FF JESSICA LUHAN : YOU CHAP 4

Title          :       You [Chapter 4]

Author       :       Nizah Putri (zahilangels)

Main Cast   :       Jessica Jung – Xi Luhan – Kim Jongin

Other Cast  :       Krystal Jung

Jung Parents

Genre        :       Comedy, Romance. (Chapter)

Rating        :       PG-15

Lenght       :       2.900+

Disclaimer  :       I just own the plot and the imagination based on my friend’s experince. Sorry for typo(s) or else. Cast punya Tuhan, jika ada kesamaan atau sebagainya, aku hanya menjadikan cerita-cerita yang pernah kubaca sebagai inspirasi. Thanks J

Summary   :       Apakah kau seorang bidadari? Apa benar aku ini manusia normal? Mengapa cinta itu begitu rumit.

Mianhae jika tidak memuaskan, author disini hanya berupaya membuat para pembaca senang😀  follow twitter-ku : @nizmayeah. Dan check out my own wordpress: koreangels.wordpress.com see you!

 

—You—

Orang bilang cinta itu menyenangkan

Tapi, mengapa aku tak merasakan hal yang serupa?

Mengapa untukku, cinta begitu rumit?

Mengapa?

—You—

 

Luhan memacu mobilnya dengan cepat. Sesekali ia melirik Jessica yang terus menerus menitikkan airmata, lalu menghapusnya dengan punggung tangan.

“Tidak usah khawatir, noona.” Ucap Luhan.

“Bagaimana tidak? Appa-ku itu terlalu ceroboh dan juga gegabah. Ia sudah berkali-kali melakukan hal sepele seperti ini.” Gerutu Jessica dengan suara melengking.

Luhan tersenyum tipis. Gadis ini sangat lembut, pikirnya.

“Sebentar lagi kita akan sampai, sabarlah dan tetap tenang.” Kata Luhan membuat Jessica terpaksa mengangguk, ia tak punya pilihan kan?

 

—You—

 

“Kan sudah kubilang! Appa jangan ceroboh dan gegabah. Kenapa appa selalu mengabaikan kalimatku, sih?” Cerocos Jessica tanpa henti.

Ketika sampai di Busan, Jessica langsung melompat keluar mobil dan berlari ke dalam rumah tergesa-gesa. Ia lupa bahwa Luhan masih di mobil, lelaki itu dengan santainya berjalan mengekori Jessica.

“Maafkan appa. Kan sekarang sudah tak apa.” Ucap sang Ayah dengan cengiran khasnya. Sementara, Jessica terlihat menggerutu kesal.

“Sudahlah, eonni. Kan appa tidak terluka, hanya saja sedikit merasa sakit di pinggangnya yang rentan.” Tutur Krystal.

Jessica menjulingkan kedua bola matanya, pertanda ia sedang kesal. Sang Ibu hanya bisa tertawa tipis, ia hafal betul tabiat sang anak pertamanya ini jika sedang kesal atau merasa diremehkan.

Annyeonghaseo.” Sapa Luhan.

“Luhan hyung!” Jongin merangkul pundak Luhan hangat, disertai Krystal yang tersenyum lebar ke arahnya dan Jessica yang menatapnya datar.

Sakit itu… Kembali menyentuh rongga dadanya.

Mengapa rasanya cinta itu rumit sekali? Keluh Luhan.

“Kalian datang berdua? Wah, apakah eonni akan memiliki pasangan dalam waktu dekat ini?” Celetuk Krystal iseng.

Wajah Jessica memerah, “Ya! Jaga omonganmu, Krys. Lebih baik kau urus saja pertunanganmu.”

Kedua orang tua Jessica dan Krystal terkekeh melihat tingkah anak-anaknya.

“Sudahlah, Luhan kan baru saja tiba. Jangan begitu.” Lerai sang Ibu.

“Aku serius eomma, kan aku hanya bertanya. Mau sampai perawan tua, kau melajang?” Sindir Krystal. Jongin tertawa terbahak, sementara Jessica kembali menjulingkan kedua bola matanya.

“Krystal benar, noona. Kupikir, hyung-ku satu ini juga tidak buruk-buruk sekali. Kalian cocok jika jalan bersama.” Kata Jongin.

Wajah Jessica semakin merah padam. Lalu Luhan? Ia tersenyum miris. Bukan ini yang ia mau, bukan ini yang ia harapkan.

“Jam berapa acaramu mulai?” Tanya Luhan pada Jongin.

“Eum, sebentar lagi.” Jongin tersenyum.

Luhan mengangguk-angguk pahit. Itu artinya sebentar lagi ia harus melihat prosesi pertunangan orang yang paling ia tak ingin lihat kebahagiaannya bersama orang lain.

Di sisi lain, Jessica menangkap perubahan raut wajah Luhan. Gadis itu merenung dalam hati. Ia mengerti, mengapa Luhan sangat tidak ingin datang ke pesta ini.

 

—You—

 

Luhan menatap kedua sejoli di seberang tempat ia duduk dengan sendu. Entah mengapa, ia merasa sangat bodoh. Jus jeruk di tangannya sudah berkali-kali ia goyang-goyangkan tanpa ia minum. Dan sudah berkali-kali pula ia menghela nafas panjang dan dalam-dalam.

Ia akui, ia cemburu. Cemburu melihatnya dengan orang lain. Siapapun itu. Karena dari dulu ia sudah sangat terjatuh dengan pesona yang dimiliki orang itu. Sampai akhirnya… Orang lain datang dan membuat seluruh perhatiannya terbelah dua. Luhan bukan lagi menjadi alasannya begitu gembira. Padahal mereka kenal lebih lama, dan sudah sangat dekat.

“Kau menyukai adikku?”

Luhan terperanjat, suara gadis itu sangat mengagetkannya. Jessica tersenyum tipis, ia mengambil tempat duduk di sebelah Luhan. Sorot matanya lurus ke depan, ke tempat Jongin dan Krystal bercanda ria.

“Apanya yang menyukai adikmu?” Tanya Luhan kikuk.

“Tak usah mengelak. Adikku memang banyak yang suka kok. Ia begitu cantik dan terlihat dewasa, pintar dan juga fashionable. Tak heran Jongin akan terpukau dan terjatuh dengan pesonanya, betul kan?” Berbanding terbalik denganku yang biasa-biasa saja dan bahkan aku tidak sekeren gaya Krystal.” Kata Jessica.

Luhan terdiam, ia tak menjawab sepatah kata pun. Otaknya masih mencerna dengan baik maksud Jessica.

“Tapi kau juga tidak boleh bersedih seperti ini, Lu. Kau harus tetap bahagia, karena sahabatmu bahagia.” Tambah Jessica, meminum sedikit jus anggur yang ia pegang.

“Mengapa aku harus bahagia ketika hatiku sakit?” Tanya Luhan lirih.

“Karena ketika kita merelakan orang lain yang kita sayangi untuk orang yang lebih pantas.. Kurasa suatu saat akan ada hikmahnya.” Jessica tersenyum tipis.

“Kurasa? Kau selalu meragukan, noona.” Dengus Luhan. Wajahnya terasa panas saat melihat Jongin mengusap-usap kepala Krystal.

“Karena cinta itu mengikat, sementara sayang itu tidak harus memiliki.” Ucap Jessica lagi.

Luhan menoleh, kata-kata Jessica barusan benar-benar menohoknya, “Maksudmu?”

“Iya, maksudku, ketika kita mengatakan kita menyayangi orang lain. Itu artinya kita siap untuk menyayanginya tanpa harus memiliki. Tetapi ketika kita mengatakan bahwa kita mencintai orang lain, itu artinya kita harus siap untuk mengikat cinta itu lebih kuat lagi,” Jessica menjilat bibirnya, “lagipula, cinta itu nol. Semua hal jika tidak berawal dari nol, maka tidak akan mungkin kan ada puncaknya?”

Luhan mengerjap bingung. Jujur saja, sosok Jessica saat ini benar-benar seperti bidadari. Cantik, dan dewasa.

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, buang jauh-jauh pemikiran itu, Luhan.

“Apa cinta serumit itu?” Tanya Luhan, memainkan isi gelasnya.

“Tidak, selama kita menikmati rasa yang mengalir itu.”

“Rasa seperti apa?”

Jessica menoleh ke arah Luhan yang menatapnya, “Rasa cinta ketika perut kita seperti ada kupu-kupu berterbangan ketika ia berada disekitar kita, dan perasaan ketika kita merasa hanya ia yang membuat kita nyaman dan menjadi diri kita sendiri, Lu.”

“Kau.. Seperti pakar cinta, noona.” Luhan terkekeh, mengacak-acak rambut Jessica.

Pipi gadis itu bersemu merah, “Tidak juga. A-aku hanya mempelajari apa yang aku tahu berdasarkan pengalaman orang lain.”

“Tapi bukan pengalamanmu kan?” Ledek Luhan. Ia mengerti apa yang gadis ini katakan. Meski sedikit tidak terima, tapi ia akui semua yang dituturkan gadis ini memang benar adanya. Sekilas Luhan lupa akan kesedihannya barusan.

“YA! KAU MENGHINAKU?!” Teriak Jessica disertai pukulan bertubi-tubi pada Luhan dengan bantal sofa. Luhan meringis sambil terus menangkis sebisa mungkin.

“AMPUN, NOONA!!”

 

—You—

 

Jessica membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia tetap bertahan meskipun udara yang begitu dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia kembali focus ke arah jalan yang ditujunya.

Terdengar suara binatang malam yang membuat suara gaduh diantara rerumputan tinggi yang dilaluinya. Ia tak juga merasa takut meskipun anjing mengonggong yang terniang di telinganya. Mobil Luhan itu melaju membawanya menuju suatu tempat yang Luhan inginkan. Sesekali Jessica mencuri pandang, melihat laki-laki yang duduk di kursi sampingnya. Laki-laki itu berkali-kali mendengus kesal.

Mereka tengah dalam perjalanan pulang menuju Seoul, setelah acara selesai. Memang terlalu malam, tapi mau bagaimana lagi? Luhan harus ke kantor besok pagi, dan tidak mungkin Jessica membiarkannya terlambat, kan?

“Lu!” Panggilnya.

“Kenapa?” Suara Luhan terdengar serak.

“Sebenarnya kita mau kemana? Dari tadi kau terus berkata ‘sudah jalan saja’ dan ‘sebentar lagi sampai’ tapi kau tak memberitahuku lokasinya.”

“Sebentar lagi kita akan sampai. Bukankah kau ingin bersenang-senang?”

“Apa kita akan ke taman hiburan? Tapi memangnya ada taman hiburan yang buka malam-malam begini?” Terka Jessica.

“Nanti kau juga akan tahu.” Ucap Luhan, “Dan bisakah kau lebih cepat lagi? Kau lamban sekali.”

Jessica menggeram kesal. “Dasar!” Gumamnya.

 

—You—

 

Mata foxy Jessica takjub dan tak berhenti menatap sebuah sekolah taman kanak-kanak yang didesain dengan sangat rapi, tiap dinding luarnya di cat dengan warna pelangi dan diberi gambar kartun nan lucu. Meskipun saat itu langit gelap, tapi lampu-lampu di sekitar memberikan cahayanya untuk menerangi seluruh sudut.

Di atas gerbangnya bertuliskan “Selamat Datang Para Murid Tercinta – Mari Kita Belajar dan Bersenang-senang Bersama.”

“Uwoh.” Jessica berdecak kagum. “Taman Kanak-Kanak ini bagus sekali. Pemiliknya pasti sangat menyukai anak-anak.” Terkanya, Ia berhenti sejenak lalu mematikan mesin mobilnya.

Luhan turun dan melepaskan seatbeltnya, wajahnya masih terlihat begitu kusut. “Apa kau ingin menunggu disini?” Tanyanya.

“Tentu saja tidak. Ayo masuk ke dalam! Aku ingin melihat-lihat.” Ucap Jessica begitu gembira. Ia tampak sangat bersemangat, tanpa melihat Luhan bersungut-sungut.

Tahu gitu tak kuberi ia izin mengendarai mobilku, gerutu Luhan.

“Ikuti aku!” Perintah Luhan.

Luhan melangkah gontai diikuti Jessica di belakangnya. Perlahan mereka mengendap-endap melalui jalan setapak yang terdapat disamping sekolah. Mereka mengecilkan suara langkah mereka agar tidak terdengar.

Luhan lekas memanjat pagar dan melompatinya, Ia lebih dulu berada di halaman belakang sekolah itu.

“Tunggu aku!” Jessica bergegas dari luar pagar.

“Cepat naiklah!” Perintah Luhan meminta Jessica untuk memanjat.

“Apa kau yakin? Bagaimana kalau aku jatuh? Apa kau mau menangkapku?” Ucap Jessica tampak ragu begitu ketakutan.

“Ah, kau bawel. Cepat naiklah! Kalau kau tidak mau, kau tunggu disitu saja.” Kata Luhan.

“Baiklah, baiklah. A-aku naik.” Detik berikutnya, Jessica menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya. Tangan dan kakinya begitu gemetar, ia coba memberanikan diri memanjat pagar.

Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk melompat, matanya melihat banyak bintang dan kepalanya begitu pusing melihat dari ketinggian. “Ada apa denganku? Kenapa rasanya aku ingin pingsan.” Kata Jessica.

“Cepatlah! Waktu kita tidak banyak.” Luhan mulai kesal.

“Sepertinya aku akan jatuh.” Jessica yang berdiri di atas pagar mulai merasakan tubuhnya tak terkendali dan diluar kuasanya.

“Tenang saja. Aku akan menangkapmu.” Luhan menyiapkan kedua tangannya.

Jessica pun memejamkan matanya. Ia tetap memberanikan diri dan percaya bahwa Luhan akan menangkapnya di bawah sana.

“AAAH!” Teriaknya.

Luhan mengambil aba-aba untuk menangkap gadis itu.

Sedikit demi sedikit Jessica membuka matanya, Ia begitu terkejut menemukan dirinya yang menimpa Luhan. Kepalanya terjatuh tepat di atas dada laki-laki yang sangat disukainya itu. Eh? Disukai? Entahlah, yang jelas Jessica suka saat melihat wajah lucu Luhan.

Ia lekas menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia berusaha menyimpan raut wajah bahagianya, bahkan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini?” Tanya Luhan kikuk.

“Maafkan aku! Maaf!” Jessica lekas bangkit dan berdiri lalu membungkukkan punggungnya untuk minta maaf.

Luhan segera bangun sambil mengelus dadanya yang sakit. “Apa badanmu itu terbuat dari baja?” Ejeknya.

“Ah. Apa kau terluka? Mana yang sakit? Apa aku sangat berat?” Jessica mulai cemas. Ia dengan wajah bersalahnya kembali mendekati Luhan yang masih terduduk di atas halaman yang dilapisi dengan batu bata.

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa, noona.” Luhan mengacuhkan Jessica yang menawarkan tangan untuk menolongnya berdiri.

Jessica pun kembali menyimpan tangannya. Ia menunduk sendu. Ia merasa sangat bersalah pada Luhan.

Luhan lekas berjalan memasuki wilayah sekolah tanpa takut, Jessica hanya mengikutinya dari belakang. Mereka pun mulai mengelilingi tempat itu dan tak menggubris larangan bahwa orang asing tidak boleh masuk kesana.

 

—You—

 

Ruangan itu dikhususkan untuk murid yang duduk di bangku Nol Besar. Di dalamnya terdapat berbagai macam gambar yang menempel di dinding. Langit-langit ruangan itu dihiasi dengan berbagai macam origami seperti burung, pesawat, juga kupu-kupu. Tampak lipatan origami itu bergantungan disana dan terkadang bergerak seperti benda hidup saat angin berhembus meniup.

Luhan lekas menutup pintu ruangan rapat-rapat. Matanya tertuju pada piano yang terletak tepat di depan kelas, dekat papan tulis. Ia membuka penutupnya lalu bersiap memainkannya. Jessica yang baru saja menyalakan lampu agar dapat menerangi ruangan, lekas duduk disampingnya dan tak berniat untuk ikut memainkan piano itu.

“Mau ikut bermain?” Tawar Luhan menatap lembut ke dalam mata Jessica yang tak berhenti memandanginya.

Jessica menggelengkan pelan, “Aku tidak begitu lihai memainkan alat musik.”

“Kau ingin request lagu apa? Aku akan memainkannya untukmu, jika aku bisa.” Gumam Luhan.

Aku sangat berterimakasih pada Tuhan yang memberikan kesempatan padaku untuk bisa berada di dekat Luhan meskipun awalnya ia sangat menyebalkan. Dia orang yang sangat sulit ditebak, apapun yang dilakukannya tak satu orang pun yang tahu. Aku akan terus berusaha untuk memahaminya, batin Jessica.

Ia tersenyum lembut membalas tatapan Luhan, “Lagu apa?” Jessica mulai berpikir. “Akhir-akhir ini aku sangat senang mendengar lagu Hoobastank – The Reason.” Ucapnya.

“Hoobastank – The Reason.”

Jessica mengangguk dengan cepat, “Lagu Western.”

“Aku tahu, bodoh.” Kekeh Luhan.

Jessica meringis, ia lupa bahwa Luhan juga penggemar lagu barat sepertinya.

“Baiklah kau yang bernyanyi dan aku memainkan piano untukmu.” Luhan mengiyakan.

“Apa?” Jessica terkejut. “Aku pikir kau juga akan bernyanyi untukku.”

“Kau terlalu berharap tinggi, nona Jung. Kau bukanlah orang yang begitu istimewa sampai aku juga harus bernyanyi untukmu.” Ledek Luhan kembali membuat Jessica merautkan wajah masamnya.

“Aku akan bernyanyi. T-tapi jangan salahkan aku kalau setelah ini kau akan mengalami gangguan di telingamu setelah mendengar suaraku.” Ucap Jessica memperingatkan.

Luhan tertawa kecil. “Kau pasti bercanda.”

Luhan tahu dari Krystal, Jessica sangat pandai bernyanyi karena ibu mereka memang memiliki suara yang indah.

Ia pun mulai menekan tuts piano sambil mengingat nada lagu itu, aura menghanyutkan terpancar di wajahnya. Luhan terlihat sangat menikmati ketenangan di dalam ruangan yang sunyi senyap, jauh dari keramaian dan segala macam masalah yang mengusik hidupnya.

Sepertinya memandangi Luhan dari samping sudah menjadi kebiasaan baru yang sulit untuk dihilangkan. Jessica selalu saja berharap agar sekali saja bisa menyentuh wajah imut itu. Ia terus terpaku dengan mulut terkunci, alunan nada dari piano itu membuatnya terlena dan terdiam.

“Heh! Kenapa kau tidak juga bernyanyi?” Suara Luhan mengejutkan lamunannya.

“Apa? A-ah?” Jessica tersentak kaget, ia lekas mengalihkan pandangannya.

“Nadanya sudah memasuki lirik di bait pertama, tapi kau tak menyanyikan apapun. Bukahkah kau sendiri yang meminta untuk dimainkan lagu The Reason.” Ucap Luhan setengah mendumel.

“Maafkan aku! Tiba-tiba saja aku lupa dengan lirik lagunya.” Jessica meringis pelan sambil menggaruk kepalanya, “Biasanya aku mendengarkan lagu ini saat ingin tidur. Jadi saat lagu ini terdengar di menit pertama, aku pasti sudah tertidur pulas.” Jelasnya.

“Maksudmu, lagu ini adalah lagu penghantar tidur. Bukan begitu?” Kata Luhan mencoba memperjelas. Ia sedang menahan tawanya, bisa-bisanya anak ini tertidur saat mendengarkan lagu.

Jessica mengangguk mengiyakan, “Iya!”

“Kau benar-benar seperti putri tidur, nona Jung.”

“Memangnya kenapa kalau aku suka tidur?” Sungut Jessica kesal.

“Terserahlah, lalu kau mau bernyanyi lagu apa?” Tanya Luhan lagi. Ia menatap wajah Jessica yang mengetuk-ngetukkan jari di pelipisnya. Sangat manis, menurut Luhan. Gadis ini benar-benar berbeda.

Jessica tersenyum kecil, “Bagaimana kalau lagu Way Back Into Love?”

“Bukankah itu lagu duet?”

“Benar. Jadi kita bisa bernyanyi bersama.”

“Sepertinya itu ide bagus.” Luhan tanpa berpikir panjang langsung setuju.

“Tapi kau harus sedikit berhati-hati mendengar suaraku.” Jessica kembali mengingatkan.

“Kalau suaramu jelek, aku akan segera memintamu untuk berhenti bernyanyi.” Ejek Luhan lagi. Jessica merengut sebal, ia tahu Luhan mati-matian menahan diri supaya tidak meledeknya sedaritadi.

Terdengar nada yang bersatu membentuk sebuah irama yang mengalun begitu indah.

 

I’ve been living with a shadow overhead

Aku telah hidup bersama bayangan di atas kepala
I’ve been sleeping with a cloud above my bed

Aku telah tidur bersama awan di atas tempat tidur

I’ve been lonely for so long

Aku telah lama merasa sendirian
Trapped in the past

Terjebak di masa lalu
I just can’t seem to move on

Aku hanya tidak bisa berpindah posisi

Luhan melirik Jessica yang menyanyikan lirik lagu dengan pas dan merdu, bibirnya tertarik sedikit membentuk lengkungan senyuman.

 

I’ve been hiding all my hopes and dreams away

Aku telah menyembunyikan seluruh harapan dan mimpiku jauh-jauh
Just in case I ever need ‘em again someday

Hanya dalam waktu ketika aku membutuhkan mereka kembali
I’ve been setting aside time

Aku telah menyisihkan waktu
To clear a little space in the corners of my mind

Untuk menghapus sedikit ruang di sudut pikiranku

All I want to do is find a way back into love

Semua yang aku inginkan adalah mencari jalan untuk kembali pada cinta
I can’t make it through without a way back into love

Aku tidak dapat membuatnya nyata tanpa jalan menuju cinta

 

Tiba-tiba tuts terhenti. Luhan tertawa lebar, sementara Jessica tampak bingung.

“Ada apa?”

“Kau bilang suaramu jelek, bagaimana bisa kau mengatakan hal aneh seperti itu jika suaramu saja mirip dengan artis solo diluar sana?” Puji Luhan tulus.

Jessica tersipu malu, “Tapi aku tidak percaya diri, Lu.”

Luhan berdiri berhadapan dengan Jessica, “Kau selalu mengatakan hal-hal dewasa padaku, memberikan statement sok-tahu milikmu itu. Tapi kenapa bisa kau tidak percaya diri dengan suaramu sendiri?”

Jessica menunduk, “T-tidak tahu.”

Noona, kau bilang semua orang punya banyak cara untuk mengusir rasa jenuh akan hidup, kan?”

Jessica menerka-nerka. Kapan ia bilang begitu?

Luhan mendengus, “Beberapa hari yang lalu, ketika kita di cafe.”

Jessica mengernyitkan dahinya, lalu ia mengangguk ragu, “Lalu?”

“Dan inilah caraku. Menyanyikan lagu yang kusuka, atau pergi dari keramaian.” Luhan tersenyum lebar.

Senyuman yang selalu membuat Jessica meleleh, sejak pertama mereka bertemu.

“Lalu, apa hubungannya dengan suaraku?” Tanya Jessica masih belum paham.

“Bodoh sekali kau ini.” Decak Luhan, “Maksudku, semua orang punya kelebihan dan kekurangan, contohnya aku. Aku tidak bisa hidup dengan banyak beban, alhasil aku akan selalu menghindari selama aku bisa. Dengan apa? Ya dengan ini. Bermain piano.”

Jessica mengangguk-angguk.

“Dan kau. Kau punya kelebihan suara yang indah. Kurasa akan lebih baik jika kau menyanyikan suatu lagu jika aku sedang banyak masalah. Kau bisa menemaniku bermain piano. Aku bermain, kau bernyanyi. Lagipula, kau bilang kau akan menemaniku saat aku merasa sendirian kan? Jangan bilang kau lupa.” Ucap Luhan. Ia tertawa tertahan.

Mata Jessica terbelalak, raut wajahnya tampak sangat bahagia, “Tentu, aku mau!”

Luhan mengusap-usap rambut Jessica, tanpa ia sadar jika gadis itu lagi-lagi menahan rona merah di kedua pipinya.

“Hei! Siapa disana!!?”

Luhan dan Jessica menoleh berbarengan, mereka melihat seorang satpam dengan senter di tangannya. Keduanya langsung melotot bersamaan.

“Lu, gawat! Di depan kan ada tulisannya, orang asing dilarang masuk, Lu, bagaimana ini?” Desis Jessica.

Luhan menelan saliva dengan susah payah.

“Hei!! Disana ada orang ya!?” Teriak sang satpam.

“Apa yang harus kita lakukan? Celaka, ketahuan!”

 

 

To Be Continue.

 

©zahilangels, 17/02/2014. 20:02

Maafkan aku late update bangeeet!!! Soon, aku bakal insha Allah cepet. Oh ya, sekarang aku post dalam versi lumayan panjang. Ide? Dari berbagai teman-temanku, mereka membantu dalam sesi ini hehehe.

Tunggu chapter selanjutnya ya. Happy Reading!

37 thoughts on “FF JESSICA LUHAN : YOU CHAP 4

  1. wahhh…, gmana nih ..?? gawat …!!! kyk orng maling ajj udh ketauan … memangny nyolong apaan sih …??? hahahha…., minahae #joke
    gmana ya …, yaampun kykny itu satpamny galak bner …., dn jga spertiny jessica jga mulai menyukai luhan .., dn jnga luhan knapa gk move on ajj … T_T ntar tmbah sakit lgi loh perasaany …
    dtunggu klanjutanny thour dan smangat ne ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s