[Freelance] (Just a Friend) (Oneshot)

just a friend

 

 

  • Judul                : Just a Friend
  • Author                        : channim
  • Rating             : PG-13
  • Length             : Oneshot
  • Genre              : friendship, romance, angst
  • Main Cast        : Jung Jessica, Byun Baekhyun
  • Support Cast   : Kim Taeyeon

 

 

 

 

Terdengar suara tawa dari dua orang yang berjalan bersisian.

“Stop! Stop mengatakan itu atau aku akan- HAHAHAHAHA!”

Jessica menepuk-nepuk lengan Baekhyun keras sambil berusaha mengontrol tawanya.

“Kau ini kenapa? Kan aku hanya bilang kalau…”

“Tidak! Jangan lagi! HAHAHAHA sudah cukuppp!” kali ini Jessica sampai terbungkuk untuk mencoba menghentikan tawanya. Sedangkan Baekhyun hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu. Wajahnya sudah memerah karena sedari tadi tak bisa menghentikan tawanya karena ulah Baekhyun.

“Hah…aduh…” Jessica mengatur napasnya sambil menyeka sudut matanya yang mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa. “Awas kau, Baekhyun.”

“Apa?” Baekhyun menaikkan alisnya sambil menjulurkan lidah pada Jessica.

“Kalau sampai Kyungsoo tahu tentang leluconmu tadi, dia pasti akan…” Jessica tak melanjutkan kalimatnya karena langkah Baekhyun tiba-tiba berhenti. Jessica ikut mengarahkan pandangannya ke arah fokus Baekhyun saat ini.

Deg.

Tubuh Jessica menegang. Hatinya langsung mencelos. Ia mencuri pandang ke arah Baekhyun. Lelaki itu menatap lurus ke depan, ke arah rumahnya. Lebih tepatnya kepada sesosok yang sedang duduk di depan rumahnya.

“Baek…”

“Pulanglah duluan. Nanti aku akan ke rumahmu,” perintah Baekhyun pada Jessica tanpa menoleh sedikitpun kepada gadis itu. Tatapannya tetap menyorot tajam kepada seseorang yang mengambil alih perhatiannya itu.

Jessica hanya bisa menghela napas sambil menundukkan kepalanya saat Baekhyun pergi meninggalkannya, menuju rumahnya. Kemudian gadis itu sesegera mungkin melangkahkan kakinya pulang sebelum hatinya lebih sakit menyaksikan apa yang ada di depan matanya.

***

“Taeng?”

Gadis yang dipanggil Taeng itu langsung berdiri saat dilihatnya orang yang ditunggu-tunggunya sedari tadi telah datang.

“Ah, Baekhyun. Kau sudah datang.” Taeyeon merekahkan senyumnya yang dulu selalu membuat hati Baekhyun menghangat. Mungkin hingga sekarang.

“Ehm, ada apa?” Baekhyun bertanya pelan. Ia menggosok tengkuknya karena gugup.

“Aku…aku hanya ingin membicarakan sesuatu. Bisakah kita ke taman?”

“Taman?” Baekhyun melebarkan matanya. “Oh, ba-baiklah.”

***

“Jadi, apa kabarmu?” tanya Baekhyun membuka percakapan saat mereka berdua telah sampai di taman. Mereka memilih duduk di bangku ayunan yang bersisian.

“Hmm, kurasa biasa saja,” jawab Taeyeon sambil mengayunkan ayunannya pelan. “Bagaimana denganmu?”

Taeyeon yang tiba-tiba menoleh pada Baekhyun, dan menanyakan kabarnya membuat Baekhyun salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke ujung sepatunya.

“Kupikir tak jauh beda denganmu.”

 

“Kim Taeyeon-ssi! Kumohon jadilah yeojachingu-ku!”

Baekhyun berlutut di depan Taeyeon sambil mengulurkan setangkai bunga. Lelaki itu menundukkan kepalanya sambil menutup matanya rapat-rapat, terlalu takut untuk mendengar jawaban dari gadis di depannya yang kini tengah dibuatnya benar-benar syok.

“Berani sekali junior itu menembak Taeyeon.”

“Apa dia sudah benar-benar gila?”

“Mana mau Taeyeon menerima anak kecil seperti dia?”

“Dasar bocah.”

Semua anak sekolah seangkatan Taeyeon mulai berkumpul untuk melihat apa yang terjadi dan sibuk berkomentar atas tindakan Baekhyun.

Telinga Baekhyun sudah memerah karena malu dan mendengar ocehan-ocehan dari para sunbae-nya.

“Baekhyun, fighting!” pekik Jessica pelan di antara kerumunan anak-anak yang penasaran untuk menonton adegan itu. Di antara kerumunan itu hanya Jessica-lah satu-satunya junior yang ikut menonton. Karena biasanya junior-junior lain seangkatan Baekhyun dan Jessica memilih untuk tidak memasuki teritori sunbae-nya. Mereka takut terkena marah atau bully dari para sunbae-nya itu. Sebenarnya Jessica pun agak was-was saat ia memilih mengikuti Baekhyun ke daerah angkatan atasnya ini. Namun Jessica tak bisa membiarkan Baekhyun bertarung sendirian. Ia merasa perlu untuk menemani sahabatnya itu meskipun hanya dari jauh. Untung saja para sunbae-nya saat ini sedang sibuk menonton adegan pernyataan cinta Baekhyun kepada Taeyeon. Jadi Jessica sedikit aman karena tidak ada yang menyadari keberadaan seorang junior di situ.

Merasa belum mendapat respon apapun, membuat semangat Baekhyun turun dan rasa takutnya meningkat tajam. Ia mengulurkan setangkai bunga yang sengaja dipilihkan Jessica itu lebih jauh lagi di hadapan Taeyeon.

“Kumohon…” kali ini suara Baekhyun melemah. Ia benar-benar merasa gugup saat ini.

“Taeyeon sunbae, ayolah! Terima Baekhyun sekarang juga! Memangnya kau bisa tahan melihat wajah menyedihkannya itu? Ugh, aku saja muak. Ayolahhh!” Jessica terus-terusan berbisik melihat Taeyeon belum juga menerima bunga yang diulurkan Baekhyun.

Jessica tak sadar saat ia sibuk menyemangati Baekhyun dengan berbisik-bisik pelan seperti itu, ada seorang sunbae yang menatap ke arahnya curiga. Ia langsung meneliti badge kelas di lengan kiri seragam Jessica dan mendapati bahwa Jessica adalah juniornya. Seketika ia menyeringai.

“Hei,” panggilnya pada Jessica sambil menepuk bahu gadis itu.

Jessica menoleh cepat. Ah, sial!

“Kau tau ini daerah kelas siapa?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum sinis.

“Ma-maaf, sunbae. Aku hanya…” Jessica menunduk dalam-dalam. Tak berani menatap sunbae di depannya itu.

“Ikut aku.” Sunbae itu menarik tangan Jessica paksa, membuat Jessica mau tak mau mendongak. Dan sebelum ia benar-benar ditarik pergi dari tempat itu, Jessica sempat menoleh ke arah Baekhyun. Bunga di tangannya sudah tidak ada. Dan wajahnya terlihat sangat bahagia. Di depannya, Taeyeon menggenggam setangkai bunga itu sambil tersenyum kecil.

Ah, syukurlah… batin Jessica.

***

 

Jessica langsung menuju kamarnya saat ia tiba di rumah. Ia menjatuhkan badannya di atas ranjang sambil menghela napas panjang, mencoba menghilangkan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Lalu pandangannya beralih ke arah dinding kamarnya, tempat foto-fotonya bersama Baekhyun ditempelkan.

Foto saat ia dan Baekhyun masih menduduki bangku SMA. Saat pertama kali persahabatannya dimulai. Foto saat ia berlibur berdua saja dengan Baekhyun. Foto saat ulang tahunnya, ulang tahun Baekhyun. Foto saat kelulusan mereka. Foto saat mereka memasuki perguruan tinggi yang sama. Dan yang paling ujung…foto saat Baekhyun mencium Jessica.

Tidak, Jessica hanya memanipulasinya. Sebenarnya itu adalah foto Baekhyun, Taeyeon, dan dirinya. Taeyeon berada di tengah Baekhyun dan Jessica. Baekhyun mencium pipi Taeyeon, dan ekspresi Taeyeon seperti orang terkejut. Sedangkan Jessica, tanpa sadar berpose menunduk sambil menyembunyikan senyum pahitnya.

Saat itu Baekhyun menertawai foto itu. Ia bilang bahwa Jessica terlihat cemburu dalam foto itu. Dan ya, kenyatannya memang seperti itu. Jessica cemburu.

 

“Hahaha! Lihat ekspresimu nona Jung! Kau seperti orang yang cemburu! Hahaha foto ini hebat!” tawa Baekhyun sambil memukul-mukul meja.

“Cemburu? Enak saja!” Jessica menoyor kepala Baekhyun cukup keras.

“Aduh! Kau ini perempuan tapi kelakuanmu benar-benar tidak mencerminkan seorang perempuan. Pantas saja tidak ada yang tertarik padamu. Lihatlah Taeyeon! Dia adalah ikon wanita sejati,” tunjuk Baekhyun pada Taeyeon yang hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabat itu.

Jessica tak membalas. Ia tahu Baekhyun hanya bercanda seperti biasanya, namun entah mengapa hatinya terasa sakit.

 

Jessica melepas foto terakhir itu dari dindingnya dan berjalan menuju mejanya, membuka laci dan membuang foto itu begitu saja ke dalam lacinya. Ia mendesah pelan lalu menyambar jaketnya. Memutuskan untuk pergi keluar. Ke taman.

 

“Aku diterima Jess! Aku diterima!! Kau percaya itu? Aku diterima!!!” Baekhyun terus-terusan berteriak sambil melonjak-lonjak di sebelah Jessica.

“Ya, ya, ya. Aku sudah mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu sebanyak…” Jessica menekuk jari tangannya satu persatu. “Lima ratus empat puluh sembilan kali!”

Baekhyun menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Jessica sambil memasang cengiran pada bibirnya. “Hehe, maaf. Aku hanya sedang senang.”

“Tak apa. Aku juga ikut senang.” Kali ini Jessica tersenyum manis.

Baekhyun berdiri di depan Jessica sambil meraih kedua bahunya. “Kau adalah sahabat terbaikku. Kau sudah sangat banyak membantuku mendapatkan Taeyeon. Jadi jangan khawatir karena aku tak akan melupakanmu.”

“Yah, kau tak punya pilihan lain selain Taeyeon harus menerimamu. Karena jika tidak, aku sudah pasti akan membunuhmu karena semua usahaku untuk membantumu akhirnya sia-sia.” Jessica mengangkat bahunya.

Dan lagi, pengorbanan diriku memasuki daerah angkatan atas-pun juga tak akan ada artinya, batin Jessica, tak mengungkapkannya pada Baekhyun.

***

 

“Aku merindukanmu, Baek.”

Suara itu seperti hembusan angin yang berdesau lembut, melewati telinga Baekhyun. Kalimat itu terasa delusional bagi Baekhyun. Namun saat ia menoleh dan mendapati gadis itu di sana, di sebelahnya, dan tersenyum lembut ke arahnya. Baekhyun yakin ini semua bukanlah mimpi.

“Kau…”

“Kupikir bersama-sama dengan orang yang lebih dewasa dariku membuatku lebih nyaman.” Taeyeon tersenyum pahit. “Aku salah.”

 

Baekhyun menatap gadis di depannya itu tak mengerti. Beberapa bulan mereka menjalani hubungan itu dan ia mengucapkan kalimat yang sama sekali tak Baekhyun pahami.

“Aku sangat menyesal, Baekhyun,” ucap Taeyeon lirih. “Tapi kurasa aku tak bisa terus bersamamu dengan hubungan ini.”

“Apa maksudmu, Taeyeon-ah?” Baekhyun menatap Taeyeon tajam sambil mengerutkan keningnya.

“Kau tak merasa bahwa sifat kita jauh berbeda?” pekik Taeyeon tertahan. Ia memandang Baekhyun nanar.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap gadis ini. Beberapa bulan bersamanya ternyata tak cukup membuat Baekhyun mengenali Taeyeon.

“Aku tak bisa, Baekhyun. Aku tak bisa harus terus bersama dengan seseorang yang selalu bersifat kekanak-kanakkan. Meskipun itu bukanlah sifat yang buruk, tapi itu tak bisa membuatku nyaman,” tutur Taeyeon.

“Jadi…” Baekhyun tercekat. Tak dapat lagi mengeluarkan kata-kata. Dadanya terasa sesak. Sangat sesak hingga rasanya ia ingin menangis.

“Aku ingin bersama orang yang bisa bersikap lebih dewasa dariku. Karena orang itu akan bisa menjagaku dengan baik.”

***

 

Jessica berlari-lari kecil menuju taman karena gerimis mulai mengguyur jalanan. Ia tak membawa payung, jadi ia hanya memayungi kepalanya seadanya dengan kedua tangannya.

Suasana hujan seperti ini, mengingatkan Jessica akan peristiwa beberapa tahun lalu. Saat Baekhyun mendatanginya dengan keadaan yang sangat kacau.

 

“Jessica!” seru Baekhyun langsung begitu Jessica membukakan pintu untuknya.

Lelaki itu memeluk Jessica erat. Membuat Jessica terpaku dan tak dapat berbuat apapun. Bahkan ia lupa caranya bernapas.

“B-Baekhyun?” panggil Jessica. Namun Baekhyun malah mempererat pelukannya. Bisa Jessica rasakan tubuh lelaki itu bergetar. Entah karena hujan yang mengguyurnya atau karena hal lain.

Jessica membiarkan Baekhyun tetap seperti itu sambil sesekali mengusap punggung Baekhyun. Apa yang sebenarnya membuat sahabatnya itu sampai seperti ini?

Akhirnya Baekhyun melepaskan dirinya dari Jessica.

“Aku harus bagaimana…” lirih Baekhyun.

“Ada apa?” tanya Jessica pelan. Tak tega rasanya ia melihat Baekhyun seperti ini.

“Taeyeon…… dia baru saja memutuskanku. Dia bilang dia tidak suka dengan orang yang kekanakkan. Apakah aku terlalu kekanak-kanakkan?” tanyanya retoris.

“Baekhyun…” Jessica berucap pelan. Tak disangka Taeyeon tega untuk menyakiti hati sahabatnya.

***

 

“Jadi kau sudah tidak bersama dengan…”

“Jangan sebut namanya,” potong Taeyeon.

Baekhyun mengangguk paham. “Baiklah.”

Taeyeon menghela napas. “Mungkin ini semacam karma untukku. Aku meninggalkanmu untuk seseorang yang aku impikan, dan kini ia juga meninggalkanku untuk seseorang yang lain.”

“Taeyeon…” Baekhyun menyentuh bahu Taeyeon pelan. Gadis itu menunduk, menahan isakannya.

“Baekhyun, aku tahu kau pasti sangat kecewa padaku. Tapi kumohon, berikan aku kesempatan sekali lagi,” pinta Taeyeon.

Baekhyun terdiam. Pikirannya tak bisa berjalan dengan semestinya. Sebagian besar egonya menyuarakan agar Baekhyun menerima Taeyeon kembali. Namun di sisi lain, ucapan Taeyeon di waktu lalu masih membekas di hatinya. Namun tak bisa dipungkiri, dirinya memang masih menyayangi Taeyeon. Baekhyun tiba-tiba teringat akan pesan Jessica.

“Awas, ya! Sampai sikapmu berubah lagi di depanku, jangan harap aku mau menjadi sahabatmu! Janji?”

Dan kemudian Baekhyun menghela napas berat.

***

 

 

Jessica benar-benar kesal dengan sikap Baekhyun sekarang. Beberapa hari terakhir ini sikapnya benar-benar berubah. Ia jadi lebih pendiam dan dingin. Sekalinya melontarkan kalimatpun benar-benar menusuk. Tak ada lagi Baekhyun yang suka membuat lelucon, atau Baekhyun yang bertingkah konyol.

“Kau ini kenapa, sih?!” kesal Jessica.

Baekhyun mengabaikan Jessica. Ia tetap fokus pada kegiatannya.

“Yah, Byun Baekhyun! Aku sedang bicara padamu!” kali ini suara Jessica meninggi. Gadis itu berkacak pinggang di depannya.

Baekhyun berdecak kesal. Ia menatap Jessica dingin. “Apa? Cerewet sekali.”

Jessica melotot. “Apa katamu?”

“Cerewet. Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Memuakkan,” desis Baekhyun. “Sekarang aku paham kenapa Taeyeon begitu tidak menyukai sifat kekanak-kanakkan ku. Karena itu benar-benar mengesalkan. Dan itu semua berasal darimu.”

Setelah mengucapkan itu, Baekhyun bangkit dan beranjak pergi. Meninggalkan Jessica yang menatapnya tak percaya.

Butuh perjuangan yang keras dan waktu yang lama untuk memulihkan Baekhyun. Mengembalikan Baekhyun menjadi “Byun Baekhyun” yang selama ini Jessica kenal.

Bahkan Jessica sempat menyesal pernah mendukung Baekhyun untuk mendapatkan Taeyeon. Jika pada akhirnya akan menyiksa mereka semua seperti ini, lebih baik Jessica tak pernah sudi untuk membantunya. Lagipula, melihat Baekhyun bersama Taeyeon pun sudah cukup menorehkan luka di hati Jessica. Tak bisakah lelaki itu berhenti sejenak untuk memperhatikan sekitarnya? Bahwa ada seseorang yang selalu ada untuknya?

Jessica bukanlah Jessica jika ia menyerah begitu saja terhadap Baekhyun. Ia harus mengembalikan Baekhyun seperti dulu. Baekhyun yang childish.

Usaha Jessica tak sia-sia. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Baekhyun sedikit demi sedikit dapat melupakan Taeyeon dan kembali menjadi dirinya yang dulu.

“Awas, ya! Sampai sikapmu berubah lagi di depanku, jangan harap aku mau menjadi sahabatmu! Janji?”

Baekhyun tersenyum. “Janji.”

***

 

Jessica menghentikan langkahnya. Sepatunya sudah basah terkena cipratan air hujan saat ia berlari menuju taman tadi. Niatnya untuk berteduh di taman menguap sudah. Ia menatap dua sosok jauh di depannya dengan pandangan yang kabur. Tangannya yang sedari tadi digunakan untuk memayungi kepalanya tanpa sadar melemas.

Ya, itu Baekhyun. Dan Taeyeon.

Keduanya berpelukan di bawah hujan yang semakin deras.

Perlahan Jessica melangkah mundur. Menyembunyikan dirinya agar kedua orang itu tak menangkap keberadaannya.

Selamanya Jessica sadar, bahwa ia tak akan bisa mencapai levelnya. Selamanya ia akan terus berada satu tingkat dengannya. Tidak di bawah, maupun di atasnya. Selalu sama, di sampingnya.

Menjadi sahabatnya.

Biarlah aku menyimpan perasaan ini tanpa perlu kau mengetahui. Asalkan, kau tetap menjadi Baekhyun yang kukenal.

 

To : Baekhyun

Maaf, Baek. Aku sedang pergi bersama Krystal.

Jadi tak usah ke rumahku, oke?

 

Send.

 

 

 

///

Hyaaa gimana baeksica-nya? Kurang angst-kah? Lol lain kali bikin yang lebih angst deh x)

Gatau kenapa tapi akhir-akhir ini malah ngeship baeksica:/ padahal otp-ku chansica -_-

Lebih ngefeel aja kalo cast-nya mereka berdua ((tapi malah dibikin angst gini hehehe))

Ok then, don’t forget to like and comment guise <333 because your even a lil comment will make my day!

Meet me on evilsmirkyu.wordpress.com for more jessica fanfiction ^^

Bye!^^

n>“Itu karena Tuhan tahu, kau itu pria yang dingin seperti es. Makanya Tuhan menghukummu, melalui Jessica noona.” Jawab Sehun asal, disertai lemparan bantal persis di wajahnya.

 

“Enak saja kalau bicara. Bicaramu itu berlebihan sekali Xi Sehun.”

“Yeah yeah, terserah apa katamu saja. Lagipula sekarang aku tengah mengejar seorang gadis lain. Itu pun karena saran dari Jessica noona.” Kekeh Sehun.

“Ugh, sekali playboy kau akan tetap jadi playboy. Padahal kukira waktu kau menceritakan soal Jessica, kau akan berhenti jadi seorang perayu. Ternyata tidak.” Ledek Luhan.

Sehun merengut kesal, “Ya! Justru karena Jessica noona aku jadi sadar, bahwa aku mengaguminya sebagai seorang senior. Bukan karena mencintainya.”

Luhan mencibir, mengikuti gaya Sehun, “Apa yang kau tahu tentang cinta, Sehun? Kau ini masih kecil.”

“Setidaknya aku pernah berpacaran dua kali dan ditembak tiga kali oleh gadis-gadis cantik.” Ucap Sehun kembali meledek Luhan.

“Kau pikir aku semerana itu?” Dengus Luhan.

“Suka itu ketika kita merasa diri kita kagum karena suatu kelebihan yang dimiliki seseorang, hyung. Kita akan merasa kelebihan itu membuat kita terpesona. Tapi umumnya orang akan sulit membedakan mana sayang, mana rasa cinta,” Sehun menjilat bibir bawahnya, “..karena ketika kita menyayangi orang lain, di dalam diri kita akan berbicara bahwa melihatnya bahagia dan tersenyum saja sudah cukup membuat kita merasa puas. Sementara ketika kita mencintai orang lain, ada dalam diri kita perasaan ingin menguasai dan memilikinya seutuhnya. Dan perasaan sayang maupun cinta, selalu ada pada orang-orang yang percaya bahwa cinta itu ada dimana saja. Datang kapan saja, dan pergi kapan saja.” Jelas Sehun panjang lebar.

Luhan terperangah menatap adiknya tersebut, ia tak menyangka seorang Xi Sehun bisa menyebutkan definisi yang sebenarnya tak pernah ia mengerti dalam dirinya sendiri.

“Kau terkejut dengan kemampuanku, kan?” Sehun tersenyum bangga melihat sang kakak termangu menatapnya.

“Untuk apa? Cih.”

Sehun mengangguk-angguk saja, “Tapi aku penasaran, siapa yang ditunggu Jessica noona, ya?”

Luhan menggeleng, kini ia tengah bermain PSP kesayangannya. Ya mau bagaimana lagi, tangan kanannya sedang dalam pengobatan, dan konser seluruhnya telah dibatalkan. Tentu saja ia mengalami kerugian, tapi Luhan tak peduli. Meski sang manager sempat memarahinya, tapi syukurlah ia sekarang justru mendukung aktifitas Luhan yang menjalani pengobatan intensif.

Hyung, kau juga cepatlah mencari kekasih. Apa kau tak bosan menjadi seorang lajang?” Sehun mengunyah keripik kentang dengan semangat.

“Tidak ada yang cocok untukku,” Ucap Luhan tanpa mengalihkan pandangannya, “kecuali gadis itu.”

Sehun tersedak, ia segera menepuk-nepuk punggungnya. Alisnya berkerut hingga nyaris menyatu, “Siapa? Jangan bilang teman masa kecil kita si Sooyeon itu.”

Luhan tersenyum tipis, Sehun memang tahu kalau Sooyeon adalah gadis nomor dua yang berada di hati Luhan setelah sang eomma tentu saja.

“Kau masih saja memiliki rasa pada anak itu, padahal dia saja sekarang sudah entah dimana. Lagipula memangnya ia masih mengingatmu?” Celetuk Sehun.

Badan Luhan terasa tegang. Pertanyaan itu… Gadis itu tidak kemana-mana Sehun, dia ada. Dan kau yang membawanya padaku. Batin Luhan.

Ya, tapi tentu saja gadis itu tidak ingat siapa Luhan. Buktinya? Ia sama sekali tidak mengenal Luhan jika bukan Sehun yang membawanya bertemu.

Luhan menunduk, membiarkan angannya membawanya jauh ke alamnya sendiri. Ia teringat ketika tanpa sengaja ia bertemu seseorang yang mirip dengan Sooyeon-nya.

Luhan membiarkan layar PSP-nya terhiasi tulisan ‘Game Over’ begitu saja. Tentu Luhan senang apabila bertemu dengan Sooyeon-nya. Ya, itu akan terjadi apabila Luhan tidak terkejut melihat perubahan total yang hadir di matanya. Ia memang tanpa sengaja sudah bertemu dengan Sooyeon, tapi Sooyeon yang sekarang.. bukan Sooyeon yang Luhan inginkan.

“Hoi, apa kata-kataku barusan menyakitimu?” Ucap Sehun hati-hati.

Luhan menggeleng, “Sehun-ah, jika aku mengatakan… Sejujurnya beberapa hari lalu aku telah bertemu dengan Sooyeon, bagaimana?” Mata Luhan menatap Sehun dalam.

Sehun terkesiap, ini kali pertama setelah bertahun-tahun mata dingin Luhan mencair. Seperti permata yang kehilangan kilaunya, atau seperti bulan yang redup ketika pagi menjelang.

“Di…mana?” Tanya Sehun hati-hati. Kapan kakaknya bertemu dengan Sooyeon?

“Aku merasa seperti Sooyeon sudah pulang saat itu.” Mata Luhan menerawang ke langit-langit kamar.

“Kapan, hyung?”

Luhan menoleh ke arah Sehun. Tersenyum penuh makna, tanpa Sehun tahu bahwa dibalik senyuman itu ada kekecewaan karena suatu hal yang tak pernah ia duga. Meski ragu, tapi ia yakin ia bertemu dengan seorang Sooyeon.

“Saat Jessica datang kerumah dan menyiapkanku makanan, aku merasa Sooyeon sudah pulang.”

 

—Sunshine Becomes You—

 

To Be Continue.

 

©zahilangels, 01/03/2014. 20:21

Okay, this is out of imagination bangeeeet-_- Gatau ah;((( Author lagi sakit makanya mengisi waktu luang dgn begini. Huhauhaha. Maafkan typo2 or kalo ga ngerti apagitu, bisa komen langsung.

Sejujurnya agak sedih juga kalo banyak yg baca tapi ga ninggaling jejak D:, coba kalian rasain apa yg authornya rasain deh. Pasti ga enak. Oke, gue curhat.

Intinya maaf  ya kalo ga memuaskan, lol. Give so much thank for those of you whose commented on the previous chap. See you soon with me!<3

34 thoughts on “[Freelance] (Just a Friend) (Oneshot)

  1. Aaaa aku nangis baca ini kasian bgt sica eonnienya

    Itu yg cerita terakhir itu yg luhan sama sehun apa ya? Jangan bilang sica itu cinta pertamanya luhan??

    Aaaa sica sama baekhyun aja eon😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s