[Freelance] MORE THAN…(Chapter 7)

Author: S.Y.M

Title: More Than…

Lengt: Chaptered

Rating: PG 15

Genre: Romantic, friendship

Main Cast:  -L Myungsoo- Jessica Jung.

Other Cast: Yong Guk, Young Jae, Jin, Ren, Himchan, Lee Ki Kwang

Note:  Anyeong…readers…sorry banget karena postnya lammmaa.

Aku mengalami sedikit perubahan dari rencana jalan ceritanya, tapi tetap tujuannya sama.

Dan ini masih dalam masa flashback dari tahun ke-8 persahabatan Myungsoo dan Jessica. Semoga tidak bingung.

Sorry for typo and don’t forget to comment, Enjoy it.

PART V

DON’T STOP ME, I LOVE YOU

________________________________

“Aku mencintai nya, ya… aku mencintainya… begitu bodoh kah aku jika aku tidak bisa memilikinya?”

                “Aku selalu mengingat janjimu, janji untuk selalu menyayangiku dan menikahiku setelah aku dewasa”

“Dia mencintai orang lain, dia mencintainya”

                “Tidak cukupkah hal itu membuatmu tetap mempertahankan ku?”

“Aku mencintaimu, sungguh menyayangimu, apa yang bisa kuperbuat jika aku harus menyakiti banyak pihak dengan keputusanku? Ma’afkan aku Sooyeon”

                “Kau bisa meninggalkanku sendiri, tidak ada pertanyaan tentang cinta diantara kita, hapus segala hal tentang cinta dalam persahabatan kita, tidak ada dunia cinta yang bisa kita bicarakan”

                “Aku kecewa, namun apa yang harus aku kecewakan? Apa aku harus menyalahkanmu? Harus menyalahkanku? Menyalahkan semua hal yang terjadi padaku? Menyalahkan takdirku? Semuanya … aku harus bagaimana?”

____________________________________________________________________
3 years ago…

Masalah besar menghalangiku.

“Haraboji meninggal, kau harus menghadiri pemakaman, tinggalkan sekolahmu dan kami akan mengatur semuanya. Soal ujian masukmu ke universitas, kita bicarakan setelah pemakaman selesai”

Penjelasan itu menutup seluruh peperangan dalam hati dan pikiran Myungsoo pagi itu. Sungguh siapa yang menginginkan kejadian tak terduga ini. Seumur hidup seharusnya ia lebih memikirkan tentang kejadian gila yang tak terduga akan menghampirinya.

Apa yang bisa ia lakukan ketika baru 3 jam ia membenamkan seluruh kelelahannya dan juga seluruh perasaan tak karuannya pada Jessica, ia dikagetkan dengan kematian Kakeknya. Sungguh jika ia bisa mementingkan ke-egoisannya bahwa ia tidak perduli dengan semua yang terjadi di keluarganya. Namun sungguh miris jika ia tega tidak menghadiri pemakaman kakeknya sendiri.

“Kita berangkat pukul 5 pagi, ada waktu 1 jam untuk mempersiapkan semuanya” wanita paruh baya itu menutup pintu kamar putra semata wayangnya, Myungsoo. Bahkan eommanya masih menggunakan gaun pesta, ia baru saja pulang dari penjamuan tamu dari salah satu pabrik yang ia bawahi.

Myungsoo melirik letak ponselnya, namun sayang eommanya lebih cerdik sehingga ia pergi sekaligus membawa ponsel milik Myungsoo

SIAL

Ya.. sungguh sial nasibnya, sekarang yang ada dipikirannya hanyalah Jessica. Bagaimana ia bisa menghubungi Jessica, bagaimana jika Jessica menunggunya dan tetap menunggunya sampai ia datang di tempat itu? Sedangkan saat ini ia sedang dalam pengawasan eommanya.

.

.

Ia baru saja melewati belokan gang , tempat Jessica selalu menunggunya. Seperti berharap ada bintang jatuh yang mengabulkan permintaannya, melihat tempat itu … ia berharap bisa bertemu Jessica dan mengatakan semua hal yang perlu diketahui Jessica. Ia mempunyai firasat buruk saat nanti ia tiba di Jepang. Sayangnya…hal itu tidak pernah terjadi. Siapa yang perduli dengan segala hal yang ada di otaknya sekarang? Eommanya tidak akan mengerti, tidak akan mengerti.

Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Sooyeon_ah…saranghaeo”

.

.

Myungsoo melirik eommanya yang terdiam memandangi jalanan yang ada di depannya. Sedikit keberuntungan yang mungkin bisa ia manfaatkan, jalanan macet karena ada masalah dengan truck Container dan Billup di jalanan itu, dan apa yang ia pikirkan sekarang adalah, keluar dari mobil dan mencari bantuan.

Mobil berjalan sangat lambat, dan sekarang gerak mobil pun berhenti .

SEKARANG

Myungsoo merapat ke kursi pengemudi dan menekan tombol pengunci mobil dan keluar dari mobil itu. Sontak Eommanya berteriak, seluruh perhatianpun tertuju padanya, seolah-olah Myungsoo adalah tawanan yang sedang kabur atau malah seorang pencuri yang sedang diteriaki maling oleh wanita paruh baya yang tak lain adalah eommanya sendiri.

“Cepat kejar dia” Ny Kim memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengejar Myungsoo yang kini sedang berusaha menghindari mobil-mobil yang berhenti itu.

Apa perdulinya dengan semua pengawal itu, ia harus segera mencari bantuan, ke tempat Yong Guk adalah satu-satunya tujuannya. Ia terus melewati mobil mobil itu, sesekali ia harus meloncat melewati   bagian depan mobil. Ia tidak mungkin melawan eommanya, namun jika ia mengatakan yang sebenarnya ia tidak mungkin mendapat ijin. Ayolah…hanya ingin meminta bantuan pada Yong Guk, dan ia harus dikejar-kejar seperti seorang penjahat.

Detik berikutnya ia bisa keluar dari kemacetan itu, selanjutnya ia harus segera ke stasiun untuk menemui Yong Guk. Setidaknya hanya mereka yang membantunya.

BUK

Myungsoo tersungkur ketika salah satu dari pengawal eommanya berhasil meraihnya. ia tidak ingin membuang waktunya untuk berkelahi dengan para pria besar itu, ia bangkit dan berusaha untuk menjaga jarak larinya dengan para pengawal itu.

“Dia masih terus berlari Nyonya” terdengar salah satu dari mereka menghubungi Ny Kim.

“Tangkap dia, apapun yang terjadi, tidak perduli kalian harus memukulnya, dia harus ikut denganku ke Jepang”

“Baik Nyonya”

Tanpa perduli apapun Myungsoo terus berlari, sebentar lagi ia bisa menemukan Yong Guk.

BUK

BUK

BUK

Beberapa pukulan kembali mendarat padanya, ia beberapakali tersungkur. Ya.. kali ini ia harus melawan jika ia sudah dihadang oleh 5 pengawal sekaligus.

Myungsoo berdiri sempoyongan, ia melihat satu persatu pria besar itu yang berbaris di depannya, siap melawannya namun tak ada satupun yang berani memulai.

“AAAAHHH SIAL”

BUK

Ia memukul satu pengawal itu, lalu di susul dengan pria besar lain yang juga berusaha menaklukkannya.

BUK

BRAK

Myungsoo kembali terlempar ke dinding. Ia mampu merobohkan 3 dari pengawal itu, dan 2 diantaranya kini masih siap untuk menangkapnya.

BRUK…

Ia tersungkur, kakinya terkena pukulan keras dengan besi, benda yang dibawa oleh salah satu pengawal itu. Sungguh ngilu rasanya, dan tidak mungkin ia nekat melarikan diri lagi.

Kedua pengawal itu mendekatinya, berniat membawanya kembali ke mobil dan berangkat ke bandara.

“Tunggu, kalian pikir aku akan lari? Aku akan menghadiri pemakaman itu”

Kedua pengawal itu menghentikan langkahnya, Myungsoo menelan salivanya, ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan, ia harus mencari cara yang lebih pintar agar ia bisa bertemu dengan Yong Guk dan lainnya.

“Aku janji, aku akan menghadiri pemakaman itu, aku akan ke bandara. Kalian bisa membantuku?” Myungsoo memaksakan senyumnya ditengah bibir yang sedikit memar itu.

“Aku harus bertemu dengan beberapa orang, uhk.. setelah urusanku selesai… kalian bisa membawaku ke bandara”

Seakan ragu dengan apa yang dikatakan majikannya itu, mereka tetap siaga dan mendekatinya.

“Lagi pula aku sudah tidak mampu melawan lagi” Myungsoo berusaha berdiri. Ia merambat pada dinding. Sedangkan kedua pengawal itu bersiap untuk melawannya lagi.

“Sudah kubilang aku tidak akan melawan, kalian cukup berjalan di belakangku, awasi aku…. mereka tak jauh dari sini”

Myungsoo diam menunggu persetujuan dari 2 pria besar ditambah dengan ketiga pengawal yang sudah mulai merangkak bangun.

“aku berjanji” Myungsoo meyakinkan mereka, dan kini ia bisa sedikit tenang untuk bertemu dengan Yong Guk dan lainnya.

.

.

.

Yong Guk segera berdiri ketika ia melihat sosok yang sedikit meringkuk kesakitan berjalan gontai ke arahnya.

“Kim Myungsoo” Jin menangkap sosok itu, dia adalah Myungsoo.

Yong Guk, Jin, Ren dan Himchan, mereka kini tengah siap menyerang siapa saja yang ada di belakang Myungsoo, mereka yakin orang orang berjas hitam itulah yang membuat Myungsoo seperti itu.

“Hyung!” Myungsoo berusaha tersenyum menyapa teman-temannya.

“Siapa yang membuatmu seperti ini?” Himchan segera merangkul pundak temannya itu, menggiringnya untuk lebih dekat dan duduk diantara mereka.

“Apa mereka? “

Myungsoo mengangguk lemah, “Kalian tidak perlu membalasnya, mereka adalah pengawalku, aku perlu bantuan kalian”

Sontak mereka menatap Myungsoo tajam, BANTUAN?

Aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku, kumohon kalian membantuku”

Ke-empat orang itu mengangguk mantap meski sejuta pertanyaan muncul di masing masing namja itu.

.

.

___________________________________________________

Jessica tak habis pikir, berapa tahun ia berteman dengan Myungsoo, tak sedikitpun ia mau menginjakkan kakinya ke rumah Myungsoo. Ia tahu Keluarga seperti apa yang dimiliki Myungsoo. Keluarga kaya dan untuk waktu yang entah berapa lama, ia sangat menghindari keluarga-keluarga kaya seperti keluarga Myungsoo. Ia tahu bagaimana rasanya berteman dengan seorang dengan keluarga kaya dengan banyak perusahaan  dan industri yang dibawahi mereka. Ia sangat bersyukur Myungsoo berbeda, ia mampu menutupi siapa dirinya saat bersama dengannya. Dan kali ini, Myungsoo menghilang tanpa alasan yang bisa ia terima. Myungsoo menghilang, tanpa meninggalkan sepatah katapun padanya.  Sedangkan ia sangat ingin menanyakan kenapa Myungsoo menciumnya, kenapa ia menciumnya malam itu namun sekarang Myungsoo menghilang dan memintanya untuk menunggunya, hanya menunggunya sampai ia kembali ke korea, dan entah sampai kapan itu

Belum cukup Myungsoo yang tiba-tiba menghilang, kini ia harus menerima kenyataan pahit, Lee Ki Kwang harus kembali ke Amerika, ia mengingkari janjinya yang akan tinggal lama di Korea dan menjalani kehidupannya seperti dulu, melindungi dan berada disamping Jessica.

Lagi-lagi janji hanyalah janji. Myungsoo pergi dan Lee Ki Kwang juga meninggalkannya, Eommanya menelantarkannya, dan apa yang diperdulikan Ayahnya yang ada di Amerika padanya. Sungguh malang nasib  seorang Jessica kali ini. Ia benar-benar harus menjalani semuanya sendiri. Benar- benar merasa sendiri.

“Kau tidak sendiri, kau tidak menganggap kami?” Young Jae merangkul pundak Jessica.

Dan kini mereka berlimalah yang selalu menjaga Jessica, Yong Guk, Yong Jae, Himchan, Ren dan Jin. Namun rasanya sangat berbeda jika tidak ada Myungsoo diantara mereka. Dia sangat merindukan sahabatnya itu. Namun apa yang bisa ia perbuat, ketika Yong Guk menjelaskan tentang kepergian Myungsoo yang begitu mendadak. Ia pernah mengalami itu sebelumnya, keluarga kaya memang seperti itu, nasib Myungsoo tidak berbeda jauh dengan Lee Ki Kwang, kali ini ia mengalami kejadian yang berulang dan sama.

Mereka sengaja datang untuk mengantarkan Jessica ke Kampus, ya… kali ini ia melewati ujian masuk sendirian, tidak ada Myungsoo seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Meskipun Lee Ki Kwanglah yang membantunya untuk masuk ke Universitas ini, siapa yang mampu dengan biaya yang cukup besar di salah satu universitas terbaik dan bergengsi di Kota ini. Dengan Fakultas dan jurusan yang ia ambil, kali ini Jessica berharap besar bisa merubah nasibnya.

Jessica tersenyum tipis, ia mengingat betapa kecewanya dia dengan kepergian Myungsoo dan Lee Ki Kwang, 2 orang yang telah mengisi hari-harinya dengan segala perhatian dan kebaikan mereka. Detik berikutnya Jessica tersenyum riang. Ia mampu mengubah senyumnya secepat itu. Ia tidak mungkin memperlihatkan ketidak semangatannya dengan hidupnya kali ini karena tidak ada Myungsoo maupun Lee Ki Kwang yang nyatanya tidak mampu menepati janjinya.

“Gomawoo …..” Jessica tersenyum, memperlihatkan senyum yang sangat manis… senyum termanis yang pernah ia punya. Namun tidak dengan ketulusannya.

“ Kita harus merayakan sesuatu” Jin mengambil alih tas dan buku yang ada di tangan Jessica.

“Kita harus merayakan pekerjaan barumu”

Jessica melirik Himchan dengan tatapan  tajam dan detik berikutnya ia tertawa.

“Baiklah, tapi tidak untuk minuman beralkohol atau yang lainnya”

“WAEEE??? “ Ren berteriak paling semangat, jika minuman beralkohol telah ditolak untuk daftar menunya.

“Kau masih dibawah umur anak kecil” Jessica mendesis pelan.

“Soju… kumohon” Ren bergelayut manja pada lengan Yong Guk, namun Yong Guk segera menghindarinya, ia berganti pada Jessica namun juga ditepis oleh lengan Young Jae.

“Kau dan kalian semua bukan peminum yang baik, aku tidak ingin mendorong gerobak untuk kalian” Jessica  meninggalkan ke-5 namja itu, dan mereka bergantian menatap, … mencari siapa diantara mereka yang sangat buruk dalam minum minuman beralkohol. Detik berikutnya mereka sadar, tidak ada yang lebih buruk dari Jessica untuk urusan minum-minuman beralkohol. Jessica mengecohkan mereka.

“Hya… kau membicarakan dirimu sendiri Sica” teriak Yong Guk.

Namun Jessica terus berlalu meninggalkan ke-5 namja itu.

___________________________________________________

1  years later ( 2 years ago)

Tokyo, Japan

 

To: Myungsoo, Kim

Lee Ki Kwang Kembali, dan terjadi sesuatu pada Jessica,kau tidak ingin kembali?

.

.

Laki-laki itu sedang memandang lurus segala sesuatu yang ada didepannya , mungkin sudah tak lagi ia hiraukan, menjalani beberapa pertemuan, membicarakan tentang perusahaan, membicarakan beberapa hal yang mungkin bisa membuatnya mati muda. Ia benar-benar belum siap dengan semua hal yang ada di depannya. Masa depan yang diatur oleh kedua orang tuanya, ah… ia tidak menyalahkan itu, ia memang terlahir sebagai anak tunggal, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan keluarganya jika bukan dia.

Menghadiri pemakaman sang kakek, adalah awal ia terpenjara dalam kuasa Eomma dan Appanya, hal buruk benar-benar terjadi padanya.

Ia terus berteriak , teriakan dalam hatinya, teriakan yang selalu tercekat di ujung tenggorokannya, ia seperti ingin mengulum segala kertas yang kini ada di hadapannya.

Ia menutup lap top di depannya setelah ia mengecek e-mail masuk di smartphone miliknya, ia tidak mungkin membuka e-mail pribadinya di laptop yang tersedia. Ia tidak mungkin menggunakan fasilitas yang di sediakan oleh ibunya untuk mencari tahu keadaan Jessica di Korea.

Myungsoo kembali menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya. Rasanya 1 tahun menjalani kehidupan tanpa ada Jessica, seperti sebuah robot. Ia memang sedang berperan sebagai robot. Menggantikan posisi Direktur untuk semetara waktu, namun itu tak membuat ibunya menyerah,  ibunya berharap ia bisa meyakinkan seluruh orang bahwa ia telah siap menjalankan sebuah perusahaan.

To: Young Jae, Yoo

Kau tahu, aku sungguh merindukan kalian.

To: Myungsoo, Kim

Kau pembohong, kau hanya merindukan Jessica. Hahahaha…. Cepat selesaikan urusanmu, dan kembalilah,… kami sudah berusaha semampu kami untuk membuatnya tetap ceria. Hanya saja sepertinya… hal buruk terus menimpanya. Setidakknya kau ada di sampingnya. Jangan bertindak gegabah dan bodoh. Kau harus mencari cara terbaik untuk kembali.

Myungsoo memasukkan smarphonenya ke saku jas ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya.

“Ny Kim ingin bertemu” sosok cantik yang diketahui sebagai sekretarisnya itu segera melenggang pergi setelah ia menyampaikan pesan ibunya. Myungsoo tidak mengangkat telepon yang ditujukan padanya hari ini. Itu membuat sekretarisnya itu harus keluar masuk ruangan untuk memberitahukan beberapa hal penting padanya.

Myungsoo menyeringai, sebuah ide muncul di kepalanya. Ia mengingat sekali beberapa kekacauan yang dibuatnya. Itu bisa menjadikannya alasan kuat untuk kembali ke Korea dan melanjutkan kuliahnya. Ia benar-benar berharap ibunya datang dan membahas hal-hal tersebut.

Ia berdiri dan mengancingkan satu kancing jasnya, lalu ia beranjak menjauhi meja kerjanya, ia harus membicarakan semua rencananya pada ibunya.

___________________________________

6 months later

Seoul

Pria itu tersenyum penuh kemenangan, setelah ia kembali menginjakkan kaki ke Korea, setelah hampir 1 setengah tahun ia berada jauh di Jepang. Sekarang yang ada di otaknya adalah bertemu dengan Jessica. Dan mungkin ia harus memberinya banyak penjelasan.

“Tunggu!, mereka mengatakan, Sooyeon pasti marah besar kepadaku, “ Myungsoo mengingat  bagaimana ia meninggalkan Jessica tanpa pesan, wajar jika Jessica marah besar padanya. Hal itu membuat semangatnya patah seketika. Apa lagi yang membuatnya begitu bersemangat kembali ke Korea, hanya Jessica alasannya. Namun jika Jessica marah padanya, bahkan jika ia membencinya, apalagi yang harus ia lakukan?

“Hyung” jin menepuk pundaknya. Ia sengaja datang untuk menjemputnya. Myungsoo sengaja tidak memperbolehkan pengacaranya untuk menyambut kedatangannya. Ia hanya perlu ke tempat teman-temannya untuk melepas semua bebannya, namun bukan Jin yang ia maksud.

“Aku tidak ingat jika aku memintamu untuk menjemputku”

Kalimat itu sontak membuat Jin ingin meninju Myungsoo saat itu juga, mengingat di tempat ini ia bisa saja di giring oleh petugas keamanan jika membuat keributan.

“berhenti memancingku untuk memukul wajah datarmu itu” kata Jin sedikit mendesis.

Myungsoo tersenyum sinis lalu mengambil alih koper yang di sentuh Jin.

“Apa semuanya baik-baik saja?” Myungsoo berjalan mendahuluinya.

“Aku tidak tahu harus mengatakannya seperti apa, tidak mungkin semuanya baik-baik saja jika Jessica sedang tidak baik”

Myungsoo menatap tajam Seokjin, atau biasa ia panggil Jin itu. Jadi benar, hal buruk terjadi pada Jessica, ia sudah berulang kali mendapatkan e-mail dari mereka, namun ia harus melihatnya secara langsung. Namun sepertinya ada beberapa hal yang memang sengaja tidak mereka ceritakan. Dan hal itu membuat Myungsoo sangat penasaran dan segera kembali ke Korea.

Jin memutar matanya , ia sudah membayangkan ini sebelumnya, Myungsoo sangat sensitif jika berhubungan dengan Jessica, namun apa yang bisa ia katakan, ia harus mengatakan semuanya. Jessica benar-benar kacau beberapa bulan ini.

“Akan aku ceritakan nanti” Jin kembali meraih koper dan tas Myungsoo, ia tahu Myungsoo tidak lelah, anggap saja itu formalitas karena menjadi penjemput yang baik

__________________________MORE THAN________________________________

“ Dia datang, namun tidak hanya dirinya sendiri” Young Jae melemparkan botol air mineral padanya.

Dia datang, ya dia datang kembali ke kehidupan Jessica, namun kenapa harus bertepatan saat ia berhasil kembali ke Korea? Itulah yang sungguh disesali Myungsoo.

Myungsoo melirik Kim Seokjin setelah Young Jae mengakhiri penjelasannya hanya dengan kalimat itu, sedangkah teman-temannya yang lain tidak ada yang berniat untuk membuka mulut. Dia bermaksud menuntut Seokjin karena ia mengatakan akan menjelaskan semuanya saat di bandara.

“Ada yang salah denganku?” tanya jin tanpa merasa berdosa.
“Kau berhutang penjelasan padaku  Tn Seokjin” Myungsoo melemparnya dengan botol mineral yang ia dapat dari Young Jae.

Jin, namja itu menghela nafas, bukan karena ia berhasil menangkap botol mineral itu, tapi karena ia bingung harus menjelaskan apa lagi pada Myungsoo. Seakan ia tidak puas dengan e-mail yang sering ia kirimkan sesuai permintaan Myungsoo. Ia akan tetap menuntut penjelasan pada mereka.

“Aku akan meminta Hyung untuk menjelaskan, kurasa Himchan ataupun Ren akan mudah dalam hal ini” Myungsoo beranjak dari tempat duduknya.  Ia beranjak pergi, meninggalkan Young Jae dan Kim Seokjin yang masih terdiam.

Detik berikutnya Seokjin bangkit dan melempar botol mineral itu kembali ke asalnya, melemparnya pada Young Jae.

“Aku yang akan menjelaskannya, Yong Guk Hyung sedang banyak urusan”  Kim Seokjin, laki-laki itu segera menyusul kepergian Myungsoo.

.

.

“Kurasa… kau sedikit tahu tentang kehidupan Jessica di Amerika dulu, dan tentang janji yang selalu ia ingat tentang laki-laki itu, Hoacchhh…. Wanita memang seperti itu, jika mereka sudah mendengar sebuah janji dari seorang yang ia cintai, dan Jessica termasuk dalam wanita yang sungguh menunggu janji itu terpenuhi, hanya saja saat ini Dia datang tidak untuk menepati janjinya pada Jessica, dia datang dengan rencana yang mungkin tidak bisa diterima Jessica, Dia datang untuk bertunangan dengan gadis lain. Aku tidak tahu pasti siapa gadis itu, hanya saja Jessica bukanlah gadis yang akan dengan mudah percaya jika ia tidak membuktikannya sendiri. Sampai seseorang mendatanginya di Bar saat itu. Seseorang yang membuatnya lebih kacau dari sebelumnya” Jin mengakhiri penjelasannya dengan meminta Myungsoo menjemput Jessica ke tempat kerjanya part time nya.

.

.

Penjelasan panjang Jin membuatnya cukup mengerti dengan keadaan Jessica saat ini, namun tidak pernah ia bayangkan ia akan menyaksikan kejadian pilu seperti yang ia lihat saat ini. Ia melihat seorang gadis sedang meringkuk, menenggelamkan wajah cantiknya diantara lengannya yang merapat ke meja bartender.

Bar ini sudah sepi pengunjung, bahkan ia sudah menutup bar ini. Myungsoo tetap masuk karena Jessica tidak akan pergi dari bar itu sebelum salah satu dari mereka menjemputnya. Itulah yang selama ini menjadi kebiasaannya. Dan sayangnya…beberapa hari ini Jessica harus pulang kerumah dengan keadaan tak sadarkan diri karena mabuk. Tak jarang juga mereka harus membawanya pulang ke rumah Young Jae, hanya di tempatnya yang terdapat ruang lebih, kamar Park Chorong yang masih tertata rapi, yang sering digunakan Jessica jika ia tidak bisa pulang ke rumahnya.

Myungsoo mendekati Jessica, ia duduk dan masih terdiam melihat gadis di depannya itu. Ia tertidur, namun sesekali meracau …meluapkan segala kelelahannya selama ini. Sungguh jika ia meminta sesuatu pada Tuhan, ia akan terus meminta untuk kebahagiaan gadis yang ia cintai itu.

Jessica mengerjap ketika ia sadar ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Sayup-sayup ia melihat seseorang yang mungkin tidak pernah ia lihat sebelumnya di tempat itu.

“Hahaha…” Jessica tertawa kecil, tangannya melambai-lambai, bermaksud meraih benda yang ada di depannya, memastikan apakah seseorang di depannya ini bukanlah bayangan semata.

“Bahkan aku melihatnya ada didepanku” Jessica mendesis pelan, ia masih meraih wajah Myungsoo… detik berikutnya ia mampu meraup wajah Myungsoo yang masih terdiam, ia menepuk-nepuk pipi Myungsoo.

“Hahaha…Dia. .uhk..se..uhk perti as..li, “ Jessica tertawa kecil dan tetap menepuk-nepuk wajah itu.

“Sooyeon_ah” tangan itu berhenti seketika ketika Myungsoo meraihnya. ia berhenti meracau, matanya merasuk dalam pada sosok didepannya itu. Namun wajahnya tetap datar dan dibawah kesadarannya.

“Kau?”

“Ini aku, Kim Myungsoo”

“EL? Kau??”

“ Kita pulang” Myungsoo menuntunnya untuk berdiri dan mengikutinya pulang ke rumah.

Jessica masih menepis tangan Myungsoo. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Kau..aku tahu…aku sedang mabuk,,, aku tidak mempercayaimu,, jangan berpura pura sebagai EL” Jessica masih terus menepis tangan Myungsoo.

“Sooyeon_ah”

HUG

Ia menarik tubuh mungil itu dan memeluknya. Sungguh betapa ia merindukan Jessica. Ia memeluk gadis itu dengan penuh kerinduannya.

“Ini aku, percayalah.. aku tidak akan meninggalkanmu lagi” Myungsoo melepaskan pelukannya. Ia menatap Jessica lekat, namun ia tahu Jessica tak sepenuhnya sadar.

BRUK.. Jessica ambruk tepat di pelukannya.

“Kau… sedikit lebih berat meskipun kau terlihat kurus” Myungsoo  kembali memeluknya.

______________________________

“ Kau..sudah tumbuh besar, apa kau tumbuh dengan baik? Bagaimana keadaan ibumu? “

Sooyeon melihat sosok berwibawa itu dengan sedikit menunduk, bukan karena takut, ia hanya berusaha untuk bersikap sopan. Ia hendak menjawab pertanyaan itu, namun detik berikutnya, dia sudah mendapat jawaban lain dari seorang berjas rapi di depannya.

“Aku menghargaimu karena kau tumbuh besar bersama putraku dalam waktu yang lama saat di Amerika, semuanya sudah berubah Jessica_ssi, Putra ku harus mendapat pendamping yang pantas untuknya. Dan..”

“Arasseo, aku mengerti Ahjussi, aku sudah mendengarnya dari Oppa” Jessica mengerti akan menjurus kearah mana pembicaraannya kali ini.

“Kau sudah mengerti?”

“Aku masih ingin membuat Oppa menepati janjinya saat di Amerika, saat semuanya belum berubah Ahjussi”

Pria separuh baya itu tersenyum, Jessica tetap keras kepala seperti dugaannya, namun ia tidak akan membiarkan putranya meninggalkan semua yang telah ia persiapkan. Putranya harus menikah dengan keluarga Hwang.

“Semuanya tetap berubah Jessica_ssi, bukankah memberikan yang terbaik dan pantas untuk -putranya adalah tugas seorang Ayah? Aku sedang menjalankan tugas sebagai Ayah yang baik” laki-laki itu berusaha tersenyum, namun kali ini Jessica tidak membalas senyumnya.

Sudah cukup, cukup, sangat cukup ketika ia tahu pertunangan Lee Ki Kwang bersama wanita bermarga Hwang itu. Serta penjelasan panjang Ki Kwang tentang ketidak mampuannya untuk melawan kehendak Appanya. Semua yang ia pejuangkan harus berbuah baik, sebanding dengan apa yang ia korbankan, dan Jessica masuk dalam daftar pengorbanan itu. Sayang sekali Lee Ki Kwang tidak bisa menepati janjinya.

Menikahinya?

Bahkan itu terucap saat mereka masih sangat kecil dan belum mengerti tentang kehidupan. Dan bodohnya ia masih mengingatnya sampai saat ini. Kenyataan memang tak semanis seperti yang kita harapkan.

.

..

Jessica membuka matanya perlahan, ia melihat sekelilingnya, biasanya jika ia tidak sadarkan diri, ia tidak lagi di kamarnya, melainkan di kamar Chorong, rumah Young Jae, namun kali ini ia bisa bernafas lega karena ia berada di dalam kamarnya. Ia berada di rumahnya dengan temperatur yang lumayan hangat dan dapat menghilangkan kelelahannya.

“Kau sudah bangun Princess?”

Sungguh jika di dekatnya terdapat sebuah pisau, ia pasti sudah melempar pisau itu ke sumber suara yang membuat dadanya hampir meledak karena terkejut.

Sosok itu tersenyum jahil dan mendekati si Princess, sedangkan sang Princess masih enggan memedipkan matanya.

“Aku tahu aku semakin tampan, jangan memandangiku seperti itu, apa aku sebegitu mempesonaya?, pantas banyak gadis yang mengejarku”

Jessica mendesis pelan, dia masih saja menyebalkan, namun rasa rindunya mengalahkan keinginannya untuk menendang sosok sok tampan di depannya itu.

“Jadi kau sudah kembali? Ini benar-benar kau?” Jessica meraup wajah Myungsoo dengan kedua tangannya.

Myungsoo tersenyum, dan kembali memeluk Jessica.

“A’aaa… jangan memelukku, setelah kau pergi begitu saja tanpa kabar dan tidak pernah menghubungiku” Jessica mendorong tubuh Myungsoo.

“Kau marah?”

“Tentu saja, kau seenaknya pergi dan hanya meninggalkan pesan untuk menunggumu”

“Mianhae..”

Jessica menoleh, ia berfikir sejenak, karena Myungsoo berubah lebih manis dari biasanya.

“Udara di Jepang membuatmu sedikit berubah?”

“Aku tetap Kim Myungsoo yang dulu, kau yang berubah”

“Aku tetap Jessica yang dulu”

“Kau Sooyeon ku”

Jessica menatap Myungsoo horror. Sungguh ia sudah merencanakannya sejak lama, jika Myungsoo kembali dia akan memukulnya dan memarahinya. Namun sayangnya kenapa saat ini ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun pada Myungsoo. Ia merindukan sahabatnya itu.

“Lihatlah, bahkan kau juga tidak mengabariku saat kau kembali ke Korea” Jessica mengerucutkan bibirnya.

“Sudahlah, yang terpenting aku ada disini”

“Ada yang ingin kau ceritakan?” kalimat itu berhasil membuat Jessica terdiam dan menunduk. Bukankah ini terlalu cepat baginya untuk menanyakan semua hal yang terjadi pada Jessica selama dia ada di Jepang?

Emosinya memuncak, dan sungguh ia tidak tahan melihat keadaan Jessica yang kacau seperti kemarin malam.

Jessica mencoba tersenyum, ia bermaksud membuat Myungsoo percaya dengan senyumnya itu bahwa tidak ada hal buruk yang menimpanya. Meskipun ia tahu usahanya itu akan sia-sia, tidak ada salahnya mencoba.

“Kau tahu usahamu itu sia-sia Sooyeon_ah” Myungsoo menarik selimut Jessica

“Aku sudah menyiapkan air panas, cepatlah mandi” Myungsoo menarik paksa tangan Jessica, namun Jessica malah bergelayut dan kembali berbaring.

“Shireo!”

“Kau ingin aku yang memandikanmu? Dengan senang hati”  Jessica menatap tajam Myungsoo yang kini tersenyum jahil padanya.

“Ara..ara.. aku akan mandi”

“Lebih baik kau menurut Princess” Myungsoo tersenyum karena menang melawan kemanjaan Jessica.

.

.

Kali ini Myungsoo menyaksikan sendiri, bagaimana Jessica meneguk setiap minuman beralkohol yang ia sediakan sendiri untuk dirinya. ia tahu Jessica bukanlah peminum yang baik, sehingga sedikit saja ia minum dengan kadar alkohol yang kecil, ia akan mudah hilang kesadaran.

Jessica sudah meringkuk di meja bartender, namun Myungsoo masih enggan untuk membawanya pergi. Ia memperhatikan setiap lekuk wajah Jessica. Ia tahu, hatinya sakit bukan hanya karena Jessica merasa sakit, namun hatinya sakit karena ia benar-benar mengetahui kenyataan bahwa Jessica mencintai pria lain ,  dan bukan dirinya. Jessica mencintai Lee Ki Kwang. Dan ia terpuruk karena Ki Kwang akan menikahi wanita lain. Lagi-lagi kelas social membuatnya kecewa. Jessica tersingkir begitu saja karena kelas sosialnya yang rendah. Itulah menurut keluarga Lee Ki Kwang. Mungkin ia akan merutuki betapa kejamnya sang Ayah karena menelantarkannya di Korea bersama ibu yang tidak bertanggung jawab padanya. Membuatnya harus berada pada titik yang sangat jauh dengan Ki Kwang, sosok yang ia cintai.

“Apa aku tidak cukup baik bagimu Sooyeon_ah, apa yang bisa kuperbuat?” Myungsoo bersandar menyamai Jessica, dengan seperti ini ia bisa puas memandangi wajah Jessica.

Tangannya menyusuri wajah Jessica, menjelajahi lekuk hidungnya yang mungil dan mancung itu. Menyentuh bibirnya yang mungil seperti boneka itu. Sesekali ia melihat pula Jessica yang sedikit terisak disertai dengan cegukan.

“Kau harus bahagia Sooyeon_ah” Myungsoo meraih dan menggenggam tangan kanan Jessica, ia mencium tangan itu. Tangan yang begitu dingin dan lemah.

“Aku akan mencari cara untuk mu”

.

.

Kim Myungsoo mengantarkan Jessica ke rumah Young Jae, karena ia harus pulang ke rumahnya malam ini, jika ia mengantarkan Jessica ke rumahnya sendiri, Myungsoo tidak bisa menahan dirinya untuk menemani Jessica sampai ia terbangun. Dan sayangnya ia harus jadi anak baik selama di Korea untuk mendapatkan hati dari kedua orang tuanya.

Ia mempunyai rencana lain untuk hidupnya dan juga Jessica.

Dan pagi itu, Jessica datang ke kampusnya bersama Himchan dan Ren. Kebetulan mereka tidak sibuk dan bisa mengantarkan Jessica ke kampus, kejadian dimana Jessica di datangi oleh Ayah Ki Kwang membuat kelima namja itu lebih protektif pada Jessica, ya… seolah Jessica adalah seorang putri yang dikawal oleh kelima pangeran tampan kemanapun ia pergi, dan ditambah lagi satu pangeran tampan sebagai pelengkap hari-harinya.

“Kau tidak ingin ke Jeju?” pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Kim Himchan. Ia tahu liburan adalah hal yang sulit dilakukan oleh Jessica, apalagi kendalanya selain waktu dan keuangannya.

“Ohhh ayolah… kau ingin aku mengurangi saldo tabunganku hanya untuk ke Jeju?”

“Ayolah Sica… kau cukup mengatakan IYA pada kami dan kita bisa berangkat bersama” Himchan meyakinkan Jessica bahwa dia memiliki mereka untuk membantunya, termasuk jika Jessica menginginkan untuk liburan, ia harus sedikit meringankan bebannya dengan sekedar jalan-jalan ataupun berlibur ke tempat lain selain Seoul.

“Tidak, terima kasih… aku tidak ingin mendapatkan protes karena tagihan kartu kredit kalian yang membengkak karena tingkah gila kalian selama berlibur”

“Kau sungguh ketinggalan jaman Sica” Ren menyahut, dia mengacak rambut Jessica dan merebut kamus tebal yang ia bawa.

“SHUT UP Boy, apa dia ingin melawanku?” Jessica mendesis pelan, sungguh diantara kelima namja itu, Ren lah yang paling menyebalkan, sekarang tidak lagi, karena ada Myungsoo, dan dialah yang paling menyebalkan.

“Kau tahu,,, kami hanya berusaha menjadi anak yang baik di keluarga kami, apa salahnya menggunakan uang saku dengan jalan-jalan bersama denganmu, Kami telah menghabiskan waktu kami dengan kehidupan kasar di jalanan, sedangkan kami bukan anak jalanan” Ren menjelaskan alasannya dan disusul oleh anggukan Himchan.

“jika kami menggunakan uang yang diberikan kepada kami, bukankah itu artinya kami sudah mulai perhatian pada keluarga yang kami punya? Bukankah itu bagus?” Himchan melebarkan matanya, ia berusaha meyakinkan Jessica.

Jessica tersenyum simpul, ia tahu jika teman-temannya ini selalu punya misi untuk membuatnya gembira, selalu menghiburnya itu adalah misi mereka. Selama Myungsoo berada di Jepang, kelima namja itu bergantian merayunya agar ia bisa menuruti rencana-rencana mereka untuk membuatnya tersenyum. Bahkan ia sudah bisa tersenyum ketika ia bersama mereka, hanya saja terasa berat jika tidak ada Myungsoo di dekatnya, apalagi ketika Lee Ki Kwang yang tiba-tiba datang dan membuat hidupnya semakin kacau.

“Ayolah… kalian sudah sering melakukan ini padaku, sekarang misi apa lagi?”

Sontak kedua namja itu berhenti melangkah, misi mereka memang selalu tercium oleh Jessica, hanya mereka berdua yang selalu gagal untuk merayu Jessica tanpa jessica tahu rencana mereka.

“Hyung… Young Jae hyung pasti memarahi kita” bisik Ren. Anak kecil itu yang paling tidak bisa menyembunyikan kegagalannya.

“Akan ku pikirkan , sekarang aku akan ke kelas… terima kasih sudah mengantarku” Jessica tersenyum dan menepuk pundak keduanya. Dia melambaikan tangan pada Himchan dan Ren, lebih tepatnya ia mengusir mereka berdua untuk segera pergi, sudah cukup untuk mengantarnya sampai di depan gerbang, karena mereka bukan pengawalnya.

Kedua namja itu tersenyum kikuk, kali ini misi dianggap berhasil karena Jessica mau memikirkan tawaran untuk ke Jeju bersama.

“Hyung… kurasa Myungsoo hyung akan membuat Sica noona menurut”

“Kita lihat saja “

.

.

Ada yang aneh di kelasnya kali ini, karena daftar penghuni kelasnya bertambah satu orang yang asing namun sangat familiar di matanya. Sebelumnya namanya tidak pernah tercatat dalam daftar mahasiswa yang mengambil kelas ini. Sementara kebiasaan lama terulang kembali ketika seorang Kim Myungsoo ada di sekitarnya, gadis-gadi disini pasti membicarakannya dan mulai mengidolakannya. Ia berharap kejadian ekstrim di SMA nya dulu tidak terulang lagi ketika di universitas ini. semoga gadis-gadis itu lebih waras dalam mengidolakan seorang Kim Myungsoo.

“Tidak ada pertanyaan lain selain, SEDANG APA KAU DISINI EL?” Jessica mengangkat sebelah alisnya, namun yang di tatapnya hanya tersenyum dan bersendagu sambil memandangi wajah Jessica. Wajah penasaran Jessica memang sangat menarik baginya. Ia tahu apa yang ada di otak Jessica saat ini. tidak lain adalah, bagaimana caranya dia bisa mengambil kelas yang sama dengan Jessica, apa dia termasuk mahasiswa di fakultas ini? mengambil kelas yang sama? Atau dia hanya sebagai mahasiswa illegal yang seenaknya masuk karena ingin bertemu dengan Jessica.

“Jangan berfikir aku Illegal disini, aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa pindahan disini” Myungsoo menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, mempersilahkan Jessica untuk duduk di sebelahnya.

Jessica mendengus, Okey… Kim Myungsoo kau tahu penjelasan itu belum cukup untuk Jessica.

Jessica kembali menatap Myungsoo setelah ia merapikan barang-barangnya di meja.

“Kau berhutang penjelasan padaku EL”

“hahaha… bukankah aku sudah mengatakannya? Jangan berfikir bahwa aku mahasiswa illegal karena aku sudah terdaftar di fakultas ini”

“What?”

“Beruntunglah kau mengambil jurusan yang sama denganku, mungkin kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama nona Sooyeon” Myungsoo menyeringai dan mengangkat beberapa kali kedua alisnya.

Jessica mengernyit “ Wae…”

“Sudah kubilang, kita mempunyai ikatan yang tidak bisa terpisahkan nona Sooyeon”

Jessica mengatupkan bibirnya, sepertinya ia tahu cara gila Myungsoo untuk masuk ke Universitas ini, apalagi sampai satu jurusan dengannya.

“Apa saja yang kau lalui selama aku tidak di Korea? Apa kau merindukanku? Kau pasti merindukanku,,,, aahhhhh aku sangat ingin menanyakan itu… sepertinya aku harus menahanmu untuk waktu yang lama agar kau bisa menceritakan seluruhnya ketika kau melewati hari-hari mu tanpaku…”

Jessica menyeringai kecil. Satuhal yang sedikit berubah… sejak kapan seorang Kim Myungsoo mampu secerewet itu dan merubah image dinginnya menjadi friendly seperti ini? terlihat ketika ia beberapa kali tersenyum pada teman-teman yang bahkan baru saja ia kenal.

“Apa kau bertemu dengan Takuya Kimura di sana? Kenichi Matsuyama? Haruma Miura? Ayumi? Yui? Mirai Hibino? “ Jessica menyebut satu persatu nama yang pernah ia dengar sebelumnya. Ia tahu jika Jessica sangat menyukai Takuya Kimura sejak ia masih di SMP dulu, Kenichi Matsuyama sang L Lawliet  dan membuatnya memanggil Myungsoo menjadi EL, Haruma Miura yang menurutnya sangat manis, atau Mirai Hibino si Ultraman Mebius kesukaannya.

“Aishhh…. Kau ini… kenapa nama-nama itu yang kau tanyakan? Kau tidak ingin tahu kabarku selama di sana?”

“Any… kau sudah ada di depanku sekarang, aku tidak perlu tahu saat kau di Jepang”

Jessica mengalihkan pandangannya saat ia tahu kelasnya akan segera di mulai. Sang Dosen sudah mulai berdehem dan akan memulai kelasnya.

Myunsoo ingin protes karena Jessica yang tidak tertarik untuk mengetahui keadaannya di Jepang, namun tertahan karena kelas yang sudah dimulai.

Kau masih ingin diam Sooyeon?”

.

.

__________________________________________

Dan benar seperti yang mereka rencanakan, semuanya berhasil ketika Myungsoo turun tangan. Jessica menyetujui untuk pergi ke Jeju karena Myungsoo memaksanya.

Dan mereka berulah ketika ia tiba-tiba mendapat ijin tanpa ia sadar kapan ia meminta ijin untuk tidak masuk kerja. Bahkan mereka meminta bantuan orang lain untuk menggantikan pekerjaannya di Bar.

“Lagi pula kau terlalu cantik untuk jadi Bartender”

Jessica berdecak pinggang. Hidupnya penuh dengan kejutan jika bersama teman-temannya ini. dan sekarang ia sedang menyaksikan bagaimana teman-temannya itu mempersiapkan segala sesuatu yang ia perlukan selama di Jeju, termasuk dengan ijin kuliahnya.

“Cha… kita akan berangkat  besok pagi, sampai jumpa besok pagi…”

Yong Guk, Young jae, Jin, Himchan dan Ren pun selesai dengan persiapan mereka. Semuanya di persiapkan di rumah Jessica, sebagai peringatan agar Jessica tidak seenaknya membatalkan kesepakatannya. Itu adalah jaminan untuk Jessica.

“Kau tidak pulang?” Jessica membereskan sebagian kekacauan yang mereka tinggalkan di rumahnya.

“Aku akan menunggumu disini”

“Kau harus pulang”

“Baiklah, kau harus istirahat”

“Aku pasti istirahat, kau tahu aku sudah tumbuh besar EL”

Myungsoo terkekeh, ya… Jessica sangat tidak nyaman jika Myungsoo bertingkah seolah ia Ayahnya.

“Jangan bertingkah seperti itu, kau mengingatkanku padanya”

Myungsoo terdiam, ia tahu siapa yang Jessica maksud, ia ingat bahwa Lee Ki Kwang sangat menjaga Jessica sepertinya. Hal itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lagi. Sungguh ia begitu penasaran dengan keadaan Jessica langsung dari cerita Jessica sendiri. Namun nyatanya Jessica tetap diam dan tidak bercerita apapun pada Myungsoo.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu Sooyeon_ah?”

Jessica menghentikan aktivitasnya. Ia menghela nafas panjang. Detik berikutnya ia mamandang lekat sahabatnya itu.

“Aku sudah menceritakan semuanya padamu”

“Kau belum mengatakan sesuatu”

“Aku tidak perlu menceritakannya lagi, itu membuatku sakit”

“Kau tidak ingin aku membantumu?”

“Kau juga termasuk dalam orang yang membuatku sakit “

Myungsoo kembali terdiam, ia tahu jika dirinya juga membuat Jessica kecewa karena kepergiannya ke Jepang, dan saat ia kembali ke Korea ia menuntut banyak penjelasan pada Jessica. Mungkin itu adalah hal bodoh yang ia lakukan.

“Kau tidak ada disisiku saat itu… bahkan aku tidak bisa menghubungimu meskipun berulang kali aku mencoba menghubungimu, mengirimkan pesan, SNS, e-mail… semuanya tidak ada respon darimu… Aku terlalu kecewa dengan semua orang yang aku sayangi … dan kau termasuk di dalamnya”

“Sekarang pulanglah, aku ingin tidur”

Jessica menarik lengan Myungsoo dan memaksanya untuk keluar dari rumahnya.

“Aku akan menjelaskannya, tentang kepergianku ke Jepang” Myungsoo menahan Jessica.

“Aku tahu… dan aku tidak ingin mendengarnya”

“Sooyeon_ah… kumohon.. aku tidak ingin kita salah paham”

“Tidak.. aku tidak ingin mendengarnya, saat ini kau sudah ada di sisiku lagi… itu sudah cukup”

“Apa kau kecewa”

“Tentu”

“Aku minta maaf”

“Pergilah”

“Sooyeon_ah”

“Please… biarkan aku sendiri”  Jessica mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon pada Myungsoo untuk membiarkannya sendiri. Ia perlu menenangkan dirinya sendiri,

Myungsoo terdiam… ia sudah melihat air bening di ujung mata indah itu. Sungguh… mana mungkin ia tega meninggalkannya saat seperti ini.

“Kumohon” Jessica kembali memohon dan itu membuat Myungsoo mengalah untuk segera pergi dari rumahnya.

Myungsoo melangkah mundur dan perlahan Jessica menutup pintunya.

.

.

Jessica meringkuk di tempat tidurnya. Dia adalah gadis yang sangat rapuh. Bagaimana tidak …. Disaat semuanya berlaku tidak adil padanya dan ia mengharapkan secercah kebahagiaan dari perasaan yang ia berikan sepenuhnya pada seorang Lee Ki Kwang dan hancur begitu saja ketika perubahan besar-besaran menerpanya.

Kata cinta yang ia dapatkan dari Lee Ki Kwang lenyap ketika ia melihat orang yang ia cintai itu memasangkan cincin pertunangan pada gadis cantik yang sekelas dengannya. Sungguh ironis saat Ayah Ki Kwang mengundangnya untuk menyaksikan hal  menyakitkan itu. Dan apayang ia harapkan pada sosok Ki Kwang yang selalu melindunginya itu… hanya omong kosong. Lee Ki Kwang tidak bisa berbuat banyak.

“Aku selalu mengingat janjimu, janji untuk selalu menyayangiku dan menikahiku setelah aku dewasa”

“Tidak cukupkah hal itu membuatmu tetap mempertahankan ku?”

Dia gadis biasa yang mendapat pandangan sebelah mata dari keluarga besar Ki Kwang. Jika saja Ayahnya tidak bangkrut dan ia masih satu keluarga dengan Ayahnya, mungkin nasibnya tidak seburuk ini. Jika saja Ibunya mau menunggu lebih lama untuk Ayahnya, ia tidak akan sampai pada titik ini.

Dan penyesalan itupun muncul satu persatu . Penyesalan dari masalalu pahitnya. Apa dia seorang  yang mudah sekali mengeluh? Dia tidak pernah merasa seperti itu. Apa dia seorang yang selalu meratapi nasib buruknya? Dia juga tidak seperti itu. Namun kali ini ketika kelas sosial benar-benar membuatnya berbeda dan jatuh dari cintanya. Dia yang seorang diri dengan keluarga kaya dengan kelas sosial yang tinggi.
“Bukankah ini lucu? Aku sering melihat perbedaan itu di dalam drama, namun hal itu terjadi padaku, apa aku seorang diri? EL.. kau sama halnya dengan Oppa… dan aku tidak ingin segala perbedaan ini membuatku kehilangan orang yang aku sayangi lagi”

Hik hik hik Uhk..Hik..Hik..

Tangis itupun meledak. Bukankah ia sering memberitahu Myungsoo tentang keadaannya, namun seakan lenyap begitu saja, Myungsoo yang saat itu ada di Jepang benar-benar buta dengan keadaan Jessica di Korea. Ia hanya mendapat info dari teman-temannya. Dan tidak berani untuk mencoba menghubungi Jessica secara langsung.

“Oppa…. Aku tidak tahu akan sesakit ini…Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Apa kau bahagia dengan pertunanganmu? Oppa… apa kau tidak melihatku? Kau tidak melihatku lagi? Aku rasa… aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaanku… “

Jessica meringkuk, semakin meringkuk … Ia memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Ia berharap esok saat ia bangun  semuanya akan membaik.

.

.

Myungsoo memikirkan kata-kata Jessica. Sungguh ia tidak mampu memejamkan matanya malam ini. Jessica bersikeras sudah menceritakan semuanya. Kebodohan yang ia lakukan adalah… selama di jepang ia terlalu takut untuk menghubungi Jessica secara langsung. Ia takut Ny Kim tahu tentang Jessica dan menaruh kecurigaan pada Jessica. Ia takuk Ny Kim bisa saja menjauhkannya dengan Jessica karena perbedaan yang mereka miliki.

Dan lagi-lagi kelas sosial mengganggunya. Selama bertahun-tahun Myungsoo mampu memanfaatkan keadaan keluarganya yang tidak pernah memperhatikannya, dengan menyembunyikan hubungannya dengan gadis dari kelas sosial yang lebih rendah dari keluarganya. Gadis itu adalah Jessica. Bertahun-tahun ia menjaga hubungan persahabatannya itu dari Eomma dan Appanya. Ia tahu akan seperti apa -nantinya jika mereka tahu dengan siapa ia bergaul. Jessica berbeda dengan Yong Guk, Himchan, Jin dan Ren. Jessica sama sekali tidak mempunyai riwayat untuk mengangkat kelas sosialnya. Setidaknya Yong Guk dan teman-temannya memiliki Riwayat yang lebih baik dan masih bisa di tolerir karena mereka juga mempunyai kelas sosial yang lebih baik, hanya saja mereka adalah kumpulan anak-anak yang lari dari keluarga yang mengekang atau bahkan mengacuhkan mereka.

Namun Jessica? Bahkan eommanya adalah seorang pemabuk dan meninggalkannya demi pria lain, Ayahnya bangkrut dan menikah dengan wanita lain hanya untuk membangun kembali usahanya. Hal itulah yang sangat dihindari Myungsoo selama ia dibawah pengawasan Eommanya di Jepang.

Mungkin ia pria yang kurang Gentle untuk mengambil resiko. Tapi .. baginya … ini bukan waktu yang tepat. Akan sama jadinya dengan Lee Ki Kwang jika ia bertindak gegabah.

“Dia mencintainya… ya dia mencintainya” Gumam Myungsoo.

Kini sedikit nyeri ia rasakan di dalam dadanya. Nyeri karena rasa sakit dan cemburunya.

“Tidakkah kau melihatku Sooyeon_ah, apa kau juga berfikir aku akan meninggalkanmu?”

“Tidak.. aku tidak akan sebodoh pria itu”

.

.

Jin dan Yong Guk harus bekerja keras untuk membangunkan Jessica pagi ini. Jessica sedikit membuat kacau pagi itu. Dimana seharusnya mereka sudah siap untuk berangkat  berlibur. Namun apa jadinya jika Gerbang dan pintu rumahnya terkunci rapat dan Jessica masih terlelap di dalamnya.

“Jessica… ayolah… kita bisa terlambat”

TOK TOK TOK

Bahkan suara Besar milik YonG Guk tak juga membuatnya bangun. Sedangkan Jin mencari celah di sekitar rumah itu, seharusnya ia tahu pintu lain untuk masuk ke dalam rumah.

“Apa dia mabuk di pagi hari?”

Yong Guk mengacak rambutnya frustasi. Ia berhadapan dengan putri tidur dan membuat mereka kacau di pagi hari.

“Dia mengerjai kita di pagi hari” Jin ikut duduk di depan pintu rumah itu.

Mereka sudah menyerah untuk membuat Jessica bangun dan membukakan pintu, mungkin mereka salah untuk menaruh seluruh barang mereka di rumah Jessica, bermaksud menjadi jaminan untuk Jessica , tapi Jessica membuatnya kebingungan di pagi hari.

“ Ada apa?”

“Sang Putri tidur menunggu pangerannya, sedangkan pangerannya tidak diijinkan masuk” jawab Jin.

Myungsoo terkekeh pelan.

“Apa pangeran itu dirimu?”

“Tentu saja, sayangnya aku tidak ingin merusak pintu rumahnya”

“Oh .. sayang sekali… aku tidak perlu merusak pintu rumahnya” Myungsoo mengeluarkan kunci untuk membuka pintu itu.

Mereka berdua bernafas lega, detik berikutnya mereka kompak menoyor kepala Myungsoo.

“Kaulah yang mengerjai kami pagi ini, kenapa tidak bilang jika punya kunci cadangan rumah ini”

“Any… tidak mungkin aku melakukan itu”

Myungsoo mencari Jessica di dalam kamarnya, dan benar.. dia masih terlelap dengan posisi masih memeluk lututnya.

“Aku akan membawa barang-barang ini , kau urus Jessica”

“Apa dia perlu ciumanku?” Jin mendapat jitakan serius dari Yong Guk.

“Baiklah… aku akan berangkat lebih dulu” ucap mereka

“Ne…”

Myungsoo perlahan menarik selimut Jessica. Terlihat sekali bahwa Jessica menangis semalaman, matanya sembab dan wajahnya pucat.

“Irona.. Sooyeon_ah, aku tahu kau sudah bangun” Myungsoo menyentuh puncak kepalanya.

Jessica membuka matanya, Ya.. ia memang sudah bangun bahkan sebelum Yong Guk dan Jin membuat keributan di depan rumahnya.

“Kau harus siap-siap”

Jessica mengangguk kecil. Tenaganya sedikit terkuras untuk menangis semalaman.

“Bersenang-senanglah… setidaknya kau harus menunjukkan semangatmu… kau tidak ingin mereka kecewa karena sudah mempersiapkan ini untukmu kan?”

Jessica mengangguk kecil. Ia hanya perlu membasuh wajahnya dengan air dan menggosok giginya. Selanjutnya ia meminta Myungsoo bungkam karena ia tidak mandi pagi ini.

TBC…

 

Gimana ceritanya? Abal-abal? Atau rumit? Atau kepanjangan?

Aduuhhh…sorryyy karena ini postnya lammaa soalnya selain banyak kerjaan,  computer rusak, harus kerjakan di laptop dan flasdisk yang keformat, data hilang semuaa…dan harus cari lagi dataku yang terhapus itu.. termasuk ff ini …hik hik hik kasihan kan

Aku juga lupa kalau punya Freelance di jenongkece sebelumnya ini udah aku publish di blog pribadi aku farahkimjaegirl.wordpress.com kalau berminat boleh kog berkunjung.

 

 

 

 

28 thoughts on “[Freelance] MORE THAN…(Chapter 7)

  1. baru aja kemaren mikirin nih ff .. ehh, udh dipost ternyata .. ini keren thor’-‘)b itu jessica seharusnya ngeliat myungsoo dong jgn ki kwang mulu .. klo aku sih malh beruntung bangettt bisa deket sma cowo cowo ketjeh kyk begitu -,- hehehe bagian yg terakhir sumpah bikin geli abis si jessica bukannya mandi entar klo dibongkarin sma myunsoobagaimana??? :3 okeyy lanjut thor;)

  2. Ya ampuuun !
    Ceritanya nyesek.. Feelnya dapet banget..🙂
    Aku bingung, gak tau kenapa rasanya sedih ffnya, sampai aku nangis.. Huhu
    author ! Ffmu sangat mengharukan..
    Ditunggu next chap🙂

  3. Aaaa udah kangen sm ff ini ^^ nyesek bgt hidupnya Sica, myungsoo n ki kwang ninggalin dy, ki kwang tunangan, trus slalu brmasalah krna status sosial nya T^T Aq ska Youngjae dkk slalu ada buat Sica😀 Scene trakhir emng bkin geli thor😄 Dtnggu lnjutan’a~

  4. Akhirnya ini dilanjut juga🙂
    Sica patah hati ampe segitunya ya-_-”
    Apa gak sadar ama kehadiran Myungsoo ??
    Kan kasian Myungsoo patah hati, ngeliat Sica terpuruk ditinggal kawin ama Gikwang !
    Youngjae dkk selalu ngehibur dan selalu ada untuk Sica^^

  5. Jessy gak mandi pagi ? ._.
    Hehe, abaikan.
    Thor, dari chapter 1-6 aku udah muji2 kalo ffnya bagus, dan di chapter 7 ini aku masih mau bilang kalo ff mu ini tetep bagus😀 Keren ! Daebakk ! Myungsicaaa❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s