[Freelance] You Chapter 3

Title          :       You [Chapter 3]

Author       :       Nizah Putri (zahilangels)

Main Cast   :       Jessica Jung – Xi Luhan – Kim Jongin

Other Cast  :       Krystal Jung

Jung Parents

Oh Sehun

Genre        :       Comedy, Romance. (Chapter)

Rating        :       PG-15

Lenght       :       1.800+

Disclaimer  :       I just own the plot and the imagination based on my friend’s experince. Sorry for typo(s) or else. Cast punya Tuhan, jika ada kesamaan atau sebagainya, aku hanya menjadikan cerita-cerita yang pernah kubaca sebagai inspirasi. Thanks J

Summary   :       Haruskah aku membuka hati? Mengapa saat ada kau, aku bisa menjadi seseorang yang berbeda?

Mianhae jika tidak memuaskan, author disini hanya berupaya membuat para pembaca senang :D  follow twitter-ku : @nizmayeah gomawo^^b

 

— You —

Seseorang telah menungguku diluar sana.

Tapi aku tak sadar.

Kenapa?

Karena hati ini masih tertera namamu.

Kumohon, jangan begini. Ini tidak benar.

—You—

 

“Krystal?!” Pekik Luhan dan Jessica bersamaan. Mereka langsung lari ke sumber suara, tempat Jongin dan Krystal berada.

“Ada apa Krystal?”

“Ada apa Jongin?”

Jessica dan Luhan berucap berbarengan, seperti koor anak TK. Tampak Jongin yang memapah Krystal berdiri, wajah gadis itu tampak pucat sekali.

“Apa yang terjadi pada adikku? Omo, are you okay, Soojung-ah?” Tanya Jessica menghampiri Krystal.

Begitulah sang kakak, jika marah atau khawatir, logat Amerika pun keluar, “Nan gwenchanayo, eonni. Aku benar-benar tak apa.”

“Ada apa sebenarnya, Jongin?” Tanya Luhan kini gantian menghampiri mereka bertiga.

“Tidak ada masalah, hanya saja ketika Krystal ingin mencoba gaun disana, ada dua ekor kecoak.” Jawab Jongin cuek.

Luhan menganga lebar, ia berusaha mati-matian menahan tawa, jika saja ia tak melihat lirikan pedas Jessica, mungkin ia sudah jungkir balik tertawa puas.

“Sebaiknya kita pulang saja, eonni. Aku dan Jongin oppa sudah memilih pakaian pertunangan kami kok.” Ucap Krystal tersenyum meyakinkan kakaknya itu.

“Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang mengantar Krystal. Kau dan Luhan pulanglah.” Ucap Jessica pada Jongin sambil berlalu.

Luhan menatap kepergian Krystal dan Jessica dengan pandangan sulit diartikan. Ia menghela nafas kasar, “Ayo, pulang.”

“Kau kenapa, hyung?” Tanya Jongin mengekori Luhan.

“Tidak apa-apa.” Balas Luhan malas.

“Seperti tidak rela dia pergi saja.” Kekeh Jongin.

“Siapa maksudmu?” Luhan berhenti sejenak dan menoleh. Ia tidak mengerti siapa yang dimaksud Jongin.

“Siapa lagi kalau bukan Jessica noona? Kalian itu sungguh cocok. Aku tak terbayangkan jika kau benar-benar datang ke pesta pertunanganku dengan Krystal bersamanya.” Jongin menyunggingkan bibirnya, tanpa melihat wajah Luhan.

Luhan menggertakkan giginya kesal, ia mencoba menahan emosi meluap dalam dirinya. Ia hanya terdiam membisu ketika Jongin terus berceloteh tentang kehidupan pribadinya. Dan Krystal.

Luhan menutup matanya sejenak. Ia benar-benar harus bersabar. Ia tidak mungkin mengakui sesuatu yang mungkin akan merubah masa depan persahabat mereka, di hari menjelang pertunangan sahabatnya itu. Tidak, ia tak mau.

 

—You—

 

Beberapa helai gaun pesta keluar dari lemari, mereka berserakan di sekitar kamar dan tempat tidur. Meskipun hanya beberapa gaun yang tersisa dalam lemari, tapi tak ada satupun yang menarik hati Jessica.

Ya, besok adalah hari pertunangan Jongin dan Krystal, adiknya. Dan hari dimana Jessica akan dijemput Luhan untuk hadir ke pesta itu. Karena Luhan yang mengajak lewat SMS, dan kebetulan memang besok Jessica harus pergi mendaftarkan diri ke Universitas yang ia tuju.

“Jessica noona, aku akan menjemputmu besok. Di hari pertunangan adikmu. Jam 10, kutunggu kau jam 10. Tidak boleh telat, dan jangan lama-lama berdandan.”

Jessica tersenyum sendiri. Entah mengapa, kehadiran Luhan di apartementnya dan dalam hidupnya sedikit membuat Jessica jauh lebih ceria daripada sebelumnya.

Ia kembali mengambil gaun berwarna biru gelap dan berdiri di depan cermin. “Warnanya gelap sekali, tidak sesuai dengan suasana hatiku sekarang.” Gumamnya sambil mengerutkan dahi.

Sesekali ia menatap jam dinding di kamarnya, “Sudah Jam 12 malam, aku harus segera tidur. Nanti aku terlambat, Luhan pasti marah padaku.” Ia bergegas merapikan gaun-gaun itu dengan kembali menggantungnya ke lemari.

Tiba-tiba ada sebuah berwarna merah muda menarik hatinya, ia lupa mengeluarkan salah satu gaun favoritnya itu. “Kenapa aku sampai lupa, aku masih punya satu keberuntungan ini.” Seketika senyumnya melebar. Ia tampak lega dan lekas meletakkan gaun itu ke atas kursi.

Ia pun melemparkan dirinya ke tempat tidur yang empuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. “Akhirnya aku bisa tidur dengan pulas. Aku tidak sabar lagi menunggu hari esok. Aku dan Luhan.” Ia pun menutup matanya sambil tersenyum manis.

Perlahan mimpi indah menyapa tidurnya, rembulan pun tak segan memberikan sedikit sinar yang membias masuk melalui celah kecil jendela.

 

—You—

 

Kamar itu masih tampak bersih. Lampu masih menyala di langit-langitnya meskipun cahaya matahari pagi masuk dengan bebas melalui  kaca jendela dimana tirainya terbuka lebar di sisi ruangan.

Luhan memasang dasi merah bermotif polos. Ia merapikan posisi rambutnya di depan cermin, sedikit memberi gel pada rambutnya. Dan menyemprotkan sedikit parfume maskulin ke seluruh tubuhnya.

Ia lekas meletakkan botol parfume itu ke atas meja lalu beranjak dari kamar dan tak lupa untuk mematikan lampu.

Ia duduk sejenak di sofa ruang tamu untuk memasang sepatu. “Jam berapa sekarang?”Pikirnya. Luhan melirik ke arah jam di tangannya. “Sudah hampir jam 10, Jessica noona sudah siap atau belum? Aish, gadis mulut besar itu pasti lemot.” Gumamnya dalam hati.

 

—You—

 

Luhan berdiri tepat di depan pintu apartement, tanpa segan ia memencet bel berkali-kali untuk memberitahukan kedatangannya pada Jessica.

Tak lama kemudian, tampak Jessica yang tergesa-gesa keluar dari kamar seraya memegangi sweater dan tas jinjingnya. Ia bergegas memasang sepatu berhak tinggi berwarna putih pudar yang memang sengaja disiapkannya.

“Tunggu sebentar!” Teriak Jessica seraya membenarkan posisi telapak kakinya. Ia lekas membukakan pintu untuk Luhan.

“Eh, uh. Hai Luhan!” Sapanya ceria dan masih sibuk mengikatkan tali ke  pergelangan kakinya.

“Apa kau perlu bantuanku?” Tawar Luhan ramah.

“Tidak perlu.” Jessica segera menolak dan berdiri.

“Sudah selesai.” Ia pun melemparkan senyuman untuk seseorang yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya. Dan entah mengapa membuatnya semalam susah tidur. Ia memikirkan apa saja yang akan mereka lakukan di hari itu, hanya berdua.

Dan jika boleh jujur, ini pertama kalinya Jessica jalan berdua dengan laki-laki, selain keluarga dan appa-nya.

“Kau sudah siap? Coba kau ingat lagi, nanti ada sesuatu yang kau lupa.” Luhan memberi waktu.

“Kurasa sudah beres.” Jessica terdengar meragukan.

“Kau rasa?”

“Maksudku semuanya sudah beres.” Jessica mantap.

“Baiklah kalau begitu, gadis mulut besar.” Luhan melangkahkan kakinya terlebih dulu, diikuti Jessica dari belakang.

“Huh, tak bisakah kau memanggilku noona atau sejenis itu, ketimbang gadis mulut besar?” Gerutu Jessica mengekori Luhan menuju tempat parkir.

“Bagaimana kalau… Si pendek cerewet?” Usul Luhan disusul jitakan dari arah belakang.

“XI LUHAN!!!”

 

—You—

 

Mereka berdiri dalam ruangan sempit, lift apartment. Hanya Luhan dan Jessica di pagi yang sepi itu.

“Ehm.”  Jessica berdeham.

“Ada apa?” Tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya.

“Apa kita perlu membeli kado sebelum pergi untuk adikku?”

“Tidak perlu. Aku sudah mempersiapkannya di dalam mobil.” Jawab Luhan dingin.

“Oh begitu ya?” Jessica pun lekas mengunci bibirnya rapat-rapat agar tetap diam. Ia sudah sadar perbedaan atmosfer ketika ia mengucapkan hal-hal sensitif seperti itu.

Jessica sendiri masih kurang mengerti, apa yang terjadi pada Luhan. Tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja.

Pintu lift perlahan terbuka, mempersilahkan mereka keluar. Jessica kembali membiarkan Luhan melangkah lebih dulu, ia segera mengikuti dengan berjalan di samping namja yang terdiam seribu bahasa itu.

Ketika sudah berada di dalam mobil, Luhan segera menyalakan AC untuk menyejukkan mobil yang terasa panas. Ia menyalakan mesin mobil kemudian melaju menjauh dari area parkir apartment.

Jessica yang duduk disampingnya tengah sibuk memasang sabuk pengaman.

“Apa kau pernah pergi ke Busan sebelumnya?” Tanya Luhan.

“Tentu saja. Dimana sih yang tidak aku tahu?” Jawab Jessica dengan bangga.

“Benarkah?”

Appa seorang direktur cabang. Dia sering kali berpindah tugas, jadi kami sekeluarga biasanya mengikuti kemana pun ayah dipindahkan.” Jelas Jessica.

“Sepertinya kau sangat dekat dengan Appa.” Luhan tersenyum tipis.

“Tentu saja. Kami sekeluarga sangat dekat satu sama lain. Appa, meskipun pendiam tapi jika marah… Ah, jangan kau tanya lagi. Tapi sebenarnya itu semua demi kebaikan kami. Eomma yang sangat lembut dan perhatian. Aku sangat sayang pada keluargaku.” Ungkap Jessica dengan merautkan wajahnya yang tak henti tersenyum gembira.

“Benarkah? Bukankah kau cuek dengan keadaan? Kekasih adikmu saja tidak kau tahui. Tapi.. Kau beruntung sekali.” Kekeh Luhan.

“Hei! Aku cuek kalau masalah pribadi seperti itu. Lagipula Krystal juga tidak mengenalkan aku pada kekasihnya kok. Oh, ya. Bagaimana denganmu?” Tanya Jessica.

“Sejak appa sakit, ibuku memutuskan untuk tinggal di daerah pinggiran Incheon, tidak lagi di China. Tapi aku memutuskan untuk hidup mandiri. Jadi aku tinggal sendiri di Seoul saat ini ya untuk meneruskan perusahaan.”

“Maafkan aku! Tidak seharusnya aku bertanya.” Jessica lekas merendahkan nada bicaranya.

“Tidak apa-apa.” Luhan terkekeh. “Apa kau baik-baik saja, kita akan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menuju Busan.”

“Tentu saja. Aku adalah gadis yang kuat dan aku sudah terbiasa dengan perjalanan jauh.” Jessica tersenyum kaku.

Ia diam-diam menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan keluhannya.

“Kalau saja aku tidak mabuk darat jika disupiri, aku mungkin bisa punya kekasih. Untuk satu jam pertama mungkin aku akan baik-baik saja, tapi bagaimana dengan jam-jam berikutnya.” Benaknya mulai dihantui rasa ketakutan. “Aku harus bertahan, Luhan berada disampingku. Aku tidak boleh terlihat lemah. Masa kau menyupir bisa, tapi disupiri tidak?” Ia kembali bersemangat sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Heh gadis bermulut lebar.” Panggil Luhan tapi ia tak menggubrisnya.

Noona!” panggilnya lagi. “Apa sesuatu telah terjadi?”

“HAAA!” Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.

“Kutanya, kau tidak apa-apa?”

“Aku hanya sedikit pusing dan mual-mual.” Jawab Jessica bohong.

“Mual? Pusing? Memangnya kau tak makan?” Tanya Luhan khawatir.

“Eum, tumben sekali kau memperhatikanku.” Cibir Jessica.

“Aish, aku kan bertanya. Apa susahnya sih menjawab saja, nona Jung?” Tukas Luhan sebal.

“Eum, sepertinya aku hanya makan sereal dengan susu tadi pagi.” Terka Jessica.

“Sepertinya? Mengapa kau selalu menjawab semua hal dengan meragukan, sih?” Sindir Luhan.

“Ya! Aku serius.” Jessica mengerucutkan bibirnya lucu, Luhan mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin melihat wajah itu. Tidak, atau rasa emosi itu akan muncul. Wajah mereka terlalu persis.

“Sebaiknya kita sarapan dulu. Lagipula pestanya dimulai nanti. Masih banyak waktu sebelum kita melanjutkan perjalanan.” Ucap Luhan lalu segera mencari salah satu rumah makan di dekat situ.

 

—You—

 

Terdengar suara riuh anak-anak kecil yang berlari di ruang tengah. Beberapa diantara mereka bermain petak umpet, ada juga gadis-gadis kecil yang bertingkah seperti orang dewasa, menambah ramai suasana.

Disana ada banyak hiasan dengan berbagai macam warna bergantungan di tiap sudut ruangan. Jongin kembali menggantung tiga balon yang terikat bersama. Ia menggantung balon-balon itu dekat jendela.

“Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya pesta ini untuk pertunangan orang dewasa atau ulang tahun anak kecil. Begitu banyak balon juga berbagai macam pernak-pernik. Ah, jinjja Krystal.” Gumam Jongin dengan suara pelan dari atas tangga yang digunakannya.

Oppa! Cepat turun. Waktunya sarapan.” Teriak Krystal dari bawah tangga.

“Tunggu! Sebentar lagi aku selesai.” Jongin yang tak mau kalah menyahut dengan suara tinggi.

“Cepat, eomma sudah menunggu daritadi. Ish, ppaliwa. Kau lemot sekali, oppa.” Paksa Krystal sambil menggoyang-goyangkan tangga membuat Jongin jadi tak konsentrasi.

“JUNG SOOJUNG!!” Jongin memanggil nama asli Krystal jika sudah kesal, “Apa kau ingin aku terjatuh?” Ia terdengar kesal.

“Kalau kau terjatuh, aku akan siap untuk menangkapmu dari bawah.” goda Krystal. Jongin memutar bola matanya setengah jengkel.

“Cepatlah!” Krystal kembali menggoyangkan tangga.

“Iya iya, cerewet. Aku segera turun.” Jongin lekas turun sambil menunjukkan wajah masamnya.

“Akhirnya oppa turun juga.” Krystal tersenyum penuh kemenangan, “Ayo kita makan!” Ia sambil menggandeng Jongin menuju ruang makan.

“Dasar manja!” Jongin mendengus kesal. Sekejap kekesalannya hilang melihat Krystal yang begitu perhatian padanya. Ia pun membuang jauh-jauh wajah masamnya dan mengikuti tiap langkah Krystal menuju ruang makan.

 

—You—

 

Rumah makan itu tampak sepi. Duduk disalah satu meja yang terletak dekat kaca jendela, tak jauh dari pintu utama. Jessica dan Luhan sejenak menikmati makanan yang baru tersaji. Masih tampak asap yang mengeluarkan aroma sedap mengepul mengelilingi makanan itu.

“Uhok uhok!” Jessica batuk sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Kalau makan pelan-pelan saja, makananmu tak akan ku ambil kok, nona pendek bermulut besar.” Ejek Luhan.

“Iya iya. Masih dalam keadaan seperti ini saja kau masih bisa menggodaku.” Sungut Jessica.

“Sepertinya udara di luar memang tidak baik untuk melanjutkan perjalanan.” Gumam Luhan.

“Kurasa udaranya cukup cerah. Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Lagipula kau harus datang ke pesta itu, bukan?” Sela Jessica sambil terus menyuap makanan.

“Sebenarnya pesta pertunangan itu tidak begitu penting bagiku. Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku saja.” Jelas Luhan, “ Lagipula aku tidak begitu dekat dengan dengan keluarga Jung.” Tambahnya lagi.

Jessica sejenak tercengang. “Lalu, kenapa kau datang?”

“Kenapa? Bagaimana lagi? Bukankah kau meminta untuk melanjutkan perjalanan. Lagipula aku harus mengantarmu kesana untuk menghadiri pesta adikmu, dasar bodoh.” Luhan lekas menyuap nasi miliknya.

“Ku pikir kau memang ingin pergi ke pesta itu. Makanya ketika kau mengajakku aku senang sekali sampai tak bisa tidur.” Jawab Jessica polos.

Luhan hampir saja tersedak, ia melirik Jessica dengan senyuman mengembang. Gadis yang terlalu polos, pikirnya.

“Aku tidak begitu menyukai pesta. Apapun itu. Itu sebabnya setiap kali ada orang yang membicarakan tentang pesta, aku lebih memilih untuk menghindar. Kalau diundang ya aku tidak datang.” Ungkap Luhan mulai terbuka pada Jessica.

“Aku sangat suka pesta. Karena ada sangat banyak kemeriahan yang akan terjadi, juga kejutatan yang mungkin tidak akan terlupakan. Dan lagipula saat pesta kita pasti bertemu orang-orang yang ingin kita temui sejak lama. Ya, kan?” Ujar Jessica mengeluarkan pendapatnya.

“Sepertinya kita tidak punya persamaan sama sekali nona Jung.” Luhan tertawa kecil.

“Tentu saja kita punya persamaan.” Bantah Jessica, “Bukankah kau bilang kau tidak suka jalan sendiri, aku juga tidak suka. Jadi kapan pun kau butuh teman untuk jalan-jalan, kau panggil saja aku.” Jelasnya.

“Aku akan lebih senang jalan-jalan bersama dengan teman baikku.” Cibir Luhan menolak mentah-mentah.

“Apa?!” Jessica mendengus sebal, ia menampakkan wajah cemberutnya.

“Aku bercanda hei.” Luhan tertawa kecil untuk menggodanya. “Mungkin suatu saat aku akan memintamu untuk berada di sisiku dan terus menemaniku, ketika Jongin benar-benar sibuk dengan kekasihnya.” Tanpa sadar ia membelai rambut Jessica.

Jessica hanya tertunduk menyembunyikan pipinya yang merona kemerahan. Omo, apa yang Luhan lakukan padaku???

Drrt. Drrt.

Jessica tersentak, ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari tas jinjingnya. Sementara Luhan mengusap tengkuknya, ia juga tak sadar kalau ia mengusap kepala Jessica.

Yeoboseyo? APA? B-baik aku akan kesana segera! Tunggu aku.” Teriak Jessica membuat Luhan kaget. Jessica segera menutup telepon dan buru-buru beranjak dengan wajah panik.

Luhan menahan tangan Jessica, “Kau kenapa? Ada apa?”

A-appa. Appa-ku…” Mata Jessica mulai berair. Luhan mengerutkan dahi.

“Jelaskan dengan benar. Tenang dulu, noona.” Ucap Luhan menenangkan.

Appa jatuh dari tangga!” Teriak Jessica dengan airmata mengalir nyaris deras.

Mwo?!”

 

 

 

TBC.

©zahilangels, 31/12/2013. 8:50

Maafkan aku late update. Soon, aku bakal insha Allah cepet. Oh ya, jika ada yang bertanya: “kok kayak pernah liat bagian ini ya dimana gitu” aku ambil inspirasi dari berbagai komik, novel dan cerita-cerita yang aku baca. salah satu komik jepang juga aku tuang kesini.

Tunggu chapter selanjutnya ya. Happy Reading!

 

41 thoughts on “[Freelance] You Chapter 3

  1. Hua…. kasian Jessica eonni sm Krystal eonni masa’ Appanya jatuh dari tangga??. Kan kasihan baru mau ngadain pesta udh ada musibah. Kasian, terus Luhan Oppa udah mulai suka ya sama Jessica eonni ?? Thor ditunggu next chapter!! Jjang thor🙂 . Udh g sabaran nih!! >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s