The Heirs (Chapter 1)

image

Title                       : The Heirs

Author                  : Flawless Jung

Main Cast            : Kris Wu ; Jessica Jung ; Kai Kim

Genre                   : Dramance ; School Life

Length                  : Oneshoot

Rate                       : Teen

Poster                   : @FJartposter

Disclaimer           : FANFICTION INI MURNI KUTIPAN DARI DRAMA THE HEIRS. Author Cuma ingin mengubah settingan dan castnya menjadi Jessica x Kris x Kai . Semua yang tertulis adalah unsur kesengajaan. Ini bukan plagiat! Karena saya terang-terangan mengatakan bahwa FF ini MEMANGLAH BUKAN HASIL KARYA OTAK SAYA. Saya hanya menyulapnya menjadi Fanfiction. Sekian, terimakasih.

Summary             : cerita kemarin hanyalah bagian dari mimpi di tengah musim panas, maka aku juga pergi seperti mimpi tadi malam. Selamat tinggal – Cha Eun Sang (The Heirs)

Flawless Jung Presented

An Adaptation of Korean Best Drama 2013

The Heirs

Author Pov

Seoul – Pertengahan musim panas 2013.

Sebuah café yang terletak di pinggiran kota Seoul  sedang dalam jam sibuknya, maklum saja sekarang sedang coffee time ditambah lagi café ini adalah café terbaik didaerah sini. Nuan sa café yang bercorak coklat dengan dedaunan hijau yang menghiasi sudut pandangan membuatnya begitu apik terlihat.

Begitu pula dengan dekorasi dalam café. Tak jauh beda, tetap nuansa coklat yang terlihat dari para pelayan café ini. Apron coklat. Seorang perempuan dengan apron coklat yang terikat dipinggangnya dan rambut ekor kudanya sedang menerima pesanan dari para pelanggan.

“baiklah, satu moccacino, satu orange-latte dan satu milky latte. Totalnya 39 won.  Ini nomor antriannya, gomapseumnida” seru si perempuan di balik meja kasir.

Jessica Jung. Itu nama yang tertera di nametag miliknya.

“eomma! Aku pulang!!” seru perempuan tadi, Jessica Jung sambil melepas sepatunya.

“ah Nee. Selamat pulang sayang! Eomma sudah menyiapkan makan malam untukku” balas seorang wanita paruh baya yang terduduk disalah satu sudut rumah mereka.

Ini rumah, rumah yang sangat sederhana. Hanya dengan beberapa langkah maka seluruh ruangan ini sudah terjamah. Hanya ada  satu kamar, satu ruang tamu , satu dapur dan satu kamar mandi. Miris memang, tapi inilah satu-satunya peninggalan sang ayah yang masih ada hingga sekarang.

Perempuan tadi masuk kedapurnya dan membuka tudung penutup makanan yang berwarna biru cerah. Beberapa piring tersusun apik dengan lauk kelas satu yang menggugah selera.

“eomma! Apa kau membawa makanan sisa dari Grup Jeguk lagi?” seru sang perempuan kesal sambil berjalan kearah orang tua satu-satunya yang ia miliki.

“itu bukan makanan sisa, nyonya dengan baik hati memberimu makanan, berterimakasihlah” jelas wanita paruh baya tersebut pada anaknya dengan lembut.

“nyonya yang selalu merepotkanmu itu? Aku tidak mau eomma !” Jessica semakinkeras menolak. Hal itu membuat sang eomma menjadi kesal. Dengan telapak kosongnya, ia memukul paha Jessica keras.

PLAK

“appha~” ringis Jessica sambil mengelus pahanya yang sudah ada bekas telapak tangan sang eomma.

“apa susahnya makan? Ia sudah memberikanmu makanan kelas satu. Bersyukurlah. Ia tidak seperti yang kau pikirkan, nyonya adalah orang baik. Kalau bukan karena dia mau mempekerjakan wanita tua sepertiku darimana aku mendapatkan uang untuk menyekolahkanmu dan mengirimnya untuk Taeyeon?” sungut wanita itu.

Jessica duduk sambil menunuduk. Ia memikirkan yang dikatakan oleh eommanya, tapi bagaimanapun ia tetap saja kesal mengingat Jeguk Grup dan keluarga yang menjadi majikan mamanya tidak begitu menghargai para pelayan.

Mata Jessica beralih pada buku tabungan yang dipegang eommanya. Ia menatap eommanya dengan tatapan penasaran.

“apa yang akan kau lakukan dengan simpanan kita?” Tanya Jessica bingung.

“aku akan mengirim semuanya untuk kakakmu”

“semua? Untuk eonni? Delapan juta won?” pekik Jessica tertahan. Jumlah yang besar karena mengingat selama ini kakaknya, Taeyeon Jung yang sekarang bersekolah di San Francisco tidak pernah meminta sebanyak ini.

“ia akan menikah”

“apa? Me-menikah? Lalu apakah kita akan kesana?”

Wanita paruh baya itu menggeleng pelan dan tertunduk . Jessica yang melihatnya menjadi geram.

“bagaimana bisa ia mengabaikan kita disaat hari bahagianya. Kita yang matimatian bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan sekarang ia bahkan tidak mengundang kita?”

“eomma hanya tidak ingin merusak hari pernikahannya jika keluarga mempelai pria mengetahui bahwa kita dari keluarga miskin”

Jessica menahan isakannya yang hampir lepas. Bening kaca sudah terlihat jelas di kedua matanya, tinggal menunggu waktu hingga cairan itu tumpah.

PATS! Jessica merebut buku tabungan yang tadi dipengang eomma-nya. “aku yang akan memberikannya sendiri kepada eonni. Aku akan ke San Francisco menemuinya”

Awalnay wanita paruh baya itu tersentak dan ingin protes, tapi ia batalkan. Karena ia sangat tau watak anak bungsunya itu. Jessica Jung, jika ia sudah memutuskan sesuatu maka ia harus melakukannya. Jadi percuma saja jika ia harus meminta atau meohon pada Jessica untuk tidak pergi menemui kakaknya.

Nekat! Itu kata yang pertama saat kalian tau bahwa Jessica Jung pergi tanpa ada bekal apapun. Ia pergi hanya berbekalkan alamat kakaknya dan kamus Bahasa inggris. Memang niatnya sangat keras untuk menemui sang kakak.

San Francisco International Airport

Jessica menginjakkan kakinya untuk yang pertama kalinya di benua yang penuh dengan bintang Hollywood. Matanya takjub melihat sekelilingnya. Tapi itu tak berlangsung lama, karena setelah itu ia langsung menari kopernya keluar bandara dengan sebelah tangan yang sibuk membolak balikkan kamusnya.

 

Jessica POV

Aku harus menaiki taxi agar lebih cepat samapi. Tapi itu terlalu mahal, apakah aku harus menaiki bus? Tapi aku tidak tau rutenya. Ah! Sangat menyusahkan.

Aku memandang sekelilingku. Bandara sedang tidak ramai karena ini masih sangat pagi.

“nee eomma, sekarang Kris Wu sedang bersamaku. Ya, ia menjemputku dibandara. Bahkan ia terlihat sangat tampan hari ini”

Aku menolehkan kepalaku kekiri saat mendengar seseorang berbicara dengan bahasaku. Aku melihat seorang wanita muda, mungkin seumuranku. Dan tadi ia bicara apa? Kris? Chris? Tampan? Apa yang ia maksud adalah lelaki tua yang sibuk memasukkan kopernya kedalam mobil?

“apa gadis itu gila?” gumamku.

Aku melangkah untuk meninggalkan area parkiran bandara menuju area tempat berpakir taxi. Tapi langkahku terhenti saat aku mendengar seruan dari belakang.

“jogiyo!”

Apa perempuan gila tadi?

“ya! Kau!”

Aku membalikkan tubuhku pelan. Tepat! Matanya menatapku. Aku melihat sekeliling dan hanya ada kami berdua disana, apa ia memanggilku?

“na?” tanyaku.

“siapa lagi? Kau! Mengapa kau tertawa saat melihatku tadi?”

“kenapa? Kau tersinggung?”

“kau menertawaiku tanpa alasan dan kau sekarang malah berlagak?!” serunya keras. Wanita didepanku ini cantik, tapi sayangnya ia galak.

“aku tertawa karena tak hanya aku yang tak di sambut disini, itulah mengapa” kataku sambil menunjuk pria tua tadi yang sedang membukakan pintu penumpang untuk wanita didepanku.

Aku berbalik meninggalkan wanita yang galak itu. Hari pertamaku di San Francisco bermula buruk. Kuharap ini hanya awalnya saja yang seperti ini, akan sangat melelahkan jika harus mengalami kekesalan sepanjang hari.

Kris Wu POV

Summer. Aku sibuk bermalas-malasan didalam kamar saat Lay menerobos ke dalam kamarku. Ia membawa ponselku yang bordering ditangannya.

“hei..” katanya sambil melemparkan ponsel kearahku. Aku menyambut ponselnya dan melihat dilayar. Sebuah panggilan masuk dari “Im Yoon ah”. Tanpa minat sedikitpun kubiarkan ponselnya tetap bordering diatas kasur dan beranjak keluar.

“hei ponselmu..?”

“itu hanya dari tunanganku yang menelfon . Lalu ia akan mengatakan bahwa ia akan kesini, atau ia sudah didalam pesawat atau bahkan sudah sampai disini.”

“apakah tunanganmu bukan sesuatu yang menarik?”

“aku lebih menarik.” potongku sambil mengambil papan selancar yang terletak di sudut kamar.

“aku tau kau memang pintar Kris” sambut Lay sambil tersenyum kearahku. Ia melancarkan high five yang kusambut.

Author Pov

Jessica mengamati rumah sederhana itu dari luar sambil mencocokan alamatnya dengan kertas yang ia pegang. Dengan ragu ia mengetuk pintu kayunya dari luar. Taka da jawaban. Itulah mengapa Jessica memberanikan diri untuk memutar kenop pintu.

“eonni..” taka da jawaban dari manapun. Jessica memperhatikan sekelilingnya yang tampak berantakan. Ia tidak berpikiran bahwa sang kakak akan tinggal di tempat seperti ini.

“hei. Jessica..?” seorang pria keluar dari dalam kamar hanya dengan celana pendeknya tanpa atasan.

“kau pasti Jessica, Taeyeon sering menceritakanmu” kata pria itu lagi. Jessica dengan  takut-takut menundukkan kepalanya tak berani menatap lelaki didepannya.

“my name is Huang Zi Tao” kata lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.

“apa eonni sedang kuliah?” Tanya Jessica. Setelah mendengar pertanyaan Jessica, pria yang dipanggil Tao itu tertawa.

“kuliah? Tidak. Ia tidak berkuliah, ia bekerja”

“lalu.. apakah kalian akan menikah?”

“apa?! Tentu saja tidak.”

“tapi kalian-“

“ini di barat Jessica-ssi. Segala sesuatu tidak ada hukumnya”

Jelas pria itu sambil mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya. Ia menyalakannya dengan pematik yang berwarna silver kebiruan. Jessica hanya terdiam dengan menatap sekeliling. Ini terlalu jorok untuk menjadi tempat tinggal.

“sayang.. apa kau –“ suara seorang perempuan keluar dari dalam kamar. Hanya berbalutkan selimut yang menutupi tubuhnya. Jessica yang kaget hanya bisa kembali menunduk.

“apa dia wanitamu yang lain?” Tanya wanita itu sambil menatap tajam kearah Jessica dan Tao.

“bu-bukan” Tao tergagap saat menjawab pertanyaan dari wanita itu.

“apa seleramu berganti menjadi remaja ingusan?”

“tidak, bukan begitu. Hei Jessica, temui kakakmu saja. Aku ada urusan.”

“dimana ia-“

“di stand coffee di pantai. Kau akan menemuinya disana”

Kris POV

Pantai menjadi tempat favorite ku di San Francisco. Ditempat aku duduk seperti biasa ini sambil membawa sebuah catatan kecil. Aku melirik kearah anita yang berajaln kearahku.

“apa yang sedang kau tulis?” Tanya wanita itu.

“bukan apa apa Taeyeon noona” balasku. Ia hanya menuangkan kopi kedalam cangkirku yang mulai kosong lalu beranjak pergi.

Pandanganku beralih kearah pantai. Tanpa sengaja aku melihat seorang wanita dengan koper berwarna pink di tangannya. Tatapan matanya membunuh . Aku mengikuti arah tatapannya, dan ternyata ia sedang menatap Taeyeon yang terlihat intim dengan beberapa pengunjung.

“kau semakin cantik Tayeon” kata salah satu dari mereka

“thanks”

“apa kau ada waktu luang nanti malam?” Tanya yang satunya sambil meraba dagu lancip milik Taeyeon.

“aku sibuk”

Kira kira itulah percakapan mereka saat kusadari bahwa Taeyeon telah menyadari kehadiran seseorang yang melihatnya terus menerus. Taeyeon meletakkan minuman yang ia bawa keatas meja lalu meninggalkan para pengunjung yang masih sibuk menggodanya. Ia beranjak kearah wanita yang sedang berdiri dengan koper disampingnya.

Author POV

“ada apa kau kemari? Bagaimana keadaan eomma?” wanita yang terlihat beberapa tahun lebih tua itu memulai percakapan.

“berapa kali kebohongan yang telah kau buat? Kau berkuliah? Akan menikah? Dan pria yang baik? Apa kau gila?!” wanita yang diajaknya bicara berbalik memakinya.

Taeyeon dan Jessica, dua kakak beradk yang punya paham yang berbeda. Tak ingin mendengar ceramah sanga dik lebih banya, Taeyeon berjongkok dan meraih koper adiknya.

“apa yang akan kau lakukan pada koperku?” Tanya Jessica.

“dimana uangnya?”

“mwo? Kau-kau keterlaluan eonni!”

“dimana uangnya?!” taeyeon membentak lebih keras. Tangannya sibuk emncari didalam koper hingga isinya berantakan. Senyumnya mengembang saat ia merasakan tangannya menyentuh sesuatu.

“kau tau seberapa sulitnya kami beratahn hidup? Aku bahkan harus bekerja sambilan untuk menghidupi kita semua!”

“maaf” ucap Taeyeon santai. Ia lalu berlalu meninggalkan sang adik dengan koper yang terbuka da isi yang berhamburan.

“kembalikan uangnya! Hei eonni! Jangan pergi!” Jessica sibuk berteriak sambil terisak. Terlihat sangat pilu. Tapi sang kakak malah tidak peduli dan terus berlalu. Jessica menatap kopernya yang habis di acak oleh akaknya. Lututnya melepas dan ia merapikan isi dalam koper dengan isakan yang menyertainya.

“hei man! Apa yang sedang kau lihat?” pria yang diketahui bernama Lay itu menghampiri Kris yang masih saja menatap Jessica yang sedang menangis sambil menata ulang isi koper.

Lay mengikuti arah pandang Kris dan ia menemukan Jessica yang sudah banjir air mata.

“oh my God, apakah itu bidadari yang jatuh dari langit?” kata Lay berlebihan saat melihat Jessica. Kaki tangannya sigap melompati pagar kearah Jessica yang masih terduduk lemas sambil berbaring.

Kris yang menyadari Lay menghampiri Jessica langsung mengejarnya.

“hei nona. Kenapa kau menangis?” Tanya Lay saat ia menghampiri Jessica. Jessica menatap Lay dengan heran sedangkan Lay hanya menunjukkan senyum simpulnya.

“bukan urusanmu” balas Jessica ketus.

“apa yang kau baa? Dari mana asalmu?” pertanyaan itu muncul dari mulut Jay sampai ia melihat sesuatu yang berada didalam koper milik Jessica.

“kau benar-benar tau apa yang aku suka nona” kata Lay lagi sambil mengambil barang dari koper Jessica yang menjadi targetnya. Sebungkus bubuk kacang dan Lay mengira bahwa isinya adalah narkoba. Lay membawa kabur plastik itu hingga Jessica terpak sa mengejarnya.

Kris melihat adegan kejar mengejar diatara Jessica dan Lay, ia tidak bisa diam lagi, ia harus menghentikannya.

Jessica terus mengejar Lay hingga kedalam pantai. Lay yang membawa seplastik bubuk kacang itu tertawa bahagia karena mengira isinya adalah bubuk narkoba.

“kembalikan, itu punyaku!” kata Jessica. Ia berlari dengan cepat dan tangannya berhasil meraih salah satu bagian dari plastik yang dibawa kabur oleh lay.

Terjadi aksi saling menarik diantara keduanya hingga plastik itu pecah dan isinya tumpah ruah kearah Lay. Jessica yang melihatnya langsung tampak kaget, apalagi setelah bubuk kacang itu berterbangan kearah Lay, pria itu langsung pingsan.

“hei Lay bangun! Hei!” Kris yang sudah sampai kearah mereka sibuk membangunkan Lay yang pingsan.

“hei kau, telefon 911!”

Sebuah gedung serba putih. Semua orang mengetahui bahwa ini adalah rumah sakit. Tampak Jessica dan Kris sedang menunggu di luar kamar rawat. Tak berapa lama beberapa orang berpakaian putih keluar dan mengahmpiri mereka.

“ia tidak apa-apa, hanya alergi. Beberapa hari lagi juga akan sembuh” kata sang dokter.

Dokter kemudian berlalu meninggalkan Jessica dan Kris. Kris menatap Jessica kesal lalu berkata “kenapa kau membawa bubuk acing seperti itu?”

“temanmu yang merebutnya dan ia seorang pecandu” balas Jessica kesal karena tidak terima disalahkan.

“diamlah disini, aku akan mengurus semuanya” kata Kris sambil berlalu.

Masalah kembali muncul saat seorang pria berperawakan besar menghampiri Jessica. Pria itu berseragam polisi USA. Dengangugup Jessica terus mengatakan bahwa ia bukan pendatang illegal. Polisi tersebut terus saja memojokkan Jessica yang berakhir dengan hadirnya Kris.

“It’s okay. She is my girlfriend” kata Kris sambil merangkul bahu Jessica. Jessica yang terheran hanya bisa menatapnya.

“kau lagi. Apa kau dan pacamu sering berbuat onar?” sungut sang polisi kesal.

Kris hanya tersenyum dan Jessica menatapnya heran. Polisi itu akhirnya meminta passport Jessica sebagai jaminannya lalu ia beranjak pergi. Ia berjanji akan mengembalikannya setelah penyelidikannya selesai.

“dimana kau tinggal?” Tanya Kris pada Jessica saat melihat si polisi sudah jauh dari mereka.

“aku tidak tau” Kris meraba pelipisnya lalu memijitnya pelan.

“bisa kau antar aku ketempat kakakku? Aku akan membayar biaya bensinnya” Tanya Jessica pelan.

“apa kau pikir semuanya akan beres dengan uang?” Kris balik bertanya.

Jessica terdiam dengan tangan dan kakinya yang tertutup rapat. Lalu dengan menunjukkan wajah sedihnya ia memohon didepan Kris. “Ku mohon..” katanya.

Kris kini tak punya pilihan. Ia hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia tidak menyangka akan berdebat cukup lama dengan gadis didepannya ini.

Mobil sport milik Kris kini terparkir di halaman rumah Jung Taeyeon, kakak Jessica. Dengan lemah Jessica keluar dari dalam mobil dan membungkuk sebentar.

“gomapta.. dan kau bisa mencariku disini setelah kau mendapatkan passportku. Annyeong” kata Jessica langsung menarik kopernya masuk kehalaman rumah Taeyeon. Kris masih terdiam didalam mobilnya lalu ia memutuskan untuk memastikan keadaan Jessica setelah ia pergi.

“apa kau benar-benar tidak apa ku tinggal sendiri? Apa kau tidak tau bagaimana jalanan amerika saat malam?” Tanya Kris.

“jangan menakutiku!” dengus Jessica kesal.

“apa kau berpikir Taeyeon akan pulang setelah ia membawa kabur uangmu?” kali ini pertanyaan Kris menohok untuk Jessica. Diam-diam Jessica membenarkan pernyataan Kris barusan.

“sudahlah. Sesukamu saja” kata Kris kemudian melaju dengan mobilnya meninggalkan rumah Taeyeon.

Sendirian dilingkungan yang tidak dikenalnya membuat Jessica waspada. Suara sirine mobil membuat suasana semakin mencekam. Tak lama sekelompok remaja melewati rumah Tao dan Taeyeon kemudian menggoda Jessica yang terduduk didepan teras itu. Jessica yang sigap langsung bersembunyi dibalik tembok, kemudia kawanan itu pergi.

Jessica memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Tapi ia tidak punya tujuan kemana ia akan bersinggah malam itu. Ia hanya akan mengikuti kemana kakinya melangkah. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar deru mobil yang mendekat kemudian berhenti tepat disampingnya.

Jessica yang menatap kearah mobil yang berhenti itu terkejut melihat siapa yang menjadi pengendaranya.

“Kris-“

“apa kau mau menginap dirumahku?”

To Be Continue / END

Hai. Mian lama. Dan maaf sekali. Ini udah telat banget dari jadwal yang di tentukan. Modem author hilang tanggal 31 malam. Dan sialnya dalam seminggu ini jadwal kerjaan numpuk banget jadi baru bisa post sekarang. Dan ini dia The Heirs versi EXOSICA. Author tidak berpikiran bahwa FF ini bagus,malah author ingin ini di stop. Kenapa? Karena masing-masing dari kita sudah tau endingnya. Jadi bagaimana menurut kalian? Sekali lagi kita vote yaa >.< . kalian juga boleh komen kok. Kalo FF ini ga lanjut, akan author ganti dengan FF murni bikinan author. ^^

Silahkan Vote

43 thoughts on “The Heirs (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s