Embraced (Chapter 11)

wpid-1478970_10200394658464005_479702847_n.jpg

Title                       : Embraced

Cast                       : Jessica Jung ; Kris Wu ; Lu Han

Genre                   : Romance , Drama , School Life

Rating                   : PG-17

Length                  : Chapter

Poster                   : @FJartposter

Author Note      : This is surely my idea. All of the casts belongs to the God, their family and their agency. I just own the story. Don’t be plagiator. Show your support by Like and Comment in the end of reading. Thanks for the reader who always support my Fanfiction

Summary             : When you hoping all of this shit just in your dream, but in the fact you should face it. You can’t change the rule. This is your way. Will you still hope to move?

Flawless Jung Present

a new series Fanfiction

EMBRACED

Kris POV

“maaf aku hanya bisa melakukan ini”

Aku merasakan hangatnya pelukan seorang wanita. Memang tak seharusnya seperti ini, tapi aku membutuhkannya disaat seperti ini. Hatiku seolah mulai menyadari bahwa aku mulai terpikat padanya. Benar kata Luhan, akulah yang akan terpesona karena sifat polosnya.

Aku mengeratkan pelukanku pada pinggang rampingnya seolah tak ingin ia melepaskan pelukannku. Kubiarkan kami didalam posisi seperti ini hingga aku puas. Aroma shampoo dan badannya membuatku tenang sekaligus candu. Apa aku harus merebutnya dari Luhan?

Jessica POV

Pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak dengan aku yang bangun dari kasurku yang empuk. Kali ini aku tertidur dikamar Kris, yah TERTIDUR. Kemarin setelah menangis hebat ia mendadak demam, dan aku yang mengompres kepalanya hingga tengah malam dan tertidur disampingnya.

Sampai pagi ini pun tetap aku yang bangun lebih dulu. Aku bangun dari tempatku berbaring lalu pergi kearah jendela untuk menyingkap kain jendela yang menghalangi masuknya sinar matahari. Saat kubuka, bias bias cahaya mulai masuk dan memantulkan cahaynya tepat pada wajah Kris yang masih tertidur sangat pulas.

Aku berjalan kearahnya. Menyentuh kain kompresnya yang sudah mongering yang lalu aku ganti dengan yang baru. Kubenarkan letak selimut yang hanya menutupi hingga lututnya menjadi hingga keatas dada. Sekarang mataku tertuju padanya. Pada wajah seorang Casanova kampus yang habis menangis semalaman bak anak kecil yang direbut permennya.

Kris Wu. Begitu tampan. Kaya. Pintar. Seakan taka da celah kosong yang bisa menjatuhkanmu. Tapi kau hebat, menyembunyikannya sangat dalam. Kau ingin menangis disaat kau tidak bisa, itu sangat menyiksa.

Perlahan tanganku mengambang lalu hinggap pada wajahnya. Menyentuh keningnya, lalu alisnya yang tebal. Turun pada kedua sudut mata dan pipinya. Sempurna . kau benar-benar idola.

Aku masih saja terus mengagumi sosok seorang Kris yang tertidur hingga kedua bola mata yang terbungkus kelopak indahnya itu bergerak. Spontan, aku menarik tanganku dari wajahnya. Kris membuka matanya perlahan, mengedip-kedipkannya sebentar lalu mengerutkan keningnya.

“a-aku..”

“istirahat saja. Kau demam tinggi kemarin malam”

Dia terdiam setelah perkataannya kupotong. Tangannya beranjak meraba sesuatu dikeningnya. Kain yang kugunakan untuk mengompres demamnya. Ia lalu tersenyum, seorang Kris tersenyum sepagi ini.

“gomawo..”katanya.

Aku tidak membalasnya, hanya mengangguk sebentar lalu beranjak dari kasurnya.

“aku akan mandi dulu lalu membuat sarapan. Sepertinya kita berdua akan bolos hari ini. Kalau perlu apa-apa panggil saja” kataku sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.

Author POV

Keadaan pagi yang masih berselimut embun di sekitar lingkungan rumah sakit ini menyejukkan mata seorang pria yang baru saja sampai pada halaman rumah sakit. Dengan kakinya ia melangkah kearah resepsionis yang berisikan dua orang perawat berseragam putih-putih.

“annyeonghaseyo. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya perawat itu ramah.

Pria yang berada dihadapannya membuka kacamata hitam yang menutupi matanya tadi lalu tersenyum kearah perawat didepannya.

“aku butuh nomor kamar Victoria Song”

“ah baik!”

Dengan mudah , pria itu mendapatkan nomor kamar Victoria, mama Kris yang sedang dirawat. Sampailah ia pada kamar yang bernomorkan 306. Perlahan, ia menggeser pintunya dan yang ia dapati adalah seorang wanita paruh baya dengan selang yang tertancap disana sini.

Pria itu masuk lebih dalam lagi setelah tadi menutup kembali pintunya. Ia menguncinya dari dalam lalu kembali melangkah kearah Victoria.

“annyeong..omonim~”

Jessica yang notabenenya sangat jarang memasak, kini sedang bercengkrama dengan hal yang mustahil baginya itu. Ia akan memasak untuk Kris, suaminya. Ini kali pertama ia memasak untuk lelaki lain selain Luhan.

Karena tak banyak yang bisa ia buat, Jessica memutuskan untuk membuatkan sup ikan dengan beberapa jenis sayuran didalamnya. Wortel, kentang, sawi putih dan lobak. Hanya itu yang ia temukan di lemari pendingin tadi.

Sesekali ia mengecek apakah beras yang ditanaknya sudah menjadi nasi atau belum. Dan sisanya, ia hanya bersandar pada ujung meja sambil menunggu sup buatanya mendidih.

GREP

Sepasang tangan melingkar indah pada pinggang mungil Jessica. Jessica yang kaget karena mendapat pelukan tiba-tiba itu membalikkan badannya. Si alis tebal. Itu yang pertama kali ia lihat. Kris yang memeluknya dari belakang.

“lepaskan..” protes Jessica. Kris diam saja dengan posisi tadi. Ia tidak menyahut dan juga tidak melepaskan.

“Kris le-“

“biarkan begini sebentar” potong Kris sebelum Jessica kembali protes. Jessica terdiam saat mendengar perkataan Kris barusan. Dia tidak bisa menolak lagi. Dan lagi, mengapa jantungnya berdetak diluar control seperti ini?

Pria berdasi itu masih saja sibuk dengan file yang bertumpuk didepannya. Secangkir kopi yang masih mengepul itu tak kunjung disentuhnya. Ia hanya tertarik untuk menyelesaikan tugasnya lebih cepat daripada kopi yang beraroma harum itu.

Saat tangannya terangkat untuk mengambil file baru, ponselnya bordering. Ia melihat tulidan dilayarnya. Dan dengan segera menerima panggilan dari seseorang itu.

“ada apa?” tanyanya tanpa basa basi.

“…..”

“mwo? Apa yang kau katakan?”

“…..”

“aku menyewamu untuk mengawasinya! Dia sudah 20 menit berada dirumah sakit dan kau baru memberitahuku?”

“…..”

“sialan!”

PIP

Panggilan diputuskan secara sepihak oleh pria berdasi itu. Ia mendecak kesal kemudia menarik kasar dasinya. Pikirannya menjadi semakin tidak tenang setelah mendengar sesuatu dari penelpon tersebut.

Tak berapa lama, jarinya menekan beberapa tuts pada papan telfon yang kemudian terdengar nada sambung yang bergaung diruangan.

“panggilkan Mr.Choi keruanganku segera!” katanya cepat.

“nee sajangnim” balas suara dari telefon tersebut.

Selang beberapa menit, terdengar ketukan dari pintu yang kemudian terbuka dan seseorang dengan nametag Choi Siwon muncul dari balik pintu.

“annyeonghaseyo sajangnim, ada yang perlu saya bantu?” katanya saat melihat raut kesal dari pria yang memanggilnya barusan.

“segera urus perpindahan pengobatan Victoria ke USA. Percepat jadwalnya menjadi besok!”

“tapi ini tidak mungkin sajangnim. Kita perlu mengurus semuanya dengan detail, tidak bisa dipindahkan begitu saja”

“apa yang susah? Kau hanya perlu memindahkannya! Katakana pada mereka bahwa Hanggeng Wu yang akan membayar semua biaya yang memberatkan!”

“bukan begitu sajangnim. Setidaknya kita harus mengstabilkan kondisi Victoria-ssi hingga ia akan baik baik saja selama perjalanan.”

“baik..bak.. kau urus saja! Ingat! Aku ingin lebih cepat daripada seminggu, atau jabatanmu akan hilang Choi Siwon!”

“arrasseo sajangnim. Saya permisi”

Pria paruh baya yang bernama Choi Siwon itupun undur diri dari penglihatan Hangeng. Masih dengan raut kesal dan frustasinya, ia mengacak rambutnya hingga berantakan. Selama ini ia berusaha menutupi Victoria dari keluarga barunya. Dan selama itu pula ia tak ingin Kris membenci wanita yang sangat dicintainya. Ia lebih rela Kris mengutuknya, daripada ia harus melihat Kris membenci ibunya sendiri.

“omonim..pantas saja Kris begitu mempesona, rupanya ia mempunyai ibu yang begitu cantik” . Pria muda itu, Luhan. Ia sudah berada diruma sakit ini dari 20 menit yang lalu. Dan selama itu pula, yang ia lakukan hanya berbicara dengan Victoria yang tidak pernah dibalas sekalipun.

Luhan tersenyum getir melihat kondisi Victoria. Dibalik ketegasan dan sosok kuat seorang Kris, rupanya ia menyimpan sesuatu yang bisa saja merobohkannya kapan saja. Luahn, yang masih penasaran dengan alasan Hangeng menyembunyikan Victoria langsung menyambangi Victoria saat mendapat alamatnya dari Jessica kemarin.

“omonim..” Luhan sekarang memberanikan diri mengenggam tangan Victoria.

“sekarang, wanita tercintaku sedang berusaha untuk membantu anakmu agar ia bertemu denganmu. Ia harus menikah dengan putramu dan meninggalkan pria yang ia cintai. Dan sekarang pria yang ia cintai itu berada didepanmu. Bolehkah aku meminta sesuatu karena aku adalah korban dari semua ini?”

“tolong jangan biarkan Jessica dan Kris bersama. Aku tau, Kris lambat laun akan mencintai Jessica. Tapi aku percaya, Jessica tidak akan meninggalkanku. Tapi kumohon, aku bukannya tidak percaya pada janji anakmu tempo dulu soal ia tak akan jatuh cinta pada wanitaku, aku hanya takut.”

Luhan menundukkan wajahnya. Seribu perasaan menyelimutinya sekarang. Sesuai dengan permintaannya tadi, bukannya ia tidak ingin Kris berbahagia, tapi ia yang sebagai korban juga berhak atas kebahagiannya, dan Jessica adalah sumber kebahagian baginya.

Perlahan genggaman Luhanmelemah pada tangan Victoria, ia mulai mengangkat wajanya pelan. Sebuah senyum terpancar dari wajahnya. “aku tau kau pasti bisa memenuhi permintaanku omonim.. jadi, gomawo untuk itu”

Kedua manusia itu sekarang duduk berhadapan dengan sebuah mangkok berisi nasi didepan masing-masing mereka. Sebuah mangkuk besar berisikan sup yang masih mengepul dan dua gelas yang berisi air putih pada setiap orang.

Jessica mengambil sendok sup yang terletak dipinggir dan menyelupkannya pada mangkuk besar itu dan mulai mengaduk isinya. Sedangkan pria didepannya hanya menatap tanpa penuh minat.

Jessica lalu mengambil dua mangkok kecil yang kosong, lalu menuangkan sup kedalamnya. Sebuah mangkok berisikan sup terpampang didepan Kris sekarang. Dengan enggan, Kris mengambil sendoknya dan mencicipi kuah yang berisikan banyak sayuran itu.

“apa ini? Wortel?”

“nde! Makanlah. Aku sudah susah-susah memasakkannya.”

“aku tidak mau” tolak Kris. Jessica yang mendengar penolakan itu menjadi geram. Ia meletakkan sumpit yang baru diraihnya secara kasar lalu berpindah kesamping Kris.

Ia meraih mangkok yang berisikan nasi milik Kris dan mangkok supnya. Lalu ia mengambil sendok yang menjadi milik Kris. Kris hanya diam dan menatap tingkahnya.

Dengan kesal, Jessica menyedok sesendok nasi dengan wortel diatasnya dan kemudian diarahkannya kearah mulut Kris. Kris yang terkejut bergerak mundur.

“makan!”

“tidak!”

Jessica mendengus kesal. Dengan sabar ia kembali membujuk Kris.

“ayolah, aku sudah capek memasak. Kau jangan bertingkah lagi Kris.”

“tapi aku tidak suka wortel”

“kau tidak akan mati jika makan wortel Kris. Sekarang buka mulutmu”

Kris sudah tidak bisa melawan. Benar kata Jessica, ia tidak akan mati hanya karena wortel. Dengan enggan ia membuka mulutnya yang langsung dimasukkan sesendok nasi tadi oleh Jessica. Senyum Jessica merekah setelah melihat Kris mengunyah makanan yang disuapinya.

“makanlah yang banyak, lalu minum obat dan istirahat maka kau akan segera sembuh. Kau ingin bertemu mamamu dengan keadaan yang bisa membanggakannya, kan?”

Luhan melangkahkan kakinya keapartment wanitanya. Ia membawa sesuatu ditangannya. Masih dengan kacamata hitamnya ia melangkah begitu tampan. Saat kakinya mencapai depan lift yang menjadi alat yang akan membawanya ke lantai dimana kekasihnya tinggal, ia berhenti sebentar.

Ia kemudian melihat sekelilingnya, lalu meraba tengkuknya sambil berdecak kesal. “kau pasti mengikutiku lagi” gumamnya.

Pintu lift pun terbuka, kemudian mengantarnya kelantai yang ia tuju. Luhan saat itu sudah berada didepan apartment kekasihnya, ia tinggal memencet beberapa kode lalu pintu akan terbuka, tapi ia tidak melakukannya. Ia mematung didepannya.

Ini kali pertamanya Luhan menyambangi rumah kekasihnya setelah sang kekasih berubah status menjadi istri orang lain, istri kakak laki-lakinya. Perlahan tangan kanannya yang mengepal terangkat lalu mendarat didaun pintu. Luhan mengetuk pintu didepannya beberapa kali hingga terdengar sambutan dari dalam apartment.

“nde.. jankammanyo..”

CKLEK

Pintu apartment terbuka dan menampilkan kekasihnya yang masih menggunakan kaos longgar berwarna biru langit dengan celana pendek favoritnya. Jessica yang mendapati kedatangan Luhan secara tiba-tiba itu langsung tersenyum lebar.

“oppa!” sambutnya hangat.

“annyeong Sica~” balas Luhan hangat.

Jessica POV

Luhan didepanku sekarang. Cukup lama semenjak pertemuan terakhir kami dan aku benar-benar merindukannya. Saat membalas sapaanku dia tidak langsung masuk, ia masih mematung didepanku dengan tangan yang tersembunyi dibelakang punggung.

“eyy.. kau bawa sesuatu untukku oppa?” godaku padanya. Ia lalu tersenyum sambil mengacak rambutku dengan tangan yang satunya lagi.

“kau tau saja. Ayo coba tebak apa yang aku bawakan untuk ice princess-ku?”

“apa itu?”

“sesuatu yang kau suka?”

“mwo? Yang kusuka? Ice cream?”

“ani..~”

“mawar?”

“bingo! Wah kepintaranmu tidak berkurang meskipun sering bolos. Hahaha~”

Luhan mengeluarkan hadiah yang sedari tadi disembunyikannya. Benar saja, sebuket bunga mawar berwarna merah yang dirangkai cantik. Inilah mengapa aku mencintai Luhan, ia mengetahui apa yang kusukai lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

“gomawo oppa! Kau yang terbaik.” Seruku senang.

“aku tau..” balasnya bangga.

“aigoo.. ayo masuk.”

Aku menarik tangan Luhan memasuki apartmen baruku dengan Kris. Ia menatap sekeliling, disalah satu tembok terpampang foto pernikahanku dengan Kris, aku menatap dia yang kini terpaku pada foto itu.

“seharusnya aku yang disitu.” katanya getir.

Aku reflex memeluknya dari samping, mencoba memberikan kehangatan padanya. Jujur saja aku masih sangat merasa bersalah setelah apa yang kulakukan padanya walaupun ia mengerti aku hanya membantu salah satu keluarganya.

Ia lalu tersenyum kepadaku dengan sangat manis, dan aku tambah manja bergelut pada lengannya. Aku sangat mencintai priaku satu ini. Entahlah, kurasa bagaimanapun aku tidak akan bisa memilih Kris daripada Luhan.

“aku masih ada satu hadiah lagi” katanya. Mataku terangkat menatap kearahnya yang memang lebih tinggi dariku. Ia kemudian tersenyum melihat tampang penasaranku.

“apa itu?”

“tutup matamu?”

Bagaikan disihir aku mengikuti suruhannya. Perlahan kedua kelopak mataku tertutup dengan posisi masih memeluknya manja. Perlahan aku merasakan sesuatu yang kenyal menyapu permukaan bibirku. Bibirnya.

Ia menciumku. Ini sudah sejak lama semejak skinship terakhir kami. Aku begitu merindukan skinship darinya yang tidak pernah memaksa. Ia melakukannya dengan lembut dan aku menikmatinya. Masih dengan posisi seperti tadi tapi kini ia telah memeluk pinggangku dengan sebelah tangan yang menarik leherku maju untuk memperdalam ciuman kami.

Sungguh, aku benar-benar mabuk karena perlakuannya ini.

Luhan POV

Aku merindukan dia. Kekasihku yang sangat kucintai. Entah sejak kapan terakhir aku menciumnya, sampai aku begitu merindukannya. Bibir tipisnya dan kelakuan manjanya itu. Aku benar-benar menyukainya.

Perlahan mataku menagkap sosok yang lewat didepan kami, itu Kris yang hanya berbalutkan celana pendek dengan topless yang memperlihatkan absnya yang masih samar dengan rambut basah, mungkin ia baru selesai mandi. Aku bisa melihat ia sedang menatap kami dengan tatapan dinginnya. Aku berbalas menatapnya balik. Saat ia menyadari aku menatapnya, ia membuang wajahnya lalu memasuki kamarnya.

Perlahan tautan kami terlepas, tapi masih dalam posisi saling berpelukan dan ia menatapku. Aku balas menatapnya.

“aku lapar Sica~”

“eoh.. oppa belum makan?”

“apa kau masak sesuatu?”

“hanya sup sederhana. Kau mau makan?”

“tumben sekali?”

“Kris sakit dan aku membuatkannya sup. Masih ada banyak. Kajja, kutemai oppa makan.” Ajaknya sambil merik lenganku.

Saat mengetahui bahwa Jessica juga memasak untuk Kris, aku menjadi malas untuk makan walaupun itu masakan Jessica. Aku kemudian bertahan pada posisiku tak beranjak walaupun ia menarik lenganku.

“kita makan diluar saja ya.. kebetulan aku menemukan restoran cina yang baru buka didaerah myeongdong. Bagaimana?”

Jessica tampak berpikir sebentar lalu mengangguk mantap.

“baiklah, ganti bajumu dan dandan yang cantik. Aku akan menunggumu disini. Jangan terlalu lama”

“okay! Wait a minute!”

Setelah mengatakan itu Jessica langsung beranjak kekamarnya yang terletak bersebrangan dengan kamar Kris. Syukurlah mereka tidak sekamar. Aku tidak bisa mebayangkan bagaimana jadinya aku kalau mengetahui mereka sekamar barang semalam pun.

Kris POV

Aku melangkahkan kakiku kearah ruang tengah setelah mendengar pintu kamar Jessica tertutup. Awalnya aku mengira Luhan dan Jessica telah masuk kekamar disebrangku ini, tapi ternyata hanya Jessica yang masuk kekamarnya dan aku menemukan Luhan diruang tengah yang sedang mengganti-ganti chanel tv.

Aku berdehem sebentar lalu berjalan kearahnya. Aku lalu duduk di sisi kosong disebelahnya. Ia sempat menatapku sekilas, lalu kembali menatap layar kubus yang berwarna itu.

“bagaimana keadaan kalian? Semuanya baik-baik saja?”

Aku memecah keheningan diantara kami dengan mulai bertanya. Luhan sontak menghentikan aktivitas mengganti chanelnya lalu memperbaiki duduknya menghadapku. Aku menatapnya bingung.

“selama hampir 10 tahun kita tinggal bersama, ini kali pertamanya kau menanyakan kabar aku dan mama. Apa kepalamu baru saja terbentur sesuatu? Atau karena kau sakit kemarin malam?” tanyanya penuh selidik. Aku mengehela nafasku pelan, yah memang benar, selama tinggal seatap, baru kali ini aku menanyakan kabar saudara tiriku. Apa aku sangat keterlaluan.

“ok. Keadaan mama dan papa baik-baik saja. Hanya aku yang tidak” katanya.

“kenapa?” aku sedikit khaatir saat ia mengatakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

“karena kekasihku menjadi istri orang saat ini”

JLEB. Aku tau kalimat itu ditujukan padaku. Tapi ini semua juga bukan mauku. Semua ini hanya rencana busuk dari Hangeng. Baru saja aku ingin menyangkalnya, tapi ia telah mengangkat sebelah tangannya.

“maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu Kris. Ngomong-ngomong.. aku bertemu dia tadi pagi”

“dia..dia siapa?”

“Victoria. Mama-mu”

Bagai sesuatu yang telah lama hilang, perasaan senang kembali muncul kepermukaan hatiku saat ini.

“tapi, apa kau benar-benar tidak mengetahui bahwa ia dirawat dirumah sakit?” tanyanya kemudian.

Aku hanya menggeleng lemah. Karena pada kenyataanya, aku memang tidak mengetahui hal itu. Hangeng mengunci rapat-rapat rahasia itu dariku, entah apa tujuannya melakukan hal itu.

“segeralah temui mama-mu. Tapi kau harus hati-hati. Hangeng mungkin saja membayar orang untuk mengikutimu, seperti yang ia lakukan padaku.”

“a..apa? lalu bagaimana kalau ia mengetahui kau dan..”

“aku dan Jessica?” potongnya. “biarkan saja. Toh kenyataannya memang seperti ini kan?”

“tapi jika ia mengetahuinya maka aku tidak akan bisa menemui mamaku lebih cepat.”

“lalu apakah aku harus bertahan pada rasa sakitku karena tidak bisa menemui seseorang yang kucintai?”

“tapi-“

“rasa cintaku pada Jessica tak kalah besar dengan cintamu pada mama-mu Kris. Lagi pula Hangeng sudah mengetahuinya, dan kita sudah mengetahui lokasi Victoria.  Cepat atau lambat semua ini akan selesai” jelas Luhan.

Pria didepanku ini memang benar. Taka da gunanya lagi menutupi semua disaat Hangeng sudah mengetahui segalanya. Dan lagi, mereka kini telah tau dimana kondisi mama. Akan lebih baik kita melakukan perang terang-terangan.

“Kris..” panggilnya.

Aku hanya memutar wajahku menghadapnya tanpa membalas panggilannya.

“jangan jatuh cinta pada Jessica.”

Aku tidak tau itu adalah teguran atau ancaman, aku hanya merasa bahwa Luhan sekarang sedang memperingatiku. Saat ia mengatakan itu, sorot matanya seakan mengatakan bahwa Jessica miliknya yang sah. Dan aku tidak boleh sekedar meliriknya. Terbersit sedikit rasa kesal bercampur benci saat mendengarnya.

“Oppa!” seru seseorang dari belakang kami, dan itu Jessica. Kini ia telah berpakaian lebih rapi daripada sebelumnya. Sebuah dress berarna nude dengan rambut panjangnya yang digerai dan sapuan make up tipis pada wajahnya. Sangat cantik. Mungkin aku harus beruntung memiliki istri sepertinya, walaupun hanya demi sebuah tujuan.

“yeoppo!” seru lelaki disampingku hingga membuyarkan lamunanku.

“kajja Sica. Sudah menjelang sore. Aku takut restoran itu akan ramai pada saat jam pulang kantor.” Sambungnya lagi sambil berdiri dari duduknya.

Jessica tersenyum kearahnya lalu mengangguk. Ia kemudian menatapku lalu mengatakan “Kris, aku akan pergi dan mungkin pulang sangat malam. Jangan menunggu dan jika kau lapar, panaskan saja sup yang tadi. Ingat minun obatmu”

Ia hanya mengatakan hal itu lalu pergi dari hadapanku dengan lengan Luhan yang diapitnya. Sakit. Mengapa ada perasaan itu saat melihat kemesraan mereka?

Aku kembali menghela nafasku lalu mendaratkan pantatku pada sofa yang kududuki tadi. “kau bahkan memanggil Luhan oppa tetapi aku tidak. Kau juga berpamitan dan pergi bersenang-senang dengannya. Kalau tau akan begini, lebih baik aku pura-pura sakit parah agar kau tetap disampingku” gumamku pelan.

“aish! Apa yang kau pikirkan Kris?!” kataku pada diriku sendiri kemudian mengacak rambutku gemas.

Author POV

Kediaman Hangeng Wu sangat sepi. Biasanya juga sepi tetapi ini lebih sepi. Pertama, karena Kris sudah pindah dan yang kedua karena Luhan belum pulang. Seohyun? Ia lebih memilih membaca bukunya dalam diam. Sedangkan sang pemilik rumah sekarang ia sedang berbicara dengan seseorangdi sebuah bar yang terletak didalam rumahnya. Hanya berdua dengan rekannya yang juga pria itu.

“bagaimana Choi-ssi?”

“pemberangkatan paling cepat dilakukan lusa sajangnim. Tidak bisa besok karena para dokter masih harus memastikan keadaan Victoria. Dan jika semua memungkinkan, Victoria akan segera diberangkankan ke USA lusa”

“kerja bagus Siwon. Tetap control masalah Victoria agar semuanya lebih cepat.” Sambungnya sambinl meneguk whiskynya yang hampir kosong.

“nde sajangnim” setelah mengatur segala jenis jadwal tentang Victoria, mereka memutuskan untuk minum. Beberapa jenis minuman beralkohol kelas dunia erhidang didepannya.

Choi Siwon dan Hangeng Wu adalah teman semasa bangku kuliah. Siwon adalah teman kelas yang pintar sehingga saat Hangeng mendapatkan warisan sebuah perusahaan ia langsung memperkerjakan Siwon, terhitung sudah hampir 20 tahun Siwon bekerja dibawah kendalinya.

Keduanya lalu larut dalam percakapan panjang. Tentang masa kecil dan masa sekolah. Tak jarang keduanya tertawa lepas dan bahkan sesegukan. Alkohol itu yang membuat mereka melupakan sejenak hal yang membebani mereka selama ini.

“hangeng-ah!~” panggil Siwon dengan wajah yang memerah karena pengaruh alcohol.

“eoh? Apa sialan?” balasnya.

“sampai kapan kau menyembunyikan Victoria dari dunia eoh?”

“itu bukan urusanmu”

“ia.. tapi apa kau tidak pernah berpikir-“

“apa?”

“kalau Victoria bisa saja sadar setelah bertemu Kris. Mungkin ada keajaiban?”

“haha-ha.. apa itu keajaiban? Bodoh sekali”

“kau yang bodoh. Hahaha”

Keduanya hanya tertawa setelah itu. Alkohol mendominasi keduanya hingga lepas control. Tetapi sesuatu yang Hangeng tangkap dari percakapan setengah mabuk mereka. Keajaiban. Apa ia harus melakukannya? Mempertemukan Kris dan Victoria?

To Be Continue

Hai! Ini dia chapter 11. Ada yang udah kangen berat ? hehehehe. Kayaknya, ini bakal jadi last FF dibulan Januari. Saya akan comeback februari mendatang. Apakah kalian aklan merindukan saya? Aaaa >.< aku pasti merindukan reader❤

Dan yah! Chapter 7 yang sebelumnya diproteksi akan dibuka. Bagi kalian yang belum baca, silahkan dibaca yaa ^^ . dan lagi, warning untuk typo(s) yang membandel. Hehehe >:p

Baiklah, sampai bertemu di chapter selanjutnya!

Annyeong!!

 

 

45 thoughts on “Embraced (Chapter 11)

  1. kapan ff ini d lanjut .. udh satu tahun lbh lho,, rindu bnget ma complicated love antara kris sica luhan.. dlanjut y author-nim :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s