[Freelance] Because It’s You – Chapter 1

because1

  • Judul: Because It’s You
  • Author: Erika Kim
  • Rating: PG-13
  • Length: Chapter
  • Genre: Romance, Angst.
  • Main Cast: Kris-Jessica-Luhan
  • Support Cast: Taeyeon

Annyeong Haseyo!!! Pada belum kenal aku kan ya? Kkkk~ kalian bisa panggil aku Erika ^^ iya ini ff pertama ku loooooooooo /seketika hening/ ya jadi maaf-maaf aja kalau ff ini rada abal-abal dan gaje wkwkwk.

 

INSPIRED BY NOVEL, ANIME, MANGA, ETC.
All cast belong to SM Entertaiment
Because It’s You – Chapter 1

“Jessica Jung! Kenapa kamu terlambat lagi? Mau paman pecat? “ ucap Park Ahjussi.  “Jeoseonghamnida, ahjussi! Aku tidak akan lupa lagi setelah ini.” Ucap Jessica sambil membungkukkan badannya berkali-kali.

Ya, Jessica Jung. Siapa yang tak kenal Jessica Jung? Well, dia bukanlah seorang artis dan wajar saja jika ia tidak terkenal. Tapi ia cukup terkenal karena keramah-tamahannya sebagai seorang pelayan di Haksaeng Café, sebuah café yang berada di daerah busan yang notabenenya adalah milik Park Ahjusshi. Sebenarnya, Park Ahjusshi bukanlah pamannya, namun Tuan Park sendirilah yang menyuruh Jessica untuk memanggilnya ‘Ahjusshi’. Dia juga terkenal akan kecantikannya bak bidadari turun dari langit. Tidak mungkin kan seorang gadis blasteran korea-amerika mempunyai wajah yang jelek? Sangat tidak mungkin.

Jessica kembali fokus kepekerjaannya walaupun sulit. Dia sakit, demam. Itulah alasannya datang terlambat bekerja, tentu saja. Ya, Jessica memang bukanlah tipe orang yang senang datang awal ke tempat bekerja. Tapi, ia bukan juga orang yang gemar datang terlambat. Bisa dibilang ia hanya datang tepat pada waktunya.

“Jessica. Bisakah kau kemari sebentar?” Tanya Park Ahjussi. “Nde, ahjussi. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Jessica sopan. “Ambillah tas hijau kecil di teras rumahku. Ahjussi sudah menyiapkannya sejak tadi pagi. Ya biasalah, penyakit orang tua ini sering kambuh. Ahjussi lupa membawanya.” Ucap Park Ahjussi seraya tertawa. “Nde Ahjussi. Aku berangkat.” Balas Jessica sambil tersenyum.

===

                “Ya! Kenapa harus aku? Melelahkan.” Gerutu Jessica dalam hati. Ia berjalan dengan lemas dan sedikit lambat. Keadaan tubuhnya yang sedang tidak fit dan ditambah dengan musim dingin yang begitu menjengkelkan baginya. Salju-salju yang menutupi jalanan pun ikut membantu untuk melambatkan langkahnya.

BRAK

Mungkin karena Jessica terlalu sibuk menggerutu, secara tidak sengaja dia menabrak seorang laki-laki—yang kelihatannya sedang terburu-buru. Bukannya meminta maaf Jessica malah langsung pergi begitu saja dari hadapan laki-laki itu. Entah ada angin apa tetapi lelaki itu malah mengerjarnya.

Agassi! Dompetmu.” Ucap laki-laki itu yang sukses membuat Jessica berhenti dan langsung menghampiri lelaki itu. “Ah paboya.” Ucap Jessica lebih kepada diri sendiri. “Mwo? Kau mengataiku?” lanjut laki-laki itu dengan tampang sedikit masam.

“A-ah aniyo. Aku tidak mengataimu.” Ucap Jessica sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku hanya merutuki betapa bodohnya diriku.” Lanjutnya sambil tertawa paksa.

“Ya, kalau dilihat-lihat kau memang bodoh rupanya.” Balas laki-laki tadi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hah? Terserah kau saja lah.” Ucap Jessica acuh tak acuh dan bergegas pergi dari hadapan lelaki ini. Namun dengan cepat lelaki itu menahan tangannya. “Apa lagi?” Tanya Jessica seraya memutar matanya dengan malas.

“Kau ini tidak tau terima kasih ya?!” Jessica tersentak karena lelaki itu berbicara dengan nada yang sedikit tinggi. “K-kamsahamnida. Jeongmal kamsahamnida.” Ucap Jessica sedikit gugup sambil membungkukkan badannya.  Jessica kemudian berdiri kembali. Entah mengapa Jessica merasakan sensasi yang aneh dalam dirinya. Jessica mengerjapkan matanya berkali-kali karena tiba-tiba saja ia merasa dunia berputar di sekelilingnya. Pandangannya entah mengapa mulai mengabur dan berkunang-kunang.

Cheonma. Agassi, apakah kau sakit? Wajahmu pucat sekali.” Tanya lelaki itu tiba-tiba.

Jessica berusaha agar matanya tetap terbuka. Meskipun otaknya telah menyampaikan pesan tersebut, tubuhnya tidak mau menurut. Tiba-tiba saja sekelilingnya menjadi gelap dan hilang entah kemana. Ia lunglai di tempat.

Agassi!”

Entah sadar atau tidak sadar, namun Jessica masih bisa mendengar lelaki itu menyerukan ‘agassi’ dengan panik. Lelaki itu mengguncang-guncangkan tubuh Jessica pelan dan menepuk-nepuk pipi Jessica. Jessica masih bisa melihat dengan jelas betapa wajah khawatir lelaki itu, sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran.

===

Kris meletakkan tubuh gadis yang baru saja—secara tidak sengaja ditabraknya yang tiba-tiba pingsan di atas sofa apartemennya dengan pelan. Ia meringis pelan melihat betapa pucatnya wajah gadis yang ada dihadapannya ini.

“Menyebalkan.”  Gerutunya sebal. Tujuan awalnya yang semula ingin pergi ke tempat service computer gagal total hanya gara-gara gadis yang tiba-tiba pingsan dihadapannya itu. Kris mendengus dengan kasar. Bagaimana tidak? Niatnya semula hanya ingin mengembalikan dompet gadis itu malah menjadi serumit ini. Bahkan semuanya kegiatan yang sudah ia rencanakan sejak tadi pagi hancur begitu saja. Rencana Kris yang ingin sarapan pagi di salah satu café favoritnya sambil menelpon yeojachingunya hanyalah mimpi belaka.

“Baiklah.” Ucap Kris sambil membetulkan posisi duduknya dan langsung menyambar handphone yang ada di meja.

Tut Tut Tut

Tut Tut Tut

“Oh ayolah. Bisakah kau tidak membuatku khawatir?” ucap Kris sambil mengusap wajahnya kasar. Kris kembali lagi kepada handphonenya dan mencoba menghubungi yeojachingunya lagi. Namun hasilnya tidak jauh beda dari sebelumnya. Kekasihnya tidak mengangkat telpon darinya.

“Terserah jika itu yang kau mau.” Ucap Kris kesal sambil melemparkan handphonenya kesegala arah. Oh ayolah siapa yang tidak kesal telponnya tidak diangkat? Terutama disaat kita mengkhawatirkan seseorang? Bullshit memang jika Kris tidak khawatir saat ini. Bahkan telponnya tidak diangkat saja, bisa membuat seorang Kris Wu menjadi sekhawatir dan se-bad mood ini.

===

                Gadis itu menggeliat kecil dan perlahan membuka kelopak matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Sontak saja ia terkejut dan berteriak “Nuguseyo?” Kris, laki-laki itu terlihat bingung ingin menjawab apa. “Eh..itu..a-aku..” “Kau penjahat kan? Eomma tolong aku!” balas gadis malah berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Ya begitulah pikir Kris.

A-aniyo. Aku lelaki yang menyelamatkanmu, Agassi. Tadi kau pingsan dijalan jadi aku—“ “Kau bohong! Aku tau kau menculikku kan?! Ayo mengaku saja. Atau jangan-jangan kau adalah permerkosa?! Hiks ayo cepatlah mengaku.” Paksa gadis itu dengan ekpresi antara marah dan terisak sambil memukul-mukul badan Kris dengan bantal sofa.

Agassi tenanglah! Aku adalah orang yang menolongmu. Kau tidak ingat?” Tanya Kris dengan nada yang lebih halus dari sebelumnya. “A-apa..Tidak mungkin! Kau pasti om-om cabul yang ingin memperkosaku kan! Hiks! Ayo mengaku. Cepat!” gadis itu terus saja mendesak Kris bahwa ia adalah seorang penjahat dan sebaginya. Gadis itu bahkan masih memukuli Kris dengan bantal sofa.

“Ya! Agassi! Apakah ini caramu berterima kasih atas pertolongan seseorang? Mana mungkin aku memperkosaimu. Lihat bahkan kau ada diatas sofa, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu?”  ucap Kris membuat gadis itu seketika menghantikan aksinya.

“Benarkah kau orang baik? Bisakah aku mempercayai kata-katamu?” Tanya gadis itu sedikit hati-hati. “E-em ya tentu saja.” Ucap Kris sedikit gugup. “Pabo! Kenapa tidak bilang daritadi?” jauh dari harapan Kris gadis ini malah mengatainya bodoh. Plus melempari bantal sofa tepat ke wajahnya.

“Kau benar-benar…” ucap Kris geram. “Yosh, baiklah. Namaku Kris Wu. Tapi kau bisa memanggilku Kris.” Lanjut Kris. Gadis itu hanya mengangguk tanda mengerti. “Hey Kris. Apakah apartemen ini milikmu? Oiya, apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu untuk menyediakan minum untuk tamu?” bukannya memperkenalkan dirinya gadis itu malah mengomeli Kris karena tidak memberinya minum. Dasar tidak tau malu. Batin Kris.

“Maaf, Agassi. Tapi aku tentunya tidak akan member minum kepada orang yang bahkan aku tidak ketaui namanya.” Ucap Kris kemudian berjalan kedapur. Gadis itu mendengus sebal. Entahlah namun didetik selanjutnya gadis itu malah mengerjar Kris.

“Mian. Namaku Jessica, Jessica Jung.” Nama yang cukup bagus, pikir Kris. “Well, namamu cukup bagus. Tapi, kenapa prilakumu tidak?” sindir Kris. “Terserah apa katamu. Kemarikan minumannya.” Balas Jessica acuh tak acuh.

Kris memberikan minuman itu kepada Jessica dan berlalu. Tiba-tiba saja sebuah tangan menahan langkahnya menjauh. Ia menoleh dan mendapati Jessica terlihat gugup. Gadis itu terlihat bingung antara mengatakan hal tersebut atau tidak. “Ya! Lepaskan tanganku dan katakan apa yang kau mau.” Ucap Kris yang tanpa diduga-duga oleh seorang Jessica.

“A-apakah kau memiliki handphone Kris? Tadi aku lupa membawanya. Sekarang, Park Ahjusshi pasti sangat khawatir padaku.  Ah! Eottokhae??!!” teriak Jessica frustasi. “Mwo? Park ahjusshi? Maksudmu Park Chanyeol?” bukannya memberika solusi akan masalah Jessica, Kris malah bertanya kepada gadis tersebut.

“Kau mengenalnya?” Tanya Jessica dengan tampang polosnya. “Park Chanyeol adalah ayah angkatku. Biar aku saja yang memberitahukannya.” Ucap Kris. “Tapi Kris—“ “Sudahlah. Gwaenchana. Aku yakin dia tidak akan marah.” Kris berusaha menenangkan Jessica. “Ayo aku antar kau pulang.” “Baiklah Kris.”

===

                “Nde, Appa. Dia tadi pingsan. Kuharap Appa tidak memarahinya.” Jelas Kris. “Oh tentu saja. Jessica adalah karyawan yang baik. Kau boleh pulang Kris.” Ucap Park Ahjusshi. Kris berjalan keluar ruangan dan ia mendengar seseorang menyerukan suaranya. Sontak ia menoleh kebelakangan dan mendapati Jessica dengan senyum menawannya mengucapkan ‘gomawo’ dengan gerakan mulut tanpa suara.

“Kau tau apa kesalahanmu, Nona Jung?” Jessica menggeleng lemah. Ia sudah tau kalau semuanya akan berakhir begini. “Baiklah, akan ku jelaskan padamu. Pertama, ini sudah kedua kalinya kau menghilang begitu saja ketika aku menyuruhmu mengambil barang penting. Kedua, kau sudah berani-beraninya menggoda putraku. Ketiga, kau dating terlambat tadi pagi.”

Jessica menutup mulutnya dengan tangan. Sungguh ia tidak percaya bahwa Park Ahjusshi baru saja mengatainya menggoda putranya. “Jeosonghamnida. Jeongmal Jeongsonghamnida.”

“Sekarang juga keluar dari tempatku dan jangan pernah kembali lagi kesini. Maafkan aku.” Ucap Park Ahjusshi. “Nde, Ahjusshi. Terima kasih atas semuanya.” Jessica berjalan gontai meninggalkan Haksang Café.

===

                Jessica’s POV

“Lu, aku dipecat oleh Park Ahjusshi. Argh eottokhae? Eottokhae aku akan hidup disini?”  Jessica berteriak-teriak sendiri dengan handphone yang masih menempel di telinganya.

“Jess. Kau ke sini saja hidup bersamaku dan mencari pekerjaan disini.”

“Ya! Micheosseo?!”

“Bisakah kau tidak berteriak?!”

Mwo? Kau membentakku?!”

A-aniya. Terserah jika kau tidak mau tinggal denganku.”

Tut Tut Tut

Tut Tut Tut

Awas saja kau Xi Luhan tunggu pembalasanku. Batinku. Alangkah baiknya kalau aku terima tawaran Luhan. Lagipula bukankah mencari pekerjaan di Seoul lebih mudah daripada di Busan? Ah Luhan kau memang pintar. Eh, ani aku yang lebih pintar. Batinku membela diri seraya menggelengkan kepalaku.

Normal’s POV

Jessica akhirnya memilih untuk tinggal di Seoul bersama Luhan. Menjalani kehidupan baru bersama Luhan bukanlah hal yang buruk,pikirnya. Lagipula ia sudah sangat merindukan Luhan. So, why not?

Mwo???” Jessica berteriak dengan handphone yang masih melekat ditelinganya. “Xi Luhan ayolah, jemput aku. Apakah pekerjaanmu tidak bisa ditinggal? Ini seoul aku tidak tau seluk beluk seoul.” Terdengar helaan napas dari seorang Jessica Jung. “Arraseo arraseo. Aku akan menunggumu 15 menit lagi.”

 

===

                “Ya! Kenapa kau lama sekali menjemputku?!” teriak Jessica kesal ketika mereka sudah berada di mobil Luhan. “Mianhae, Jess. Aku baru saja pulang bekerja.” Ucap Luhan sambil memandang Jessica lembut. “Mwo? Seorang Xi Luhan bekerja? Lelucan macam apa itu. Jebal, itu tidak lucu.” Jessica tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Luhan hanya memutar matanya kesal melihat Jessica yang terus menerus meledeknya. “Atau jangan-jangan kau hanya mencari muka didepanku, huh? Luhan.. jebal….Hahahah.” tawa Jessica menggema di didalam mobil Luhan.

“sudah puas meledekiku?” Tanya Luhan dengan tampang kesalnya. “Tentu saja belum. Hahahaaha.” Tawa Jessica semakin menjadi-jadi. Bahkan ia sampai menepuk-nepuk pundak Luhan. “Apa kau masih akan tetap tertawa seperti orang gila seperti itu? Yasudah, aku masuk duluan saja ke apartemenku.” Ujar Luhan kemudian berdiri dan membuka sabuk pengamannya. Ia kemudian berjalan keluar meninggalkan Jessica sendirian di mobilnya.

“Ya! Xi Luhan! Tunggu aku.” Sialan kau Luhan. Umpat Jessica dalam hati. Alhasil, Jessica berjalan tergopoh-gopoh karena membawa barang-barangnya sendirian. Ini semua karena Luhan yang meninggalkannya sendirian dimobil, sehinggadia harus membawa koper dan barang-barangnya sendiri. “Yak! Luhan!” Luhan yang merasa diteriaki namanya pun menoleh dan mendapati Jessica yang berlari sekuat mungkin kearahnya sambil membawa koper.  Tiba-tiba saja ada sebuah batu yang membuat seorang Jessica Jung tersandung dan langsung jatuh tepat menimpa Luhan. Dengan keadaan bibir yang bertautan.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

“D-deer?” tiba-tiba suara halus seorang gadis membuyarkan Luhan dari lamunannya. Ia kenal suara itu. ya, suara gadis itu. Sunbaenya di kampus. Sontak ia langsung berdiri dan membersikan pakaiannya. “Taeyeon noona?” Tanya Luhan memastikan. “Luhan? Apa yang kau lakukan disini? Dan gadis itu?” Tanya Taeyeon bertubi-tubi kepada Luhan.

“O-oh itu. apartemenku disini. Dan gadis ini? D-dia—“ “Jessica Jung imnida. Yeojachingu Luhan.” Jessica memotong ucapan luhan dan membungkukkan badannya 90 derajat. Luhan menyikut lengan Jessica pelan sambil memasang tatapan apa-yang-kau-maksud.

“Taeyeon imnida. Aku adalah Sunbae Luhan dikampus. Senang bertemu dengamu.” Balas Taeyeon sambil tersenyum kearah Jessica dan Luhan. “Oh iya. Luhan, kebetulan apartemenku juga disini. Maka dari itu aku berada disini.” Terang Taeyeon kepada Luhan.

“Benarkah? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat noona—“ sepertinya Luhan harus benar-benar sabar karena kata-katanya dipotong oleh seorang gadis lagi. “Aku baru pindah hari ini. “  ucapnya sambil tersenyum (lagi).

===

                “kenapa kau berkata seperti itu kepada Taeyeon noona?!” ucap Luhan dengan nada yang sedikit marah sambil menghempaskan tas punggungnnya diatas sofa. “Luhan,  mianhae.” Lirih Jessica dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya.

Luhan mengusap wajahnya kasar. “Kau tidak seharusnya berkata begitu, Jess. Dia itu sunbaeku dan aku merasa tidak enak dengannya—maksudku ya tidak enak saja.” Luhan memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat namun entahlah malah kata-kata murahan yang tidak jelas yang meluncur dari bibir mungilnya. “Luhan….” Air mata sudah membanjiri wajah seorang Jessica. Ia berlari sekuat mungkin meninggalkan Luhan yang kelihatannya bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Arghhh!” erang Luhan. Ia baru saja mengingakari janjinya. Ya, janjinya untuk tidak pernah membuat Jessica menangis. Tiba-tiba saja Luhan teringat akan sesuatu. Sesuatu yang paling ditakuti oleh Jessica. Sesuatu yang membuatnya ketakutan setiap saat. Jessica sangat trauma atau takut akan sesuatu itu. lebih parahnya lagi, Luhan baru menyadarinya setelah kurang lebih hampir 10 menit Jessica berlari entah kemana.

===

                Luhan berlari ke segala arah di sekitar apartemennya. Mulai dari taman hingga kolam renang. Nihil, Luhan tetap tidak menemukan Jessica. Luhan kau benar-benar bodoh. Makinya. “Jessica!!” teriak Luhan kesana-kemari. Entahlah mungkin ia sudah terlihat seperti orang frustasi atau bahkan gila.

Luhan menghela napasnya. Ya, ini adalah salahnya. Kesalahannya yang sangat fatal. “Tolong!!” teriakan seorang gadis tertangkap oleh indra pendengarannya. Suara ini. Ia kenal suara ini. Tapi entah mengapa otaknya seakan sangat sulit untuk mengingat pemilik suara ini.

Jessica Jung! Suara Jessica lah sekarang sedang ia dengar. ia berlari sekuat mungkin kea rah suara tersebut. Yang kini ada dipikirannya hanyalah keselamatan Jessica. Gadis itu adalah segalanya baginya. Lebih bodohnya lagi ia baru menyadari itu sekarang. Kini pikirannya dipenuhi oleh prasangka negative akan keselamatan Jessica.

Dan benar saja. Luhan menemukann Jessica tengah dikelilingi oleh banyak lelaki. Matanya membelalak melihat Jessica yang seperti ketakutan. Jessica dengan wajahnya yang basah dan ekspresi ketakutannya. Sungguh, Jessica terlihat seperti orang frustasi.

BUKKK

Tanpa babibu Luhan langsung memukuli para lelaki yang mengelilingi Jessica. Tentu saja ia kalah karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari Luhan. Namun siapa sangka seorang Xi Luhan akan berdiri kembali dari kekalahannya dan memukuli para lelaki itu tanpa ampun.

10 menit kemudian

Luhan mengelap sedikit darah yang ada di ujung bibirnya dengan kemejanya. Sedetik kemudian ia langsung menghambur kea rah Jessica dan memeluknya. Ia kemudian menunduk dan berkata “Gwenchana?” “Lu..Luhan. Hiks.” Jessica melihat tepat dimata Luhan dan langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Luhan.

Luhan’s POV

“Lu..Luhan. Hiks.” Jessica melihat tepat dimataku dan langsung membenamkan wajahnya di dadaku. Ia menangis. Entahlah aku tidak tau pasti apa yang ditangisinya. Syukurlah aku menemukannya sebelum semuanya terlambat. Kejadian yang terjadi hari ini sangat mengingatkanku pada kejadian itu.

Flashback

Jessica Jung adalah sahabatku. Ia gadis yang cantik, pintarr, periang dan seorang pecinta buku. Dia juga memilki suara yang bagus. Tidak, maksudku dia hampir sempurna dalam segala hal. Tapi itu semua berubah ketika dia sudah memasuki kelas 3 SMP. Pada saat itu mulai banyak orang yang mengincarnya karena kecantikannya mulai dari anak sekolahan bahkan orang tua sekalipuun. Setiap dia pulang bahkan pergi sekolah selalu ada orang yang mengikutinya.

Suatu hari, Jessica mengajakku pulang bersama. Kami singgah di sebuah minimarket kecil karena aku sedang kehausan. Jessica enggan menemaniku masuk kedalam, jadi ia hanya menungguku diluar. Kurang lebih 10 menit aku membeli minuman unutk kami berdua. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Jessica dengan wajah pucat dan mata merah berada disebelah lelaki yang tidak aku kenali.

“Lu…lu..han…” lirihnya.

BRAKK

Tanpa sadar minuman yang aku bawa jatuh begitu saja ketanah. Aku berlari sekuat mungkin kearah laki-laki yang berada disamping Jessica dan menghajarnya habis-habisan. aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi padaku yang terpenting Jessica selamat, hanya itulah yang ada dipikiranku saat ini. Aku memukuli semua lelaki yang menggoda Jessica dengan membabi buta.

Aku langsung berlari kearah Jessica setelah memukuli lelaki tadi. Jessica terlihat sangat rapuh saat ini. Rambut indahnya terlihat berantakan. “Jess, mianhae.” Ucapku sambil memegang tangan Jessica. Berusaha menyalurkan kehangatan dan keberanian agar dia tidak ketakutan lagi.

“Jess, aku berjanji akan menjadi pacar pura-puramu agar tidak ada satu orang pun yang bisa menganggumu.” Ucapku sambil mengacungkan jari kelingkingku kearah Jessica. Hal itu disambut hangaat oleh seorang Jessica Jung. Jessica menautkan jari kelingkingnya dengan milik Luhan sambil tersenyum.

 

Flashback off

 

“Luhan..?” panggil Jessica  membuyarkan semua lamunanku. “Sudahlah. Kau aman bersamaku. Ayo kita ke apartemen.” Aku berusaha menenangkannya dan membawanya ke apartemenku.

Normal POV’s

“Luhan. Temani aku tidur malam ini. Hiks. Aku sangat takut.” Ucap Jessica masih terus memeluk Luhan. “Baiklah. Ayo tidur. Aku sudah sangat mengantuk.” Luhan langsung naik ke atas kasur dan tidur disebelah Jessica dengan tenang. Semuanya berbeda dengan apa yang dialami Jessica. Ia takut. Bukan karena traumanya, tapi degupan jantungnya yang begitu kuat. Ya, Jessica memang menyukai Luhan. Bahkan sejak ia memasuki bangku SMP.

Tidak-tidak. Luhan hanya menganggapku sahabatnya. Batin Jessica sambil menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian Jessica telah jatuh tertidur dalam pelukan Luhan.

 

===

                Jessica membuka matanya perlahan saat karena sinar matahari pagi yang menembus jendela kamar Luhan. Ia merasakan sedikit sakit pada pundaknya dan juga badannya. Entahlah mungkin karena ia terlalu lelah. Terlebih lagi ia baru saja dating jauh-jauh dari Busan dan langsung disuguhkan dengan kejadian Luhan-Taeyeon yang cukup mengiris hati melihat kedekatan mereka. Ditambah dengan cara Luhan membentaknya hanya karena dia mengatakan kepada Taeyeon bahwa ialah yeojachingu Luhan. Apalagi dengan adanya sekelompok laki-laki yang berusaha menggodanya. Lengkaplah sudah penderitaan seorang Jessica Jung. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing bukan main. Batin Jessica.

Jessica membalikkan badannya untuk melihat luhan. “Lu—“ Jessica menelan salivanya dengan kasar. Bayangkan saja jarak antara ia dan Luhan sekarang kurang lebih 3 cm. Siapa yang tidak kaget dan juga gugup dengan jarak sedekat itu. Aku bisa saja menciumnya sekarang jika aku mau. Pikir Jessica. Jessica memukul kepalanya pelan sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia tidak mungkin melakukan itu. Apalagi terhadap Luhan.

Lebih baik aku cepat bangun dari kasur. Jessica terus menerus berbicara didalam hati. Dia hendak bangun dari tidurnya, namun sialnya ia malah mendapati dirinya terpeleset dan mendarat kan bibir tipisnya tepat di atas bibir Luhan. Jessica kaget bukan main.

“Lu aku tidak bermaksud—“

“Jess! Ayo cepat bangun.” Entahlah Jessica malah mendengar suara seseorang membangunkannya.

“Jess!” Jessica merasakan percikan-percikan air jatuh tepat di atas wajahnya. Jessica langsung bangun dan terduduk di kasurnya. “Jess? Kau tidak apa-apa? Kenapa tadi kau meneriaki namaku? Dengan bibir yang dimonyong-monyongkan?” Luhan tidak memberikan jeda sedikitpun untuk Jessica menjawab.

“Oh itu Lu—“ sial. Ternyata itu hanya mimpi. Memalukan. Rutuk Jessica dalam hati. “Apa Jess? Apa kau sakit lagi?” raut khawatir terlukis dengan jelas di wajah Luhan. “Lu, itu tidak seperti itu aku hanya mengigau –“ “mengingau? Terserah apa itu. ayo sekarang ikut aku. Kita akan sarapan bersama.” Ucap Luhan sambil menarik paksa tangan Jessica.

===

                Kenapa Luhan menjadi se-over protective ini padaku? Batin Jessica bertanya-tanya. “Makan ini.” Luhan memberikan Jessica satu porsi ramen. Jessica hanya mengangguk dan mulai memakan ramennya. Jessica terlihat sangat menikmati ramennya sehingga tidak sadar jika sedari tadi Luhan memperhatikannya. “Jess..” “Aoapo Lou?” balas Jessica dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. “Kau ini tidak berubah ya. Neomu-neomu kyeopta.” Ucap Luhan sambil tertawa.

“Bukankah dari dulu aku memang kyeopta? Hahaha.” Jessica berusaha menutupi kegugupannya karena ucapan Luhan dengan candaannya yang sama sekali tidak lucu.

“Jess. maukah kau menjadi yeojachinguku?”

Mwo?”

 

To be Continue

 

Abal-abal yak? :3 wkkwkw banyak typo juga deh kayaknya wkwkkw. Jangan lupa komen ya!

34 thoughts on “[Freelance] Because It’s You – Chapter 1

  1. sica lucu yah.. hahhaaa… dasar…

    siapa pacarnya kris?
    luhan suka ama taeyon? loch terus sica ama siapa dong?

    hmmm… kok luhan malah nembak sica? apa jangan” dia nembak sica buat taeyon cemburu atau emang punya rasa ke sica tapi ga sadar gt yah?

    aaahhhh… kayaknya pasti luhan bakal cinta beneran deh ama sica, mungkin aja pas ada kris.. *nebak.. hehe

  2. ff nya daebak thor…
    agak kasian sih ama Sica, dia dipecat !!
    oia tuh Luhan suka ama Taeng apa Sica, trus Luhan tuh nembak Sica atas dasar apa(?) aduh kepo nih aku…
    next chap ditunggu thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s