Hot Shot – Chapter 2

hotshot31

Yura Lin proudly presents;

Hot Shot

Genre:

Drama – Friendship – School-life – Sport

Length:

Series

Rating:

PG – 13

Cast:

Jessica | Jin | Suga | J-Hope | Rap Monster | Jimin | V | Jungkook

Other Cast:

Girls Day Yura

Yura

Previous:

Teaser and The Cast | Prolog | Chapter 1

Note:

Kalau emang kalian ga tau siapa castnya tapi mau maksain buat baca, gampang kok. Kalian cuma perlu buka teaser. Di sana udah ada foto para cast. Lebih baik lagi kalau dibandingkan dengan poster biar kalian tau nama asli dan nama stagenya para cast. Kalau emang kalian ga mau ribet-ribet buka teaser, maka jangan protes kepadaku jika kalian tidak mengenal cast-cast di ff ini.

INGAT! Aku ga pernah maksa kalian buat baca dan komentar.

Credit Poster:

Vanilatte

*

“Hope is a waking dream.” ― Aristotle

*

Sejak siang, matahari tidak bisa menyinari kota Seoul dengan baik karena terhalangi awan mendung. Walaupun begitu, hujan tidak juga turun. Pria dengan seragam SHS memasuki sebuah toko sambil berlari kecil. Begitu berhadapan dengan sang pemilik toko, pria itu langsung membungkuk rendah.

“Maafkan aku, Yoon ahjussi. Tadi ada pelajaran tambahan,” kata pria dengan nametag ‘Park Jimin’ di jas seragam sekolahnya.

Tuan Yoon selaku pemilik toko pun tersenyum dan menepuk kepala Jimin pelan. “Tak apa. Cepat bersiap. Banyak pelanggan yan sudah menunggumu.”

Jimin mengangguk lalu melangkah menuju ruang ganti.

“Dan jangan berlari lagi. Jangan lupa kakimu itu sensitif,” peringat tuan Yoon sebelum Jimin sempat meraih kenop pintu.

Tubuh Jimin sempat membeku beberapa detik. Kata-kata bosnya membuatnya kembali ingat kondisi kakinya sekarang, membuatnya sangat marah. Marah karena impiannya yang hancur begitu saja saat kesempatan sudah di depan mata. Diraihnya kenop pintu dan membuka pintu dengan tenaga penuh.

Tak perlu waktu lama untuk berganti seragam. 5 menit kemudian, dia sudah bersiap di belakang lemari kaca tempat kue-kue indah dipamerkan. Melihat sang bintang toko sudah muncul, para gadis yang rata-rata berstatus sebagai pelajar pun segera memasuki toko kue dan mengantri. Sebagai seorang pelayan yang baik, Jimin memasang wajah semanis mungkin.

***

Seperti pagi biasanya, Hoseok dan Sooyeon bertingkah bagai kakak dan adik yang sangat akrab di depan orangtua dan berangkat bersama lalu Hoseok menurunkan adik tirinya di tengah jalan. Kini Sooyeon tidak perlu kebingungan karena dia hanya perlu menelepon Taehyung dan mobil Taehyung pun datang menjemputnya.

Karena kebiasaannya yang datang bersama Taehyung dan Namjoon, sempat tersebar kabar tentang Sooyeon yang mengencani salah satu di antara dua kerabat tersebut. Rata-rata berpikir Taehyung lah orang yang paling dicurigai berkencan dengan Sooyeon karena kedekatan mereka. Hoseok pun penasaran dan pernah menanyakan kebenaran tentang berita itu kepada Namjoon tapi Namjoon malah balik bertanya tujuannya bertanya dan statusnya bagi Sooyeon. Otomatis Hoseok tutup mulut karena dia tidak mau seorang pun tahu dia dan Sooyeon sudah menjadi keluarga sekarang.

Sejak rumor itu tersebar, Sooyeon sudah terbiasa dengan perhatian orang-orang di sekitarnya. Toh, paling hanya segelintir orang yang peduli dengan rumor itu. Biasanya yang meliriknya sambil berbisik adalah para siswi kelas 1 yang tertarik dengan Taehyung. Sooyeon tidak bisa mengelak bahwa Taehyung adalah pria yang tampan. Saat pertama kali bertemu, dia sempat berpikir akan ada kemungkinan dia suka kepada Taehyung. Namun setelah mengenal sifat aslinya Taehyung, dia yakin Taehyung tidak akan pernah bisa merebut hatinya.

Anehnya, hari ini berbeda. Pagi ini, Sooyeon mendapatkan perhatian lebih banyak dari biasanya. Puluhan kali lipat lebih banyak karena hampir semua orang meliriknya saat dia menelusuri koridor sambil mengobrol dengan Taehyung.

“Hanya perasaanku saja atau memang semua orang memperhatikan kita?” bisik Sooyeon bingung.

Taehyung mengangguk setuju. “Aku juga berpikir begitu. Apa kau membuat semua orang jatuh cinta kepadamu sehingga mereka cemburu dengan kebersamaan kita sekarang, Sunbae?”

Sooyeon menoleh cepat. Keningnya mengerut. “Bagaimana bisa aku melakukannya dalam satu hari?”

“Mungkin kau mendatangi penyihir di cerita Snow White?”

“Satu, tidak ada penyihir di cerita Snow White selain Ratu jahat itu sendiri dan tidak mungkin seorang Ratu mau membantu warga biasa. Dua, tidak ada penyihir di jaman sekarang.”

“Serius?!” pekik Taehyung tak percaya. “Tidak bisa kupercaya! Jaman sekarang benar-benar membosankan. Tapi vampir ada, ‘kan?”

“Oh tentu. Keluarga Edward Cullen masih ada,” jawab Sooyeon sarkastik.

Taehyung terkekeh senang. “Tebakanku benar rupanya.”

Sooyeon menepuk mukanya gemas dan memutuskan untuk tidak menjawab.

Di persimpangan koridor, Taehyung dan Sooyeon pun berpisah. Taehyung berbelok menuju gedung kelas 1 dan Sooyeon berjalan lurus menuju gedun kelas 2. Walaupun mereka sudah berpisah, orang-orang masih tetap meliriknya. Beberapa orang berdecak sambil menatapnya kagum. Sisanya menggelengkan kepala sambil tersenyum merendahkannya.

Saat sampai di depan kelas, pintu kelasnya tertutup. Sooyeon membukanya perlahan dan bernapas lega karena dia bisa menghindari terigu yang jatuh dari atas pintu. Baru saja dia merasa lega dan melangkah masuk, dia sudah tergelincir jatuh karena lantai yang diolesi minyak sehingga licin. Kelas pun dipenuhi dengan tawa membahana dari teman-teman sekelasnya.

“Masih tidak bisa dipercaya orang sebodohnya berani menghadapi Seokjin sunbae sendirian. Sepertinya berita itu tidak benar. Mungkin saja, Seokjin sunbae menendangnya ke dalam ruangan kepala sekolah hanya karena dia tidak suka melihat wajah si anak baru,” celetuk Hoseok yang segera ditimpali kata-kata setuju dari teman-temannya.

Sooyeon hanya diam sambil berusaha untuk berdiri dan berjalan hati-hati menuju mejanya. Seseorang menendang kaki Sooyeon dari belakang sehingga Sooyeon kembali jatuh. Gadis itu sempat berusaha memegang meja-meja di dekatnya tapi tidak tepat waktu. Tangannya malah tergores pinggir meja dan menyebabkan luka.

Menangislah! Ayo, menangis! Kalau kau menangis, kami mungkin akan bermain lembut. Aku hanya ingin melihatnya menangis, batin Hoseok penuh harap.

Akan tetapi, sepertinya dia harus menelan kekecewaan seperti hari-hari sebelumnya. Adik tirinya tetap diam sambil menarik napas dalam. Matanya bahkan tidak berair sama sekali. Terkadang dia bingung mengapa Sooyeon tidak pernah menangis padahal perempuan lain bahkan menangis hanya karena pria yang ia suka tidak berbalik menyukainya. Apa yang membuat Sooyeon lebih kuat dari perempuan lainnya?

“Sooyeon sun—“

Sooyeon menoleh dan melihat Taehyung berdiri di depan kelasnya sambil memperhatikan keadaan kelasnya yang berantakan dengan ekspresi bingung. Pria itu kembali tersenyum melihat sang kakak kelas kesayangannya duduk di lantai.

Sunbae, apa rokmu tidak akan kotor jika kau duduk di lantai?” tanya Taehyung polos.

Sooyeon tersenyum kecut mendengarnya. Dia segera bangkit dan meletakkan tasnya di atas meja lalu menghampiri Taehyung dengan langkah penuh waspada. Di dalam kelas, para teman sekelasnya sibuk menggoda mereka berdua.

“Ada apa?” tanya Sooyeon, mengabaikan sorakan dari dalam kelas.

“Aku lupa memberikanmu oleh-oleh. Ayahku baru saja pulang dari Jepang semalam. Jadi aku ke sini untuk memberikannya—“ mata Taehyung membulat melihat tangan sang senior terluka. “—Sunbae, tanganmu!”

“Oh ini—“

“Ayo, kita harus membersihkannya!”

Taehyung segera menarik Sooyeon menuju ruang kesehatan. Namun baru beberapa langkah, Taehyung berbalik kembali ke kelas Sooyeon.

Sunbae, kalian harus rajin membersihkan kelas jika tidak mau dihukum oleh para guru. Lihat saja jika Han seonsangnim melihatnya, kalian pasti disuruh berlari keliling lapangan 10 putaran. Kalian benar-benar jorok!” ceramah Taehyung lalu kembali menarik Sooyeon menuju ruang kesehatan.

“Apa kita baru saja diceramahi oleh adik kelas?” celetuk Ilhoon, orang yang duduk di samping Hoseok.

Teman-temannya saling melempar pandangan bingung.

***

Sooyeon keluar dari ruang kesehatan dengan langkah malas. Taehyung kembali ke kelasnya setelah bel berbunyi dan meninggalkannya berdua dengan sang dokter sekolah. Sooyeon menatap boneka menyeramkan bernama Daruma, oleh-oleh dari Taehyung. Menurut adik kelasnya itu, boneka Daruma dapat mengabulkan harapan, dimana harapan yang dimaksud adalah Sooyeon sukses merebut klub basket dari tangan Kim Seokjin.

“Aku tidak butuh keberuntungan dari sebuah boneka menyeramkan,” gumam Sooyeon kesal.

Beruntung terdengar panggilan untuk para peserta debat untuk berkumpul di auditorium saat dia tidak ingin kembali ke kelas. Sooyeon ingin melangkah pergi tapi ia urungkan saat melihat sang kakak tiri berjalan menghampirinya. Jujur saja, dia bingung mengapa Hoseok berada di sini saat bel sudah berbunyi. Bahkan tanpa sempat berhenti sejenak, Hoseok langsung menarik Sooyeon ke sebuah sisi gedung yang sepi. Tempat itu benar-benar sepi agar tidak seorang pun melihat mereka di sana. Seperti biasa, Sooyeon hanya memasrahkan diri.

“Hentikan itu!” bentak Hoseok.

Sooyeon mengerjap tak mengerti.

“Berhenti bersikap sok kuat! Kau bersikap marysue. Kau pikir kau adalah orang baik? Orang yang kuat? Orang yang punya kesabaran tanpa batas? Apa rencanamu sebenarnya?” lanjut Hoseok.

Sooyeon mengangkat tangannya. “Tunggu, apa maksudmu sebenarnya?”

Hoseok terlihat semakin kesal. “Apakah semua yang dilakukan olehku dan teman-temanku tidak cukup untuk membuatmu menangis atau marah? Mengapa kau begitu pasrah tapi sok kuat? Mengapa kau tidak mengeluarkan segala emosimu kepada kami? Kau ingin bersikap sok baik atau apa?!”

“A-apa?”

“Jika ya, bersikap sok baik! Aku benar-benar muak denganmu! Kau dan ibumu sama saja! Sama-sama sok baik! Dasar serigala berbulu domba!”

Plak!

Hoseok benar-benar terkejut. Dia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Ya, dia memang mengharapkan Sooyeon untuk setidaknya marah tapi dia tidak pernah menyangka Sooyeon berani menamparnya.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kau boleh menghinaku sepuas hati tapi jangan pernah berani menghina ibuku,” tekan Sooyeon. “Kau bingung mengapa aku selalu diam? Apa itu begitu penting bagimu? Bukankah yang penting kau puas menyiksaku?”

Hoseok masih sangat terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun.

“Karena aku tahu satu hal. Jika aku marah dan membalas, kalian akan memperlakukanku lebih buruk. Jika aku menangis, sama saja aku kalah tapi aku yakinkan satu hal bahwa aku tidak akan pernah kalah. Aku bukan orang desa yang bodoh. Aku pernah melihat kasus pembullyan langsung di depan mata walaupun baru kali ini, aku lah yang menjadi korban.

“Aku tahu segala tentang hal ini. Aku tidak akan membiarkan diriku terjebak. Sekarang kau puas mendengar jawabanku? Apa setelah kau tahu semua ini, kau akan berhenti menyuruh teman-temanmu untuk menyiksaku? Ku harap iya karena masih ada klub basket yang membutuhkan perhatianku. Dan aku harus datang ke auditorium sekarang. Sampai jumpa di kelas.”

Sooyeon segera meninggalkan kakak tirinya sebelum Hoseok mendorong emosinya mencapai puncak dan membuatnya lepas kontrol. Jika itu terjadi, dia pasti melakukan sesuatu yang akan dia sesali nantinya.

***

Jungkook menggerutu kesal. Ini semua karena Jung Sooyeon tidak juga datang ke auditorium untuk kembali berlatih untuk lomba debat walaupun sudah dipanggil berkali-kali dengan pengeras suara sehingga Mister Park menyuruhnya untuk memanggilnya langsung ke kelas Sooyeon.  Dari pertama mereka bertemu, dia sudah tidak suka dengan kakak kelasnya yang satu itu. Dia pikir Sooyeon termasuk murid populer.

Di hari pertama, guru meminta seorang Min Yoongi hanya untuk mengantarkan Sooyeon berkeliling sekolah walaupun ada 650 murid di sekolah tersebut yang bisa diminta bantuan. Ditambah, belum lama bersekolah disana, sudah beredar kabar tentang Sooyeon mengencani murid kelas 1. Berita terakhir yang menjadi berita nomor satu hari ini mengatakan Sooyeon berani mencari masalah dengan anak sang donatur utama sekolah, Kim Seokjin.

“Itu dia! Ternyata dia sedang sibuk berpacaran bukannya di kelas! Huh! Apa telinganya tuli sampai tidak mendengar pemberitahuan?” sungut Jungkook.

Dan kini setelah Sooyeon (menurut kabar) berpacaran dengan Taehyung, Jungkook melihatnya sedang bersama pria lain. Betapa terkenalnya Sooyeon! Dan dia benci murid populer. Mungkin hanya Yoongi yang tidak ia benci, malah ia puja karena Yoongi memang salah satu bintang pelajar.

Yah, Jung Soo—“

Jungkook segera membungkam mulutnya saat melihat Sooyeon menampar pria di depannya.

Oh mungkin mereka sedang bertengkar!, pikir Jungkook.

Dia mencoba mendekat dan bersembunyi di tempat yang dikira bisa untuk mendengar pembicaraan mereka. Walaupun dia tahu mencuri dengar adalah hal yang dilarang oleh orangtuanya, tapi dia penasaran. Dia mulai berpikir berbagai kejadian ala drama malam yang mungkin terjadi di antara keduanya. Dari masalah kecil hingga cinta terlarang. Salahkan ibunya yang selalu memaksanya untuk menonton drama bersama jika ayahnya belum pulang karena ibunya benci menonton tv sendirian.

“Kau bingung mengapa aku selalu diam? Apa itu begitu penting bagimu? Bukankah yang penting kau puas menyiksaku? Karena aku tahu satu hal. Jika aku marah dan membalas, kalian akan memperlakukanku lebih buruk. Jika aku menangis, sama artinya aku kalah dan aku yakinkan satu hal bahwa aku tidak akan pernah kalah. Aku bukan orang desa yang bodoh. Aku pernah melihat kasus pembullyan langsung di depan mata walaupun baru kali ini, aku lah yang menjadi korban.”

Mata Jungkook membulat tak percaya. Dia tidak percaya bahwa pemikirannya selama ini tentang senior yang ia benci adalah salah. Dia tidak percaya bahwa kenyataannya adalah keterbalikan dari apa yang ia pikirkan.

“Aku tahu segala tentangnya. Aku tidak akan membiarkan diriku terjebak. Sekarang kau puas mendengar jawabanku? Apa setelah kau tahu semua ini, kau akan berhenti menyuruh teman-temanmu untuk menyiksaku? Ku harap iya karena masih ada hal lain yang membutuhkan perhatianku. Dan aku harus datang ke auditorium sekarang. Sampai jumpa di kelas.”

Oh, astaga! Aku harus pergi sekarang sebelum ketahuan!, panik Jungkook.

Akan tetapi dia terlalu bingung sampai dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia sangat membenci dirinya saat ia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena selama ini, dia selalu tahu. Dia mengharuskan dirinya untuk tahu apapun.

“Jungkook, apa yang kau lakukan di sini?”

Oh sial…

Jungkook hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya saat Sooyeon menemukannya bersembunyi di balik dinding. Padahal dia berharap sang senior tidak menyadari keberadaannya. Siapa sangka seniornya yang bodoh itu ternyata cukup jeli?

“A-aku?” Jungkook berdeham. “Aku mencarimu, Sunbae. Kau tidak juga datang ke auditorium jadi mister Park memintaku untuk mencarimu. Karenamu, kami membuang waktu dengan percuma!”

“Oh, aku minta maaf…” lirih Sooyeon.

Jungkook kembali panik. Dia tidak menyangka Sooyeon akan membalasnya seperti itu. Biasanya, Sooyeon selalu membalasnya dengan sengit bukannya pasrah. Ditambah kata-katanya tadi, Jungkook semakin tidak tega kepada Sooyeon.

“A-aku juga minta maaf.”

Sooyeon menatapnya bingung. “Untuk?”

Jungkook kembali berdeham. “Lupakan. Ayo kita ke auditorium. Orang-orang sudah menunggumu.”

Jungkook kebingungan harus berbuat apa. Situasi mereka benar-benar canggung. Ini pertama kalinya mereka hanya berdua tanpa topik yang perlu diributkan.

“Siapa yang bersamamu tadi? Pacarmu?” tanya Jungkook, sedikit ragu untuk mengatakannya atau tidak.

Sooyeon kembali melirik Jungkook tapi adik kelasnya segera membuang muka. Aneh sekali Jungkook bertanya seperti itu seakan dia peduli.

“Dia adalah kakak tiriku,” jawab Sooyeon.

“Kakak tiri? Tapi kalian—“

“Kami hanya berbeda 2 bulan jadi kami sekelas.”

“Kalian tidak terlihat dekat.”

“Dia membenciku.”

Jungkook menutup mulutnya rapat setelah mendengarnya. Sepertinya masalah Sooyeon lebih rumit dari apa yang ia kira.

“Aku benar-benar minta maaf,” gumam Jungkook.

“Untuk apa?”

“Aku tahu aku menyebalkan.”

“Syukurlah kau sadar!”

Jungkook mendengus. “Aku serius! Aku ingin minta maaf.”

Sooyeon hanya tersenyum tipis. Dalam hati, dia menyayangkan hal ini terjadi padahal dia sudah menyusun rencana untuk mengerjai Jungkook. Kalau kata maaf sudah dikatakan, sama saja mereka harus gencatan senjata. Lalu bagaimana dengan nasib rencana brilian yang ia pikirkan sepanjang malam sambil memikirkan cara jitu untuk menghadapi Seokjin itu?

“Aku melakukannya karena aku pikir kau adalah murid populer dan aku benci murid populer. Mereka melakukan apapun seenaknya karena mereka tahu semua orang pasti mendukungnya,” desah Jungkook.

Sooyeon mengangguk setuju. “Teorimu tentang murid populer itu cukup benar tapi sayangnya, aku bukan bagian dari mereka. Aku adalah—“

“Ya, kau adalah korban. Aku mendengarnya. Kita sama.”

Sooyeon kembali mencoba membuat kontak mata dengan adik kelas yang ia benci itu tapi lagi-lagi Jungkook membuang muka seakan pria itu takut Sooyeon membaca pikirannya lewat kontak mata.

“Kita harus cepat atau mister Park akan menghukum kita,” cetus Jungkook.

Sooyeon mendengus. “Mister Park tidak mungkin—yah, Jeon Jungkook!!”

Sooyeon segera mengejar Jungkook yang sudah lebih dahulu berlari menuju auditorium.

***

Latihan kali ini berlangsung cukup lancar. Tidak seperti latihan kemarin, Jungkook dan Sooyeon dapat berkomunikasi dengan baik sehingga dapat membantu satu sama lain. Tak jarang, Jungkook menjelaskan solusi terbaik dari masalah yang diberikan kepada Sooyeon lalu membagi peran dengan adil. Kemarin, Jungkook bahkan tidak berniat untuk mengatakan sesuatu kepada Sooyeon selain ‘Bodoh!’, ‘Payah!’, ‘Apa kau benar-benar kakak kelasku?’ atau hinaan lainnya.

Sebenarnya mister Park sempat meragukan Sooyeon dalam kelompok ini. Dia menarik anak baru itu hanya karena nilai-nilai bahasa Inggrisnya selalu sempurna. Tidak banyak murid yang mendapatkan nilai bahasa Inggris yang sempurna di sekolah tersebut jadi Sooyeon pun dikira dapat diandalkan. Sayangnya di latihan pertama, Sooyeon sudah memberikan kesan yang sangat buruk. Namun berbeda dengan hari ini, Sooyeon seakan mengejutkan banyak orang. Terima kasih atas bantuan Jungkook.

Okay, today’s enough! You all did really well. Practice is dismissed. You can go back to the class,” seru mister Park.

Sooyeon menghela napas panjang seraya mengambil langkah untuk pergi. Kali ini, dia memperhatikan langkahnya agar tidak terselengkat kabel lagi seperti kemarin. Dia tidak akan membiarkan Jungkook menertawainya lagi saat mereka sudah melakukan gencatan senjata.

“Sooyeon sunbae, tunggu!”

Sooyeon berhenti dan menoleh. Matanya menyipit melihat Jungkook menghampirinya sambil tersenyum sopan. Sungguh, ada apa dengan Jungkook hari ini? Apa otaknya terbentur sesuatu pagi ini?

“Ada apa?” tanya Sooyeon begitu Jungkook sampai di hadapannya.

Jungkook menarik napas dalam. “Apa kau benar-benar mencari masalah dengan Seokjin sunbae?”

Sooyeon memutar matanya dan menghembuskan napas kasar. “Oh astaga! Mengapa semua orang bersikap seakan itu adalah hal yang penting?”

“Tentu saja penting. Aku pernah mendengar berita tentang Seokjin sunbae menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh seorang kakak kelas yang berani memerasnya. Itu terjadi 2 tahun yang lalu. Kau bisa menjadi korban selanjutnya jika tidak hati-hati.”

Sooyeon meringis mendengarnya. Sekejam itukah? Pantas tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya.

“Aku penasaran. Mengapa kau tetap keras kepala mengganggunya?” tanya Jungkook.

“Jadi… aku ingin merebut klub basket darinya. Aku ingin membangun kembali klub basket di sekolah ini. Yah semacam itu lah.”

Jungkook mengerutkan keningnya sambil menatap Sooyeon cukup intens lalu tertawa terbahak-bahak. Sooyeon melipat tangannya sambil menunggu pria di depannya berhenti tertawa.

“Kau tidak becanda, ‘kan?”

Sooyeon menggeleng.

“Kau lucu, Sunbae.”

Bibir Sooyeon semakin melengkung ke bawah. Gadis itu berbalik badan dan bersiap untuk pergi tapi Jungkook menahannya.

Okay, aku harus menyadarkanmu 2 hal. Satu, kau tidak mungkin bisa merebut klub basket sebelum Seokjin sunbae lulus. Dua, klub basket dari sekolah ini tidak akan sukses. Semua orang tahu sebenarnya bodohnya murid-murid SHS dalam olahraga,” ujar Jungkook. “Kau benar-benar bodoh.”

Sooyeon mendesis geram. “Ku pikir kita sudah gencatan senjata!”

“Ku pikir kita sudah berbaikan?” balas Jungkook polos.

“Kau mengataiku bodoh!”

“Kau memang bodoh. Aku tidak menghinamu karena apa yang ku katakan adalah fakta.”

Yah, Jeon Jungkook—“

“Karena itu aku akan memberikanmu saran.”

Sooyeon mengerutkan keningnya.

“Yang kau butuhkan adalah bantuan dari Yoongi sunbae versi perempuan, Kim Ahyoung. Hanya dia yang bisa mengalahkan Seokjin sunbae di sekolah ini.”

***

Kim Ahyoung.

Ketua OSIS perempuan pertama di SHS. Selalu menempati peringkat kedua di angkatannya setelah Jung Jinyoung. Dia adalah rival abadi Yoongi sejak mereka masuk SHS. Mereka bersaing dalam banyak hal tapi Ahyoung selalu berhasil memenangkannya karena dia mempunyai Seokjin di pihaknya. Seokjin adalah temannya sejak kecil dan pria itu hanya menurut kepadanya. Jika kau memiliki Seokjin di sampingnya, sama saja kau memiliki seluruh sekolah di pihakmu. Itu sebabnya Yoongi tidak pernah berhasil mengalahkannya.

Ahyoung dan Yoongi bisa dibilang tidak ada bedanya dalam soal keahlian. Mereka bahkan bersaing untuk mendapatkan posisi ketua OSIS tapi lagi-lagi Yoongi mendapatkan kursi kedua sehingga dia mengundurkan diri dan membiarkan dirinya menjadi budak para guru.

Itu lah yang bisa diceritakan oleh Taehyung. Terkadang Sooyeon penasaran bagaimana bisa Jungkook dan Taehyung tahu seluruh kisah yang ada di SHS. Taehyung dan Jungkook sama sepertinya. Mereka sama-sama baru di sekolah tersebut karena semester satu baru saja dimulai. Bedanya, Taehyung dan Jungkook masuk ke sekolah tersebut lebih awal beberapa hari darinya.

“Menurutku Ahyoung sunbae memang bisa membantu kita tapi aku tidak yakin dia mau. Aku sudah tahu dari kemarin tapi aku tidak yakin jadi aku tidak menyarankannya kepadamu, Sunbae,” kata Taehyung.

Sooyeon menghela napas panjang. “Kita harus mencobanya.”

“Untuk kali ini, aku harus pesimis. Bukankah sudah ku bilang Ahyoung sunbae tidak ada bedanya dengan Yoongi sunbae? Kau tahu bagaimana sifat Yoongi sunbae, ‘kan?” tukas Taehyung.

“Kita belum mencoba.”

“Kita tidak perlu mencoba karena aku tahu apa hasilnya.”

“Apa kau pernah berhadapan langsung dengan Ahyoung sunbae?”

Taehyung menggaruk kepalanya sambil menggeleng pelan. “Hehe..”

“Lalu mengapa kau tahu sifatnya sama seperti Yoongi sunbae?”

“Aku membacanya di blog seseorang tentang sekolah ini. Kau harus membacanya, Sunbae! Blog itu benar-benar rinci!” jawab Taehyung heboh.

Sooyeon menghela napas panjang.

***

Yah, baboyaaa~~~”

Seokjin mengerang kesal mendengar suara yang tidak asing itu. “Pergi! Jangan menggangguku!” usirnya dengan tatapan tetap tertuju kepada komik yang baru ia beli pagi ini.

Gadis tinggi di depannya pun duduk di meja di hadapan Seokjin lalu merebut komik tersebut. Seokjin semakin kesal dibuatnya.

Yah, Kim Ahyoung! Kubilang pergi!” usir Seokjin sekali lagi.

Ahyoung memperhatikan komik di tangannya, mencoba beberapa lembar lalu mengembalikannya kepada Seokjin dengan tatapan tak tertarik. Seokjin membalasnya dengan tatapan dingin.’

“Apa yang kau butuhkan sekarang?” tanya Seokjin.

Ahyoung mendengus. “Mengapa kau selalu bertanya seperti itu setiap aku datang berkunjung ke tempatmu berhibernasi? Lagipula aku bosan bersikap sok bijak di depan semua orang. Hanya di depanmu, aku bisa berbuat sesuka hatiku.”

“Aku bukan hewan mamalia yang membutuhkan tempat hibernasi di musim dingin.”

“Tapi kau bertingkah seperti mereka.” Ahyoung mengangkat tangannya acuh tak acuh. “Oh ya, bagaimana dengan gadis yang mengganggumu kemarin? Mengapa kau tidak cerita kepadaku?”

“Aku tidak ingin menceritakannya karena kau bukan ibuku. Lagipula kau adalah ketua OSIS. Tidak seharusnya kau mencampuri urusanku.”

Ahyoung menepuk dadanya sambil memasang wajah tersakiti. “Ouch, itu menyakitkan, Kim Seokjin. Aku adalah sahabatmu tapi kau melarangku untuk mencampuri urusanmu?”

Seokjin memutar matanya melihat sahabatnya kembali berakting terlalu dramatis. Sementara Ahyoung tertawa karena tingkahnya sendiri.

“Jadi bagaimana? Jarang sekali ada orang yang berani datang ke ruangan keramat ini,” desak Ahyoung.

Seokjin mendesah. “Dia mengganggu tidurku dan mengatakan ingin menjadi pengurus klub basket lalu aku mengirimnya ke kantor kepala sekolah. Cerita selesai.”

Ahyoung membulatkan bibirnya. “Mengapa kau tidak menerimanya?”

“Untuk apa? Klub basket tidak benar-benar ada.”

“Untuk menjadi mainanmu. Kau tidak bosan hanya menghabiskan waktu dengan tidur atau membaca komik di sini sampai waktunya pulang?”

Seokjin mendelik dingin lalu membuka komiknya lagi.

“Tapi kau harus mencobanya. Aku ingin melihatmu bermain basket. Pasti lucu!” cibir Ahyoung.

Seokjin tidak mengatakan apapun.

“Berlari sambil membawa bola lalu jatuh karena disenggol sedikit oleh lawan.”

Dia tidak selemah itu! Seokjin menggertakkan giginya tanpa mengatakan apapun.

“Oh! Oh! Bagaimana jika teman setimmu mengoper bola kepadamu tapi bolanya malah mengenai kepalamu dan kau pun jatuh pingsan? Mengingat kau sangat bodoh di bidang olahraga. Kepekaanmu itu buruk.”

Kaki Seokjin terantuk keras ke lantai tapi tak satu kata pun keluar dari mulutnya.

“Lalu gadis yang mengganggumu kemarin akan datang membantumu. Dia akan menyadarkanmu dengan ciuman seperti dongeng Sleeping Beauty. Dan kalian pun—YAAHHH!!!!”

Blam!

Ahyoung menggerutu karena Seokjin mendorongnya paksa keluar dari ruangan klub basket dan mengunci pintu dari dalam. Seokjin tidak jauh berbeda.

“Bagaimana bisa orang-orang mengatakan sifat Ahyoung mirip seperti Yoongi? Sudah jelas sifat mereka jauh berbeda. Ahyoung jauh lebih mengganggu,” runtuk Seokjin kesal sambil kembali duduk di singgasananya.

*

To Be Continued

*

Chapter kedua sudah dirilis (~^o^)~ berikan kesan-kesanmu dan maaf jika ada typo. Yah jika kalian adalah reader setiaku, pasti kalian tahu mengapa ‘-‘ hehe

Awalnya aku mau ngepost lanjutan ff lain tapi aku memutuskan untuk ngepost lanjutan ff ini dulu sambil promosi. Hehehe.. silahkan klik foto di bawah ini untuk info lebih lanjut😉

BhiJ9T_CYAA491w

52 thoughts on “Hot Shot – Chapter 2

  1. hoseok keterlaluan! kena tampar kan. kelasnya jg keterlaluan bgt elah. tp aku suka sekaliiiiiiii ^^ fyi ini ff bikin aku suka sekali sm bts sica. gomawo author(?) aku lanjut baca yak wkwk

  2. Sica bwaannya mrah mlu klo deket taehyung🙂 jin kmu ska ya ma ahyoung???? Andweee kmu skanya ma sica aja🙂

    Btw keren thor lanjut ya fighting🙂

  3. yng aku hrapkan dri chapter ini : j-hope harus bener2 khilaf udh ngebully adek nya sendiri :v chimjimin akhirnya muncul jugaa, yey! btw, jimin punya pengalaman buruk jg ttg basket ya… disini krakter V masih jd adek kelas yg ceplas-ceplos kalo ngomong, ngakak sendiri bacanya authornim. dan sooyeon, kamu harus lebih tabah lagi selanjutnya :3 akhirnya jungkook tau jg kalo jhope & sooyeon sodaraan :v dan untuk jin, jgn aneh2 sana sooyeon lho, ntar jadian lagi *eh* :v yossshh, puas bgt sama chapter nya ini ^^ mohon dilanjut hingga tuntas ya author-nim! keep writing! and fighting! ^.^

  4. ciee.. v care bngt eh sma jessica, syang , dia sarap gtu org ny -.- tp sumpah,somvlak bngt dia😄 ad ap ini, heosok mulai sibuk bngt ma sica, bagus . aku suka pas part sica nampar dia.. hohoho.. songong bngt sih, smoga sikap ny brubah stelah itu.. dan jungkook mulai baikan, sica jd dpet bnyk sekutu yaa.. aku ga nyangka jin smpe nyewa pembunuh bayaran, kok bs seh..?? he’s to much #.# ok ok. trus smngt jessica bwa klub basket ny hidup kmbali .. heheheh😄 love to read this story too much , so attractive :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s