[Freelance] Miss Chameleon (Chapter 1)

misschameleonposter

Miss Chameleon

Lineveur’s

Starring

Jessica Jung Sandara Park Kwon BoA Park Bom Xi Luhan

Action, Comedy, Romance

Series

G

Based on “Miss Congeniality” (Directed by Donald Petrie)

 

Menjadi salah satu agen rahasia Onyx adalah suatu kebanggaan bagi Jessica Jung.

Onyx adalah organisasi pemberantas kriminal yang bekerja sama dengan pemerintah terbaik di Asia Timur, dan Jessica Jung yang pemalas dan tukang tidur beruntung sekali bisa menjadi salah satu agen Onyx. Asal kau tahu saja, nih, ia termasuk salah satu agen terbaik di sana. Ukh, kesalahan apa yang kubuat sampai-sampai Nona Jung yang satu ini menjadi salah satu agen terbaik Onyx?

Onyx adalah organisasi pemberantas kriminal terhebat menurut Jessica. Kakaknya mengepalai Divisi Penyelidikan. Tidak seperti kakaknya yang hobi mendeteksi peluru, panah bius atau racun, ia lebih suka beraksi dengan revolver sehingga memilih menjadi anggota Divisi Pemberantasan Kriminal. Divisi terbaik di Onyx.

Semua di Onyx begitu menyenangkan. Direktur Onyx, Kwon BoA, begitu baik dan sangat sayang pada pegawainya, terutama Jessica. Perempuan berusia 27 tahun itu suka sekali mentraktir Jessica di pantry. Jadi jangan heran kalau meja pantry yang ditempati Jessica selalu penuh akan makanan. Oh, jangan lupakan rekan-rekannya. Mereka semua, dari yang lebih tua daripada Jessica hingga yang masih brondong, sangat ramah dan bukan orang dengan kepribadian yang kau maksud. Ah, kau pasti tahu apa maksudku.

Jessica menjalani harinya seperti biasa. Tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya di esok hari.

Ia sama sekali tidak tahu.

Ini hari libur. Dan kau tahu apa yang biasa dilakukan Jessica Jung si siamang ini. Berguling-guling di tempat tidur, mengunyah roti tangkup di tempat tidur dan membiarkan remah-remahnya bertebaran, membaca komik Donal Bebek, menghabiskan berpotong-potong cake atau membabat seloyang pizza. Kemudian tidur sepanjang hari dengan perut kenyang. Seperti hari ini.

“Ayo, Jessica, letakkan cangkir cokelat panas di nakas dan lanjutkan tidurmu,” Jessica berkata sendiri, meletakkan cangkir di nakas, kemudian membanting tubuh mungilnya di tempat tidur. “Uwaaa … Aku rindu kamu, kasurku,” Jessica memeluk guling dan mengubah posisi tidurnya.

“Ah, aku lupa mematikan microwave! Apa roti tawar lumur kejuku sudah gosong, ya?” Jessica buru-buru bangkit, hampir menyenggol cangkir cokelat panas, namun untungnya Tuhan masih menyelamatkan cangkir kesayangan Jessica. Oke, lupa mematikan microwave adalah hal biasa. Jessica begitu pikun jadi hal seperti itu lumrah saja baginya.

Jessica buru-buru keluar dari kamarnya, membanting pintu dan melesat menuju dapur. Dilihatnya microwave-nya sudah seperti gunung yang akan meletus. Seperti gerakan slow motion, ia melompat dan menekan tombol Off. “Kali ini kau berhasil, Jessica.” Jessica mengurut dada, kemudian membuka tutup microwave dan mengeluarkan roti tawar berlumur keju leleh dengan hati-hati. Jessica menaburkan irisan peterseli di atas roti tawarnya. “Ukh, aku jadi tidak sabar ingin memakanmu.”

Jessica berlari menuju kamarnya dengan menu bunch-nya di atas piring. Baru saja ia hendak memutar kenop kamarnya, ponselnya mengeluarkan sepenggal nada yang memekakkan telinga. Ukh, kenapa harus ada yang meneleponku di saat-saat seperti ini, sih?

Saking malasnya, Jessica tidak sempat membaca nama penelepon dan langsung menyentuh tombol answer. Uh, bodohnya ia. Suara Sandara—penelepon di seberang sana yang suaranya mirip lumba-lumba—membuatnya harus menjauhkan ponselnya dari telinga untuk beberapa saat. “Nona Jung!”

O-ow, untung saja Jessica tidak menjatuhkan piring di tangannya. Dan untung saja masih ada gravitasi di bumi ini. Jadi ia tidak perlu repot-repot mendapati dirinya terjatuh gara-gara mengangkat telepon dari Sandara. “Hm? Ada apa meneleponku pagi-pagi begini, Unnie?”

“Kau tidak tahu sama sekali?” Ucapan Sandara membuat Jessica mengernyit. “Tidak, Unnie. Memangnya ada apa?” Sandara seperti meledak mendengar jawaban Jessica. Ia menarik napas sejenak. “BoA Sajangnim menunggumu di ruangannya, Bodoh.Jessica seakan disengat lebah mendengarnya. “Tunggu aku, Unnie! Aku akan tiba disana setengah jam lagi!”

“Tuh, kan, sudah jelas kalau bocah itu akan terlambat lagi.” Omel Sandara diikuti bunyi tut tut tut.

Jessica buru-buru mengambil kunci mobilnya setelah mencomot roti-keju-leleh-tabur-peterselinya. Ia tidak memakai jas hitam dengan logo Onyx di lengan atasnya. Hanya kaus polo hitam dan celana asal-asalan yang ia ambil begitu saja dari lemari. Ia tidak membawa tas, hanya ponsel di saku celananya. Dompet? Uh, apakah kita harus mengingatkannya untuk membawa dompet juga?

Jessica keluar dari apartemennya, turun ke basement di mana mobilnya terparkir melalui lift. Setelah menunggu beberapa lama agar lift bisa digunakan sambil mengetuk-ngetuk sneakers-nya—mungkin ini terlihat aneh, tapi Jessica lebih suka menggunakan sneakers daripada heels—bosan. Ia buru-buru menyerobot lift saat pintu lift terbuka, langsung menutup pintunya tanpa memedulikan tetangganya, seorang wanita paruh baya gendut, yang meminta untuk menahan pintu liftnya. Oke, Jessica kejam sekali dan ia minta maaf untuk itu.

Turun dari lift, di basement ia hampir menabrak seorang pria kepala empat berpakaian jas kantor. Jessica memang meminta maaf pada pria itu, namun dengan pandangan ke arah mobilnya yang terparkir di pojok.

“Kumohon, maafkan aku. Aku sedang terburu-buru dan harus segera berangkat bekerja karena bosku yang tegas tapi baik hati menungguku di ruangannya. Jadi maafkan aku, oke, blablabla …” Jessica terus mengoceh, bahkan tak sadar jika ia sudah berjalan meninggalkan pria yang ditabraknya tadi.

Jessica membuka pintu mobilnya, membantingnya karena ia memang tidak bisa menutup pintu dengan benar. Memasang seat belt—oke, setidaknya ia tidak lupa menggunakan alat-pembuat-ruang-gerak-terbatas itu—dan langsung tancap gas. Ia mengendarai mobilnya keluar dari basement, membiarkan cat putih Audi r8-nya ditimpa sinar matahari musim semi.

“Uh, baru saja aku keluar dari apartemen. Kenapa macet selalu menghambatku dimana-mana, sih?” omel Jessica ketika melihat sebuah city car menyerobot posisinya.

Jessica meremas stir, terpaksa menunggu akibat kemacetan. “Oh, ayolah. Kapan para insinyur menciptakan mobil yang bisa terbang?”

Setelah berkutat dengan padatnya lalu lintas Seoul serta ributnya klakson mobil yang membuat pekak telinga, akhirnya Jessica berhasil memasuki basement Onyx Build. Ukh, ia hampir menangis merengek-rengek melihat tempat parkir di basement yang terisi penuh. Terpaksa ia parkir di tempat yang tidak seharusnya, oke, ia benar-benar buru-buru.

Setelah mematikan mesin mobil, mencabut kuncinya, melepas seat belt kemudian merapikan rambut yang sempat diacak-acak karena kesal dan membanting pintu mobil, Jessica langsung berlari menuju lift di seberang. Lift kosong, dan Jessica girang sekali melihatnya. Ia melompat ke dalam lift, menekan tombol 18 di lift, dan melihat-lihat jalanan Seoul yang macet melalui lift yang terbuat dari kaca berangka alumunium.

“Tunggu. Aku merasa ada sesuatu yang kurang,” gumam Jessica sedikit gelisah. Ia meraba-raba saku kausnya, celananya, tapi yang ia temukan hanya ponsel dan sebungkus permen karet yang sudah lembek karena terlalu lama di simpan di saku celana. Ia mencoba mengingat-ingat dengan memori terbatas. Pasti ada barang yang lupa ia bawa.

“Aku lupa membawa dompetku!”

Tuh, kan.

“Sandara, apakah kau melihat Jessica?” gumam BoA bingung sambil duduk di kursinya. Ia sudah mengatakan pada Jessica bahwa ia mengajaknya bertemu. Namun, sepertinya sifat ceroboh pegawai kesayangannya itu tidak hilang juga.

Sandara yang sedang merapikan berkas-berkas di mejanya menoleh ketika BoA menanyakan keberadaan Jessica padanya. “Mungkin terlambat, Sajangnim. Anak satu itu memang sudah biasa terlambat. Saya tidak habis pikir bagaimana otaknya begitu cemerlang namun pribadinya begitu buruk. Tadi saya sudah menelepon Jessica, namun ia melupakan janji dengan Anda, Sajangnim.”

“Jadi ia tidak jadi menemuiku hari ini?” nada bicara BoA naik.

Sandara yang sudah biasa menghadapi hal itu bersikap biasa saja. Ia melangkah menuju vending machine di pojok ruangan untuk mengusir dahaga dengan meminum sekaleng sari jeruk. “Ia tetap akan menemui Anda, namun ia akan sedikit terlambat, Sajangnim.”

“Umh, oke … Namun sepertinya kesabaranku akan habis dalam beberapa detik,” ucap BoA pelan, namun sanggup membuat Sandara terkikik.

Sandara mengambil sekaleng cappucino dari vending machine dan meletakkannya di meja BoA. “Untukmu, Sajangnim. Saya harap ini bisa melepas stres Anda.” BoA tersenyum tipis. “Aku akan meminumnya nanti. Terima kasih, Sandara.”

Tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Sandara menoleh ke arah pintu disusul BoA yang tadinya hendak membuka kaleng cappucino. Sandara berharap-harap cemas kalau yang membuka pintu tadi adalah Jessica, namun seorang wanita berambut merah dengan mata biru koral karena contact lens memunculkan kepalanya dari daun pintu. Park Bom, sahabat Sandara yang merupakan sekretaris Choi Seung Hyun, bekerja di Divisi Keuangan.

“Aaah, Annyeonghaseyo, Sajangnim. Maaf, bolehkah saya mengobrol sebentar dengan Anda? Tadi Seunghyun memarahi saya terus, Sajangnim. Katanya saya tidak becus dalam mengoreksi anggaran. Siapa yang tidak kesal jika dimarahi seperti itu, coba, Sajangnim? Sajangnim, seharusnya Seunghyun dipecat saja. Justru ia yang tidak becus menjadi Ketua Divisi Keuangan. Selalu memarahi bawahannya, menyebalkan sekali, kan, Sajangnim?” rengek Bom, meminta belas kasihan.

BoA tersenyum getir. Terlihat sekali kalau ia tidak bisa menegur Bom karena Bom terlihat sangat manis. Ia memilih untuk menjawab Bom dengan hati-hati. “Bom Sayang, tapi Seunghyun adalah Ketua Divisi Keuangan terbaik di Onyx, jadi saya tidak bisa memecatnya. Kecuali jika kinerjanya kurang baik, maka—”

Bom cepat-cepat menyela BoA. “Kinerjanya kurang baik? Pekerjaannya betul-betul buruk, Sajangnim! Ia selalu menyuruh saya menghitung anggaran, menganalisis anggaran, membagi-bagi anggaran untuk bulan ini, mengoreksi ini itu, sampai-sampai kepala saya pusing! Sementara Seunghyun itu hanya duduk di kursinya sambil minum soda dan malas-malasan. Lalu ia akan menertawakan saya ketika tidak sengaja saya terpeleset, atau kepala saya terantuk meja, tapi ia akan memarahi saya sambil menggebrak meja, bahkan sampai berdiri di atas meja seolah-olah ia yang berkuasa. Saya hanya salah menuliskan satu angka saja, ia memarahi saya seolah tidak punya belas kasihan. Ia selalu meminta saya membelikannya makan siang di pantry. Apakah itu yang pantas disebut “Ketua Divisi Keuangan terbaik”, Sajangnim?”

“Seunghyun bekerja dengan sangat baik, Bom. Sekarang, kembalilah ke ruanganmu. Seunghyun pasti menunggu sekretarisnya yang paling cantik dan manis supaya bisa meringankan pekerjaannya. Sandara, tolong antar Bom ke ruangannya,” perintah BoA, tegas.

Bom meronta sedikit ketika Sandara menggeret tangannya dan menyuruhnya diam. “Sajangnim! Tolong pecat Choi Seunghyun! Tarik semua gaji yang pernah Anda berikan kepadanya! Pecat ia, Sajangnim!”

Sandara yang sudah menyeret Bom keluar dari ruangan BoA menyuruh Bom untuk diam. “Kau bisa diam, tidak, sih. Sebenarnya BoA Sajangnim ingin memarahimu, Bom. Untunglah kau punya wajah semanis ini. Kalau tidak, mungkin ia akan memberimu tugas tambahan. Jadilah anak baik dan bekerjalah dengan cekatan. Seunghyun pasti memarahimu karena pekerjaanmu kurang baik, jadi perbaikilah. Sekarang, kembali ke ruanganmu sana! Seunghyun pasti akan memarahimu.”

“Sandara,” rengek Bom. “Izinkan aku berada di ruangan BoA Sajangnim dulu, sebentar saja, ya? Nanti Seunghyun akan memalakku habis-habisan.”

“Tidak boleh, Bom Sayang. Kembali ke ruanganmu dan jadilah anak manis, oke?” Sandara mengantarkan Bom ke dalam ruangan yang terletak di ujung koridor, tak jauh dari ruangan BoA. “Tuh, masuklah. Seunghyun sudah menunggumu di dalam.”

Bom seakan memasang ekspresi tidak rela ketika tangan Sandara mendorong punggungnya pelan untuk masuk. Tapi melihat sosok Seunghyun yang sedang menatapnya lekat-lekat, ia memberanikan diri untuk masuk. “Terima kasih, Sandara,” bisik Bom sebelum Sandara menutup pintu ruangan Seunghyun.

Sandara melambaikan tangan dan menghela napas. Sahabatnya memang manis dan menggemaskan, tapi ia juga manja. Ah, itu hanya masalah kecil saja. Sekarang, masalah besarnya adalah mengapa Jessica belum datang juga.

“Nona Jung, kau menghilang kemana saja?” gumam Sandara sambil berjalan kembali menuju ruangan BoA. Ia sempat berhenti di depan lift, siapa tahu Jessica akan datang sebentar lagi. Oke, tapi menunggu Jessica yang begitu ceroboh adalah hal yang membosankan, oleh karena itu Sandara hampir mati kebosanan karena menunggu Jessica di depan lift selama lima menit.

Tiba-tiba pintu lift terbuka. Sesosok gadis berperawakan mungil dengan rambut blonde keluar dari dalamnya, namun sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Gadis itu begitu bersemangat sehingga tak sengaja tersandung kakinya sendiri. Tubuhnya menimpa tubuh Sandara, sehingga gadis itu duduk di pinggang Sandara. Gadis itu terkejut.

“Aduh, Sandara Unnie, maafkan aku. Kau baik-baik saja, kan?”

Kau berat sekali, Jessica Sayang. Sandara meringis kesakitan.

“Jadi, kau bangun siang, lupa mematikan microwave, melupakan janjimu denganku di kantor, tidak mempersilahkan tetanggamu sendiri menggunakan lift yang sama denganmu, menabrak seorang pria, mengomeli kemacetan, lupa membawa dompetmu, dan berujung kau menabrak Sandara hingga ia terjatuh tadi? Kau keterlaluan, Jessica Jung. Andai saja kau bukan pegawai kesayangan sekaligus salah satu pegawai terbaik di Onyx, mungkin aku sudah mengirimkanmu ke asrama kepribadian,” omel BoA yang membuat Jessica menyengir.

“Maafkan aku, Unnie. Ini kesalahan terakhirku, deh. Aku janji,” rengek Jessica dengan tampang memelas.

Sandara mendengus. “Kesalahan terakhir dalam waktu seperempat jam, huh? Kalaupun Anda hendak mengirim Jessica ke asrama kepribadian, tidak ada satupun asrama yang mau menerimanya, Sajangnim.”

“Sudah, sudah. Sandara, bisa kau ambilkan berkas-berkasku di lemari? Ah, Jessica, ayo, duduk di sini bersamaku,” perintah BoA dan menepuk sisi sofa sebelah kiri.

Jessica melompat dan membiarkan pantatnya mendarat dengan empuk di sofa. Dengan wajah antusias ia menatap BoA. “Ada kasus baru apa lagi, Unnie?”

BoA tertawa kecil. “Bukan kasus, sih, sebenarnya. Eum, mungkin juga. Oke, lupakan. Aku hanya memintamu menjadi bodyguard.”

“Eh? Bodyguard?” pupil mata Jessica melebar.

BoA mengangguk. “Kau tahu Kim Hyuna, kan? Penyanyi dengan image seksi yang sedang naik daun belakangan ini.”

Sandara yang lewat dan meletakkan sebuah map di meja serta dua cangkir teh menatap Jessica dengan mata berkilat-kilat. “Ia tidak mungkin tahu, Sajangnim. Kau kan berhibernasi sejak jaman kuda gigit besi, Jess.”

Jessica melotot dan hendak menyemprot Sandara, tapi BoA meraih tangannya. Dengan penuh wibawa, BoA menatap Jessica dalam dan mulai bicara dengan suaranya yang dalam. “Akhir-akhir ini ia dibuntuti oleh seorang penguntit, Jessica. Nona Kim menyewa salah satu agen Onyx untuk mengamankannya, dan kupikir kau tepat untuk hal itu. Tapi, kau juga harus lihai dalam menyamar. Karena mungkin saja kau perlu menyamar menjadi seseorang di saat genting.”

“Tenang saja, Unnie. Tugas tersebut akan sangat gampang bagiku. Serahkan saja padaku,” Jessica mulai bersesumbar walaupun ia tidak yakin ia akan menyamar dengan benar.

“Eiits, tugas tersebut tidaklah mudah, Sayang. Eumm, sebaiknya kau harus tahu dulu seperti apa pribadi Nona Kim. Ia sedikit manja dan cerewet, jadi, kuharap kau harus hati-hati bersikap padanya. Ia benci perempuan yang kelaki-lakian sepertimu, jadi, bisakah kau menjadi sedikit feminin, Jess? Untuk tahap pertama, ubah cara berpakaianmu dulu,” nasihat BoA.

Jessica menatap penampilannya dari atas ke bawah. “Memangnya yang seperti ini tidak boleh, ya, Unnie?”

BoA entah harus kasihan atau malah tertawa, tapi Jessica terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu. “Tidak boleh. Kau harus membiasakan diri menggunakan rok, oke?”

Melihat perubahan dalam ekspresi Jessica, BoA mencoba mencari cara untuk membujuknya. “Kutraktir kau makan siang di bakery depan kantor, ya? Atau kuberi kau gaji tambahan? Oh, ini demi pekerjaanmu, Jessica.”

Jessica mengangguk kecil, namun dengan wajah yang masih terlipat. “Ada berita yang menarik lainnya, Unnie?”

BoA berpikir sejenak. Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya seolah mendapatkan ide—tapi memang benar ia mendapat ide, kok. “Ah! Aku hampir lupa. Kau akan mendapatkan seorang asisten.”

Air muka Jessica berubah. Ia kembali menampakkan wajah kelincinya. Tangannya mengguncang-guncangkan bahu BoA, tak peduli bahwa atasannya itu meringis kesakitan. “Benarkah, Unnie? Jinjjayo? Aku akan mendapatkan asisten? Uwaaa … Terima kasih, Unnie! Kau Unnie terbaik sepanjang masa, deh.” Jessica memeluk BoA erat, membuat atasannya sulit bernapas.

“Jess, kumohon, lepaskan pelukanmu. Kalau sedang hiperenergi begini kau menyeramkan, tahu,” pinta BoA dengan susah payah. Akhirnya Jessica melepaskan pelukannya dan membuat BoA bisa bernapas dengan benar lagi.

“Jadi, siapa asistenku, Unnie? Apakah ia menyenangkan? Apakah ia berwawasan luas? Apakah ia enak diajak bergosip?” Jessica melontarkan bertubi-tubi pertanyaan kepada BoA.

“Eumm, mungkin. Ia adalah seseorang dengan pribadi pekerja keras, pengertian, lalu, euumm … apalagi, ya? Ah, setidaknya ia adalah teman bergosip yang baik, haha …” BoA tertawa kecil. “Kuberi tahu, ya, asistenmu adalah …”

Mata biji leci Jessica berkerlap-kerlip.

“Adalah …”

Kau mungkin bisa mendengarkan cicitan menggemaskan dari mulut Jessica.

“Asistenmu adalah … Xi Luhan! Yippey!” seru BoA girang.

Uh, Jessica seperti jatuh bergedebuk dari langit ketujuh dan mendarat di hutan kaktus berduri.

Jessica’s Side

Hai, semuanya. Aku Jessica Jung. Gadis pemalas yang lebih menyukai tidur daripada melirik kaum Adam yang berwajah rupawan sambil berkedip-kedip genit, seperti yang dilakukan para wanita posesif, seolah mereka itu cantik atau apalah. Aku beranggapan menjadi agen rahasia Onyx adalah cita-cita terbesarku yang akhirnya bisa kucapai setahun lalu. Orang tuaku menolak hal itu, awalnya. Ia beranggapan kalau aku, atau kakakku Yunho lebih baik mengambil pekerjaan di bidang bisnis, atau entertaimen mungkin. Tidak seperti adikku Krystal yang penurut, aku dan Yunho—biarpun Yunho pendiam dan aku sama sekali tidak bisa diam—yang sama-sama pemberontak memilih untuk meninggalkan San Fransisco dan menetap di Seoul. Krystal, si anak mami, meneruskan kuliahnya sambil menjadi model, sekaligus menjadi anak kesayangan orang tuaku. Cuek padaku, tapi aku bisa memprediksi sorot matanya yang seakan menembus ke rongga mataku, kemudian mencabik-cabik jantungku sehingga aku … Oke, kau pasti sudah tahu kelanjutannya.

Abaikan tentang Krystal dan orang tuaku di San Fransisco. Aku sudah bergembira tinggal di Seoul, bebas dari siapapun yang mengekangku. Yunho Oppa sibuk dengan hidupnya sendiri, bergaul dengan orang-orang berkacamata setebal pantat botol, tidak terlalu memedulikanku. Ia pikir, selama aku masih bisa merengek padanya, hidupku masih baik-baik saja. Kolot, sih, tapi aku sayang sekali pada kakakku yang satu itu. Ia suka memberiku bonus uang saku.

Teman-temanku bilang aku mengerikan. Hanya sedikit dari ribuan wanita di dunia yang familiar dengan revolver, termasuk aku. Oleh karena itu, para gadis kecentilan itu menggunjingku terus. Mereka menjulukiku pembunuh, perempuan jadi-jadian, atau apalah itu yang membuat telingaku panas dan hendak menarik pelatuk revolver-ku, membiarkan timah panasnya menembus kepala mereka.

Soal asmara, aku belum pernah merasakannya. Aku tidak memiliki wajah sejelita Krystal, jadi sepertinya, secantik apapun aku tidak akan ada yang mau memacari gadis kelaki-lakian dan dingin sepertiku ini. Tidak masalah, sih. Menurutku, harga diri itu yang utama, karena wanita yang tidak dihargai bukan wanita sejati, itu kata kakak angkatku, Minyoung. Ia meninggal setelah keperawanannya dicuri oleh seorang laki-laki yang sepertinya tidak mendapat pendidikan yang pantas dari keluarganya, Lee Minho. Minyoung Unnie ditembak oleh laki-laki itu, tepat di depan mataku sendiri. Mengerikan. Oleh karena itu hingga saat ini aku ingin melacak keberadaan Lee Minho. Aku ingin membalaskan dendamku padanya, biar tahu rasa ia.

Hobiku adalah bersenang-senang dengan revolverku. Well, kau pasti tahu apa maksudku dengan kata bersenang-senang. Meringkus penjahat, tentunya. Aku memang akrab dengan senjata berbahaya, tapi aku tak pernah sampai hati untuk membunuh orang. Oke, ini kelemahanku. Waktu masih trainee dulu, aku meloloskan Lee Hyukjae, salah seorang musuh bebuyutan Onyx, gara-gara ia merengek padaku bahwa anaknya yang masih kecil menunggu di rumah. Cih, kalau waktu itu aku tahu kalau itu bohong, mungkin sudah kutarik pelatuk revolverku. Karena kejadian itu, aku hampir kehilangan kesempatan untuk menjadi salah satu agen rahasia Onyx.

Aku tidak identik dengan sesuatu berbau salon, pakaian branded, parfum mahal atau semacamnya. Make up? Eum, mungkin hanya lotion. Itu pun aku jarang memakainya. Tapi, Miyoung, salah satu agen rahasia Onyx yang tinggal di sebelah apartemenku memaksaku menggunakan barang-barang yang langsung membuatku bersin itu. Aku tidak tahu mengapa sebagian besar wanita terobsesi dengan make up, sementara dengan mudahnya aku menolaknya mentah-mentah—tapi karena aku tidak kuat dengan aegyo Miyoung, terpaksa aku menurut ketika ia memulaskan BB Cream di wajahku. Sebenarnya make up tidak terlalu buruk, seenggaknya bisa menutupi jerawatku.

Oke, ini menyangkut tentang kasus yang diberikan BoA Unnie tadi. Aku sudah biasa dengan kasus untuk menangkap buronan, tapi, yang ini? Menjadi bodyguard memang tidak masalah, tapi, menyamar? Oke, itu bukan keahlianku. Ketika aku tinggal di San Fransisco dahulu, sekolahku mengadakan kontes menyamar dan hanya aku satu-satunya yang tersandung jubah hitam ketika berjalan di atas panggung. Mulanya aku berniat menjadi Zorro, berharap tidak seorang pun mengenaliku, ternyata aku malah jadi bahan tertawaan. Menyebalkan.

Aku tidak yakin rekanku akan secemerlang yang kuinginkan. Mungkin ia adalah seorang lelaki dengan pribadi cuek, menyebalkan, dan tidak bisa menghargai wanita. Tapi aku juga harus berhadapan dengan kemungkinan bahwa ia adalah manusia tukang gombal yang akan selalu mencolek daguku sambil berkata, “Senorita” kemudian aku akan menendang tulang keringnya. Mengerikan.

Eum, bisakah aku mendapatkan rekan yang setampan Brad Pitt?

Oke, aku mulai melantur.

TBC

Saya enggak tahu apa yang harus kubasa-basikan, jadi, to the point kayaknya yang paling baik. Pertama, saya pikir chapter 1 ini enggak memuaskan banget. Saya enggak tau kenapa jadinya kayak gini. Tiba-tiba melenceng dari alur. Maaf banget, ya. Kedua, apa ff ini masih terlau pendek? Udah 3200+ words, tapi saya kurang tau apa ini terlalu pendek atau malah terlalu panjang. Konfirmasi saya, ya. Ketiga, chapter 2 masih dalam proses. Saya enggak bisa memprediksi chapter 2 bisa di-publish kapan, jadi, eum, sabar aja, ya. Keempat, tentang komentar. Saya enggak menuntut banyak. Soal komentar yang pendek, kayak “Next chapter cepetan di-update, ya” gitu aja aku udah puas, kok. Jadi, silakan berkomentar sesuka kalian, asal enggak ngelanggar komitmen, that’ll be fine.

Sweet Regards,

Lineveur

 

 

 

 

51 thoughts on “[Freelance] Miss Chameleon (Chapter 1)

  1. Muka muka jessica cocok banget kalo diekpresiin kayak yg di ff:))) ngakak masa
    Walaupun sebenernya rada gabisa nangkep maksud ff nya tapi bagus kok thor.
    Ditunggu kelanjutannya^^

  2. wahhh…., kerennn….!!!! pnasaran sma klanjutannya., dn pnasaran apakah luhan bsa diajak bergosi ..??o_O #pertanyaan_aneh
    ff ny mnurut ak gk trlalu pendek dn gk trlalu panjang ., yahh.., sedang lh thour…
    pokokny d tunggu klanjutanny dn smangat ne ^_^

    • Makasih buat pujiannya, yaa … That makes me a little shy, keke.
      Bergosip? Kurang tau, ya. Soalnya kan kadang laki-laki enggak bisa diajak bergosip, hehe. Kita liat di chapter selanjutnya nanti, kayak gimana sifatnya Luhan.
      Oh ya? Padahal banyak yang bilang kalo chapter 1 ini kependekan. Maklum, chapter 1 ini kebanyakan intro, hehe.
      Chapter 2 tinggal tunggu dipublish aja. Makasih udah baca & comment, ya c:

  3. Wuhuu, keren nih! Sica eon jdi agen Onyx! ska deh genre action gini😀 Kepribadian Sica menarik bgt d ff ini. cuek, santai gitu. jd seneng bacanya. ga kebayang trnyata Sica jdi bodyguard Hyuna, wkwk😄 Gmn tuh ya? asisten’a Luhan lg. pnasaran sm lnjutan’a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s