[Freelance] Between Two Hearts (Chapter 5)

Title                  : Between Two Hearts

Author              : Flower Girl

Length              : Chaptered

Rating               : PG15+

Genre               : Romance, Friendship, Angst(?)

Main cast         :

  • Jessica Jung
  • Kim Myungsoo (L)
  • Lu Han

Support cast     :

  • Kim Yoojin (UEE)
  • EXO
  • And other.

Disclaimer        : My original storyline. Don’t be a PLAGIATOR!!

Note                : Ada adegan yang menurutku agak dewasa disini :Dv tapi cuma ‘agak’ yaa

Enjoy it and leave a comment ^_~

 

Visit my own website ->www.fgirspazzer.wordpress.com

 

_________________________________________________________________________________________

 

>>>Preview

 

Jessica mengerjap lalu kembali melihat Luhan dan Yoojin yang bersenda gurau. Sesak, sakit. Ingin sekali rasanya ia berteriak merasakan nafasnya yang tercekat.

Jessica berdiri dari kursinya lalu hendak berjalan menuju meja Luhan dan Yoojin, namun sebuah suara membuatnya mengurungkan niatnya.

 

“Kau mau menemui mereka? Lalu memaki Luhan atau menampar yeoja itu? Kau ingin mempermalukan dirimu sendiri, eoh?”

 

Jessica menatap Myungsoo dengan matanya yang berkaca-kaca. Perkataan Myungsoo memang benar. 100% benar.

 

“Inikah yang kau sebut baik-baik saja?”

 

____________________________________________________

Chapter 5

 

 

Jessica menghapus air matanya yang mulai menetes. Mendengar kalimat yang dilontarkan Myungsoo makin membuatnya sesak. Ia pun memutuskan meninggalkan cafetaria lalu berlari entah kemana. Yang pasti ia butuh tempat untuk sendiri sekarang.

 

 

Myungsoo menatap kepergian Jessica dengan sayu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada objek yang membuat Jessica menangis. Sejak kecil, Myungsoo tidak suka melihat yeoja menangis. Apalagi menangis karena seorang namja.

 

Myungsoo mengepalkan tangannya lalu menggebrak meja. Sontak hal itu membuat murid-murid yang ada di cafetaria menatapnya. Tak terkecuali Luhan dan Yoojin yang nampak terkejut karena suara meja yang digebrak Myungsoo sangat keras. Bahkan meja kaca itu sampai retak.

 

“Choseonghamnida”  ujar Myungsoo setelah ia menyadari apa yang ia lakukan. Ia membungkuk pada murid-murid lain yang menatapnya dengan ekspresi ketakutan.

 

 

“Huh, itu murid kelas 2 kan? Ada apa dengannya sampai menggebrak meja?”  tanya Yoojin pada Luhan yang sekarang sedang cengo.

 

Luhan merinding melihat kejadian yang baru saja ia lihat. Ia semakin merinding saat menyadari Myungsoo tengah mengarahkan death glare padanya.

 

 

*****

 

Pelajaran biologi hari ini entah mengapa sangat membosankan bagi Myungsoo. Padahal biologi adalah salah satu mata pelajaran favoritnya. Namun hari ini rasanya ia sangat bosan melihat buku biologi.

 

Myungsoo terlihat menatap keluar jendela. Melamun. Yah, ia melamun. Dalam sejarah SMA Kim Myungsoo, baru hari ini ia melamun di kelas. Melamun siapa? Siapa lagi jika bukan Jessica. Yeoja yang sekarang membuatnya khawatir setengah mati.

 

Kriiingg Kriiiiinggg

Myungsoo tersadar dari lamunannya setelah mendengar bel berbunyi. Ia mengusap wajahnya yang terlihat sangat frustasi. Pikirannya tak henti-hentinya menampakkan sosok Jessica yang tengah menangis. Hal itu sangat mengusik ketenangannya. Ia sangat khawatir jika Jessica melakukan hal yang aneh-aneh.

 

“Dimana kau, Jess?”  gumam Myungsoo seraya meletakkan kepalanya di meja.

 

Kelasnya sudah sepi. Hanya tersisa dirinya seorang. Jessica belum kembali. Bahkan belum menghubungi Myungsoo sekali pun.

Akhirnya Myungsoo bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kelas. Ia menuju lokernya lalu membuka lemari besi tersebut.

Saat tengah memasukkan buku-bukunya, Myungsoo merasakan ada yang memegang bahunya. Reflek ia berbalik.

 

“Jess, darimana…”  Myungsoo menghentikan kata-katanya setelah mendapati orang yang memegang bahunya bukan Jessica.

 

“Ah, kau tau dimana Jessica? Dari tadi aku menghubunginya tapi dia tak mengangkat telfonku. Kau kan temannya, kau tau kan dimana Jessica?”

 

Perkataan panjang lebar yang keluar dari mulut Luhan membuat Myungsoo ingin muntah.

Lebih spesial siapa sahabat dengan kekasih? Bagaimana kekasihnya malah bertanya pada sahabatnya?Itulah umpatan Myungsoo dalam hati.

Setelah selesai menata buku-bukunya, Myungsoo membanting pintu loker sampai menimbulkan suara yang cukup keras.

 

Hal itu membuat Luhan mundur satu langkah. Luhan sangat terkejut dengan reaksi tak menyenangkan dari Myungsoo. Ia menatap Myungsoo bingung saat namja itu mengeluarkan aura dinginnya.

 

“Kau kan kekasihnya, bagaimana bisa kau tak tau?”

 

Luhan semakin mundur saat Myungsoo semakin maju. Ia tak tau mengapa ia takut melihat kilatan petir di mata Myungsoo, hoobaenya sendiri.

“Sudah ku bilang dia tidak mengangkat telfonku”  jawab Luhan tegas.

 

“Jika dia tidak mengangkat telfonmu, berarti dia sedang marah padamu! Dan yang harus kau lakukan adalah INTROSPEKSI diri! Carilah kesalahanmu!”  ujar Myungsoo dengan berapi-api. Ia sangat emosi menghadapi namja yang disukai Jessica ini. Ia merasa Luhan bertindak seolah ia tak memiliki kesalahan.

Myungsoo terus mengeluarkan aura dinginnya. Ia pun melangkahkan kaki menjauh dari Luhan, namun sebelum ia benar-benar pergi, Luhan menahan tangannya.

 

“Hey bocah, aku ini sunbaemu. Seharusnya kau bersikap sopan padaku!”  balas Luhan tak kalah emosi.

Ia bingung dengan teman Jessica yang satu ini. Terlihat sangat tenang diluar namun sangat mengerikan didalam.

 

Myungsoo menghempaskan tangan Luhan yang menahannya. Ia kembali memberikan tatapan tajam pada Luhan. Ia ingin sekali memukul namja yang sangat innocent itu. Tapi Jessica akan membencinya jika ia melakukan itu.

“Pantaskah ak-”

 

 

“Sedang apa kalian?!!”

Perkataan Myungsoo terpotong oleh teriakan melengkin seseorang. Myungsoo dan Luhan langsung menatap ke sumber suara. Mereka terkejut mendapati seseorang itu adalah..

 

“Jessica!!”

 

Myungsoo melihat Luhan segera berlari menghampiri Jessica yang..

Sangat berantakan. Seragamnya kusut dan rambutnya berantakan. Myungsoo ingin berlari lalu memeluk sahabatnya itu. Namun air mata yang masih mengalir di pipi Jessica membuat Myungsoo tak kuat melihat yeoja itu.

 

 

“Jangan sentuh aku!”  teriak Jessica saat Luhan akan memeluknya.

 

Luhan terkejut lalu menatap Jessica lebih dekat. “W-wae? K-kenapa kau menangis? Dan, mengapa kau sangat berantakan? Ada apa denganmu, Jess?”

Tangan namja itu terulur untuk memeluk Jessica, namun Jessica menepis tangan Luhan dengan kuat.

 

“Ku bilang jangan sentuh aku!”  Jessica mendorong Luhan sampai namja itu jatuh ke lantai. Lalu dengan cepat ia berlari masuk ke dalam kelasnya.

 

 

Luhan diam di tempat. Hatinya terasa di remas kuat melihat keadaan Jessica tadi. Ia merasa semakin sesak ketika melihat Myungsoo mengikuti Jessica masuk ke kelas. Ia bingung ada apa dengan Jessica.

Apa dia tau saat aku bersama Yoojin tadi?

 

 

*****

 

 

Myungsoo sangat bersyukur hari ini ia diminta Mommy Jessica untuk menemani Jessica, karena Mommy beserta adik Jessica akan pergi ke rumah saudaranya sementara Jessica menolak untuk ikut. Myungsoo bersyukur karena ia bisa menenangkan Jessica yang sangat kacau hari ini.

 

Myungsoo membuka pintu kamar Jessica perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar, namun ia tak menemukan sosok yeoja dengan rambut emasnya. Myungsoo mengerutkan dahinya.

“Kemana dia?”

 

Myungsoo masuk ke kamar Jessica lalu memperhatikan tiap sudut ruangan. Nihil, yeoja yang ia cari tidak ada dalam ruangan itu.

Myungsoo menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aish. Jess, kau dimana?”  akhirnya Myungsoo memanggil nama Jessica. Namun sepertinya panggilannya tak bisa menunjukkan dimana Jessica berada.

 

Myungsoo menatap pintu balkon yang terbuka. Sekarang ia tau dimana Jessica.

Ia pun berjalan ke pintu tersebut. Dan benar saja, ia mendapati Jessica disana sedang duduk seraya memandang ke langit.

 

“Jess”  panggil Myungsoo pelan seraya menyentuh pundak Jessica.

 

Jessica mengalihkan pandangannya dari langit ke Myungsoo. Ia sedikit terkejut menyadari kehadiran Myungsoo. Buktinya ia segera duduk tegap saat sebelumya ia berbaring di kursi.

“Ah, Myung. Ada apa?”

 

“Tidak ada apa-apa. Mommymu menyuruhku menjagamu sampai nanti malam.”  Jawab Myungsoo seraya duduk di samping Jessica.

 

“Ish, mengapa mommy merepotkan orang lain. Padahal nanti malam aku ada acara”

 

 

Myungsoo menatap Jessica setelah yeoja itu mengeluarkan rentetan katanya.

“Acara?”

 

Jessica mengangguk seraya tersenyum tiga jari. “Iya. Hari ini hari Jum’at. Jadi aku ingin menghabiskan malam ini lalu tidur panjang besok.”  Jawab Jessica dengan gembira.

 

Myungsoo terkejut dengan kelakukan Jessica. Padahal saat pulang sekolah tadi, Jessica masih bercucuran air mata. Mengapa sekarang bisa sebahagia ini?

“Dengan siapa?”

 

“Luhan”

 

Mendengar nama itu membuat Myungsoo lebih terkejut lagi. Bisa-bisanya Jessica akan pergi dengan Luhan padahal saat di sekolah tadi ia menangis karena Luhan.

Myungsoo yang tadinya berwajah hangat(?)  kini menjadi dingin saat seperti di sekolah.

“Luhan? Bukannya kau tadi-”

 

“Itu hanya salah paham. Luhan sudah menjelaskannya padaku di telfon”  potong Jessica cepat.

 

“Ah. Geurae”

Myungsoo menunduk. Menatap lantai dengan pandangan kosong.

 

 

***

 

 

Untuk kesekian kalinya, Jessica bercermin di depan benda yang tingginya hampir sama dengannya tersebut. Ia mengabaikan seseorang yang sedari tadi hanya memandangnya dengan jenuh. Jessica kini hanya fokus pada dandanannya malam ini. Ia merasa harus terlihat sempurna saat kencan nanti.

 

“Apa kau tak terlalu berlebihan?”

 

Jessica menatap Myungsoo dari pantulan kaca. Ia hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

 

“Baiklah, aku pulang dulu”

 

“Tunggu!”

 

Myungsoo berbalik menatap Jessica lagi. Baginya, Jessica sangat berlebihan malam ini. Ia hanya akan makan malam diluar, namun sudah mengenakan mini dress dan make up yang menurutnya menor.

“Apa?”

 

Jessica berputar di depan Myungsoo lalu tersenyum senang.

“Menurutmu, bagaimana penampilanku? Ada yang kurang?”

 

“Kurang? Menurutku itu malah berlebihan”

Myungsoo memasang wajah mengejeknya yang sangat dibenci Jessica.

 

“Ish, aku lupa. Bagaimana aku bisa bertanya pada orang yang tidak tau fashion. Apa lagi orang itu tidak pernah menyukai yeoja. Cckk ck”

 

Myungsoo menatap Jessica tajam. Ia memang sangat sensitif jika sudah disinggung tentang ‘menyukai yeoja’. Sejak di sekolah dasar sampai sekarang, Myungsoo belum pernah menyukai yeoja.

 

Myungsoo meninggalkan Jessica setelah yeoja itu melontarkan kalimat yang sangat menyakitkan baginya. Ia tak menyangka Jessica bisa berkata demikian. Padahal Myungsoo sudah memberitahu Jessica jika ia tidak suka disinggung masalah ‘menyukai yeoja’.

 

Bisa-bisanya kau mengatakan itu, Jess.

 

*****

 

Jessica tersenyum setelah Luhan mempersilahkannya duduk. Sebenarnya ia sedikit kecewa karena ia kira Luhan akan membawanya makan malam di restoran yang romantis, ternyata Luhan hanya mengajaknya makan malam biasa di cafe.

 

“Kau mau pesan apa?”  tanya Luhan pada Jessica.

 

Jessica menatap menu yang menempel di meja lalu meletakkan telunjuknya di dagu.

“Eum.. hot chocolate dan puding coklat”

 

Luhan tersenyum lalu memesan pada pelayan. Mereka pun menunggu pesanan datang seraya memperhatikan sekitar cafe. Jessica mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Cafe ini seperti cafe-cafe biasa, namun saat Jessica menatap beberapa orang yang sedang duduk di kursi deka Jendela, bagi Jessica cafe ini menjadi luar biasa.

 

“Ini pesanannya. Selamat menikmati”

 

Luhan segera melahap pesanannya yaitu pancake ice cream. Namun ia berhenti menyuapkan pancake ke mulutnya setelah melihat Jessica yang memperhatikan arah lain. Luhan pun mengikuti arah pandang Jessica, dan seketika ia tersedak.

 

“Uhuk huk uhuk”

 

Jessica yang terkejut segera menoleh pada Luhan lalu menepuk-nepuk tengkuk Luhan. Ia juga menyodorkan segelas air putih pada Luhan.

“Pelan-pelan, Lu”

 

Luhan mengusap mulutnya dengan tisu lalu menatap ke arah yang tadi Jessica lihat.

“Mengapa mereka ada disini?”  tanya Luhan tiba-tiba.

 

“Mereka? Maksudmu Yoojin?”

 

Luhan menatap Jessica sejenak. “Tidak hanya Yoojin, Jess. Disitu ada Sehun, Chanyeol, dan Kai. Mengapa teman-temanku bersama Yoojin?”

 

Jessica meminum sedikit coklat panasnya lalu menatap Luhan dengan wajah aneh.

“Memang kenapa? Yoojin mantan pacarmu bukan? Apa tidak boleh mantan pacarmu hang out dengan teman-temanmu? Atau jangan-jangan kau cemburu?”

 

Luhan kembali menatap Jessica. “Ayolah, Jess. Aku sudah menjelaskannya. Aku tidak ingin bertengkar lagi”

 

“Kau bilang dia sahabatmu, sekarang mengapa kau bingung jika dia pergi bersama teman-temanmu?”  Jessica memutar matanya jengah.

 

“Baiklah. Ayo kita pergi saja”

Luhan menarik tangan Jessica lalu meninggalkan cafe itu.

 

 

***

 

“Lu, sudah lepaskan!”

Jessica menghempaskan tangan Luhan dengan kencang. Ia menatap namja itu dengan kesal lalu mengelus pergelangan tangannya yang memerah karena genggaman tangan Luhan yang sangat kencang menurutnya.

“Lihat! Tanganku jadi merah kan?!”

 

Luhan menghembuskan nafas. Ia menatap Jessica dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.

“Aku mohon, Jess. Aku tidak ingin kencan kita hari ini rusak karena Yoojin”

 

Jessica menatap Luhan dengan wajah bingung. Ia bingung dengan apa yang dikatakan Luhan.

“Sebenarnya hubunganmu dengan Yoojin itu apa, Lu?”

 

Luhan terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia memang sudah tidak bersama Yoojin sejak ia menyukai Jessica. Namun, Yoojin yang dulunya biasa saja kini malah ingin merusak hubungannya dengan Jessica.

 

“Ah, kalian masih punya hubungan ya?”

 

Luhan menatap Jessica terkejut. Ia ingin sekali mengeluarkan kata-kata, namun entah mengapa tiba-tiba ia merasa mulutnya sulit untuk berbicara. Akhirnya ia hanya bisa menggeleng-geleng.

 

“Ternyata seperti ini rasanya hubungan sepasang kekasih”

Jessica terduduk lemas di bangku tua tepi jalan yang sepi. Ia menatap lurus aspal basah yang tadi sempat terguyur hujan.

 

“J-jess, tidak seperti itu”

 

Jessica mengabaikan Luhan yang tengah berlutut seraya menggenggam tangannya. Ia sudah bersiap meneteskan air mata. Padahal hubungan mereka belum mencapai 1 bulan, namun Jessica sudah 3 kali menangis karena Luhan.

 

“Jess, jangan menangis. Aku mohon, aku tidak ingin kencan kita hari ini berakhir seperti ini”

 

Jessica menatap Luhan datar. Air matanya sudah mengalir keluar, namun Luhan menghapusnya. Jessica merasa seperti orang terbodoh di dunia karena sekarang ia tersihir oleh mata indah Luhan. Jessica selalu meleleh tiap kali menatap mata yang menurutnya sangat menenangkan itu.

“Baiklah”

 

*****

 

“Memang sulit jika sudah seperti ini”  Myungsoo menggumam tak jelas.

Sejak 2 jam yang lalu, ia berbaring santai di ruang keluarga seraya menyumpali telinganya dengan headphone. Sejak 2 jam yang lalu pula lagu yang ia dengarkan tetap sama. Yaitu lagu dari pentolan girl band Girls Generation, Kim Taeyeon & Sunny Lee yang berjudul It’s Love. Entah mengapa ia sangat suka mendengarkan lagi itu. Baginya itu adalah lagu yang bisa mendeskripsikan perasaannya pada seorang yeoja.

 

Seorang yeoja? Ya, Myungsoo menyukai yeoja. Tidak seperti yang Jessica katakan tadi. Myungsoo masih normal.

Jika mengingat perkataan Jessica tadi, memang membuat Myungsoo sedikit sakit dan terkejut.

“Bagaimana bisa dia mengatakannya?”

 

Terdengar helaan nafas berat dari Myungsoo. Ia tidak tau harus marah atau apa. Ia tidak bisa marah pada Jessica. Ia yakin Jessica pasti membutuhkannya. Namun, ia merasa sakit jika mengingat perkataan Jessica tadi.

 

Tiba-tiba Myungsoo terduduk saat merasakan ada yang memegang bahunya. Ia terkejut saat eommanya ada di hadapannya. Ia pun segera mematikan MP3nya lalu melepas headphone dari telinganya.

“Ah, eomma. Waeyo, Eomma?”

 

Eomma Myungsoo tersenyum lalu duduk disamping Myungsoo.

“Ada yang ingin eomma beritahukan”

 

“Mwonde?”

Myungsoo meletakkan MP3 serta headphonenya di meja. Lalu ia menatap eommanya serius.

 

“Daddy Jessica gulung tikar di Amerika”

 

Myungsoo membulatkan matanya mendengar perkataan eommanya. “M-MWO?”

 

Eomma Myungsoo menggenggam tangan Myungsoo.

“Jadi Mommy Jessica pergi ke Busan tadi untuk meminta bantuan pada ahjumma Jessica. Sebenarnya eomma dan appa mau membantu, tapi mereka menolak”

 

Myungsoo hanya melongo. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Jessica tau semua ini.

“A-apa Jessica tau?”

 

“Sejauh ini mungkin belum”

 

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Eomma?”  tanya Myungsoo seraya menutup wajahnya dengan tangan.

“Apa kita tidak bisa memaksa Mommy Jessica untuk menerima bantuan kita?”

 

Eomma Myungsoo menggidikkan bahunya.

“Mommy Jessica mengatakan keuangannya masih cukup saat ini. Namun entah untuk setahun atau dua tahun kedepan”

 

Myungsoo terdiam. Inilah sebabnya ia tidak bisa marah pada Jessica. Karena Jessica pasti sangat membutuhkannya.

 

 

*****

 

 

Di kawasan Myungdong nampak ramai malam ini. Memang karena malam ini adalah hari Jum’at, jadi banyak orang yang memanfaatkan hari ini untuk pergi lalu bermalas-malasan besok.

 

Jessica dan Luhan berjalan melintasi toko-toko seraya bergandengan tangan. Luhan nampak tersenyum dengan senyuman khasnya, sedangkan Jessica hanya memasang ekspresi datar. Ia tidak tau harus apa. Ia bahkan tidak tau ia sedang marah atau tidak pada Luhan.

 

“Jess?”

 

Jessica mengalihkan pandangannya pada Luhan. “Ne?”

 

“Bagaimana kalau kita makan es krim?” Luhan tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.

Ia tau Jessica sangat menyukai es krim.

 

“Terserahlah”

 

Luhan kembali berjalan seraya menarik tangan Jessica lalu memasukkan tangan kecil itu ke saku jaketnya. Sebenarnya Luhan tidak berminat makan es krim. Apalagi hari ini cuaca sedang dingin dan sore tadi hujan turun. Namun Luhan tetap berniat ke toko es krim karena Luhan pikir itulah yang bisa membuat Jessica memaafkannya. Luhan merasa Jessica masih marah padanya.

 

 

“Kau mau es krim yang mana?”  tanya Luhan setelah ia masuk ke toko es krim lalu berdiri di depan sang penyaji es krim.

 

“Strawberry vanila”

 

Luhan mengangguk lalu memesan pada pelayan di depannya.

“1 Strawberry vanila, 1 Pistachio, dan 1 Chocolate magma double scoop”

 

Jessica mengerutkan dahinya mendengar pesanan Luhan. Ia memesan tiga es krim? Padahal mereka hanya berdua. Jessica menggidikkan bahu seraya mengikuti Luhan yang sekarang duduk di kursi kedai es krim tersebut. Ia tak minat bertanya mengapa Luhan memesan 3 es krim.

 

“Kau masih marah padaku?”

 

Jessica menatap Luhan setelah mendengar namja itu bertanya padanya.

“A-aniyo”

 

Luhan menatap lantai kedai es krim dengan senyum masam. “Jeongmal?”

 

Jessica menghela nafas. Ia juga bingung sebenarnya ia marah pada Luhan atau tidak. Ia sudah lega Luhan menjelaskan semuanya padanya, namun entah kenapa Jessica mendapat perasaan yang tidak enak. Seperti akan ada bencana besar yang melanda kehidupannya. Itulah alasan mengapa Jessica menjadi tidak mood hari ini.

 

 

“Pesanan anda telah siap. Selamat menikmati”

Suara pelayan memecah keheningan diantara Jessica dan Luhan. Dan setelah pelayan itu pergi, Jessica dan Luhan kembali diam seraya menatap es krim mereka masing-masing.

 

“Ekmm, jika kau masih marah tidak apa, Jess”

 

Jessica menatap Luhan yang lagi-lagi masih menatap lantai. “Ani. Aniya”

 

Setelah kalimat itu, tidak ada lagi kalimat yang mereka ucapkan. Mereka memakan es krim dengan hening, tanpa menatap satu sama lain.

 

 

*****

 

 

“Aku bingung, mengapa selalu ada Jessica di setiap lamunanku?”

Myungsoo mengambil bantal lalu meletakkannya di depan wajahnya. Ia mengerucutkan bibirnya lalu menonjok bantal tersebut.

 

“Yak! Luhan!! Pergi kau dari kehidupan Jessica!! Yak! Yak!”

Orang gila. Itulah yang bisa menggambarkan keadaan Myungsoo. Ia meninju bantalnya yang tak bersalah sampai kapasnya tersebar kemana-mana. Ia juga berbicara sendiri pada benda mati itu. Sungguh gila!

 

“Myungsoo?”

 

Myungsoo menghentikan aktivitasnya menganiaya bantal lalu menatap eommanya yang tengah berada di ambang pintu kamar. Myungsoo berdiri dari kasur lalu menghampiri sang eomma.

“Ne, eomma. Waeyo?”

 

“Tolong jangan beritahu Jessica tentang masalah keluarganya ne? biarkan mommynya yang memberitahu”  ujar eomma Myungsoo dengan nada lirih.

 

“Ah, N-ne. Mengapa eomma mengurangi volume suara?”

 

Eomma Myungsoo meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Mengisyaratkan Myungsoo agar tidak bicara keras-keras. “Jessica sedang disini. Dia mencarimu”

 

Myungsoo terkejut mendengar perkataan eommanya. Ia segera mengangguk lalu membiarkan eommanya pergi. Myungsoo menatap jam tangannya sejenak. Pukul 11 ia baru pulang?

 

“Myung?”

 

Myungsoo menatap Jessica yang tiba-tiba ada di hadapannya dengan ekspresi terkejut. Ia lantas membuka pintu kamarnya lebih lebar lalu membiarkan Jessica masuk ke kamarnya.

 

“Tumben sekali kau kemari malam-malam. Ada apa?”

 

Jessica duduk di sofa kamar Myungsoo lalu menyalakan TV.

“Mommyku belum pulang. Jadi hari ini aku menginap disini ne?”

 

“Ha?”

 

Jessica menatap Myungsoo yang duduk disampingnya dengan wajah aneh. “Wae? Tidak bolehkah?”

 

Myungsoo tersenyum tiga jari lalu menggeleng. “Ani ani. Kau boleh menginap disini”

 

“Tapi aku mau tidur disini juga”

 

Myungsoo menatap Jessica dengan wajah cengo. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Jessica. Padahal dulu Jessica menolak saat ia meminta Jessica tidur dengannya, namun sekarang yang terjadi malah sebalikannya.

“Jeongmal?”

 

Jessica mengangguk lalu berjalan ke arah penghangat ruangan yang mati. Ia menyalakan penghangat ruangan lalu kembali duduk di sofa.

“Aku juga ingin bercerita padamu”

 

Myungsoo beranjak dari sofa yang ia duduki lalu berjalan menuju ranjangnya. Ia naik ke ranjang lalu menyisakan tempat di sampingya.

“Baiklah. Sekarang saja. Lebih cepat lebih baik”

 

“Geurae”

Jessica mematikan TV lalu melepas jaketnya. Ia berjalan menuju ranjang Myungsoo lalu berbaring di sebelah Myungsoo.

Jessica menatap Myungsoo sejenak. Tiba-tiba datang setitik perasaan aneh menyelimuti hati Jessica. Ia seakan merasakan kehangatan dan kenyamanan saat menatap manik mata Myungsoo.

 

“Apa yang kau lihat? Cepat ceritalah”  ujar Myungsoo yang risih karena Jessica terus memandanginya. Sebenarnya ia tidak risih, melainkan agak malu mungkin.

 

“Ish~ Ne ne”  Jessica menyingkirkan tangannya lalu mengerucutkan bibirnya. “Aku ingin tidur saja”

Jessica menarik selimut lalu tidur memunggunggi Myungsoo.

 

“Dasar yeoja!”

Myungsoo menatap punggung Jessica seraya memegang pipinya yang tiba-tiba terasa panas karena ditatap oleh yeoja itu tadi. Ia lantas memejamkan mata menghadap punggung Jessica.

 

***

 

Teng~

Myungsoo terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara dentang jam dindingnya. Namja itu mengucek mata lalu memperhatikan jam tersebut.

“Masih jam 1”

 

Myungsoo menatap seseorang disebelahnya sebentar. Ia tersenyum mendapati Jessica yang sedang tidur telentang seraya mengerucutkan bibirnya.

Myungsoo menyalakan lampu tidur lalu mematikan penghangat ruangan.

“Bisa-bisanya ia kedinginan padahal udara sangat panas”

 

Myungsoo kembali ke ranjangnya lalu mulai memejamkan mata. Sekitar 10 menit ia berusaha tidur kembali, namun usahanya gagal. Ia malah merasa kepanasan.

“Aish, mengapa panas sekali?”

Myungsoo melirik AC kamarnya lalu menatap Jessica. Ia berpikir, jika ia menyalakan AC Jessica akan kedinginan, namun jika tidak ia yang akan kepanasan.

 

“Eottokhae?”

Myungsoo membuka selimutnya lalu bertopang dagu.

 

“Aha! Aku ada ide”

Myungsoo turun dari ranjang. Lalu ia membuka kaos hitamnya.

“Begini lebih baik”  ujar Myungsoo seraya kembali ke ranjang.

Ia sedikit terkejut dengan posisi Jessica yang berubah. Jessica yang tadinya telentang kini miring ke arahnya.

 

“D-dingin. M-mom-mommy, di-dingin”

 

Myungsoo menatap Jessica bingung setelah yeoja itu bergumam seraya mengeratkan selimutnya. Ia bingung harus melakukan apa. Ia tidak bisa jika harus menyalakan penghangat ruangan disaat ia sedang kepanasan, tapi Jessica?

 

“M-mom, dingin”

 

Myungsoo menyentil pipi Jessica agar yeoja itu bangun. “Jess, bangun, Jess”

 

Tidak seperti biasanya, kali ini Jessica segera membuka matanya. Menatap Myungsoo dengan mata sayu.

“Myun, nyalakan penghangatnya, jebal”

 

“T-tapi aku kepanasan, Jess”

 

Jessica melebarkan matanya setelah melihat Myungsoo yang tidak memakai atasan alias topless. “A-apa yang k-kau lakukan?! Mengapa kau tidak pakai baju?!”

 

“Aku kepanasan. Sudah kubilang kan tadi?”  Myungsoo menatap Jessica innocent.

 

“Lalu bagaimana denganku sekarang? Aku kedinginan”  Jessica mengeratkan selimutnya seraya menatap Myungsoo memelas.

 

Tiba-tiba Myungsoo membuka selimut Jessica lalu memeluk yeoja itu. Sontak Jessica terkejut setengah mati.

“M-myungsoo?”

 

“Aku akan menghangatkanmu”

 

Entah mengapa Jessica tersenyum dalam pelukan Myungsoo. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia berpelukan dengan Myungsoo. Myungsoo pernah mengatakan jika ia tidak suka dipeluk ataupun memeluk yeoja selain eommanya. Namun sekarang, Myungsoo malah memeluknya. Dalam keadaan topless pula.

 

 

 

To Be Continue😛

 

 

 

 

_________________________________________________________________________________________

 

KENAPA????? Kenapa ceritanya jadi begini?

Hahahahaaaa..  ini adalah salah satu konsep kejutan dari saya 3:)

Maaf  jika ada sesuatu yang tidak diharapkan. Jangan gebukin saya (/_\)

37 thoughts on “[Freelance] Between Two Hearts (Chapter 5)

  1. jdi cengar cengir sndiri pas bagian myungsoo meluk jessica😀 sumpah, jadi geli2 gituh ngebayanginnya … kkk~ ayoo lanjut thor ‘-‘)b oiya, endingnya myungsica aja yah thor ;;) jebal~ ..🙂

  2. wah… myungsoo kok meluk Sica eon???
    jadi gimana… gitu ngebayanginnya. apalagi Myungsoo topless…😀 /PLAK!*Yadongkumat
    wah … kira2 endingnya MyungSica atau HanSica yaa….??
    Cpet lanjutin Thor….🙂 #Reader maksa😀

  3. Neeeeh itu si mantan ganggu aja deh, -_- udah mantan ya udah pergi aja! Itu luhan masi ada rasa gak sih sama si mantan? Si luhan galau perasaan deh, apa dia pengen ngelindungin sica ye dari si mantan? Hiih bingung sama. Kamu nak. Luhan-sicanya dikit yee, maklum lagi berantem, suka sama myung-sicanya disini, myung perhatian banget, naksir banget yak sama mbak jess? :v
    Endingnya! (۳ ˚Д˚)۳

  4. thor lanjut … next next next !!
    aku bener² suka ini FF nya..
    MyungSica Jjang♥
    next thor,, pleaseee ★🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s