Only Because It’s You – Chapter 7

Another Story from Yura Lin

Main Cast:

EXO Suho – SNSD Jessica – EXO Sehun

Previous:

About ∙ 1 ∙ 2 ∙ 3 ∙ 4 ∙ 5 6

Note:

Maaf ya posternya aneh. Soalnya aku udah lama ga mainan photoshop. Jadi pas mainan PS lagi, ini lah yang terjadi -.-

=== Only Because It’s You ===

Akhir pekan kali ini berbeda dari sebelumnya. Sooyeon tidak memerlukan Joonmyun untuk membangunkannya dengan mengancam akan menciumnya jika ia tidak bangun, seperti biasanya. Sooyeon bahkan sudah bangun dan selesai merapikan dirinya saat 2 pelayan setia di apartemen itu, Sunyoung dan Jinri, datang.

Sooyeon menyambut mereka dengan salam pagi yang pelan dan menyuruh mereka untuk membersihkan apartemen itu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu Joonmyun. Sementara dirinya sendiri yang mengurus sarapan. 2 pelayan itu mengangguk tanpa bertanya apapun.

Rasanya sudah lama sekali Sooyeon tidak memasak. Biasanya dia memasak dengan ibunya Sehun sedangkan Sehun dan ayahnya duduk di ruang keluarga sambil menonton berita pagi. Betapa dia merindukan momen tersebut. Dan jika dipikir kembali, ini kedua kalinya ia menginjakkan kaki di dapur karena selalu ada Sunyoung atau Jinri yang siap membawakannya sesuatu dari dapur. Pertama kalinya adalah saat Joonmyun mengajaknya memasak bersama dan berakhir dengan kekacauan. Semoga kedua kalinya tidak berakhir kacau juga.

Sooyeon sengaja memasak banyak makanan untuk sarapan kali ini. Biasanya mereka sarapan dengan pancake. Jelas itu bukanlah makanan yang cukup untuk memulai hari, pikir Sooyeon. Jadi kali ini, dia akan membuat sarapan dengan menu ala keluarga Korea pada biasanya.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Sunyoung.

Sooyeon menggeleng. “Tidak, terima kasih. Biar aku sendiri yang mengurus semuanya.”

“Nona yakin?” tanya Sunyoung ragu.

“Tentu. Dapur adalah tempatku,” jawab Sooyeon kesal. Dia tersinggung dengan pertanyaan Sunyoung walaupun ia tahu Sunyoung tidak bermaksud begitu.

“Baiklah. Maaf sudah mengganggu.”

Sunyoung membungkuk lalu pergi meninggalkan Sooyeon sendiri. Gadis itu pun kembali menenggelamkan dirinya dalam kesibukan memasak.

“Sehun tidak becanda. Kau memang bercahaya saat kau memasak.”

Sooyeon menoleh kaget mendengarnya. Dia tidak menyangka Joonmyun berada di sana, menarik sebuah kursi agar bisa duduk di dekatnya. Dia tersenyum malu.

“Bodoh, mana mungkin aku bercahaya? Aku adalah manusia, bukan malaikat,” tanggap Sooyeon.

“Oh mungkin kau adalah setengah malaikat setengah manusia?”

“Tidak mungkin. Malaikat mau menikahi manusia.”

“Mungkin saja. Aku sedang melihat anaknya sekarang.”

Gerakan tangan Sooyeon yang sedang mengaduk sup pun terhenti. Seketika ia teringat ayah dan ibunya. Dia menggigit bibirnya kuat untuk menahan tangis.

“Aku adalah anak dari iblis dan manusia. Bukan malaikat dan manusia.”

“Kalau begitu, iblis dan malaikat. Adil?”

Sooyeon menggeleng pelan. “Satu hal yang membuatku bingung. Kau melarangku bertemu dengan Sehun tapi kau terus-menerus menyebut nama Sehun. Jika kau ingin aku menjauhi Sehun, maka kau harus membuatku melupakannya, bukan?”

Joonmyun bangkit dari duduknya lalu mengambil sebuah sendok. Dia mengambil sedikit kuah sup dan menyicipinya. Matanya berbinar takjub.

“Wah, ini enak!” seru Joonmyun.

Sooyeon menghela napas. Ia tahu Joonmyun mencoba mengalihkan topik. Sebesar apapun rasa penasarannya, ia tidak berani menekan pria itu. Dia tidak mau pengalaman keduanya di dapur berakhir kacau seperti sebelumnya.

“Tentu saja. Aku yang membuatnya,” balas Sooyeon bangga.

Joonmyun mendesah lirih. “Tapi aku tetap kecewa.”

Sooyeon menatapnya bingung.

“Aku tidak mendapatkan salam darimu pagi ini.”

“Oh.” Sooyeon mengerjap. “Selamat pagi, Oppa.”

Being called oppa is nice. Namun bukan itu maksudku.”

“Jadi?”

Joonmyun menepuk bibirnya dengan jari telunjuk. Sooyeon tersenyum kecil. Dia berjinjit sedikit untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Joonmyun sedangkan Joonmyun menutup matanya untuk antisipasi. Tanpa ia ketahui, tangan Sooyeon yang bebas menuju pinggangnya lalu mencubitnya lumayan keras dan menyebabkan Joonmyun merintih kesakitan.

“Mandi sana!” suruh Sooyeon, tanpa mengindahkan rintihan Joonmyun.

Joonmyun memberikan beberapa alasan dan Sooyeon mengomelinya. Mereka pun asik dalam perdebatan mereka tanpa menyadari Sunyoung dan Jinri memperhatikan mereka diam-diam.

“Mereka lucu, ya?” gumam Jinri girang. “Sudah lama aku tidak melihat tuan muda sebahagia itu. Syukurlah hubungan mereka membaik. Ini bagus!”

Sunyoung menggeleng pelan. “Aku malah berpikir ini tidak bagus. Aku takut masalah yang lebih besar datang.”

***

Ting.. tong..

Jinri berlari menuju pintu dan menekan layar di samping pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung. Dia segera membuka pintu setelah melihat gambaran Krystal di layar tersebut.

“Selamat datang, nona Krystal. Silahkan masuk,” sapa Jinri. “Tuan muda sedang sarapan dengan nona Sooyeon.”

Krystal melipat tangannya di dada kemudian pergi menuju tempat Joonmyun berada dengan langkah kesal. Cemberutnya semakin tajam melihat Joonmyun asik memakan sarapannya sambil becanda dengan Sooyeon. Dia mengambil duduk di samping Joonmyun. Kehadirannya membuat dua manusia itu terkejut.

“Oh, hei~” sapa Joonmyun. Sooyeon tersenyum canggung.

“Sepertinya kalian tambah dekat sekarang,” desis Krystal, mengabaikan sapaan Joonmyun.

Joonmyun tertawa kecil. “Kau juga sadar rupanya. Bagus, ‘kan?”

Sooyeon merengut tak setuju sedangkan Krystal menyeringai tipis.

Not at all.”

Senyuman Joonmyun menghilang, berganti dengan muka terkejut. “Mengapa kau datang ke apartemenku?” tanya Joonmyun akhirnya, ditemani dengan helaan napas samar.

“Dana eonni menyuruhku datang dan menggiringmu ke rumah keluargamu sekarang. Dia mengajakmu sarapan bersama,” jawab Krystal.

“Tapi aku sedang sarapan.”

“Kau bisa meninggalkannya dan pergi ke rumahmu, Oppa.”

“Aku tidak mau.”

“Ya, kau harus mau. Ibumu menunggumu.”

Joonmyun mengepalkan tangannya sesaat. Dia melirik Sooyeon yang tidak mengerti situasi yang sedang terjadi. Dengan tarikan napas dalam, dia bangkit dan pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Sooyeon menundukkan kepalanya kecewa. Joonmyun baru makan 2 sendok dan kini dia harus pergi.

Well, sorry for distrubing your moment,” gumam Krystal.

Gadis itu bangkit dan tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan apartemen tanpa menunggu Joonmyun keluar dari kamarnya.

***

Sooyeon tahu Joonmyun tidak ingin membawanya ikut pergi ke rumah keluarganya. Itu sebabnya ia bingung mengapa Joonmyun tetap membawanya walaupun wajah pria itu terlukiskan perasaan ragu.

Kedatangan mereka disambut oleh teman-temannya Joonmyun, tak terkecuali Sehun. Krystal pun ada di sana. Sang kakak, Dana, juga sudah pasti ada di sana karena dia lah penghuni tetap rumah tersebut. Mata Sooyeon tidak bisa teralih dari sosok wanita asing. Di umurnya yang sudah tua, wanita itu tetap berpenampilan elegan ala wanita karir biasanya. Tak lupa makeup tebal di wajahnya. Itu pasti ibunya, pikir Sooyeon. Mereka semua menunggu Joonmyun di ruang makan.

Melihat semua orang terkejut kecuali nyonya Kim, Sooyeon yakin semuanya pun tidak menyangka kedatangannya bersama Joonmyun. Semua orang di sana hanya menunggu Joonmyun tanpa dirinya. Sooyeon menundukkan kepala sejenak lalu mendongak untuk menatap Joonmyun ketika Joonmyun menggenggam tangannya. Pria itu tersenyum lembut.

“Ayolah, cepat! Aku sudah lapar, Kim!” canda Kris.

Joonmyun menarik kursi yang paling jauh dari ibunya untuk Sooyeon lalu mengambil tempat di samping ibunya. Seberapa inginnya dia duduk di dekat Sooyeon, tidak ada dua kursi kosong yang berdekatan. Lagipula, dia harus duduk di dekat ibunya dan Sooyeon sebaliknya.

Para pelayan mulai berdatangan untuk meletakkan hidangan di hadapan majikan dan para tamunya. Sooyeon menggembungkan pipinya kesal. Dia menatap tajam makanan yang ada di hadapannya kini. Pancake. Makanan yang ia berniat untuk jauhi hari ini malah muncul di hadapannya. Makanan yang harus dia santap sekarang dan melupakan semua masakannya di apartemen Joonmyun untuk Jinri dan Sunyoung.

Ah, kebetulan sekali

Dia mengalihkan pandangannya ketika rasa sebal terhadap makanan tersebut memuncak. Napasnya tercekat begitu tatapannya bertemu dengan tatapan Sehun. Sehun duduk di samping Dana, berbeda dua kursi dari depan Sooyeon tepatnya. Saat itu lah, dia menyadari bahwa Sehun memperhatikan tingkahnya sedari tadi. Sehun terkekeh pelan lalu memakan pancakenya.

“Kim umma tinggal di Amerika untuk mengurus perusahaan mereka di sana selama ini. Itu sebabnya dia terbiasa dengan pola makan di sana,” bisik Luhan.

Dari cara Luhan menyebutnya, Sooyeon yakin semua sahabat Joonmyun dekat dengan keluarga Joonmyun. Tidak aneh jika kelima orang itu diundang untuk sarapan di rumah ini.

Sooyeon menoleh dan mengerjap bingung. Sejak kapan Luhan duduk di sampingnya? Mengapa dia baru sadar?

Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Sooyeon, Luhan merengut sedih. “Kau baru menyadari keberadaanku. Jahat sekali.”

“Eh…” Sooyeon salah tingkah. “Maaf. Maaf. Aku tidak—“

Ehem..”

Dehaman keras milik sang nyonya besar di rumah tersebut membuat Sooyeon dan Luhan terkejut. Sooyeon segera fokus kepada makanannya. Jantungnya berdetak cepat. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia malah melakukannya. Dia takut dia akan memberikan kesan buruk di pertemuan pertamanya dengan ibunya Joonmyun.

Oh sial. Sejak kapan aku peduli tentang kesan orang lain terhadapku?

Sooyeon menggigit bibirnya kesal.

Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tengah. Biasanya tempat itu berantakan dan dipenuhi dengan berbagai macam CD permainan atau film. Akan tetapi, kini ruang itu sangat rapi. Sooyeon cukup terkejut melihat perubahan tersebut. Namun mengingat kedatangan ibu Kim, semuanya masuk akal. Sementara yang lain duduk memenuhi sofa-sofa mewah di ruangan tersebut, Luhan menarik Sooyeon pergi. Katanya sih orang-orang tersebut akan membahas sesuatu yang membosankan jadi Luhan ingin kabur dan mengajak Sooyeon sebagai komplotannya. Anehnya, Sooyeon tidak menolak. Entah mengapa, dia merasa bahwa pergi dengan Luhan adalah pilihan terbaik.

Luhan bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya yang lucu tapi Sooyeon tahu itu semua adalah bualan semata sehingga dia tidak tertawa sedikitpun. Luhan hanya tertawa ketika Sooyeon mengemukakan pendapatnya dengan jujur lalu bercerita hal lucu lainnya.

Terkadang, sifat Luhan membuat Sooyeon bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang seperti Luhan terjebak di lingkungan orang-orang kaku? Biasanya hanya dua hal yang terjadi jika kejadian seperti ini terjadi; Luhan akan ikut menjadi orang kaku atau orang-orang di sekelilingnya akan tertular sifat Luhan. Namun nyatanya, dua hal itu tak terjadi. Itu yang membuat Sooyeon bingung tapi enggan untuk mengatakannya.

“Sooyeon-ah, kau di sini rupanya!”

Joonmyun berlari menghampiri Luhan dan Sooyeon yang duduk di samping kolam renang, kaki mereka masuk ke dalam air. Joonmyun duduk di samping Sooyeon tapi tidak ikut memasukkan kakinya ke dalam air. Dia duduk bersila.

“Pembicaraan kalian sudah selesai?” tanya Luhan.

“Begitulah.” Joonmyun mengangguk. “Terima kasih sudah menemani Sooyeon.”

Luhan tertawa sambil mengibas tangannya. “Aniya. Sooyeon lah yang menemaniku. Pasti karena dia menyukaiku.”

Joonmyun memicingkan matanya tajam lalu menghela napas panjang melihat Sooyeon meninju bahu Luhan kesal. Dia bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Sooyeon.

“Ayo, Sooyeon-ah, kita pulang,” ajak Joonmyun.

Sooyeon meraih uluran tangan itu dan bangkit. Luhan ikut mengulurkan tangan sebagai tanda ia juga ingin dibantu untuk berdiri. Joonmyun mendengus seraya menendang Luhan hingga sahabatnya tercebut ke dalam kolam renang. Sooyeon tertawa melihatnya.

“Aha! Ternyata aku harus menceburkan diri dahulu agar kau tertawa!” seru Luhan. “Joonmyun-ah, lihat! Dia memang menyukaiku! Buktinya dia tertawa karenaku!”

“Ha. Ha. Ha. Lucu sekali. Sayangnya, aku yang membuatnya tertawa.”

Luhan melipat tangannya kesal. “Kau hanya tidak mau menerima kenyataan Joonmyun.”

Pria di samping Sooyeon tersebut memutar matanya sembari menarik Sooyeon pergi meninggalkan Luhan.

Yah! Kau dilarang untuk meninggalkanku begitu saja! Hei, Kim Joonmyun! Aish, mengapa kau begitu kejam kepadaku?” protes Luhan.

***

Joonmyun berpamitan dengan orang-orang di ruangan tersebut. Sooyeon juga ingin mengatakan sesuatu tapi dengan mata nyonya Kim yang tertuju kepadanya, dia tak bisa mengatakan apapun. Dia hanya berdiri di samping Joonmyun, sedikit menyembunyikan dirinya dari jangkauan mata wanita itu. Tatapan wanita tersebut sangat tajam, seakan ingin menguliti Sooyeon, membuat Sooyeon tak bisa berkutik.

“Hei, kau baik-baik saja?” bisik Joonmyun lembut.

Sooyeon hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Apa ini permainan barumu, Kim Joonmyun?” tanya ibunya tiba-tiba.

Seketika suasana di ruangan tersebut terasa memanas. Sooyeon menggenggam tangan Joonmyun erat.

Ani,” Joonmyun menjawabnya dingin. “Aku pergi.”

Joonmyun berbalik badan dan menarik Sooyeon pergi tapi tidak bisa karena seseorang menahan tangan Sooyeon yang lainnya. Sooyeon memejamkan matanya takut melihat tangannya digenggam oleh ibunya Joonmyun.

Ya Tuhan!

“Akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas,” gumam nyonya Kim. “Bukalah matamu, Nak.”

Sooyeon membuka matanya perlahan. Tatapan menatap ke segala arah selain wanita di depannya. Bahkan tanpa balas menatapnya, Sooyeon bisa merasakan tatapan tersebut membakar wajahnya.

Joonmyun menarik tangan Sooyeon yang digenggam oleh ibunya. Sedetik setelah ia berhasil melepaskan tangan Sooyeon, ibunya kembali meraih tangan Sooyeon, kali ini matanya tertuju kepada anak kandungnya.

“Inikah alasannya dia duduk di kursi yang jauh dariku saat sarapan tadi? Inikah alasannya Luhan membawanya pergi saat kita berkumpul tadi? Kau ingin menyembunyikannya dariku? Kau mendapatkan target baru, uh?” sungut ibunya.

Joonmyun menarik napasnya dalam. “Jangan paksa aku untuk berbuat yang tidak sopan, Eommonim.”

Sooyeon menutup matanya. Dia teringat kata-kata Sehun di malam perayaan ulang tahun sahabatnya itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sempat memenuhi otaknya dulu pun kembali muncul dan mengakibatkan rasa pening di kepalanya.

“Kau! Buka matamu!”

Sooyeon tersentak kaget dan spontan membuka matanya kembali.

“Berapa yang dia bayar agar kau mau bersamanya, uh? Berapa?! Aku bisa memberikanmu sugar daddy yang jauh lebih kaya jika kau mau!” bentak nyonya Kim.

“CUKUP!” balas Joonmyun membentak.

“Kau berani membentak ibumu sendiri, Kim Joonmyun? Kau membentakku hanya untuk membelanya? Dia bahkan tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, ku yakin itu! Dia hanya akan mempermainkanmu lalu meninggalkanmu, membuatmu terpuruk! Kemudian apa yang akan kau lakukan setelahnya? Mencari target baru? Kapan kau bisa berhenti—“

“Kau tidak tahu apa-apa.”

Ruangan itu dipenuhi dengan suara napas tercekat. Semua mata tertuju kepada Sooyeon yang berani menyela.

“Nyonya tidak tahu apa-apa tentangku. Mengapa anda berani sekali menilaiku seenaknya? Mengapa anda mengecap diriku begitu rendah seakan aku lah yang mendatangi anakmu dan menjilat kakinya agar mau menerimaku? Keberadaanku di sini bukanlah keinginanku. Aku tidak mau terjebak di kehidupan orang asing. Aku tidak mau terjebak di masalah yang tidak ada hubungannya denganku. Apa pernah, sekali saja, anda berhenti berpikir bahwa anda mengetahui dan mengerti segalanya?” kata Sooyeon panjang-lebar. Matanya tertuju ke lantai. Air matanya hampir saja mengalir jika tidak ia tahu sekuat tenaga.

Ibunya Joonmyun terbelalak mendengarnya. Sebuah senyuman sinis pun terukir di wajahnya. “Ah.. sepertinya ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun. Memotong pembicaraan orang yang lebih tua itu tidak sopan. Sudah pasti orangtuamu gagal mendidikmu.”

Sooyeon mendongak, menatap wanita angkuh di depannya dengan kesal. Seketika dadanya dipenuhi dengan emosi ketika ibunya ikut disalahkan. Mungkin ibunya memang tidak pernah mengajarkannya apapun, tapi bukan berarti ibunya pantas disalahkan karena sikapnya sendiri.

“Jangan pernah sebut ibuku! Ibuku tidak salah sama sekali!” geram Sooyeon.

Joonmyun segera menarik Sooyeon pergi tapi gadis itu menolak. Hatinya sudah terlanjur terluka.

“Bagaimana dengan anda kalau begitu? Nyonya seenaknya saja menghinaku tanpa mengenalku, bukankah itu tidak sopan? Bolehkah saya membalikkan perkataan anda?” lanjut Sooyeon.

Wajah nyonya Kim merah padam karena geram. Tangannya terayun ke wajah Sooyeon. Sooyeon menutup wajahnya takut.

1..

Sooyeon tidak merasakan apapun.

2..

Sooyeon masih tidak merasakan apapun.

3..

Sooyeon membuka matanya. Dia menutup mulutnya, terkejut melihat pemandangan di depannya. Tangan nyonya Kim ditahan oleh dua tangan, Joonmyun dan Sehun. Kini kedua pria itu saling beradu pandang. Tidak ada yang tahu ekspresi apa yang terlukis di wajah keduanya.

Joonmyun yang pertama kali membuang muka dan melepaskan tangannya. Dia menarik Sooyeon paksa keluar dari rumah tersebut. Sementara Sehun harus menyiapkan diri untuk menghadapi sang nyonya besar karena berani ikut campur ke dalam masalah tersebut.

***

“Jangan pernah lakukan itu lagi! Biarkan aku sendiri yang mengurus ibuku!” omel Joonmyun sambil menyalakan mobil lalu menginjak gas, meninggalkan halaman rumah.

Sooyeon memegang sesuatu yang ada di sekitarnya untuk menjaga keseimbangannya karena Joonmyun menggas mobil itu terlalu kencang. Tidak biasanya Joonmyun seperti ini. Yang ia tahu Joonmyun adalah tipe pria yang senang mengendarai mobilnya dengan kecepatan minimum seperti seorang kakek yang takut mati.

“Kau ingin aku diam saja saat ibumu menghina ibuku? Wah, jenius sekali pemikiranmu!” balas Sooyeon sengit.

Joonmyun membelokkan setir dan menginjak rem hingga mereka berdua hampir terlempar ke depan jika keduanya tidak memakai sabuk pengaman.

“Apa sulitnya kau mengangguk tanpa membalas kata-kataku?” kesal Joonmyun.

Sooyeon menatap Joonmyun tajam. “Aku tidak akan membiarkan ibuku dihina oleh siapapun.”

Joonmyun menguatkan genggamannya terhadap setir sejenak lalu melemaskan tangannya. Dia menarik napas dalam. Kini dia mengerti perasaan Sooyeon dan rasa bersalah pun ia rasakan. Namun dia tidak ingin meminta maaf. Berpikir untuk meminta maaf saja tidak. Maaf adalah kata yang terlalu mahal sekaligus terlalu menjijikan baginya. Untuk mendengar kata maaf dari orang lain saja, dia tidak mau. Apalagi ia yang mengatakannya sendiri? Mustahil.

Joonmyun kembali menjalankan mobil tapi dengan kecepatan yang biasa ia pakai.

***

Ketika mereka sampai di apartemen Joonmyun, Sooyeon langsung masuk ke dalam kamarnya. Pria itu hanya menatap kepergiannya. Setelah beberapa detik ia diam di posisinya, Joonmyun pun duduk di sofa dan mengambil remote. Namun niatnya hilang saat handphonenya bergetar.

From: Sehun

Temui aku di basement sekarang.

Joonmyun segera pergi menuju tempat yang dimaksud oleh Sehun.

Sesampainya di basement, Joonmyun mencari mobil Sehun. Matanya menangkap sosok Sehun yang bersandar di mobilnya. Langkah berhenti tepat di depan Sehun.

To the point, apa yang kau inginkan?” tanya Joonmyun.

Sehun menghela napas. “Ada yang perlu kita bicarakan, Hyung.”

“Tentang?”

“Sooyeon.”

Tebakan Joonmyun ternyata benar. Lagipula, apalagi yang ingin si maknae bicarakan dengannya selain tentang Sooyeon? Sebab, sejak kejadian setahun yang lalu, Sehun selalu enggan bertemu bahkan berbicara dengannya. Remaja itu hanya akan melakukannya jika terpaksa.

“Kau harus melepaskannya, Hyung,” tekan Sehun.

Lagi-lagi Joonmyun tidak salah menebak.

Wae?”

“Kalian tidak cocok. Kalian hanya akan saling menyakiti.”

“Dengar—“

Sehun menegakkan tubuhnya. Wajahnya berubah kesal. “Tidak! Kau yang dengarkan aku, Hyung. Mental Sooyeon sedang kacau karena berbagai drama yang muncul di hidupnya akhir-akhir ini. Melihat perubahan sikapnya, aku tahu dia menjadi bergantung kepadamu. Kau juga tidak jauh beda dengannya. Akan tetapi, kalian tidak bisa saling melindungi. Pada akhirnya, kalian terlalu berharap tapi harapan kalian tidak tersampai.”

Joonmyun mendesis geram. “Sok tahu sekali.”

“Aku hanya menyampaikan pesan dari Luhan hyung. Jika kau tidak percaya, silahkan. Tapi jangan sampai kau menyakiti Sooyeon.”

Joonmyun menarik napas dalam. Kata-kata Sehun membuatnya begitu panas. Dia berjalan menjauhi Sehun sejenak lalu kembali ke posisinya.

“Mengapa kau begitu peduli dengan Sooyeon? Bukankah tugasmu sudah selesai? Apa kau seperti ini karena dia adalah sahabatmu? Kau benar-benar menjadikannya sebagai sahabatmu?”

“Ya, ya dan ya.”

Joonmyun menyeringai sinis. “Ah, kalau begitu, kau iri karena kini Sooyeon bergantung kepadaku bukan kepadamu lagi.”

“Tidak juga. Aku seperti ini karena, ya, dia memang sahabatku. Sahabat terbaikku. Namun juga, karena aku mencintainya. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti gadis yang ku cintai, lagi.”

***

Sebenarnya saat terdengar suara pintu apartemen itu tertutup, Sooyeon keluar dari kamarnya. Dia mencari sosok sang empunya apartemen tapi tidak ada. Dia hanya melihat handphone Joonmyun yang tergeletak di atas meja. Layarnya masih menyala.

From: Sehun

Temui aku di basement sekarang.

Mata Sooyeon terbelalak lebar. Seketika pikiran-pikiran buruk datang. Ia takut Sehun datang untuk memberitahu Joonmyun tentang kejadian di malam ulangtahunnya itu. Sooyeon pun berlari keluar.

Keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya hari ini. Setelah semua kejadian pagi ini, kini Sooyeon masih harus menunggu satu lift sampai di lantai dimana ia berada. Satu lift lainnya sedang rusak.

Beberapa menit kemudian, dia pun sampai di basement. Dia hendak memanggil nama Joonmyun ketika matanya melihat dua sosok pria yang ia cari. Walaupun niat awal adalah menghampiri mereka, Sooyeon berakhir dengan bersembunyi di belakang mobil yang terdekat dengan mereka. Tempatnya bersembunyi cukup berhasil membuatnya mendengar pembicaraan mereka.

“Mengapa kau begitu peduli dengan Sooyeon? Bukankah tugasmu sudah selesai? Apa kau seperti ini karena dia adalah sahabatmu? Kau benar-benar menjadikannya sebagai sahabatmu?”

Suara Joonmyun oppa. Sepertinya mereka sedang membicarakanku, pikir Sooyeon.

“Ya, ya dan ya.”

Walaupun Sooyeon sudah bertekad untuk menghapus perasaannya, ia tetap merasa kecewa karena Sehun hanya menganggapnya sebagai sahabat.

“Ah, kalau begitu, kau iri karena kini Sooyeon bergantung kepadaku bukan kepadamu lagi.”

Tunggu, apa? Sehun iri?

“Tidak juga. Aku seperti ini karena, ya, dia memang sahabatku. Sahabat terbaikku. Namun juga, karena aku mencintainya. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti gadis yang ku cintai, lagi.”

Sooyeon menutup mulutnya tak percaya. Dia kira selama ini Sehun mengatakan itu hanya untuk menghiburnya. Dia harus menutup mulutnya dengan rapat agar tidak ada suara dari mulutnya karena dia ingin sekali berteriak. Gadis itu memilih untuk pergi ketika ia tidak dapat menahan rasanya lagi.

Sooyeon berlari masuk ke dalam gedung. Dia bingung harus melakukan apa. Perasaannya terlalu berlebihan hingga rasanya hampir meledak. Seketika ia ingin pergi dari gedung itu sejenak. Rasanya muak berada di tempat itu selalu, seakan dia adalah tawanan di gedung tersebut. Lagipula kejadian di rumah keluarga Kim belum juga hilang dari pikirannya. Dia masih emosi. Marah dan bahagia bercampur menjadi satu. Dia bingung, bagaimana ia bisa merasakan dua rasa yang bertolak-belakang dalam satu waktu?

Ajaib.

Jalanan di luar sangat ramai. Tidak hanya dipenuhi oleh kendaraan pribadi dan kendaraan umum, orang-orang pun juga. Sooyeon hanya ikut berjalan mengikuti desakan orang-orang yang berjalan di belakangnya. Ia tidak tahu kemana tujuannya. Dia hanya ingin pergi menjadi dari tempat yang selama ini menjadi penjaranya.

“..yeon!”

“Sooyeon!”

Yah, Jung Sooyeon!”

Gadis itu berhenti dan mencari orang yang memanggil namanya, tak peduli tubuhnya yang harus bertubrukkan dari orang-orang di belakangnya. Matanya membulat melihat sosok yang sedang berlari menghampirinya di antara kerumunan pejalan kaki. Tubuhnya yang tinggi membuatnya mudah dilihat dari tempat Sooyeon berdiri.

Sehun…

***

Mereka duduk di samping danau tempat mereka biasa menghabiskan waktu saat sekolah dulu. Setelah berbagai hal terjadi di antara mereka dalam waktu singkat, rasanya aneh ketika mereka menghabiskan waktu berdua lagi dengan keadaan tenang. Jika diingat-ingat, mereka memang tidak pernah mendapatkan kejadian baik saat bertemu sejak hari kelulusan.

“Kau melanggar janjimu, kau tahu?” canda Sooyeon.

Sehun memutar matanya. “Mengapa kau mengingatnya? Lagipula Joonmyun hyung tidak tahu.”

“Dia memang tidak tahu tapi dia akan tahu.”

“Kau akan memberitahunya?”

Sooyeon menghela napas. “Ani, dia akan tahu sendiri. Sebenarnya aku tidak boleh meninggalkan apartemennya jadi sekarang aku berstatus kabur. Jika dia sadar aku tidak ada di apartemennya, dia pasti mencariku.”

Seketika Sooyeon merasa takut dan menyesal. Joonmyun pasti akan marah besar kepadanya jika ia tahu mereka bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Sooyeon tidak ingin membebani Sehun.

“Tenang saja. Dia tidak akan sadar. Tadi aku bertemu dengannya. Kami membicarakan sesuatu. Salah satu pelayannya datang membawa handphonenya lalu dia pergi karena ada panggilan dari kantor. Seperti dia akan pulang malam. Jadi jika aku mengantarmu sebelum dia pulang, kau akan baik-baik saja,” ucap Sehun.

Sooyeon kembali menghela napas, kali ini penuh kelegaan.

***

Mungkin karena kejadian sebelumnya, dia tidak lagi merasa terbebani saat bertemu bahkan menghabiskan waktu bersama Sehun. Setidaknya Sooyeon tahu dirinya masih mempunyai Sehun selain Joonmyun walaupun keduanya terlihat sepasang sahabat yang saling membenci. Saat orang-orang di sekitar Joonmyun seakan membencinya, rasanya hangat jika dia masih mempunyai orang-orang yang menyayanginya. Dua orang pun terasa sangat cukup.

Sebenarnya dia ingin menanyakan alasan orang-orang di sekitar Joonmyun membencinya kepada Sehun. Akan tetapi, dia tidak berani.

Mungkin sejauh ini hanya ibunya Joonmyun yang mengungkapkan kebenciannya secara terang-terangan. Kakaknya hanya memberikan tatapan seakan Sooyeon adalah orang yang menjijikan dan selalu menjauhinya. Namun bagaimana dengan sahabat-sahabat Joonmyun? Mereka semua—kecuali Sehun, Luhan dan Jongdae—memberikan tatapan dingin kepadanya. Mereka hanya bersikap baik kepadanya jika ada Joonmyun di sampingnya. Pria bernama Kim Jongdae pun belum jelas bagaimana perilaku aslinya karena Sooyeon memang tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya tanpa Joonmyun. Mereka pun hanya bertemu sebentar lalu salah satu di antara mereka pergi. Bagaimana jika Jongdae juga membencinya?

“Ada hal yang mengganggumu?”

Pikiran Sooyeon buyar. Gadis itu menatap pria tampan di sampingnya.

“Tenang saja. Joonmyun hyung masih berada di kantornya,” ujar Sehun.

Sooyeon mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia baru sadar mereka sudah sampai di depan gedung apartemen Joonmyun.

“Mengapa mereka semua membenciku?” tanya Sooyeon.

Sehun mengernyit bingung. “…siapa yang kau maksud?”

“Kris, Kyungsoo, Dana eonni, Krystal… ibunya Joonmyun oppa…”

“Apa maksud—“

“Jongdae pun sepertinya tidak terlalu suka denganku. Apa aku pernah melakukan sesuatu kepada mereka? Sepertinya hanya Luhan yang baik denganku tapi dia juga memberikan aura yang aneh kepadaku. Apa kesalahanku?”

Sehun menarik napas dalam. “Karena mereka ingin menlindungi Joonmyun hyung.”

Seketika gadis itu merasa sangat frustasi dengan dirinya sendiri. “Melindunginya dariku? Dengan membenciku karena aku tinggal bersamanya? Ini bahkan bukan keinginanku. Mengapa aku yang disalahkan? Mengapa aku yang dibenci? Lagipula, itu tidak seperti aku akan membunuhnya atau sesuatu.”

“Sooyeon—“

“Jika boleh memilih, aku juga tidak akan memilih untuk bertemu dengannya. Akan tetapi, mengapa aku yang disalahkan atas sesuatu yang bahkan bukan kehendakku? Mengapa—“

“Terkadang kau tidak perlu tahu apa yang terjadi.”

Sooyeon menatap Sehun bingung. Sehun meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya lembut.

“Semua yang terjadi mempunyai alasan, Sooyeon-ah. Suatu hari nanti, kau akan mengerti tapi tidak sekarang.”

Setidaknya jangan sekarang, tambah Sehun dalam hati.

Sehun mengecup tangan Sooyeon dan tersenyum tipis. “Lebih baik kau pergi sekarang sebelum Joonmyun ­hyung melihat mobilku di sini dan curiga.”

Pipi Sooyeon merona dibuatnya. Dia menarik tangannya lalu membuka pintu secepatnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Hanya Sehun yang bisa membuatnya seperti ini.

Setelah turun dari mobil Sehun, Sooyeon mengetuk kaca pintu. Pria itu pun menurunkan kaca yang diketuk Sooyeon.

“Satu pertanyaan lagi,” kata Sooyeon. “Mengapa kau mencintaiku?”

Sehun mengangkat alisnya bingung. “Haruskah ada alasan?”

“Kau bilang semua yang terjadi mempunyai alasan, bukan? Lagipula, rasanya mustahil pria tampan, kaya dan pintar seperti menyukai perempuan sepertiku.”

“Ah..” Sehun kembali tersenyum. “Jawaban apa yang kau inginkan?”

“Jawaban jujur tentunya.”

“Aku akan memberikan jawaban jujur tapi sederhana kalau begitu.”

Sooyeon mengangguk mantap.

“Aku mencintaimu hanya karena itu adalah kamu.”

Sehun pun menutup kaca dan menggas mobilnya meninggalkan Sooyeon yang masih terbengong karena jawaban Sehun.

“Jawaban macam apa itu?” gumam Sooyeon bingung.

***

Joonmyun pulang ketika Sooyeon baru selesai mandi dan sedang menonton drama malam di televisi. Sehun benar, Joonmyun pulang di malam hari.

Selama Joonmyun belum pulang, Sooyeon menghabiskan waktu dengan memikirkan segala yang terjadi di hidupnya akhir-akhir ini. Dia pun sadar bahwa segala sikap baik nan manisnya kepada Joonmyun hanyalah sebagai pelariannya dari masalah. Bukan berarti dia menyesal. Dia malah bersyukur karena dia bisa melihat Joonmyun dari sudut pandang lainnya. Ternyata pria itu tidak terlalu buruk. Selama ia menjadi anak baik, Joonmyun pun akan baik kepadanya.

“Darimana saja?” tanya Joonmyun.

Sooyeon terkejut mendengarnya. “L-lho.. bukannya aku yang harusnya menanyakan itu?”

“Aku dari kantor. Kau tahu itu. Bagaimana denganmu, hm?”

Walaupun nada bicara Joonmyun lembut seperti biasanya, Sooyeon tetap merasakan seperti dihakimi.

“Aku.. aku hanya jalan-jalan di sekitar sini,” jawab Sooyeon, menunduk takut.

Joonmyun duduk di samping Sooyeon dan menepuk kepalanya lembut. “Hei, aku tidak akan marah. Tapi lain kali, kau harus memberitahuku dahulu. Sunyoung dan Jinri mengkhawatirkanmu.”

“Aku tidak akan mengulanginya.”

“Aku percaya.”

Semudah itu?, bingung Sooyeon.

Sooyeon meraih tangan Joonmyun ketika pria itu hendak meninggalkannya. Dia tidak terlalu mengerti mengapa dia mencegah Joonmyun pergi. Setelah berpikir sejenak, ia sadar bahwa dirinya tidak tenang setelah berbohong tadi. Tidak sepenuhnya bohong sih, karena niat awalnya memang hanya jalan-jalan di sekitar sini. Bertemu Sehun adalah kebetulan saja.

Oppa, tadi aku—“

Sooyeon berhenti. Dia tidak berani melanjutkannya. Dia teringat kejadian di dapur saat ia memberitahu Joonmyun ia menelepon Sehun siang harinya. Sooyeon melepaskan tangan Joonmyun. Dia tidak berani untuk memberitahunya. Lagipula, Sehun sudah menyuruhnya untuk merahasiakan pertemuan mereka tadi.

“Ada sesuatu yang kau inginkan, Sooyeon-ah?” tanya Joonmyun.

A-ani.”

“Katakan saja.”

Sesuatu pun melesat di pikiran gadis itu. “Aku ingin bertanya sesuatu.”

Joonmyun menatapnya bingung.

“Mengapa kau membeliku?”

Joonmyun menarik napas lalu membungkuk di hadapan Sooyeon hingga wajah mereka berdekatan. Dia mengecup kening Sooyeon.

“Aku masih punya banyak kerjaan. Jangan ganggu aku malam ini. Mengerti?”

Sooyeon mengangguk patuh. Lagi-lagi Joonmyun menghindari topik pembicaraan.

=== Only Because It’s You ===

I’m so sorry. Gomenasai. Maaf banget. Aku kan janjiin ff baruku tapi aku ga bisa nepatin. Minggu ini aku sibuk pergi sama teman-temanku. Bahkan untuk buka twitter aja aku ga sempat. Soalnya kebetulan teman-temanku banyak yang lagi liburan abis UAS😦 Karena itu, selama libur tahun baru ini, aku akan hilang. So, ff How To Get A Lover sepertinya akan ditunda atau malah distop.

Kalau mau komentar, jangan pake kalimat “Cepatan dilanjut!” atau semacamnya karena saya benci itu. Dan berhubung chapter ini panjang, tolong kalian komentar tentang cerita di chapter ini. Jangan ngomongin yang lain ya ^^

87 thoughts on “Only Because It’s You – Chapter 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s