The Destiny of Us – Chapter 6

poster-the-destiny-of-us-copy_41

The Destiny of Us – Chapter 6

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun

Others: Park Chanyeol – Kim Taeyeon – Seohyun – Sulli – Kai

Genre: Romance

Rated: PG-15

Poster by: Afina23

Previous: Chapter 1|Chapter 2|Chapter 3|Chapter 4|Chapter 5

Notes: Aku memakai poster yang pertama dan nama Jieun tidak dicantumkan karena di chapter ini dia hampir tidak muncul, tapi chapter selanjutnya Jieun bakal muncul kok. Dan chapter ini lumayan panjang ._.

© Amy Park

 

“Berikan aku satu bulan untuk benar-benar berpisah denganmu. Dan biarkan aku menjalani hari-hari bersamamu tanpa memikirkan masalah di antara kita” – Luhan

***

Pada suatu hari, Jessica memutuskan menikah dengan seorang pria pilihan orang tuanya yang bernama Luhan. Gadis belia itu pun tidak pernah membayangkan bahwa pernikahannya dengan Luhan akan  membawanya ke sebuah masalah yang cukup rumit. Menghadapi Luhan yang sangat dingin dan menyebalkan ketika pertama kali mereka hidup bersama, dihadapi kenyataan bahwa “mantan” kekasih Luhan yang bernama Jieun bersikeras mengambil hati Luhan kembali, dan bertemu seorang senior menyebalkan—Byun Baekhyun—yang menyatakan cinta kepadanya. Jessica memang tidak dapat memungkiri bahwa dirinya mulai mencintai Luhan—terlebih ketika dia tahu bahwa sebenarnya Luhan adalah sosok oppa tampan yang pernah dia temui di masa kecilnya, tetapi Jessica pun tidak bisa mengelak bahwa dia tidak ingin memiliki masalah dengan Jieun yang akan melakukan apa saja untuk menghancurkan rumah tangganya bersama Luhan. Demi langit dan bumi, Jessica sungguh ingin keluar dari masalah rumit yang membuat kepalanya sering berdenyut. Oleh karena itu, Jessica pada akhirnya menerima cinta Baekhyun agar Luhan bisa berpisah dengannya.  Namun, Jessica tahu bahwa Luhan juga mencintainya, mereka saling mencintai, hal itu membuat Jessica berpikir untuk memberikan kesempatan terakhir bagi Luhan agar hubungan mereka tetap bertahan. Jessica meminta Luhan agar menemuinya di taman kota, jika Luhan tidak datang maka hubungan mereka benar-benar berakhir. Dengan hati yang rapuh dan air mata yang menetes, Jessica harus menelan kenyataan bahwa hubungannya dengan Luhan memang harus berakhir karena Luhan sama sekali tidak datang ke taman kota untuk menemui Jessica. Di taman itu Jessica hanya bisa menangis dalam pelukan Baekhyun, yang kehadirannya di sana sama sekali tidak ditunggu dan takdisangka oleh Jessica. Serumit apa pun sebuah kisah, kisah tersebut akan menemui sebuah akhir, bukan? Begitu pula kisah Jessica, Luhan, Baekhyun, dan Jieun. Kisah mereka pun akan berakhir. Dan takdirlah yang bermain-main juga menentukan akhir kisah mereka…..

***

Jessica lebih memilih untuk pergi ke rumah Baekhyun karena dia yakin Seohyun sudah terlelap dan dia tidak mau mengganggu jam tidur temannya itu dengan kedatangannya. Karena waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari, Baekhyun pun tidak keberatan dengan keputusan Jessica. Kini, keduanya sudah sampai di rumah Baekhyun yang memiliki desain klasik nun elegan. Jessica duduk di sebuah sofa yang nyaman sambil mengamati dinding ruangan tengah Baekhyun yang dipenuhi oleh berbagai foto.

“Kau benar-benar menyukai fotografi rupanya..” ujar Jessica pada Baekhyun yang menghampiri Jessica kemudian duduk di sebelahnya.

“Ya, aku sangat menyukainya.”

“Oh, kau punya adik?” tanya Jessica tanpa melihat Baekhyun, matanya sibuk mengamati salah satu area dinding yang dipenuhi foto seorang wanita.

“Aku tidak punya adik ataupun kakak.”

“Lalu wanita itu siapa?”

Mata Baekhyun mengikuti arah pandangan Jessica. Pria itu tersenyum lirih. “Dia bukan adikku. Dia Soojung, mantan kekasihku.”

Jessica mengangguk. “Dia cantik. Suatu saat aku ingin bertemu dengannya.” Ujar Jessica sambil tersenyum pada Baekhyun.

“Kau tidak bisa bertemu dengannya.”

“Kenapa? Apa karena aku kekasihmu yang sekarang maka aku tidak boleh bertemu dengan mantan kekasihmu?”

Baekhyun tersenyum samar. “Bukan karena itu, Sica.”

“Lalu karena apa?”

Baekhyun menghela napas seraya menatap foto-foto Soojung. “Sesungguhnya aku pun ingin bertemu dengannya, tetapi aku tidak bisa karena dia sudah tenang di surga. Soojung sudah meninggal.”

Jessica langsung merasa bersalah setelah mendengar jawaban Baekhyun. “Maaf… aku sungguh tidak tahu tentang hal itu. Maaf—“

“Tidak apa-apa.” Potong Baekhyun sambil tersenyum. Pria itu pun kemudian berkata, “Lebih baik kau tidur. Ah, ya, karena aku tinggal sendiri di sini, kamar di rumah ini pun hanya satu. Jadi, kau tidur saja di kamarku.”

Ne? Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku bisa tidur di sofa.”

***

“Selamat tidur, Sica.” Ucap Baekhyun dari ambang pintu kepada Jessica yang sudah terbaring di tempat tidurnya.

Baekhyun menutup pintu kamar kemudian melangkah pergi ke ruang tengah. Kakinya melangkah mendekati area dinding yang dipenuhi oleh foto Soojung. Pria itu tersenyum sambil mengamati photo story tersebut. Foto-foto Soojung yang berkisah, dari mulai dia pertama kali bertemu Soojung hingga pertemuan terakhirnya dengan Soojung. Sampai saat ini Baekhyun belum bisa melupakan sosok Soojung, atau bahkan dia tidak akan pernah bisa melupakan wanita yang sangat dicintainya itu.

 

You’re really a jerk!!!” teriak seorang wanita.

Baekhyun menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Dia kembali menghampiri wanita yang baru saja ditrabrak olehnya.

“Kau baru saja berbicara padaku?”

“I-iya..” ujar wanita itu gugup.

“Kau menyebutku jerk? Brengsek?”

“Ya..”

Baekhyun tersenyum kecil lalu melihat nametag yang dipakai oleh gadis itu. “Jung Soojung. Namamu terdengar asing di sekolah ini. Jika bukan murid baru, kau pasti murid tahun pertama yang baru masuk, eh? Ah, ya, maaf telah menabrakmu tanpa meminta maaf. Walaupun demikian, kau tetap tidak boleh berteriak dan berkata kasar padaku seperti itu.”

 

“YA!! Pria macam apa kau ini, hah? Tidak minta maaf sama sekali. Dasar brengsek!!”

Teriakan Jessica sepertinya cukup keras dan mengandung banyak emosi sehingga Baekhyun berbalik badan dan kembali berjalan menghampiri Jessica. Jessica pun langsung terdiam kaku.

“Kau berbicara padaku?”

Jessica memberanikan diri untuk mengangguk.

“Kau menyebutku apa? Brengsek?”

Jessica kembali mengangguk.

Baekhyun tersenyum, senyum yang tampak mengejek. Baekhyun kemudian berjongkok dan merapikan buku-buku dan minuman milik Jessica. Setelahnya, dia kembali berdiri. “Pengantar Ilmu Jurnalistik, Pengantar Ilmu Komunikasi, Paduan Kampus Kyunghee: Jurnalistik dan Komunikasi. Oh, jadi kau mahasiswa baru di sini?”

 

Sunbaenim, terima kasih sudah mengantarku.”

Baekhyun mengangguk. “Sampai bertemu besok, Soojung-ah.”

Sunbae, kau tidak akan pulang? Sebaiknya kau pulang. Hari sudah malam.” Ujar Soojung karena Baekhyun tidak kunjung bergerak meninggalkannya.

“Soojung-ah.. aku—“

“Kenapa?”

“Aku ingin bertanya suatu hal padamu.”

“Apa?”

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Soojung tersenyum kecil. “Selamat malam, sunbae. Terima kasih sudah mengantar.”

Wanita itu berbalik lalu melangkah memasuki lift. Dari dalam lift Soojung melambaikan tangan pada Baekhyun. “Tidak apa-apa jika sunbae menyukaiku. Aku juga menyukai sunbae.”

Perkataan Soojung pun pada akhirnya mampu membuat Baekhyun tersenyum.

 

“Kau kenapa?” heran Jessica.

“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, Sica.”

“Apa?”

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Dengan spontan Jessica mundur, memberikan jarak yang lebih di antara mereka. Jessica membungkuk kemudian mengatakan sesuatu sebelum dia melangkah memasuki lift, “Selamat malam, sunbae. Terima kasih sudah mengantar.”

Ketika pintu lift mulai tertutup, Baekhyun hanya mampu terdiam.

 

Baekhyun kembali membuka matanya yang sempat terpenjam. Pria itu menghela napas berat, “Mengapa hidupku harus dipermainkan seperti ini?”

***

Universitas Kyunghee, keesokan harinya..

“Ini minuman untukmu, Tuan Putri.” Ujar Jongin seraya menaruh satu cup cappucino hangat di bangku Sulli.

“Terima kasih, pelayan Kim.”

Aishh, jinja, apa kau benar-benar akan menjadikan aku sebagai babu selama satu bulan?”

Sulli tidak langsung menjawab pertanyaan Jongin. Wanita itu meneguk cappucino miliknya terlebih dahulu kemudian mengangguk. “Perjanjian kita memang seperti itu, bukan? Well, kau kalah dalam taruhan ini, maka kau tidak bisa mengelak menjadi babuku selama satu bulan.”

Jongin memutar kedua bola matanya. Pria itu lalu duduk di bangku sebelah Sulli. “Bagaimana jika kita taruhan lagi, huh?”

Sulli mengernyit, “Taruhan apa?”

“Jika dalam waktu satu bulan hubungan Baekhyun sunbae dan Jessica berakhir, kau harus menuruti semua keinginanku.”

“Satu bulan? Aku rasa hubungan mereka tidak akan berakhir secepat itu. Oke, aku setuju dengan tawaranmu. Tapi jika mereka tidak putus, kau harus menjadi babu lagi.”

“Oho, silakan. Entah mengapa aku merasa akan memenangkan taruhan kali ini.”

“Aha, percaya dirimu bagus juga.”

“Kalian menjadikan Jessica sebagai bahan taruhan?”

Sulli dan Jongin langsung terlonjak kaget ketika sadar Seohyun sudah berada di hadapan mereka. Sulli tersenyum kaku kemudian berkata dengan suara bergetar, “Seo-seohyun, kami ti-tidak bermaksud—“

Yah, tidak sepantasnya kalian menjadikan hubungan Jessica dan Baekhyun sunbae sebagai taruhan. Itu sama saja kalian menganggap hubungan mereka adalah lelucon. Jessica juga teman kalian, mana bisa kalian mempermainkan dia.”

Jongin dan Sulli hanya bisa menunduk mendengar omelan Seohyun. Keduanya bisa bernapas lega ketika mahasiswa lain satu per satu memasuki ruangan, menandakan kelas pertama mereka pada hari ini akan segera dimulai. Seohyun menghela napas lalu kembali berbicara pada Jongin dan Sulli, “Aku serius. Jangan pernah menjadikan Jessica sebagai bahan taruhan lagi.”

Jongin dan Sulli menggangguk, Seohyun pun segera duduk di bangku yang jaraknya lumayan jauh dari mereka. Jongin kemudian berbisik kepada Sulli, “Walau Seohyun mengoceh, taruhan kita kali ini tetap berjalan. Anggap ini taruhan terakhir.”

Aishh, terserah.”

Jongin tersenyum. Pria itu  kini tampak seperti mencari seseorang di ruangan. Tak kunjung menemukan seseorang yang dicarinya, Jongin menoleh kembali pada Sulli, “Jessica tidak masuk kelas pertama hari ini?”

***

Jessica membuka pintu rumahnya dengan hati-hati. Dengan langkah pelan, wanita itu memasuki rumah kemudian menutup pintunya kembali. Keadaan rumah sangat sepi. Baguslah jika Luhan sudah berangkat kerja, pikir Jessica. Hari ini Jessica memilih untuk absen dari semua mata kuliah dan lebih memilih pulang ke rumah untuk beristirahat. Lagipula otaknya akhir-akhir ini tidak bisa dipakai untuk belajar, jadi lebih baik dia bolos.

Jessica melangkah menuju dapur. Dia berjalan menghampiri meja makan dan mendapati dua buah roti bakar di atas piring yang masih tersisa. Jessica tersenyum kecil kemudian mengambil satu roto bakar lalu mulai melahapnya. Wanita itu tampak sangat lapar, tampak jelas karena dalam hitungan menit dua  roti bakar itu sudah lenyap dilahap oleh Jessica.

“Jess, kau menghabiskan sarapanku.”

Jessica segera berbalik. Matanya membulat sempurna ketika mendapati Luhan yang tengah berdiri di hadapannya, “Kenapa kau masih di sini?” tanya Jessica.

Luhan tersenyum kecil, “Aku tidak akan bekerja hari ini.”

Why?”

Because I want to stay at home today. Kau sendiri mengapa tidak pergi kuliah?”

Jessica menggaruk tengkuknya sebelum menjawab, “Same with you.”

Luhan hanya mengangguk dan suasana di antara mereka menjadi canggung seketika. Jessica hendak berbalik pergi, tetapi Luhan menahan lengannya. “Jess..”

Jessica menatap Luhan dengan kaku, “Hmm?”

“Maaf karena semalam aku tidak datang menemuimu. Aku sudah—“

“Tidak apa-apa.” Potong Jessica cepat. Wanita itu tersenyum lirih kemudian menghela napas, “Well, sesuai janjiku, karena kau tidak datang menemuiku maka hubungan kita harus benar-benar berakhir. Tapi, berikan aku waktu untuk mengumpulkan keberanian mengatakan hal ini pada eomma dan appa. Aku janji secepat mungkin kita bisa bercerai—“

“Satu bulan.” Kali ini Luhan yang memotong perkataan Jessica. “Berikan aku satu bulan untuk benar-benar berpisah denganmu. Dan biarkan aku menjalani hari-hari bersamamu tanpa memikirkan masalah di antara kita selama satu bulan saja. Ini permintaan terakhirku, Jess. Permintaan terakhir sebelum kita berpisah.”

Jessica mengangguk dan pada saat itu matanya mulai berkaca-kaca. Wanita itu berbalik dan segera meninggalkan Luhan sebelum air matanya benar-benar menetes. Dia hanya tidak ingin Luhan melihatnya menangis.

***

Dude, kau tidak berencana berkencan dengan kekasihmu malam ini?” tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang berkutat dengan iPad miliknya.

“Tidak.”

Waeyo? Ini kan Sabtu malam, malam yang cocok menghabiskan waktu dengan sang kekasih.”

“Kita punya tugas Reportase dari Mr. Shim, kau ingat? Bahkan mungkin dalam tiga hari aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan Jessica. Deadline tugas itu benar-benar sudah di depan mata.”

Chanyeol menepuk jidatnya. “Ah, iya, tugas Reportase. Aku bahkan belum tahu akan meliput apa.”

“Ckckck.. aku tidak akan heran jika kau akan mengulang mata kuliah Reportase tahun depan.”

“Jangan!! Jangan sampai aku mengulang mata kuliah penyita waktu itu.”

“Kalau begitu kerjakanlah tugasmu secepatnya.”

“Ya, Profesor.” Jawaban Chanyeol tersebut mampu membuat Baekhyun terkekeh geli.

“Boleh aku bergabung?”

Chanyeol dan Baekhyun mendongkak. Chanyeol tersenyum kemudian menjawab, “Tentu saja, Taeyeon-ah.”

Taeyeon membalas senyuman Chanyeol kemudian wanita itu duduk di meja kantin, bergabung bersama Chanyeol dan Baekhyun. “Tugas Reportase kalian sudah selesai? Deadline tinggal tiga hari lagi.”

“Oh, ayolah, Taeyeon, jangan mengingatkan aku tentang itu. Aku belum mengerjakannya sama sekali.” Keluh Chanyeol.

“Tugas sudah diberikan dua minggu yang lalu dan kau belum mengerjakannya sama sekali? Payah…”

Chanyeol memutar kedua bola matanya. “Oke, aku tahu bahwa aku payah, jadi jangan mengingatkan aku lagi, oke? Dan mungkin aku akan mencari berita hari ini.”

“Bukan mungkin, tapi harus!” ralat Baekhyun.

“Ah, baiklah…baiklah.. aku akan mencari berita sekarang juga.” Ujar Chanyeol seraya berdiri dari kursi.

“Ada pameran lukisan di Horim Art Center hari ini. Kau bisa meliput acara itu.” Ucap Taeyeon.

“Benarkah? Oh, kalau begitu aku akan mencoba meliput ke sana. Terima kasih sudah memberitahu, Taeyeon-ah. Aku pergi dulu.”

Chanyeol langsung pergi meninggalkan Baekhyun dan Taeyeon setelah berkata seperti itu. Taeyeon berdehem untuk mencairkan suasana hening sepeninggal Chanyeol. Wanita itu lalu berkata, “Jadi sekarang kau dan Jessica sudah menjadi sepasang kekasih, huh?”

Baekhyun mengangguk seraya menatap Taeyeon jahil, “Iya. Memangnya kenapa? Kau cemburu?”

“Cemburu? Haha.. yang benar saja.” Jawab Taeyeon dengan tawa yang sangat jelas dibuat-buat.

“Syukurlah jika kau tidak cemburu..” senyum Baekhyun.

Taeyeon diam sejenak sebelum pada akhirnya berkata. “Kau tidak mencintai Jessica hanya karena dia sangat mirip dengan Soojung, kan?”

Baekhyun menatap Taeyeon dengan kaget. “Ne?”

Taeyeon tersenyum. “Kau tahu, Baekhyun. Dibenci sebagai diri sendiri lebih baik daripada dicintai sebagai sosok orang lain. Jika kau menjadikan Jessica sebagai kekasihmu karena dia mirip dengan Soojung, sebaiknya kau akhiri saja hubungan itu karena kau hanya akan menyakiti hati Jessica. Mengabaikanku dan memutuskan aku karena kau tidak mencintaiku itu lebih baik daripada kau terus mencintai sosok Soojung dalam diri Jessica. Well, kau mengerti maksud pembicaraanku.”

“Aku memang sosok pria yang brengsek, huh?” tutur Baekhyun sambil menghela napas.

“Belum terlambat untuk menghapus sosok pria brengsek dari dirimu, Baekhyun-ah. Berpisahlah dengan Jessica jika kau mencintainya karena sosok Soojung. Atau… kau bisa mencoba untuk mencintai sosok Jessica tanpa menghiraukan bayang-bayang Soojung di dalam dirinya, itu mungkin lebih baik.”

Baekhyun tersenyum lirih, “Apakah aku bisa melupakan Soojung?”

“Kau bisa, Baekhyun, jika kau mau mencobanya.”

“Kau benar, Taeyeon. Mungkin aku bisa mencoba mencintai Jessica tanpa ada bayang-bayang Soojung di dalam dirinya.”

Taeyeon menghela napas kecil lalu mengangguk, “Itu lebih baik…”

***

Jessica memang tampak sedang membaca majalah dengan santai di tempat tidur, tetapi sesungguhnya dia sedang serius memerhatikan Luhan yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di meja kerjanya. Walaupun tidak pergi ke kantor, dia tetap saja bekerja… batin Jessica.

“Ada apa, Jess? Kenapa kau memerhatikan aku seperti itu?”

Jessica berdehem dan spontan membuka-buka halaman demi halaman majalah dengan tidak santai. “Kau terlalu percaya diri. Apa kau tidak lihat, aku sedang membaca majalah.” Ujar Jessica sambil menunjuk majalah tersebut.

Luhan tersenyum kemudian bersendagu, “Benarkah? Yang aku lihat kau sedang memerhatikanku.”

“Kenapa kau masih saja bekerja padahal kau tidak berangkat ke kantor?” tanya Jessica tanpa menghiraukan perkataan Luhan sebelumnya.

“Aku tidak sedang bekerja. Hanya berselancar di internet.”

Jessica hanya mengangguk menanggapi jawaban Luhan.

“Apa kau bosan? Bagaimana jika kita mampir ke Gangnam, ada pameran lukisan di sana.”

***

Horim Art Center yang berada di wilayah Gangnam kini dipenuhi oleh pengunjung karena pameran lukisan bergengsi sedang dilaksanakan di sana. Luhan tersenyum simpul menatap Jessica yang tampak antusias melihat-lihat lukisan karya seniman handal Korea Selatan tersebut. Luhan memang menyukai lukisan, tetapi untuk kali ini wajah antusias Jessica lebih menarik dari lukisan-lukisan yang sedang dipamerankan. Taklama, wajah antusias Jessica berubah sendu. Luhan kemudian menoleh untuk melihat lukian yang kini sedang dilihat oleh Jessica. Pria tersebut pun langsung menghela napas mengerti. Lukisan yang sungguh simpel, menampilkan suasana pantai di sore hari. Di pantai tersebut terlukis pula seorang pria dan wanita yang berjalan berlawanan arah dengan mimik muka bersedih, menggambarkan sebuah perpisahan.

Too bad… langit sore di pantai sungguh romantis, tetapi pasangan itu harus berpisah.” Ujar Jessica hampir berbisik, tapi masih terdengar oleh Luhan.

“Mungkin itu sudah menjadi takdir mereka.”

Jessica tersenyum lirih, “Ya, takdir mereka sama seperti kita. Perpisahan adalah satu-satunya jalan agar diri kita masing-masing bisa menjalani hidup—“

Perkataan Jessica dipotong oleh ciuman singkat Luhan di bibir wanita itu. Jessica hanya mampu terdiam terpaku, sedangkan Luhan mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Jessica. “Selama satu bulan juga kau tidak boleh mengungkit perpisahan kita, Jess. Semuanya… tentang seluruh masalah kita, lupakahlah sejenak.”

“Oh, ya, aku tidak akan mengungkit hal itu lagi. Maaf..”

***

Chanyeol menatap puas hasil foto yang baru saja diambil olehnya. Pria itu tersenyum konyol lalu bergumam, “Tidak ada foto yang lebih bagus dari dua pasangan yang sedang berciuman ini. Tunggu, seharusnya aku meliput jalannya acara pameran lukisan ini, bukan memotret pasangan yang sedang berciuman secara candid. Tidak seharusnya aku bertindak seperti ini karena aku diajarkan untuk menjadi jurnalis, bukan untuk menjadi pemburu gosip. Tapi… ekspresi Jessica yang kaget karena dicium oleh pria itu sungguh lucu.”

Chanyeol mengangguk kepada dirinya sendiri dengan wajah yang polos. Namun, detik berikutnya dia membulatkan mata, sadar dengan perkataan terakhirnya. “JESSICA? Barusan aku memotret Jessica?”

Pria itu kembali mengecek hasil jepretannya. Di sana terlihat jelas bahwa wanita yang sedang dicium oleh pria yang tidak dikenalinya itu adalah Jessica, kekasih sahabatnya. “Jika benar itu Jessica mengapa dia berciuman dengan pria selain Baekhyun? Aih, wanita itu memang Jessica… tetapi mengapa pria yang menciumnya bukan Baekhyun, eh? Perilaku Jessica ini disebut apa, ya? Wow, aku lupa istilahnya…. Aha, aku tahu! Jessica selingkuh! Aku harus memberitahukan hal ini pada Baekhyun.”

Chanyeol mematikan kamera miliknya kemudian memasukannya ke dalam tas. Pria tersebut langsung melangkah pergi meninggalkan beberapa orang yang sejak tadi memerhatikan Chanyeol dengan tatapan aneh karena dia berbicara sendiri.

***

Senyuman konyol khas Chanyeol merekah begitu dia menemukan Baekhyun yang sedang berkutat dengan laptop di lab fotografi. Chanyeol langsung menghampiri Baekhyun kemudian duduk di hadapan pria itu.

“Mengerjakan laporan tugas Reportase?” tanya Chanyeol yang hanya dijawab oleh anggukan Baekhyun. Chanyeol pun kembali bertanya, “Mengapa tidak mengerjakannya di rumah? Hari ini kita tidak punya kelas malam, kan?”

“Sebentar lagi laporanku selesai, tanggung jika dilanjutkan di rumah. Lalu kau kenapa datang ke sini?” kali ini Baekhyun yang bertanya, tetapi dia tetap fokus pada pekerjaannya di laptop.

“Aku hanya ingin memberikan sebuah informasi penting untukmu. Informasi penting dari seorang sahabat.”

“Informasi apa?” tanya Baekhyun, masih terfokus pada laptopnya.

Chanyeol menghela napas sejenak sebelum menjawab, “Jessica selingkuh.”

Jari-jari Baekhyun berhenti mengetik ketika mendengar jawaban Chanyeol. Dia segera mengalihkan perhatiaannya pada Chanyeol, “Kau bilang apa?”

“Jessica, kekasihmu, dia selingkuh. Jika kau tidak percaya, aku punya fotonya.”

Chanyeol mengeluarkan kamera DSLR miliknya, sedangkan Baekhyun meletakkan laptop di meja. Beberapa menit kemudian Chanyeol menyerahkan kameranya pada Baekhyun, menyuruh sahabatnya itu melihat hasil jepretannya.

“Kau mengambil foto ini di mana?” tanya Baekhyun setelah melihat foto tersebut.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya bingung. Pria itu sangat heran karena reaksi Baekhyun setelah melihat foto itu biasa saja. “Pameran lukisan di Horim Art Center…”

“Oh…”

“Hanya ‘oh’? Hey, Byun Baekhyun, bagaimana bisa reaksimu biasa saja ketika tahu bahwa Jessica selingkuh darimu?”

Baekhyun tersenyum kemudian meletakkan kamera milik Chanyeol di meja, tepat di samping laptop miliknya. “Pria yang mencium Jessica bernama Luhan.”

“Kau kenal dengan selingkuhan Jessica?”

Baekhyun menggeleng kecil, “Chan.. mungkin sebaiknya aku memberitahumu suatu hal penting. Dengar, Jessica sama sekali tidak selingkuh. Pria yang mencium Jessica adalah Luhan, suaminya.”

Mwo?!! Kau berkata bahwa Jessica mengkhianatimu kemudian menikah dengan orang lain?!!”

“Bukan… bukan itu, Chanyeol-ah.” Baekhyun menghela napas kemudian berkata, “Jessica sudah menikah, sebelum aku dan dia menjadi sepasang kekasih. Selingkuhan Jessica adalah aku, atau lebih tepatnya aku memaksa Jessica berselingkuh dari Luhan.”

Raut wajah Chanyeol berubah serius ketika dia mengerti apa yang Baekhyun katakan, “Bisa kau ceritakan lebih detail masalahmu ini padaku, Baek?”

Baekhyun memejamkan matanya sejenak kemudian dia menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Chanyeol menghela napas ketika Baekhyun selesai bercerita, “Soojung ternyata masih membayang-bayangimu… tetapi menjadikan Jessica sebagai kekasihmu karena dia ‘mirip’ Soojung bukanlah jalan yang tepat, mengingat wanita itu sudah memiliki suami. Secara langsung kau bisa disebut sebagai ‘perusak’ rumah tangga mereka. Dan aku tidak ingin sahabatku memiliki status ‘perusak’ tersebut.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Tentu saja kau harus mengakhiri hubunganmu dengan Jessica, secepat mungkin.”

“Entahlah, Chan… aku tidak bisa.”

“Mengapa? Kau mulai menyukai Jessica tanpa ada bayang-bayang Soojung dalam dirinya? Kau sudah mulai menyukai Jessica secara tulus?”

“Aku akan mencobanya, ah, bukan, aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin melepaskan Jessica… entahlah, bahkan aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.” Ujar Baekhyun dengan nada yang amat kesal.

“Pikirkan dengan baik, Baekhyun-ah. Bukan apa-apa, tetapi Jessica sudah menikah, ingat, me-ni-kah.”

Baekhyun memijit pelipisnya sejenak. “Kau sudah selesai meliput pameran lukisan itu? Kapan akan membuat laporannya?” tanya Baekhyun mengganti topik pembicaraan. Sesungguhnya kepala Baekhyun sudah berdenyut karena terlalu pusing membahas ‘masalahnya’ dengan Jessica.

Chanyeol mengedikkan bahu. “Aku akan meliput hal lain besok. Tidak ada yang bisa aku wawancarai dan dijadikan bahan laporan di pameran lukisan itu.”

“Besok? Aku rasa kau tidak bisa meliput lagi besok.”

Waeyo? Deadline masih tiga hari lagi, setidaknya aku masih punya sedikit waktu.”

“Oho, kurasa kau sama sekali tidak punya waktu. Mr. Shim berubah pikiran secara ‘mendadak’ tentang deadline-nya.”

“Maksudmu?”

Baekhyun mengeluarkan ponsel dari saku kemudian membuka sebuah pesan dari Taeyeon lalu menunjukkannya pada Chanyeol.

Mwoya?? Dikumpulkan besok? BESOOOKK??!”

***

“Mengapa minggu ini dosen tidak memiliki perasaan sama sekali?! Tiga tugas sekaligus untuk besok pagi.” Keluh Jessica seraya membuka kacamata lalu meletakkannya di meja. Kini, meja kerja Luhan di kamar diambil alih oleh Jessica. Laptop, buku-buku referensi tugas, dan berbagai lembar kertas materi mata kuliah menghiasi meja kerja Luhan.

Berniat istrirahat sejenak, Jessica mengambil smartphone pemberian Baekhyun. Wanita itu berniat menghubungi Baekhyun mengingat sudah seminggu lebih pria itu tidak pernah menghubunginya. Di kampus pun Jessica jarang bertemu dengan Baekhyun. Pernah sekali dia bertemu dengan Baekhyun ketika dia menghadiri pertemuan UKM Fotografi. Di pertemuan itu Baekhyun menjadi mentor dan menjelaskan tentang teknik fotografi pada para calon anggota UKM tersebut, terutama Jessica. Ya, Baekhyun hanya menjadi mentor, setelah pertemuan berakhir, Baekhyun langsung menghilang tanpa menyapa atau pun mengganggu Jessica terlebih dahulu. Dan entah mengapa hal itu membuat Jessica rindu pada Baekhyun.

“Mungkin aku akan mengganggu jika menghubunginya.” Gumam Jessica ketika dia sadar bahwa sekarang sudah pukul sebelas malam. Dia pun meletakkan smartphone itu kembali.

Dia kemudian mengeluarkan ponsel miliknya yang lain dari saku celana pendeknya. Mulutnya membulat ketika sadar ada pesan masuk dan beberapa panggilan takterjawab dari Luhan.

“Apakah aku terlalu serius mengerjakan tugas sehingga aku sama sekali tidak mendengar ponsel ini berdering?” tanya Jessica pada dirinya sendiri. Wanita itu mengedikkan bahu kemudian membuka pesan singkat dari Luhan.

Apa kau sudah tidur? Aku akan pulang larut dan lupa membawa kunci cadangan. Tolong jangan mengunci pintu rumah terlebih dahulu…😦  T^T😥

Jessica mengerutkan keningnya. “Sejak kapan dia hobi mengirim pesan singkat dengan berbagai emoticons?”

Akhir-akhir ini Luhan memang sering mengirim pesan singkat yang cukup membuat Jessica terheran dengan berbagai emoticons di dalamnya.

Aku akan pulang lebih awal \(^0^)/

Kau sudah makan? :3

Ada film bagus di bioskop, apa kau mau nonton denganku? ^_^

Aku mendapat klien menyebalkan minggu ini TT-TT

Itulah berbagai macam pesan singkat aneh dari Luhan. Jessica tiba-tiba saja merinding mengingat semua pesan tersebut, “Apa dia mulai gila? Dia sudah bersikap sangat berbeda dari sebelumnya.”

Sebelum Jessica memikirkan hal-hal yang lebih aneh atas sikap Luhan, pesan singkat lain muncul.

Jess, kau benar-benar sudah tertidur? Aku di depan rumah dan pintu benar-benar terkunci.

“Nah, satu pesan tanpa emoticon. Dia belum benar-benar gila.”

Jessica tersenyum kemudian berdiri dari kursi. Dengan langkah setengah berlari, dia keluar dari kamar untuk membukakan pintu. Jessica langsung membukakan pintu untuk Luhan setelah membuka kuncinya.

“Oh, Jess, kau belum tidur?”

Jessica menggeleng. “Maaf, barusan aku terlalu serius mengerjakan tugas sehingga tidak mendengar panggilan darimu.”

Luhan tersenyum. “Tidak apa-apa.”

***

Jessica memasukkan buku-buku dan lembar-lembar tugas—yang baru saja diselesaikan olehnya tiga jam sebelum matahari terbit—ke dalam tas. Walaupun dia tidak ada kelas hari ini, dia tetap harus pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas. Dan yang menyebalkan adalah… dia harus mengumpulkan tugas ke kampus pada pukul delapan pagi. Jam tidur wanita itu sungguh berkurang drastis.

Ketika hendak keluar kamar, ponsel Jessica berdering. Wanita itu langsung mengambil ponselnya dari tas. Dia mengerutkan kening heran karena Baekhyun yang menghubunginya.

Yobseo, Baekhyun-ssi.”

“Sica, apa kau bisa datang ke rumahku?” tanya Baekhyun di sebrang sana dengan suara parau.

“Oh? Kapan?”

“Sekarang… aku mohon bantuanmu. Aku bahkan tidak bisa beranjak dari tempat tidur.”

“Eh? Yobseo? Baekhyun-ssi? Yobseo?!”

Jessica langsung panik ketika sambungan terputus. Wanita itu kemudian langsung menghubungi seseorang.

“Seohyun, aku titip tugas padamu, ya?”

***

Pintu rumah Baekhyun sama sekali tidak dikunci sehingga Jessica bisa masuk ke dalamnya. Dengan langkah panik, Jessica langsung menuju kamar pria itu. Dia menghampiri Baekhyun yang sedang terbaring di tempat tidurnya.

“Astaga, Baekhyun… kau mirip mayat hidup.” Ucap Jessica ketika melihat keadaan Baekhyun yang sangat pucat.

Jessica benar-benar panik. Dia sungguh tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Wanita itu meraba kening Baekhyun yang terasa hangat, bukan, tidak hanya sekadar hangat, tetapi panas. Hal itu membuat Jessica semakin panik. Tanpa berpikir panjang, Jessica meraih ponsel milik Baekhyun yang berada di tempat tidur dan mencari kontak seseorang yang sekiranya bisa membantu dirinya. Wanita itu pun langsung menghubungi Chanyeol.

***

Jessica dan Chanyeol langsung berdiri ketika seorang dokter keluar dari ruangan. “Aboenim, bagaimana keadaan Baekhyun?” tanya Chanyeol yang membuat Jessica terheran. Apa dokter ini ayah Chanyeol sehingga pria itu menyapa sang dokter dengan sebutan ‘aboenim’? Itulah pertanyaan yang ada di kepala Jessica sekarang.

Sang dokter tersenyum sambil menepuk pundak Chanyeol perlahan, “Kau tenang saja, anak itu tidak sekarat. Dia hanya kurang tidur dan kurang beristirahat.”

Chanyeol menghela napas lega. “Syukurlah…”

“Ah, siapa wanita yang bersamamu ini, Chanyeol-ah? Kekasihmu?” Tanya sang dokter dengan nada menggoda.

“Bu-bukan, aboenim, dia adik angkatanku dan Baekhyun di kampus. Dia juga teman kami.”

Annyonghaseyo, saya Jessica Jung. Senang bertemu dengan Anda, Dokter.”

“Panggil saja aboenim. Teman-teman Baekhyun pun memanggilku dengan sebutan itu. Senang bertemu denganmu juga, Jessica.” Ucap dokter tersebut dengan ramah. Dia pun melanjutkan, “Kalau begitu aku tinggal dulu. Ada pasien lain yang membutuhkanku.”

Jessica dan Chanyeol membungkuk hormat kemudian sang dokter pun pergi meninggalkan mereka. Jessica menoleh pada Chanyeol, “Sunbaenim, kau sangat mengenali dokter itu?”

“Tentu saja. Dia ayah kandung Baekhyun.”

“Eh? Serius?”

Chanyeol mengangguk. “Ya, aku serius. Kedua orang tua baekhyun memang dokter. Dan kedua orang tuanya pun merupakan dokter tetap di rumah sakit ini.”

***

“Agh, eomma!! Sakit!!” teriak Baekhyun ketika nyonya Byun memukulnya. Jessica dan Chanyeol hanya bisa terdiam melihat hal itu.

“Kau benar-benar anak yang nakal. Aku tahu kau banyak kegiatan dan tugas, tapi itu bukan berarti kau bisa mengoperasikan tubuhmu hampir dua hari berturut-turut tanpa tidur. Kau itu manusia, Baekhyun, bukan robot. Bagaimana bila kau mati karena terlalu lelah dan kurang tidur, huh? Dan lagi, kau pasti tidak meminum vitamin yang aku kirimkan padamu. Kau benar-benar… kalau begini caranya aku tidak bisa membiarkanmu hidup sendiri,” omel nyonya Byun dengan nada sedikit emosi dan khawatir.

Entah mengapa Jessica ingin tertawa melihat raut wajah Baekhyun yang ketakutan setelah diomeli oleh sang ibu. Baekhyun benar-benar seperti anak kecil kali ini. Jessica kemudian berbisik pada Chanyeol, “Apa ibunya selalu mengomel seperti ini pada Baekhyun?”

Chanyeol mengangguk, “Yap. Dan itu salah satu alasan mengapa Baekhyun memilih tinggal berpisah dengan orang tuanya…”

“Ah, aku mengerti.”

“Maaf karena aku mengomel di depan kalian. Oh, siapa wanita cantik di depanku ini? Apakah kekasih Baekhyun?” tanya Nyonya Byun antusias.

“Bukan, dia Jessica, teman kami di kampus.” Jawab Chanyeol cepat sebelum Baekhyun dan Jessica menjawab pertanyaan itu.

Wajah nyonya Byun langsung tampak kecewa. “Hanya teman rupanya. Padahal aku berharap kau kekasih Baekhyun, jadi aku bisa meminta bantuanmu untuk mengurusi Baekhyun. Tapi, tidak apa-apa jika kau memang hanya teman Baekhyun. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Nyonya Byun tersenyum kecil lalu berbalik pergi meninggalkan mereka. Baekhyun langsung menatap Chanyeol sebal, “Hey, kau mengapa berkata seperti itu pada ibuku, huh? Kau sudah tahu bahwa Jessica adalah kekasihku!”

“Aku hanya tidak ingin ibumu tahu bahwa kekasihmu itu sudah memiliki suami, Baekhyun-ah.”

Jessica langsung membeku ketika Chanyeol berkata seperti itu. Chanyeol pun langsung merasa bersalah karena perkataannya. Dia menatap Jessica lirih dan tanpa sepatah kata apa pun Chanyeol pergi meninggalkan Baekhyun dan Jessica di ruangan itu.

“Ini salahku, Sica. Aku yang memberitahunya.” Ujar Baekhyun.

“Tidak apa-apa.” Senyum Jessica. Wanita itu lalu berucap, “Aku keluar sebentar.”

***

Jessica hanya berjalan-jalan di koridor rumah sakit tanpa tujuan. Pikirannya benar-benar kosong kali ini. Jessica menghela napas kemudian memukul kepalanya dengan sebelah tangan. “Sadarlah, Jessica Jung! Mengapa kau seperti ini?”

Jessica membalikkan badan, hendak kembali ke kamar rawat yang ditempati Baekhyun. Namun, pemandangan yang langsung menyesakkan Jessica terlihat. Dia sana, di sebuah taman, dia melihat Luhan sedang menyuapi Jieun yang sedang duduk di kursi roda. Luhan tampak tersenyum bahagia, begitu pula Jieun. Hal itu membuat pikiran Jessica pergi dari alam sadarnya lagi.

***

Jessica berada di tempat tidur dengan posisi tengkurap. Wanita itu kemudian mendengar langkah kaki memasuki kamar, langkah kaki itu sudah pasti milik Luhan.

“Jess?” Wajah Luhan langsung terlihat oleh Jessica. Pria itu sudah berdiri di samping tempat tidur sambil menatapnya. Bayangan Luhan dan Jieun di rumah sakit seketika muncul, tetapi dia mencoba untuk melupakan itu mengingat permintaan Luhan agar mereka tidak mengungkit masalah rumah tangga, itu berarti hal yang berkaitan dengan Jieun maupun Baekhyun harus dihilangkan ketika dia dan Luhan bersama.

“Kau sakit?” tanya Luhan kembali.

Jessica menggeleng, “Tidak.”

“Aku ambilkan minum, ya?”

“Tidak usah, aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Yakin?” tanya Luhan khawatir.

“Mmm..” angguk Jessica dengan wajah yang tidak meyakinkan.

Luhan naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di sebelah Jessica. Pria itu meraba kening Jessica yang masih memiliki suhu normal. “Ada masalah?”

Jessica mengubah posisinya menjadi berbaring menghadap Luhan. “Aku tidak apa-apa, Luhan. Kau tidak perlu khawatir.” Ujar Jessica dengan nada yang mulai kesal.

Luhan tersenyum. “Baiklah…”

Keduanya tetap di posisi itu. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa ada perbincangan apa pun. Membuat suasana di antara mereka sangatlah hening. Namun, Luhan maupun Jessica menyukai keadaan seperti ini. Sayangnya, bel pintu berbunyi, memberitahu bahwa ada tamu yang sudah menunggu.

“Aku akan membukakan pintu.” Ujar Luhan. Pria itu beranjak dari tempat tidur dan pergi meninggalkan Jessica.

Karena penasaran, Jessica pun ikut beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar kamar. Dia menuruni tangga dengan malas hingga akhirnya dia tiba di ruang tamu. Jessica kemudian terkaget melihat dua orang yang sedang bersama Luhan di sana.

Eomma? Appa?!!”

***

Makan malam yang kaku bersama kedua orang tua Jessica akhirnya berakhir. Jessica kini sedang mencuci piring sedangkan Luhan dan kedua orang tua Jessica masih duduk di meja makan.

“Kapan kalian memberikan kami cucu?” tanya Nyonya Jung, membuat Luhan mengusap tengkuknya kaku.

“Ah, kami—“

“Jangan bilang padaku bahwa kalian belum melakukan ‘itu’.” Potong Tuan Jung membuat Luhan semakin tidak bisa berkata apa-apa.

“Apa dia telalu sulit diajak melakukan ‘itu’?”

“Ti-tidak, eomma, maksudku, Jessica masih remaja dan dia masih kuliah. Ku rasa belum saatnya untuk kami memiliki keturunan.”

“Ahhh, iya, aku baru ingat bahwa anakku belum menginjak 21 tahun.” Ujar Nyonya Jung terdengar kecewa.

“Tapi, Luhan, belum siap memiliki keturunan tidak bisa menghalangimu melakukan ‘itu’ pada Jessica. Kau bisa menggunakan pengaman.”

Luhan langsung berdehem kaku. “Aku—“

“Apa rumah tangga kalian baik-baik saja? Bahkan sedari tadi kalian tidak menunjukkan hal-hal romantis sebagai suami-istri di depan kami.” Potong Nyoya Jung.

“Lihat, Jessica sedang mencuci piring. Ada baiknya kau menemani dia sambil memeluknya dari belakang. Hal itu bisa menjadi langkah pertama untukmu dan Jessica. Kau mengerti maksudku..” senyum Tuan Jung. Luhan hanya terdiam kaku.

“Tunggu apa lagi? Ayo hampiri Jessica. Tenang saja, sebentar lagi kami akan ke kamar dan meninggalkan kalian berdua.”

Luhan mengangguk dengan sangat kaku kemudian beranjak dari kursinya. Dia berjalan menghampiri Jessica. Pria itu menghela napas lalu memeluk Jessica dari belakang.

“Oh! Kau mengagetkan aku!” Ucap Jessica. Wanita itu langsung gugup ketika dia sadar bahwa Luhan kini sedang memeluknya dengan lembut.

“Maaf. Kau bisa melanjutkan mencuci piring dengan posisi seperti ini, kan? Orang tuamu yang menyuruhku seperti ini.”

“Oh? Y-ya, bi-bisa.” Ujar Jessica.

“Dan sepertinya kita harus sering melakukan skinship selama mereka masih ada di sini.”

Mwo?!!”

******

Maaf karena keterlambatan aku kembali dari hiatus. Janjinya awal Januari tapi tanggal segini baru update ._. yap… akhir-akhir ini aku diserang sama penyakit writer block… entah mengapa otakku benar-benar buntu buat menulis -,,- dan pada akhirnya chapter ini baru selesai sekarang.

Well, karena aku sadar selama ini alur Destiny of Us kecepetan dan momen Lusica sungguh minim, jadi aku memutuskan untuk memperpanjang ff ini, tidak panjang-panjang sih, hanya satu-dua chapter saja untuk memperbanyak Lusica moment. Akhir kata, walaupun sudah sangat telat, but Happy New Year to you all \(^0^)/

Once more, maaf kalau ada typo -.-

116 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 6

  1. jangaaaaan ccerrrrraaaaaaaiii pliiiiiissss T.T
    jessi eon kasian banget,tersiksa gitu,yg sabar ya eon
    Lu ge gak peka banget sama perasaan yeoja..
    Baekhyun terobsesi banget sih sama soojung,sampai2 Jessica dijadiin pelampiasannya😥
    FIGHTING THOR NULIS FF NYA!!!!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s