Friendship ((Chapter 1))

Friendship.

Staring SNSD Jessica and EXO K Sehun
with the others

A friendship story with some romantic scene

***

“Kisah cinta kami biasa, sama seperti cerita kebanyakan”- Jessica Jung&Oh Sehun.

***

“Iya, semua tugas sudah ku kerjakan. Besok akan ku berikan hasilnya padamu. Apa? Tenang saja, semuanya sudah benar benar selesai. Okay? See you”

Air hujan terus menerus membasahi pusat kota. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat 49 menit sore hari. Seorang perempuan malang masih dengan seragamnya, berlari dengan menyembunyikan setumpukan kertas didalam plastik didalam rompinya. Sementara kepalanya harus terguyur air hujan.

Langkahnya berhenti di sebuah halte bus, disamping pria dengan sebuah bola sepak di kakinya. Bola itu terlepas dan seperdetik kemudian, perempuan itu segera menahan dengan kakinya.

“Terima kasih” ucap pria itu saat menerima bolanya kembali.

 

Sementara perempuan itu hanya mengangguk lalu sibuk mengelap beberapa tetes air yang berada dipermukaan plastik pembungkus tumpukan kertas itu.

“Kepalamu basah kuyup tapi masih memikirkan setumpuk kertas tersebut?” pria itu masih dengan wajah datarnya, meskipun nada bicaranya sudah berubah.

“Untuk kekasihku. Dia pasti marah jika tugasnya basah” bagian tangan yang tidak basah, kini digunakannya untuk membalik setiap halaman. Memastikan bahwa tidak ada bagian yang cacat.

“Seorang pria akan lebih marah jika kekasihnya harus jatuh sakit hanya karena masalah tugas”

Perempuan itu terdiam. Menghela nafas lalu menatapnya, “Tapi kekasihku tidak”

“Itu berarti dia bukan kekasih yang baik”

 

Ckitt”

Bus yang ditunggunya sudah tiba. Perempuan itu menoleh sebentar untuk mengucapkan selamat tinggal, “Aku duluan. Sampai jumpa”

Pria itu hanya mendongak lalu kembali sibuk dengan bola sepak yang dimainkan oleh kakinya.

***

Sepatu hitamnya yang sudah basah terguyur air hujan memberikan jejak dari pintu masuk hingga tempatnya sekarang berdiri. Diletakannya tumpukan kertas tersebut dan dia mulai melepas sepatunya. Bajunya pun sudah sangat basah saat ini.

 

“Unnie!” teriak soojung melihat kakaknya dalam keadaan basah kuyup seperti itu. Dia segera berlari dan kembali dengan sebuah handuk kecil ditangannya.

“Sudah kubilang agar tidak lupa membawa payung” Soojung membantu kakaknya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Sooyeon hanya menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan oleh adiknya, jika adiknya tahu yang sebenarnya. Seakan dapat membaca pikiran sang kakak, Soojung segera terdiam dan mendengus kesal.

“Jangan bilang masalah Wufan lagi?”

 

Meringis adalah hal pertama yang sooyeon lakukan ketika adiknya sudah mengetahui hal tersebut. Apalagi yang harus dia perbuat? Dia memang sudah tergila gila dengan pria berdarah china tersebut. Apapun akan dilakukannya. Mulai dari mengerjakan tugas, memberikan makanan kesukaannya, sampai rela meminjamkannya payung dan membiarkan tubuhnya terguyur hujan deras.

“Ah, Unnie. Jinjjayo. Aku sudah tidak mengerti harus bagaimana lagi” geram adiknya. Rasanya kepalanya sudah mau pecah kalau memikirkan permasalahan kakaknya dan kekasih kakaknya yang sangat ia benci. Dia tidak mengerti, kenapa kakaknya sangat tergila gila dengan pria jutek itu.

Sambil menghela nafas, Sooyeon melangkah dari tempatnya sambil mengeringkan rambut panjangnya. Membiarkan adiknya tenggelam dengan omelan omelan yang sudah biasa didengar olehnya.

“Ya! Unnie! Aku hanya bisa mendoakanmu!” samar samar suara adiknya mulai hilang saat dia memasuki kamar mandi dan tenggelam dalam basuhan air hangat.

***

“Aku pulang”

“Sehun-ah! Cepat kemari, kami sedang taruhan!”

 

Dengan cepat, Sehun berlari meninggalkan bola sepak dan sepatunya didekat pintu tanpa dirapikan terlebih dahulu. Dia mengambil tempat disamping Luhan, hyung yang paling dekat dengannya.

 

“Kali ini aku memihak pada Jongin!” seru Sehun, tangannya meraih snack ringan yang berada disisi kanannya.

Luhan mengangguk senang, “Aku juga! Itu berarti, hanya Xiumin yang memihak pada Baekhyun”

“Lihat saja. Kalian berdua, siap siap mengeluarkan uang kalian untuk dua porsi bibimbab!” tangan Xiumin sudah merangkul bahu Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya tersenyum setuju.

“Ya, sehuna. Ganti bajumu dulu. Bau keringatmu mengganggu konsentrasi kami!” sahut Jongin dengan tatapan masih vokus kelayar televisi. Tangannya juga masih lihai memainkan joystick.

Daripada memilih untuk bangkit dan mengganti bajunya, tangannya segera melepas seragam sepak bola yang melekat ditubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu dia melipat kakinya dan bersender, memejamkan matanya sambil tersenyum geli mendengar celotehan teman temannya.

 

Sehun tinggal di sebuah rumah yang terdiri dari 4 orang sahabatnya. Sebenarnya itu adalah rumah Luhan. Berhubung dia tidak suka dengan keadaan sepi, dia memilih mengajak sahabat-sahabatnya untuk tinggal bersama. Dan orang tua Luhan yang menanggung bayaran listrik dan juga air. Sisanya, tanggung jawab masing-masing.

Tinggal bersama merupakan hal yang begitu Sehun syukuri. Pasalnya, bebannya pun tidak terasa begitu berat. Masalah pakaian sudah ada tukang cuci yang digaji oleh orang tua Xiumin. Masak, Luhan dan Xiumin pandai dalam hal tersebut. Menyapu sudah menjadi urusan Jongin. Mengepel untuk Baekhyun. Dan masalahnya hanyalah mencuci piring, hal termudah yang dilakukan diantara semuanya.

Mereka semua belajar di sekolah yang sama, sekolah khusus laki-laki Nomson yang hanya memakan waktu 20 menit jika naik bus dari dekat tempat tinggalnya. Dia sudah menghabiskan 3 tahun masa sekolah menengah pertamanya disana, dan untuk sekolah menengah akhir dia juga harus menghabiskannya disana.

Selama ini, diantara mereka berlima hanya Jonginlah yang pernah menjalin hubungan dengan wanita. Sisanya lebih memilih bergelincir di dunia sepak bola. Jonginpun hanya sekali menjalin hubungan dengan perempuan dari sekolah umum yang ada disebelah sekolahnya.

Dan Sehun harap, masa-masa sekolah menengah pertamanya tidak akan diganggu oleh wanita manapun. Siapapun.

***

Setelah berakhir dengan skor 4-3. Baekhyun dan Xiumin harus rela mengeluarkan uang saku mereka untuk membeli 3 porsi bibimbab untuk Luhan, Sehun dan Jongin.

 

“Sudah kubilang, feelingku tidak pernah salah” ucap Luhan bangga dengan menepuk-nepuk dadanya.

“Tentu saja aku lebih hebat. Sudah jalan 30m, aku datang dan memberi pilihan lalu tertidur. Bangun-bangun sudah dapat untung” Sehun tidak mau kalah dengan hyungnya.

“Kalau bukan kehebatanku, kalian tidak akan bisa mendapat traktiran dari Xiumin dan Baekhyun!” mulut Jongin tidak tinggal diam saja, dia merasa dia yang paling membawa keberuntungan dalam masalah kali ini.

“Sudahlah. Kalau saja hari ini aku tidak beruntung, kalian tidak akan mendapat makanan gratis. Jadi berterima kasihlah padaku, arraseo?” ucapan Baekhyun mengundang gelak tawa dari sahabat-sahabatnya.

 

Waktu sudah berlalu, tetapi makanan yang dipesan tidak kunjung datang. Akhirnya, Jongin memilih untuk menghampiri sang penjual, Lee Hyung.

“Hyung! Kenapa makanan kami belum diantar?” tanya Jongin dengan suara yang agak keras karena situasi disana sangat berisik.

“Sebentar! Aku sedang melayaninya!” jari telunjuk Lee Hyung mengarah pada seseorang disamping Jongin, seorang perempuan berambut cokelat panjang dengan wajah polos yang sangat cantik.

Jongin diam tak bergeming.

Sementara perempuan itu hanya menundukkan wajahnya lalu tersenyum awkward.

 

Daripada harus salah tingkah, Jongin memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan membawa berita menyenangkan untuk kawanannya.

“Gadis itu, disana. Akan kujadikan milikku!” dengan rasa percaya diri yang tinggi, jongin menunjuk gadis yang tadi berdiri disampingnya.

 

Seketika keempat sahabatnya itu sibuk berharap sang gadis untuk menghadap ke arah mereka. Seberapa cantiknya gadis itu sampai menjadi cinta pandangan pertama Jongin? Setau mereka, Jongin memang mudah jatuh cinta. Tapi dia tidak pernah mengalami cinta pada pandangan yang pertama.

Tak lama kemudian, harapan mereka terkabul. Gadis itu menoleh kebelakang karena merasa ada yang memperhatikannya.

 

“omonim.” Diantara semuanya, hanya Luhan yang terperangah.

 

“Kenapa, ge? Cantik kan?” sambil melipat kedua tangannya didada, Jongin membusungkan dada. Merasa bangga akan pilihannya.

Sehun melirik Jongin dan dengan santainya berkata, “Itu gadis yang kutemui tadi. Dia sudah memiliki kekasih”

Raut wajah Jongin berubah menjadi sedih. Dia segera mengambil satu buah tusuk gigi dan menggigitnya menggunakan gigi graham. Kebiasannya jika sudah marah.

 

“Jessica!” setelah terperangah selama beberapa detik, suara Luhan membuat semua pengunjung menoleh kearahnya karena teriakannya yang begitu besar.

Gadis itu menoleh kebelakang dan menyambutnya dengan senang, “Luhan gege!”

Seketika ajang melepas rindu terjadi antara Jessica—nama panggilan Sooyeon saat di Amerika—dan juga Luhan. Mata mereka berbinar tidak percaya setelah tidak bertemu sekian lama. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, kini mereka sudah tumbuh menjadi remaja yang berwajah cantik juga rupawan. Tidak lagi menjadi anak kecil yang ingusan.

 

Keempat sahabat Luhan hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain dengan bingung. Jongin membuang tusuk gigi yang sedari tadi digigitnya.

“Ini berarti aku masih ada kesempatan!”

Xiumin memukul kepalanya, “Aku tidak mengajarimu untuk menjadi perusak hubungan orang”

***

Semua kembali ke rumah dengan membawa masing masing satu bungkus bibimbab. Kelima sahabat tersebut duduk memenuhi ruang tempat biasa mereka bersantai. Bunyi kantong plastik memenuhi ruangan.

Luhan sedari tadi tak henti-hentinya menebarkan senyum sejak bertemu dengan sahabat lamanya. Bahkan di perjalanan pulang, dia terus menerus menceritakan tentang Jessica, sahabat lamanya yang tidak pernah dia sangka akan bertemu di Korea.

 

“Dulu, waktu kami masih kecil. Aku dan dia selalu duduk berdua di bus sekolah. Mungkin karena kami sama-sama orang dari asia, jadi lebih mudah dekat satu sama lain” cerita Luhan, kembali.

“Kurasa hubunganmu dengannya bukan hanya sekedar sahabat” selidik Xiumin.

Luhan terdiam dan menarik nafas panjang. Dia tersenyum tipis, “Dia cinta pertamaku. Dan cinta yang tak membalas”

 

Keempat pasang mata menatap Luhan. Tidak percaya bahwa Luhan pernah merasakan jatuh cinta. Terutama Jongin, dia adalah orang pertama yang membuat teori Luhan adalah seorang Gay.

“Untuk hari ini, teori Jongin telah terpatahkan oleh pengakuan Xi Luhan” Baekhyun bertepuk tangan dengan kepala yang menggeleng geleng

“Tapi memang harus kuakui, aku juga merasakan pesonanya sejak pandangan pertama” tidak ada yang bisa mengalahkan hiperbolaisme milik Jongin. Semua mengejek ekspresinya yang terlalu berlebihan.

“Dia memang cantik, pantas kau suka” ujar Xiumin, seakan mengerti perasaan Luhan.

Baekhyun mengangguk setuju. Luhan tersenyum mendengarnya, “Tapi jika kalian mengetahui sifatnya. Kalian akan lebih mengerti perasaanku kepadanya”

“Aku tidak akan” Sehun yang sedari tadi diam membungkam mulutnya kini bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari segelas bubble tea favoritenya.

“Teori Luhan hyung gay mungkin telah tepatahkan. Kini, aku punya penggantinya. Teori Sehun gay!” sorak Jongin bersemangat.

Sehun melempar bantal sofa dan membuat mereka tertawa melihat tingkah keduanya yang memang sering bertengkar.

“Buktikan saja Oh Sehun. Jangan sampai kau harus menjilat air liurmu sendiri” ejek Luhan ditengah tertawanya.

Sehun membalasnya dengan senyuman sinis.

***

Hai! Aku kembali lagi dari hiatus yang sangat panjang. Hasrat menulis fanfict rasanya muncul lagi. Hitung-hitung cari pembelajaran untuk lebih dalam mencari konflik dan penyelesaian. Tapi aku butuh dukungan sama motivasi lebih biar aku makin semangat ngerjain ffnya HAHA. Semoga suka sama ff aku yang ini ya>_~

43 thoughts on “Friendship ((Chapter 1))

  1. Hai kak fildzah! Aku yesa. Tau aku kan? Ff kakak bagus bagus semua, jadi suka :3 saya sih gak baca ffnya, cuma liat jenis bahasa yang kakak gunakan. Keep writing ya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s