Embraced (Chapter 10)

wpid-1478970_10200394658464005_479702847_n.jpg

Title                       : Embraced

Cast                       : Jessica Jung ; Kris Wu ; Lu Han

Genre                   : Romance , Drama , School Life

Rating                   : PG-17

Length                  : Chapter

Poster                   : @FJartposter

Author Note      : This is surely my idea. All of the casts belongs to the God, their family and their agency. I just own the story. Don’t be plagiator. Show your support by Like and Comment in the end of reading. Thanks for the reader who always support my Fanfiction

Summary             : When you hoping all of this shit just in your dream, but in the fact you should face it. You can’t change the rule. This is your way. Will you still hope to move?

Flawless Jung Present

a new series Fanfiction

EMBRACED

Last Chapter Preview

Author POV

“suruh saja orangmu untuk terus mengikutiku. Aku tidak akan takut. Dan lupakan penawaranmu soal ke Beijing, karena aku tidak akan pernah menerimanya. Aku permisi”

Langkah Luhan terdengar jelas menjauhi Hangeng dan seohyun menuju pintu keluar. Hangeng memijit-mijit keningnya beberapa saat setelah Luhan keluar.

“minumlah sedikit” suara seohyun menyadarkannya. Seohyun menyerahkan secangkir kopi yang sudah dingin itu kepadanya.

“mengapa putra-mu harus mencintai Jessica?” Tanya pria paruh baya itu. Seohyun hanya menunduk. Ia tidak tau harus menjawab bagaimana.

“Karena cinta tidak pernah memilih kepada siapa ia akan berlabuh”

Sebuah ruangan serba putih dengan seorang wanita terbaring diatasnya. Bermacam-macam jenis selang tertancap dikulit mulusnya. Ia tak ingin, tapi hanya dengan itu ia dapat bertahan hidup. Mesin pencatat denyutan jantung masih sibuk bekerja dengan membunyikan suara khasnya disetiap detik.

Wanita yang terbaring itu memejamkan matanya, entah sejak kapan . Rambutnya juga sudah mulai panjang, tapi satu hal yang tidak pernah pudar, kecantikannya. Victoria Song, itulah nama yang tertulis pada label yang tergulung pada lengan si wanita yang terbaring itu.

“bagaimana keadaan Victoria dokter?” sebuah suara berat memulai percakapan Antara ia dan seorang lagi yang berjas putih didepannya. Orang yang duduk didepannya dengan nametag DR.MinSeok menghela nafasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

“dia terus menunjukkan perkembangan, suatu saat ia bisa saja sadar Hangeng-ssi” jelasnya. Pria paruh baya yang bernama hangeng itu mengepalkan tangannya geram, ia menatap kearah dokter yang sudah merawat Victoria sedari dulu itu dengan nafas yang berburu.

“sudah sepuluh tahun! Dan jawaban anda tetap sama! Apa kalian para dokter tidak ada obat yang bisa membantu agar ia segera sadar, hah?!” bentaknya. Sedangkan DR.Minseok hanya menatap sayu kearah pria kaya raya didepannya itu.

“ini kasusu kematian otak. Kami tidak bisa memprediksi kapan ia akan sadar. Otaknya memang berhenti beraktifitas, tetapi sel didalam tubuhnya terus berkembang. Rambut yang terus panjang, begitu juga dengan kuku tangan dan kakinya” jelas DR.Minseok lagi.

“aku tidak perlu penjelasanmu tentang itu, yang aku inginkan hanyalah ia segera sadar!” hangeng kembali berteriak. Diruangan khusus milik DR.Minseok ini, suara Hangeng terdengar menggema menyeruak kedalam gendang telinga.

“Bersabarlah. Pilihannya hanya dua, melepaskan seluruh alat bantu hidupnya atau terus berdoa agar keajaiban menghampirinya”

Hangeng tertunduk lemas. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana ia harus menunggu lagi. Istrinya, Victoria Song sedang dalam masa mati otak dan ia tidak tau kapan Victoria akan sadar.

“ak..aku tidak tau.. ak..aku hanya takut..aku tak bisa melihatnya sadar lagi. Aku hanya..” kata-katanya terputus karena ulahnya sendiri. Ia menutup mulutnya yang sudah ingin terisak dengan mata yang sudah berair sejak tadi.

“tenanglah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu”

“aku hanya tidak tau.. bagaimana aku harus menjelaskan kondisi Victoria pada anak kami..”

Suasana pagi yang sepi. Jessica belum melihat tanda-tanda kehidupan dari dapur dan ruang tamu, berarti Kris masih tidur. Dengan piyama yang masih melekat pada tubuhnya, Jessica melangkah kearah dapur. Ia meraih sebuah gelas kaca dan menuangkan sekotak susu yang ia temukan didalam lemari pendingin.

Segelas susu putih itu hilang dengan bekas yang menempel pada dinding gelas. Jessica menjilat sisa susu yang menempel pada bibirnya dengan ujung lidahnya, tanpa sepengetahuannya, seorang pria sudah berkacak pinggang di depannya.

“omo! Yah! MIcheosso?! Apa kau ingin mati? Kau mengangetkanku Kris!” Jessica terlonjak kebelakang, untung saja ia tidak melempari Kris dengan gelas yang masih dipegangnya.

“salahmu sendiri bodoh, tidak peka” balas Kris sambil berlalu dari hadapan Jessica.

Kris berjalan menuju sebuah lemari yang terletak pada ujung dapur dan mengeluarkan isinya. Ia mengeluarkan 6 lembar roti yang masih polos. Lalu beralih meraih selai nanas dan juga selai strawberry yang terletak diatas lemari itu.

“sarapanmu banyak sekali” gumam Jessica. Kris mendengarnya tapi ia hanya diam.

Tangannya dengan begitu ahli mengambil pisau dan mengoleskan selai kesetiap lapisan roti yang ia ambil tadi. Ia mengoleskan 2 pasang strawberry dan sebuahnya lagi berisikan nanas. Tangannya begitu telaten saat memotong roti menjadi dua bagian, Jessica dibuatnya bingung melihat Kris yang ahli membuat sandwich sederhana.

“kau mau yang mana?” Tanya Kris tiba-tiba. Ia menyodorkan sepiring roti yang berisi nanas dan satunya lagi berisikan strawberry.

“eoh?” Jessica malah bingung sendiri. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

“kau tidak mau? Yasudah” kata Kris sambil berbelik. Tapi tak lama karena Jessica dengan sigap meraih tangannya dan mengambil sepiring roti yang ada pada tangannya.

“aku mau yang strawberry saja, gomawo” klata Jessica sambil tersenyum kearah Kris. Tanpa Jessica duga, Kris berbalik senyum kepadanya dan senyuman itu membius mata Jessica.

“jangan melihatku seperti itu, aku sudah tau aku ini tampan” cetus Kris sambil berlalu meninggalkan Jessica yang mematung. Seolah tersadar saat objek yang bersamanya tadi menghilang, Jessica berteriak detik itu juga “Luhan lebih tampan!”

Kris melahapi potongan terakhir dari sandwich yang dibuatnya tadi. Matanya memandang kedepan, kearah televise. Hitam. Televisi itu tidak nyala sama sekali, tetapi matanya menatap seakan ia sedang menonton.

Jessica berjalan kearahnya sambil membawakan segelas kopi. Ia meletakkan kopi itu tepat didepan meja yang berhadapan dengan Kris. “minumlah. Anggap saja ucapan terimakasih karena telah membuatkanku sarapan.” Katanya sambil menduduki bagian sofa disebelah Kris yang kosong.

Kris menaikan alisnya. Ia menatap kearah gelas yang berisi cairan hitam lalu meraihnya. Ujung bibirnya menyesap kopi buatan istrinya untuk yang pertama kali. “tidak buruk.” Opininya.

“apa kau sudah berbicara soal Victoria dengan papa-mu?” Tanya Jessica hati-hati. Bibir gelas yang tadi masih menempel pada ujung bibir Kris kini terlepas. Ia lalu meletakkan gelas yang berisi kopi yang mengepul itu keatas meja.

“aku belum bertemunya sejak acara selesai. Tapi kurasa sebentar lagi.”

“apa kau benar-benar tidak pernah bertemu dengan Victoria semejak kepergiannya sepuluh tahun lalu?”

“apa aku seperti sedang berbohong?” Tanya Kris balik.

“tidak. Hanya saja aku tidak ingin ini hanya sandiwaramu untuk menyakiti Luhan. Yah, kau tau banyak sekali drama-drama yang mengisahkan dua bersaudara yang mencintai seorang wanita atau pria yang mengakibatkan seseorangnya lagi berlaku jahat. Menghalakan segala cara untuk memisahkan mereka yang saling mencintai”

“seperti ini?” Tanya Kris tiba-tiba. Tubuhnya terangkat mengahadap ke Jessica dan membuat posisinya berada diatas Jessica. Jessica yang refleks menjauhkan badannya dan sekarang punggungnya sudah menciumi ujung sofa. Tapi Kris masih terus dengan aksinya, ia mendekati wajahnya kearah Jessica dengan seduktif, sedangkan gadis didepannya sudah sibuk dengan menutup matanya dengan nafas tertahan.

“aku bukan pria rendah” bisik Kris tepat ditelinga Jessica yang otomatis membuat gadis itu membuka matanya. Kris tersenyum miring kearahnya dan memukul kecil kepala Jessica.

“yah! Kau beraninya ..”

“aku tipe pria yang akan memluluhkan wanita dengan jantan. Jadi jangan pernah berfikir aku akan melakukan hal rendahan seperti itu, Jessica Wu” pyong Kris sebelum Jessica memprotes aksinya barusan.

Kris beranjak dari duduknya dan berlalu, ia melangkah kearah kamarnya. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti, ia meutar badannya menghadap Jessica dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Jangan jatuh cinta padaku Jessica, karena pesonaku terlalu kuat untuk kau bendungi. Hati-hati” katanya sebelum berbalik lagi meninggalkan Jessica yang termangu pada posisinya.

Raut kesal tercetak jelas diwajahnya. Ia tidak habis pikir bagaimana Kris yang manis dan mengesalkan bisa berubah-ubah dalam hitungan menit?

Luhan POV

Aku sedang mengemasi kamarku saat kurasakan pintu kamarku diketuk dari luar oleh seseorang, tak lama pintu kamarku terbuka dan sosok yang kulihat adalah mamaku, Seohyun.

“Ma..-“

“Luhan, ada sesuatu yang ingin mama bicarakan?” celanya sambil menatapku serius. Aku meletakkan selimut yang sedari tadi masih ku pegang diatas kasur.

“duduklah dulu Ma..” ajakku sambil mambawanya kesebuah sofa kecil yang berada didepan kasurku. Ia mengikutiku duduk dengan raut wajahnya yang tak bisa kumengerti.

“ini tentang Victoria. Hangeng tadi pagi-pagi sekali sudah pergi kesana” katanya.

“pergi? Pergi kemana? Apa mama tau sesuatu?” balasku cepat. Wanita paruh baya didepanku hanya menggeleng lemah.

“tidak Lu, ia bahkan tidak pernah memberitahuku dimana Victoria sekarang. Dia selalu pergi pagi-pagi sekali jika ingin bertemu Victoria.”

“kapan biasa dia kesana menemui Victoria? Apa ia mempunyai jadwal rutin ?”

“nan molla Lu, aku hanya tau ia akan pergi menemui Victoria paling tidak seminggu sekali”

Nafasku tercekat sebentar, seeprti mendapat oksigen tersendiri saat mendengar kabar ini. Perlahan masalah ini mulai jelas, dan yang lebih penting, Jessica tidak perlu menjadi istri Kris lebih lama lagi.

Aku menggenggam tangan mama-ku dan menatap matanya dengan tatapan terimakasih. Ia membalasku dengan senyuman tulusnya. Sungguh aku berterimakasih, karena hal ini dapat membantu kami bertemu dengan mama Kris lebih cepat.

Aku menempelkan iphoneku ketelinga kiriku dengan sebelah tangganku mengetuk meja dengan jari tengahku. Sekarang aku sedang berada disalah satu café didekat kediaman Wu. Mataku masih saja mengamati jalanan luar yang masih basah akibat hujan semalam.

“Kris, aku sudah berada di café biasa. Kau bisa kesini, ada hal penting, ini menyangku Victoria-ssi” kataku setelah mendengar seseorang menjawab panggilanku dari seberang sana.

PIP

Panggilan kuputus setelah orang tersebut menyetujui untuk menemuiku disini. Sementara menunggunya aku  memesan sebuah cappuccino latte untuk menemaniku. Biasanya jam segini aku pasti dikampus, tapi tidak sekarang.Hal yang akan kubicarakan dengan Kris lebih penting dari itu.

Jessica POV

Hari ini Luhan tidak kuliah. Ini membosankan, apalagi Tiffany yang terus merengek memintaku untuk menemaninya pergi kesuatu tempat. Seperti sekarang, saat jam istirahat ia malah menempel padaku sambil terus memohon.

“ayolah Jessie~ sebentar saja. Jika aku dan Chanyeol jadian kau akan kutraktir sepuasnya” tawarnya.

“Luhan juga?”

“yeah~ Luhan juga”

“baiklah.”

“yehet! Kau yang terbaik Jessiee~” serunya bersemangat sambil memelukku dari samping. Aku mencoba melepaskan pelukannya yang menurutku bisa membunuhku jika ia memelukku lebih lama lagi.

Aku memperhatikan eyesmilenya yang begitu cantik tapi aku heran mengapa ia masih saja single sampai sekarang. Ia lenbih memilih utnuk barsaing dengan perempuan lain demi seorang Park Chanyeol daripada memilih salah satu dari fans-nya.

Sesuai janji, aku menemani Tiffany kesuatu tempat. Karena menurut Tiffany pejalanan cukup memakan waktu jadi aku memutuskan utnuk tidur sebentar. Tiffany yang menyupir, jadi aku bisa sedikit santai dengan waktu luangku.

Tak lama berselang, aku dan ia telah sampai disebuah rumah sakit. Tertulis Ilsan International Hospital. Pantas saja mengapa Tiffany mengatakan bahwa perjalanan cukup jauh, kami bahkan sampai ke Ilsan.

Aku tak ingin bertanya untuk apa dia kesini. Karena yang kuatu aku hanya menemaninya, lalu mendapat makanan gratis dari Tiffany jika ia dan Chanyeol menjadi sepasang kekasih.

Langkah kami terhenti didapn kamar bertuliskan nomor 411. Tiffany berdiri sejenak hingga ia memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar itu. Setelah mengetuk, terdengar suara berat dari dalam. Tiffany menggeser pintu dan pemandangan yang pertama kali kami lihat adalah Park Chanyeol yang terbaring dengan kaki dan tangan yang diperban.

Karena bosan melihat Tiffany dan Chanyeol yang bercerita berdua aku memutuskan untuk keluar. Setidaknya aku telah membantu Tiffany agar mereka punya aktu untuk lebih dekat berdua. Aku memutuskan untuk berkeliling lantai 4 ini hingga menemukan sebuah kantin. Tidak begitu ramai, maklum saja ini masih jam 3 sore. Masih belum banyak yang menjenguk kerabat saat jam istirahat seperti ini.

Aku memilih duduk disalah satu kursi yang terletak di bagian pojok dengan daun palem disampingku. Sebelumnya aku sudah memesan segelas susu coklat hangat dan semangkok sup jamur. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Hari ini Luhantidak menelfonku, ada apa sebenarnya.

“Halo, DR.Yoo. Annyeonghaseyo..”

Sebuah suara menyentuh gendang telingaku, suara yang familiar. Aku merasa pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi siapa.

Leherku memanjang mencoba mencari sumber suara yang membuatku penasaran ini.

“ah Nee~ sepertinya aku akan menerima tawaranmu.mengenai pengobatan untuk Victoria di USA”

DEG! Victoria? Apa yang dimaksud adalah mama Kris? Pandanganku terhenti pada seseorang dengan Jas hitam yang sedang duduk selang berapa meja dariku. Sosok yang membelakangiku itu adalah seorang pria dengan segelas espresso yang mengepul diatas mejanya.

“Ku harap ini adalah langkah terbaik untuk istriku. Aku akan mempromosikan posisimu di Seoul Hospital jika kesembuhan ada pada istriku”

Hangeng Wu. Pria itu. Ayah mertuaku. Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui Iphone-nya yang tertempel pada telinga kanannya. Untung saja ia membelakangiku sehingga ia tidak akan bisa menyadari keberadaanku.

“baiklah, aku akan mengurusi penerbangan untuk Victoria minggu depan. Kuharap kau tidak mengecewakanku. Gamsahamnida DR.Yoo”

Jadi?apakah Victoria yang dibicarakan tadi adalah mama-nya Kris? Apa Victoria akan dibawa ke USA? Apa Kris tau soal ini?

Dan yang lebih menjadi pertanyaan, mengapa Hangeng ada disini? Apakah Victoria dirawat disini? Apa ini ada hubungannya dengan Victoria?

Kris POV

Aku meneguk Americano-ku yang sudah mendingin. Luhan yang berada didepanku hanya terdiam. Kami masing-masing diam setelah apa yang diceritakan Luhan tadi, soal mama.

Dari Luhan, aku mengetahui bahwa papa menemui mama pagi-pagi sekali. Dan dari Luhan pula aku tau bahwa papa punya jadwal untuk menemui mama. Sekarang yang jadi masalah hanyalah dimana aku menemukan mama?

“Kris, kau benar-benar tidak mencintai Jessica kan?” Tanya lUhan tiba-tiba. Aku menatapnya lalu memberikan smirk kebanggaanku.

“apa kau takut ia akan terpesona padaku?” tanyaku balik.

“yang aku takutkan justru kau terpesona padanya Kris. Jessica punya pesona yang tak akan kau mengerti” katanya.

“tenang saja. She isn’t my style.” Kataku sambil meneguk habis Americano-ku.

“kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku permisi dulu Kris” kata Luhan sambil beranjak dari kursinya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan ia langsung berlalu. Diam-diam aku mulai menyukai Luhan dan Seohyun. Mereka tidak seperti saudara tiri yang haus akan gelimang harta dan kedudukan. Setidaknya aku bersyukur mereka sangat perhatian padaku, aku yang telah salah menilai mereka.

                “kau sudah pulang?” itu suara pertama yang kudengar saat masuk kedalam rumah. Seorang wanita sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan sebungkus snack pada pangkuannya.

Aku tidak menjawab dan berlalu kekamarku begitu saja. Tapi pertkataannya membuatku terhenti pada posisiku.

“Sepertinya aku mengetahui lokasi mama-mu Kris.” Katanya dengan mata masih pada layar televisi.

“apa maksudmu?”

“apa kata-kataku kurang jelas?”

Raut wajahku berubah. Aku masih berdiri di posisiku dengan berbagai perasaan berkecamuk didalamnya. Ini seperti sebuah akhir dari penantian salama sepuluh tahun, tapi Hangeng tidak akan dengan mudah membiarkan aku bertemu dengan Victoria begitu saja. Lalu bagaimana Jessica bisa menemui lokasi Victoria?

“jadi, aku yang diminta Tiffany untuk menemaninya menjenguk Chanyeol melihat papa-mu yang sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telefon. Aku tidak pasti dengan siapa ia berbicara, tapi yang pasti ia menyebutkan nama Victoria berkali-kali. Dan Hangeng berencana membawa mama-mu ke USA” jelas wanita yang berstatus istriku ini.

Sekarang posisi kami berada di Antara sebuah meja. Kami duduk berhadapan diraung tamu. Televisi yang ditontonnya sudah kuamtikan sedari tadi.

“kau tidak acting kan?”

“lalu apa aku harus membayar Tiffany jika aku menyuruhnya berakting?”

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Perlahan perasaan bahagia begitu mebuncah hingga aku merasa sangat lega. Tapi keberadaan Victoria yang masih belum dipastikan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Hangeng akan segera membawanya ke USA membuatku sedih.

Apa pertemuan kami begitu sulit? Aku bahkan tidak pernah menonton drama keluarga yang begitu menyanyat hati, tapi kenyataan malah mempermainkan hidupku seolah aku sedang bersandiwara.

Aku menyadari bahuku yang terguncang, tak lama aku terisak dengan Jessica didepanku. Aku tau ia pasti menyadari aku yang terisak tapi kubiarkan saja. Ia orang pertama yang melihatku menangis selain papa dan mama.

“Kris.. are you okay?” tanyanya dengan aksen barat yang terdengar khawatir.

“I’m not Jessie. I’m not okay” kataku dengan isakan yang makin terdengar jelas.

Tak lama kurasakan sebuah tangan berserak mengelus punggungku pelan dan lembut, dan taklama kepalaku yang dielus sayang. Perasaan seperti ini tidak pernah kurasakan lagi setelah mama menghilang.

“menangislah. Tapi setelah ini, berjanjilah kau tidak akan menangis lagi. Kau akan segera bertemu mama. Jangan menangis karena itu akan membuatnya khawatir”

Perlahan isakanku mulai mereda. Aku menaikkan wajahku memperlihatkan mata sembabku dengan philtrum yang bergetar. Aku menatapnya sendu, seolah mengerti keinginanku ia segera membawaku kedalam pelukannya.

“maaf aku hanya bisa melakukan ini”

Aku merasakan hangatnya pelukan seorang wanita. Memang tak seharusnya seperti ini, tapi aku membutuhkannya disaat seperti ini. Hatiku seolah mulai menyadari bahwa aku mulai terpikat padanya. Benar kata Luhan, akulah yang akan terpesona karena sifat polosnya.

Aku mengeratkan pelukanku pada pinggang rampingnya seolah tak ingin ia melepaskan pelukannku. Kubiarkan kami didalam posisi seperti ini hingga aku puas. Aroma shampoo dan badannya membuatku tenang sekaligus candu. Apa aku harus merebutnya dari Luhan?

To Be Continue

Hoihoihoi! Ini dia FF embraced chapter 10. Hakhakhak. Siapa yang nunggu FF ini rilis? Ayo angkat kakinya /plak/. Maaf sebelumnya untuk typo(s) yang masih saja iseng . hehehe~

Oh ya, seperti yang kalian ketahui FF ini akan berakhir 2 / 3 chapter lagi, dan aku mohon dukungannya yaa agar semuanya selesai tepat waktu. Hehehe..

Dan jangan kecewa, akan ada FF baru di waktu mendatang. Jadi pantau terus yaa.. Gomawo untuk semua yang uda setia komentar, like maupun SMS dan sekalipun hanya jadi siders. Jeongmal gomawo ^^

Annyeong ^^

61 thoughts on “Embraced (Chapter 10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s