[Freelance] (Oneshot) : 14 Days

14-Days-cover

Title                 : 14 Days

Author             : Flower Girl

Length             : Twoshot

Rating             : T

Genre              : Romance, Sad

Main cast         :

  • Jessica
  • Luhan

Disclaimer       : My original storyline. Don’t be a PLAGIATOR!!

Note                : Mungkin sudah banyak author2 yang buat cerita kaya gini. Tapi jujur ini hasil karya saya sendiri dan tidak ada unsur plagiat di dalamnya :)  backsound wajib ya *maksa*

Enjoy it and leave a comment ^_~

First post  =>http://fgirlspazzer.wordpress.com

 

Backsound      :

  • F(x) Krystal – Because Of Me
  • Seo Young Eun – Can’t Let Go (Ost. 49 Days)

 

 

Why when I fall’in love, we must separated?

_________________________________________________________________________________________

 

 

Matahari musim panas hari ini dimanfaatkan salah satu sekolah menengah atas di Seoul untuk mengadakan Summer Bazar. Meskipun panas hari ini terasa membakar kulit, namun murid-murid dengan bahagianya menikmati pesta musim panas sebelum liburan hari ini. Banyak dari mereka yang berjualan menjajakan lemon tea, manisan, pernak-pernik, dan sebagainya. Canda tawa mereka pun menghapus panasnya sang surya.

 

Namun seorang yeoja cantik yang sedang duduk di bawah pohon rindang menatap keceriaan pesta musim panas sekolahnya dengan wajah malas. Yeoja itu bernama Jessica Jung.

Jessica Jung, seorang yeoja blasteran Korea-Amerika yang berwajah seperti barbie. Yeoja yang duduk di bangku kelas 2 Senior High School tersebut sangat cantik dan populer di sekolahnya. Ia memiliki suara yang indah serta pandai dalam berbagai bidang pelajaran.

 

Orang-orang yang mendengar tentang Jessica pasti berpikir bahwa yeoja itu sangat beruntung dan bahagia, namun nyatanya sebaliknya.

Jessica merasa dirinya adalah orang paling sial di dunia. Ia merasa seperti itu karena ia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Mommynya meninggal saat melahirkan dirinya, sedangkan Daddynya seorang bussines man yang sangat sibuk dengan urusannya sendiri.

Jessica selalu merasa kesepian. Ia bahkan tidak punya teman atau pun sahabat sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Itu karena Daddynya selalu melarang dirinya bergaul dengan orang yang kelas sosialnya lebih rendah darinya. Menyedihkan

 

Beep~ beep~

Jessica menoleh ke arah ponselnya malas. Yeoja itu meneguk lemon juicenya lantas meraih ponsel tersebut.

 

“Hello?”

“……”

 

Jessica memutar matanya jengah. Ia tak begitu mendengarkan celotehan seseorang yang sering ia panggil Daddy tersebut. Namun beberapa kalimat terakhir daddynya membuat yeoja bermata foxy tersebut tersedak minumannya.

 

“What? Are you serious, dad?”

 

Jessica membuka mulutnya lebar. Ia meletakkan ponsel serta lemon juicenya. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan daddynya barusan.

“Oh my god!”

 

*****

 

“Minyoung-ah, apa daddy sungguh-sungguh dengan ucapannya?”

Jessica yang baru saja masuk ke dapur langsung menodong pelayannya dengan pertanyaan tersebut.

 

Pelayan Jessica terlihat terkejut saat Jessica tiba-tiba datang dengan ekspresi muka yang masam.

“N-ne? oh, itu sungguh-sungguh, nona.”

 

Jessica mendengus lalu duduk di kursi meja makan. Wajahnya ia tekuk sampai terlihat sangat kusut. Pikirannya sudah negatif tentang apa yang diperintahkan daddynya.

“Oh my god! Ini akan jadi liburan musim panas yang sangat-sangat buruk!”  erang Jessica seraya mengacak rambutnya frustasi.

 

*****

 

Sepanjang perjalanan, Jessica terus menekuk wajahnya. Ia sangat kesal dengan perintah daddynya yang menurutnya sangat konyol. Berlibur di rumah nenek? Terdengar sangat kekanak-kanakan baginya. Ia lebih memilih kesepian di rumah dari pada harus berpergian ke Jepang seperti sekarang. Apalagi ia tidak terlalu pandai memakai bahasa Doraemon itu. Dan satu lagi, Jessica benci lingkungan sekitar rumah neneknya yang dikelilingi orang-orang aneh baginya.

 

“Noona, kita sudah sampai. Tuan menyuruh saya mengantar anda sampai disini.”  Ujar driver keluarga Jessica.

 

“Aish. Jeongmal? So, I go there alone?”  tanya Jessica tak percaya. Ia tak bisa membayangkan jika harus berjalan di bawah terik matahari melewati sebuah lapangan yang dikelilingi orang-orang aneh untuk sampai ke rumah neneknya.

 

“Tuan bilang nenek anda akan menemani anda”  jawab drivernya.

 

Jessica menghembuskan nafas kesal. Ia keluar dari mobil lalu menurunkan kopernya. Sebenarnya ia tak ingin membawa koper, karena yahh.. ia tidak berniat berlama-lama disini. Daddynya memerintahkan agar ia berada di Jepang selama 2 minggu, namun Jessica berencana akan kabur setelah 4 atau 5 hari disana.

 

“Jessica?”

 

Jessica menyipitkan matanya. Berusaha melihat siapa yang memanggilnya dari kejauhan. Yeoja itu lantas tersenyum tipis dan berjalan menghampiri seseorang yang memanggilnya.

“Nenek”

 

Jessica memeluk neneknya lalu berjalan menuju rumah neneknya. Jessica sedikit terkejut karena beberapa tahun yang lalu ia disambut banyak orang-orang aneh saat ia datang kemari. Sekitar 3 tahun yang lalu. Namun sekarang sepertinya orang-orang aneh tersebut menghilang entah kemana. Dan Jessica dibuat lega akan itu.

 

*****

 

Jessica cengo melihat neneknya yang sangat gesit di dapur. Berdiri di depan kompor, berjalan ke kulkas, mengambil sayur, dan lain-lain. Jessica kagum melihat sang nenek yang pandai memasak. Tidak seperti dirinya yang menyentuh apron pun tak pernah.

 

“Kau mau makan di rumah atau bersama nenek, Jessie?”

 

Jessica menatap neneknya dengan alisnya yang ia tautkan. “Memang nenek mau kemana?”

 

“Mengantar ini”  jawab nenek Jessica seraya melirik panci besar berisi masakannya tadi.

 

Jessica mengangguk mengerti. “Eum.. aku ikut nenek saja”

 

*****

Jessica menggaruk kepalanya setelah sampai di tempat yang dituju neneknya. Yeoja itu merasa aneh dengan tempat yang ada di hadapannya. Terlihat seperti panti jompo menurutnya. Hanya saja lebih berwarna.

“Smile house?”

 

“Kajja masuk”

 

Jessica mengikuti langkah neneknya yang masuk ke dalam bangunan bertuliskan Smile House tersebut. Saat ia sudah berada di dalam bangunan tersebut, Jessica membulatkan matanya.

Jessica sangat terkejut dengan isi dari rumah tersebut. Pantas saja neneknya sudah tidak punya tetangga yang aneh lagi. Ternyata semua orang yang Jessica anggap aneh tersebut berkumpul di Smile House ini.

“W-what?”

 

Sebenarnya orang-orang yang Jessica anggap aneh bukanlah orang aneh. Mereka ada penyandang cacat yang kebanyakan keterbelakangan mental. Sebagai seorang yeoja dari kalangan elite, tentu saja aneh bagi Jessica bertemu dengan orang-orang tersebut. Dan dari sudut pandang Jessica, ia menganggap mereka semua aneh.

 

“Mari kita makan malam”  ujar nenek Jessica dengan gembira.

 

Jessica tetap cengo memandang apa yang ada di hadapannya. Ia menghela nafas lemas lalu mengikuti kemana neneknya pergi. Sebenarnya ia tidak yakin bisa makan jika sudah mengetahui siapa yang akan makan bersamanya.

“Oh my god”

 

***

 

Saat semuanya tengah dengan lahapnya makan, Jessica sama sekali tak menyentuh makanannya. Ia merasa nafsu makannya sudah dicabut secara paksa sejak melihat para penghuni Smile House untuk pertama kalinya tadi.

Jessica meletakkan sumpitnya dan merebahkan kepalanya di atas meja. Tiba-tiba matanya berhenti pada suatu objek. Bukan, seseorang tepatnya. Seseorang yang duduk di seberangnya namun berada di kursi paling pojok.

Seseorang itu nampak sama seperti Jessica, tidak menyentuh makanannya sedikitpun.

“Eih~”

 

Jessica yang penasaran bertanya pada neneknya yang berada disampingnya. “Nenek, mengapa dia seperti itu?”  tanya Jessica seraya menunjuk ke seseorang tadi.

 

“Mana. Ahh, dia? Dia selalu seperti itu”

 

Jessica mengangguk dan terus memperhatikan seseorang tersebut. Ia tiba-tiba penasaran dengan orang yang sangat diam dan tidak hipper seperti penghuni lainnya itu.

 

“Nek nek, apa dia juga Autis?”  tanya Jessica lagi.

 

Terdengar helaan nafas dari mulut neneknya. “Jessie, tidak semua penghuni disini Autis. Di Smile House kami menerima siapa saja dengan penyakit apa saja agar bisa sembuh disini.”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya. “Itu tidak menjawab pertanyaanku, nek”

 

“Baiklah. Jika kau ingin tau, datang lagi besok. Bersama nenek tentunya”

 

*****

Pagi ini Jessica dan neneknya sudah bersiap menyiapkan sarapan untuk para penghuni Smile House. Sebenarnya Jessica tidak berniat membantu neneknya, ia hanya ingin tau tentang seseorang yang kemarin sempat membuatnya penasaran.

Setelah sarapan siap, mereka pun berangkat menuju Smile House.

 

 

“Selamat pagi semuanya. Mari kita sarapan”  teriak nenek Jessica seraya memukul panci keras-keras.

Para penghuni atau bisa disebut pasien Smile House mengikuti nenek Jessica menuju ruang makan.

 

“Ah, Jessie. Naiklah ke lantai dua dan suruh semua turun ne?”

 

Jessica mengangguk lalu beranjak naik ke lantai dua. Ia sedikit bergidik karena ada salah satu orang aneh yang tersenyum padanya. Ia jadi merasa canggung dan takut untuk memerintah mereka.

“S-selamat pagi. S-sarapan di-di bawah”  ucap Jessica patah-patah dengan bahasa Jepang seadanya.

 

Yeoja itu menghela nafas lega setelah semuanya turun. Ia pun berinisiatif melihat-lihat apa yang ada di lantai dua tersebut. Ia berhenti pada salah satu pintu berwarna merah muda.

 

Minami Kotori

Leukimia since she was born.

 

Jessica terkejut setelah membaca tulisan yang ada di pintu tersebut. Ia pun mengalihkan pandangan pada semua pintu yang berjajar dihadapannya. Perkataan neneknya semalam tidak bohong rupanya, tidak semua penghuni tempat ini adalah orang autis.

“Oh my god. Kasihan sekali”

 

Jessica melihat satu per satu data yang tercantum di pintu tersebut. Ada yang sekamar sendiri, ada yang berdua, bahkan ada yang berempat. Tiba-tiba Jessica berhenti pada sebuah pintu berwarna biru laut dengan ornamen bintang laut pada daun pintunya. Ia berhenti karena ia tidak membaca data penyakit tertera pada pintu tersebut.

“Xi Luhan?”

 

Rasa penasaran Jessica memuncak setelah menemukan pintu yang berbeda dari yang lainnya. Ia lantas memutar kenop pintu dan memasuki ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya Jessica melihat sang pemilik kamar tidak sarapan bersama yang lainnya. Sang pemilik kamar menatap kosong ke luar jendela seraya duduk di kursi rodanya.

 

“Ohayou~”  sapa Jessica pada namja yang duduk di kursi roda tersebut.

 

Diam. Tidak ada balasan sama sekali. Hal tersebut membuat Jessica kesal. Ia pun menarik kursi roda namja tersebut dan membalik posisinya agar menghadap dirinya.

Jessica kembali terkejut saat menyadari bahwa namja tersebut adalah yang ia lihat saat makan malam kemarin.

 

“Eh. Kau yang kemarin ku lihat”  ujar Jessica setelah memperhatikan wajah namja tersebut.

 

“Aku tidak mengenalmu. Tinggalkan aku sendiri”

 

Jessica berdecak kesal. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ada namja yang berbicara sedingin itu padanya. Ia ingin sekali meremas wajah datar namja dihadapannya itu, namun ia berusaha bersabar karena ia penasaran dengan penyakit apa yang di derita namja ini.

 

“Aku Jessica. Aku cucu Park Jieun, pendiri tempat ini. Dan kau pasti Xi Luhan. Aku pintar kan bisa mengetahui namamu”  akhirnya itulah yang keluar dari mulut Jessica. yeoja dingin yang tiba-tiba jadi hangat saat ia sangat penasaran dengan seseorang.

 

Namja bernama Xi Luhan tersebut berdecak  “Ckck. Tentu saja kau tau. Jika kau tidak tau berarti kau tidak bisa membaca. Begitu kau katakan pintar”

 

Jessica menggembungkan pipinya. Kekesalannya sangat memuncak. Ia tak habis pikir, namja yang menurutnya lumanyan ini sangat menyebalkan. Apalagi ia berbicara dengan entengnya dan ekspresi wajah yang datar. Membuat Jessica sangat sebal melihatnya. Tapi untungnya namja itu berbicara dengan bahasa Korea, jika ia mengatakannya dalam bahasa Jepang, mungkin Jessica sudah menonjok wajahnya. Karena ia tidak mengerti artinya.

 

Tok~ tok~

“Onichan. Waktumu makan”  ujar seorang yeoja kecil yang muncul dari balik pintu seraya membawa nampan berisi makanan.

 

Jessica tersenyum melihat yeoja kecil yang menurutnya sangat lucu. Ia meraih nampan makanan yang yeoja kecil itu bawa tadi. Jessica tersenyum seraya mencubit pipi yeoja kecil tersebut.

“Neomu kyeopta. Siapa namamu?”

 

Yeoja kecil tadi terlihat bingung. Ia bingung karena Jessica berbicara menggunakan bahasa yang asing baginya.

 

“Bodoh. Dia tidak mengerti bahasa korea.”  Ujar Luhan yang tiba-tiba menarik yeoja kecil tadi dari hadapan Jessica. “Arigato, Minami. Sekarang kembali ke kamarmu”  lanjutnya dengan bahasa Jepang.

 

Jessica cengo setelah melihat kejadian di hadapannya. Ia cengo karena namja di hadapannya ini mengatakan dirinya bodoh dan cengo karena menyadari bahwa yeoja kecil tadi adalah yeoja yang mengidap Leukimia.

“Ahh. Minami Kotori”

 

“Mau apa kau kesini?”  tanya Luhan setelah Minami keluar dari kamarnya. Namja itu meraih nampan yang Jessica pegang lalu meletakkan begitu saja di meja samping ranjangnya.

 

Jessica menatap Luhan yang meletakkan makanannya di meja dengan ekspresi bingung. Ia bingung karena sejak kemarin malam namja itu tidak makan. Bagaimana ia bisa tidak lapar?

“Kau tidak makan?”

 

“Aku tidak perlu makan jika sebentar lagi aku akan mati. Percuma.”

 

Jessica terkejut dengan apa yang dikatakan namja bernama Luhan tersebut. Ini adalah pertama kalinya Jessica merinding mendengar suara keputus asaan seseorang. Dalam hidup serba mewahnya ia tak pernah mendengar dan melihat seseorang putus asa.

Jessica membuka mulutnya lebar, masih tidak percaya dengan perkataan namja tadi.

“Mengapa kau bicara begitu?”

 

Luhan melirik Jessica sinis. “Terserahku. Aku berbicara dengan mulutku sendiri”

 

Tangan Jessica bergerak meraih makanan yang berada di meja tadi. Ia menyendokkan sedikit makanan tersebut lalu mengarahkannya ke depan mulut Luhan. “Aaa~ makan”

 

“Apa yang kau lakukan? Aku sudah bilang aku tidak maammmpp”  perkataan Luhan terpotong sesendok bubur yang Jessica masukkan begitu saja ke mulut Luhan.

 

“Yaaaakk~!”  teriak Luhan setelah ia menelan bubur yang Jessica suapkan padanya.  “Kau lancammpp”

Mulut Luhan kembali tersumpal makanan yang Jessica suapkan padanya.

 

“Ayo bicaralah lagi. Semakin banyak kau bicara, semakin mudah aku menyuapimu”  ujar Jessica tanpa dosa seraya maehrong.

 

Luhan menatap Jessica tajam. Ia menggerakkan kursi rodanya menjauhi Jessica. “Aku tidak mengenalmu! Jangan sok akrab, nona.”

Luhan pun beranjak keluar kamar meninggalkan Jessica yang melongo dengan makanan yang masih berada di tangannya.

 

Selang beberapa detik setelah Luhan pergi, Jessica tersenyum. Benar-benar misterius. Aku jadi semakin penasaran.

 

*****

 

Tok tok tok~

“Siapa?”

 

Jessica diam seraya tersenyum kecil. Pagi ini ia kembali ke kamar namja bernama Xi Luhan yang berhasil membuatnya sangat penasaran. Ia datang dengan membawa semangkuk sup hangat, karena seperti yang di ceritakan neneknya, Luhan sering tidak mau makan.

 

Cklek~

“Apa itu kau, Mina..”  Luhan menghentikan kata-katanya setelah melihat siapa yang bertamu ke kamarnya. Dengan cepat ia menutup pintu kamarnya.

Namun, kaki Jessica lebih cepat menahan pintu tersebut.

 

“Ohayou, Xi Luhan. Mulai hari ini aku yang mengantarkan makananmu”  ujar Jessica seraya tersenyum.

Dan dengan santainya Jessica mendorong kursi roda Luhan ke dalam, dan ia pun beranjak masuk ke kamar namja misterius itu.

 

“Hey, yeoja sok akrab. Apa maumu?”

 

Jessica menatap Luhan dengan wajah innocentnya. Dalam hatinya, ia hanya ingin tahu apa penyakit yang di derita namja ini, sampai-sampai ia sangat putus asa.

“Sudah diam dan makan. Aku akan menghitung sampai tiga, jika dalam hitungan ke tiga kau tidak makan, aku akan menyuapimu”

 

Luhan tersenyum sinis lantas menggerakkan kursi rodanya ke arah pintu.

 

“Hana~”  Jessica menarik kembali kursi roda Luhan agar tidak kabur.

 

“Dul~”

 

Luhan menatap Jessica datar. Tidak ada niatan baginya untuk menyantap makanan, walau sebenarnya ia lapar.

“Sudah ku bilang semua itu percuma!”

 

“Set~”

Jessica meletakkan nampan makanannya di meja samping tempat tidur, lantas mengambil sesendok sup. “Aku sudah memperingatkanmu, Xi Luhan”

Yeoja itu siap-siap menyedokkan sup tersebut. Namun, dengan cepat Luhan menahannya dengan menggenggam tangan Jessica.

 

“Hentikan!”

 

Jessica menatap tangannya yang digenggam oleh Luhan. Ia lantas menatap tangannya dan namja itu bergantian. Tiba-tiba ekspresi wajahnya menjadi aneh setelah Luhan menyentuhnya. Jessica menelan saliva dengan susah payah lalu melepaskan genggaman tangan Luhan.

“Y-yak! K-kau harus makan!”  teriak Jessica dengan, entah mengapa wajahnya memerah.

 

“Shireo!”  tolak Luhan keras.

 

Jessica berdecak kesal. Ia meletakkan sendok yang ia pegang tadi lantas menyentuh pipinya yang terasa panas.

Yeoja itu berdiri lalu melangkahkan kaki menuju pintu.

“B-baiklah. M-makan sendiri. Tapi jangan lupa harus dimakan”  setelah mengucapkan kalimat tersebut, Jessica menghilang di balik pintu.

 

“Yeoja aneh”  gumam Luhan.

 

***

 

Jessica menggigit bibirnya seraya terus memegangi pipinya. Sedari tadi ia berdiri di depan cermin, menatap pipinya yang masih terlihat merah.

“Aneh. Ada apa denganku?”  gumam yeoja itu.

 

“Bagaimana, Jess. Apa kau berhasil membuat Luhan sarapan hari ini?”

 

Jessica membalikkan badan dan terkejut dengan kehadiran neneknya yang tiba-tiba. Ia menghela nafas setelah mendengar apa yang diucapkan neneknya.

“Ish.. Luhan benar-benar sulit diajak berbicara. Sebenarnya apa penyakitnya sampai ia sangat putus asa, nek?”

 

Nenek Jessica duduk di di kursi yang berada di samping Jessica.  “Sudah nenek bilang, kau harus cari tahu sendiri”

 

“Aish.. nenek pelit sekali”  ujar Jessica seraya menggembungkan pipinya.

 

“Lama kelamaan kau akan tahu.”

 

Jessica masih menggembungkan pipinya. Tiba-tiba sebuah ide melintas di pikirannya. Ia tersenyum senang lalu mendekat pada neneknya.

“Kalau begitu beritahu aku apa yang ia sukai, nek”

 

Nenek Jessica tersenyum. Wanita tua itu lantas membisikkan sesuatu di telinga Jessica.

 

***

 

“Cheoeumbuteo nae sarangingeollyo~
Chagaun nae mame ttaseuhi bichujyo~
Hangeoreum hangeoreum dagaoneun sarang~
Nan jogeumeun duryeopjiman~”

 

“Seolleineun nae sarangingeulyo~
Biodeut sarangi nae mameul jeoksyeoyo~
Nae mami nae mami ijen sarangingeollyo~”

 

Luhan menoleh setelah mendengar suara yeoja yang menyambung lagu yang tadi ia nyanyikan. Namja itu menatap seorang yeoja yang sedangtersenyum innocentpadanya dengan wajah datar.

“Mengapa kau selalu menggangguku”  ujar Luhan dingin.

 

“Kau suka lagu itu ya? Kebetulan sekali, aku juga menyukainya.”  Begitulah kalimat yang keluar dari mulut kecil seorang Jessica. Sedari tadi yeoja itu memperhatikan Luhan yang berdiam diri di bawah pohon, dan ternyata namja itu sedang bernyanyi.

 

“Aku tidak ingin menyukai lagu yang sama denganmu”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya. Ia tidak menghiraukan perkataan dingin Luhan, ia kini malah duduk di bawah bersama rerumputan hijau.

“Baiklah. Sekarang aku ingin bertanya. Sebenarnya kau sakit apa?”

 

“Apa pedulimu”

 

Jessica menoleh ke arah Luhan yang sedang menatap langit cerah. “Emm. Tentu saja aku peduli. Mungkin saja aku bisa membantumu sembuh.”

 

Terdengar helaan nafas dari Luhan.

“Mustahil”

 

Jessica terus menatap Luhan yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari langit. Dari nada suaranya, Luhan terdengar sangat putus asa. Hal itu membuat Jessica semakin penasaran.

“Tidak ada yang mustahil di dunia ini.”

 

Diam. Tidak ada jawaban sama sekali dari Luhan. Namja itu lebih memilih menatap langit dan berbicara dalam hati.

 

Wuuhhh~

“Waa~ banyaknya~”  ujar Jessica tiba-tiba.

Yeoja itu menepuk-nepuk tangannya setelah meniup gelembung sabun yang sedari tadi ada di kantongnya.

 

“Kekanak-kanakan”

 

Jessica melirik Luhan dengan senyum evil. Ia pun kembali meniup gelembungnya, dan kini jumlahnya bertambah banyak.

“Waaahh”

 

Diam-diam tangan Luhan menyentuh gelembung yang jatuh di tangannya. Namja itu perlahan tersenyum.

 

“Yeeey! Ternyata kau bisa tersenyum juga~”   teriak Jessica heboh.

Yeoja itu bangga bisa membuat seseorang yang menurutnya sangat datar ini tersenyum. Ternyata saran neneknya berhasil.

 

Luhan menunduk dan menyembunyikan senyumnya. “Aniya. Aku tidak tersenyum.”

 

Jessica tertawa melihat Luhan yang menunduk. Tiba-tiba ia merasakan perasaan aneh dalam hatinya, seperti ada drum stick yang menggebrak jantungnya. Berdebar-debar.

Yeoja itu pun kembali meniup gelembungnya. Dan jantungnya semakin berdebar melihat Luhan yang sekarang tak sungkan meraih gelembung-gelembung sabun tersebut lantas tersenyum.

 

“Luhan-sshi, lebih seringlah tertawa. Aku lebih suka melihatmu seperti itu dari pada merenung di kamar.”  Ucap Jessica seraya menyerahkan gelembung sabunnya pada Luhan.

 

Luhan terlihat bingung saat menerima gelembung sabun dari Jessica. namja itu menatap Jessica bingung.

“Mwoya?”

 

Jessica melangkahkan kakinya pergi. Namun masih lima langkah ke depan, yeoja itu berbalik.

“Dan, eumm… kau terlihat lebih tampan jika tersenyum”  dan Jessica pun segera berlari masuk ke Smile House.

 

“Ha?!”

 

***

 

Suasana ruang makan malam ini sudah sangat ramai. Semua penghuni Smile House sudah bersiap bersantap malam bersama sang pemilik tempat ini, siapa lagi jika bukan nenek Jessica.

Meja makan yang panjang dan besar sudah terisi penuh dengan piring-piring, berbagai macam sayuran beserta lauknya, tidak lupa nasi dan bubur pun tersedia.

 

Jessica yang baru saja duduk di kursi meja makan terkejut dengan seseorang yang berada di sampingnya.

“Luhan?”

 

Luhan menoleh menatap Jessica. Namja itu menggaruk tengkuknya canggung. “Hi”

 

“Kau duduk disini? Biasanya kau disana kan?”  tanya Jessica bingung.

 

Luhan terlihat sedang mencari-cari jawaban. Ia kembali menatap Jessica dengan senyuman. Senyuman canggung.

“Emm.. mungkin aku bosan duduk disana”

 

Jessica tersenyum. Dalam hatinya ia mengumpat karena detak jantungnya yang tiba-tiba berubah drastis jika sudah melihat namja disampinya ini. Yeoja itu lantas menatap piringnya lalu mengisinya dengan nasi dan ayam.

Sejenak ia melirik Luhan yang kesulitan menggapai sayuran karena ia duduk di kursi roda. Dengan cepat Jessica mengambilkan sayuran yang Luhan inginkan.

 

“Jika kesulitan, kau bisa meminta bantuanku, Luhan-sshi”  ujar Jessica.

 

Luhan tersenyum manis pada Jessica. “Gomawo, Jessica-sshi”

 

Jessica segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena ia yakin mukanya memerah. Detak jantungnya semakin bertambah tatkala Luhan menyebut namanya. Entah mengapa hal itu membuat Jessica merasa sangat bahagia.

Oh god! Ada apa denganku?!

 

*****

 

Jam dinding masih menunjukkan pukul 7 pagi, namun seorang berparas cantik layaknya barbie sudah berjalan keluar rumah menikmati matahari pagi yang menyehatkan kulit. Yeoja tersebut berjalan menuju pagar rumah yang terbuat dari kayu. Saat tangannya membuka pagar, ekspresi wajah yeoja tersebut terlihat terkejut. Yeoja itu mengerjapkan matanya lantas maju satu langkah.

“Luhan?”

 

Seorang namja manis yang duduk di kursi roda tersenyum pada yeoja tadi. Namja yang ternyata adalah Luhan.

“Hai, Jess”

 

Jessica mengerutkan alisnya. “Mengapa kau kesini? Dan bagaimana kau bisa kesini?”

 

“Eum.. aku hanya ingin keluar saja. Dan aku bersama mereka”  Luhan menjawab seraya menunjuk beberapa anak kecil yang sedang bermain di lapangan dekat rumah nenek Jessica.

 

Jessica mengangguk-angguk mengerti. Detik berikutnya, suasana menjadi sepi. Diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sampai ada salah seorang anak yang bersama Luhan datang menghampiri mereka berdua.

 

“Onichan, Luhan ingin kemari. Dia mencarimu, onichan”  ujar anak kecil tersebut dengan bahasa jepang.

 

Jessica tersenyum kaku. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan bocah itu.

“Dia bilang apa?”

 

Luhan menatap bocah disampingnya dengan tatapan tajam. Namja itu lantas menatap Jessica dengan senyum aneh. “Ah, Dia? Dia bilang dia mau jalan-jalan. Kau mau ikut?”

 

“Kemana?”

 

Luhan terlihat berfikir sejenak. “Ke suatu tempat rahasiaku”

 

Jessica berdecak kesal. “Geurae. Aku ingin tahu seperti apa tempat itu. Kajja”   Jessica mendorong kursi roda Luhan, namun tiba-tiba ia berhenti.

“Wait! Kau sudah sarapan?”

 

“Eoh?”  Luhan menengok ke belakang, menatap Jessica. Ia lantas menyengir. “Belum”

 

Terdengar helaan nafas dari mulut Jessica. “Aish.. Xi Luhan! Kau masih saja bandel dengan sarapan. Kau ini sakit, Luhan. Kau harus makan agar cepat sembuh.”

 

Setelah mendengar ocehan Jessica, entah mengapa mood Luhan berubah. Ia terdiam dengan ekspresi wajah yang dingin namun menyiratkan kesedihan.

 

“Kita akan jalan-jalan. Setelah kau sarapan. Arra?”

Jesica pun mendorong kursi roda Luhan menuju Smile House.

 

Mengapa aku sangat perhatian dengannya? Oh my god! Apa mungkin aku menyukainya? I like him? Xi Luhan?

 

***

 

Sesampainya di Smile House, Jessica segera membawa Luhan ke ruang makan. Ia menarik satu kursi untuknya dan mendorong kursi roda Luhan ke dekat meja makan.

“Hurry up. Eat!”

 

Jessica tersenyum lantas menatap Luhan. Namun senyumannya pudar ketika melihat wajah Luhan sudah berubah dingin, seperti yang ia lihat pertama kali.

“Luhan? Xi Luhan? Are you okay?”

 

Luhan menatap Jessica dengan wajah datarnya. “Aku tidak mau makan”

 

“Yakk!”   Jessica bingung dengan sikap Luhan yang tiba-tiba berubah. Mungkin inilah efek samping penyakitnya, pikir Jessica.

Tanpa berpikir lagi, Jessica mengambil piring lalu mengisinya dengan makanan yang tersedia di atas meja. Ia lantas meletakkannya di depan Luhan.

 

“Mau makan sendiri atau ku suapi?”

 

Luhan masih dengan wajah datarnya. “Tidak mau makan.”

 

“Okay”

Jessica menyendokkan sesendok nasi goreng ke mulut Luhan. Namun, Luhan enggan membuka mulutnya.

“Yahh, Luhan! Makanlah. Kau bilang kita mau jalan-jalan.”

 

“Bukannya aku sudah pernah ku katakan, Percuma aku makan jika-”

 

“Jangan katakan itu lagi dan makanlah”  Jessica memotong ucapan Luhan dan segera menyuapkan nasi goreng ke mulut Luhan.

Entah mengapa ia merasa enggan mendengar kalimat yang akan diucapkan Luhan. Ia terlalu takut jika apa yang dikatakan Luhan terealisasikan.

 

Luhan terdiam. Ia tak menolak suapan Jessica berikutnya dan seterusnya. Entah mengapa ia merasa tak bisa menolaknya setelah ia melihat tatapan mata Jessica.

 

***

 

Jessica mendorong kursi roda Luhan keluar dari Smile House. Ia bersyukur hari ini tidak terlalu panas, jadi ia bisa berjalan-jalan tanpa harus menggunakan tabir surya maupun sunglass.

“Baiklah, kita kemana sekarang?”

 

“Jalan ke belakang gedung ini. Terus saja sampai aku bilang berhenti”

 

“Mwo? Bagaimana jika kakiku patah?”

 

Luhan terkekeh. “Berjalan tidak akan mematahkan kakimu, Jess”

 

Jessica menatap Luhan dari belakang dengan senyuman dan wajah merona. Ia sangat senang Luhan memanggilnya dengan sebutan ‘Jess’ yang menurutnya sangat romantis.

Romantis, uh? Sepertinya otakku sudah terbalik

 

“Jess? Kau tidak mendengarkanku bicara sejak tadi?”

 

Jessica gelagapan mendengar suara Luhan. Ia berhenti sejenak lalu menatap Luhan. “Ne?”

 

“Lupakan. Sudah sampai”

 

Jessica mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dan seketika matanya membulat sempurna. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Dan sedetik kemudian yeoja itu berlari ke sebuah bukit yang di penuhi berbagai macam bunga.

“Waaaa~ Bunga~”

 

Jessica segera menyerbu bunga-bunga yang mungkin sudah ada yang layu, mengingat ini musim panas. Namun ia tetap senang, karena apa pun yang berhubungan dengan bunga, ia pasti menyukainya.

 

Di sisi lain, Luhan tersenyum. “Jadi ia benar-benar menyukai bunga rupanya.”

Luhan mendorong kursi rodanya menuju dasar bukit berbunga tersebut. Entah mengapa ia merasa dadanya sangat segar melihat Jessica tersenyum bermain dengan bunga-bunga.

 

“Mengapa nenek tidak pernah memberitahuku ada bukit bunga disini? Ish..”

 

“Surprise”

 

Jessica berbalik, membelakangi Luhan. Ia memegang dada kirinya yang serasa akan pindah tempat, saking cepat denyutannya. Ia tersenyum aneh lantas berjalan meninggalkan Luhan begitu saja.

What happen with me?

 

“Hey! Jangan tinggalkan aku~!”

 

*****

 

Selepas makan malam, Jessica mengantarkan Luhan kembali ke kamar.

Yeoja itu merasakan hal aneh setelah melihat namja yang membuatnya penasaran bisa tersenyum. Ia merasakan kehangatan jika melihat Luhan tersenyum. Sangat nyaman.

Jessica tak sadar sedari tadi ia tersenyum dan Luhan terus memandangnya aneh.

 

“Kau kerasukan, eoh? Mengapa tersenyum-senyum sendiri?”

 

Jessica membuyarkan lamunannya. Ia menatap Luhan dengan ekspresi terkejut. “A-aku? Tersenyum?”

 

“Lupakan”

 

Jessica mengerucutkan bibirnya. Ia pun berhenti mendorong kursi roda Luhan saat sudah sampai di depan kamar Luhan.

Jessica membukakan pintu kamar Luhan lantas menatap namja itu dengan senyuman.

“Good night. See you tomorrow”

 

Dengan cepat Jessica pun menghilang di balik pintu.

 

*****

 

Sudah genap seminggu Jessica berada di rumah neneknya, dan merawat pasien bernama Luhan adalah agendanya sekarang. Ia selalu berada disamping Luhan sekarang, masih berusaha mencari tahu penyakit apa yang di derita namja itu.

 

“Sudah 1 minggu, Jessie”

 

Jessica yang sedang melamun di ruang makan menoleh setelah mendengar suara neneknya. Yeoja itu mengernyit mendengar perkataan neneknya.

“Maksud nenek?”

 

Nenek Jessica berjalan menghampiri yeoja itu, lantas menyerahkan sebuah kertas mirip memo pada Jessica.

“Nenek menemukan ini di kamarmu kemarin”

 

Jessica tersenyum tanpa dosa setelah membaca note yang ia buat saat tiba disini.

Disini untuk 4 hari kedepan lalu kabur ke US

 

“Cucu nenek masih saja bandel ya”

 

“Hihihii.. sorry. Yang penting aku tidak jadi kabur kan?”  Jessica memeluk sang nenek.

 

Nenek Jessica tersenyum pada cucunya. “Karena Luhan kan?”

 

“Mwo?” Jessica melepas pelukannya lantas menatap neneknya. “Aku tidak salah dengar nek?”

 

Nenek Jessica menatap Jessica dengan senyum menggoda.

“Jangan bohongi nenek. Nenek tahu kau menyukai Luhan”

 

Jessica diam. Ia kembali memikirkan namja itu. Sebenarnya ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau ia menyukai namja itu. Tapi entah, Jessica takut sakit hati.

“Memang sangat terlihat ya, nek?”

 

Nenek Jessica memeluk yeoja itu. “Sudah waktunya kau merasakan perasaan itu, Jessie.”

 

Jessica mengangguk dalam pelukan neneknya.

Yea.. I think I’m fall in love

 

*****

 

Lagi-lagi cuaca siang ini sangat disukai Jessica. Langit cerah tanpa awan dan tanpa sinar terik matahari.

Jessica berjalan keluar Smile House setelah membantu neneknya mencuci peralatan makan. Ia merentangkan tangannya merasakan udara siang yang masih sejuk.

Yeoja itu melangkahkan kaki menuju halaman belakang bangunan tersebut. Ia terus berjalan ke belakang, menuju tempat yang pernah Luhan tunjukkan padanya.

 

“Huufft..”

Jessica berjalan menghampiri bukit kecil yang sekarang menjadi tempat favouritenya. Ia merebahkan tubuhnya di salah satu bukit dengan rerumputan paling hijau serta bunga-bunga yang segar.

 

“Hey, nona korea. Kau kah itu?”

 

Jessica yang tadinya memejamkan mata kini membuka matanya lebar. Ia menoleh kesana kemari, mencari suara yang tadi(mungkin) berbicara padanya. Senyuman mereka di bibir yeoja itu tatkala mengetahui yang memanggilnya adalah seseorang yang(mungkin) sedang ia pikirkan.

“Hey, Lu. Kau sendiri?”

 

Luhan membalas senyuman Jessica. ia menggerakkan kursi rodanya mendekat pada Jessica. “Aku tidak sendiri. Aku bersamamu kan?”

 

“Eo?”  Jessica merasa pipinya tiba-tiba panas dan entah mengapa ia merasa malu. Ia hanya tersenyum kaku seraya mengalihkan pandangannya dari Luhan.

 

“Hmm.. cuaca hari ini sangat segar”

 

Jessica menoleh pada Luhan yang sekarang tengah menatap langit. Ia kembali tersenyum. Rasanya ia ingin selalu tersenyum jika melihat wajah disampingnya itu. Jessica ingin selalu merasakan itu. Perasaan aneh yang menggelitik tiap kali bertemu, mendengar, menatap, dan apapun yang bersangkutan dengan seorang Xi Luhan.

 

“Biasa saja melihatnya. Aku tampan ya?”

 

Jessica keluar dari dunia khayalnya saat Luhan menanyakan pertanyaan yang sangat konyol baginya.

“Tentu saja”  jawabnya dengan lantang.

 

Luhan membulatkan mata dan menatap Jessica. detik berikutnya ia tersenyum dengan wajah menggoda Jessica.

“Jeongmal? Jangan bilang kau menyukaiku”

 

“HAH?!”  setelah beberapa detik, Jessica baru sadar akan jawabannya tadi. Ia merengut melihat ekspresi Luhan yang sangat jahil. Namun, ia tak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.

“Yakk! Pertanyaan macam apa itu?! Menjijikan!”

 

“Aish.. kau ini pura-pura. Aku tau kau menyukaiku. Terlihat sekali pipimu yang merah itu.”  Luhan menaik turunkan alisnya, menjahili Jessica.

 

Jessica menutupi wajahnya dengan tangan. “Yakk!!!”

 

Luhan beralih menatap langit dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Antara sedih dan bahagia.

“Apa kau benar-benar menyukaiku?”

 

“Tentu saja tidak!”

 

Luhan kembali menatap Jessica. “Syukurlah”  lalu ia kembali menatap langit.

 

Sedangkan kini giliran Jessica yang menatap namja itu. Matanya sedikit membulat setelah mencerna perkataan Luhan barusan.

“M-maksudmu syukurlah?”

 

“Hmm.. syukurlah kau tidak benar-benar menyukaiku. Karena aku juga tidak berniat menyukaimu”

 

Jleb~

Jessica merasa bak ditusuk ratusan pedang. Dihimpit puluhan batu. Sakit dan sesak. Ia membuka mulutnya dan melebarkan kelopak matanya. Sungguh perkataan yang tak pernah ia duga.

Sekuat tenaga Jessica menahan air matanya. Ia tak pernah menyangka seorang Luhan yang baik padanya selama ini bisa mengatakan perkataan setajam itu padanya.

“Ehm.. sepertinya aku harus pergi sekarang”  setelah mengucapkan kalimat itu, Jessica berlari meninggalkan Luhan disana.

 

Sedangkan namja itu menatap kepergian Jessica dengan senyuman penuh arti.

 

***

 

Malam ini, Jessica memilih berbaring di tempat tidurnya dan menonton TV dari pada pergi makan malam bersama di Smile House. Hari ini perasaannya seakan hancur setelah mendengar perkataan Luhan tadi. Bahkan Jessica sempat menangis setelah kejadian tadi siang itu.

“Arghh~!!”

Yeoja itu mengerang seraya melemparkan remote Tvnya.

 

“Seperti inikah rasanya sakit hati?!”  Jessica berbicara pada boneka babi pemberian neneknya saat usianya 5 tahun dulu. Ia meninju boneka babi tak bersalah itu. Melampiaskan perasaannya.

“Jika tau rasanya seperti ini, seharusnya aku tak usah bertemu dengan namja itu! Ish~!”

 

*****

 

“Jessie~ Jessie~”

 

Jessica menutup telinganya dengan bantal. Sejak 10 menit yang lalu, neneknya berteriak dari balik pintu seraya mengetuk kamarnya. Namun Jessica tak berniat sama sekali membukakan pintu ataupun menjawab neneknya. Ia tak ingin ikut neneknya hari ini. Ia tak ingin bertemu dengan seseorang yang sekarang ia hindari.

 

“Jessica~ Minami mencarimu~”

 

Jessica membuka bantal yang ia gunakan menyumbat telinganya. Mendengar nama Minami membuatnya merasa bersemangat. Tanpa pikir panjang Jessica membukakan pintu kamarnya. Namun tertipulah dirinya karena yang berada di depan pintu kamarnya adalah neneknya dan… Luhan.

 

“Nenek apa…”  Jessica menghentikan perkataannya. Ia memasang ekspresi datar melihat senyuman Luhan yang seperti biasa.

 

“Nenekmu bilang kau tidak keluar kamar sejak kemarin sore. Aku khawatir, jadi aku kesini. Maaf aku menyuruh nenekmu berbohong. Hihi~”

 

Jessica tetap memasang ekspresi datarnya. “Sudah? Sudah selesaikah kau berbicara?”

 

Luhan terkejut dengan apa yang dikatakan Jessica, begitu pun neneknya.

“Jessie~”  ujar neneknya.

 

“Nek, aku sedang tidak enak badan. Aku malas berbicara sepagi ini”  Jessica berbalik lantas menutup pintu, namun sebelum itu, neneknya menahan pintu kamarnya.

 

“Kau tak kasihan pada Luhan? Ia kemari sendiri”

 

Jessica menggiggit bibirnya. Namun detik berikutnya ia mengabaikan semuanya lantas kembali ke tempat tidurnya. Ia membiarkan neneknya dan Luhan masuk ke kamarnya dan memilih kembali bergelut dengan selimut.

 

“Jess, kau sakit? Biar aku rawat ne?”

 

“Tidak usah repot-repot”

Jessica menjawab pertanyaan Luhan dengan dingin. Ia masih kesal dengan kata-kata Luhan kemarin. Walau ia sadar bahwa Luhan tak tau ia sakit hati, namun semuanya tetap membuatnya kesal.

 

Sementara itu Luhan tak menjawab lagi jawaban Jessica. ia mengisyaratkan pada nenek Jessica agar meninggalkannya dengan Jessica berdua. Dan setelah nenek Jessica keluar dari kamar Jessica, Luhan menggerakkan kursi rodanya melihat-lihat isi kamar Jessica.

 

Ia tersenyum melihat foto-foto masa kecil Jessica yang terpajang rapi di dinding dengan wallpaper Disney Princess tersebut. Ia bahkan terkekeh melihat foto selca Jessica yang terpajang di meja kecil di samping ranjang Jessica. namun ia berhenti tertawa saat membaca sebuah memo di papan memo kecil yang menempel pada dinding kamar.

 

  • Disini untuk 4 hari kedepan lalu kabur ke US

 

  • Stay! 2 minggu di Jepang seperti perintah Daddy

 

  • Tinggal 5 hari lagi~ Leaving Japan

 

  • 4 hari lagi. Sepertinya aku belum ingin meninggalkan tempat ini😦

 

Luhan terdiam membaca memo Jessica. Ia baru tau kalau waktu Jessica disini tinggal 4 hari lagi. Rasanya sangat cepat dan ia menyianyiakan waktu yeoja yang sudah membuatnya bisa tersenyum lagi.

“Gomawo”

Luhan menggerakkan kursi rodanya menuju pintu. Ia melirik Jessica sekilas lalu keluar dari kamar yeoja itu.

 

Sementara itu, Jessica yang sedari tadi hanya berpura-pura tidur mendengar perkataan Luhan. Ia membuka selimutnya dan menatap pintu kamarnya.

“Gomawo?”

 

*****

 

Hari ini Jessica ikut bersama neneknya sarapan bersama di Smile House. Walau sebenarnya Jessica masih belum mau bertemu dengan Luhan, namun tidak ada salahnya ia datang kesini. Toh ia akan segera meninggalkan tempat yang telah membuatnya merasakan cinta pertama itu.

 

“Sarapan~”  teriak nenek Jessica dari ruang makan.

 

Sementara itu Jessica selesai menata piring dan peralatan makan. Ia lantas menarik kursi lalu duduk disana. Ia tersenyum melihat para penghuni Smile House yang berdatangan beramai-ramai. Entah mengapa Jessica merasakan kebahagiaan sebuah keluarga saat berada di tempat ini. Ia belum pernah merasakan kehangatan memiliki keluarga.

 

“Ohayou~”

 

Jessica menoleh mendengar seseorang yang sepertinya menyapanya. Ia yang tadinya tersenyum merubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Orang yang menyapanya tadi adalah seseorang yang sedang ia hindari… Luhan.

Jessica mengabaikan Luhan yang mengambil posisi disampingnya. Ia lebih memilih mengambil makanan sekarang.

 

“Ish..”

 

Jessica melirik namja disampingnya yang tengah berusaha mengambil nasi yang jauh dari jangkauannya. Dengan cepat Jessica mengambilkan nasi yang ingin digapai Luhan. Namun masih dengan ekspresi wajah datar.

 

“Gomawo”

 

Setelahnya, Jessica mengabaikan apapun yang dilakukan Luhan. Ia bahkan tak mendengarka Luhan mengajaknya berbicara. Ia pun tak merespon apapun saat Luhan bertanya padanya. Ia masih merasa kesal dengan namja itu. Namja yang ‘tidak berniat menyukainya’

Selepas sarapan, Jessica meninggalkan meja makan tanpa sepatah katapun.

 

“Jess, Jessica!”  Luhan menggerakkan kursi rodanya seraya meneriaki Jessica. “Hey, Jess. tunggu~”

 

Jessica mengabaikan Luhan. Ia berjalan menuju halaman luar. Ia masih belum bisa menstabilkan perasaannya setelah menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya gagal total.

 

Bugh~

Jessica yang sudah mencapai gerbang keluar berbalik setelah mendengar bunyi yang cukup nyaring. Ia segera berlari kembali saat melihat Luhan terjatuh dari kursi rodanya.

“Luhan!”

Jessica mengangkat Luhan dan mendudukan namja itu di kursi rodanya lagi. Ia terlihat menghela nafas berat lalu tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia pergi.

 

“Jessica, tunggu!”

 

Suara Luhan berhasil membuat Jessica berhenti. Yeoja itu berbalik, menatap Luhan dengan ekspresi datar.

Sedangkan Luhan menggaruk kepala bingung seraya menghampiri Jessica.

 

“Ada apa denganmu? Kau aneh sekali hari ini”

 

Jessica mengabaikan perkataan Luhan. Ia berbalik dan bersiap pergi lagi, namun kali ini tangan Luhan menggenggam tangannya.

“Jess”

 

Jessica melebarkan kelopak matanya. Ia seakan tersengat listrik saat tangan Luhan menyentuh dan menggenggam tangannya. namun, ia tetap tidak membalikkan badan sekedar untuk menatap Luhan.

 

“Jess, ada apa denganmu? Kau marah padaku, hm?”  karena Jessica tak mau menatapnya, Luhan menarik tangan yeoja itu sampai akhirnya sekarang mereka bertatapan dengan jarak yang dekat. Saking dekatnya, Jessica sampai berlutut di depan Luhan.

 

“Mmm.. Ani”

Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Jessica. dalam hatinya ia ingin sekali berteriak ‘Ya, aku marah padamu karena kau tak akan pernah menyukaiku!’  namun Jessica sekarang hanya bisa diam karena menatap mata Luhan yang seakan menyihirnya.

 

Luhan tersenyum dan tangannya bergerak menyentuh bibir Jessica. “Kalau begitu tersenyumlah seperti biasa”   namja itu menarik kedua ujung bibir Jessica membentuk sebuah senyuman.

 

“Mwoya?”  Jessica melepaskan tangan Luhan yang menyentuh bibirnya. Detik berikutnya ia tersenyum.

 

“Jangan marah padaku ya. Karena aku tidak pernah punya teman sebaik dirimu”  ujar Luhan tulus.

 

Senyum manis Jessica berubah menjadi senyuman yang dibuat-buat. Ia lantas menggiggit bibirnya dan berusaha kembali tersenyum. Sakit. Sesak. Jessica kecewa menerima kenyataan bahwa Luhan hanya menganggapnya teman.

 

*****

 

Jessica masuk ke kamarnya dengan wajah murung. Ia melemparkan handuknya ke sembarang arah lalu duduk di kasur. Yeoja itu melihat sebuah papan kecil yang tergantung di dinding kamarnya. Papan memo.

Ia menatap sebuah memo dengan kertas berwarna biru laut.

“2 hari lagi? Jadi besok adalah hari terakhirku disini?”

 

Tok tok tok

Seorang yeoja dengan kulit keriput masuk ke kamar Jessica. ia tersenyum lalu memberikan beberapa lembar kertas pada Jessica. tanpa mengucap sepatah kata, nenek Jessica keluar dari kamar cucunya.

 

“Mwo?”

Jessica menatap kertas-kertas yang bisa disebut tiket tersebut. Ia memandang tiket pesawat tersebut dengan ekspresi sedih.

“Jadi aku harus benar-benar meninggalkan tempat ini?”

 

Jessica meletakkan tiketnya di laci samping ranjangnya. Ia lantas merebahkan tubuhnya dan memakai selimut.

 

Beep beep beep~

Suara ponsel membuat Jessica mengurungkan niatnya untuk tidur. Ia menatap layar ponselnya yang menampakkan nomor tak dikenal menelfon.

“Siapa ini? Eih.. ini nomor Jepang”

Tanpa berpikir lagi, Jessica mengangkat telfonnya.

 

“Moshimoshi?”

“Yeoboseyo? Jessica?”

Jessica mengernyit. Ia seperti kenal suara itu.

 

“Nugusseo?”

“Kau tak hafal suaraku? Padahal setiap hari kita bertemu”

Jessica berfikir sejenak.

 

“Luhan?”

“Waa.. pintar sekali kau”

“Yak, darimana kau tahu nomor ponselku? Oh wait, aku tak tahu kau punya ponsel. Hey Xi Luhan kau harus menceritakan semuanya”

“Hahahaa… geurae. Sekarang keluarlah. Aku ada di depan rumah nenekmu”

“MWO?”

 

Jessica langsung melemparkan ponselnya dan melesat keluar kamar. Ia tak mempedulikan neneknya yang menatapnya bingung. Ia sekarang fokus untuk keluar rumah.

Sesampainya di luar, Jessica memperhatikan sekeliling rumah. Ia terkejut mendapati Luhan benar-benar berada di depan rumah neneknya di tengah dinginnya malam musim panas tanpa kursi roda.

“L-Luhan? K-kau b-berdiri?”

 

Jessica segera berlari menghampiri Luhan. Ia tak bisa berkedip sedikit pun melihat Luhan yang tersenyum manis padanya. Apalagi Luhan berdiri, walau dengan bantuan tongkat.

“Luhan? Xi Luhan? Ini benar dirimu?”

 

“Surprise~”

 

“Huuh.. ini benar-benar suprise yang paling mengejutkan!”   Jessica tersenyum senang.

 

Luhan membalas senyuman Jessica. “Bisakah seseorang yang memberi suprise ini mendapat hadiah?”

 

“Hadiah? Apa?”  Jessica mengernyit melihat wajah Luhan yang berubah jahil.

 

“Pertama, Kau harus memelukku karena aku kedinginan. Kedua, Kau harus jalan-jalan denganku sekarang. Ketiga, Lihat saja nanti.”

 

Jessica membuka mulutnya lebar. Walau ketiga hadiah yang disebutkan Luhan terdengar seperti permintaan, Jessica akan tetap memberikannya. “Hadiah macam apa itu”

Yeoja itu pun bergerak memeluk Luhan. Ia diam dalam posisinya dengan jantung yang berdebar-debar. Ia tak lagi memikirkan bagaimana perasaan Luhan padanya, ia sekarang peduli pada perasaannya yang sangat bahagia bila Luhan berada di dekatnya.

“Baiklah sudah ku peluk”

 

Luhan tersenyum. “Sekarang kita jalan-jalan.”

 

“Tapi nenek-”

 

“Sudah. Aku sudah memberitahunya”

 

***

 

Jessica masih tak percaya ia berada disini. Luhan membawanya ke sebuah taman yang dipenuhi kunang-kunang. Ia dan Luhan duduk di sebuah kursi yang sudah ditata dilengkapi dengan api unggung, makanan, dan favorit Jessica, kembang api.

Jessica tak menyangka Luhan tahu bahwa lusa ia sudah pulang ke Korea. Jadi sekarang namja itu membuat semacam farewell party bersama Jessica.

 

“Kau ini berlebihan sekali. Padahal bulan depan aku juga masih bisa kesini, Lu”  omel Jessica seraya memakan sosis pangganggnya.

 

“Aku suka yang berlebihan”  jawab Luhan santai.

 

Jessica merengut, namun sedetik kemudian ia tersenyum. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia sudah pergi ke Korea nanti. Saat ia tidak bisa melihat Luhan setiap hari, tak bisa menyuapi namja itu, tak bisa bermain dan bercanda setiap hari lagi.

 

“Mengapa kau selalu memandangiku dengan tersenyum, eoh? Kau benar-benar menyukaiku ya?”

 

Jessica tersadar dari lamunannya. Ia teringat kejadian tempo hari saat Luhan bertanya padanya dengan pertanyaan serupa. Ia teringat juga dengan perkataan Luhan yang sangat menyayat hatinya. Senyumannya berubah menjadi pahit.

Jessica masih menatap Luhan. Ia menatap dalam ke dalam mata Luhan. Ia tak bisa menyembunyikannya lagi. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan..

“Ya, aku benar-benar menyukaimu.”

 

Luhan tersedak sosis yang sedang ia makan. Matanya melebar menatap mata Jessica yang berkaca-kaca.

“Kau bilang apa tadi?”

 

“Aku benar-benar menyukaimu, Xi Luhan”   air mata Jessica pun meleleh.

Ia tak memikirkan bagaimana perasaan Luhan padanya, ia tak memikirkan apakah Luhan menerima perasaannya, ia hanya ingin Luhan tahu apa yang ia rasakan.

 

Luhan mengalihkan pandangannya dari Jessica. ia meletakkan sosis yang sedang ia panggang. Lalu ia kembali menatap Jessica. tangannya bergerak menarik dagu Jessica dan mendekatkannya dengan wajahnya. Luhan memejamkan mata lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Jessica. ia mencium Jessica.

 

Sementara itu, Jessica terkejut sampai ia bingung apakah ia masih bernafas atau tidak. Jantungnya bekerja 100X lebih cepat dari biasanya. Matanya yang masih mengeluarkan air mata melebar melihat apa yang terjadi pada dirinya. Apa yang Luhan lakukan pada dirinya. Jessica sedikit berorak dalam hati.

 

Luhan melepas ciumannya. Ia menatap Jessica dengan senyum pahit. “Mian.”

 

Jessica masih melebarkan matanya. Ia menatap Luhan tak percaya. “A-apa artinya ini?”

 

Luhan menunduk. “Aku hanya bisa memberikan itu untuk membalas perasaanmu. Karena, aku tak berniat menyukaimu. Jeongmal mianhae, Jessica”

 

Serpihan hati Jessica yang tadinya sudah utuh kini kembali pecah dan berhamburan kemana-mana. Ia yang sempat merasa bahagia karena Luhan menciumnya kini kecewa. Ia yang tadinya merasa terbang ke langit ke tujuh sekarang jatuh ke bumi dengan cara yang sangat menyakitkan.

 

Luhan mengambil tongkatnya lalu berdiri. Ia berjalan pergi tanpa menatap Jessica. namun langkahnya terhenti saat Jessica mengatakan sesuatu dengan suara parau yang lembut.

 

“Gwenchana. Saranghae”

Yeoja itu mengejar Luhan lalu berdiri di hadapan namja itu. Ia tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. “Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Aku hanya ingin kau tau perasaanku”

Jessica mendekat lantas memberika pelukan hangatnya pada Luhan. Ia melanjutkan tangisnya dengan suara tertahan.

Sementara Luhan, ia bingung harus melakukan apa. Matanya memerah menahan air mata. Mendengar pernyataan Jessica membuatnya ikut merasakan sakit hati Jessica.

 

*****

 

Pagi ini seperti biasa, Jessica bersama neneknya sarapan bersama di Smile House. Namun dari tadi Jessica tak menyentuh sedikit pun makanannya. Ia terus-menerus menatap bangku kosong disebelahnya.

 

“Jessie, kau mencari Luhan?”

 

Jessica mengalihkan pandangannya masih dengan ekspresi yang sama. “Ne. kemana Luhan?”

 

“Dia sedang di kamar. Ia bilang tidak mau di ganggu.”

 

Jessica terkejut dengan jawaban neneknya. Kini ia memasang ekspresi khawatirnya. “Benarkah? Sejak kapan, nek?”

 

“Kata Minami sejak kemarin malam”

 

Jessica terdiam. Ia teringat kejadian kemarin malam yang berhasil membuatnya melayang dan jatuh dalam waktu bersamaan. Membuatnya merasakan kebahagiaan sesaat dan kembali sakit.

Yeoja itu bangkit dari kursinya. Ia berjalan menaiki tangga, menuju kamar Luhan.

 

Tok tok tok~

“Luhan?”

 

Tidak ada jawaban dari dalam. Jessica semakin khawatir dan bingung. Pikirannya melayang pada hal-hal yang tidak ia harapkan.

“Lu! Luhan!”  Jessica berteriak seraya mengetuk pintu kamar Luhan dengan keras.

 

“Jessie, jangan keras-keras”

Nenek Jessica berlari menghampiri Jessica yang berteriak di depan kamar Luhan. “Biarkan. Dia sudah biasa seperti itu.”

 

Jessica menggiggit bibirnya. Jika Luhan menyendiri sejak kemarin malam, berarti ada sesuatu yang ia renungkan. Yeoja itu berpikir keras. Apakah Luhan merenungkan kejadian semalam bersamanya?

“Benarkah, nek?”  tanya Jessica khawatir.

 

“Iya, Jessie. Tenang saja. Lebih baik sekarang membereskan barang-barangmu. Besok kau kembali ke Korea kan?”

 

Jessica jadi teringat hari ini. Hari terakhir ia berada di Jepang. Berarti hari terakhir ia melihat Luhan.

“Nek, aku ingin menemui Luhan. Jebal~ Ini hari terakhirku disini nek”  rengek Jessica.

 

“Maaf, Jessie. Tapi jika Luhan sudah tidak mau diganggu, kita tidak bisa mengganggunya”

 

Jessica merengut kesal. Ia serasa mati penasaran dengan apa yang dilakukan Luhan di kamarnya. Ingin sekali ia menggambil gergaji mesin lalu menggergaji pintu kamar Luhan dan mengatakan ‘Hey, Xi Luhan! Hari ini hari terakhirku disini, jadi tundalah kelakuan konyolmu itu!’

 

“Sudah. Kajja kita pulang”

 

***

 

Jessica sedari tadi berguling kesana kemari di kamarnya. Ia melihat papan memonya yang bertuliskan ‘Goodbye JAPAN!’.  Ia merasa tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tempat yang awalnya akan ia benci seumur hidupnya namun berubah 180o setelah ia menemukan kemuliaan hati neneknya, keramahan penghuni Smile House, dan tentu saja seorang Xi Luhan yang berhasil merebut gelar sebagai cinta pertama di hati Jessica.

“Mengapa 14 hari berlalu begitu cepat?”

 

Yeoja itu menatap layar ponselnya. Seulas senyum terpancar dari wajah cantiknya. Ia sangat senang melihat wallpaper ponselnya yang menampakkan senyuman dengan mata sembabnya serta senyuman seorang namja manis yang merangkulnya.

“Ish.. ada apa denganmu, huh?”

 

Beep beep beep

Baru saja ia meletakkan ponselnya, namun benda tersebut berdering. Ia menatapnya sekilas dan seketika ia gelagapan. Dengan cepat Jessica mengangkat telfon masuknya.

 

“Luhan?!”

“Aigoo~ Jangan berteriak, Jess”

“Itu tidak penting. Ada apa denganmu? Mengapa kau mengunci pintu kamarmu? Kau marah padaku karena kemarin, eoh? Apa tadi kau mendengar teriakanku? Sekarang kau dimana? Sudah makan? Sudah minum obat?”

“Hahahahahaaa~ Jess, kau bertanya atau sedang rapping?”

 

Jessica merengut kesal, namun ia tersenyum detik berikutnya. “Aish.. jawab saja!”

“Geurae. Aku hanya punya sebuah urusan, tidak penting-”

“Jika tidak penting mengapa kau menyendiri?”

“Ckck.. sudahlah. Yang pasti aku tidak marah padamu dan aku mendengar teriakanmu yang sangat berisik yang mengganggu urusanku tadi. Menyebalkan”

“Mwoya? Yak! Besok aku sudah tidak disini, pabo!”

“Ne ne, arrasseo. Sekarang lebih baik kau istirahat, aku akan menemuimu besok”

“Jeongmal?”

“Ish.. sudah, tidur sana”

“Yak! Kau pasti rugi mengusirku seperti itu. Aku akan kembali ke Korea. Kau pasti akan merindukanku”

“Ne, aku akan sangat merindukan suara cemprengmu”

“MWO?!”

“Jalja~”

“Aish.. geurae. Jalja~ Saranghae”  setelah mengucapkan kalimat itu, Jessica mengumpati kebodohannya karena tidak ada jawaban dari Luhan.

“Eh, mia-”

 

“Ne. Aku menyanyangimu…”

 

Jessica tersenyum sumringah. Ia terbang ke luar angkasa.

 

“Aku menyanyangimu, chingu”

 

Krek~

Jessica kembali ke bumi dengan cara yang menyakitkan.

 

*****

 

Jessica keluar dari kamar dengan mata yang masih tertutup. Jika bukan karena Daddynya menelfon, mungkin ia masih berkencan dengan selimutnya.

Ia berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan, melawan rasa kantuknya. Tiba-tiba perasaannya aneh. Neneknya tidak ada di rumah.

“Nenek?”  panggil Jessica dengan suara khas bangun tidur.

 

Yeoja itu mengabaikannya. Mungkin saja neneknya sudah berangkat sarapan ke Smile House. Ia lantas masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.

Setelah 20 menit membersihkan diri, Jessica segera kembali ke kamarnya dan berdandan. Ia menyesal harus berdandan di hari terakhirnya berada di tempat ini.

 

Setengah jam kemudian, Jessica telah siap lengkap dengan kopernya. Ia membuka pintu rumah dan terkejut mendapati sopirnya sudah berada di depan gerbang. Ia berjalan keluar lalu memberikan kopernya pada orang tersebut.

“Kita ke klinik nenek dulu. Aku belum pamit”

 

“Nenek nona sudah memberitahu tuan. Tidak apa jika nona tidak pamit. Sekarang kita langsung ke bandara. Tuan menunggu disana”

 

“Mwoya?! Tapi aku harus menemui seseorang”

 

“Maaf nona, perintah tuan”

 

Jessica mengerang sebal. “Ku mohon. Aku harus ke-”

 

“Saya membawa body guard, nona”

 

Jessica menatap sebuah mobil yang berada di belakang mobilnya. Yeoja itu memutar matanya jengah. Ia menyerah lalu masuk ke mobilnya.

Dengan senyuman pahit, Jessica meninggalkan rumah neneknya. Kembali ke Korea tanpa melihat wajah Luhan untuk terakhir kalinya.

 

***

 

Jessica merengut membalas senyuman Daddynya. Ia bahkan tak membalas pelukan daddynya saking kesalnya karena dipaksa pulang tanpa berpamitan pada neneknya.

“Daddy tidak sopan. Daddy tidak ingin bertermu dengan nenek, huh?”

 

“Sudahlah, Jessie. Sebentar lagi pesawat kita. Kajja”

 

Yeoja itu masih merengut. Ia menatap layar ponselnya sejenak. Matanya terbelalak saat ada beberapa pesan masuk. Ia berhenti berjalan lantas membuka pesan-pesan tersebut.

 

From    : Luhan

Jessie, bisakah kau kemari sekarang? Luhan membutuhkanmu

Nenek

 

 

From    : Luhan

Jessie, Kau dimana? Luhan sedang kritis

Nenek

 

From    : Luhan

Jessie, Luhan ada di rumah sakit sekarang. Kau tidak ingin menemuinya?

Nenek

 

From    : Luhan

Jessie, kau sudah pulang kah?

Nenek

 

From    : Luhan

Rumah sakit umum Akibahara. Kemarilah jika kau masih ingin menemui Luhan, Jessie

Nenek

 

Dengan langkah seribu Jessica berlari meninggalkan daddynya beserta semua body guardnya. Ia tak mempedulikan teriakan daddynya yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Dadanya serasa nyeri membaca pesan singkat dari neneknya. Ia membodohkan dirinya sendiri karena sedari tadi tak membuka ponselnya sama sekali.

Dengan air mata yang terus berjatuhan, Jessica memasuki sebuah taksi.

“Rumah sakit umum Akibahara. Cepat!”

 

***

 

Jessica berlari memasuki rumah sakit tanpa bertanya pada siapa pun. Ia menelusuri seluruh lorong lantai pertama dengan nafas yang tersengal-sengal. Matanya menangkap siluet orang yang ia kenal. Ia segera berlari setelah melihat Minami berjalan memasuki sebuah lorong di bagian paling depan.

 

“Minami Kotori~”

Jessica segera berlari mengikuti Minami.

“Minami, Luhan?”

 

Minami mengusap air matanya seraya menujuk ke sebuah ruangan dengan pintu bertuliskan ICU. Jessica segera berlari ke ruang tersebut. Dan ia pun menemukan neneknya serta beberapa pasien dari Smile House.

“Nek.. Luhan.. dimana?”  tanya Jessica dengan nafas tersengal.

 

Nenek Jessica mengusap air matanya. Ia menatap Jessica dengan ekspresi sedih.

 

“Nek? Jawab aku, nek?”

 

Seorang dokter keluar dari ruang ICU diikuti beberapa perawat yang mendorong sebuah ranjang yang disana terbaring lemah seseorang.

Nenek Jessica bangkit dari duduknya dan menatap sang dokter.

 

“Dokter”

 

Sang dokter tersenyum pahit serta menggeleng. “Kita sudah tahu ini akan terjadi, dan Luhan sudah menyadarinya. Maaf, Luhan sudah pergi”

 

Tubuh Jessica merosot seketika. Air matanya semakin deras mengalir. Ia menatap ranjang yang berhenti di hadapannya dengan wajah sangat sedih dan kecewa.

“Luhan”

 

Para perawat mendorong ranjang tadi menjauh dan semakin menjauh. Jessica menatapnya dengan air mata yang semakin deras. Ia menggiggit bibirnya agar tak mengeluarkan suara isakan.

Perasaannya sangat hancur saat ini. Lebih hancur dari pada saat Luhan mengatakan tidak berniat menyukainya. Lebih hancur dari pada saat Luhan hanya menganggapnya sebagai teman.

Hancurnya hati Jessica tidak bisa digambarkan sekarang. Yang pasti ia sangat hancur.

 

Jessica terus mengeluarkan air mata. Tidak percaya dengan apa yang ia dengan dari dokter tadi. Tidak percaya dengan seseorang yang ada di ranjang tadi. Tidak percaya dengan kenyataan bahwa Luhan telah meninggalkannya. Tidak untuk sementara, tapi untuk selamanya.

 

“Hiks.. hiks.. hiks… Luhan..”

Akhirnya Jessica tak bisa menahan isakannya. Ia menangis sekeras-kerasnya disana. Ia tidak bisa menerima ini. Semua ini berakhir begitu cepat. 14 hari dimana ia merasakan kebahagiaan dan kehancuran.

 

“Luhan… katakan… ini hanya mimpi.. hiks.. hiks..”

 

Nenek Jessica memegang bahu cucunya. Ia membantu Jessica berdiri dan memeluk yeoja itu. Neneknya juga merasa sangat kehilangan, walau ia tahu hari ini akan datang. Hari dimana Luhan akan meninggalkan semuanya.

 

“Nek, sebenarnya Luhan sakit apa?”  tanya Jessica sesenggukan.

 

Nenek Jessica melepas pelukannya. Tangannya menarik telapak tangan Jessica, memberikan sebuah benda milik Luhan.

“Tadi Luhan memberikan ini pada nenek. Kau akan tahu semuanya disini”

 

Jessica menatap ponsel Luhan dengan bingung. Ia segera mengotak-atik benda tersebut.

 

“Luhan bilang kau harus melihatnya setelah kau berada di Korea”

 

***

 

Jessica menatap nisan dihadapannya dengan air mata yang masih mengalir. Ia tak kuat berdiri dan tersungkur di tanah merah tempat bersemayamnya jasad namja yang ia sukai. Tidak, ia cintai.

“Semua ini terlalu cepat, Lu”

 

Daddy Jessica menepuk pundak putrinya. Ia membantu Jessica berdiri. “Kau masih mau disini?”

 

Jessica menggeleng pelan. “Ani. Aku ingin segera pulang”

Yeoja itu meletakkan setangkai krisan putih yang ia petik dari taman bunga kesukaan Luhan. Senyuman pahit dan kesedihannya menutup perjumpaan terakhirnya dengan Jepang.

 

*****

 

4 P.M. South Korea Time

 

Seorang yeoja dengan rambut emasnya duduk di taman rumahnya. Ia menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi. Ia merasa sangat kosong setelah kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Seseorang yang membuatnya menjadi yeoja cerewet, ceria, dan lucu. Seseorang yang sekarang juga membuatnya nampak tak bernyawa. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya.

 

Ia mengeluarkan sebuah benda tipis berwarna putih. Ia menyalakan benda tersebut, dan terpajanglah foto selcanya yang ia pajang di kamarnya saat di Jepang. Foto yang terpajang di figura dan dipotret lagi oleh sang pemilik ponsel.

 

Jessica menggeledah isi ponsel Luhan. Ia hanya menemukan beberapa file saja di ponsel tersebut. Tidak ada yang istimewa. Namun ia tiba-tiba penasaran saat melihat sebuah file sound record berjudul  ‘JESSICA JUNG’

Tanpa pikir panjang, Jessica membuka file tersebut.

 

 

Annyeonghaseyo. Xi Luhan imnida~

Aku yakin orang pertama yang mendengar rekaman ini adalah orang yang namanya ku gunakan sebagai judul file ini.

Annyeong, Jessica Jung?

 

Jessica tersenyum mendengar suara lembut Luhan pada rekaman itu. Matanya mulai berkaca-kaca.

 

Apa kau mau tau mengapa aku menggunakan namamu sebagai judul file ini? Mau tau? Hmm?

Hahahaa..

Kau akan tau, Jess. di dalam rekaman ini hanya ada tentang dirimu. Semua tentang dirimu dari sudut pandangku.

 

Jess, maafkan aku.

Maaf aku telah meninggalkanmu. Maaf jika aku pernah menyakiti perasaanmu. Maaf aku mengatakan ‘aku tidak berniat menyukaimu’

Maaf aku menciumu tanpa izin. Hehee

Maaf aku sudah meninggalkanmu. Dan… maaf berpura-pura menganggapmu hanya sebatas teman.

 

Jessica mempause rekaman itu. Matanya melebar mendengar kalimat terakhir tadi.  “M-mwo?”

Dengan penasaran ia kembali memplay rekamannya.

 

Kau tau? berbohong padamu. Aku berbohong tentang perasaanku padamu, Jess. sekali lagi maafkan aku

Sekarang aku ingin membongkar semuanya. Semuanya tentang perasaanku, padamu

 

Malam itu, tepat 14 hari yang lalu. Aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut emasnya makan malam bersama kami. Ia menekuk wajahnya sembari menatap makanan. Sungguh lucu.

Aku merasakan perasaan aneh. Ingin sekali aku tertawa melihat wajah gadis itu. Namun aku tak melakukannya mengingat si kanker tulang belakang ini semakin parah.

 

“Lu… han” Jessica mulai meneteskan air mata. Sungguh ia tak menyangka ternyata Luhan lebih dulu melihatnya dari pada dirinya sendiri.

 

Keesokan paginya, gadis yang aku ketahui sebagai cucu nenek pemilik klinik ini datang ke kamarku. Aku tidak menyambutnya dengan baik. Bukan karena sikapnya yang childish, melainkan karena jantungku yang berdegup kencang saat gadis itu berbicara dengan logat Jepangnya yang aneh. Huh.. lagi-lagi aku hanya bisa menahan tawaku dan tetap berlagak dingin padanya.

 

Gadis itu datang ke kamarku setiap pagi. Membawakanku sarapan dan obat. Sungguh gadis yang luar biasa. Di Smile House, tidak ada yang berani memaksaku makan. Namun gadis satu ini sangat gigih dan pantang menyerah membuatku makan 3 kali sehari. Hal itu semakin membuat jantungku bergdegup kencang tiap kali melihatnya.

 

Sampai pada siang itu, dia menghampiriku yang sedang menyanyikan sebait lagu. Lagu yang sebenarnya menggambarkan perasaanku padanya. Eum.. bagaimana lagunya

Ekhm.. Cheoeumbuteo nae sarangingeollyo~  Chagaun nae mame ttaseuhi bichujyo~
Hangeoreum hangeoreum dagaoneun sarang~ Nan jogeumeun duryeopjiman~”

Ya tuhan, dengan suara merdunya ia menyambung lagu yang kunyanyikan

Seolleineun nae sarangingeulyo~ Biodeut sarangi nae mameul jeoksyeoyo~ Nae mami nae mami ijen sarangingeollyo~

 

Jessica menggiggit bibirnya. Kejadian itu kembali berputar di otaknya. Membuat dadanya semakin sesak.

 

It was my love since the beginning. That warmly shines on my icy heart. The love that comes to me step by step.Although I’m a bit afraid…

Hari itu aku benar-benar merasakan kebahagiaan. Aku merasakan diriku yang lain. Diriku yang hidup kembali setelah terpuruk. Ia membuatku kembali tersenyum setelah.. entah berapa lama aku tidak tersenyum. Dia membuat jantungku selalu berdegup kencang. Dia.. dia membuatku jatuh cinta

 

Air mata Jessica semakin deras. Ia meremas ujung roknya, melampiaskan kesakitan di dadanya.

 

Sayangnya disaat aku mulai nyaman di sampingnya, ia mengingatkanku akan sesuatu. Makan. Jika mendengar kata itu aku teringat penyakitku. Aku selalu mengatakan . ‘Aku tidak perlu makan jika sebentar lagi aku akan mati. Percuma.’

Yah karena aku memang tau bahwa hidupku sudah tidak lama lagi.

 

Setelah aku ingat bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia, aku kembali bersikap dingin pada gadis itu. Aku berusaha agar perasaanku padanya terhapus dan menghilang.

Namun semua itu sia-sia. Mendengar suara gadis itu selalu membuatku nyaman. Membuat hatiku diselimuti rasa hangat.

 

Aku tidak bisa menghapus perasaan ini. Perasaan yang semakin hari semakin bertambah. Aku tak bisa melakukan apa pun untuk melenyapkan rasa ini.

 

Aku melihat sorot matanya yang hangat. Aku takut. Aku takut jika ia menyukaiku. Aku takut jika nantinya orang yang ia sukai pergi dari hidupnya, ia akan sakit. Ia akan kecewa.

Jadi dengan berat hati aku membohonginya dengan kata-kata yang ku yakin membuatnya sakit hati.

 

Jess, aku sangat menyesal mengatakan itu padamu. Aku sangat menyesal berbohong padamu. Kali ini aku akan jujur.

Aku juga menyukaimu. Sangat menyukaimu, bahkan saat pertama kali melihatmu.

 

Terimakasih sudah memberikan14 hari yang sangat indah dalam hidupku. 14 hari yang merubahku, membuatku merasakan apa yang dinamakan cinta. Memang terkadang cinta sangat menyenangkan dan menyedihkan.

Dan dalam 14 hari itu aku sudah merasakan pahit dan manisnya cinta. 14 hari terakhir hidupku di dunia.

14 hari yang terasa seperti di surga, saat aku bersamamu.

 

Maaf aku hanya bisa menyampaikan semua ini lewat ponsel sialanku. Dan,

Terimakasih telah datang dalam kehidupanku.

Kau adalah cinta pertama dan terakhirku.

Nan jeongmal saranghaeyo, Jessica Jung.

 

Jessica meletakkan ponsel Luhan. Nafasnya sudah tak karuan karena menangis dengan gila. Air matanya membasahi mini dress yang ia pakai. Matanya sembab, hidungnya memerah. Dan bibirnya sedikit robek dan berdarah karena sedari tadi ia menggiggit bibirnya untuk melampiaskan rasa sakitnya.

Ia kembali mengambil ponsel Luhan. Ia melihat sebuah catatan dengan pink paper.

 

Berjanjilah padaku untuk terus melanjutkan hidupmu.

Temukan cinta lain selain diriku. Jalani kehidupanmu, my love. Aku akan mengawasimu disini.

 

Jessica tersenyum disela tangisnya. Ia mengacungkan jari kelingkingnya ke atas. Yeoja itu menatap langit yang biru.

“Aku berjanji akan melanjutkan hidupku, Luhan~! Tunggu aku disana~!”   Jessica berteriak dengan suara parau. Ia tersenyum walau dengan air mata yang masih menetes.

 

 

Aku tidak akan pernah melupakan sedetik pun dalam 14 hari itu.

14 hari yang merubah diriku. Membuatku lebih ceria dan memaknai setiap kejadian dalam hidupku. Membuatku lebih tau apa arti sebuah kasih sayang.

Terimakasih Tuhan, telah mengirimku ke Jepang waktu itu. Terimakasih Daddy, telah memaksaku berlibur disana. Dan..

Terimakasih Luhan, kau telah membuatku merasakan cinta..

I love you so much, my love..

 

-Jessica-

 

________________________________________END_________________________________________

37 thoughts on “[Freelance] (Oneshot) : 14 Days

  1. Demi apa aku nangis bacanya thor T^T
    Langsung bocor/? pas scene terakhir (pas jessica dengerin rekaman suara Luhan)
    dan teriak2 tapi ditahan/? pas scene Luhan nyium sica u,u kesel pas tau luhan bilang gk ada niat buat suka sama jess,kepikir luhan itu cowok yg gk peka :3
    endingnya sih mikirnya neneknya cuma ngibulin jessica,eh ternyata beneran ;3;
    aiih suka banget ff nyaa, masih ditunggu ff lainnya😀

  2. ceritanya nyentuh hati banget thor.wktu baca pngen nangis.smuanya baru terungkap saat sica eon pulang.ternyata lu ge juga cinta bahkan diawal lu ge lhat sica eon.lu ge kasian skit kyk gtu. sweet bnget baca kata2 kau cinta pertama & terakhir.next ff dtnggu thor dan KEEP WRITING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s