Hot Shot – Chapter 1

hotshot31

Yura Lin proudly presents;

Hot Shot

Genre:

Drama – Friendship – School-life – Sport

Length:

Series

Rating:

PG – 13

Cast:

Jessica | Jin | Suga | J-Hope | Rap Monster | Jimin | V | Jungkook

Previous:

Teaser and The Cast | Prolog

Note:

Kalau emang kalian ga tau siapa castnya tapi mau maksain buat baca, gampang kok. Kalian cuma perlu buka teaser. Di sana udah ada foto para cast. Lebih baik lagi kalau dibandingkan dengan poster biar kalian tau nama asli dan nama stagenya para cast. Kalau emang kalian ga mau ribet-ribet buka teaser, maka jangan protes kepadaku jika kalian tidak mengenal cast-cast di ff ini.

INGAT! Aku ga pernah maksa kalian buat baca dan komentar.

Credit Poster:

Vanilatte

*

Kamus basket part 1~

  1. Lay up : usaha memasukkan bola ke ring atau keranjang basket dengan dua langkah dan meloncat agar dapat meraih poin.
  2. Pivot: suatu usaha menyelamatkan bola dari jangkauan lawan dengan salah satu kaki sebagai porosnya, sedangkan kaki yang lain dapat berputar 360 derajat.

cr: wikipedia

*

Lagi-lagi hujan, pikir Hoseok.

Akhir-akhir ini, hujan sering turun membasahi tanah kota Seoul di tengah malam. Padahal tengah malam adalah waktunya para pemain basket jalanan berkumpul dan bertanding satu sama lain. Karena hujan, jumlah pemain tidak sebanyak biasanya. Banyak pemain lebih memilih berada di balik selimut dengan secangkir coklat panas di tangan.

Hoseok tidak menyukai hujan. Hujan membuat seluruh tempat basah. Belum lagi anginnya yang kencang membuat orang-orang jatuh sakit. Bukan sekedar itu yang membuatnya membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan ibunya. Ibunya sering mengajaknya bermain di tengah hujan saat dia kecil lalu ayahnya akan memarahi mereka berdua saat mengetahui itu.

*

“Bermain di tengah hujan sangat menyenang, bukan? Rasanya seperti hujan membersihkan pikiran buruk dari otak kita,” seru ibunya.

Si kecil Hoseok hanya mengangguk.

Ibunya terkekeh. “Ayahmu terlalu kolot sih.”

*

“Hope!”

Fokusnya yang sempat hilang pun melesat mengontrol otaknya saat mendengar seseorang meneriakan nama samarannya. Untung saja dia cepat tanggap sehingga ia menangkap lemparan bola dari teman setimnya tepat waktu. Jika tidak, pasti bola itu sudah menghantam wajahnya dan mematahkan tulang hidungnya.

Hoseok mendribble sekali lalu berlari menuju ring. Salah satu lawannya datang menghadang tapi dengan lincah, ia melakukan pivot lalu menyusup melewati celah di bawah lengan lawannya dan melakukan lay up cantik.

30 – 23 untuk kemenangan timnya. Padahal timnya hanya terdiri dari 2 orang sedangkan lawannya berjumlah 3 orang. Dan waktu pun selesai.

“Tim J-Hope dan Rap Monster menang!”

***

Hoseok tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi seorang streetballer alias pemain basket jalanan. Dia lahir dari keluarga yang berkecukupan walaupun tidak bergelimang harta. Saat kecil, dia juga takut berkomunikasi dengan anak-anak jalanan. Kalau saja dia tidak pernah mengenal seorang Kim Namjoon, mungkin dia tidak akan terseret ke dunia ini.

*

Hoseok mengambil jaketnya dan mengendap keluar rumah lewat jendela kamarnya. Dia dan ayahnya baru saja bertengkar hebat hanya karena 2 perempuan asing yang seenaknya muncul di kehidupannya. Memang apa hebatnya mereka berdua? Apalagi gadis yang bernama Sooyeon itu. Hah, wajahnya sangat lucu saat Hoseok tidak mempedulikan sapaannya. Apa yang gadis itu harapkan? Lagipula sejak kecil, Hoseok diajarkan untuk tidak berbicara kepada orang asing.

Ya, orang asing. Dan selamanya akan selalu menjadi orang asing.

Hoseok tidak memiliki tujuan sebenarnya. Dia hanya berjalan dan terus berjalan sambil berusaha menghilangkan amarahnya. Betapa dia menginginkan hujan turun tapi dia juga tidak ingin mengingat kenangan bersama ibunya. Betapa rumitnya.

Perhatiannya teralih saat mendengar suara bola yang memantul dan suara ramai orang-orang yang mengelilingi lapangan. Baru ia sadari dimana kakinya membawanya pergi. Dia segera berbalik badan. Dia harus pergi dari tempat anak-anak jalanan sebelum mereka menyadari keberadaannya. Dia selalu mempunyai penilaian jelek tentang mereka.

Niatnya lenyap seketika setelah berbalik badan. Tepat di depannya, seseorang yang tidak asing berdiri. Tadinya, orang itu berlari tergesa-gesa tapi berhenti karena melihat keberadaan Hoseok. Mereka tidak mengatakan apapun. Mereka terlalu kaget.

“Kim Namjoon?”

Tentu saja Hoseok mengenal pria di depannya. Siapa sih murid SHS yang tidak mengenal seorang Kim Namjoon? Pria ini adalah murid jenius, selalu mendapatkan ranking pertama setiap semester dan sering dikirim ke berbagai olimpiade. Akhir-akhir ini, Namjoon menolak banyak tawaran guru untuk mengikuti olimpiade lainnya. Banyak yang bertanya-tanya mengapa. Akan tetapi, kini Hoseok tahu mengapa setelah mengamati Namjoon yang memakai baju basket dibalut jaket tebal dan memakai topi hitam, ditambah keberadaannya di tempat ini.

Namjoon pun tidak asing dengan wajah Hoseok. Mereka sempat sekelas di tahun pertama dan sempat satu grup untuk beberapa tugas. Bisa dikatakan mereka cukup dekat. Setelah mereka masuk ke kelas yang berbeda, mereka pun sibuk dengan hidup masing-masing.

Namjoon mengumpat pelan. Segalanya terasa salah saat ini. Tidak seharusnya seseorang yang mengenalnya berada di tempat ini. Dia tidak ingin keluarganya tahu apa kegiatannya setiap malam. Keluarganya hanya tahu dia sibuk dengan berbagai buku di kamarnya sehingga tidak boleh diganggu.

“Anggap kau tidak pernah melihatku di sini,” kata Namjoon lalu bergegas pergi ke lapangan.

Hoseok tercengang. Dia tidak mengira bahwa kesimpulannya benar. Bahkan dia sempat menertawai pemikirannya sendiri dan yakin seorang Kim Namjoon tidak akan mau bergabung dengan sekelompok anak jalanan. Namjoon jauh lebih pintar, kaya dan berkelas dibandingkannya. Tidak mungkin Namjoon berkumpul dengan kelompok rendahan, bukan?

Yah, Kim Namjoon!” panggil Hoseok sambil berlari mengejar Namjoon.

Namjoon mengerang kesal. “Jangan memanggilku dengan nama itu!”

Wae? Terakhir kali aku mengecek namamu di kertas absen saat kita sekelas dulu, namamu masih Kim Namjoon. Tidak ada yang berubah.”

“Itu bukan namaku di sini.”

Hoseok semakin bingung. Memang Namjoon mempunyai berapa banyak nama?

“Lalu?”

Namjoon menghela napas panjang. “Rap Monster.”

“HAHHH????”

Namjoon memasang wajah kesal. Ia tahu Hoseok adalah orang yang berisik jika diberi waktu untuk berbicara. Akan tetapi, seharusnya Hoseok sadar diri dimana saja dia boleh berisik.

“Rap Monster!” Seseorang berlari menghampiri mereka. “Ku pikir kau tidak akan datang. Cepatlah masuk! Pertandingan one on one akan segera dimulai.”

“Tunggu sebentar. Aku mempunyai sedikit urusan dengan temanku. Aku akan menyusul,” jawab Namjoon.

Namjoon tidak becanda. Dia memang dipanggil Rap Monster. Hoseok pun mengerti mengapa ada kata ‘rap’, karena cara bicara Namjoon hampir seperti seseorang yang sedang rapping, sangat berbeda dengan gaya bicaranya yang biasa. Namjoon benar-benar berbeda dengan Rap Monster. Yah walaupun Hoseok masih tidak mengerti mengapa sang bintang pelajar itu dipanggil Monster. Ya, tubuhnya memang tinggi tapi tidak besar seperti raksasa.

“Bisa bermain basket juga?” tanya orang asing itu.

Bermain basket?

Hoseok mengangkat alisnya. Basket bukanlah hal yang sulit baginya. Tidak hanya basket, tapi juga cabang olahraga lainnya. Dia sering mendapat nilai bagus di pelajaran olahraga. Sayangnya olahraga bukanlah pelajaran wajib di sekolahnya. Tapi jika ia mengiyakan, dia tahu dirinya pasti akan diseret untuk ikut bermain. Tidak. Tidak. Dia tidak punya rencana untuk bergabung dengan anak-anak nakal.

“Aku—“

“Ya tentu. Dia bahkan ingin ikut bermain,” jawab Namjoon cepat.

Yah—“

“Siapa namamu?”

Hoseok merapatkan bibirnya geram karena kalimatnya dipotong berulang kali. “Namaku Ho—“

Namjoon segera menyikutnya dan sedikit merendahkan kepalanya agar bisa berbisik. “Jangan sebut nama aslimu. Bahaya. Terkadang orang-orang di sana berbuat curang untuk menyabotase permainan. Rahasia pribadimu pun akan mudah bocor.”

“Ho?” bingung orang di depan mereka.

“Hope maksudnya,” ralat Namjoon cepat. “Hm, J-Hope.”

J-Hope…

“J-Hope berada di timku, G-Dragon. Ini uangnya,” tambah Namjoon sambil mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang kertas.

Pria yang dipanggil G-Dragon itu menerima uang itu sambil mendecak pelan. “Padahal banyak yang menunggu untuk balas dendam kepadamu dalam pertandingan one on one. Tapi ini juga bagus. Kau yakin hanya dua orang?”

Namjoon mengangguk sekilas sambil melangkah santai menuju tempat pertandingan. Sementara Hoseok mengikuti di belakang.

“Oh ya, mengapa namaku J-Hope?” tanya Hoseok berbisik.

Namjoon mengangkat bahunya. “Tiba-tiba aku mengucapkan Hope begitu saja. Dan nama keluargamu Jung. Jika ditulis dengan huruf alfabet, huruf depannya adalah J. Keren, bukan?”

Hoseok mengangguk mengerti. “Dan mengapa namamu Rap Monster? Aku tahu ‘rap’ karena gaya berbicaramu. Tapi ‘monster’?”

Namjoon terkekeh. “Lihat saja saat aku beraksi nanti.”

Saat waktunya mereka turun bermain, Hoseok hanya bisa tercengang di menit-menit pertama melihat cara permainan Namjoon.

Tidak pernah mengira seseorang yang berpendidikan dan berkelas seperti Namjoon bisa bermain kasar seperti monster, pikir Hoseok.

Sejak malam itu, Hoseok tidak bisa berhenti untuk terus bermain streetball. Walaupun terkadang, dia harus berlari tunggang-langgang saat tempat streetball digerebek polisi. Namun itu lah uniknya kegiatan malam yang baru saja ia kenal itu. Tidak aneh jika Namjoon pun ketagihan dengan dunia baru ini.

***

Lagi-lagi Jung Hoseok keluar tengah malam dan kembali 3-4 jam kemudian. Sooyeon sering melihatnya tapi secara sembunyi-sembunyi. Terkadang dia penasaran kemana pergi sang kakak tiri. Dia berpikir mungkin Hoseok pergi ke kelab malam ala anak kota yang nakal. Akan tetapi, bukannya pulang dalam keadaan mabuk, Hoseok malah pulang dengan napas ngos-ngosan seakan baru saja berolahraga.

Sebenarnya dia ingin mencari tahu tapi dia terlalu takut untuk mengikuti Hoseok pergi. Bagaimana jika dia kehilangan jejak Hoseok di tengah jalan? Sama saja dia menjadi anak hilang di tengah malam. Belum lagi orang-orang jahat berkeliaran di malam hari. Memikirkannya saja, bulu kuduknya sudah berdiri tegang.

Sebenarnya ada cara pintas untuk mengetahuinya. Sooyeon hanya perlu mengadukan kegiatan rahasia kakak tirinya kepada orangtuanya. Orangtuanya pasti akan menginterogasi Hoseok habis-habisan sehingga pria itu tidak bisa lagi berbohong dan tada! Sooyeon pun tahu apa kegiatan malamnya selama ini. Akan tetapi, itu sama saja dia mencetuskan perang dunia dengan Hoseok.

Tanpa status perang saja, hidupnya sudah menderita. Hoseok dan teman-temannya di kelas senang mengerjai Sooyeon. Lem di kursi, buku catatan dirobek-robek, tas dicoret-coret, seragam disiram air yang berbau aneh dan lainnya. Jika orangtuanya bertanya, Sooyeon harus pintar-pintar berbohong agar situasi tidak semakin memburuk. Bagaimana jika perang diresmikan? Hih~

Cklek. Blam!

Suara jendela yang dibuka pun menyadarkan Sooyeon bahwa Hoseok sudah pulang. Kebetulan saat itu Sooyeon sengaja bangun jauh lebih awal agar bisa belajar karena pagi ini ada ulangan harian. Ternyata SHS tidak sehoror yang diceritakan oleh Hoseok. Jika memang tidak ada ulangan hari itu, maka tidak ada alasan bagi murid SHS untuk membuka buku jika bukan di jam pelajaran. Kebetulan saja hari pertamanya adalah hari dimana ulangan diadakan jadi semuanya mendukung cerita Hoseok. Akan tetapi guru SHS memang tidak pernah menoleransi nilai jelek. Jadi yah harus berusaha keras saat ulangan jika tidak mau menambah beban hidup.

Sooyeon terlalu penasaran sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya dia menutup bukunya dan membawanya keluar kamar lalu mengetuk pintu kamar Hoseok yang kebetulan berada di sampingnya. Tidak butuh waktu lama agar pintu kamar itu tersebut.

“Apa maumu?” tanya Hoseok dingin.

Hoseok bukanlah orang yang dingin sebenarnya. Dia bahkan bisa tertawa terbahak-bahak saat bersama teman-temannya hingga membuat mulut Sooyeon terbuka lebar. Dia hanya bersikap dingin kepada Sooyeon dan ibunya karena dia ingin. Dia sudah mencoba untuk sedikit lebih baik tapi tubuh dan mulutnya menolak. Bukan salahnya, ‘kan?

Keberanian Sooyeon pun hancur dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Untung saja dia ingat dirinya membawa buku. “Belajar bersama? Pagi ini ada ulangan fisika. Bagaimana?” tawar Sooyeon sambil memperlihatkan buku-buku yang ia bawa.

Hoseok mengerutkan keningnya. Saat melihat kakak tirinya tersenyum, Sooyeon mulai berharap.

Blam!

Dan pintu pun tertutup.

Mungkin dia memang tidak seharusnya berharap kepada seorang Jung Hoseok.

***

Sooyeon tidak menyangka dirinya akan bertemu kembali dengan adik kelas tengil yang satu ini. Bukan maunya untuk bertemu lagi dengan Jungkook. Terlebih Jungkook sudah berani menghinanya saat pertama kali mereka bertemu, tentu dia malah berdoa agar mereka tidak pernah bertemu kembali. Sayangnya guru bahasa Inggris, mister Park, memaksanya untuk mengikuti lomba debat Inggris tingkat distrik dan membuatnya satu tim dengan sang junior yang paling ia benci itu.

Rasanya ingin sekali dia protes atau malah mengundurkan diri. Akan tetapi ini adalah kesempatannya untuk unjuk gigi dan membuktikan dirinya akan tetap bersinar walaupun Hoseok mengajak satu kelas untuk mengusilinya sehingga tidak ada seorang pun yang berani berteman dengannya. Dia tidak akan jatuh!

Aish! Apa kau bodoh?!” omel Jungkook.

Mereka sedang berlatih bersama tim lainnya. Mister Park bertugas sebagai juri dan memberikan topik perdebatan. Perdebatan itu lumayan seru. Hanya saja selalu Jungkook yang menjawab karena Sooyeon tidak terlalu mengerti topik yang dibicarakan. Mau tak mau, dia terpaksa membuka mulutnya setelah mister Park memaksanya untuk menjawab. Karena dia tidak terlalu mengerti, dia menjawab seadanya yang bahkan membuat tim mereka diserang semakin parah. Itu sebabnya Jungkook mengomelinya.

Dia ingin membuktikan dirinya tapi nyatanya dia gagal. Dia jatuh juga. Huh!

“Maafkan aku. Aku tidak bisa berkonsentrasi karena aku baru saja selesai mengerjakan ulangan fisika saat namaku dipanggil ke ruangan ini,” bela Sooyeon.

“Aku baru saja menyelesaikan soal logaritma yang tidak bisa diselesaikan oleh Han seonsangnim saat kau sampai di ruangan ini dan aku bisa memberikan jawaban bagus sepanjang latihan ini!” balas Jungkook sengit.

Sooyeon tidak lupa kejadian saat dia datang. Jungkook memang sedang sibuk mencorat-coret sebuah kertas dan Han seonsangnim berdiri di sampingnya sambil mengangguk setuju lalu berterima kasih.

“Maafkan aku jika aku tidak sejeniusmu. Aku bukan the next Albert Einstein!”

“Itu sebabnya aku bilang kau itu bodoh saat pertama kali kita bertemu! Aku tahu aku tidak salah menilaimu!”

“Whoa tunggu dulu, tuan sok jenius! Kau baru saja menghinaku? Lagi?”

“Aku tidak menghinamu! Itu adalah kenyataan! Dan aku memang jenius!”

“Oh—“

“BERHENTI BERTENGKAR!!”

Jungkook dan Sooyeon sontak menutup mulut mereka. Mereka tidak ingin membuat mister Park marah. Mereka tidak ingin seorang guru pun marah karena mereka tidak ingin bermasalah dengan guru. Terlebih Jungkook yang sudah memiliki nama baik di sekolah ini.

“Latihan selesai. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing.”

Mister Park pun membubarkan latihan lalu memijat keningnya frustasi. Jungkook dan Sooyeon sempat beradu pandang lalu membuang muka di detik kemudian sambil berjalan keluar auditorium. Sooyeon sengaja berjalan dengan elegan untuk mempertahankan harga dirinya setelah pertengkaran tadi. Sialnya, dia tersandung kabel-kabel di ruang tersebut dan Jungkook pun menertawakannya dengan heboh. Sooyeon menutup mukanya malu seraya berlari pergi.

Masa bodo dengan harga diri. Huh!

***

Latihan berakhir tepat saat jam istirahat berbunyi jadi tidak ada alasan bagi Sooyeon untuk kembali ke kelasnya. Dengan keadaan kelas yang dipimpin oleh Hoseok itu, tidak mungkin dia betah berlama-lama di kelas. Dia pun memutuskan untuk menyendiri di taman belakang sekolah. Kebetulan sekali satu-satunya orang baik di sekolah sedang memakan bekalnya sendirian di gazebo di taman belakang sekolah.

“Taehyung!” panggilnya seraya melambaikan tangan.

Taehyung balas melambaikan tangannya. “Oh, Sunbae!”

Sooyeon berlari kecil menghampirinya dan duduk di sebelah Taehyung. Dia tidak pernah mengira Taehyung membawa bekal. Terlebih ia memakannya sendirian. Mengingat mobilnya yang mewah, pasti Taehyung diberi uang saku yang cukup banyak. Ditambah sifatnya yang ceria dan humoris walaupun terkadang jatuhnya malah menyebalkan pasti dia mempunyai banyak teman.

“Sendirian?” tanya Sooyeon.

“Ya, begitulah. Bagaimana denganmu?”

“Sendirian. Yap.”

“Sudah makan?”

“Tidak. Aku tidak punya selera untuk makan.”

“Oh…”

Sooyeon menoleh bingung. Taehyung tidak seceria biasanya. Bahkan biasanya, Taehyung tidak bisa berhenti berbicara jika tidak dihentikan oleh Sooyeon.

“Kau ada masalah?” tanya Sooyeon.

Taehyung yang sedang memainkan makanannya itu pun mendongak. “Huh? Ya begitu lah.”

“Masalah apa?”

Taehyung mendesah pelan. “Park Jimin.”

“Si bintang basket itu?”

Tidak mudah bagi Sooyeon untuk melupakannya. Taehyung hobi membanggakan teman sekelasnya itu. Secara Jimin adalah pemain basket hebat—menurutnya—dan basket adalah olahraga kesukaannya. Berteman dengan Taehyung juga membuatnya lebih mengenal olahraga. Taehyung selalu menonton acara olahraga karena dia tidak pernah dibiarkan berolahraga terlalu lama oleh orangtuanya. Saat kecil, Taehyung hobi keluar-masuk rumah sakit sehingga orangtuanya sangat menjaganya dan selalu memastikannya tidak terlalu kelelahan.

Taehyung mengangguk. “Iya.”

“Ada apa dengannya?”

Taehyung menghela napas panjang. Masalah Jimin masih tidak masuk akal baginya. Dia sulit menerima kenyataan bahwa Jimin menjauh dari basket padahal saat SMP dulu, Jimin adalah bintang basket paling bersinar. Pertandingan amatir akan sangat menarik jika ada dirinya. Taehyung tidak pernah melewatkan pertandingan dimana tim basket Jimin bermain. Sebesar itu lah Taehyung mengidolakan sosok Park Jimin.

“Apa kau mempunyai idola yang kini tidak lagi sibuk di dunia tempat kau mengenalnya?” tanya Taehyung.

Seketika Sooyeon teringat sang leader grup Wonder Girls. Dia sangat mengidolakan Sunye tapi Sunye sedang sibuk dengan kehidupan pernikahannya sekarang. Dia merindukan sosok Sunye di atas panggung. Sayangnya itu hampir tidak mungkin karena sang idola sudah mempunyai anak walaupun kontraknya dengan JYPent belum selesai.

“Ya, aku punya. Lalu? Apa hubungannya dengan Jimin?”

“Jimin adalah bintang basket. Dia adalah idolaku. Dia menginspirasikanku. Sayangnya dulu kami beda sekolah. Lalu sekarang, saat kami satu sekolah bahkan satu kelas, Jimin sudah menjauh dari basket. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dia mengaku tidak lagi tertarik dengan basket. Apakah itu mungkin terjadi? Aku sering melihatnya bermain dulu. Aku tahu dia terobsesi dengan basket. Bagaimana bisa dia tiba-tiba tidak tertarik dengan basket lagi? Itu tidak masuk akal!” jelas Taehyung frustasi.

Sooyeon mengangguk seakan dia mengerti.

“Aku tidak minta yang aneh-aneh darinya. Aku hanya ingin melihatnya memakai seragam basket dan menggiring bola. Aku ingin melihat semangat dan keahliannya dalam basket yang tak mungkin aku miliki,” erang Taehyung.

Seragam basket…

Seketika Sooyeon teringat baju yang dipakai oleh Hoseok tadi malam menjelang pagi. Seragam basket dan keringat. Ditambah permainan Hoseok saat tes basket di pelajaran olahraga kemarin. Kegiatan malamnya pasti berhubungan dengan basket. Pasti! Mengapa dia baru menyadarinya sekarang?

“Taehyung, aku punya ide bagus!” seru Sooyeon.

Sooyeon akan memastikan idenya mampu membuat Hoseok melakukan gencatan senjata. Dia tidak mau bunuh diri seperti murid-murid di sekolah lain yang frustasi karena dibully terus-menerus. Dia masih punya mimpi yang harus ia capai demi ayahnya yang sudah meninggal.

“Bagaimana jika kita membuat klub basket dan menarik Jimin untuk menjadi anggotanya? Kita paksa dia untuk bermain basket?” cetus Sooyeon.

Mata Taehyung pun berbinar.

***

Ruangan klub basket.

Sooyeon dan Taehyung memperhatikan nama ruangan itu berulang kali. Ya, mereka membacanya dengan benar. Ini memang ruangan klub basket. Akan tetapi jika dilirik isinya lewat jendela, ruangan itu kosong seperti rumah kosong. Hanya ada satu meja, satu kursi dan satu lemari di dalamnya. Kegelapan di dalam ruangan semakin membuat ruangan itu tampak horor. Kecuali satu hal.

Seseorang sedang tertidur di dalam sana sambil mendengarkan musik.

“Apa itu manusia, Sunbae?” tanya Taehyung berbisik.

Apakah Taehyung tidak punya pertanyaan yang lebih konyol?

“Ya,” jawab Sooyeon singkat. “Ayo masuk!”

“T-tunggu! Bagaimana jika ternyata dia adalah monster penunggu ruangan yang akan memakan siapapun yang berani masuk ke ruangan ini?”

Berapa umur Taehyung hingga masih percaya monster seperti itu ada di dunia modern?

“Tidak mungkin. Jika kau tidak berani, aku akan masuk sendiri,” elak Sooyeon, masih berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengomeli Taehyung.

“Jangan! Nanti kau akan diubah menjadi spesiesnya!”

Yah, Kim Taehyung! Berhenti mengatakan hal bodoh! Aku hampir mempercayai kata-kata Jungkook tapi terima kasih kepadamu, aku sadar bahwa masih ada orang yang lebih bodoh dariku. Huh!” gerutu Sooyeon. “Sekarang aku akan masuk dan jangan melarangku lagi!”

Taehyung segera menutup mata dengan kedua tangannya. Sooyeon menggeleng melihatnya. Sungguh, berapa umur Taehyung? 8 tahun? 7? 6 atau 5 tahun?

Jogiyo.”

Sooyeon mengetuk meja tempat orang yang itu tidur itu bersadar. Dia mengulangnya saat tidak mendapatkan respon.

“Erm..”

Orang itu menggumam malas sambil mengangkat kepalanya dengan enggan. Matanya menatap Sooyeon dengan aura protes karena tidurnya diganggu.

Oh, si pemuda tampan itu! Oh-uh.. siapa namanya? Yoongi sunbae memanggilnya… hm.. Kim Seokjin! Ya, Seokjin!, pekik Sooyeon girang dalam hati.

Dia masih ingat paginya di hari pertama sekolah itu. Tentu saja, mengingat betapa uniknya pagi itu. Dia bertemu banyak pria tampan tapi semuanya mempunyai sifat menyebalkan. Entah nasibnya termasuk beruntung atau malah sial.

“Apa maumu?” tanya Seokjin dingin sambil melepas earphonenya.

Jika saja pria di depannya tidak dingin, pasti mata Sooyeon sudah berbentuk hati. Sayangnya itu tidak terjadi karena Seokjin tidak jauh berbeda dengan murid lainnya di SHS. Mungkin memang hanya Taehyung yang masih mempunyai hati yang baik. Hiks.

“Ini adalah ruangan klub basket?” tanya Sooyeon.

Seokjin terkekeh. “You’re drunk. Go home.”

Seokjin kembali memasang earphonenya tapi tangannya ditahan oleh Sooyeon.

“Aku serius!”

“Oh ya~ aku juga serius,” balas Seokjin sarkastik.

“Aku benar-benar serius. Sangat serius! Berhenti bermain-main!”

Seokjin menggertakkan giginya kesal. Gadis di depannya membuatnya marah.

  1. Gadis itu seenaknya masuk dan mengganggu tidurnya.
  2. Gadis itu menanyakan hal bodoh.
  3. Gadis itu bersikeras akan pertanyaan bodohnya.
  4. Gadis itu melarangnya untuk kembali tidur.
  5. Gadis itu berani membentaknya.
  6. Gadis itu menyebalkan.
  7. Gadis itu sangat menyebalkan.
  8. Gadis itu terlalu menyebalkan.
  9. Dia membenci gadis asing itu.

“Cepatlah pergi sebelum kau masuk ke ruangan kepala sekolah,” usir Seokjin kesal.

Sooyeon menghentakkan kakinya kesal. “Aku tidak becanda! Aku ingin menjadi mengurus klub basket ini!”

Seokjin bangkit dari duduknya dan menghantam meja, membuat Sooyeon melompat kaget. “Ya, ini adalah klub basket. Klub ini sudah mati sejak bertahun-tahun lamanya. Dan apa yang kau harapkan? Ini hanyalah klub gagal! Percuma saja kau mengurusnya karena klub ini tidak mempunyai anggota! Jadi jika kau masuk berkeras kepala dan tidak mau pergi dari hadapanku—“

“Kau akan melakukan apa?” tantang Sooyeon. Dia sudah muak dengan tingkah pria di depannya.

Seokjin menyeringai tipis. “Aku akan membuatmu menyesal.”

“Menyesal?”

***

“Jung Sooyeon. Berada di kelas yang sama dengan kakak tirimu, Jung Hoseok. Baru masuk 2 minggu yang lalu tapi berhasil masuk dalam daftar peserta lomba debat. Nilai-nilaimu sejauh ini pun baik,” ucap sang kepala sekolah sambil membaca map berisi data diri Sooyeon.

Sementara itu, Sooyeon menundukkan kepala sambil meremas ujung roknya gelisah.

“Jangan takut. Kau tidak melakukan kesalahan fatal kok,” hibur kepala sekolah SHS.

Sooyeon tidak merespon.

“Hanya saja, kau sudah mengganggu Kim Seokjin. Dia adalah murid yang… spesial. Kau tidak bisa mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman. Karena kamu adalah anak baru di sekolah ini, tidak akan ada hukuman apapun. Akan tetapi, semoga ini cukup menjadi pelajaran agar kau tidak akan mengganggunya lagi. Mengerti?”

Sooyeon mengangguk.

“Baiklah, kau boleh kembali ke kelasmu.”

Sooyeon kini menggeleng.

“Ada yang ingin kau bicarakan, Jung Sooyeon?”

Kini Sooyeon berani mengangkat kepalanya. Dia mendeham pelan. “Klub basket…”

Sang kepala sekolah cemberut mendengar kata-kata Sooyeon. “Tidak.”

“Tapi—“

“Itu adalah daerah milik Kim Seokjin. Dan seperti yang ku bilang, jangan ganggu dia.”

***

Sunbae! Kau baik-baik saja?” heboh Taehyung saat Sooyeon keluar dari ruang kepala sekolah.

Sooyeon tidak menjawab. Dia tidak mau membuka mulutnya saat dia marah.

“Apa ku bilang? Dia itu berbahaya! Untung saja kau hanya dikirim ke ruangan kepala sekolah! Bagaimana jika dia mengirimmu keluar angkasa untuk menjadi makanan para alien?” lanjut Taehyung.

Sooyeon menutup telinganya sambil berjalan menuju gedung tempat kelasnya berada. Untuk apa pula Taehyung menunggunya? Bukankah bel masuk sudah berbunyi? Itu artinya Taehyung bolos satu jam pelajaran, bukan?

“Jadi bagaimana? Sunbae menyerah?” tanya Taehyung.

Sooyeon menoleh. Alisnya hampir menyatu dan bibirnya melengkung ke bawah bertanda dia kesal.

“Tidak. Aku malah semakin semangat untuk merebut klub basket dari tangan Kim Seokjin itu! Huh!”

Suara tawa dari depan Sooyeon pun mengalihkan perhatian mereka berdua. Di sana lah Yoongi berada dengan beberapa map di tangannya. Dia menghampiri Sooyeon dan Taehyung dengan tatapan merendahkan.

“Berhenti bermimpi. Kalian tidak mungkin bisa mengalahkan seorang Kim Seokjin. Bahkan aku pun gagal melakukannya,” cibir Yoongi.

Sooyeon merengut kesal. “Aku pasti bisa! Kau lihat saja nanti!”

“Oh ya?”

“Bagaimana jika kita bertaruh? Jika aku gagal, aku akan menjadi budakmu dalam satu bulan.”

“Menarik. Dan bagaimana jika kau berhasil? Ya walaupun kemungkinannya mustahil.”

Sooyeon tersenyum tipis. “Kau menjadi anggota basket pertama yang akan bergabung.”

Seketika senyuman angkuh Yoongi menghilang dan tatapan matanya menjadi suram. “Tidak.”

“Aha! Kau takut? Bukannya kau bilang aku tidak akan berhasil, Sunbae?”

“Aku tidak akan melakukannya jika itu berhubungan dengan basket.”

Sooyeon mengernyit bingung. Sebelum ia dapat menanyakan sesuatu, Yoongi sudah pergi. Dia mengangkat bahunya acuh lalu berbalik badan untuk menatap Taehyung.

“Taehyung? Dimana dia? Mengapa tiba-tiba hilang? Apa dia adalah ninja?” bingung Sooyeon.

*

To Be Continued

*

Chapter pertama pun dirilis (~^o^)~ berikan kesan-kesanmu dan maaf jika ada typo. Yah jika kalian adalah reader setiaku, pasti kalian tahu mengapa ‘-‘ hehe

Aku agak bingung karena rata-rata kalian semacam kaget dengan deskripsiku tentang SHS. Jangankan sekolah elit seperti SHS, sekolah biasa saja cukup ketat loh. Masuk jam 8 pagi, pulang jam 10 malam. Biasanya sekolahnya cuma sampe jam 4 sore. Sisanya disebut hagwon. Secara Korea itu sangat mendewakan pendidikan. Ini kenapa aku ga suka pake school-life karena kehidupan sekolah di Korea mengerikan dan aku malah membayangkannya. Cukup banyak program-program khusus gitu yang pernah diceritain teman-temanku di Korea tapi aku lupa @_@ jadi emang ribet banget. Itu kenapa aku menjauhi genre school-life

70 thoughts on “Hot Shot – Chapter 1

  1. Kyaaa taehyung knpa kmu unyu bget🙂 gemesin deh. Kookie kmu jgan jhat2 nape nanti mlah suka lho sma sica #amin hehe🙂

    Authornim dilanjut ne fighting🙂

  2. hahaha lucu thor, seru ff. ajarin bikin ff seru thor(?)
    yampunn jam 10malam? kurtilas aja murid indonesia udah pada ampun ampunan

  3. sica maen ny kok sma v trus, tmbah ikut2an ga bener dia :v tp untung ad yg mau temenan ma dia .. sica kuat mentalnya skolah d stu😄 keep writing, seru .. moga2 aja v bnyk muncul d tiap chap nya, hehehe.. hiburan trsndiri😄

  4. demi apa sooyeon pagi2 udh bikin dingin hati j-hope. j-hope kaga usah galak gitu kali sama adek sendiri walaupun adik tiri -_- dan disini taehyung makin keliatan bocahnya, imajinasinya kuat di chapter 1 ini ._./ ya elah, sooyeon pan datengnya baek2, sooyeon juga nggak ngigit(?) si jin terlalu bgt sih, sampe sooyeon dipanggil kepsek -,- jimin belon keliatan nih batang hidungnya, apa sih yg ngebuat suga anti bgt sama basket? aa, harus brb baca chap berikutnya nih.. author-nim, keep writing ne?! fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s