180° – Chapter 5

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | BAP Youngjae | 2NE1 Sandara

Previous:

1 – 2 – 3 – 4

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

“Love hurts when it changes you.”

Jessica menghembuskan napas berat. Lagi-lagi Daehyun pulang malam. Sepertinya sejak malam itu, Daehyun menjauhinya. Dia tidak akan menyalahkan Daehyun untuk itu. Dia lah yang bersalah sebenarnya, jika saja Daehyun tahu. Dia terlambat untuk mengganti minuman Daehyun. Jika ia tidak terlambat, mungkin malam itu tidak akan terjadi apapun.

To: Daehyun

Maaf jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin bertanya kapan kau akan pulang.

Jessica meletakkan handphonenya di atas meja lalu menekan tombol remote untuk mengganti channel. Tak lama, handphonenya bergetar.

From: Daehyun

Aku pulang malam hari ini. Jangan menungguku, Noona. Kau harus banyak istirahat.

To: Daehyun

Aku tidak akan tidur sebelum kau pulang. Berhenti menjauhiku!

***

Daehyun mengetik dengan cepat agar semua data yang ia kumpulkan segera tersimpan di laptopnya. Dia mencoba membujuk Jessica untuk tidak menunggunya dan meyakinkannya bahwa ia tidak menjauhinya sama sekali tapi istrinya tidak membalas apapun. Mau tidak mau, dia harus segera menyelesaikan urusannya lalu meninggalkan rumah Youngjae secepatnya.

“Kau sudah mau pulang? Ahjumma baru saja selesai menyiapkan makan malam,” seru ibunya Youngjae, kecewa melihat Daehyun buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas.

Daehyun menutup resleting tasnya lalu memberikan Yoo ahjumma senyuman sopan. “Jwoisonghamnida, Ahjumma, tapi istriku sudah menungguku di rumah. Sekarang, dia sedang mengambek karena aku pulang malam jadi aku harus pulang cepat.”

Ternyata, mengakui Sooyeon noona-nya sebagai istrinya sanggup yang membuat lidahnya sedikit kelu. Semoga keluarga Youngjae tidak menyadari betapa hambarnya suara Daehyun tadi.

“Tunggu, kau sudah menikah?” kaget Yoo ahjumma.

Daehyun menatap Youngjae bingung. Dia pikir sahabatnya sudah menceritakan kondisinya sekarang kepada orangtuanya. Seakan mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya, Youngjae mendengus.

“Kau pikir aku adalah wanita yang senang membicarakan masalah orang lain? No man, aku adalah laki-laki sejati. Semua tentangmu tidak pernah ku sebarkan,” sungut Youngjae.

Daehyun mencibir. “Lalu siapa yang menyebarkan berita tentang pernikahanku di kampus?”

Youngjae berhenti dari kegiatan yang ia sedang lakukan untuk berpikir sejenak lalu menyengir lebar. Dia tidak mengatakan apapun ke Daehyun karena sahabatnya pasti mengerti apa maksud dari cengirannya tadi.

“Hm, yeah… aku sudah menikah, Ahjumma,” kata Daehyun akhirnya kepada wanita lanjut usia di hadapannya.

“Tidak banyak yang tahu itu karena pernikahannya cukup rahasia. Dan oh iya, istrinya sedang hamil muda,” timpal Youngjae.

“Ingatkan aku apa yang kau katakan tadi tentang ‘tidak pernah menyebarkan semua tentangku’?”

Youngjae menatap Daehyun tak percaya. “Kau sudah memberitahu ibuku tentang pernikahanmu. Mengapa kau keberatan sekali jika aku memberitahu ibuku lebih lengkapnya? Bagaimana pun, wanita yang kau panggil Yoo ahjumma ini adalah ibunya sahabatmu. Ibunya sahabatmu ini berhak untuk tahu tentang teman anaknya agar ibunya sahabatmu ini tidak khawatir.”

“Ssshhh, tenanglah,” lerai nyonya Yoo. “Bagus kalau begitu, Daehyun-ah. Aku akan membungkus makanan untuk kalian. Tunggu sebentar, ya! Anggap saja sebagai hadiah pernikahanmu yang terlambat. Hehe…”

Daehyun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelah ibunya Youngjae pergi, Daehyun menendang Youngjae cukup keras. Youngjae hanya bisa mengerang kesakitan. Jika ia balas, mereka akan benar-benar berkelahi. Dia tidak mau pergi keluar rumah dengan luka di wajahnya esok hari.

***

Saat sampai di apartemennya, Daehyun menemukan Jessica tertidur di sofa dengan posisi yang sedikit tidak nyaman. Dia meletakkan makanan pemberian Yoo ahjumma di atas meja dan tasnya bersandar ke meja lalu duduk di samping istrinya. Dia meraih remote untuk mematikan televisi kemudian memperhatikan wajah Jessica.

“Kehidupan selalu memberikan kejutan, ya? Padahal dulu aku yakin kau akan menjadi kakak iparku. Entah karena aku menikahi Krystal atau Junyoung menikahimu, Noona. Kenyataannya kau malah menjadi istriku,” gumam Daehyun.

Dia menghela napas. Dia menutup wajahnya, siku bertumpu di paha. Kehidupan barunya masih tetap memberikannya beban pikiran sampai sekarang.

“Bukankah ini aneh? Sampai sekarang aku tetap merasa frustasi setiap kali aku memikirkan kondisiku sekarang. Kejadian malam itu pun memperburuk segalanya. Aku tidak tahu apa yang membuatku tidak bisa mengontrol diriku dan menyerangmu. Mungkin karena kata-kata dari semua temanku berhasil memanipulasi pikiranku. Kau tahu, itu tidak mudah bagiku untuk menerima kenyataan aku benar-benar melakukannya kepadamu.

“Akan tetapi, tidak seharusnya aku menganggapnya sebagai masalah besar. Kau adalah istriku. Itu memang seharusnya terjadi. Namun aku merasa tidak seharusnya semua itu terjadi. Aku merasa malam itu adalah kesalahan. Mungkin itu karena aku belum bisa menerima kenyataan. Aku masih mengharapkan Krystal. Aku berharap semua ini adalah mimpi buruk, jadi aku bisa bangun lalu melihat semua baik-baik saja. Benar-benar baik.

“Wow, ini pertama kalinya aku berbicara panjang-lebar dengan seseorang yang tertidur pulas. Sebelum aku menjadi tambah gila, lebih baik kita pindah ke kamar~ ku yakin anakku tidak akan suka ibunya tidur di sofa,” serunya.

Daehyun mengangkat tubuh Jessica dan memindahkannya ke dalam kamar. Tubuh Jessica cukup ringan sehingga Daehyun tidak kesulitan sama sekali. Setelah meletakkan Jessica di atas kasur dan menyelimutinya, dia masuk ke kamar mandi.

Bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup, mata Jessica terbuka. Dia memiringkan tubuhnya lalu menarik selimut menutupi kepalanya. Daehyun tidak tahu ia mendengar semua kata-katanya tadi dan satu-satunya yang ia inginkan sekarang hanyalah membiarkan air matanya mengalir.

***

Jessica membiarkan matanya menelusuri kata demi kata di kertas yang membuatnya gila di hari setelah pernikahannya. Kertas berisi misi wajib yang harus ia lakukan. Baru kali ini ia membacanya lagi setelah Daehyun hampir saja membacanya. Beruntung hari itu ia hanya memiliki 1 kelas di siang hari jadi dia bisa bangun siang. Dia tidak mau Daehyun melihat matanya yang merah karena menangis semalam.

Kata-kata Daehyun semalam terus terngiang di pikirannya. Dia tahu dia harus melakukan sesuatu untuk membuat Daehyun menerima kenyataan. Menerima seorang Jessica Jung sebagai pasangan resminya sekarang, bukannya Krystal Jung.

Keguguran dicoret dari daftar rencananya. Untung saja ia lupa memberitahu Sandara karena beberapa hari kemudian hanya ia habiskan dengan memikirkan setiap momen di malam itu. Jika ia benar-benar melakukan rencana tersebut, sama saja dia memberikan kesempatan kedua kepada Daehyun untuk mengejar Krystal lagi. Mungkin saja, hanya misi-misi Sandara yang bisa membantunya.

“Kau pasti bisa!”

Jessica mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.

***

“Uh, apa?”

Daehyun tidak menyangka pagi hari di akhir pekan setelah sarapan bersama di apartemennya, Jessica akan meminta sesuatu yang tak pernah ia bayangkan untuk terjadi. Dia menatap Jessica tak percaya tapi lawan bicaranya malah memperhatikan mug di tangannya. Jessica tidak langsung menjawab, ia menghabiskan beberapa detik pertama dengan memainkan jarinya di bibir mug berisi coklat hangat.

“Aku bilang kita harus terbiasa menyentuh satu sama lain agar kita tidak akan canggung seperti ini lagi. Pelukan atau semacamnya, itu hal yang biasa dilakukan oleh suami-istri, ‘kan?” ujar Jessica pelan.

Daehyun menarik napas dalam. “Sooyeon noona—“

“Kau pasti keberatan. Aku tahu. Bukan berarti aku sangat menginginkannya dan akan memaksamu untuk setuju. Hanya saja, rasanya benar-benar tidak nyaman jika kita tinggal bersama tapi memperlakukan satu sama lain sebagai teman. Orang-orang pasti melihat kita sebagai pasangan aneh,” sela Jessica cepat. Jarinya kini memainkan ujung rambutnya.

“A-aku tidak keberatan kok.”

“Kau keberatan.”

“Err ya, sedikit.”

“Berarti kau setuju, ‘kan?”

“B-bukan—“

“Aku tidak memintamu untuk menciumku di muka umum setiap detik. Kita hanya melakukan ini di sini. Kalau dilakukan di luar sana pasti sangat memalukan.”

Daehyun menggigit bibirnya ragu. “Apa saja yang harus kita lakukan?”

“Kau tahu…” Jessica menarik napas dalam. “Berpelukan saat tidur, ciuman di kening sebelum berpisah, lalu… apa lagi, ya?”

“Mandi bersama. Menghabiskan weekend dengan berpelukan di kasur.” Daehyun memutar matanya. Matanya berhenti saat bertemu dengan mata istrinya yang membulat tak percaya. Daehyun pun sadar apa yang baru saja ia katakan. Dia mendeham. “I-itu… aku hanya becanda. Jadi… yah… hm… baiklah, aku setuju. Hanya berpelukan saat tidur dan ciuman di kening sebelum berpisah, bukan? Itu bukan hal yang sulit dilakukan.”

“…okay.”

Jessica menunduk. Daehyun tidak tahu seberapa merah muka istrinya karena celetukannya tadi.

***

Melihat sang istri sedang membaca novel di kasur, hampir saja membuat Daehyun berbalik badan. Jessica sudah siap untuk melakukan percobaan pertama dari perjanjian mereka. Dia sudah memakai piyamanya dan berada di atas kasur. Daehyun pun tidak jauh berbeda. Bedanya, Daehyun masih berdiri di ambang pintu kamar mandi.

Jessica menoleh lalu segera menutup novelnya dan menyimpannya di laci meja di sampingnya. Dia menatap suaminya bingung. Dia terkekeh setelah menyadari alasan Daehyun masih berada di tempatnya berdiri.

“Kau bertingkah seakan kasur ini akan melahapmu jika kau berbaring di atasnya, Daehyun-ah,” cibir Jessica sambil menepuk tempat yang biasanya ditiduri oleh Daehyun.

Daehyun membuka mulutnya hanya untuk menutupnya kembali sebelum sepatah kata pun terucap. Dia memutuskan untuk duduk di titik yang ditepuk oleh Sooyeon noona-nya tadi.

“Apa kau sudah mengantuk?” tanya Daehyun.

Jessica mendengus. “Harusnya aku yang bertanya. Kau tahu aku mudah tertidur, tak peduli aku mengantuk atau tidak.”

“Aku…” Daehyun menarik napas dalam. “Ya.”

Jessica pun mengubah posisinya menjadi berbaring. Daehyun mengikutinya.

“Jadi apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanya Daehyun.

Jessica menghela napas. Dia mulai berpikir ini adalah ide yang buruk. Saat dia hendak berbalik badan dan meminta Daehyun untuk melupakan perjanjian mereka, Daehyun memeluknya. Tidak cukup erat tapi sanggup membuat Jessica tidak bisa bernapas selama beberapa detik pertama.

“Seperti ini?”

Jessica mengatup bibirnya erat. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.

***

“Astaga! Astaga! Astaga!”

Jessica berlari masuk ke dalam ruang guru dan melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah natalnya di depan Sandara yang sedang membaca sesuatu di buku agendanya. Kehebohan yang tak disangka itu hampir saja membuat Sandara jatuh dari kursinya. Berlebihan memang, tapi jika tidak, apalah artinya Sandara?

“Woah~ tenanglah, Jessica Jung. Tarik napas dalam dan hembuskan perlahan. Lakukan berkali-kali sampai kau siap untuk menjelaskan alasan dari tingkah-lakumu pagi ini dengan perlahan,” seru Sandara.

Jessica melakukan apa yang disuruh oleh Sandara lalu terkekeh girang. Dia memeluk Sandara erat. Dia masih tidak percaya Daehyun memeluknya selama ia tertidur dan Daehyun benar-benar menyium keningnya sebelum ia berangkat ke sekolah. Akhirnya rencana tanpa campur tangan Sandara ini berhasil. Baiklah, Sandara tetap memiliki ide utamanya tapi Jessica lah yang mengembangkannya tanpa bantuan Sandara. Dia bahkan tidak peduli tatapan dari guru-guru lainnya. Dia terlalu sibuk dengan kesenangannya untuk peduli dengan mereka.

“Sekarang kau sudah siap menjelaskannya kepadaku?” tanya Sandara sambil melepaskan pelukannya paksa. Ia penasaran jadi dia tidak akan membiarkan pelukannya ini menghalangi dirinya untuk mendengar berita bagus dari Jessica.

“Kau tidak akan percaya ini.”

Sandara memutar matanya. “Jelaskan kepadaku dan lihat peruntunganmu nanti.”

Jessica pun menjelaskan perjanjian antaranya dan Daehyun. Tak lupa, ia juga menceritakan seberapa berhasilnya rencana itu.

“Astaga!” pekik Sandara heboh.

Oh God!” Jessica ikut dalam kehebohan tersebut.

“Astaga!”

Oh God!”

“Astaga!”

Oh—“

TRING~

“BEL SIALAN!!”

***

Jessica cemberut melihat barang-barang asing di apartemennya. Matanya menatap Daehyun tajam. Tangannya terlipat di depan dada.

“Apa-apaan semua ini?” tanya Jessica kesal.

“Sica noona!” seru Youngjae sebelum Daehyun sempat membuka mulutnya. “Kau suka semua ini? Ini semua adalah barang-barang untuk bayi, hadiah pernikahan dari keluargaku. Sebenarnya semua ini barang-barang yang terlanjur dibeli saat ibuku hamil dulu. Sayangnya, ibuku keguguran jadi semua ini disimpan di gudang. Desainnya cocok untuk bayi laki-laki maupun perempuan kok. Yang paling penting, semua ini belum pernah dipakai. Jadi semuanya diberikan kepadamu, Noona. Lumayan, ‘kan, untuk meminimalisir dana. Hehe..”

Wajah polos Youngjae ketika menjelaskannya menambah tajam pisau tak terlihat yang menusuk jantung Jessica. Wanita itu memijat keningnya. Murid-muridnya di sekolah sudah cukup membuatnya frustasi. Kini kepolosan Youngjae membuatnya frustasi. Semua karena kebohongannya itu. Jessica harus segera menangani hal ini sebelum ia benar-benar gila.

“Yoo ahjumma juga membawakanmu minuman herbal. Katanya, itu bisa menghilang capek dan menenangkan pikiran,” sahut Daehyun. “Biar aku siapkan. Sepertinya kau memang sangat memerlukannya sekarang.”

Oh ya, aku memang sangat membutuhkan itu, batin Jessica.

Youngjae membantu Jessica duduk di sofa sedangkan Daehyun menyiapkan minuman dari seseorang yang disebut Yoo ahjumma yang Jessica yakini sebagai ibunya Youngjae. Jessica menggumamkan terima kasih ke Daehyun saat suaminya memberikan gelas berisi cairan bening yang baunya membuat pernapasan lega. Dia mencoba menyesapnya sedikit dan langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya Youngjae.

“Pantas kau pulang cepat. Ternyata karena ada kiriman, ya?” cibir Jessica.

Daehyun mengacak rambutnya pelan sambil menyengir. “A-aku memang tidak ada kesibukan lagi kok. Kan sebentar lagi liburan semester. Makanya aku pulang. Kebetulan Youngjae memintaku untuk membawa semua barang yang disebut hadiah itu.”

“Hah? ‘Semua barang yang disebut hadiah itu’? Apa maksudnya?” sungut Youngjae.

“Tidak ada orang yang memberikan barang-barang ini sebagai hadiah pernikahan.”

“Anggap saja itu adalah hadiah kelahiran yang kecepatan kalau begitu.”

Jessica sontak menegak minumnya cukup banyak. Bertahun-tahun ia mengenal Youngjae, baru kali ini ia tidak menginginkan keberadaan Youngjae di dekatnya.

Daehyun tersenyum meledek. “Ya, benar.”

Aish, dasar tidak tahu diri! Harusnya kau berterima kasih kepadaku yang sudah menekan pengeluaran untuk kelahiran anakmu,” kesal Youngjae. Andai tidak ada Jessica, dia pasti sudah menimpuk Daehyun dengan sepatunya.

“Berhenti! Kalian tidak lihat kondisiku sekarang? Jika kalian ingin bertengkar, jangan disini! Pergi sana! Kalian menggangguku! Pergi!” geram Jessica.

Jessica mendorong Youngjae dan Daehyun ke arah pintu. Youngjae yang sadar diri, memutuskan untuk pergi keluar pintu dengan kakinya sendiri. Berbeda dengan Daehyun yang mencoba untuk mempertahankan posisinya.

Noona, aku minta maaf,” bujuk Daehyun. “Aku tidak—“

“Pergi! Pergi! Pergi!”

“Ayolah, Daehyun-ah. Kau tidak boleh keras kepala dengan istrimu. Ayo pergi dan biarkan istrimu tenang,” seru Youngjae.

Daehyun menarik napas dalam seraya menahan tangan Jessica agar berhenti mendorongnya. Sebelum Jessica sempat berteriak lagi, Daehyun mengecup keningnya cepat lalu berlari ke tempat sahabatnya menunggu.

“Aku akan pulang sebelum makan malam,” kata Daehyun sebelum menutup pintu.

Sementara itu, Jessica termatung di tempat sambil menyentuh keningnya. Daehyun ingat perjanjian mereka.

***

Youngjae berdecak sambil menghempaskan nampannya yang berisi es krim dan french fries di atas meja, diikuti oleh nampan Daehyun yang berisi kola, burger, ayam bagian dada dan french fries. Tanpa membuang waktu, Daehyun segera menyerang makanannya.

“Lain kali, kau harus langsung mengalah,” tegas Youngjae.

Daehyun meliriknya sambil tetap mengunyah. “Mengalah.. apa?”

“Jika Sica noona tiba-tiba marah, kau harus langsung mengalah dan menuruti apapun perkataannya. Wanita hamil memang mudah marah, senang, sedih, menangis tanpa sebab.”

Daehyun mengangkat bahunya acuh. “Ini pertama kalinya Sooyeon noona seperti tadi. Pantas saja jika aku salah menangani masalah.”

Youngjae menggeleng tak setuju. “Dae—“

“Aku tahu.” Daehyun menelan makanannya. “Tapi jujur saja, aku masih belum bisa menerimanya.”

“Menerima…nya?”

“Sooyeon noona.”

“Ada apa dengan Sica noona?”

“Aku masih memikirkan Krystal. Rasanya benar-benar sulit untuk menerima kenyataan bahwa Sooyeon noona lah yang menjadi istriku.”

“Kalau begitu jangan dirasa. Cukup dihayati~”

Daehyun mendelik kesal. “Kau tidak mengerti.”

“Ini keputusanmu. Bukan teman-temanmu, orangtuamu, Junyoung hyung, bahkan bukan pula keputusan Sica noona. Tidak ada yang memaksamu, jadi nikmatilah,” tanggap Youngjae.

Daehyun meminum kolanya sampai habis dan tersadar bahwa semua pesanannya sudah habis dari sekejap mata. Tangannya pun mengambil french fries milik Youngjae yang masih sisa setengah porsi.

“Hei, itu punyaku!!”

***

Daehyun pun berbaring di kasurnya. Dia memperhatikan Jessica dengan cermat. Teman-temannya benar, Jessica tidak kalah cantik dibandingkan dengan Krystal. Mereka mempunyai kecantikan yang berbeda. Dari kepribadian, Daehyun pun lebih suka dengan Jessica. Setidaknya Jessica lebih dewasa dari Krystal.

Lalu mengapa ia tidak bisa melihat Jessica sebagai seorang wanita, terlebih sebagai istrinya, bukan sebagai seorang kakak? Apa mungkin karena dia masih berada di bayang-bayang Krystal? Apa karena dia sudah terbiasa menganggap Jessica sebagai kakaknya? Sebenarnya tidak salah juga sih. Dengan keadaan sebelum semua ini terjadi, Jessica berada di urutan terakhir di daftar yang mungkin menjadi kekasihnya. Jessica adalah yang termustahil untuk ikut ke dalam hubungan percintaan bersamanya. Itu mungkin yang membuatnya sulit untuk melihat Jessica lebih.

“Berhenti menatapku atau kau akan jatuh cinta kepadaku,” celetuk Jessica sambil menutup bukunya lalu tersenyum kepada Daehyun.

“Itu yang ku harapkan terjadi,” gumam Daehyun pelan.

Melihat wajah Jessica yang datar, ia mengira istrinya tidak mendengar. Kenyataannya, dia hanya tidak tahu apa yang ada di dalam hati istrinya sekarang.

“Ayo tidur~” seru Daehyun.

Jessica tersenyum tipis. Dia tidak membiarkan Daehyun memeluknya. Dia malah menindih Daehyun.

“Aku mempunyai rencana yang lebih baik,” gumam Jessica.

Daehyun menatapnya bingung. “Apa?”

“Apa kau ingat malam itu?”

Daehyun berpikir sejenak lalu mengangguk. Dia tidak bisa melupakan malam itu. Sampai sekarang, dia masih penasaran apa yang membuatnya seperti itu.

“Sekarang kita akan melakukannya lagi. Hanya saja, sekarang kau sepenuhnya sadar.”

Sekejap, tubuh Daehyun terasa panas. “Noona—“

Wae? Bukankah ini adalah hal yang biasa?”

“T-tapi… kau sedang hamil.”

“Dokter bilang itu tidak apa-apa.”

“Tapi, Noona—“

Jessica membekap mulut Daehyun dengan ciuman panjang. “Kau hanya perlu menjadi anak baik dan nikmati. Karena kali ini, aku yang memimpin.”

Oh sial, sebesar apapun salahnya hal ini bagi Daehyun, undangan Jessica tetap lah hal yang mustahil untuk ditolak oleh pria manapun.

To Be Continued

Hayo siapa yang ngarep bakal ada adegan nc? Kalau authornya itu yura lin, harapan kalian takkan terwujud :p mungkin baru terwujud tahun depan? 2 tahun lagi? 3? 4? 5 tahun? Atau nunggu aku nikah dulu kali ya? .-.

Chapter ini cepet ya karena feelku ke ff ini emang bagus banget. Sayangnya kehadang aja di chapter 4 karena aku ga kuat ngetiknya. Dewasa banget isi pembicaraan para tokoh sedangkan aku masih kecil, unyu, polos, lugu gini ;__; /shot/

Terakhir, aku bakal hiatus. Ya, aku hiatus lagi. Bukan aku yang mau sih tapi chargenya pepo rusak. Jadi untuk sementara waktu, aku ga bisa mainin pepo dan artinya, aku ga bisa lanjut ff manapun. Padahal aku masih harus masukin data ke proposal dan siap untuk melanjutkan Show You T__T

39 thoughts on “180° – Chapter 5

  1. Apaabett dah ini ngakak ngakak xD itu Jessie sm Dara somvlak bangetlah , aku malah sampe dilemparin remote tivi sama adeq aku grgr berisik *poor me* –‘ hadoooh youngjae itu polos banget ato polos aja sih?._. Jujur aku ga suka Kryst masih ada di otak Daehyun *siepsiepcuciotakdae* daan aku dibikin cengo untuk part terakhir -. Bye author -_______- #move

  2. Aih nyesek bngt daehyun msh mikirin Krystal. Semoga dg berjalanny wkt, dia bs move on dr Krystal n mau terima sica! Hehe adegan terkahirny Itu sesuatu thor! Haha kl blm cukup umur lbh baik jgn d paksakan drpd pikiran Author jd melalang buana kmn2 hehehe😉
    Yaaaah, jgn hiatus lama2 y Thor! Ak amat sangat menanti karya2mu yg lain, lanjutan ff ini, lanjutan only because it’s you jugaa hehe
    Fighting n sukses selalu~

  3. scene terakhirnya ga banget lah, jess ternyata bisa kayak gitu juga yahh?
    eomma mana kepolosanmu?? #plak
    si daehyun itu sebenarnya tipe2 anak cowok yang baik, masa udah diusir juga masih inget sama perjanjian yang mereka bikin itu wkwkwk
    kayaknya ga enak banget punya hubungan kayak daehyun sama jessica disini, dua2nya tersakiti, kesiksa banget kalo udh ada kesalahpahaman sedikit. kira2 mereka tahan sampe kapan yaa kayak gthu terus :v

  4. Dan pada akhirnyaaa Jessica menjalankan segala rencana sandara. Wah, Sandara memang hebat mempersuasi orang. Saya apresiasi kelebihanmu sandara /ditendang/
    Aku jadi penasaran apa lama-kelamaan dae bisa cinta sama jessica beneran atau enggak setelah rencana itu semua dilakukan. Dan kalau emang jessica bakal bener-bener hamil, apa kebohongan jess bakal tetep terungkap? Dan ya untuk mengetahui semua itu saya harus tancap gas ke chapter selanjutnya /ngeng cuss/

  5. Nyesek deh ternyata Daehyun masih mikirin krystal … kapan ya dia bisa berpaling ke jessica??
    sandara memang pemberi ide yg hebat tapi nekat semua masa
    Dan Adegan terakhirnya itu …. astaga jessica jessica kkk~

  6. yahh daehyun masih sama bayang” krystal. sampe kan sih lo bang gak nganggep kakak gue?
    aaa bias aku yongjae polos banget ><
    author yura lin aku suka! aku jg gak bisa baca nc..untung deh
    good job!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s