidak mau! Airnya dingin!” elak Jessica.

“Hidupkan kran air hangatnya … Aku tidak mau kau sakit karena terus memakai pakaian basah itu.” Jessica tetap diam memandang wajah Kris di hadapannya.

“Apa harus aku temani mandi?”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya dan pergi dari hadapan Kris ke kamarnya. Tapi baru dua detik ia melangkah, Jessica kembali lagi dan mengecup pipi kanan Kris.

 

“Jangan lupa menggunakan minyak agar tubuhmu hangat.”

“Baik Mr. Wu Fan!”

 

Jessica dan Kris sibuk memilih kaset yang akan ditontonnya bersama. Ya, mereka memutuskan untuk menonton film bersama malam ini. Kris tidak bisa pulang kerumahnya karena badai belum berhenti.

 

“Kris-ya, terserah kau saja ingin menonton film apa. Aku merapikan kamar yang kau tempati dulu, okay?”

Kay! Bawalah beberapa snack Jessie! Aku memutuskan untuk menonton film 2012. Bagaimana?”

Jessica terseyum hangat. “Apapun itu aku setuju asalkan bersamamu.”

 

 

Kris memeluk Jessica di depan pohon natal milik Jessica—tetapi mereka berdua yang menghiasnya—hanya lampu dari pernak-pernik di pohon natal yang menyala.

 

“Jessie, ini sudah malam,” kata Kris lembut.

“Ayo kita tidur Kris! Jangan lupa menggosok gigimu!”

Of course! Merry Christmas Jessica! I Love You.

 

Kris melepas pelukannya dan mencium bibir Jessica cepat lalu pergi ke kamar yang selalu ia tempati saat ia menginap dirumah Jessica—Jessica tinggal di rumahnya sendirian, orang tua dan saudaranya masih berada di Amerika karena perusahaan ayahnya dan sekolah saudaranya.

 

“Tuhan … semoga Kris tidak akan meninggalkanku dan aku ingin hidup bahagia bersama Kris. Aku adalah hambamu yang baik, bukan? Jadi kabulkanlah doaku,” kata Jessica saat ia sudah berbaring dikasur empuknya.

“Ada kejutan apa dihari esok? Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.”

“Selamat natal semua! Aku sayang kalian semua! Eomma, Appa, Krystal, Kris, dan semua teman-temanku.”

 

Kris terjaga dari tidurnya. Ia turun dari ranjang tempatnya menuju jendela dan membuka tirai yang menutupi pemandangan di balik jendela. Salju turun. Tapi ini berbeda, saljunya tampak berkilauan seperti ada kandungan emas di dalamnya. Sedetik kemudian ia berlari menuju kamar Jessica.

 

“Jessica! Jessica!” kata Kris membangunkan Jessica yang masih terlelap.

“Jessie … wake up!”

“Jessica! Bagunlah! Saljunya turun!”

“Hmm?” balas Jessica dengan mata yang masih terpejam.

“Ayolah Jessie … Lihatlah! Saljunya turun dan badai sudah reda,” kata Kris lagi.

“Eoh? Kris? Ada apa?” tanya Jessica berusaha bangkit dari tidurnya.

 

Kris membuka tirai jendela kamar Jessica. Tatapan mata Jessica tentu saja langsung tertuju pada jendela. Senyumnya tak lama langsung merekah.

 

“Kris … apakah ini sebuah keajaiban?” tanya Jessica sembari berjalan menghampiri Kris.

“Keajaiban? Mungkin?” jawab Kris.

“Indah bukan?” kata Jessica yang sudah ada di dalam pelukan Kris.

Kris tertawa, “Harusnya aku yang menanyakan itu. Ayo kita pergi ke lantai bawah!”

“Untuk apa?”

You should not know hun …

 

 

Jessica dan Kris sibuk membuka kado natal mereka. Ini baru pukul 5 pagi. Cukup heran, baik Jessica maupun Kris bukanlah seorang morning person. Jika pun mereka sudah bangun dari tidurnya, mereka lebih memilih tidur lagi atau hanya berbaring malas sampai kantuk mereka benar-benar hilang.

 

“Woa! Aku dapat buku harian baru!” pekik Jessica senang.

“Lihatlah! Ini milikmu Sica-ya!”

“Gaun! Kyeopta!!”

“Ayo kita pergi ke rumahku! Aku juga ingin melihat kado apa yang kudapatkan!” ajak Kris.

“Ahh … Tapi aku masih ingin melihat kado-kadoku!” tolak Jessica.

“Kau bisa membawa beberapa Jessie.”

“Eung … yang mana Kris? Yang harus aku bawa,” tanya Jessica.

“Terserah, Jessica!” jawab Kris sambil mengacak rambut Jessica pelan.

 

 

“Aku jealous! Kado yang kau dapat banyak sekali!” kata Jessica sembari menatap kado-kado yang ada di hadapannya.

“Kau mau kado lagi?” tanya Kris.

“Emm … tidak juga. Hey! Lihat apa yang kau dapat Kris! Satu gulung tisu kamar mandi!”

 

Kris segera melirik Jessica dan isi kado yang dipegang Jessica—Jessica sekarang sedang membantu Kris untuk membuka kado yang Kris dapatkan. Gila, siapa yang memberi kado itu? batin Kris.

 

“Mungkin saja itu kado dari Henry, sepupumu yang sangat jahil itu.”

“Ya … mungkin. Jam berapa Jessie?” tanya Kris.

“Jam 7 tepat. Memang ada apa?”

“Kau tidak bisa berlama-lama disini, aku harus pergi,” kata Kris.

Jessica merenggut sebentar dan tersenyum manis. “Tak apa. Aku akan menunggumu disini.”

“Tapi kau tak bisa disini Jessie sayang, aku akan kembali larut, bisa saja besok pagi.”

“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang!” kata Jessica dengan nada yang sedikit dipaksakan.

“Aku antar Jessie!”

“Tidak perlu! Aku bisa naik bus!”

“Kau marah padaku?” tanya Kris hati-hati.

Jessica mengerjap pelan, “Aku tidak marah padamu. Kau saja yang terlalu khawatir padaku.”

“Biarkan aku mengantarmu.”

 

Jessica berjalan menyusuri kota Seoul. Aspal yang berwarna keabuan kini menjadi putih, tertutup oleh salju. Sekarang salju memang sudah tidak turun lagi, namun suhunya masih sangat dingin.

 

“Ahh … andai Krystal ada di sini, pasti kedai es krim itu menjadi heboh karena kami,” gumam  Jessica sambil menatap kedai es krim itu lirih.

 

Jessica kembali berjalan. Ia tak tahu kemana tujuannya akan pergi. Natal sudah berakhir hari ini, Seoul kembali ramai. Kris masih ada acara. Jessica benar-benar merasa bosan di rumah sendirian tanpa teman.

 

“Y-ya!” pekik Jessica saat pandangannya terhalang oleh sesuatu.

“Y-ya! Lepaskan! Lepaskan tanganmu dari mataku atau aku akan berteriak!”

“Teriak saja,” jawab orang itu.

“Hey, hey, hey. Aku kenal suara ini. Kris! Lepaskan Kris!”

Kris melepaskan tangannya dan tersenyum. “Sica-ya!”

“Katamu kau masih ada acara! Kau bohong padaku, ya?” selidik Jessica.

“Aku memang sengaja membohongimu.”

“Bagaimana jika aku menemanimu makan es krim?” lanjut Kris.

Good idea!”

 

Jessica melirik Kris yang sedari tadi menatapnya. Kris tersenyum penuh arti mengisyaratkan agar Jessica tetap melanjutkan memakan es krimnya.

 

“Ada apa Kris? Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan,” tanya Jessica mengartikan tatapan Kris tadi.

“Aku hanya ingin memberimu ini,” jawab Kris sembari menyerahkan kado kecil untuk kekasihnya itu.

“Kado? Tapi untuk apa?”

“Aku belum memberimu kado natal kemarin, jadi itu untukmu.”

Jessica tersenyum senang. “Kau baik sekali Kris … Aku jadi merasa bersalah, aku belum memberikanmu kado natal.”

 

Kris mendekati Jessica dan menarik pundak Jessica mendekat kearahnya. Tangan kanannya membuka kado kecil itu dan mengambil isinya lalu menjulur meraih jemari Jessica. Jessica mengangkat jarinya itu. Ia melihat cincin indah bersarang di salah satu jemarinya.

 

“Kris … indah sekali cincinnya. Bagaimana aku harus membalasnya?”

“Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaanku.”

“Apa itu?” tanya Jessica setengah berbisik.

Will you marry me?” Kris balas berbisik.

 

Empat kata tadi berhasil membuat Jessica speechless. Kris membalikkan tubuh Jessica menghadap kearahnya. Manik matanya menilik manik mata Jessica dalam. Jessica mulai menitikkan air matanya dan merengkuh Kris erat.

 

Yes. I do, Kris.”

 

Ini adalah kado natal terindah bagi Jessica. Meskipun tidak tepat pada hari natal, kado ini benar-benar membuat Jessica terharu, senang, gembira. Semua rasa tercampur di hatinya.

Reminded Christmas
©Himma Isya
—The End—

 

 

 

 

38 thoughts on “Reminded Christmas [Ficlet]

  1. wah thor ff ni udh stahun tp gk pernh dipost y ampyun ff se sweet ni dbiarin brjmur y. hehehe….
    tp skali lg ni kren…. ok ditggu ff mu lain’a.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s