When the Snow Falls (2nd Shoot)

whenthesnowfallspng2

Author : XYZ Hyura

Title : When the Snow Falls

Genre :

Romance, Family, Friendship, Married Life, Angst (?)

Rating : PG – 16

*karena kata-kata yang menurut saya

tidak pantas dibaca oleh anak dibawah umur*

Length : 2 Shoot

Cast :

Jessica Jung – Luhan – Kang Minhyuk (CNBlue)

Oh Sehun

1st Shoot

= =

Luhan mengacak rambutnya frustasi. Namja itu masih terus memikirkan istrinya yang sedang pergi dengan namja lain. Yah, walaupun Luhan tahu siapa Kang Minhyuk itu, tetapi ia juga tahu bahwa sepertinya Minhyuk menyimpan rasa terhadap istrinya.

TING TONG

 

Luhan yang mendengar bel berbunyi pun segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu depan.

“Sehun!” pekik Luhan terkejut

“Hai, hyung! Lama tak jumpa,” Sehun tersenyum senang mendapati Luhan baik-baik saja. Bahkan wajah Luhan sudah lebih bersinar daripada sebelumnya, ya, walaupun Sehun sendiri tahu bahwa keadaan rumah tangga Luhan tidak pernah dikata baik-baik saja.

“Bagaimana kabarmu, Hyung?” tanya Sehun sembari masuk ke dalam rumah Luhan dan duduk di sofa ruang tamu dengan nyaman

Luhan tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Sehun, “Biasa saja.”

“Apakah kau masih sering mabuk-mabukan, uh?” tanya Sehun. Namja itu menatap Luhan penasaran.

“Kau kira aku akan bebas berkeluyuran pada malam hari jika istriku saja bisa pulang lebih dari jam 2 malam?” Luhan menuangkan air lemon ke gelas

“MWO? Sica noona pulang semalam itu?”

Luhan memutar matanya jera, “Tidak usah terkejut. Jessica menghabiskan waktunya di rumah sahabatnya.”

“Oh, itu baik. Sica noona akan lebih bisa memaknai kehidupan rumah tangga melalui sahabatnya, bukankah begitu hyung?”

“Baik apanya, huh? Sahabatnya saja seorang namja. Kau masih bisa berkata bahwa itu BAIK?” Luhan menatap Sehun tajam; Sehun mendelik takut

“Mian, aku tidak tahu bahwa sahabat Sica noona seorang namja.” Sehun sedikit memanyunkan bibirnya

Luhan menarik napas sedalam-dalamnya sebelum ia menanyakan sesuatu kepada Sehun. “Sehun ah! Apakah aku salah?”

“Salah?” Sehun menatap Luhan bingung, “Salah apanya?”

“Salah karena menikahi Jessica?”

Sehun menarik napasnya, “Aku anggap itu adalah sebuah pernyataan, Hyung. Kau tahu betapa tertekannya Sica noona saat pertama kali menikahimu? Kau menjadikan Sica noona sebagai pelarianmu terhadap Fany noona, bukankah begitu? Kau begitu kejam kepadanya, Hyung. Tidak tahukah dirimu betapa Sica noona melayanimu dengan baik, merawatmu dengan baik, dan membimbingmu dengan begitu sabar saat kau sedang mabuk? Kalau aku boleh jujur, kau terlalu sering menyakitinya. Kau begitu jahat terhadapnya.”

“Aku sedang ingin memperbaiki hubungan kami, Sehun. Akan tetapi, Jessica terus saja bersama sahabatnya.” terang Luhan

“Kau kira mendapatkan hatinya kembali adalah hal yang mudah, Hyung? Aku tahu kau dicampakan oleh ‘noona jalang’ yang kau cintai itu, tetapi kau tidak seharusnya mencampakan Sica noona yang begitu baik terhadapmu!” Sehun mengatakan hal itu dengan nada sinisnya

Bagaimana pun, seorang Oh Sehun adalah hobbae Jessica yang begitu mengagumi seorang Jessica Jung di kampusnya dulu. Sehun tidak begitu dekat dengan Jessica, tetapi namja itu cukup dapat memahami sikap dan karakteristik yeoja layaknya Jessica.

“Apa sekarang kau mulai menyalahkanku, huh?”

“Aku tidak menyalahkanmu, tetapi kau memang bersalah, Hyung.” Sehun menatap Luhan kesal

Luhan beranjak dari duduknya, “Dia terus saja menginginkan kami bercerai,” cerita Luhan yang sekarang membuat Sehun berdecak pelan.

“Apakah Sica noona mengira bahwa bercerai adalah hal yang begitu mudah? Tidak kau, tidak juga Sica noona, kalian berdua sama-sama kekanak-kanakan.” Sehun memakan camilan yang ada di meja ruang tamu rumah Luhan

“Tunggu dulu, bukankah seharusnya kau marah saat Sica noona berpergian dengan namja lain?” tanya Sehun penasaran

Luhan merebahkan dirinya di sofa, “Aku tidak bisa. Dia akan melakukan kebiasaan yang mengerikan jika saja aku membuatnya marah ataupun kesal.” terang Luhan dengan nada sedih.

“Kebiasa… HAH? DIA MASIH SAJA MENGGIGIT BIBIRNYA HINGGA MENGELUARKAN DARAH?” pekik Sehun. Namja itu sungguh terkejut bahwa Jessica tidak juga menghilangkan kebiasaan jeleknya walau saja Sehun mengingatkan hal itu berkali-kali.

“Kau bukan suaminya, tidak usah sekhawatir itu kepadanya!” kata Luhan ketus kepada Sehun

“Tap.. tapi bukankah…”

“Walaupun kau sering melarangnya, sering menasehatinya, kau tidak akan pernah melihat perubahan drastis dari seorang yeoja seperti Jessica.” Luhan memejamkan matanya mencoba merilekskan pikirannya

“Sadarkan Sica noona, Hyung. Jebal~”

“Aku ingin pulang~” rengek Jessica setelah beberapa saat terdiam

Minhyuk mengelus kepala Jessica lembut, “Sebentar lagi Sica ya~” katanya sembari tersenyum.

Jessica mengangguk pelan kemudian kembali melihat-lihat furniture yang dijual di toko tersebut. Jessica sungguh mengagumi semua benda berwarna merah muda yang terpampang di toko tersebut.

Indah‘ begitulah pemikiran Jessica terhadap barang-barang tersebut. Akan tetapi detik berikutnya, dengan segera Jessica berlari menghampiri Minhyuk dengan wajah bencinya. Ya, ia teringat bahwa Tiffany sangat menyukai warna itu. Jessica kembali merengek kepada Minhyuk agar segera pulang.

“Bagaimana Tuan Kang?” tanya pelayan di toko tersebut

Minhyuk hanya mengangguk dengan senyuman tipis menghiasi wajah tampannya. “Aku akan mengambil itu semua,” jawab Minhyuk.

“Petugas kami akan mengantarkannya sesegera mungkin.”

“Terimakasih banyak, Tuan Lee,” Minhyuk membungkuk memberi salam, diikuti Jessica. Tuan Lee juga membungkukan badannya memberi salam kepada kedua insan di depannya.

.

Sesampainya Minhyuk dan Jessica di dalam mobil, namja berwajah manis itu menanyakan sesuatu kepada Jessica.

“Kenapa kau tiba-tiba berlari kepadaku?”

Jessica mendengus kesal, “Jangan tanyakan itu!”

“Ada yang salah dengan furniture di toko tersebut?” tanya Minhyuk seraya menghidupkan mesin mobilnya

“Banyak,” jawab Jessica singkat dengan maksud agar Minhyuk menghentikan percakapan mereka

Seperti mengetahui apa yang Jessica inginkan, kini Minhyuk hanya tertawa renyah menanggapi jawaban Jessica dan kemudian ia diam tidak melanjutkan pertanyaannya.

“Kau mau kuantar sampai ke rumahmu, Sica?”

Jessica menggigit bibir bawahnya pelan. Ia sedang menimbang jawaban yang tepat. “Uhmm… Ba..iklah..”

“Kalau begitu aku akan menurunkanmu di depan rumahmu,” kata Minhyuk

“Tentu saja, memangnya kau akan menurunkanku di rumah keluargaku? Mana mungkin?” Jessica menatap Minhyuk kesal. Ini bukanlah waktu bercanda bagi Jessica, sehingga Minhyuk harus rela bahwa candaannya tidak membuat Jessica tersenyum sama sekali.

“Aku mulai bosan~” kata Sehun sembari memakan camilannya

Luhan melirik Sehun dengan tatapan dinginnya, “Kau kira aku tidak?”

Sehun meruntuki dirinya karena ia telah berlagak bahwa Luhan membosankan. “Bukan begitu, Hyung! Maksudku, aku ingin Sica noona cepat pulang~” ceplos Sehun.

Sekarang Luhan menatap Sehun tajam. “Dia istriku, kau tak perlu merindukannya!” kata Luhan tajam.

Tentu saja Luhan cemburu dengan perkataan Sehun yang seakan-akan namja itu adalah namja kesayangan Jessica. Sehun hanya mendelik ketakutan karena Luhan.

Tidak lama kemudian, kedua namja itu mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah Luhan. Luhan sendiri segera beranjak dari duduknya dan mendekati pintu masuk. Ia mengintip melalui jendela sebelum ia membuka pintu. Sehun pun ikut menengok siapa yang datang.

.

“Ingat! Jangan sekali-sekali kau menangis! Dengarkan apa nasihatku, Sica ya!” pesan Minhyuk sembari mengukir senyuman manisnya

Jessica hanya cemberut dengan lucu di depan Minhyuk. “Arraseo, arraseo. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak berada di rumahmu, ne?” pesan Jessica balik.

“Aku selalu baik-baik saja tanpamu, Sica. Harusnya kau yang menjaga dirimu, karena kau tidak akan baik-baik saja tanpaku,” Minhyuk terkekeh setelah mengatakan hal tersebut

Jessica melayangkan pukulannya ke arah lengan Minhyuk, “Jangan mengejekku!” cibir Jessica.

“Cepat masuk! Kau sudah ditunggu oleh suamimu,” Minhyuk menunjuk ke arah rumah Jessica

“Baiklah, baiklah~” Jessica memutar matanya kesal

Sebelum Jessica beranjak, Minhyuk menahan tangan Jessica. “Apa lagi?” kesal yeoja dengan paras cantik itu.

“Terimakasih telah menemaniku hari ini,” ucap Minhyuk lembut

Jessica tersenyum manis mendengarnya. “Anytime, Minhyuk ah..”

.

BRAK

“Aku pulang~” salam Jessica pada Luhan

Luhan yang awalnya ingin sekali membukakan pintu untuk sang istri sekarang menjadi lesu karena melihat sang istri begitu senang berada di sebelah Minhyuk. Sehun pun hanya dapat diam seribu bahasa karena mengetahui bahwa sahabat Jessica adalah sunbae terdekatnya saat ia kuliah.

Jessica mengedarkan pandangannya dan menemukan Sehun duduk manis di sofa ruang tamunya. “Sehun ah, kau di sini!?” seru Jessica terdengar dengan nada yang amat gembira.

“Ne, Noona~ Senang bertemu denganmu lagi…” Sehun tersenyum menatap Jessica

“Kau senang Sehun di sini?” tanya Luhan berusaha biasa saja

Jessica memalingkan wajahnya menatap sang suami, “Tentu saja aku senang. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya semenjak…” kata-kata Jessica terputus.

“Semenjak apa?” tanya Luhan penuh penekanan

Jessica memejamkan matanya. Sehun tahu kapan terakhir kalinya mereka bertemu. Dan itu semenjak terakhir kalinya Luhan mabuk dikarenakan yeoja yang Jessica benci – Tiffany.

“Sica! Jawab aku!” Luhan menekankan kata-katanya

“Hyung! Jika Sica noona tidak ingin mengatakannya, maka jangan paksa dia!” Sehun mencoba membela Jessica

“Kau tidak usah ikut campur, Sehun!” peringat Luhan tajam

Jessica menutup telingannya. Ia berusaha dengan susah payah agar ia tidak menggigit bibir bawahnya hingga berdara lagi. Ia telah berjanji tidak akan menyakiti dirinya sendiri.

“BERHENTI!” teriak Jessica, “Aku tidak ingin memperjelasnya lagi, Luhan. Permisi.” Jessica langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

Sehun menatap Luhan tidak percaya, “Hyung! Terakhir kali ia bertemu denganku adalah suatu hal yang menyakitkan baginya!” terang Sehun.

“Kau tidak usah terlalu percaya diri, Sehun!” Luhan terus saja berkata tajam kepada Sehun

“Bukan itu maksudku, Hyung! Terakhir kali ia bertemu denganku adalah saat kau terus saja memanggil nama Tiffany noona. Berkali-kali Sica noona menyadarkanmu bahwa dia bukanlah Tiffany noona, tetapi kau terus saja memanggil nama itu. Kau sungguh kejam telah membuatnya kembali menangisi hal itu, Hyung!” Sehun menyalahkan Luhan

Sekarang Luhan tidak tahu harus bagaimana. Ia selalu saja berpikir yang jelek jika itu telah menyangkut dengan sang istri. Luhan tidak bisa membuang pikiran jeleknya jika ia sudah berada di titik emosinya.

FIBRA PHONE

Di tengah-tengah tangisnya, Jessica berusaha menerima telepon yang masuk dengan setenang mungkin.

“Yoboseyo~”

‘Sooyeonie~ Temui aku!’

“Myung… Myungsoo?”

‘Temui aku sekarang, jebal~’

Jessica menggigir bibir bawahnya dengan sangat keras di bawah kesadarannya.

“Wae?”

‘Jebal, Sooyeonie~’

Jessica tidak habis pikir. Seseorang yang telah lama membuat jantungnya berdegup kencang – yang menghilang di saat Jessica benar-benar membutuhkannya – sekarang dia kembali lagi. Tak terasa bahwa sedikit demi sedikit darah kembali menetes dari bibirnya.

‘Sooyeon!’
“Kenapa kau dengan tiba-tiba menghubungiku? Ada perlu apa?”

Setenang mungkin yeoja itu menanyakan keperluan Myungsoo, tetapi sesungguhnya ia benar-benar gugup saat itu.

‘Aku butuh bantuanmu’

Penyataan Myungsoo membuat hatinya terasa dicabik walaupun tidak sesakit jika ia dengan Luhan sedang berdebat.

“Maafkan aku, aku tidak bisa.”

Jessica memutus sambungan teleponnya dengan kasar, lalu ia melepaskan baterai ponselnya agar ia tidak perlu mendengar ponselnya bergetar lagi.

Yeoja itu sekarang meringkuh di tempat tidur Luhan dan dirinya. Ia menangis tersedu-sedu merasakan betapa sakitnya menjadi dirinya. Keluarganya terlalu jauh di Amerika, membuatnya semakin sedih akan kenyataan hidupnya.

BRAKKK

Seorang namja yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan membanting pintu dengan kasar. Sehun hanya dapat mengikuti di belakang Luhan.

“Ceraikan aku! Ceraikan aku sekarang juga!” ucap Luhan dengan nada tinggi membuat Jessica semakin terisak

“Hyung!” Sehun mengingatkan Luhan akan tindakannya

“KAUPIKIR AKU TAKUT KEHILANGANMU, HUH?” teriak Luhan

Jessica sontak terkejut akan teriakan Luhan. Namja itu tidak biasanya seperti itu kepadanya. “Kau… kenapa?” tanya Jessica takut-takut.

“KAU TIDAK MENCINTAIKU, BUKAN?” tanya Luhan dengan nada tinggi lagi

Jessica memejamkan matanya, “Luhan, jangan mulai!” kata Jessica lembut.

“DULU KAU MEMINTAKU MENCERAIKANMU, BUKANKAH BEGITU?”

“LUHAN!” bentak Jessica yang diikuti bertambah derasnya air mata yang keluar dari kedua mata cantiknya. Sehun ikut terdiam akan teriakan Jessica yang terdengar seperti suatu ancaman.

“Aku mohon kau tidak mengungkit apapun,” ujar Jessica lirih, “Aku tahu kau marah. Aku tahu kau kesal kepadaku. Aku sungguh meminta maaf akan hal itu. Aku… aku sedih melihat bahwa pernikahanku ini tidak didasari oleh cinta. Aku sedih dengan apa yang menimpaku saat ini. Aku bingung akan perasaanku. Aku lelah. Aku tidak tahu apakah aku bahagia atau tidak berada di sisimu. Aku.. aku-”

Sekarang Luhan sudah berada tepat di depan Jessica. Namja itu berlutut di depan Jessica, ia sedikit mendongak menatap Jessica yang duduk di atas tempat tidur. Terlihat jelas kesedihan yang teramat mendalam tersirat baik di wajah Jessica maupun Luhan.

Mata Jessica menatap Luhan yang juga menatapnya, itu alasannya mengapa ia berhenti menjelaskan perasaannya. Jessica akan dengan sangat tiba-tiba kehilangan kata-kata jika Luhan menatapnya.

“Apakah kau memercayaiku jika aku mengatakan bahwa aku sudah tidak bergantung dengan masa laluku?” tanya Luhan pelan namun dengan penuh perasaan

Tetapi Jessica hanya terdiam. Ia terus menatap mata indah milik suaminya itu.

“Apakah kau memercayaiku jika aku ingin mencabut semua perjanjian kita waktu itu?” tanya Luhan lagi.

Dan lagi-lagi Jessica tidak menjawab pertanyaan Luhan.

“Akankah kau percaya jika aku mencintaimu, Jung Jessica?”

DEG !

“Kau hanya mencintai Tiffany!” elak Jessica

“Jangan sebut NAMA itu lagi, Sica!” tekan Luhan kepada istrinya

Jessica menatap Luhan dengan sungguh-sungguh. Dan buliran air mata berhasil membasahi wajahnya. Luhan berusaha menghapus air mata tersebut, tetapi Jessica tidak memperbolehkannya. Jessica menepis tangan Luhan dengan kasar.

“Jangan pernah katakan suatu bualan kepadaku, Luhan!” kata Jessica tajam

Luhan mendesah pelan. “Haruskah aku menunjukan bahwa aku benar-benar mencintaimu, Sica?” tanya Luhan dengan nada yang terdengar menyerang.

Sehun yang sedari tadi diam membeku – menatap rumah tangga yang diambang kehancuran itu – hanya dapat menelan salivanya setiap kali Luhan mengatakan hal-hal yang membuatnya ikut terkejut. Sehun tahu bagaimana perasaan Luhan saat Jessica masih saja mengelak bahwa Luhan tidak mungkin mencintainya. Akan tetapi, Sehun juga dapat merasakan bagaimana sakitnya Jessica.

“Ingat perjanjian kita yang paling utama bahwa aku tidak akan menghamilimu? Jika aku melanggarnya, itu berarti tidak ada perjanjian diantara kita. Dan yang perlu kau tahu, jika aku melanggar janji utamaku, aku… aku benar-benar mencintaimu.” jelas Luhan

Jessica membeku mendengar penjelasan Luhan. Yeoja itu sama sekali tidak mengingat semua perjanjian Luhan. Ya, karena baginya perjanjian itu sudah pasti melekat dengan sempurna di tubuhnya dan tidak mungkin bagi keduanya melanggar janji itu. Akan tetapi, Luhan dengan tiba-tiba membuatnya mengingat janji-janji di awal pernikahan mereka.

Sehun yang ikut mendengarnya tak dapat menahan keterkejutannya. Namja itu dengan segera menutup mulutnya saat ia akan berteriak histeris. Sehun tahu pasti bahwa pernikahan itu tidak didasarkan cinta dari kedua insan itu, tetapi ia tidak tahu bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjanjian. Namja itu diam-diam keluar dari kamar Luhan dan Jessica setelah melihat bahwa Luhan mulai mencium bibir Jessica.

“Aku harus pulang atau menunggu di ruang tamu?” gumamnya pelan. Pikirannya masih tidak dapat berkonsentrasi setelah melihat adegan ciuman yang Luhan lakukan kepada Jessica.

Pukul 3.00 pm

“Enghh..” Jessica mendesah kesakitan saat mencoba menggerakan tubuhnya. Ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Matanya membulat sempurna saat menyadari bahwa ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Tubuhnya hanya dibalut dengan selimut tebal.

Jessica sadar bahwa Luhan tidak ada di sebelahnya. Ia juga dapat melihat bahwa perapian telah menyala dengan damai, berusaha menghangatkan yeoja yang baru saja bangun dari tidurnya. Jessica sekarang mulai ketakutan.

Entah mengapa pikirannya kembali melayang kepada saat-saat dimana ia sedang bercumbu dengan Luhan. Sialnya, itu hanya membuatnya semakin sakit hati. Jessica tidak tahu mengapa dirinya menjadi aneh seperti ini. Bahkan rasanya ingin sekali ia membunuh Luhan saat ini karena namja itu telah benar-benar melanggar perjanjian mereka.

“Kau sudah bangun rupanya?”

Suara hangat Luhan dengan begitu cepat merambat masuk dan menggetarkan gendang telinga Jessica. Suara itu juga berhasil membuat jantung Jessica berdetak lebih kencang. Entah karena ia ketakutan atau mungkin lainnya.

Jessica menaikan selimutnya pelan, “Keluar! Aku ingin mengenakan pakaianku terlebih dahulu,” Jessica mengusir Luhan.

“Ck” Luhan mendecak pelan, “Sudahlah, pakai saja pakaianmu di depanku. Lagipula aku telah melihat tubuhmu tanpa sehelai benang pun,” kata Luhan yang berhasil membuat pipi Jessica memanas karena malu.

“YA! Kenapa kau melakukannya? Bukankah itu adalah sebuah janji? Janji tidak bisa begitu saja kau langgar!” tanya Jessica dengan nada kesal

Luhan mendekati Jessica yang masih berbaring di kasur berukuran besar itu. Jessica terkesiap mengetahui Luhan mendekatinya, takut-takut Luhan akan membuka selimutnya dan membuat Jessica malu setengah mati.

“Masih saja kau mengungkit tentang perjanjian itu? Lihat ini!”

Luhan berjalan keluar dari kamar tidur; Jessica hanya dapat diam di tempat, karena ia tahu bahwa Luhan akan kembali. Benar saja, Luhan kembali dengan membawa kertas yang Jessica ketahui adalah ‘Surat Perjanjian’ mereka. Luhan mengankat kertas tersebut lalu merobeknya menjadi potongan – potongan kecil dihadapan Jessica.

“HEY! APA YANG KAU LAKUKAN, LUHAN!?” pekik Jessica terkejut mengetahui Luhan merobek surat perjanjian mereka

“Sica, kumohon percaya lah kepadaku. Aku mencintaimu. Aku tidak membual, tolong percaya lah,” ujar Luhan dengan nada lirih sembari berjalan mendekati Jessica yang masih terbaring di kasur

Jessica membuang wajahnya dari tatapan Luhan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kali ini, ia akui bahwa dirinya telah kalah. Ya, Jessica tidak tahu ia akan luluh begitu saja dengan hanya pernyataan “Aku mencintaimu” yang keluar dari mulut Luhan. Kata-kata itu seakan adalah obat dari sakit hati yang telah 1 tahun ia pendam sendiri.

“Maafkan aku, Sica. Aku bodoh, ya, aku tahu itu. Aku seharusnya sadar bahwa aku sebenarnya lebih mencintaimu. Maafkan semua kesalahanku, Sica. Aku benar-benar menyesal,” Luhan menundukan kepalanya. Ia merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan Jessica di awal pernikahan mereka.

Sesungguhnya apa yang Luhan lakukan di awal pernikahan hanyalah untuk menghindari Tiffany yang terus saja menghantui pikirannya. Pada saat itu Luhan benar-benar gila karena mendapatkan kabar bahwa Tiffany telah bertunangan dengan seorang pengusaha kaya bernama Choi Siwon. Luhan tidak tahu harus berbuat apa.

Selama ia tidak melihat Tiffany, Luhan sering mengerjai yeoja yang bernama Jessica. Dimulai dengan hal tersebut, Luhan jadi memutuskan untuk menikahi Jessica. Entahlah mengapa ia melakukannya, tetapi yang ia tahu itu hanyalah insting seorang namja belaka. Bahkan Luhan tidak tahu apakah ia benar-benar mencintai Jessica atau tidak.

Namun beberapa bulan setelah ia menikahi Jessica, Luhan kembali melihat Tiffany dan membuat niatnya untuk melamar Tiffany kembali muncul. Memang gila Luhan pada saat itu, tapi itu ia lakukan di bawah sadarnya. Luhan sampai sekarang masih menyesali perbuatannya tersebut.

“Apa kau kira semudah itu mengatakan bahwa kau mencintaiku?” tanya Jessica yang masih saja memalingkan wajahnya dari Luhan

“Aku…”

.

Di lain sisi, Sehun mendengarkan semua percakapan tadi di luar kamar Jessica dan Luhan. Dengan sangat hati-hati Sehun mendengarkan percakapan mereka. Namja itu memang sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka alami selama ini.

Sehun menatap jendela kaca yang begitu besar dan mampu menampilkan sebagian pemandangan di luar rumah itu. Salju mulai turun dengan perlahan dan Sehun dapat merasakan bahwa hawa dingin mulai menjalar di tubuhnya yang terbalut dengan 2 jaket.

DUK

“Aakhh!”

Sehun tiba-tiba mendengar suara teriakan Jessica. Namja itu sekarang mulai berpikir yang aneh-aneh. Dipikirannya mulai memutar suatu ingatan disaat ia melihat film porno. Sehun segera saja turun ke lantai bawah agar ia tidak kembali penasaran seperti sebelumnya.

“Jika memang mereka sedang melakukannya, mereka tega sekali melakukannya saat aku berada di rumah mereka,” cibir Sehun seraya meraih gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas tersebut lalu meneguknya

Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia merasakan tangan hangat Luhan melingkar di pinggangnya dengan lembut di bawah selimut yang menutupi tubuh Luhan dan dirinya.

“Wo ai ni, Sica ya~” bisik Luhan pelan namun berhasil menggetarkan hati Jessica sejenak

Jessica tidak tahu dia harus bagaimana saat ini. Ia merasakan…. sesuatu yang asing di dalam dirinya. Ia juga tidak terbiasa bangun pagi-pagi seperti ini, dan hal itu menambah rasa aneh yang ada di dalam dirinya.

Jessica mencoba melepaskan tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya, tetapi Luhan segera saja mengeratkan tangannya dan membuat Jessica lebih menempel pada tubuh Luhan. “Jangan mencoba lari dariku, Sica!” gumam Luhan sedikit tidak jelas.

Jessica kali ini mengumpat dalam hati mengetahui bahwa Luhan ternyata sudah terbangun dari tidurnya. “Aku ingin segera mandi, Luhan. Lepaskan aku!”

“Tidak, aku tidak ingin kehilangan dirimu!” elak Luhan pelan sambil terus menerus mempererat tangannya yang melingkar di pinggang Jessica

“Aku hanya ingin mandi, Luhan. Aku tidak akan begitu saja menghilang dari hidupmu. Kau kira aku akan mati?” ketus Jessica dengan nada yang sangat pelan, tetapi Luhan masih dapat mendengarnya

Luhan sekarang memeluk Jessica dari belakang tubuh yeoja itu, “Saranghae” sekali lagi Luhan mengatakan bahwa ia mencintai Jessica dengan bahasa yang berbeda

“I love you,” bisik Luhan lagi dan lagi

Jessica menggigit bibir bawahnya pelan, kebiasaannya akan keluar dengan mudah jika ia sedang merasa tidak nyaman. Akan tetapi sensasi yang ia rasakan kali ini sungguh berbeda dari sebelumnya.

‘Ada apa denganku?’ pikir Jessica

.

Setelah selesai mandi, Jessica keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya. Luhan dengan tiba-tiba mendorongnya hingga ke dinding kamar mereka. Jessica sontak terkejut dengan perlakuan Luhan.

“Luhan, apa yang kau lakukan!?” kesal Jessica atas perlakuan Luhan yang berubah secara drastis

“Aku menginginkanmu, Jessica!” ucap Luhan, “Ralat!” lanjutnya, “Aku menginginkan hatimu, Sica..”

Jessica benar-benar terkejut dengan perkataan Luhan. Ia terus saja dibuat bimbang dengan perlakuan Luhan yang berubah secara drastis itu. Ia merasakan bahwa semakin lama kepala Luhan semakin mendekat ke arahnya. Mata Luhan sepertinya menatap….. bibirnya. Entah bisikan darimana, Jessica perlahan juga menutup matanya dan membiarkan Luhan mencium dan melumat bibirnya.

“Ehm.. ehm..” terdengar seseorang menegur mereka

Jessica yang sadar akan itu mendorong Luhan menjauh dan menatap ke arah……. Oh Sehun?

“YA! Kenapa kau masih berada di sini?” tanya Luhan dengan nada terkejut

Sehun hanya menatap kedua pasangan di depannya dengan tatapan datar, “Aku berniat akan pulang setelah berpamitan dengan kalian,” terang Sehun.

“Tetapi kalian dengan asyiknya melakukan ‘sesuatu yang suami istri lakukan’, jadi aku tidak berniat mengganggu kalian. Bahkan pagi ini kalian tidak dapat menghentikan rasa candunya,” tegur Sehun

Jessica memukul perut Luhan pelan karena mengetahui bahwa Sehun tahu akan semuanya. Luhan hanya menampakan cengirannya kepada Jessica. Luhan beranjak dan menarik Sehun keluar dari kamarnya.

“Kau bisa pulang tanpa berpamitan, bukan?” tanya Luhan kesal

“Itu tidak sopan, Hyung!” Sehun mencibir menatap Luhan

Luhan memutar matanya kesal, “Sekarang kau mau apa? Aku sedang menyelesaikan masalahku dengan Jessica.”

“Menyelesaikan? Bukannya itu memaksa?” balas Sehun mencoba membuat Luhan tersindir

“Kau kira segampang itu menyelesaikannya?” Luhan menatap Sehun dingin

Sehun balas menatap Luhan dengan pandangan yang tak dapat Luhan baca, “Sica noona menginginkan ketulusan, Hyung. Bukan pemaksaan,” kata Sehun.

“Sudahlah, aku sedang mencobanya. Aku benar-benar menyesal akan kejadian yang lampau, Sehun. Sebaiknya aku harus membuat rumah tanggaku baik-baik saja, mulai hari ini,” Luhan bertekad dengan kuat atas kata-katanya

“Benarkah? Kalau begitu, akan kutunggu janjimu, Hyung!”

“Hmm.. Arraseo~”

Jessica duduk dengan nyaman di sofa ruang santai yang berada di lantai dua rumahnya. Ia sesekali menyeruput teh hijau yang ia buat. Hari ini ia tidak pergi mengunjungi rumah sahabatnya – Minhyuk – karena ia sedang merasa nyaman berada di rumah. Ya, dia seakan sedang dinyamankan berada di rumah oleh… entahlah siapa, yang pasti hanya Jessica yang mengetahuinya.

“Kau tidak membuatkan teh hijau untukku, uh?” tanya Luhan sembari duduk di sebelah Jessica

“Untuk apa aku membuatkan teh hijau untukmu?” tanya Jessica pelan dengan nada mengejek

Luhan menatap Jessica dengan saksama, “Dengarkan aku! Aku adalah suamimu, kau ingat?”

Jessica merinding mendengar penuturan Luhan akan fakta bahwa dirinya sudah berstatus sebagai istri seorang Luhan. Ya, Jessica baru saja merasakannya semenjak Luhan membuat Jessica tidak perawan lagi semalam. Jessica bersedekap menatap Luhan dengan dingin.

“Kau membuatku kehilangan hal yang paling berharga di diriku, Luhan!” kesal Jessica dengan nada dingin

“Bukannya kau akan memberikan hal itu hanya kepada yang kau cintai, Sica?” tanya Luhan

“Tentu saja. Mana ada orang yang akan memberikan hal paling berharganya kepada orang lain?” Jessica menatap Luhan dengan polosnya

“Kau sudah memberikannya kepada orang yang tepat, bukankah begitu?” goda Luhan

Jessica menatap Luhan polos, “Apa?”

“Kau mencintaiku ‘kan?”

“Siapa bilang?”

“Aku memiliki alat pendeteksi hati, jika kau tahu itu,” ujar Luhan membuat pipi Jessica memanas

Mungkin memang benar, Jessica mencintai Luhan. Ya, Jessica selama ini mencintai Luhan. Seburuk atau sebejat apapun Luhan pada masa lampau, tidak menghalangi Jessica untuk memendam rasa cintanya terhadap namja itu.

“Kau jahat telah melakukan hal itu kepadaku!” Jessica memukul perut Luhan kasar

Dengan segera Luhan menarik tangan Jessica dan memeluknya dengan erat, dengan kasih sayang juga tentunya. Luhan mengelus punggung Jessica lembut. “Aku mencintaimu Jessica, sangat~” bisik Luhan lembut.

Jessica terdiam sejenak, “Even snow wouldn’t fall anymore, I’ll still love you, Luhan..” ujar Jessica pelan namun sangat dalam.

Luhan yang mendengarnya dengan gesit mencium bibir Jessica perlahan namun pasti. Ya, mereka akan terus menghabiskan hari-hari mereka dengan cinta, bukan dengan keraguan seperti yang lalu-lalu.

~ The End ~

Hai readers~😀  Aku kembali dengan lanjutan FF-ku yang baru-baru ini aku kerjain. Ada beberapa yang mau aku sampaikan disini. Bagi yang masih BINGUNG sama Fanfiction-ku ini harap DIBACA ya🙂

Yang pertama, aku gak jelasin apa hubungannya Tiffany – Luhan – Jessica disini. Aku juga gak kasih tahu masa lalu mereka. Gak ada alasan khusus kenapa aku gak kasih ceritanya. Aku memang membuatnya seperti ini. Kalau kalian membaca cerita ini dengan saksama, aku yakin kalian paham apa hubungan mereka, karena aku menceritakannya secara tersirat.

Yang kedua, nama Woohyun yang di 1st Shoot itu cuma nama. Sedangkan Myungsoo itu pria yang Jessica cintai waktu kuliah.

Yang ketiga, perjanjian di awal pernikahan. Mungkin kalian masih bingung maksud dari hal tersebut. Jadi Luhan dan Jessica nikah dengan suatu perjanjian. Aku tidak memberikan hal spesifik di janji itu, intinya, janji itu memang disetujui oleh kedua belah pihak. Kenapa Jessica mau menerima perjanjian tersebut? Ingatkah kalian dengan perkataan Jessica di awal FF ini (1st Shoot), Luhan berbohong kepada banyak orang termasuk orang tuanya. Jadi Jessica terpaksa menikah agar orang tuanya juga senang. Akan tetapi hal itu gak aku ceritakan disini.

Yah, mungkin cukup sekian penjelasan dari aku .___. Kalau masih ada yang bingung silahkan ditanyakan lagi🙂

Thanks for Read this Fanfiction

78 thoughts on “When the Snow Falls (2nd Shoot)

  1. ha… happy ending ni crita’a. bgus dehc akhir’a mreka bhagia. akhir luhan mulai bs mnerima cinta sica. seq… dong thor. kira2 sica hamil gk y…
    ditggu krya2 mu lain’a.

  2. suka.. sukaaaa.. banget sama endingnya😀, tengah malem gini cengar cengir sendiri baca moment Lusiccanya sweet banget !!!! … aaahh kelakuan Sehun bikin greget deh, bener bener penasarannya tingkat tinggi tuh sehun..
    Tanggung jawab saeng, aku senyam senyum mulu baca nih ff ..
    semua pertanyaannya yg mau ditanyain udah terjawab, jadi aku engga akan nanya lagi hehe..

    • Asyiiiikk.. kalau kakak suka, aku juga suka😀
      Aduh, parah kak.. Hati-hati, udah banyak yang cengar-cengir baca ini. Jangan-jangan aku berbahaya karena bikin orang senyum-senyum gak jelas? -,- hahaha
      Sehun kepo .__________.
      Aku tanggung jawabnya dalam bentuk apa? ._.a)
      Ne, makasih banyak kak😀

  3. Kalau bosan baca ini ff demi apaa ini ff bikin aku nangiss hehehe ffnya wajib dibuat sequelnya thor rasanya msh kegantunggg plss;((( aku memohon thor/? Pengen ada sequelnyaaa;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s