It’s Okay

Yura Lin proudly present;

It’s Okay

Genre:

Romance

Length:

Drabble

Cast:

SNSD Jessica | TVXQ Changmin

  

Note:

Don’t you miss this haptic couple?😉

*

Gadis itu menatap refleksi dari penampilannya di depan kaca. Tangannya menyentuh lembut gaun putih panjang yang ia kenakan. Dia kembali menjilat bibirnya yang dihias lipstik berwarna merah jambu.

“Cantik. Kau sangat cantik. Jadi berhenti menatap cermin, Sooyeon eonni,” celetuk sahabatnya, Goo Hara.

“Aku tidak yakin.”

“Ku bilang kau cantik. Percayalah.”

Sooyeon menghela napas. Entah sudah berapa kali dia menghela napas. Bukan itu yang ia pikirkan. Dia tidak peduli sama sekali dengan pemanpilannya. Yang dia pikirkan adalah nasibnya beberapa menit kemudian.

“Jangan bilang kau ingin membatalkan pernikahanmu.”

Kalimat yang keluar dari mulut Hara membuatnya kembali menghela napas. “… tidak,” Sooyeon menjawab ragu.

*

“Ayo kita taruhan!”

Sooyeon memutar matanya kesal. “Tidak.”

Gadis itu pasti sudah melangkah pergi dari tadi jika saja Jaejoong tidak memintanya untuk menunggu di taman kampus bersama pria jangkung menyebalkan. Harusnya Jaejoong tahu siapa orang yang diminta untuk menunggu di taman bersamanya adalah orang yang selalu mengejarnya. Tidak takutkah Jaejoong kalau sampai pria tengil yang duduk di samping Jessica ini berhasil merebut hati kekasihnya sendiri?

Wae? Kau bahkan belum tahu ideku! Aku yakin kau pasti setuju!”

“Tidak. Apapun yang kau pikirkan adalah neraka bagiku. Jadi, tidak.”

“Ayolah, Sooyeon-ah~”

“Sooyeon~”

“Jung Sooyeon ~”

“Kalau begitu, aku akan meneriakan perasaanku kepadamu sekarang jika kau—“

“Baiklah! Apa yang kau mau, Shim Changmin?”

Pria jangkung itu menyeringai lebar. “Kalau sampai kau dan Jaejoong hyung putus—“

“Astaga, kau mendoakan hubunganku dan Jaejoong oppa berakhir? Jaejoong oppa adalah sahabatmu sendiri! Jahat sekali!”

“Dia juga jahat karena sudah merebutmu walaupun dia tahu aku menyukaimu,” gerutu Changmin pelan. “Tapi, bukan itu maksudku. Aku tidak mendoakan hubungan kalian cepat berakhir. Hanya saja, jika memang suatu saat nanti kalian benar-benar putus, aku tidak mau kalian kembali berpacaran lagi. Jadi kau harus menjadi pacarku. Dengan begitu, kau tidak akan kembali kepadanya.”

“Itu perjanjian. Aku tidak mau.”

“Kalau begitu aku akan berteriak—“

“Setuju!Puas? Jadi jangan macam-macam! Sekarang diam dan jangan ganggu aku lagi sampai hari dimana aku dan Jaejoong oppa putus!”

*

Changmin menarik tangan gadis di depannya tapi lagi-lagi Sooyeon melepaskan tangannya sambil mempercepat langkahnya. Percuma, kaki Changmin jauh lebih panjang darinya sehingga pria itu mudah menyetarakan langkahnya.

“Kau mau kemana? Sudah malam,” tanya Changmin lembut.

Sooyeon masih belum menjawab. Tangannya sibuk menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Akh, air mata terkutuk!

“Orangtuamu pasti mengkhawatirkanmu. Ayo pulang,” ajak Changmin.

Sooyeon kini berlari. Akan tetapi, tetap saja percuma. Selain kaki Changmin yang panjang, Changmin juga merupakan pelari kebanggaan sekolah yang sering memenangkan banyak piala dulunya tapi orangtuanya tidak menyetujuinya untuk menjadi atlet. Secepat apapun Sooyeon berlari, Changmin akan mengejarnya dengan mudah.

“Berhenti, Jung Sooyeon!”

Kini Changmin tidak lagi memakai cara lembut. Dia menarik tangan Sooyeon dengan tenaga besar sehingga tubuh gadis itu terhempas ke belakang, menabrak tubuhnya. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik olehnya. Dia memeluk Sooyeon erat. Sekuat apapun Sooyeon memberontak untuk dilepaskan pun tidak akan berhasil. Changmin tidak bergeming sedikitpun walaupun Sooyeon mencubit tubuhnya cukup keras.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan!” bentak Changmin.

Sooyeon pun berhenti memberontak. “Aku tidak bisa bernapas.”

Kata-kata Sooyeon sukses membuat pelukan tersebut sedikit longgar.

“Aku tahu rasanya sakit. Namun tidak seharusnya kau lari,” gumam Changmin.

Sooyeon kembali bungkam. Dia hanya diam sambil membenarkan posisi kepalanya yang bersandar pada dada Changmin.

“Jaejoong hyung masih mencintaimu.”

“Bohong.”

“Sungguh. Dia hanya butuh istirahat sejenak lalu siap untuk melanjutkan hubungan kalian lagi.”

“Dia bilang dia bosan.”

“Kau harus menyakininya bahwa kau adalah yang terbaik baginya.”

“Tidak perlu.”

“Kau belum mencobanya.”

“Karena aku tahu itu percuma.”

“Itu adalah pemikiran orang-orang pemalas.”

“Aku memang pemalas.”

“Sooyeon—“

“Hubungan kami sudah berakhir. Untuk apa aku—“

“Karena kau belum rela melepaskannya.”

“Aku rela. Aku sudah melepaskannya!”

Changmin melepaskan pelukannya. “Sooyeon-ah, tidak perlu sok kuat jika kau tidak kuat. Tidak perlu takut dianggap lemah karena aku tahu itu tidak benar.”

“Diam.”

“Jung Sooyeon—“

“Aku rela! Aku rela! Aku rela!” teriak Sooyeon kesal. “Berhenti membicarakan ini karena aku sudah milikmu!”

Changmin mengerjap. Dia pun teringat perjanjian mereka di tempo hari. “Itu hanya sebuah candaan, Sooyeon-ah.”

“Janji adalah janji.”

*

“Aku tidak yakin ini keputusan terbaik,” gumam Sooyeon.

Kini Hara lah yang menghela napas. “Kau sudah setuju. Changmin oppa tidak pernah memaksamu.”

Sooyeon menutup mukanya. Tentu saja dia setuju. Bagaimana bisa dia menolak lamaran Changmin beberapa bulan lalu jika mengingat seperti apa wajahnya saat itu? Pria itu bahkan tidak bernapas selama menunggu jawaban darinya. Changmin benar-benar pria yang menyedihkan. Dia terlalu jatuh ke dalam rasa cintanya sendiri. Mana tega Sooyeon menolaknya.

Eonni, jika memang kau tidak siap, kau bisa mengatakannya sekarang. Ku yakin Changmin oppa setuju!” saran Hara.

Sooyeon menggeleng pelan. Tentu saja Changmin setuju. Sejak hubungan mereka resmi dimulai, Changmin berubah menjadi sosok yang sangat manis. Dia sangat baik kepada Sooyeon. Terlalu baik malah sehingga Sooyeon merasa tidak nyaman. Changmin selalu melakukan apapun yang dikatakannya.

“Aku tidak tega,” lirih Sooyeon.

Hara mendesis. “Kau mungkin tidak akan mengatakannya kepada Changmin oppa. Akan tetapi, dia pasti merasakannya. Aku yakin!”

***

Kakinya terasa mati rasa selama perjalanan menuju altar. Sooyeon bahkan tidak berani mengangkat kepalanya karena terlalu takut untuk melihat Changmin. 5 tahun sejak ia putus dengan Jaejoong. Tentunya sudah 5 tahun terlewat sejak dia memulai hubungan dengan Changmin. Setelah 5 tahun, dia masih ragu akan semua ini.

Sudah ribuan kali dia ingin mengakhiri hubungan mereka. Akan tetapi, “Let’s break up” selalu terhenti di tenggorokannya dan tak perlu bisa benar-benar keluar dari mulut. Aneh memang. Padahal jika saja lidahnya tidak kelu untuk mengucapkan itu, hubungan mereka pasti sudah kandas dari entah kapan lalu. Changmin pasti tidak akan menolak.

Begitu ayahnya mengulurkan tangan Sooyeon dan diterima baik oleh Changmin, kaki Sooyeon pun terasa berubah menjadi jeli. Jika saja calon suaminya itu tidak menggenggam tangannya dengan protektif, Sooyeon benar-benar jatuh.

“Kau sangat cantik.”

Sooyeon pun menoleh saat mendengar bisikan itu.

Manis sekali, batin Sooyeon sambil tersenyum tipis melihat calon suaminya tersipu hanya karena melihat penampilannya sekarang. Changmin pun sangat tampan dengan setelan jas hitam elegan.

Changmin terus-menerus menatap mata Sooyeon seakan dia takut Sooyeon akan hilang jika dia mengalihkan matanya walaupun hanya untuk 1 detik. Tangannya benar-benar dingin. Sepertinya dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang dikatakan oleh pria tua yang berdiri di antaranya dan Sooyeon.

Yah, Shim Changmin!” bisik Sooyeon pelan.

Sooyeon kebingungan karena Changmin belum juga mengatakan apapun walaupun sang pendeta sudah mengulang perkataan beberapa kali.

“Oh,” Changmin menggumam pelan. “Ya, saya bersedia.”

Sooyeon menghela napas dalam ketika bagiannya untuk mengucap janji pun tiba. Kali ini dia menjawabnya dengan cepat, berbeda dengan Changmin tadi.

“Jika ada yang tidak setuju, katakan sekarang.”

Suasana begitu hening karena tidak ada seorang pun yang angkat bicara. Mata Sooyeon menelusuri setiap sudut. Entah mengapa, dia merasa lega karena tidak seorang pun yang tidak menyetujui pernikahannya.

“Aku tidak setuju.”

Seketika para undangan pun ribut karena sang pengantin sendiri yang menolak. Tidak terkecuali Sooyeon. Tidak pernah sedikitpun ia sangka Changmin akan mengatakannya.

Oppa…”

Changmin terkekeh. “Tumben sekali kau memanggilku seperti itu. Biasanya kau selalu menolak walaupun aku lebih tua darimu.”

“Ini bukan candaan! Tidak bisakah kau serius kali ini?!”

Changmin menarik napas dalam lalu kembali terkekeh girang, yang Sooyeon yakini itu adalah palsu. Tangannya mengelus rambut gadis yang hampir saja menjadi istrinya.

“Aku serius. Kau belum—tepatnya, kau tidak siap. ‘Belum’ hanyalah alasan. Aku tidak akan memaksamu. Sudah cukup kau bertahan selama ini. Aku tidak akan menyiksamu lebih dari ini. Sudah saatnya Jung Sooyeon bebas dari Shim Changmin,” ujar Changmin. “Tersenyumlah! Kau bebas sekarang!”

Plak!

Sooyeon menampar Changmin cukup keras hingga suaranya menggema di ruangan itu. Suasana ribut dari para undangan pun kembali redup.

“Sooyeon-ah…” Changmin tersenyum tipis. “Jangan menangis. Harusnya kau ikut tersenyum.”

Sooyeon pun menyentuh wajahnya. Dia baru sadar air matanya mengalir cukup deras.

Gwencana…”

Sooyeon menggeleng. “Tidak, itu—“

Gwencana. Ikuti kata-kataku, Sooyeon-ah. Gwencana.”

“Changmin…”

Gwencana.”

“Shim Changmin!”

“Ayolah, itu tidak sulit. Gwencana.”

“Changmin, aku—“

Gwencana.”

Sooyeon menggigit bibirnya. Dia menarik napas dalam dan memutuskan untuk menurut. “Gwencana.”

“Lihat! Tidak sulit, bukan?” seru Changmin girang.

Changmin memeluk Sooyeon erat dan kembali membisikkan kata yang sama. Kali ini, terasa seperti dia membisikkannya untuk dirinya sendiri.

Gwencana.”

Dan otak Sooyeon pun hanya terisi dengan kata itu sambil matanya memperhatikan sosok Changmin yang mulai pergi menjauh. Setelah Changmin menghilang di balik pintu, tubuh Sooyeon terjatuh. Kakinya tidak sanggup menahan tubuhnya lagi. Dia terisak kencang.

*

End

*

Gaje kan? Haha. Ga tau mau nulis apa pas megang laptopnya abang jadi asal aja deh. Ada sih feel lanjut 180 tapi males. Kalo itu pasti panjang sedangkan aku lagi sekarat di tempat tidur. Dan karena masih sekarat, aku males ngedit ulang. Jadi maafkan atas segala typo yang terjadi -___-)/

Bonus!

cr: http://onesweetdelightlater.tumblr.com

21 thoughts on “It’s Okay

  1. SIALAN CHANGMIN OCIDAKKK… oiya ya kan imin oppa mau nikah sama aku ‘-‘ *plak
    Duh disini pasti Changmin juga sedih bgt pas ngebatalin pernikahannya ………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s