The Shadow – Chapter 3

image

Author  :  Kim Jemi

Title  :  The Shadow

Cast (s)  :
    –  Jessica Jung
    Byun Baekhyun
    –  Xi Luhan
    –  And Other

Genre  :  Angst, Horror, Mystery, Romance

Rating  :  PG – 14

Backsound  :  Lenka – Like a song

I don’t know what you want. But, this is like a rope around my neck, kept ensnare. And even worse, lead to death.

==

     Jessica memandang butiran – butiran salju yang turun perlahan. Ia menghela napas panjang dan kasar. Pikirannya masih melayang pada ucapan bayangan itu. Intinya baru dimulai. Cih, apakah bayangan itu baru belajar bahasa korea? Apa susahnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bayangan itu terus menerus menghantui Jessica? Membuatnya takut dan frustasi. Diliriknya pintu balkon yang tertutup rapat. Membayangkan kembali saat bayangan itu berada di sana.

     Gadis itu menggigit bibirnya dengan keras. Hampir saja membuat bibir mungilnya berdarah jika ia tidak melepaskan gigitannya. Napasnya tercekat. Dadanya bergemuruh. Bukankah seharusnya kini ia menikmati bagaimana hidup dalam ikatan pernikahan? Tapi bayangan hitam itu merusaknya, merusak hidupnya. Ia meremas cardigan hitamnya dengan kuat. Rasa takut kembali menghampirinya. Luhan akan pulang kerja sekitar 2 jam lagi. Tapi ia tak bisa menahan rasa takutnya selama itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Taeyeon, mungkin ia bisa bercerita mengenai masalahnya ini pada sahabatnya itu.

     Jessica berjalan cepat menuju meja di samping pintu kamar, mencari kunci mobilnya. Kosong. Tidak ada satu pun barang di sana. Ia menahan napasnya dan terus mencari kunci mobilnya. Ekor matanya menangkap sebuah benda kecil di balkon. Kunci mobil. Gadis itu lalu membuka pintu balkon dengan satu hentakan dan menutupnya kembali, lalu mengambil kunci mobilnya di lantai balkon. Ia tersenyum simpul dan membuka pintu balkon kembali.

Ctek. Ctek.

Ia mengerutkan keningnya dan kembali membuka pintu balkon.

Ctek. Ctek.

     Oh sial, pintunya terkunci! Dinginnya udara mulai menusuk kulit Jessica. Salju turun semakin lebat. Jika ia tidak segera masuk ke apartmentnya, ia pasti akan mati kedinginan. Saat ini ia hanya memakai kaos merah dan cardigan tipis. Tubuhnya mulai menggigil, hawa dingin semakin menusuk kulit putihnya. Ia memeluk dirinya sendiri dan merosot ke lantai balkon. Ia tak mungkin melompat dari balkon ini, karena apartmentnya berada di lantai 17. Itu sama saja seperti bunuh diri. Jessica mengangkat sebelah tangan untuk melihat jam tangan hitamnya. Satu setengah jam lagi Luhan pulang.

     Ia tak mungkin bisa bertahan selama itu. Ini pasti ulah bayangan hitam itu lagi. Kini Jessica mengerti, bayangan hitam itu ingin membuatnya mati secara perlahan. Yah, walaupun ia tahu belum tentu dugaannya benar. Bibir gadis itu mulai membiru, air matanya menetes perlahandi pipinya. Ia terisak dan berteriak seperti orang gila.

“Help me! Tolong aku, jebal! Hiks. Aku hampir mati kedinginan di sini! Tolong aku! Aish, bayangan hitam sialan!”

     Ia kembali terisak dan menarik – narik rambutnya. Mana mungkin ada yang mendengar teriakannya ditengah salju lebat seperti ini. Orang – orang pasti enggan keluar rumah dan lebih memilih berdiam diri di depan perapian sambil meminum cokelat panas.

“Aish, kunci mobil sialan! Andai saja aku tak keluar untuk mengambil kunci mobil bodoh itu!” Umpatnya pelang sambil melirik kunci mobil di sampingnya.

     Ia menarik napas perlahan. Percuma saja ia terus mengumpat dan berandai – andai, toh, ini semua tetap akan terjadi. Walaupun ini tak pernah ia hendaki. Tapi ini adalah takdir yang telah digariskan oleh Tuhan, jauh sebelum ia lahir bahkan terbentuk di rahim ibunya. Tubuhnya sudah tak bisa menahan dingin yang semakin menjadi – jadi. Matanya terasa berat, bisa ditebak kini keadaannya semakin memprihatinkan. Perlahan pandangannya mengabur dan semuanya menjadi gelap.

==

     Luhan mendecakkan lidahnya saat Jessica tak menjawab telponnya lagi. Ia sudah berkali – kali menghubungi gadis itu, namun hasilnya tetap sama. Ia ingin memastikan keadaan istrinya itu. Luhan harap hari ini Jessica tidak pergi kemana- mana karena salju sedang turun dengan lebatnya. Dari tadi ia sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaannya. Rasa khawatir sekaligus takut terus saja menghampirinya. Ditambah dengan Jessica yang tak pernah menjawab telponnya.

“Hyung, kenapa belum pulang?” Sebuah suara berat itu membuatnya tersentak. Ia mendapati Chanyeol berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.

“Ya, Park Chanyeol! Bisakah kau tidak mengagetkanku!?” Luhan berdiri dari kursinya dengan mata memerah.

     Chanyeol tersentak dan mundur beberapa langkah. Tumben atasannya bersikap seperti itu. Apa ia sedang ada masalah dengan istrinya? Mungkin saja. Lagi pula mereka adalah pasangan baru. Luhan mengerjapkan matanya melihat reaksi Chanyeol. Ah, ia sadar, ia telah melampiaskan kekesalannya pada Chanyeol. Luhan buru – buru membungkuk dan menggumamkan permintaan maaf.

“Mianhae Chanyeol-ah. Pikiranku sedang kacau…” Chanyeol tersenyum dan mendekati Luhan.

“Gwaenchanayo. Hmm, apa kau sedang ada masalah dengan Jessica noona?” Luhan melirik Chanyeol sekilas dan menghela napas kasar.

“Ani. Hanya saja Jessica tak menjawab telponku. Aku khawatir dengan keadaannya saat ini. Ku harap hari ini ia tidak pergi kemana – mana.” Tutur Luhan pelan sambil menunduk. Chanyeol tersenyum dan menepuk bahu Luhan. Luhan mengangkat kepalanya, menatap namja jangkukng itu.

“Tidak usah khawatir. Mungkin saja ia sedang tidur pulas di apartment kalian. Bukankah Jessica noona sangat susah dibangunkan jika ia sudah tertidur? Anggap saja ia tak mendengar  dering ponselnya. Positive thinking, hyung. By the way, kau tidak pulang?”

Luhan tersenyum dan mengambil kunci mobilnya. Sahabatnya yang satu itu memang bisa diandalkan.

“Gomawoyo, Chanyeol-ah. Aku akan pulang sekarang, mau ikut?” Chanyeol menggelengkan kepalanya.

“Aniyo, hyung. Aku bawa mobil sendiri. Sebaiknya kita segera pulang, salju sudah semakin lebat.” Luhan mengikuti arah pandang Chanyeol dan berjalan cepat menuju pintu ruangannya.

= =

“Sica-ya…?”

     Luhan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Kosong. Ruang tamu dan ruang keluarga benar – benar kosong. Bahkan tidak ada tanda – tanda Jessica pernah menapakkan kakinya di sana. Ia menebak pasti Jessica tengah tertidur pulas di kamarnya. Dengan cepat, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan Jessica.

     Jantung Luhan hampir jatuh ke tanah saat mengetahui istrinya tidak ada di sana. Luhan berjalan cepat menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka dan membukanya. Kosong. Matanya melirik pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat itu, pintu balkon. Namja itu memutar knop pintu balkon cepat. Sial, pintu itu terkunci. Tidak ada pilihan lain selain mendobraknya.

Hana.

Dul.

Set.

Brak!

     Mata Luhan terbelalak kaget melihat tubuh mungil istrinya tergeletak tak berdaya di lantai balkon. Tanpa pikir panjang, Luhan segera mengangkat Jessica dan membawanya masuk. Dibaringkannya tubuh Jessica di ranjang lalu berlari ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk. Setelah mengambilnya, ia kembali ke kamar dan segera mengompres Jessica. Suhu tubuh gadis itu benar – benar tinggi. Wajahnya pucat seperti mayat, bibirnya membiru, dan tubuhnya menggigil.

     Berbagai pertanyaan telah muncul di otak Luhan saat melihat Jessica di balkon tadi. Bagaimana bisa ia terkunci di balkon seperti tadi? Bagaimana jadinya jika Luhan terlambat menyelamatkan Jessica yang hampir mati kedinginan? Bukankah salju sudah mulai turun dari tadi pagi? Tapi mengapa Jessica nekat ke balkon padahal ia tahu udara di luar sangat dingin? Aish, percuma terus menerus menimpan pertanyaan – pertanyaan yang tidak bisa ia jawab saat ini. Bukannya membantu, itu malah semakin mempersulit Luhan karena rasa penasarannya yang tinggi.

     Setidaknya akan lebih baik ia menemukan Jessica dengan pakaian sepantasnya seperti mantel atau jaket tebal, tapi ini malah sebaliknya. Hanya kaos merah yang dibalut dengan cardigan tipis berwarna hitam. Saat Jessica sadar nanti, ia harus segera menjawab serentetan pertanyaan Luhan. Setelah mengompresnya istrinya, Luhan melirik pakaian istrinya yang basah. Apa ia harus menggantinya? Sepertinya iya, lagipula Jessica adalah istrinya, jadi ia berhak untuk melihat setiap inci tubuh gadis itu.

= =

     Perlahan pintu cokelat tua itu terbuka lebar. Ruangan gelap yang hanya disinari dengan cahaya rembulan dari jendela besar itu terlihat cukup mengerikan. Pemandangan dari luar jendela yang menampilkan bulan purnama dan pepohonan tanpau daun semakin menambah kesan mengerikan. Langkah kaki terdengar memasuki ruangan itu. Lantai kayu yang cukup tua itu menimbulkan bunyi pelan.

     Piano putih di tengah ruangan itu berbunyi pelan. Entah siapa yang memainkannya. Tuts – tuts piano itu terus berbunyi. Membentuk alunan lagu yang tak beraturan. Gulungan awan hitam mulai tampak di langit malam itu. Menutupi bulan purnama yang tadinya bersinar terang – benderang. Semilir angin yang tadinya berhembus pelan, kini berubah menjadi kencang. Ruangan itu bertambah gelap, seiring dengan menghilangnya cahaya purnama. Gerakan tangan di atas tuts piano itu berhenti.

     Perlahan sosok yang memainkan piano tadi terlihat. Sosok bayangan hitam yang bangkit dan berjalan menuju jendela. Dibukanya jendela besar itu dengan satu hentakan. Gulungan awan hitam yang tadinya menutupi sang rembulan itu perlahan menghilang. Cahaya bulan kembali menerangi ruangan itu dan bayangan hitam tadi. Sosok asli bayangan hitam itu terlihat. Seorang namja dengan kemeja putih yang sudah kusut dan celana jeans putih yang sedikit kotor. Rambut kecoklatan namja itu berantakan. Kulit putihnya terlihat pucat.

     Ia menundukkan kepalanya, menatap pekarangan depan rumah yang ia tempati saat ini. Atau mungkin tidak pantas disebut rumah karena sama sekali tak layak untuk ditempati. Lagi pula ia tak butuh tempat tinggal. Ia bisa tinggal dimana saja asalkan ia tak menunjukkan ‘sosok’ aslinya.

= =

     Jessica mengerjapkan matanya berkali – kali. Cahaya lampu yang cukup terang iu memaksanya untuk menutup kembali matanya. Badannya terasa lemas. Ia mengangkat tangannya dan menaruhnya di kening. Panas. Ah, ia ingat, ia pasti demam karena terkunci di balkon tadi. Tunggu, lalu siapa yang menemukannya terkapar di lantai balkon? Apakah Luhan? Buru – buru Jessica membuka kembali matanya dan merubah posisinya menjadi duduk di pinggir ranjang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia tak mendapati suaminya di sana. Dengan pandangan sedikit kabur, ia bangkit dan berjalan keluar kamar.

     Matanya menangkap sosok Luhan yang tertidur di sofa ruang tamu. Gadis itu melirik jam dinding, pukul 23.27. Ia menghampiri suaminya dan menepuk pipinya pelan. Luhan menggeliat dan mengerjapkan matanya, setelah melihat wajah Jessica, ia segera bangkit dan tersenyum hangat.

“Eoh, kau sudah siuman rupanya. Bagaimana keadaanmu?”

“Hmm, aku baik – baik saja. Oppa, kau sudah makan?”

“Baguslah kalau begitu. Aku sudah memasak ramyun instant. Oh iya, mian sudah seenaknya menggantikan pakaianmu.” Ungkap Lalu duduk kembali di sofa dengan kepala tertunduk.

     Jessica mengernyit dan melirik pakaiannya. Oh, ia baru sadar kini ia hanya memakai kemeja putih milik Luhan dan celana pendek putih. Pipinya memanas. Ia yakin, pasti kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

“T-tenang saja! Aku tidak melakukan apa – apa selain mengganti pakaianmu. Bagaimana jika sekarang kau istirahat kembali? Kau masih demam, Sica-ya.” Ucap Luhan setelah menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.

“Hmm, baiklah. Aku akan beristirahat kembali. Oppa, sebaiknya kau tidur di dalam. Di sini terlalu dingin.” Jessica berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Marah? Atau malah malu? Luhan menggeleng pelan dan mengikuti langkah istrinya.

= =

     Gadis itu bersiul pelan. Ia membuka lemari esnya dan mengeluarkan beberapa helai roti, selai strawberry, dan susu cokelat segar. Ia mengolesi sehelai roti dengan selai strawberry, kemudian memakannya. Rambut blondenya diikat asal – asalan, memperlihatkan dua tindikan di telinga kanannya. Setelah roti di mulutnya habis, ia menuangkan susu cokelat ke dalam mug bergambar kelinci berwarna putih dan meneguknya hingga habis.

     Kim Taeyeon-nama gadis itu- berjalan pelan menuju kamar mandi rumahnya. Setelah berada di kamar mandi, ia menyalakan wastafel dan membasuh wajahnya. Air dingin yang segar segera menyapa kulit wajahnya. Benar – benar dingin.

Tuk. Tuk.

     Sontak Taeyeon menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara apa itu? Seperti suara langkah kaki. Ia berjalan pelan ke pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya. Tidak ada suara lagi. Kening Taeyeon berkerut, ia yakin suara tadi itu benar – benar ada karena suara itu cukup keras. Karena penasaran, ia membuka pintu kamar mandi dengan satu hentakan. Tidak ada apa – apa. Ruang tamunya sunyi senyap. Ia mendesah pelan saat melihat keluar jendela, langit kembali mendung seperti hari – hari sebelumnya. Sepertinya matahari masih enggan menampakkan dirinya. Taeyeon hendak menutup kembali pintu kamar mandi, namun…

Buk.

     Tubuh gadis itu tersungkur ke lantai ruang tamu. Sesuatu yang keras baru saja menghantam punggungnya. Ringisan kecil keluar dari bibirnya. Kini punggungnya mulai berdenyut. Ia menoleh ke kamar mandi. Aneh, ia tak melihat apapun yang baru saja menghantam punggungnya.

Brak.

     Pintu kamar mandi tertutup secara tiba – tiba. Lampu ruang tamu tiba – tiba padam. Oh, sial! Maki Taeyeon dalam hati sambil mencoba bangkit. Punggungnya masih berdenyut, membuatnya meringis lagi. Mungkin benda yang tadi memukulnya adalah kayu atau besi. Nah, memangnya kayu ataupun besi bisa melayang sendiri? Tidak mungkin, kan? Atau jangan – jangan…

     Taeyeon segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruk yang menghinggapi otaknya. Tidak, tidak ada hantu di dunia ini. Ia tak percaya pada hal – hal berbau mistis seperti itu. Tapi apa iya sebuah benda dapat melayang dengan sendirinya dan memukul punggungnya? Atau mungkin yang tadi itu bukan sbuah benda?

Wush.

     Semilir angin dingin barusan berhembus melewati tengkuknya. Ia benci mengakuinya tapi bulu kuduknya mulai meremang. Tiba – tiba telinganya mendengung. Suara – suara angin seketika lenyap, tergantikan dengan bunyi dentingan jam kuno di ruang tamunya. Jam berukuran besar itu berkali – kali berdenting. Gadis itu mengernyit, matanya tidak salah lihat, kan? Bukannya ini masih pagi? Kenapa jam itu sudah menunjukkan pukul 12 tepat? Aneh.

     Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya mencari saklar lampu. Matanya sudah tak kuat bergelap – gelap ria begini. Dirabanya dinding ruang tamu yang berwarna krem itu, ia tak kunjung menemukan saklar lampu. Hingga tangannya menyentuh sesuatu yang ganjal. Benda itu halus namun dingin. Taeyeon meraba benda itu. Jantungnya terasa hampir jatuh saat mengetahui benda itu adalah telapak tangan. Dengan cepat ia menarik tangannya, namun terlambat. Tangan itu kini mencengkram pergelangan tangan gadis itu kuat.

“Kau ingat aku?”

Taeyeon terkesiap mendengar suara barusan.

“S-siapa itu!?”

“Kau sama saja.”

Klik.

     Tiba – tiba lampu kembali menyala. Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali. Bukannya tadi ia berbicara kepada seseorang? Tapi kini di hadapannya tidak ada siapa – siapa.napa mungkin tadi itu hanyalah imajinasinya saja? Rasanya tidak mungkin. Kejadian – kejadian tadi membuatnya harus mengakui, sepertinya hantu itu ada.

= =

“Oppa, bisa antar aku ke taman kota?”

     Luhan yang tengah memasang dasinya menoleh ke istrinya yang duduk di pinggir ranjang. Ia tersenyum simpul dan kembali fokus memasang dasinya.

“Bisa saja. Kebetulan aku ada urusan dengan salah satu klienku di dekat sana. Memangnya ada perlu apa kau ke sana?”

“Aniyo, hanya ingin jalan – jalan.”

Ting. Tong.

“Biar aku saja yang membukanya.” Jessica kemudian berlari kecil menuju pintu apartment dan membukanya.

     Tampaklah seorang namja berdiri sambil membawa sebuah kotak berwarna peach. Namja itu tersenyum simpul dan membungkuk sedikit. Ia lalu menyodorkan kotak itu ke Jessica.

“Annyeonghaseyo. Aku baru saja pindah ke apartment sebelah. Huang Zi Tao imnida. Panggil saja aku Tao, noona cantik.”

     Gadis itu mengernyit setelah mendengar kalimat terakhir namja itu. Noona cantik? Hei, ia tak salah dengar, kan?

“Noona cantik?”

“Ne, noona sangat cantik. Dan sepertinya noona lebih tua dariku. Aku sangat senang bisa bertetangga dengan noona.” Tao lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum aneh.

“Hei, kenapa kau mengedipkan sebelah matamu dan tersenyum seperti itu kepada istriku?” Luhan yang entah sejak kapan berdiri di belakang Jessica sedikit terbawa emosi karena perlakuan Tao tadi.

“Ani. Hanya mencoba menggoda noona canik ini. Baiklah kalau begitu, aku pergi. Annyeong!” Namja itu lalu berbalik dan berjalan menuju pintu apartmentnya.

     Luhan masih mengatur japasnya yang memburu. Namja bernama Tao tadi benar – benar memancing emosinya. Namja itu sangat lancang, seenaknya memanggil noona cantik dan mengedipkan sbelah mata kepada istrinya.

“Sudahlah oppa, tidak usah dipedulikan. Kajja, nanti kau bisa telat, kau tak ingin membuat klienmu menunggu lama, bukan?”

At Park

     Langit perlahan berubah dari biru menjadi gelap. Gulungan awan putih yang tadinya setia menghiasi langit, berubah menjadi gulungan awan mendung. Gadis bersurai cokelat itu tetap merenung di salah satu bangku taman, entah apa yang direnungkannya. Matanya tak memperhatikan sekumpulan anak – anak yang bermain dengan riangnya dihp hadapannya, matanya tak juga memperhatikan pasangan – pasangan yang ada di sekitarnya. Ia hanya menatap kosong pada benda persegi di tangannya.

     Luhan tak bisa menjemputnya karena ada rapat mendadak. Jadi, ia harus pulang dengan taksi. Berarti ia akan sendirian di apartmentnya lagi? Oh tidak. Walaupun dari tadi ia belum dikejutkan dengan kehadiran bayangan hitam itu lagi, ia yakin bayangan hitam itu akan kembali menghantuinya saat ia sedang sendiri nanti. Ah, rasanya ia tak ingin kembali ke apartment itu lagi. Gadis itu lalu mengangkat kedua kakinya dan memeluknya.

Tes. Tes.

     Sial, umpatnya dalam hati saat tetesan air hujan mulai membasahi rambut cokelatnya. Ia segera bangkit dan berlari menuju taksi yang parkir tak jauh dari bangku taman yang ia duduki. Setelah berada di dalam taksi, ia mengambil napas sejenak dan menyebutkan alamat apartmentnya. Supir taksi hanya mengangguk dan menjalankan taksinya dengan kecepatan sedang.

TBC

= = =

Annyeong._.

Mian aku ngepostnya lama amat. Soalnya proyek sekolah banyak bangetT_T mana deadlinennya tinggal bentar-.- #curcol. Chapter 3nya udah cukup panjang, gak? Kalo masih pendek bilang aja, gak apa apa😀 mian, komentar – komentar kalian jarang aku balesT_T (malah gk pernah._.) Soalnya aku pengen hemat kuota, supaya bisa ngepost chapter berikutnya cepet. (Apa hubungannya coba-.-) tapi percayalah(?) Komentar – komentar kalian itu bagaikan penyemangat untuk ngetik kelanjutannya :’) Jadi jangan jadi silent reader, ne^o^)/ Gomawoyo all~ :’) udah ah ngebacotnya._.v Annyeong!!

With love :* :*

Author kece. (Plak-_-)

39 thoughts on “The Shadow – Chapter 3

  1. Akhirnya the shadow dilanjut jga🙂
    aku smakain penasaran sma shadow itu, apakah dia baekhyun? Apa hubgnnya dng jessica dan taeyeon?
    Hah.seru bgt ffnya cpt lnjut ya author kece/rayu dikit/😀

  2. Akhirnya the shadow dilanjut jga🙂
    aku smakin penasaran sma shadow itu, apakah dia baekhyun? Apa hubgnnya dng jessica dan taeyeon?
    Hah.seru bgt ffnya cpt lnjut ya author kece/rayu dikit/😀

  3. Akhirnya the shadow dilanjut jga🙂
    aku smakin penasaran sma shadow itu, apakah dia baekhyun? Apa hubgnnya dgn jessica dan taeyeon?
    Hah.seru bgt ffnya cpt lnjut ya author kece/rayu dikit/😀

  4. Akhirnya keluar juga lanjutannya thor sumpah makin penasaran $ªм̣̣̥̇̊ª baekhyun and apa hubungannya dgn sica and taeyeon dan semoga itu tak mengganggu rumah tangga sica and luhan ditunggu chap selanjutnya keep writting,fighting! And update soon yo…

  5. mianhae.. mianhae.. mianhae thour …, ak udh lma gk bka ff dn bru tau klw chap 3 udh di post T_T
    ak pnasaran sbenerny apa hubunganny bayangan itu sma jessica dan taeyeon dn ksian jga jessicany kedinginan…, taony genit bnget ><
    dtunggu klanjutanny thour dan smangat ne ^_^

  6. Itu ϔåπǵ jadi shadow baeki y
    .. Ko ganggu taeyoen n jesica
    .. Lalu ap mksdy “km sm aj”
    Mg ap ϔåπǵ prnh mrk lalkukan ber2 sm baeki thor…
    Nect dong
    GPL ya ….

  7. Hhhmm.. Kemungkinan besar bayangan hitam itu kayaknya Baekhyun yah.. Soalnya firasatku mengatakan bayangan hitam itu adalah Baekhyun. (Sok tau -,-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s