180° – Chapter 7

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | BAP Youngjae

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.” – Albert Einstein

“Benarkah? Kau tidak becanda? Ibumu benar-benar mengusirmu?” tanya Youngjae heboh.

Ketika sahabatnya mengangguk, Youngjae pun tertawa geli sambil memegang perutnya. Selama ini, Youngjae selalu iri kepada Daehyun yang mempunyai ibu yang berkepribadian menarik tapi sangat memanjakan anaknya. Tentu saja berita yang dibawa oleh Daehyun setelah sampai di Seoul lagi ini mampu membuatnya tertawa dengan puas.

“Apa yang lucu, Yoo Youngjae?” kesal Daehyun.

Jika ia tahu sahabatnya akan menertawakan nasibnya, ia tidak akan memberitahu Youngjae mengapa ia pulang ke Seoul lebih cepat dari yang diperkirakan. Atau mungkin, dia akan menginap di rumah temannya yang lain. Mungkin Gongchan, Taemin, Seokjin atau Jihoon akan menerimanya? Oh tidak, mereka pun tidak lebih baik dari Youngjae. Kejadian di tempat karaoke adalah contohnya.

“Akan tetapi, aku setuju dengan ibumu. Kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Sica noona. Dia pasti sangat mencintaimu jika dia berani melakukan semua ini. Setidaknya kau harus memberikannya satu kesempatan lagi. Sica noona tidak seburuk itu,’kan?” saran Youngjae.

Daehyun mengerang sambil menghempaskan dirinya ke kasur Youngjae. Sungguh, dia tidak mau membicarakan sang istri sekarang. Memikirkannya saja, Daehyun tidak mau. Dia hanya ingin bersenang-senang sampai moodnya membaik.

Yah, Daehyun-ah, berhenti menghindarinya.”

Daehyun menutup wajahnya dengan bantal.

“Aku serius,” tekan Youngjae. “Bahkan Junyoung hyung meneleponku. Dia mencarimu, Dae. Sica noona dirawat di rumah sakit sekarang. Kondisinya cukup mencemaskan. Mungkin karena rasa bersalahnya. Kau harus segera menemuinya.”

Daehyun masih belum memberikan respon.

“Jika lain kali Junyoung hyung meneleponku lagi, aku akan memberitahukannya yang sebenarnya!” ancam Youngjae.

Kaki Daehyun bergerak untuk menendang Youngjae tapi kakinya meleset.

Youngjae meremas rambutnya gemas. “Bicaralah, Jung Daehyun!”

“Untuk saat ini, aku tidak mau,” jawab Daehyun akhirnya.

Youngjae memijat keningnya. Sahabatnya memang keras kepala. Tentu saja jika Daehyun tidak keras kepala, sudah bertahun-tahun lamanya Daehyun berhenti mengejar Krystal.

***

Pikirannya semakin kacau setelah tahu ada nyawa lain di dalam tubuhnya sekarang. Mengapa ia tidak mengetahui hal ini lebih cepat? Jika hubungannya dengan Daehyun sedang tidak dalam keadaan bahaya, mungkin Jessica masih bisa berpikir positif. Akan tetapi, kenyataannya sekarang membuatnya tidak berani untuk mempertahankannya.

Dia pun mengutuk banyak novel romansa dimana sang suami melompat dan berteriak bahagia saat tahu istrinya hamil. Dia mengutuk novel yang mempunyai adegan dimana sang suami berbicara kepada perut istrinya yang buncit. Dia mengutuk semua novel yang mengisahkan cerita bahagia para wanita yang mengandung karena sudah pasti, dia tidak akan mengalami hal yang sama.

Niatnya sudah sangat bulat untuk menggugurkan kandungannya sehingga dia segera mengutarakannya bahkan sebelum dokter Park menyapanya.

“Aku ingin menggugurkannya.”

Mulut dokter Park yang terbuka dengan niat untuk menyapa itu pun kembali tertutup. Sang dokter sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. Asisten di sampingnya memberikan ekspresi yang tidak terlalu berbeda dengan dokter Park.

“Silahkan duduk terlebih dahulu,” kata dokter Park akhirnya.

Dokter cantik itu menatap Jessica lembut walaupun masih ada ekspresi kaget di wajahnya. Mau tak mau, Jessica menurutinya.

“Aku ingin menggugurkan kandunganku. Aku tidak bisa mempertahankannya,” ulang Jessica.

Dokter Park mengangguk. “Saya mengerti. Akan tetapi, kami memiliki prosedur yang wajib ditaati sebelum melakukannya. Jadi, berapa umur kandunganmu?”

Jessica tercenung. Junyoung tidak mengatakan apapun tentang umur kandungannya tadi. Kini dia pun mencoba menghitung berapa banyak minggu yang ia lewati setelah menstruasi terakhirnya tapi dia tidak bisa mengingatnya. Dia tidak pernah mengingat kapan saja dia menstruasi. Itu sebabnya dia melingkarkan beberapa tanggal di kalender sebagai pengingat. Saat Daehyun mempertanyakan tanda itu, dia menjawab itu adalah minggu-minggu dimana dia melaksanakan ulangan harian.

“Aku tidak tahu,” lirih Jessica.

“Kapan terakhir anda menstruasi?”

Jessica menggeleng kesal. “Ku bilang tidak tahu!”

“Baiklah. Kita harus mengeceknya dengan pemeriksaan USG.”

“Aku tidak mau!”

Jessica tidak mau melihat bagaimana janin di dalam perutnya sekarang. Dia takut itu akan membuatnya semakin bersalah.

“Akan tetapi, saya harus tahu berapa umur kandungan sebelum dapat menentukan boleh atau tidaknya menggugurkan kandungan anda,” jelas dokter Park.

Jessica meremas ujung pakaian rumah sakit yang ia kenakan. Dia bingung harus melakukan apa.

“Bagaimana jika aku pulang untuk melihat kalender lalu kembali ke sini?” tawar Jessica.

Dokter Park tersenyum geli. “Akan lebih mudah dan akurat jika melalui pemeriksaan USG. Tenang saja, tidak akan sakit ataupun memiliki resiko apapun.”

Pada akhirnya, Jessica setuju. Dokter Park dan asistennya pun menyiapkan alat-alat sedangkan Jessica berbaring ke kasur. Wanita hamil itu mendesis pelan saat merasakan sensasi dingin dari gel yang diolesi ke perutnya yang sepenuhnya terekspos.

Napas Jessica tercekat saat gambar rahimnya yang berwarna hitam-putih muncul di layar. Tiba-tiba dia merasa terharu yang teramat besar hingga air matanya hampir mengalir jika tidak ia tahan.

“Lihat, sudah ada detak jantung. Dan jika dilihat dari pertumbuhannya, sepertinya sudah memasuki minggu ke-enam,” ucap dokter Park. “Artinya, kami tidak bisa menggugurkannya.”

Untuk beberapa detik sebelumnya, Jessica sudah melupakan niatnya itu. Dia benar-benar terkejut saat ucapan dokter Park mengingatkannya akan niat awalnya.

“K-kenapa? Ada masalah apa?” bingung Jessica.

Dokter Park tidak langsung menjawab. Dia menyudahi kegiatannya dan mempersilahkan Jessica untuk kembali duduk di kursi pasien.

“Jika sudah ada detak jantung, maka janin tersebut sudah dianggap sebagai makhluk hidup. Sementara dalam prosedur kami, kami dilarang untuk membunuhnya kecuali jika keberadaan janin tersebut membahayakan nyawa sang ibu,” jelas dokter Park.

“Pasti ada cara lain, ‘kan? Apapun caranya, aku akan melakukannya! Tolong!” desak Jessica.

Dokter Park menarik napas dalam. “Karena umurnya masih sangat muda, saya bisa melakukannya. Asalkan, ada persetujuan dari suami dan pihak keluarga.”

Persetujuan suami? Apa Daehyun akan menolaknya seperti sebelumnya? Atau malah menyetujuinya?

***

Bibir Yongguk melengkung ke bawah melihat sang pelanggan yang sudah lama tak pernah muncul. Ia tahu Daehyun selalu datang ke tempatnya bekerja jika ada hal yang membuatnya frustasi, yang kebetulan selalu karena Krystal. Bukannya dia tidak mau menerima kedatangan Daehyun, tapi dia bosan mendengar celotehan pemuda yang lebih muda darinya itu tentang Krystal, Krystal dan Krystal. Padahal berita terakhir yang ia dengar dari teman-teman kuliah Daehyun, pelanggannya itu sudah menikah dengan wanita yang selalu Yongguk hubungi jika Daehyun bermasalah di kelab malam tersebut, Jessica Jung.

“Pergi, aku tidak akan melayanimu,” usir Yongguk sambil memberikan kembali uang yang disodorkan oleh Daehyun.

Daehyun mendecak kesal. “Wae?!”

“Ingat, istrimu sedang hamil sekarang maka aku tidak akan bisa memintanya datang kesini. Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa ku minta bantuan untuk membawamu pulang, eh?”

Tangan Daehyun menyelusup di helai-helai rambutnya dan menjambaknya frustasi. Entah bagaimana bisa semua orang di sekitarnya tahu akan pernikahannya sekaligus termakan kebohongan Jessica? Dia tidak bisa bilang ke semua orang kalau Jessica berbohong tentang kehamilannya karena masalah pribadinya tidak seharusnya diumbar-umbarkan.

Dia juga baru sadar seberapa terkenalnya Jessica di kalangan teman-temannya. Siapapun yang kenal dan pernah pergi bersamanya, pasti juga mengenal siapa Jessica. Bukan hanya sekedar nama seperti halnya Krystal—tentu saja karena Daehyun selalu membicarakannya—tapi semua temannya tahu Jessica sebagai sesosok orang yang pernah ditemui. Tidak jarang beberapa di antaranya bahkan akrab dengan istrinya. Bagaimana bisa?

“Lagipula kau datang kesini pasti karena Krystal, ‘kan? Huh, harusnya kau bersyukur karena sudah mendapatkan istri seperti Jessica. Aku saja iri denganmu,” gerutu si bartender itu.

Perhatian Yongguk teralihkan saat seorang pelayan datang membawakan pesanan yang harus ia buat untuk para orang-orang yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk open table. Dia tidak menyadari wajah Daehyun yang terkejut.

Krystal. Aku baru ingat tentangnya. Mungkin karena akhir-akhir ini otakku disibukkan dengan tempat pencucian mobil dan masalahku dengan Sooyeon noona?, pikir Daehyun.

“Mengapa kau masih disini? Kalau kau masih disini, aku akan menelepon Junyoung hyung untuk membawamu pulang!” ancam Yongguk.

Daehyun mendengus. “Memangnya kau punya nomor kakakku?”

Yongguk tersenyum bangga. “Tentu saja. Jessica memberikanku nomor kakakmu untuk jaga-jaga jika kau macam-macam denganku.”

Daehyun mendesis kesal. Jika sudah membawa nama kakaknya, dia pun menyerah. Junyoung pasti tahu masalahnya dengan Jessica sekarang. Dan sudah pasti jika mereka bertemu, Junyoung akan menyeretnya menemui Jessica. Bagaimanapun, sahabatnya adalah nomor satu baginya.

***

Saat Daehyun kembali ke rumah Youngjae, dia melihat sebuah mobil yang familiar baginya. Walaupun ada rasa curiga, dia tetap masuk ke dalam rumah. Dia membuka pintu dan meneriakan salam karena dirinya sudah terlalu terbiasa datang ke rumah keluarga Yoo karena hanya di sini lah ia bisa merasakan aura sebuah keluarga.

“Daehyun-ah, ada yang ingin bertemu denganmu,” kata Yoo ahjumma yang menyambutnya pulang.

Daehyun semakin curiga karenanya. Dia mengikuti langkah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu ketiganya itu.

Matanya membulat dan napasnya tercekat saat melihat sosok Moon Junyoung duduk di sofa bersama anggota keluarga Yoo yang lain. Setelah pikiran sehatnya kembali, matanya menatap sahabatnya tajam.

“Aku tidak mengatakan apapun! Aku bersumpah!” seru Youngjae cepat.

“Tenang saja, Youngjae tetap berbohong kepadaku seperti yang kau inginkan. Aku sendiri yang memutuskan untuk datang langsung ke sini,” sahut Junyoung. Dari nadanya pun, Daehyun tahu kakak tirinya sedang mengejeknya.

“Aku tahu apa maksudmu datang kesini. Aku menolaknya,” tegas Daehyun.

“Oh jadi kau menolak anakmu sendiri?”

Alis Daehyun terangkat bingung. “Kau masih mengira sahabatmu benar-benar hamil karenaku?”

“Bagaimana jika dia benar-benar hamil dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit untuk bersiap menggugurkannya?”

“Hah, kau tak bisa dipercaya. Kau adalah sahabatnya. Sudah pasti kau akan membantunya.”

“Hanya untuk mengingatkanmu, tapi aku adalah orang yang paling ingin kalian berpisah dibandingkan siapapun. Aku takkan mau berbohong hanya untuk menyelamatkan hubungan kalian. Akan tetapi, dengan sangat terpaksa, aku harus mendatangimu untuk memintamu menolong nyawa tak berdosa yang kebetulan memiliki genmu,” balas Junyoung sengit.

Kaki Daehyun pun melemas. Dia baru ingat hal itu. Junyoung terlalu membencinya. Dia pasti menjadi orang pertama yang mendukung pernikahannya untuk berakhir.

“Bohong.”

Junyoung mendecak kesal. “Otakmu terbuat dari batu, ya? Susah sekali untuk membuatmu mengerti bahwa aku tidak akan berbohong untuk hal seperti ini.”

***

Jessica baru saja keluar dari ruang praktek dokter kandungan. Kebetulan bukan dokter Park yang sedang bertugas jadi Jessica bisa lebih leluasa untuk bertanya tentang proses aborsi. Alhasil, wajahnya pucat sekarang karena membayangkan setiap detail proses tersebut. Jika dia diharuskan membawa seseorang yang cukup kuat untuk menemaninya, pasti proses aborsi itu bukan main-main. Dokter Hwang selaku dokter yang bertugas tadi pun mengatakan ada banyak resiko yang mungkin saja terjadi.

Setelah mengurus administrasi—yang ternyata sudah otomatis diurus oleh Junyoung—Jessica pun dibolehkan untuk pulang besok pagi. Akan tetapi, Jessica tetap memaksa untuk pulang walaupun hari sudah sangat malam. Toh, dia bisa pulang dengan taksi.

Begitu sampai di pintu utama rumah sakit, langkah Jessica terhenti. Dia merasa melihat seseorang yang familiar. Dia segera membuang pikirannya dan mempercepat langkahnya menuju tempat taksi-taksi berkumpul. Langkahnya semakin cepat karena ia merasa mendengar seseorang berteriak di belakangnya.

Noona, ku bilang tunggu!”

Dan sebuah tangan pun menariknya dan membuat tubuhnya berputar 180 derajat.

***

Saat Daehyun pergi meninggalkan apartemen, dia tidak menggunakan mobilnya sebagai alat transportasi menuju rumah Youngjae. Dia meninggalkan mobilnya di basement apartemen. Kini, dia terpaksa harus pergi bersama Junyoung ke rumah sakit. Ini pertama kalinya dia hanya berdua dengan Junyoung dan ini memang mengerikan.

Junyoung menurunkan Daehyun setelah melewati mesin tiket. Setidaknya Daehyun bisa lebih cepat sampai di kamar rawat Jessica. Setelah mengatakan terima kasih—yang sepenuhnya diabaikan oleh Junyoung—Daehyun segera berlari ke dalam rumah sakit. Namun langkahnya berhenti melihat sosok sang istri di pintu masuk. Dia ingin menghampirinya tapi Jessica malah pergi menjauh darinya.

Noona!” teriak Daehyun.

Jessica masih tetap melangkah tanpa henti.

Noona, tunggu aku!”

Daehyun mengerang frustasi karena Jessica masih belum memberikan respon. Dia berlari lebih cepat.

Noona, ku bilang tunggu!”

Daehyun menarik tangan Jessica. Tangan dengan sigap menangkap tubuh Jessica yang hampir terjatuh.

“Maaf,” gumam Daehyun sambil melepaskan tangannya.

Setiap kalimat yang sudah disusun sempurna selama perjalanan pun hilang dalam sekejap. Dia tidak bisa mengingat satu katapun. Suasana canggung di antara mereka pun memburuk keadaan.

“Sekarang kau sudah siap membicarakan masalah kita?” tanya Jessica.

Jessica tidak bisa menghentikan bibirnya untuk mengatakan itu. Ia tidak sabar untuk menyelesaikan masalahnya. Beberapa kali ia menanyakan hal yang sama sebelumnya, Daehyun tidak menjawab sekali. Walaupun begitu, kali ini, dia mengharapkan jawaban yang berbeda.

Daehyun cemberut. “Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan, tapi tidak sekarang.”

“Mengapa tidak? Kalau kau mau bertemu langsung denganku, bukankah artinya kau pikir sudah waktunya untuk membicarakannya baik-baik?”

“Masalah kita tidak akan bisa dibicarakan dengan baik. Jadi daripada kita harus—“

“Oh pasti Junyoung sudah memberitahukanmu berita terbaru, ‘kan?”

Daehyun menarik napas dalam lalu mengangguk mantap. “Ya.”

“Aku sudah menggugurkannya.”

Daehyun menghabiskan beberapa detik kemudian untuk menatap wajah sang istri. Perlahan, wajahnya memerah kesal sekaligus kecewa. “Sungguh, mengapa kau hobi berbohong kepadaku? Kau pikir aku adalah anak kecil polos dan bodoh? Aku memang tidak sejenius Junyoung hyung tapi bukan berarti kau bisa membohongiku terus-menerus. Apa salahnya untuk jujur? Kau bilang kau tidak akan berbohong lagi kepadaku, Noona!”

“Aku tidak berbohong!”

“Ya, kau berbohong! Dokter mana yang membiarkan pasiennya pulang sendiri setelah melakukan aborsi? Katakan padaku!”

Jessica melangkah mundur. Saat ini, Daehyun benar-benar mengerikan di matanya. Sosok manis yang selalu melekat pada Daehyun di matanya kini hilang seketika. Baru kali ini dia melihat sisi ini dari seorang Daehyun.

“Ya, kau benar.” Jessica mengangguk pelan. “Aku memang belum melakukannya. Aku akan melakukannya besok. Kau lihat saja, Junyoung lah yang akan mengantarkanku pulang dan saat itu, perutku pasti sudah kosong!”

“Junyoung, Junyoung dan Junyoung. Mengapa selalu saja dia?”

“Apa bedanya denganmu yang selalu saja memikirkan Krystal, Krystal dan Krystal? Memangnya kau pikir aku tidak pernah mendengar segala keluhanmu saat aku tertidur? Kau pikir aku tidak bisa membaca matamu setiap kau melamun? Kau pikir—ah, sakit!”

Jessica merintih karena kedua pundaknya yang diremas oleh Daehyun. Tas yang berisi pakaian pun terlepas dari tangannya. Air mata yang sudah ingin mengalir sejak ia melihat Daehyun tapi ditahan sekuat tenaga itu pun akhirnya mengalir.

Noona benar. Sangat benar. Kau sendiri tahu bagaimana perasaanku. Bagaimana bisa kau tetap melakukan semua ini, padahal kau sendiri tahu usahamu akan sia-sia?” desis Daehyun.

Jessica menggigit bibirnya. Kini tidak hanya pundaknya yang terasa sakit, tapi juga luka lama di hatinya terbuka kembali.

“Dan kau tahu apa? Noona benar. Memang sebaiknya kau menggugurkannya. Dengan begitu, kita tidak perlu menyakiti siapapun. Aku pun tidak yakin bisa menerima anakmu atau tidak,” tambah Daehyun.

Plak!

Karena kedua tangan Daehyun masih mencengkram bahu Jessica, wanita itu tidak bisa menampar pipinya melainkan wajahnya lah yang menjadi korban. Kekagetan Daehyun membuatnya menarik kedua tangannya. Tanpa ia sangka, Jessica kembali menamparnya. Kini di pipi kirinya.

“Menjauh dariku. Jangan pernah sekalipun muncul di depan mataku lagi. Jangan pernah,” camkan Jessica.

Wanita tersebut mengambil tasnya yang terjatuh lalu berlari masuk ke dalam taksi terdekat. Sementara itu, Daehyun terpaku di tempat. Dia hanya memperhatikan kepergian taksi di depan. Saat ia berbalik badan, dia sudah berhadang dengan wajah marah Junyoung.

***

Bugh!

Satu tinjuan lainnya membuatnya terlempar ke belakang dan punggungnya menghantam dinding di belakangnya. Daehyun meringis. Dia tidak bisa menandingi kekuatan Junyoung. Apalagi Junyoung segera menyerang setelah menyeretnya ke gang sepi dekat rumah sakit.

Kepala Daehyun terangkat saat kerahnya dicengkram oleh Junyoung. Kini sang kakak berjongkok di depannya. Setelah beberapa pukulan dan tendangan, akhirnya Junyoung mau membuka mulutnya.

“Aku membawamu ke sini untuk membuat kondisi psikologisnya membaik dan membatalkan niatnya. Bukannya malah memperburuknya!” geram Junyoung. “Walaupun aku tidak tahu apa yang kau katakan, tapi tamparan dan tangisan Jessica sudah cukup membuktikan betapa tak bergunanya keberadaanmu di sini. Kau membuatku benar-benar menyesal karena tidak segera membunuhmu setelah berhasil menemukanmu.”

“Kalau begitu. bunuh aku sekarang!” tantang Daehyun.

Kepalan tangan Junyoung pun kembali terangkat ke depan wajah Daehyun tapi tidak menyentuhnya sedikitpun. Bukannya memukul Daehyun sekali lagi, tinjuannya malah terarah ke dinding di samping kepala Daehyun.

Ini semua membuatnya frustasi. Jika saja Jessica terbukti memang tidak hamil, dia bisa meninggalkannya sendiri karena sahabatnya sudah dewasa. Akan tetapi, dengan berbagai masalah yang menimpa Jessica dan kondisinya yang sedang berbadan dua, Junyoung tidak punya hati untuk tetap terbang ke Australia. Dia berharap Daehyun mau menyelesaikan masalahnya dan mengurus Jessica selama ia tak ada. Sayangnya, Daehyun malah memberikan jawaban yang berbeda dengan perlakuannya terhadap Jessica tadi. Itu sebabnya dia tidak bisa menahan emosinya.

Junyoung mendesah berat untuk menyalurkan segala emosi yang masih menyesakkan dadanya sambil berdiri. Dia menatap adiknya yang babak belur tanpa ekspresi yang berarti. Daehyun membalasnya dengan senyuman meledek.

“Kau tidak akan melakukannya?” cibir Daehyun.

Junyoung mendengus. Dia pun berbalik badan seraya mengambil handphonenya di saku celana dan menelepon seseorang.

“Daehyun memerlukanmu. Aku akan mengirim alamatnya lewat pesan. Jika kau pikir dia perlu dibawa ke rumah sakit, jangan bawa dia ke rumah sakit tempatku bekerja. Kebetulan aku sedang bertugas di Emergency Room. Aku tidak ingin melihat mukanya lagi setelah ini.”

***

Youngjae berdecak kagum melihat hasil karya tangan Junyoung di wajah sahabatnya. Dari luka-luka tersebut, dia yakin Junyoung terbilang cukup kuat sebagai seseorang yang berprofesi dokter. Mungkin dia bisa meminta nasihat dari Junyoung tentang kebugaran setelah ini. Sang dokter hanya tidak ingin melihat Daehyun lagi, bukan? Berarti dirinya masih bisa mendatangi Junyoung.

“Apakah ekspresi itu yang selalu kau tunjukkan saat melihat temanmu yang babak belur?” desis Daehyun kesal.

Daehyun kembali mendesis kesakitan saat tangan Youngjae menyentuh daerah berwarna biru di wajahnya. Youngjae kembali mengeluarkan suara penuh kekaguman.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Youngjae.

Daehyun mengerang pelan karena rasa sakit. “Apa maksudmu?”

“Junyoung hyung tidak pernah menyentuhmu sedikitpun sebelumnya. Jika tiba-tiba dia memukulmu sampai separah ini, pasti kesalahanmu sudah sangat berat. Padahal aku mengharapkan berita bagus setelah kau pergi bersamanya tadi. Coba ku tebak, karena Sica noona?”

“Tepat.”

“Apa yang kau lakukan?” Youngjae kembali menanyakan hal yang serupa.

Daehyun hanya diam. Dia enggan menjawab. Pertanyaan Youngjae membuatnya mencoba mengingat apa saja yang ia katakan kepada Jessica sehingga sang istri marah kepadanya. Menurutnya, kata-katanya seharusnya tidak akan menyulut emosi Jessica. Namun saat ia ingat kata-kata Youngjae tentang emosi wanita hamil yang mudah berubah-ubah tanpa alasan yang jelas, Daehyun pun mengerti. Harusnya  Junyoung lebih tahu tentang hal ini sehingga tidak seharusnya kakaknya itu membuatnya luka-luka seperti ini, pikir Daehyun.

“Aku tidak mau membahasnya sekarang,” jawab Daehyun akhirnya.

“Baiklah.” Youngjae merapatkan bibirnya. “Dan apa yang harus ku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku membawamu pulang ke rumahku. Apa kata orangtuaku?”

“Kau bisa membawaku kembali ke rumah ibuku?”

“Ibu tiri atau ibu kandung?”

“Walaupun aku ingin sekali ibu tiriku melihat hasil perbuatan anak kandungnya kepadaku, tapi aku lebih memilih ibu kandungku.”

“Baiklah kalau begitu, aku harus mengingatkan 2 hal kepadamu. Pertama, rumah ibumu berada di Busan dan sekarang sudah malam jadi kereta menuju Busan hari ini sudah habis. Kedua, jika kau lupa, statusmu masih diusir oleh ibu kandungmu dan pintu rumahnya hanya akan terbuka jika kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan Sica noona. Ata kau ingin aku membawamu ke rumah sakit? Yang pasti bukan rumah sakit terdekat karena Junyoung hyung sudah melarangku. Jadi apa keputusanmu sekarang?”

Daehyun mendesis. “Bawa aku ke apartemen Seokjin.”

“Tidak ke apartemenmu, hm?”

Daehyun terdiam sejenak. Satu-satunya alasan mengapa ia tidak pulang ke apartemen itu karena dia tidak mau bertemu dengan Jessica. Setelah semua ini terjadi, kemungkinan besar Jessica pindah ke rumah orangtua. Sayangnya, Daehyun tidak tahu bahwa rumah orangtua Jessica tidak akan masuk ke dalam list Jessica setelah wanita itu mendengar berita tentang perceraian orangtuanya. Lagipula, selain keluarga besar Jessica, hanya Junyoung yang tahu hal ini.

“Antarkan aku ke apartemen Seokjin malam ini. Aku akan kembali ke apartemenku besok,” kata Daehyun.

Untuk jaga-jaga jika Sooyeon noona belum meninggalkan apartemen malam ini, lanjut Daehyun dalam hati.

To Be Continued

Aku kembali~~ /melambai ala miss world/

Aku harus berterima kasih kepada mamaku yang melakukan operasi tahunan di hari Senin jadi papa ga kerja untuk menemani mama di rumah sakit dan laptop tetap di rumah. So, aku bisa menyelesaikan ff ini lebih cepat :v

Seperti yang kalian baca, karakter Daehyun lagi labil banget T___T dari karakter Daehyun, aku mau kasih lihat ke para pembacaku kalau orang seadorable Daehyun pun mengerikan saat marah. Aku buat karakter Daehyun berdasarkan dari masa lalunya Daehyun di ff ini. Biasanya anak-anak yang tumbuh dengan kehidupan seperti Daehyun yang dimanja oleh orangtuanya, dimusuhin oleh kakaknya dan terobsesi terhadap cinta pas dewasa punya sifat seadorable Daehyun di chapter 1-5 dan kalau marah ke cewek, jatohnya ngambek. Ya sinis lah, ga mau ketemu lah, mengunci diri lah. Tapi kalo berantem sama cowok ya hayo aja kalo diajak tonjok-tonjokan. Kebetulan lawannya di chapter ini adalah Junyoung, orang yang dia takutin sejak kecil. Jadi dia menahan diri karena ketakutannya itu. Begitu~

Aku juga mau ngejelasin alasanku kepada para reader yang minta aku untuk buat adegan nc. Aku tidak akan melakukannya karena alasan berikut ini.

  1. Readerku kebanyakan masih di bawah umur. Kalian tahu ga sih alasan anak kecil dilarang baca atau nonton sesuatu bergenre smut? Karena hal tersebut bisa merusak syaraf otak. Aku ga mau ffku yang harusnya bertujuan untuk menghibur, eh malah membuat anak orang jadi idiot. Jadi kamu-kamu yang masih di bawah umur dan tak mau otak kalian rusak, tolong kalian sadar diri mana bacaan yang boleh dibaca dan mana yang tidak. Pesan ini diperuntukkan kepada orang yang sayang otaknya ya. Kalau ga sayang, yaudah baca aja cerita-cerita nc. Ga akan ada yang larang kok.
  2. Blog ini bukan blog yadong. Sudah banyak author tetap dan author freelance di blog ini yang memakai genre smut untuk ffnya dan aku tidak akan mengikutinya. Karena, sekali lagi, blog ini bukan blog ff yadong. Aku tidak akan menjual ffku dengan adegan tersebut hanya untuk mendapatkan banyak komentar. Lagipula aku tidak mempermasalahkan banyak/sedikitnya komentar.

Terakhir, jangan memberikan komentar “Cepat dilanjut!” dan sebagainya karena saya benci komentar semacam itu. Dan utamakan komentar tentang jalan ceritanya baru komentar tentang hal lain.

53 thoughts on “180° – Chapter 7

  1. Duhhh daehyun bisa”nya dia ngomong gitu ke jessica … gak mikirin jessica yg lagi hamil apa .. memang sih daehyun kecewa berat krna jessica bohong sama dia … tapi tahan emosimu daehyun, demi jessica yg lagi hamil .. dia juga istrimu kan *ikutan emosi hehehe😀

  2. duh, si daehyun bisa”nya dia ngomong gitu makin parah :3
    junyoung pengertian banget jadi kesemsem sama dia😀
    huaa, jgn digugurin dong TT
    bener thor, say no to yadong!!
    tetep bagus!!

  3. Daehyun!! Pen rasa ditabok mulutnya yang ngomong asal jeplak aja! Bukannya mencegah malah disuruh adoh daehyun, kaya anak tk saja kamu ini ckckck *emosi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s