180° – Chapter 6

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | 2NE1 Sandara

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

“Gravitation is not responsible for people falling in love.” – Albert Einstein

Jessica berlari kecil memasuki sebuah kafe di tengah kota Seoul. Sebenarnya bukan salahnya jika ia terlambat tapi yang mengundang lah yang mengajaknya terlalu mendadak. Tidak biasanya Junyoung mengajak bertemu di luar setelah ia tinggal tepat di depan tempat tinggal pria itu sekarang. Junyoung tidak memberitahunya untuk apa ia datang, dia hanya mengatakan ini sangat darurat. Mau tidak mau, saat bel berbunyi, Jessica segera lari ke ruang guru untuk mengambil semua barangnya lalu melesat ke tempat mobilnya terparkir.

Sungguh, ia mengutuk Junyoung yang sudah membuatnya berlari. Terlebih di musim kesukaannya, musim dingin. Ya, sekarang adalah awal musim dingin, alias 3 bulan setelah kejadian di rumah keluarga Moon yang menjadi bahan kebohongan Jessica dan 2 bulan setelah pernikahan mereka. Tinggal menunggu hari hingga satu per satu orang curiga dan kebohongannya pun terbongkar.

Jessica sempat mati kutu saat orang-orang menanyakannya tentang morning sickness. Awalnya ia kira itu akan menjadi akhir dari kebohongannya, tapi ternyata orang-orang menyatakan lega karena tidak banyak wanita hamil yang tidak mengalami morning sickness dan Jessica harus bersyukur karena tidak mengalaminya juga. Lalu ia juga kebingungan saat Daehyun menanyakan apa saja yang ia idamkan dan memintanya untuk tidak menahan segala keinginannya. Daehyun akan lebih dari bahagia untuk memenuhi segala yang diinginkan oleh Jessica alias ngidam. Mau tidak mau, Jessica meminta asal-asalan.

Jessica menarik kursi di depan Junyoung dan menghempaskan pantatnya cukup keras. “Kau berhutang satu cheese cake ukuran besar bertopping strawberry kepadaku!”

“Pelan-pelan, Jess.” Junyoung menggeleng sambil mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. “Kau tahu, kelakuanmu tadi berbahaya!”

Jessica mengerjap. “Berbahaya?”

Junyoung hendak menjawab tapi pelayan sudah berada di sampingnya. Setelah Junyoung menyebutkan menu wajib mereka, pelayan itu pun pergi. Kini tatapannya kembali tertuju kepada sahabatnya lalu turun ke perut yang masih rata itu.

“Sekarang semua tentangmu itu sensitif. Kau harus hati-hati jika tidak mau menyakiti, apalagi kehilangan janinmu. Berlari dan duduk tiba-tiba itu termasuk kebiasaan berbahaya sekarang,” jelas Junyoung.

Jessica menunduk. Dia mengemut bibir bawahnya sambil memainkan jari-jarinya. Dari semua orang yang ada di dunia ini, Junyoung adalah orang yang paling ia lindungi. Dia tidak mau berbohong kepada Junyoung lagi dan lagi. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Dia butuh kebohongan untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

“Ah, kau berlebihan. Dokter bilang kandunganku baik-baik saja jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku asal tidak terlalu berlebihan,” elak Jessica sambil mengibaskan tangannya main-main. “Jadi ada darurat apa sampai aku harus datang ke sini, eh?”

“Oh ya, aku punya berita penting untukmu.”

“Penting?”

“Ya! Penting sekali~”

“Apa? Apa? Apa?”

“Pokoknya penting sekali!”

Jessica menggebrak meja pelan. “Yah, Moon Junyoung! Berhenti bermain-main dan katakan saja kepadaku ada apa!”

Junyoung tertawa geli. Dia ingin memberitahu Jessica sebuah kabar baik tapi dia juga ingin mengulur waktu untuk membuat sahabatnya semakin penasaran. Berbeda dengan dirinya yang terbiasa menjawab segala pertanyaan, Jessica lebih ke tipe orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan tapi kesal jika pertanyaannya tidak dijawab dengan baik. Dia memang pantas menjadi seorang guru.

“Rumah sakit tempatku bekerja melakukan kerja sama dengan rumah sakit di Australia. Oleh karena itu, akan dilakukan pertukaran pekerja. Saat ini sedang dilakukan seleksi untuk menentukan siapa saja yang akan dikirim ke rumah sakit tersebut,” ujar Junyoung.

Jessica mengangguk. Matanya tetap tertuju kepada Junyoung walaupun pelayan sedang meletakkan semua pesanan di meja pertanda dia meminta Junyoung untuk melanjutkannya. Junyoung tidak langsung menurutinya, dia berbasa-basi dengan pelayan dahulu dan baru lah kembali ke berita yang ingin ia sampaikan.

“Sejauh ini, perjalananku baik-baik saja. Kemungkinan besar, aku lah yang akan terpilih sebagai dokter muda yang dikirim untuk mengikuti program tersebut,” lanjut Junyoung.

No way! Mengapa baru cerita?!”

“Aku juga tidak tahu apa-apa sampai akhirnya namaku dipanggil untuk mengikuti seleksi. Padahal aku tidak mendaftar. Seleksi itu murni berdasarkan keinginan.”

“Tunggu, jadi siapa yang mendaftarkanmu?”

Junyoung menggeleng. Jika sahabatnya memang pintar, Jessica pasti tahu siapa. Terkadang temannya memang bodoh. Atau kehamilannya membuatnya bodoh?

“Siapa lagi kalau bukan ayahku? Tidak ada orang yang bisa mendaftarkanku selain diriku sendiri dan ayahku?”

Jessica menjentikkan jarinya sambil mengangguk. “Oh~ ya ya ya. Kau benar!”

Akhirnya perhatian Jessica pun tertuju pada potongan cheese cake di di atas meja. Matanya berbinar girang. Tangannya pun segera meraih sendok.

“Bukan itu ekspresi yang ku harapkan!” protes Junyoung.

Jessica kembali mengerjap bingung.

“Kau tahu, ‘kan, apa akibatnya dari beritaku tadi?”

“Kau pergi keluar negeri.”

“Selama 2 bulan, bahkan lebih.”

“Uh-hu, lalu?”

“Kau tidak menangis dan memintaku untuk tidak pergi?”

Jessica mendengus. “Mengapa harus?”’

“Karena ini akan jadi pertama kalinya kita terpisah setelah bersahabat selama 8 tahun.”

“Tapi kau akan kembali kesini. Lalu untuk apa aku menangis?”

Junyoung menghela napas panjang. Tangannya menangkup wajah Jessica dan mengguncangnya pelan sehingga wanita itu mengeluarkan suara lucu. Jessica pun menarik tangan Junyoung menjauh.

“Aku pergi 2 atau 3 minggu lagi. Aku tidak akan ada di sampingmu di saat paling penting di masa kehamilan,” jelas Junyoung gemas.

“Saat paling penting apakah itu?”

Junyoung menghela napas panjang. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya. Dimana-mana, setiap wanita yang menyadari dirinya sedang mengandung, mereka pasti berusaha mencari tahu semua hal tentang kehamilan dan bayi. Namun Jessica terlihat seperti tidak tahu apa-apa dan tidak tertarik sama sekali.

“Saat anakmu mulai bergerak, Jess. Anakmu hidup. Itu terjadi sekitar satu sampai dua bulan lagi saat perutmu mulai membuncit.”

Jessica menjilat bibirnya. Itu artinya satu sampai dua bulan lagi sebelum kebohongannya terbongkar.

***

Tidak seperti biasanya, Daehyun pulang lebih cepat dari Jessica. Memang, selama liburan ini, Daehyun menghabiskan waktu dengan mengurus tempat pencucian milik keluarganya. Tempat itu menjadi hak miliknya setelah manager sebelumnya mengundurkan diri. Lumayan lah, penghasilannya bisa menjadi tambahan uang jajan dan ditabung untuk kelahiran anaknya.

Baru saja, ia duduk di sofa, bel pintu berbunyi. Dengan enggan, dia bangkit untuk melihat siapakah tamunya. Dia terburu-buru membuka pintu setelah melihat sosok ibu mertuanya lah yang datang.

Annyeonghaseyo, Oemmonim. Silahkan masuk,” salam Daehyun sopan.

Nyonya Jung hanya memberikan senyuman tipis seraya melangkah masuk. Matanya menelusuri setiap sudut apartemen. Daehyun tahu ibu mertuanya sedang mencari keberadaan anak sulungnya.

“Sooyeon noona masih di sekolah. Silahkan duduk,” kata Daehyun.

Lagi-lagi nyonya Jung hanya memberikan senyuman tipis. Daehyun sudah terbiasa dengan sisi dingin ibu mertuanya sejak dia dan istrinya mengumumkan tentang kehamilan Jessica. Dia juga tahu bahwa orangtua Jessica tidak menerimanya dan lebih mengharapkan Junyoung untuk menjadi suami Jessica. Walaupun pernikahan ini bukan keinginannya juga dan merasa terganggu dengan perubahan sikap ini, Daehyun tidak berani mengomentari sikap dingin mertuanya.

“Mau minum sesuatu?” tanya Daehyun.

Ibu mertuanya menggeleng. “Terima kasih, Daehyun-ah, tapi aku hanya sekedar mampir. Ada hal penting yang perlu ku bicarakan dengan Sooyeon.”

“Oh..” Daehyun menggigit bibirnya gugup. “Kalau begitu, aku akan menelepon Sooyeon noona agar segera pulang.”

Nyonya Jung menggeleng. “Cukup katakan padanya bahwa aku akan datang ke sekolah.”

***

“Oh, Umma~” Jessica berlari kecil menghampiri sang ibu dan mencium pipinya. “Tumben sekarang Eomma datang ke sekolah. Pasti ada hal yang sangat penting, ya?”

Nyonya Jung menarik napas dalam. Dia menyuruh Jessica untuk masuk ke dalam mobil agar tidak seorang pun bisa mencuri dengar dari topik yang akan mereka bicarakan.

“Aku harus memberitahukanmu sesuatu yang sangat penting. Semoga berita ini tidak akan membuatmu terguncang dan kandunganmu akan baik-baik saja,” kata ibunya setelah mereka berada di dalam mobil.

Jessica mengerjap tidak mengerti. “T-tunggu, apa ini maksudnya?”

“Aku dan ayahmu akan bercerai, Sooyeon-ah. Eomma sudah memberitahukan Soojung via telepon sebelum pergi kesini. Sekarang aku akan pulang ke kampung halamanku dan ayahmu tetap di sini untuk mengurus perceraian. Maaf karena tidak bisa menemanimu melewati masa-masa kehamilan.”

Untuk beberapa saat, napas Jessica tercekat. Dia tidak bisa bernapas. Selama ini, orangtuanya tidak pernah bertengkar. Dia bingung dan panik saat tiba-tiba orangtuanya menyatakan akan bercerai.

“Apa alasannya?” Akhirnya Jessica bisa kembali membuka mulutnya. “Tidak mungkin—“

“Ayahmu selingkuh. Eomma memergokinya secara langsung.”

Appa—apa?”

“Sooyeon, aku tahu ini—“

“Aku mengerti. Sangat mengerti.”

“Sooyeon—“

“Aku mengerti, Eomma. Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah dewasa.”

Sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Hanya saja, saat ini, dia tidak mendengar lebih lanjut tentang berita ini. Jika orangtuanya seperti orangtuanya Junyoung yang bersikap dingin satu sama lain, mungkin dia tidak akan kaget dan terluka. Dia terbiasa melihat orangtuanya sebagai pasangan bahagia dan selalu ingin menjadi seperti mereka.

Ibunya tersenyum lega. “Ya, aku tahu. Lagipula kau mempunyai Daehyun di sampingmu. Kau pasti akan baik-baik saja. Dia pasti akan menjadi suami terbaik bagimu.”

Air mata yang hampir mengalir sukses berhenti ketika Jessica mendengarnya. Rasanya sesak semakin menekan hatinya.

Daehyun, ya…

“Dengar, Sooyeon-ah. Kau harus tahu ini. Jika kesalahannya hanyalah selingkuh, mungkin aku masih bisa memaafkannya. Tapi ini sudah keterlaluan, Sooyeon-ah. Dia sering berbohong untuk menutupi perselingkuhannya. Ini mengapa aku mengajarimu dan adikmu untuk selalu jujur karena aku selalu menghargai kejujuran. Lagi pula, hubungan yang dibangun dengan kebohongan pasti rapuh dan menyakitkan.”

Andai saja ibunya tahu, kata-katanya tidak hanya menyindir sang ayah tapi juga secara tidak langsung, menyindir anak sulungnya.

***

Setelah kepergian ibu mertuanya, Daehyun pun menyibukkan diri dengan mencari bukti pengeluaran yang ia simpan di laci meja. Memang bukti pengeluaran harusnya disimpan di kantornya tapi karena beberapa alasan, ada beberapa bukti pengeluaran yang ia bawa ke rumah. Dia mengecek di setiap laci, bahkan buku, kalau-kalau bukti pengeluarannya terselip.

Tinggal satu bukti lagi yang belum ditemukan sedangkan ayahnya sudah menagih laporan keuangan. Karena ia tidak menemukannya di tempat barang-barangnya tersimpan, ia membuka laci tempat Jessica menyimpan buku-bukunya. Sebuah kertas pun meluncur jatuh.

“Hah, akhirnya ketemuan juga—“

Daehyun tidak bisa bernapas saat membaca isi kertas itu. Kertas itu bukan kertas yang ia cari. Kertas itu berisi misi wajib yang harus dilakukan oleh Jessica. Sebuah kertas yang ditulis oleh Sandara.

“Apa-apaan ini?”

***

Keadaan sepi di apartemen bukanlah hal yang aneh bagi Jessica. Dia sudah terbiasa. Walaupun Daehyun memang melakukan setiap perjanjian mereka dan sudah mulai nyaman bersamanya, pria itu tetap menghindari kesempatan untuk menghabiskan waktu terlalu lama bersamanya. Jessica malah bersyukur karena setidaknya bebannya tidak akan terlalu berat saat kebohongannya terbongkar.

Dia melempar tasnya ke sembarang tempat dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Akhir-akhir ini, dia selalu saja lelah. Tidak aneh, kerjaannya tiga kali lipat lebih berat dari biasanya karena ujian seleksi masuk universitas yang dilakukan secara nasional akan diadakan di pertengahan musim dingin. Dia adalah satu dari banyak guru yang diminta untuk membimbing para murid kelas terakhir. Tidak jarang, ia juga ditunjukkan untuk mengajar di kelas malam.

Jessica memaksakan diri untuk melangkah ke kamarnya. Setelah hari yang berat ini, dia hanya menginginkan kasurnya. Matanya sudah tertutup sesaat dia menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu menarik selimut. Ia tidak peduli jika dia tidur dengan pakaian kerjanya. Dia terlalu lelah untuk melakukan sesuatu, walaupun itu hanya mengganti pakaiannya.

Akan tetapi, beberapa detik kemudian, dia membuka matanya dan menyadari kamarnya yang berantakan. Harusnya kamarnya tidak akan sekacau ini karena dia menyewa seseorang untuk membersihkan dan merapikan apartemennya setiap hari. Dengan malas, ia mengubah posisinya menjadi duduk agar bisa melihat keadaan kamarnya lebih jelas.

“Oh tidak…”

Matanya tertuju pada secarik kertas yang selama ini ia simpan baik-baik itu tergeletak di atas lantai. Dan jika otaknya tidak salah, ia tahu satu-satunya orang yang bisa membuat kamar ini berantakan.

Daehyun.

***

No. No. No. No.” Jessica berjalan kesana-kemari sambil menggigit jarinya. “Bagaimana ini? Bagaimana ini?”

“Jess, tenanglah. Kau harus duduk dan kita bicarakan baik-baik,” sahut Sandara.

Setelah mendapatkan telepon dari Jessica, Sandara segera bergegas ke apartemen ini. Saat ia sampai, keadaan Jessica sudah kacau. Matanya benar-benar merah karena menangis. Sandara menunggu Jessica berhenti menangis tapi saat wanita itu sudah tidak bisa menangis, dia malah berjalan mondar-mandir. Sandara tidak bisa memberikan saran apapun jika Jessica saja tidak tenang.

“Coba telepon Daehyun dan pastikan segalanya,” usul Sandara.

“Aku sudah melakukannya tapi tidak ia angkat. Aku sudah mencoba menelepon semua orang tapi tidak ada yang melihatnya. Aku sudah mencoba segala hal, Dara-ssi. Segala hal! Semuanya gagal. Tidak ada yang tahu dimana Daehyun. Terakhir aku berbicara dengannya, dia ada di sini, menyambut ibuku. Di sini, Dara. Di sini.”

“Mungkin dia hanya mampir untuk menyapa istrinya tapi karena istrinya tidak ada, dia pergi~”

“Tidak, dia pulang untuk mengambil beberapa bukti pengeluaran. Artinya memang dia lah yang membongkar setiap laci dan membuat kamar berantakan. Dia lah yang menemukan surat darimu. Kertas itu menjadi bukti kuat bahwa aku tidak hamil dan kau adalah komplotanku.”

Baiklah, Sandara menyerah. Dia mencoba memikirkan berbagai ide tapi tak satupun berhasil.

“Apa kau tahu tempat yang pasti dia kunjungi saat mendapatkan masalah besar? Bukankah kau pernah bilang bahwa Daehyun menceritakan segalanya kepadamu, bahkan dia jauh lebih terbuka kepadamu dibandingkan siapapun?”

Pertanyaan Sandara sukses menghentikan langkah Jessica.

“Busan.”

Sandara mengerutkan keningnya. “Apa?”

“Busan. Rumah ibunya.”

“Tapi, Jess, itu sekitar 5-6 jam dari sini!”

“Ya, tepat! Sekitar 1-3 jam lagi Daehyun sampai di rumah ibunya. Aku harus datang kesana!”

***

Jessica pergi dengan kereta pertama di esok harinya. Sandara memohon untuk ikut menemaninya tapi tidak ia hiraukan. Dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Untung saja dia ingat jalan ke rumah tempat Daehyun dibesarkan sebelum suaminya pindah ke Seoul. Dia dan Krystal pernah beberapa kali berlibur ke sana di liburan musim panas karena kebetulan rumah Daehyun dekat dengan pantai. Pantas saja jika kulit Daehyun terlihat gelap jika berdiri di sampingnya.

“Kursi 23A..” gumamnya sambil mencari kursi yang ia duduki selama perjalanan.

“Oh, ini dia!”

Jessica menoleh saat mendengar seseorang menyerukan hal yang sama. Matanya membulat melihat siapa yang menjadi teman seperjalanannya.

“Daehyun-ah?”

Orang yang menjadi alasannya datang ke Busan ternyata berdiri di depannya sekarang. Untung saja ia memakai kacamata hitam sehingga Daehyun tidak akan melihat matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Jessica tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Dia juga tidak mengerti mengapa dia bertemu dengannya di sini. Bukankah Daehyun sudah berangkat dari kemarin?

“Kemarin aku menginap di rumah Youngjae,” ucap Daehyun seakan mengerti apa yang ada di pikiran Jessica.

Tunggu, sejak kapan Daehyun mengerti dirinya?

“Oh..”

Dan mengapa takdir begitu kejam? Ya memang, Jessica naik kereta ini untuk bertemu dengan Daehyun, tapi tidak sekarang. Hatinya belum siap untuk bertatapan muka dengan Daehyun.

“Mengapa kau—“

Study tour. Sekolahku mengadakan study tour ke Busan tapi aku terlambat. Jadi aku menyusul dengan kereta.”

“Oh.” Daehyun mengangguk. “Bukankah kau adalah guru pembimbing murid tahun terakhir?”

Oh iya! Aduh, kau bodoh sekali, Jessica Jung!

“Aku yang meminta untuk ikut karena aku pikir aku butuh berlibur,” jelas Jessica, lagi-lagi berbohong.

Daehyun mengambil tas berisi pakaian dan peralatan lainnya di tangan Jessica dan meletakkannya di tempat penyimpanan di atas. “Sejak kapan kau hobi berbohong?”

Jessica menggenggam ujung mantelnya kuat-kuat. Lagi-lagi, dia tidak menyangka Daehyun sadar akan kebohongannya. Sungguh, sejak kapan Daehyun bisa membaca pikirannya? Seingatnya, Daehyun adalah orang yang paling tidak peka terhadap perasaannya dulu. Jika Jessica tidak mengatakannya, maka Daehyun tidak akan tahu. Berbeda dengan sekarang.

“Aku ingin menyusulmu karena ku pikir kau pergi ke rumah ibumu,” gumam Jessica.

Jessica berusaha untuk menatap mata Daehyun tapi pria yang berstatus sebagai suaminya malah memperhatikan pemandangan di luar jendela.

“Duduklah. Sebentar lagi kereta akan berangkat,” kata Daehyun tanpa menoleh.

Jessica pun menurut. Dia kembali memaki takdirnya yang mendapatkan duduk di depan Daehyun. Akan lebih mudah jika ia duduk di samping Daehyun sehingga matanya bisa menghindari sosok Daehyun. Namun nyatanya, dia mendapat kursi di samping jendela, di depan Daehyun. Sengaja maupun tak sengaja, matanya pasti memperhatikan sosok di depannya.

“Setelah aku membaca misi-misimu itu, aku langsung berlari ke stasiun. Dalam perjalanan, aku bertemu Youngjae dan dia melarangku pergi sebelum aku menceritakan semuanya,” ujar Daehyun.

Jessica mengangguk. Artinya Youngjae pun sudah tahu akan kebohongannya. Akan tetapi, dia kecewa karena Youngjae tidak memberitahunya tentang Daehyun dan malah berbohong bahwa dia tidak bertemu dengan Daehyun sama sekali kemarin.

“Aku—“

“Apapun itu, kita bicarakan masalah ini saat kita sampai. Kita tidak bisa bertengkar di dalam kereta, bukan?” sela Daehyun cepat.

Jessica kembali mengangguk. Tangannya masih mencengkram ujung mantelnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tahu perjalanan ini akan menjadi perjalanan terberat, tak peduli dengan adanya gravitasi maupun tak adanya gravitasi.

***

Ibunya Daehyun menyambut mereka dengan antusias walaupun ia sadar betapa suramnya wajah sepasang pengantin baru itu. Walaupun mereka sudah menikah sejak 2 bulan yang lalu, mereka tetap termasuk pengantin baru, ‘kan?

“Oh-hoo~ kalian pasti ingin memberikanku kejutan, ya?” canda ibunya Daehyun.

Jessica hanya tersenyum tipis sedangkan Daehyun masuk ke kamarnya begitu saja. Tingkah-laku Daehyun membuat nyali Jessica semakin ciut untuk menjelaskan segalanya.

“Duduklah, kau pasti lelah.”

Tidak hanya lelah, dia juga pusing dan mual. Jessica benar-benar benci keadaannya sekarang.

“Kau mau minum sesuatu?” tanya ibu mertuanya.

Jessica menggeleng. Tangannya sempat berhenti mencengkram ujung mantelnya, kini kembali mencengkram kuat. Dia juga sedang ketakutan.

“Tidak perlu takut. Katakan padaku masalah kalian,” ucap ibu mertuanya lembut.

Kini tangis yang selama 5 jam ia tahan pun pecah. Pelukan dari ibu mertua membuat isak tangisnya semakin parah. Lagipula, hanya ini yang ia perlukan sekarang. Menangis sampai puas.

***

Jessica tidak menghabiskan makan siangnya. Masakan ibunya Daehyun memang sangat nikmat, bahkan jauh lebih baik dari ibunya sendiri. Akan tetapi, kondisi kesehatannya semakin memburuk diakibatkan terjaga sepanjang malam dan menangis terus-menerus. Belum lagi mentalnya yang sudah terlebih dahulu hancur karena berita dari ibunya. Baru sedikit makanan yang masuk, rasanya sudah sangat mual.

Sementara itu, Daehyun masih belum mau keluar dari kamarnya. Berkali-kali ibunya mencoba, tetap saja Daehyun tidak memberikan respon. Jika seperti ini, Jessica tidak bisa mulai menjelaskan semua kebohongannya. Padahal pihak sekolah sudah meneleponnya untuk memberitahukan bahwa pengajuan cuti Jessica ditolak. Sekolah mana yang membiarkan gurunya berlibur saat nasib murid-muridnya berada di ujung tanduk?

Jessica duduk bersandar di pintu kamar Daehyun. Dia mengetuk pintu beberapa kali tapi sama saja, tidak ada jawaban.

“Kalau kau tidak mau bertemu denganku, tidak apa. Namun aku harus tetap menjelaskan segalanya. Jadi tolong dengarkan aku baik-baik karena kali ini, aku tidak akan berbohong sama sekali,” tegas Jessica.

“Kau tahu bukan siapa aku? Sooyeon noona, sang kakak yang tidak akan mungkin menjadi pendamping hidupmu. Kau pun tahu, hubungan percintaan adalah mustahil bagi kita. Tentu saja, kau tidak akan peduli tentang itu karena memang, kau hanya menganggapku sebagai sosok seorang kakak yang tak pernah kau temukan di diri Junyoung.

“Tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku? Pernahkah kau berpikir apa aku juga hanya menganggapmu sebagai seorang adik? Tidak, kau tidak pernah. Kau tidak pernah tahu bahwa aku mencintaimu sebagai seorang laki-laki, bukan adik. Kau tidak pernah peduli dengan perasaanku. Di otakmu hanyalah Krystal, Krystal dan Krystal. Dengan begitu, kau buta akan sekelilingmu. Tidak apa. Aku tahu bukan hanya itu alasannya. Junyoung pun menjadi alasan mengapa aku mustahil bagimu. Kau terlalu takut untuk mencari masalah dengan Junyoung, apalagi Junyoung sangat menjagaku. Aku tahu dan aku mengerti. Tapi tetap saja, ini semua tidak adil bagiku. Aku bahkan belum berusaha tapi hasilnya sudah mustahil. Apa kau tahu betapa frustasinya aku?

“Apa kau tahu apa yang membuatku semakin frustasi? Melihatmu mengejar Krystal dan terpuruk karena Krystal. Aku sudah berusaha membuatmu melihatku agar berhenti melihatnya. Akan tetapi, lagi-lagi status ‘kakak’ menggagalkannya.

“Di puncak kefrustasianku, Sandara datang dan memberikanku bantuan. Tidak, aku tidak akan menyalahkannya. Dia hanya memberikan ide tapi aku malah melakukannya. Aku bodoh, ya? Aku melakukan hal bodoh hanya demi cinta. Akan tetapi, aku yakin kau akan melakukan hal yang sama jika kau berada di posisiku dan Krystal berada di posisimu. Tidak usah berandai-andai, karena memang sudah beberapa kali terbukti.”

Jessica berhenti sejenak saat rasa sakit menyerang kepalanya. Sekarang dia menyesal karena tidak membawa Sandara bersamanya. Entah bagaimana nasibnya nanti saat pulang ke Seoul dengan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.

“Sooyeon-ah,” lirih ibu mertuanya yang menonton dari kursi di ruang tamu.

Jessica tersenyum tipis sambil mengacungkan ibu jarinya. Dia harus tetap baik-baik saja sampai dia kembali ke Seoul. Daehyun tidak boleh tahu bagaimana keadaannya sekarang.

“Aku tahu bohong bukanlah pilihan yang tepat untuk segala masalah. Aku menyesali setiap kebohonganku setiap malam. Percaya atau tidak, aku lega karena kebohonganku sudah terbongkar sekarang. Kau boleh membenciku atau sebagainya. Akan tetapi, jangan larang aku untuk terus mencintaimu. Walaupun rasanya sangat menyakitkan seperti cinta ini membunuhku perlahan.”

Jessica menarik napas dalam. “Aku akan kembali ke Seoul sore ini karena sekolahku menolak penganjuan cutiku. Semoga saat kau kembali ke Seoul, kau mau menemuiku untuk menyelesaikan masalah ini secara langsung.”

***

Jessica membuka matanya perlahan. Terakhir kali ia ingat, dia sedang berjalan keluar dari kereta dan pergi ke tempat taksi-taksi berkumpul lalu pandangannya pun menjadi hitam.

Melihat sang pasien sudah sadar, para perawat pun memanggil dokter. Kebetulan sekali dokter yang sedang bertugas di Emergency Room adalah sahabatnya sendiri, Moon Junyoung. Jessica pun segera sadar dimana dia sekarang.

“Syukurlah kau sudah sadar,” gumam Junyoung penuh kelegaan.

Sang dokter pun segera memeriksa kondisi Jessica. Tak lupa, dia mengambil sampel darah Jessica untuk diteliti di laboratorium rumah sakit. Setelah semuanya selesai, dia segera menyiapkan kamar rawat untuk Jessica.

“Aku tidak perlu dirawat. Ini hanya sakit biasa,” tolak Jessica pelan. Padahal ia sudah sekuat tenaga menggerakkan pita suaranya tapi suara yang keluar sangat pelan.

“Kondisimu sekarang benar-benar parah, Jess! Berhenti keras kepala!” omel Junyoung. “Oh Tuhan, dimana bocah itu? Mengapa aku sulit sekali menghubunginya? Keterlaluan sekali, istrinya sedang sakit parah, dia malah menghilang tanpa jejak!”

“Dia berada di rumah ibunya.”

“Oh kau juga dari sana? Pantas saja kau pingsan di stasiun. Daehyun benar-benar bodoh! Memangnya dia tidak tahu kalau kau sedang sakit? Mengapa dia membiarkanmu pulang sendiri, uh? Lihat saja, saat dia pulang nanti, aku akan membunuhnya!”

“Junyoung-ah, jaga suaramu. Ini rumah sakit.”

Junyoung pun tersadar dimana ia berada dan apa jabatannya di tempat itu. Tidak seharusnya perasaan seorang sahabat membuatnya tidak profesional.

“Aku tahu sesuatu terjadi dan kau berhutang penjelasan kepadaku,” tekan Junyoung sebelum pergi meninggalkannya dan membiarkan perawat lain untuk membawanya ke kamar yang sudah disiapkan.

***

Besok paginya satu jam sebelum jadwal praktek Junyoung di mulai, Jessica dibawa oleh seorang perawat dengan kursi roda untuk dirontgen karena beberapa keluhan dari Jessica tentang tubuhnya. Setelah hasilnya muncul, perawat mendorong kursi Jessica menuju ruang praktek Junyoung pagi itu.

Sebenarnya, Jessica mengira Junyoung tidak ingin bertemu dengannya setelah ia menjelaskan semuanya semalam. Yap, dia sudah mengakui segala kebohongannya kepada Junyoung dan apa saja yang terjadi saat Daehyun mengetahuinya. Sahabatnya hanya diam seperti Daehyun. Untung saja, sahabatnya tetap mau bertemu dengannya.

“Jika kau belum mengakuinya, aku yakin semua penyakitmu ini karena kelelahan dan tekanan mental saat masa kehamilan. Akan tetapi, setelah tahu, kau membuatku cukup cemas karena kondisimu kemarin benar-benar parah,” kata Junyoung sambil menatap satu amplop kecil berisi hasil darah dan satu amplop besar berisi foto hasil rontgen.

Amplop kecil lah yang pertama kali dibuka oleh Junyoung. Dia membacanya sejenak lalu menggeleng kecewa.

“Kau tahu anemiamu cukup parah, Jess. Mengapa kau tidak meminum obat yang selalu ku kirim setiap bulan? Lihatlah sekarang, anemiamu benar-benar parah! Pantas saja keadaanmu seperti ini. Tekanan darahmu juga rendah. Kesehatanmu sangat kacau! Apa gunanya mempunyai sahabat berprofesi dokter jika kesehatanmu seburuk ini?” omel Junyoung panjang-lebar.

Jessica tersenyum kecil. Setidaknya itu artinya Junyoung mungkin marah dengan kebohongannya tapi pria itu mengerti. Saat ini, dia memang hanya membutuhkan Junyoung untuk percaya kepadanya.

Kini Junyoung mengeluarkan isi amplop besar dan meletakkannya di papan yang meletak di dinding, tak lupa, ia menyalakan lampu papan tersebut. Junyoung cukup kesulitan untuk melekatkan foto tersebut di papan. Matanya tidak sengaja menangkap gambar aneh di bagian bawah. Tangannya bergemetar.

“Jess…” Junyoung seakan tersedak oleh kata-kata yang ingin ia katakan. “You are with child.”

Jessica mengerjap bingung. Dia tidak terlalu mendengar kata-kata Junyoung. “Apa kau bilang?”

Junyoung menghela napas panjang saat akhirnya foto tersebut berhasil diletakkan di papan. Dia menunjukkan sebuah gambar di bagian bawah.

“Ini bagian rahimmu. Gambar ini adalah janinmu,” jelas Junyoung.

“A-apa? Tidak mungkin. Tidak mungkin. B-bagaimana bisa?”

Junyoung tidak menjawab karena Jessica sendiri lah yang tahu jawabannya. Junyoung menulis sesuatu di kertas.

“Aku akan membuat surat rujukan ke dokter Park. Sekitar 2 jam lagi, perawat akan membawamu menemui dokter Park,” ucap Junyoung lalu menatap sahabatnya yang menundukkan kepala. “Jessica, kau dengar aku?”

Jessica hanya diam.

“Kau akan memberitahu Daehyun, bukan?”

Jessica mengangkat wajahnya. Air matanya mengalir saat tatapannya bertemu dengan Junyoung. Dia menggeleng. Dia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Daehyun. Kemungkinan besar, dia akan mengira hal ini adalah sebuah kebohongan lainnya.

“Aku tidak tahu, Junyoung-ah. Tidak tahu…”

“Jess—“

“Bagaimana jika dia tidak percaya?”

“Rumah sakit ini siap menjadi saksi, Jess. Dia pasti percaya.”

Jessica sibuk terisak. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Daehyun nanti.

“Tidak, aku tidak mau. Aku akan menggugurkannya sebelum dia tahu,” gumam Jessica.

“Jessica! Kau tidak tahu apa yang kau pikirkan! Jangan memutuskan pilihan seenaknya. Sekarang kondisimu sedang tidak baik. Kau hanya bingung. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya menenangkan pikiran.”

Jessica menggeleng. “Tidak, Junyoung. Ini adalah yang terbaik. Karena cepat atau lambat, Daehyun akan meninggalkanku. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia tetap akan meninggalkanku.”

“Jessica..”

“Tidak mau!”

***

Suasana di ruang makan sangat sepi. Tidak biasanya itu terjadi. Ibunya adalah sosok yang enerjik dan senang berbicara tentang ini-itu. Aksi diamnya pasti karena dia marah. Daehyun hafal itu.

Bukan salahnya juga, pikir Daehyun. Dia memang tidak ingin bertemu dengan Jessica untuk beberapa hari ke depan tapi dia malah bertemu di kereta.

Eomma.”

Ibunya mengggeleng. “Jangan bicara kepadaku. Aku kecewa dengan sikapmu kemarin. Sooyeon sedang sakit tapi kau malah memperburuknya. Aku kecewa.”

“Kau tahu apa yangg dia sudah perbuat, bukan?”

“Kau pernah menjadi budak cinta sekali tapi dalam kurun waktu yang cukup lama. Harusnya kau mengerti perasaan istrimu sendiri. Kau boleh marah tapi kau harus ingat dia sedang hamil, Daehyun-ah…”

Daehyun mendengus. “Dia hanya pura-pura hamil agar bisa memilikiku. Kenyataannya, dia tidak hamil. Rahimnya kosong.”

“Ku rasa tidak.”

Eomma—“

“Jika kau memperhatikan bentuk pinggangnya, kau akan sadar dia benar-benar hamil sekarang.”

“Mungkin dia operasi agar pinggang terlihat seperti wanita hamil.”

“Jung Daehyun!”

Grett~

Daehyun bangkit dengan gerakan cepat. “Maaf, tapi ini kali ini aku akan memutuskan hal ini sendiri. Aku akan menceraikannya.”

“Tapi, Daehyun—“

“Bukankah Eomma pernah mengatakan bahwa hubungan paling rapuh adalah hubungan yang dimulai dengan kebohongan?”

“Iya, tapi—Daehyun! Kembali kesini! Aish~”

Ibunya mengomel kesal melihat anaknya kembali mengunci diri di dalam kamar.

***

Wanita berumur 45 tahun itu memijat keningnya. Setelah dibuat kesal habis-habisan oleh anak satu-satunya itu, akhirnya dia mengusir Daehyun untuk kembali ke Seoul. Jika Daehyun tidak mau kembali pun bukan urusannya. Pokoknya rumah itu kembali terbuka untuk Daehyun jika Daehyun mau menyelesaikan urusannya langsung dengan Jessica.

Dia kembali mengomel saat telepon rumahnya berdering. “Yoboseyo,” dia berkata dengan kesal.

Yoboseyo. Jung ahjumma?”

Alisnya hampir menyatu karena bingung. Ia tidak kenal suara si penelepon tapi si penelepon tahu namanya. “Siapa ini?”

“Moon Junyoung, kakak tirinya Daehyun sekaligus sahabatnya Jessica.”

Rahang bawahnya pasti jatuh jika tidak ada kulit dan otot yang menahannya. Dia tidak pernah mengira Junyoung akan meneleponnya. Mengingat masa-masa dulu dan setia cerita Daehyun tentang Junyoung, dia yakin Junyoung membencinya. Akan tetapi, pemuda itu menyebut nama Jessica dan jika ia tidak salah, Jessica adalah nama asli Sooyeon. Kini dia mengerti alasan Junyoung meneleponnya, pasti tentang Sooyeon!

“O-oh.. ada apa?”

“Apa Daehyun ada?”

“Daehyun baru saja ku usir pulang. Ada apa memangnya? Jika kau ingin membunuhnya, tenang saja~ 3-4 jam lagi pasti keinginanmu tercapai!”

Junyoung terkekeh. “Jika aku bisa, aku akan melakukannya mengingat apa yang ia lakukan terhadap Jessica, tapi aku juga mengerti perasaannya. Jadi aku tidak akan membunuhnya. Lagipula, aku memang tidak bisa membunuhnya sekarang.”

“Memang ada apa?”

“Mungkin kau sudah tahu tentang kebohongan Jessica.”

“Tunggu, ini tentang Sooyeon?”

“Ya. Ini tentang Sooyeon.”

“Ada apa dengan Sooyeon? Kau bisa memberitahuku karena saat ini Daehyun pasti hanya menerima telepon dariku!”

“Ya, benar.” Junyoung menghela napas panjang. “Daehyun harus segera datang ke rumah sakit. Jessica ternyata benar-benar hamil tapi dia tidak tahu itu. Sekarang dia berniat untuk menggugurkannya. Hanya Daehyun yang bisa menghentikannya.”

Oh sial, mengapa aku mengusirnya sebelum aku menerima kabar ini? Sekarang bagaimana caranya aku menghubungi bocah itu? Handphonenya kan dimatikan. Argh, benar-benar menyusahkan bocah itu!

▪▫▪

To Be Continued

▪▫▪

Oke, berhubung media yang biasa aku pake untuk buat ff lagi bermasalah,so aku buru-buru ke konflik utama biar ceritanya ga kelamaan. Kebetulan juga papa tumben-tumbennya bawa laptop ke rumah jadinya aku bisa ngepost ff deh. Biasanya laptopnya disimpan di kantor karenakatanya ribet dibawa pergi kemana-mana -__-)/

Kalo sebelumnya aku bilang aku mau lanjut Show You tapi kenyataannya aku malah bawa lanjutan 180, ini karena aku lagi ilfeel abis sama exo. Jadi jangan paksa aku buat lanjut ff yang ada member exonya.

Sekali, aku bilang aku ga tau kapan lagi update ff karena charger laptopku rusak. Mungkin aku usahain cepat tapi pendek. Toh dari yang ku lihat dari komentar-komentar kemarin, kalian lebih tertarik dengan update cepat dan catatan author ketimbang jalan ceritanya. Jadi karena aku adalah author yang sangat perhatian, aku lanjut sesuai keinginan komentar kalian; update cepat dan cerita panjang karena catatan author doang.

No, I’m being sarcastic here.

Aku ga maksa kalian untuk selalu aktif berkomentar tapi tolong, kalau kasih komentar utamakan komentar tentang jalan cerita bukan berita pribadi yang ku ceritakan. Komentar macam “Jessica kasian” pun aku udah seneng kok.

47 thoughts on “180° – Chapter 6

  1. ya tuhan,, Daehyun my bias di B.A.P sekarang menyakitkan hati Jessica my bias di SNSD ?? /sok inggris/
    aku hampir nangis saat Jessie bilang gini “krystal, krystal, krystal” gitu😐
    next thor ~🙂

  2. Ini si Jessica malang nasibmu nak. Orang tua mau cerai dan rumah tangga dia pun sedang digoncang. Kalau aku jadi jessica, aku gak sanggup…. aku gak sanggup…. itu semua terasa berat bung.
    Ini Daehyun nyebelin btw kalau lagi marah. Gak bisa dikasih tau. Oke, aku ngerti daehyun kecewa berat tapi oh yaaa aduh kecewanya jangan kelamaan kan jessica udah hamil beneran ㅠㅡㅠ

  3. Waaaa bener kan akhirnya kebohongan jessica terungkap juga … orang tua mau cerai plus ditimpa masalah yang dia buat juga … jessica juga bohong dari awal tapi juga demi cinta …. kasihan kann😥

    Sekarang jessica hamil beneran terus apa daehyun mau dengerin dan peduli?? Semoga aja jessica gak gugurin kandungannya ..

  4. weh, akhirnya terbongkar deh TT argh daehyun keras kepala bangett!! kasian kan jessica..
    huhu ternyata jessica beneran hamil dan dia gak tau ._.
    daehyun jgn cerain sica dong~~
    nice!!

  5. Plis jangan diaborsi😦 kasian jessi terpukul kaya gitu, daehyun juga sih, kecewa sih kecewa tapi jangan kaya anak kecil gitu😦 main ngunci diri dikamar huh😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s