Back To December – Drabble

image

Author : Kim Jemi

Title   :   Back To December

Cast (s)   :
    – Jessica Jung
    – Xi Luhan
    – Tiffany Hwang
    – And Other

Genre   :   Angst, Romance, Friendship

Rating   :   PG – 13

Length   :   Drabble

Backasound   :   Taylor Swift – Back To December

If the choice is in your hands, I understand.

》》》《《《

Seoul, April 2014

     Semua berjalan seperti biasa. Musim semi kali ini sama dengan musim semi pada tahun – tahun yang lalu. Namun, hanya satu hal yang berbeda. Pria itu. Hanya dia yang berbeda. Gadis itu termenung sambil menyaksikan bunga yang bermekaran lewat jendela kamarnya. Enggan rasanya membuka jendela karena udara musim dingin masih terasa.

     Diliriknya jam di sampingnya, pukul 07.32. Ia menghela napas kasar dan bangkit menuju lemari pakaian. Seulas senyum perlahan mengembang mengingat pesan singkat yang ia terima tadi malam. Masih jelas teringat betapa senangnya ia mendapatkan pesan itu.

Ya, pesan singkat dari pria itu.

     Sebenarnya ia tak ingin menerima ajakan pria itu untuk bertemu. Ia tak ingin kembali mengungkit ungkit masa lalu yang sudah ia tekadkan untuk melupakannya. Ia tak ingin kembali mengingat betapa terlukanya wajah pria itu. Ia tak ingin kembali mengingat semua yang terjadi pada Desember lalu.

Desember. Betapa ia sangat membenci dirinya pada bulan itu.

     Ia tak menyangka pada akhirnya ia akan sangat menyesali ucapannya kala itu. Ucapan yang menyakiti hati pria itu. Rangkaian kata yang telah membuat jarak di antara mereka. Sebulan yang lalu, saat ia menyadari bahwa ia mencintai pria itu, ia mengerti betapa sakitnya pria itu.

     Sejak saat itu, pria itu tak pernah menghubunginya lagi. Pesan singkat yang ia kirim untuk pria itu tak pernah mendapat balasan. Selain ia tak bisa bersama pria itu, jarak juga menjadi terbentang luas di antara mereka.

Kring. Kring.

     Gadis itu sontak menoleh mendengar benda persegi hitam di ranjangnya berbunyi nyaring. Ia lalu melepas beberapa pakaian di tangannya dan mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa penelponnya.

“Yeoboseyo?”

“…”

“Hmm, arraseoyo. Aku akan segera berangkat ke sana. Tunggu aku.”

     Sekali lagi seulas senyum kembali mengembang di bibir ranumnya. Dengan sigap, ia mengambil pakaiannya tadi dan mengganti piyamanya.

》》》《《《

Ia tak percaya.

     Kini pria itu duduk di hadapannya. Pria dengan surai kemerahan itu tersenyum simpul menatapnya. Kemeja putih dan jaket hitam ditangannya seakan menambah kesan tampannya. Gadis itu hanya tersenyum melihat pria dambaannya yang telah hilang kini kembali ada di hadapannya. Ingin rasanya ia berdiri dan memeluk pria itu, namun ia urungkan.

     Sedari tadi, ia mencoba memikirkan alasan pria itu datang menemuinya. Apa pria itu datang dan mencoba menyatakan perasaannya kembali? Ah, ia sangat senang apabila tebakannya itu tepat.

“Hmm, aku tak ingin membuang waktu, jadi…aku ingin memberitahumu sesuatu, Jess.” Pria itu menunduk dan mengaduk lattenya.

“Katakan saja, Lu. Aku juga ada urusan lain setelah ini.”

Pria itu menatapnya, “Maaf, karena aku tak pernah mengangkat telpon darimu, membalas pesan singkatmu, atau menghubungimu. Tapi percayalah, semua pesan singkat yang kau kirimkan selalu ku simpan di folder khusus untukmu. Kau…special.”

     Rona merah di pipi pria itu membuat debaran jantung gadis itu semakin menjadi – jadi. Luhan – nama pria itu perlahan menggenggam tangan Jessica yang berada di dekat cangkir lattenya.

“Aku masih ingat rasanya saat kau menolakku waktu itu. Tapi kini perlahan aku mulai bisa menerimanya. Aku hargai keputusanmu waktu itu. Tapi, kali ini aku ingin memberitahumu sesuatu yang lebih penting daripada bernostalgia kembali.”

     Ia memperbaiki posisi duduknya. Pria itu merogoh saku kemejanya dan memberikan Jessica sebuah kertas berukuran sedang berwarna perak-emas.  Alis Jessica bertaut dan membolak balikkan kertas itu.

“Itu… itu adalah undangan pernikahan.”

     Sontak Jessica berhenti membolak – balikkan undangan itu dan menoleh cepat ke Luhan. Apa? Apa maksud dari pria itu? Undangan pernikahan siapa? Atau mungkin ia sudah gila dan memberikan Jessica undangan pernikahan sebagai wujud perasaannya?

Luhan menghela napas, “Itu undangan pernikahanku. Maaf, aku baru memberitahumu sekarang bahwa aku telah dijodohkan dengan seorang putri bangsawan cina. Pada awalnya aku sama sekali tak tertarik untuk mengikuti perjodohan itu, tapi lama – kelamaan gadis itu membuatku penasaran dan akhirnya aku jatuh cinta kepadanya. Aku tak bisa mengabarimu karena aku takut. Yah, entah karena alasan apa aku bisa menjadi takut seperti itu.”

     Pria itu melirik arlojinya dan dengan sigap berdiri. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakannya di meja. Senyum simpul masih terukir di bibirnya.

“Aku harap kau akan dengan senang hati datang.” Luhan lalu berjalan melewati Jessica menuju pintu cafe.

     Gadis itu terdiam. Ia masih harus mencerna perkataan pria itu pelan – pelan. Kejadian barusan seperti kaset macet di otaknya. Tak bisa berjalan mulus seperti yang diinginkan. Kelopak matanya mulai sakit dan terasa panas. Pipinya yang tadinya merona merah, kini kian memucat. Sebulir air mata jatuh di pipinya, disusul dengan bulir air mata yang lain.

     Ia meremas undangan itu dan melemparnya pelan ke dalam saku jaketnya. Entah palu sebesar apa yang kini menghantam ulu hatinya. Yang pasti itu sangat sakit. Kini ia mengerti sakit yang dialami Luhan waktu itu. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia telah bertekad akan membuat Luhan bahagia jika mereka bisa bersatu. Ia telah bertekad untuk memberikan seluruh cintanya untuk Luhan. Namun kini tekadnya itu telah terhempas jauh dari hatinya, bagaikan di terbangkan angin dan tenggelam di dasar laut paling dalam.

Jika pilihan ada di tanganmu, aku mengerti.

     Setidaknya kalimat itu terasa pahit. Lebih pahit daripada kopi tanpa gula. Lebih pahit dari apapun. Sambil menghapus sisa air matanya, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan undangan tadi. Perlahan ia membaca sederet kata – kata yang tertera rapi di kertas perak itu.

Xi Luhan & Tiffany Hwang.

     Tiffany Hwang? Ah, ia ingat gadis itu. Gadis ketuunan cina – amerika yang isunya mati – matian memaksa keluarganya untuk menjodohkannya dengan Luhan. Dulunya ia tak percaya dengan kabar burung tersebut, namun kini ia percaya setelah burungnya sendiri yang berkicau.

     Jessica mengusap wajahnya dengan kedua tangannya pelan. Biarlah semuanya akan ikut mencair dengan salju musim dingin. Biarlah semuanya akan hilang tertiup angin musim dingin. Kini hidupnya akan seperti musim semi, seperti bunga yang bermekaran dengan indahnya, tanpa ada beban yang menghambatnya, yah, salju.

END

Hahaha (?) Gimana drabble gajenya? ._. Beneran gajekah? Atau hancur?😀 yah, dimohon permaklumannya karena ini aku buat cuman semalem. Wkwk. Yang penting ini drabble perpisahan dari aku😛 kayaknya aku comebacknya mei deh😐 tapi aku usahain akhir april, ye😛 oke, paipai!

23 thoughts on “Back To December – Drabble

  1. Hua😥 aku kirain LuSica bakal bersatu ternyata enggak!! Tapi gpp thor alurnya nyentuh banget!! Terharu aku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s