Show You – Chapter 1

Show You

Yura Lin proudly present;
Show You

Genre:

Romance

Length:

Series

Cast:

BAP Himchan | SNSD Jessica | EXO Luhan

Summary:

 Don’t let two men fall in love with you, girls. It’s not the sort of thing that ends well.

Previous:

I Hiccup You

Pagi hari, perasaan Jessica sudah buruk. Bibirnya tak berhenti mengeluh. Bagaimana tidak? Dompet kembali harus dikuras untuk memfotokopi buku-buku. Buku-buku tersebut milik temannya. Ia terpaksa memfotokopinya karena buku-buku tersebut sangat mahal. Tak lupa, ia juga harus memprint beberapa laporan.

Oh tidak, gajiku bisa habis dalam sekejap!

Jessica mengerang kesal. Jika sudah seperti ini, ia selalu menyesali keputusannya menerima tantangan Himchan. Dia tidak akan kesulitan seperti ini jika dia masih memegang gold card kesayangannya.

“Jessica, awas!”

Matanya yang semula tertuju ke barang-barang yang ia bawa, kini tertuju ke depan. Dia tertegun melihat Luhan di atas skateboard yang meluncur cepat ke arahnya. Dia terlalu panik hingga tidak sempat berpikir untuk menghindar. Dia hanya diam di tempat sambil memejamkan matanya erat, bersiap untuk ditabrak.

Luhan tertawa kecil melihatnya. Saat hampir sampai di depan Jessica, dia membelokkan skateboard kesayangannya dan menginjak sayap belakang. Dia memutar skateboardnya sebentar lalu menatap gadis di depannya. Ia sering mengerjai Jessica dengan cara ini berkali-kali tapi Jessica tetap saja panik dan berakhir pasrah seperti ini.

“Butuh bantuan membawa buku?” Luhan menawarkan bantuan.

Jessica membuka matanya perlahan. Seketika bibirnya melengkung ke bawah. Dia memukul lengan Luhan kesal. Luhan meringis pelan.

“Berhenti membuatku jantungan!” omel Jessica.

Luhan terkekeh. “Apa itu artinya kau menolak tawaranku?”

Jessica pura-pura memukul kepala Luhan dengan buku-buku yang ia pegang. Luhan kembali tertawa sambil melepaskan skateboardnya untuk meraih buku-buku tersebut dengan kedua tangannya. Setelah buku-buku itu lepas dari tangannya, Jessica mengambil skateboard milik Luhan.

“Banyak tugas, hm?” tanya Jessica sambil mulai melangkah memasuki gedung utama fakultas.

Luhan menggeleng. “Akhir-akhir ini, tugasku tidak terlalu banyak. Mengapa kau bertanya? Ingin minta bantuanku?”

“Bukan begitu. Aku hanya bingung mengapa kau terlihat sangat lelah dan kurang tidur walaupun tugasmu sedikit.”

“Tidak terlalu banyak, bukan sedikit!” ralat Luhan. “Aku mengambil cukup banyak pekerjaan untuk beberapa hari terakhir. Aku memerlukan uang lebih.”

Luhan dan Jessica mengambil pekerjaan sambilan yang sama. Itu sebabnya mereka bisa saling mengenal dan dekat dengan satu sama lain. Belum lagi hadiah dari kompetisi-kompetisi dance yang biasa diikuti oleh Luhan dan klub dancenya, Luhan memiliki penghasilan yang cukup banyak. Dia tidak perlu mengambil banyak pekerjaan karena dua hal itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya selama sebulan lebih.

“Ada apa?”

Luhan mengangkat bahunya santai. “Orangtuaku tidak bisa mengirim uang karena adikku sakit.”

“Tapi—“

“Kesehatan adikku lebih penting, bukan? Jadi itu bukan masalah bagiku.”

Tapi uang kuliahmu itu mahal, Luhan! Bagaimana caranya kau membayarnya tanpa bantuan orangtuamu?

Jessica menarik napas dan memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang ada di pikirannya.

Luhan bukanlah seseorang yang berasal dari keluarga kaya raya. Dia sengaja mencari beasiswa di negara Asia Timur lainnya agar mendapatkan kemudahan untuk mencari pekerjaan di negara tersebut karena peluang lapangan pekerjaan di China semakin menipis dengan para pendatang dari luar negeri. Masalahnya, walaupun ada beasiswa, biaya pendidikan di Korea Selatan tetap saja sangat mahal. Tidak jarang orangtua sampai berhutang besar hanya karena untuk membiayai pendidikan anaknya.

***

Years Earlier.

“Sica!”

Blam!

Gadis berumur 17 tahun itu menutup pintu dengan cara membantingnya lalu pergi dengan langkah dihentakkan. Dari jauh pun sudah jelas terlihat dia sedang marah. Lebih dari marah. Dia benci ayahnya yang merendahkan cita-cita. Dia benci ayahnya yang memaksanya ke tempat yang bukan sesuatu yang dia inginkan. Dia lebih benci ayahnya yang telah menganggapnya tidak lebih dari anak manja yang tidak berguna.

“Oops, tuan putri, ada apa dengan wajah mengerikanmu itu?”

Jessica menoleh dan melihat seorang pemuda tampan dengan senyuman arogan sedang bersandar di dinding, tangan berada di dalam saku celana. Dengan gayanya yang seperti itu, ketampanannya berlipat ganda. Jika Jessica tidak sedang dalam mood yang buruk, dia pasti sudah membiarkan perasaan kagumnya mendominasi ekspresi wajahnya.

Kim Freaking Himchan!

Pria yang diangkat menjadi anak didik ayahnya 4 tahun yang lalu untuk menjadi penerus perusahaan. Dalam sejarah keluarga Jung, perempuan dianggap tidak ditakdirkan untuk mengurusi bisnis keluarga. Karena Jessica adalah anak satu-satunya, ayahnya pun terpaksa mencari orang yang tepat untuk mewarisi tahtanya.

“Diamlah, Kim Himchan! Jangan ganggu aku!” bentak Jessica.

Himchan menggeleng. “Aish, kau perlu belajar bagaimana mengontrol emosimu, Sica. Lihatlah sisi baiknya, aku di sini untuk menenangkanmu.”

Bagi Jessica, Himchan adalah sesosok orang arogan, menyebalkan dan sifat jahat lainnya. Seseorang yang hobi membuat masalah tapi selalu bersikap tak berdosa di depan tuan Jung. Pria yang entah bagaimana, berhasil menjadi cinta pertama Jessica. Sampai sekarang Jessica masih tidak mengerti, bagaimana ia bisa membenci dan mencintai seseorang dalam waktu yang bersamaan? Mungkin orang-orang benar, cinta dan benci bedanya tipis.

“Tidak mungkin. Kau tidak pernah baik kepadaku.”

“Well, bagaimana dengan saran?”

Jessica mendengus. “Aku sudah bisa membayangkan saran seperti apa yang akan kau berikan kepadaku. Tidak lain dan tidak bukan—“

“Kabur.”

“—pasti saran yang konyol.” Jessica memutar matanya. Kemudian, ia mengerjap. “A-apa yang kau katakan tadi?”

“Kabur. Hidup dengan usahamu sendiri. Buktikan kepada ayahmu kalau kau bukanlah anak kucing manja yang tidak berguna tanpa induknya.”

Jessica menggertakkan giginya. “Kim Himchan..”

“Apa? Kau takut?”

Beruntung Himchan berjarak 5 meter dari tempat Jessica berdiri. Jika berjarak lebih dekat, gadis itu pasti sudah menendangnya sekuat tenaga.

Who are you kidding, Kim? Tentu saja tidak,” jawab Jessica geram.

***

Gadis itu berlari ke belakang panggung. Wajahnya menggambarkan seberapa cemasnya dia. Ia berlari ke tempat pria yang ia cari, Luhan. Saat tampil tadi, Luhan terlihat tidak fokus hingga dia salah gerakan dan berakhir dengan mencederai kakinya sendiri. Kini beberapa teman di klub tari mengelilinginya dan mencoba untuk memberikan pertolongan pertama.

“Hai,” sapa Luhan setelah teman-temannya mulai meninggalkannya untuk melanjutkan kompetisi dan hanya tersisa Jessica. Luhan mendesah pelan. “Akh, aku tidak akan menang. Sayang sekali. Padahal hadiahnya lumayan besar.”

Jessica melipat tangannya di dada sambil menatap Luhan tajam. Dengan apa yang terjadi, Luhan masih menyapanya dengan santai seakan tidak terjadi apapun.

“Apa ku bilang? Jangan terlalu bersemangat mencari uang. Akibatnya pasti tidak akan baik. Terjadi juga, ‘kan? Sekarang, mana bisa kau bekerja dengan kaki cedera seperti itu?” Jessica memulai ceramahnya.

Luhan menggaruk kepalanya gemas. “Ya, maaf sudah tidak mendengarkanmu. Sekarang diam! Aku sedang sibuk memikirkan jalan alternatifnya.”

Jessica menggeleng pelan. Melihat apa yang terjadi, jalan Luhan pun tertutup untuk mencari tambahan untuk membayar uang kuliahnya. Ia merasa iba kepada Luhan.

“Jangan mengkasihaniku.”

Jessica mengerjap kaget. “A-apa?”

“Aku bisa merasakannya, Jess. Aku tidak perlu dikasihani,” tekan Luhan.

Jessica menggigit bibirnya. Matanya memperhatikan Luhan yang terlihat sangat frustasi. “Ada masalah lain, bukan?”

Luhan enggan menjawabnya. Gadis itu duduk di samping Luhan dan meletakkan tangannya di atas paha Luhan.

“Ayolah, kau bisa mempercayaiku,” desak Jessica.

“Adikku sakit parah. Harus dirawat inap dan sebagainya. Aku harus membantu orangtuaku.”

Cara termudah untuk menyelesaikan masalah Luhan hanyalah dengan meminjam uang. Namun keluarganya sudah berhutang cukup banyak di sana. Jessica ingin membantu meminjamkan uang yang selama ini ia simpan tapi Luhan tidak akan menerimanya. Sebenarnya ia juga punya jalan lain untuk membantu Luhan tanpa meminjamkan uang. Ia sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari terakhir. Akan tetapi, caranya mempunya arti dia harus menyatakan dirinya menyerah.

***

Years earlier.

Dua pria mengisi sofa paling panjang sedangkan Jessica duduk di sofa sebrangnya. Di depan kakinya ada koper besar berisi barang-barang pentingnya. Ayahnya menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. Sementara Himchan hanya memberikan ekspresi datar seakan tidak peduli.

“Kau yakin?” tanya ayahnya.

“Aku yakin. Aku akan buktikan bahwa aku bukan parasit. Aku bisa mengejar cita-citaku tanpa uang dari Appa,” jawab Jessica mantap.

“Baiklah. Kau bisa mengambil semua barang-barangmu,” ucap tuan Jung.

Jessica mengerjap. “Mobilku?”

“Itu hadiah ulangtahunmu. Jadi itu milikmu.”

“Kartu kreditku?”

“Tetap milikmu. Hanya saja, tidak akan ada yang membayarkannya lagi setiap bulannya.”

Jessica tidak pernah menyangka ayahnya akan sebaik ini. Dia berpikir ayahnya akan menglarangnya. Kalaupun dibiarkan pergi, setidaknya ayahnya akan mengambil semua barang mewah miliknya seperti yang ia lihat di drama-drama malam.

“Kau tidak akan mendapatkan bantuan apapun dari keluarga ini kecuali kau menyerah, kembali ke rumah ini dan ikuti semua peraturan seperti sebelumnya,” tambah tuan Jung.

Jessica mengangguk mantap. Dia memberikan bungkukkan terakhir sebelum melangkahkan kaki keluar dari rumah mewah tersebut. Dia berbalik badan saat merasa ada yang mengikutinya.

“Oh, kau…” gumam Jessica setelah melihat Himchan menghampirinya dengan gaya dinginnya.

“Ku pikir aku menyarankanmu untuk kabur dan meminta izin untuk pergi bukanlah bagian dari proses kabur,” kata Himchan.

Jessica tersenyum sombong. “Well, apa yang bisa ku bilang? Aku bukan pecundang yang kabur begitu saja tanpa menyelesaikan masalahku sebelumnya.”

“Bagus.”

Mereka tidak berbicara tapi tidak juga pergi setelah itu. Mereka hanya diam di tempat. Tidak pernah sekalipun terbayang mereka akan berada di situasi canggung seperti itu.

“Lebih baik, kau jual mobilmu itu dan belilah skuter untuk memudahkanmu pergi kemanapun. Aku sudah mengajarkanmu cara mengendarainya jadi kau pasti bisa. Uang sisa dari penjualan mobil disimpan baik-baik untuk keperluan penting. Jangan boros,” saran Himchan.

Jessica mendengus sinis. “Apa aku tidak salah dengar? Mengapa tiba-tiba kau menjadi perhatian denganku?”

“Aku hanya tidak ingin melihatmu menjadi gembel di jalanan minggu depan.”

Jessica mendelik tajam. Himchan membalasnya dengan tawa.

“Tapi aku tidak akan bohong, aku mengharapkanmu menyerah secepatnya,” lanjut Himchan.

“Oh benar, agar kau bisa membuktikan bahwa aku memang anak manja yang tidak berguna,” balas Jessica sarkastik.

Himchan tersenyum tipis. “Terserah apa yang kau pikirkan.”

Jessica mengerjap. Himchan memang sering tersenyum. Tersenyum sinis, sombong, arogan dan senyuman menyebalkan lainnya. Namun ini pertama kalinya ia melihat Himchan tersenyum tulus kepadanya. Wajah pria itu menjadi beratus kali lipat lebih tampan. Pipi Jessica merona.

Namun dia tidak mengikuti saran Himchan sepenuhnya. Dia menjual mobil mewahnya dan diganti dengan mobil murah. Dia tidak bisa membayangkan dirinya pergi di bawah panas matahari ataupun hujan.

***

4 tahun yang lalu, ia keluar dari rumah dengan keyakinan tidak akan menyerah dan kembali ke dalam penjara tak terlihat itu. 4 tahun yang lalu, untuk membayangkan dirinya meminta bantuan kepada ayahnya saja adalah hal yang mustahil. 4 tahun yang lalu, dengan bangganya ia menyatakan dirinya bebas di depan makam ibunya.

Akan tetapi, itu 4 tahun yang lalu.

Kenyataannya, kini dia sudah berada di dalam ruangan ayahnya, menunggu ayahnya selesai rapat dengan para pemegang saham. Kakinya tidak bisa berhenti bergetar. Tangannya tidak bisa berhenti meremas satu sama lain. Matanya sesekali melirik 2 meja kerja di ruangan itu yang menjadi milik ayahnya dan Himchan. Dia benar-benar gugup.

Suara pintu dibuka berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Dia tidak berani menoleh. Suara dua pasang kaki melangkah dengan tenang memasuki ruangan pun terdengar seperti hinaan baginya. Tanpa melihat, ia sudah tahu dua pasang kaki itu adalah milik ayahnya dan Himchan.

“Tidak pernah menyangka membutuhkan 4 tahun untukmu menyerah,” kata tuan Jung.

Hati Jessica seakan tertusuk mendengarnya. Dia masih tidak berani mengangkat kepalanya.

“Apa alasannya?” tanya ayahnya lagi.

“Luhan.” Jessica menepuk bibirnya. “M-maksudku, temanku.”

“Temanmu, uh?”

“Temanku sedang dalam masalah. Aku menyerah untuk meminta bantuanmu agar—“

“Memberikannya uang?”

Jessica mendongak lalu menggeleng tidak setuju. “Dia pekerja keras! Dia tidak akan menerima uang cuma-cuma. Aku ingin dia dipekerjakan di salah satu cabang perusahaan milik Jung Group.”

“Baiklah. Alasanmu kembali cukup bagus. Siapa temanmu itu? Kalau tidak salah, tadi kau memanggilnya Luhan, hm? Seorang pria? Kekasihmu?” tanggap ayahnya santai seraya duduk di kursinya dan mengambil sebuah dokumen.

Pipi Jessica memerah mendengarnya. “B-bukan! Dia.. dia sahabatku.”

“Baiklah. Aku akan membantumu tapi dengan satu syarat.”

“Aku kembali ke rumah?” tebak Jessica.

Ayahnya mengalihkan pandangannya dari dokumen tersebut ke putrinya yang sudah lama tak ia temui. Jessica terhenyak begitu sadar ada perasaan rindu di tatapan ayahnya walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dia pikir ayahnya tidak akan merindukannya. Atau mungkin,  itu hanya perasaannya saja.

“Bukan.” Tuan Jung menggeleng. “Kau harus tinggal bersama Himchan di apartemen yang ku belikan untuk kalian.”

Jessica terbelalak mendengarnya. Tinggal bersama seseorang yang pernah disuka adalah sesuatu yang tidak akan terasa nyaman bagi siapapun. Bukan berarti ia akan jatuh cinta kepada Himchan lagi—lagipula, dia sudah memberikan hatinya kepada Luhan—dia hanya tidak senang karena hal itu bisa membuatnya mengingat momen-momen saat ia masih menyukai seorang Kim Himchan si pria paling menyebalkan di dunia.

“Hanya itu saja. Jika kau tidak bisa bertahan, maka temanmu akan kehilangan pekerjaannya,” lanjut ayahnya.

Jessica menggigit bibirnya kuat. Luhan hanya membutuhkan uang sampai semuanya kembali normal. Hanya itu.

“Baiklah. Tapi jangan sampai dia tahu aku mempunyai hubungan dengan perusahaan ini.”

***

Beberapa menit setelah Jessica pergi, Himchan mulai merasa tidak nyaman di tempat duduknya. Sesekali dia melirik ayah angkatnya. Dia tidak tahu apa rencana sebenarnya dibalik syarat yang beliau berikan kepada Jessica.

Aboenim,” panggil Himchan pelan. Dia baru melanjutkan setelah mendapatkan perhatian dari lawan bicaranya, “apa rencanamu sebenarnya?”

“Dengan mengajarimu dan memperkerjakanmu sebagai asistenku, bukan berarti kau benar-benar akan melanjutkan perusahaan. Satu-satunya cara agar aku bisa mewariskannya kepadamu hanya dengan kau menikahi Jessica. Kau adalah Alice dan Jessica adalah The Rabbit. Jessica lah yang akan membawamu secara resmi ke dalam duniaku ini,” jelas tuan Jung. “Jangan sia-siakan kesempatan yang ku berikan. Apalagi terlihat jelas, Jessica sedang jatuh cinta kepada orang lain. Posisimu untuk duduk di kursi ini terancam. Kau harus bertindak secepatnya.”

*

To Be Continued

*

Maaf bagi yang sudah memilih How To Get A Lover. Walaupun ff itu menang tipis, aku terpaksa memilih melanjutkan ff ini karena sesuatu terjadi. Hehe..

Ff ini pendek karena ini untuk mengenalan doang. Bisa dibilang, ini adalah prolog kepanjangan. Hehe ._. sebenernya aku lagi mencoba ide klise untuk ff ini tapi ku ga begitu tau mana ide klise, mana yang engga. Jadi dimaklumi ya kalo idenya kurang klise =.=v

Untuk pesanku di teaser tentang silent reader, bukan maksudnya aku memerangi silent reader. Ga sama sekali. Terserah kalian mau memberikan komentar atau ga. Aku bukan seseorang yang gila komentar kok. Lagipula, kalian pasti punya alasan sendiri untuk ga komentar. Apa itu karena ffku terlalu jelek tapi ga tega untuk memberikan kritik, ffku terlalu bagus sampe ga bisa ngomong apa-apa, atau karena emang kaliannya aja yang males ._.

Tapi, aku emang sensi berat sama author yang nulis “No silent reader” dan semacamnya di ffnya tapi dia sendiri silent reader. Apalagi kalo tulisannya pake huruf kapital semua, tanda serunya banyak dan warnanya merah, beuh! Di mataku tuh author kayak gitu munafik banget. Aku ga suka orang yang galak sama silent reader padahal dirinya sendiri silent reader. Begitu pula dengan author yang galak sama plagiator padahal dirinya sendiri ngeplagiat. Cih banget.

Oh ya, siapa yang kangen Daehyun dan Junyoung? Soalnya aku mau fokus di 180 Degrees abis ini (/’-‘)/

128 thoughts on “Show You – Chapter 1

  1. hahaah aduh, denger perkataan ayah jessica. yang ngomong himchan diibaratkan alice itu bener2 mengganggu konsentrasi bgt masa ‘_’ soalnya langsung kebayang himchan jadi alice, pasti neomu yeoppeo dahh..
    suka sama plotnya yang maju mundur, jadi ga cepet bikin boring gthu :3
    itu himchan jadi kayak boneka ayahnya jess dong kalo kyk gthu, kan dia harus ngedeketin jessica dan jadi suaminya.
    jual mobil diganti sama skateboard. seorang jessica jung? kecil kemungkinan #ngakak
    ga nyangka epilognya aja udh seseru ini🙂

  2. Triangle nya aku suka. Tapi gak bisa milih himchan atau luhan. Scene waktu jessica menghadap sang ayah setelah beberapa tahun lamanya.adalah yang paling ku suka. Tapi ff ini masih di lanjut kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s