Hot Shot – Chapter 3

hotshot31

Yura Lin proudly presents;

Hot Shot

Genre:

Drama – Friendship – School-life – Sport

Length:

Series

Rating:

PG – 13

Cast:

Jessica | Jin | Suga | J-Hope | Rap Monster | Jimin | V | Jungkook

Other Cast:

Girls Day Yura

Yura

Previous:

Teaser and The Cast | Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Credit Poster:

Vanilatte

*

“Sometimes, you just misunderstand how someone feels for you.” 

*

Khusus untuk hari ini, Sooyeon tidak berangkat dengan Hoseok. Dia menanyakan cara berangkat ke sekolah kepada ayah tirinya dan memberanikan diri untuk berangkat sendiri dengan mengikuti setiap langkah yang diberitahu oleh tuan Jung. Beruntung dia tidak tersesat dan berhasil sampai di sekolah 2 jam sebelum bel berbunyi. Tinggal satu hal yang harus ia lakukan.

Menelepon Kim Taehyung.

Adik kelas sekaligus teman terdekatnya di SHS itu pasti khawatir jika dirinya tidak muncul di tempat biasa dia dijemput. Tidak butuh waktu terlalu lama bagi sang junior untuk mengangkat telepon.

Hello, Noona~” sapa Taehyung girang. Akhir-akhir ini, Taehyung memang senang memanggil Sooyeon seperti itu karena dia yakin mereka bersahabat walaupun sang senior tidak mengatakan apapun tentang itu. Sooyeon bahkan tak keberatan sama sekali. “Kau tahu, ini terlalu pagi untuk menjemputmu di tempat biasa. Aku masih sarapan. Apa kau mau menunggu—“

Sooyeon menghela napas panjang dan mencoba menyela, “Taehyung-ssi, dengarkan aku. Aku sudah sampai di sekolah.”

“Tunggu, apa? Bagaimana bisa? Apa kau terbang? Atau bisa melakukan teleportasi seperti Do Minjun? Oh ya, apa kau adalah alien sepertinya?”

“Apa kau hobi menonton drama malam?!” balas Sooyeon kesal. “Tidak! Aku manusia biasa, Kim Taehyung! Dan jika kau lupa, Seoul memiliki banyak sarana transportasi yang membantuku untuk sampai di sekolah dengan cepat dan aman. Kau masih berpikir aku adalah alien?”

“Hehe… begitu, ya? Tumben datang pagi-pagi sekali. Ada apa?”

“Aku ingin menemui ketua OSIS untuk meminta bantuannya.”

Taehyung mendesis. “Yah, Noona! Ku bilang Ahyoung sunbae bukan orang sembarangan! Dia adalah Yoongi sunbae versi perempuan! Kau tahu bagaimana sifat Yoongi sunbae, bukan? Kumohon—“

“Taehyung, aku hanya akan menemui ketua OSIS bukan Presiden. Aku akan baik-baik saja, apapun yang terjadi. Kau mengerti?”

Jeongmal?”

“Kim. Tae. Hyung. Ku peringatkan kau—“

Okay, sampai jumpa di sekolah! Annyeong~”

 

***

 

Sooyeon sudah berdiri di depan ruangan OSIS selama 5 menit. Setelah semalaman menelusuri blog yang dibicarakan oleh Taehyung, dia tahu bahwa orang yang bernama Kim Ahyoung itu selalu datang di pagi hari dan berdiam diri di ruangannya.

Apa yang harus ku lakukan sekarang?

Sebenarnya setelah membaca beberapa hal tentang seorang Kim Ahyoung, Sooyeon menjadi sedikit takut. Semua artikel tentangnya menceritakan betapa kerasnya ia. Sooyeon tidak mau mencari masalah dengan orang yang berkarakter keras dan memiliki banyak orang penting di sekitarnya. Dia tidak mau menambah masalah saat masalahnya sudah banyak dan baru saja terselesaikan satu per satu.

Akan tetapi, jika dia tidak melakukan ini, mungkin dia tidak akan bisa menaklukkan sang pangeran sekolah, Kim Seokjin. Artinya dia tidak akan bisa memiliki klub basket dan harus mencari cara baru untuk mendekati kakak tirinya.

Sooyeon menghela napas sambil melihat jam tangannya. Sudah 15 menit ia lewati di depan ruang OSIS tanpa melakukan apapun. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lagipula dia tidak tahu jika Kim Ahyoung datang pagi hari ini. Bagaimana jika khusus hari ini, ketua OSIS datang terlambat?

Mungkin saja.

Atau bagaimana jika Kim Ahyoung sudah bosan berada di ruang OSIS sehingga menghabiskan waktunya di kelas? Jadi akan lebih baik jika Sooyeon datang ke kelasnya.

Sekali lagi, mungkin saja.

Sebenarnya dia bingung mengapa dia begitu gugup hanya untuk mengetuk pintu ruang OSIS. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya. Sang ketua OSIS adalah perempuan, sama sepertinya. Sesama perempuan bisa saling memahami, bukan?

Uh, mungkin saja.

Micheosseo,” gumam Sooyeon frustasi.

Dia menengadah ketika mendengar suara langkah kaki bersamaan suara gemerincing kunci-kunci yang bergesekan. Matanya terbelalak lebar.

I-itu.. Kim Ahyoung! Oh tidak!

Tanpa sadar, Sooyeon berlari pergi ke kelasnya. Jantungnya berdetak kencang. Keringat dinginnya mengalir. Ia pun menyadari satu hal.

Aku lebih takut kepada Kim Ahyoung ketimbang Yoongi sunbae!

 

***

 

Hoseok mengerutkan keningnya bingung. Ada yang tidak biasa terjadi pagi ini di meja makan. Sesuatu yang seharusnya dia lihat pagi ini tapi nyatanya, sesuatu itu tidak ada. Dia mencoba menikmati sarapan tak memikirkannya. Walaupun diam-diam, dia tetap memikirkannya. Setelah sarapannya hampir habis, dia pun menyadari apa yang kurang dari pagi ini.

“Dimana Sooyeon?” tanya Hoseok.

Ayahnya yang sedang membaca koran pun menutup korannya untuk melihat anak kandungnya. Satu alisnya terangkat. “Kau baru menyadarinya?”

Hoseok berdeham. “Hmm, tidak juga. Aku sudah menyadarinya dari awal. Dia kan adikku. Hanya saja, ku kira dia terlambat bangun. Itu sebabnya aku diam saja.”

Tuan Jung menangkap nada aneh dari perkataan anaknya tapi tak ia pikirkan. Dia hanya tersenyum sembari menyesap kopi paginya.

“Sooyeon berangkat sejak satu jam yang lalu karena ada pelatihan untuk lomba debat sebelum jam pelajaran,” jawab ibu tirinya alias ibu kandungnya Sooyeon.

Hoseok mengangguk pelan sebagai respon. Dia membungkuk kepada kedua orangtuanya lalu kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tas sekolah. Tak lupa, dia membawa handphone di atas meja bersamanya. Dia baru sadar ada satu pesan dari teman sekelasnya.

 

From: Choi Jinri

YAH~ kau pasti tidak percaya ini! Si anak baru datang lebih cepat dari kita semua! Padahal dia selalu menjadi yang terakhir datang. Wah, ada apa dengannya? Tumben sekali.

Cepat datang, Jung Hoseok! Kita tidak bisa mengerjainya tanpamu. Kau adalah otaknya. Kekeke

 

Hoseok terdiam setelah membaca pesan tersebut. Dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Mungkin dia memang tidak melihat Sooyeon menangis, tapi dia bisa merasakan emosi dan rasa sakit di mata gadis itu. Walaupun dia tidak mau mengakuinya, dia mengasihani adik tirinya.

 

To: Choi Jinri

Aku bosan dengannya. Terlalu pasrah. Lepaskan saja.

 

***

 

Hari ini berjalan terlalu lancar dan terlalu damai. Sooyeon was-was berjam-jam untuk sesuatu yang tidak terjadi sama sekali. Teman-teman sekelasnya tidak ada yang mengganggunya sedikitpun walaupun tetap tak satu pun yang mengajaknya bicara.

Aneh. Sangat aneh.

Awalnya, dia mengira kelasnya sedang merencanakan sesuatu yang besar. Seperti peribahasa, angin yang tenang sebelum badai. Tentunya itu membuatnya ketakutan setengah mati tapi tetap tidak terjadi apapun. Lalu dia pun mendapatkan kesimpulan yang masuk akal dan mampu menenangkan hatinya untuk sementara waktu.

Mungkin mereka tidak mengganggunya sama sekali karena dia datang lebih dulu dari mereka semua sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk membuat rencana. Mungkin Sooyeon harus selalu menjadi yang pertama sampai di kelas agar dia akan aman terus-menerus. Mungkin harapannya akan klub basket bisa dicoret sekarang.

Noona~”

Lamunannya pun buyar dan Sooyeon menoleh kaget. “U-uh? Ada apa?”

Taehyung menghela napas panjang. Seperti biasa, mereka menghabiskan jam istirahat berdua sambil mengobrol tentang banyak hal di taman belakang sekolah. 15 menit dia habiskan untuk bercerita tanpa istirahat tapi si pendengar bahkan tidak mendengarkannya sama sekali. Kini dia membutuhkan air mineral karena tenggoroknya terasa kering.

“Kau benar-benar tidak mendengarkanku?” tanya Taehyung kecewa.

“Tentu saja aku mendengarkanmu!” jawab Sooyeon dengan ekspresi panik.

Taehyung mendengus pelan. “Ah, tidak seru bercerita kepada seseorang yang tidak mau mendengarkanku.”

“Sudah ku bilang, aku mendengarkanmu! Percaya lah! Tadi kau bercerita tentang… uh… pertandingan NBA yang kau tonton semalam, bukan? Benar? Jika aku benar, sudah pasti aku mendengarkanmu. Hehehe…”

Melihat Taehyung kembali bercerita dengan mata berbinar, Sooyeon tahu jawabannya cukup memuaskan. Bisa gawat jika Taehyung marah kepadanya. Siapa lagi yang bisa ia ajak berteman selain adik kelasnya yang aneh itu? Oh ya, ada Jeon Jungkook.

Speaking of the devil, Sooyeon tidak melihat adik kelas tengilnya sejak pria itu memberitahunya tentang ketua OSIS di SHS yang bisa digunakan untuk memanipulasi seorang Kim Seokjin. Mungkin anak tengil itu sedang sibuk mempersiapkan lomba-lomba lainnya. Sekolah ini tidak mungkin melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan anak sepintar Jungkook. Mengingat sulitnya mencari anak jenius di kelas 10 yang mau menghabiskan hari-harinya untuk menghadapi puluhan bahkan ratusan soal yang berbeda setiap harinya. Sooyeon tidak akan terkejut jika Jungkook botak saat lulus nanti karena masalah kerontokan.

“Sooyeon sunbae!”

Dan iblis cilik pun datang! Panjang umur sekali, gerutu Sooyeon dalam hati ketika melihat orang yang sedang ia pikirkan muncul di depan mata.

“Oh Jeon Jungkook!” sahut Sooyeon sambil memaksakan senyum. Tidak sopan jika seseorang tersenyum kepadamu tapi kamu malah membalasnya dengan cemberut, bukan?

Dan yang terpenting, itu adalah Jeon Jungkook, si murid kelas 10 yang jenius. Tumben sekali orang itu tersenyum kepada Jung Sooyeon. Ajaib sekali. Aneh juga. Sooyeon merinding. Hari ini terjadi banyak hal yang tidak biasanya terjadi. Apa sebentar lagi kiamat?

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Taehyung, tak menyangka.

Sooyeon mengangguk dengan senyuman kecut. “Begitulah. Apa kau juga mengenalnya? Oh biar ku tebak! Pasti ada artikel tentang Jungkook di blog favoritmu itu, ya?” balas Sooyeon sinis.

“Wah kau hebat, Noona! Bagaimana kau bisa menebaknya dengan tepat?” heboh Taehyung. “Asal kau tahu, Jungkook itu sangat jenius! Sebenarnya dia 2 tahun lebih muda dariku alias 3 tahun lebih muda darimu, Noona.”

Jungkook sempat membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kepada Sooyeon tapi tidak jadi karena mendengar kata-kata Taehyung. Dia tidak bisa menahan senyuman bangganya. Dia pun membuat catatan kecil di otaknya agar menanyakan blog apa yang dimaksud Sooyeon nanti. Dia penasaran apa saja yang tertulis di blog tersebut tentang dirinya. Lagipula jika blog itu cukup terkenal, artinya dia juga terkenal, ‘kan?

Sementara itu, mulut Sooyeon terbuka lebar. Dia tahu Jungkook memang pintar tapi dia tidak menyangka Jungkook masih begitu muda. Jika Jungkook hanya 1 tahun lebih cepat dari seharusnya, Sooyeon masih bisa memaklumi. Beberapa orang yang lahir di awal tahun memang bisa masuk sekolah lebih awal. Namun Jungkook 2 tahun lebih awal. Bagaimana bisa? Tidak masuk akal!

“Tunggu, apa Jungkook lahir di awal tahun?” tanya Sooyeon.

Jungkook menggeleng tak terima. “Aku lahir tanggal 1 September 1997, jika kau tidak tahu.”

Taehyung menjentikkan jarinya. “Tepat! Keluarganya pindah ke Amerika pada tahun 2000 dan baru kembali ke Korea 2 tahun yang lalu. Jungkook sempat lompat kelas 2 kali. Itu sebabnya dia bisa masuk SMA walaupun umurnya 2 tahun lebih muda dibandingkan umur rata-rata siswa angkatanku lainnya.

“Sepertinya kau cocok menjadi wartawan, Taehyung-ssi. Kau pasti berhasil dan mendapatkan banyak prestasi. Apalagi jika kau menjadi wartawan gosip,” cibir Sooyeon.

Taehyung menyengir sembari menggaruk tengkuknya kikuk. Sementara Jungkook masih tersenyum lebar. Dia tidak menyangka ada orang yang tahu banyak hal tentangnya. Padahal dia tidak ingat pernah menceritakan tentang dirinya kepada orang lain sejak dia masuk SHS. Oh mungkin teman SMPnya yang menyebarkan berita tentangnya. Walaupun dia hanya menghabiskan 1 tahun bersama teman SMPnya, mereka tahu cukup banyak tentangnya karena ibunya senang membanggakannya kepada para guru.

“Oh iya, siapa namamu? Kita belum saling berkenalan,” seru Jungkook senang seraya memberikan tangan kanannya.

Taehyung langsung menjabatnya. “Kim Taehyung. Kelasku tepat di samping kelasmu.”

Mereka pun asik bertukar kata sedangkan Sooyeon memperhatikan dalam diam. Bibirnya melengkung ke bawah karena 2 orang itu terlalu asik dengan perbincangan mereka dan meninggalkannya sendiri.

“Cukup!”

Sooyeon berdiri di antara keduanya dan mendorong 2 juniornya menjauh. Dia sudah tidak tahan mendengar Taehyung bercerita tentang blog yang biasa ia kunjungi untuk mengetahui gosip terkini di SHS dan Jungkook yang tersenyum oh-terlalu-lebar.

“Untuk apa pula kau datang ke sini?” tanya Sooyeon kepada Jungkook.

Jungkook pun teringat alasan yang membuat mendatangi Sooyeon tadi. “Oh, Sunbae, aku ingin menanyakan perkembangan usahamu melawan Seokjin sunbae. Bagaimanapun, aku lah yang memberikanmu saran untuk meminta bantuan kepada Ahyoung sunbae.”

“Tidak ada perkembangan sama sekali. Aku… aku sangat sibuk akhir-akhir ini jadi tidak punya waktu untuk menemuinya. Lagipula ketua OSIS pasti sibuk! Aku tidak mau mengganggunya—“

“Bukankah tadi pagi, kau datang pagi sekali untuk bertemu Ahyoung sunbae tapi kau takut dengannya jadi kau lari ke kelasmu?” celetuk Taehyung polos.

Sooyeon menggertakkan giginya kesal. Padahal dia susah payah mencari jawaban terbaik untuk menghindari hinaan lainnya dari Jungkook. Akan tetapi, lihatlah ekspresi Jungkook sekarang! Taehyung sukses mempermalukannya di depan orang yang sangat hobi merendahkannya. Baiklah, bertambah satu topik bagi Jungkook untuk merendahkannya.

Terima kasih atas bantuanmu, Kim Taehyung. Terima kasih banyak! Argh!

 

***

 

Sooyeon segera kembali ke kamar setelah makan malam bersama keluarganya. Dia harus belajar untuk ulangan biologi besok. Oh biologi, hanya pelajaran ini yang ia suka. Setidaknya hanya biologi yang tidak mempunyai rumus. Dia hanya perlu menghafal teori. Memang sejak kecil, dia ahli menghafal tapi payah menghitung. Sayang dia harus mengambil jurusan IPA agar dapat bersama dengan sang ‘kakak’ sehingga ada seseorang yang ia kenal di tempat asing, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh orangtuanya.

Sooyeon memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat kopi. Dia berharap kafein dapat menghilangkan rasa pusing dan menekan kantuknya. Seluruh keluarganya sudah masuk ke kamar masing-masing sehingga dia tidak menghabiskan banyak waktu dan segera kembali ke kamarnya.

Krek…

Sooyeon mendecak pelan mendengar suara jendela dibuka ketika dia baru saja duduk di kursi belajar dan cangkir berisi kopi sudah tertata indah di atas meja. Posisi meja belajar yang tepat di bawah jendela pun membuatnya melihat sosok Hoseok keluar dari kamar dengan jelas, memakai pakaian yang sama dengan beberapa hari yang lalu.

Beberapa minggu terakhir, Hoseok tidak sering kabur keluar dengan seragam basket yang dibalut dengan jaket. Tebakan Sooyeon, kakak tirinya seperti itu dikarenakan beberapa pelajaran yang sudah mulai mengadakan ulangan harian. Mau tak mau, Hoseok harus menyisihkan waktunya untuk belajar agar tidak mendapatkan masalah jika nilainya berantakan.

Karena rasa penasaran, Sooyeon mengganti bajunya dan keluar lewat jendela seperti Hoseok. Bedanya, dia harus merapikan mejanya terlebih dahulu agar lebih mudah saat kakinya menginjak meja belajarnya. Untung saja dia tidak kehilangan jejak sang kakak karena Hoseok sempat memakai sepatunya terlebih dahulu di depan rumah.

Sooyeon berjalan sekitar 7 meter di belakang Hoseok untuk jaga-jaga. Walaupun sudah memasuki musim semi, suhu di malam hari tetap menusuk. Gadis itu bersyukur dalam hati karena jaket yang dikenakan olehnya cukup tebal.

Setelah gang demi gang dan tikungan demi tikungan, Sooyeon semakin penasaran kemana tujuan Hoseok sebenarnya. Pria itu tidak melalui jalan-jalan besar dan tidak juga memakai sarana transportasi apapun. Mereka sudah lama berjalan tapi belum juga sampai. Kaki Sooyeon mulai terasa sakit karena terlalu berjalan. Walaupun kenyataannya, dia baru berjalan sekitar 30 menit.

Hoseok mulai berlari dan Sooyeon tidak bisa ikut berlari karena kakinya yang terasa sakit. Untuk 1 menit kemudian, dia masih bisa mengikuti Hoseok sampai akhirnya kehilangan jejak. Dia pun berpikir Hoseok pasti tahu dia mengikutinya. Tidak mungkin pria itu berlari setelah berjalan-jalan entah kemana tujuannya jika bukan karena dia sadar ada yang mengikutinya.

Aish, dimana dia? Larinya cepat sekali! Aku kehilangannya. Bagaimana ini?” gumam Sooyeon, terengah-engah.

Dia melihat ke sekitar dan itu membuatnya dari panik menjadi takut.

Oh tidak, dimana aku sekarang?

 

***

 

Seokjin mencintai kesendirian lebih dari apapun. Itu sebabnya pesta dan keriuhan adalah musuh besarnya. Malang nasibnya mempunyai ayah seorang menteri pertahanan dan ibu seorang bintang terkenal yang membuatnya selalu datang ke banyak pesta. Dikelilingi kamera adalah sebuah tradisi sejak ia lahir tapi dia tetap saja tidak suka cahaya yang menyilaukan.

Malam ini membuktikan kemalangannya. Dia ditarik paksa oleh ibunya untuk datang ke pesta peluncuran buku. Akhir-akhir ini, ibunya memang tertarik untuk membuat buku dan mengangkat ceritanya ke layar lebar, tentunya dia sebagai pemain perempuan utama. Ternyata banyak produser yang siap mengabulkan keinginannya. Ibunya sangat beruntung tapi Seokjin merasa sangat malang.

Oh come on, Son, tersenyumlah! Jangan turun dari mobil jika kau tidak mau tersenyum!” ancam ibunya.

`Seokjin mengangkat kepalan tangannya sambil berseru lega. “YEAH~ aku tidak perlu tersenyum kalau begitu! Jadi kau bisa turun dan supir akan mengantarkanku kembali ke rumah.”

Yah, Kim Seokjin~ para wartawan sudah menunggu Lee Soyeon dan anaknya yang tampan turun dari mobil jadi berhenti merengek dan.. smile~!”

“Kim Soyeon,” ralat Seokjin sambil memaksakan senyum.

Well, aku debut dengan nama Lee Soyeon.” Ibunya mengangkat bahunya tak acuh lalu tersenyum lebar. “Omo, anakku sangat tampan saat tersenyum! Kau memang menuruni gen superiorku. Aduh, tampan sekali. Pasti seluruh wanita tergila-gila pada anakku. Bayiku sudah besar.”

Seokjin memutar matanya melihat ibunya mulai bertingkah dramatis seperti apa yang wanita itu ajarkan kepada Ahyoung. Setiap Ahyoung bermain ke rumah saat ibunya tidak punya kegiatan, ibunya hobi mengajarkan cara-cara berakting dan terobsesi untuk mengajak Ahyoung ke dunia hiburan. Beruntung Ahyoung menolak karena Seokjin bisa gila dikelilingi 2 ratu drama di hidupnya.

Ohkay, redey! Kita sudah hampir sampai!”

Seokjin menepuk wajahnya mendengar bahasa ibunya yang salah.

Berhentilah sok Inggris. Itu bisa mempermalukan dirimu sendiri, wanita tua, gerutu Seokjin dalam hati. Dia tidak pernah memanggil ibunya seperti orang lain memanggil ibunya. Dia bahkan berbicara informal dengan ibunya sendiri karena ibunya selalu bertingkah seperti anak muda.

Mobil  berhenti di tempat yang ditentukan dan pintu pun terbuka. Kedatangan mereka disambut dengan kilat-kilat cahaya yang berasal dari kamera para wartawan. Lee Soyeon memeluk tangan anak tunggalnya sambil melangkah di atas karpet merah. Sementara Seokjin tersenyum paksa, membuatnya wajahnya terlihat aneh.

Seokjin bersyukur pesta itu hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu sehingga tidak akan ada yang memaksanya untuk berpose di dalam ruangan karena semua wartawan berada di sekitar karpet merah. Dia hanya ingin mengambil minum dan mencari titik-titik yang sepi di dalam gedung. Toh, ibunya hanya membutuhkannya untuk karpet merah agar tidak terlihat kesepian. Artinya, tugasnya sudah selesai untuk malam ini.

Seokjin sengaja asik mengutak-atik handphonenya agar tidak ada yang mau repot-repot mendatanginya walaupun beberapa gadis remaja sibuk berbisik sambil meliriknya. Sayangnya, tetap saja ada orang yang nekat menghampirinya tapi pergi setelah 5 menit berbicara tanpa ditanggapi sedikitpun. Dia tidak punya keinginan untuk melayani siapapun. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang dan tidur.

Seokjin mendesah pelan saat merasakan dampak dari bergelas-gelas jus yang diminum malam ini. Ibunya sudah mewanti-wanti agar dia jauh-jauh dari segala minuman yang mengandung alkohol karena dia masih di bawah umur jadi Seokjin hanya bisa minum jus apel dan jeruk, sesekali air putih. Dia segera mencari dimana kamar mandi.

Kamar mandi cukup sepi. Hanya ada satu orang yang sedang mencuci tangan dan sepasang orang yang di salah satu bilik sedang melakukan sesuatu. Suara desahan sang perempuan cukup mengganggu tapi Seokjin berusaha untuk tidak peduli. Dia cepat-cepat menyelesaikan urusannya lalu mencuci tangan. Ketika dia menarik kenop pintu, dia mendengar suara teriakan. Dia kenal suara itu.

Brak!

Seokjin menendang pintu bilik yang tertutup. Wajahnya memerah melihat tebakannya tidak salah sedikitpun. Dadanya kembang-kempis karena emosi melihat seorang pria sekitar 25 tahun sedang berusaha melepaskan gaun ibunya.

“Temui aku di luar,” perintah Seokjin seraya berbalik badan dan melangkah pergi.

 

***

 

Adeul—“

“Tidak bisa menunggu sampai perceraian kalian diresmikan?” serang Seokjin.

Dia tahu orangtuanya dalam masalah besar dan sedang mengurus perceraian. Orangtuanya tidak menutupi apapun darinya dan dia bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, dia tidak peduli. Dia tidak peduli apapun yang terjadi kepada orangtuanya karena keduanya memang tidak pernah akur selama beberapa tahun terakhir. Dia sudah mempersiapkan mental untuk perceraian orangtuanya sejak kecil. Jadi itu bukanlah hal yang besar. Lagipula kedua orangtuanya sudah sibuk dengan dunia masing-masing. Jadi apa yang bisa dia harapkan?

“Seokjin-ah, dengar—“

“Dan mengapa harus dengan pria yang jauh lebih muda darimu? Apa kau tidak berpikir dia bisa saja menjebakmu dan menghancurkan karirmu? Apa kau tidak pernah memikirkan setiap tingkah lakumu?”

“Aku tahu tapi—“

“Ya Tuhan, kau sudah tua, Lee Soyeon. Kim Soyeon. Terserah! Anakmu, aku, akan masuk universitas tahun ini tapi kau bisa saja merusaknya dengan membiarkan pria muda memanfaatkanmu di saat gedung ini dikelilingi wartawan. Tidak bisa kah kau mengambil keputusan yang lebih cerdas?”

Yah, Kim Seokjin!”

“Aku bosan harus melihatmu selingkuh dengan pria-pria muda. Apa kau adalah pedofil? Pantas jika ayahku menceraikanmu!”

Plak!

Yah, Kim Seokjin! Aku adalah ibumu! Aku tak pernah memaksamu kau memanggilku ibu. Aku biarkan kau berbicara informal kepadaku. Akan tetapi, jangan pernah menghinaku karena aku adalah orang yang melahirkanmu! Aku terpaksa melepaskan kesempatan untuk kuliah tepat setelah lulus hanya karena aku ingin mempertahankanmu! Jadi jangan pernah berani kau menghina Lee Soyeon!” bentak ibunya, diakhiri dengan teriakan frustasi.

Mereka berdua tidak lagi saling berteriak satu sama lain. Soyeon sibuk mengatur napasnya sambil menahan tangis  sedangkan Seokjin menatap ibunya tak percaya. Setelah hormon adrenalin sedikit menurun, Lee Soyeon menyadari apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu dan menatap mata anaknya.

Adeul, a-aku tidak sengaja. M-maaf..”

Seokjin mundur satu langkah ketika ibunya hendak menyentuh bekas tamparannya. Dia menggeleng pelan seakan melarang ibunya untuk mendekat. Air mata yang sedari tadi ditahan pun mengalir dan merusak riasan di wajah Soyeon.

“Seokjin-ah…”

“Jangan sentuh aku,” tekan Seokjin. Wajahnya benar-benar dingin sehingga membuat ibunya sendiri ketakutan.

“A-aku tidak sengaja. Kau harusnya mengerti aku—Seokjin!”

Seokjin berlari pergi meninggalkan ibunya. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali walaupun di pintu keluar, para wartawan mencoba menghalanginya agar mereka bisa mewawancarai anak tunggal seorang Lee Soyeon. Seokjin cukup gesit untuk menghindar dan menjauh dari para wartawan, dari tempat itu, dan terutama dari ibunya.

 

***

 

Sekitar 10 menit, dia mencoba keliling mencari jalan pulang, akhirnya Sooyeon menyerah dan memutuskan untuk istirahat di sebuah taman bermain. Dia duduk di salah satu ayunan dan mencoba mencari cara jitu agar bisa pulang dengan aman. Bodoh sekali dia lupa membawa handphonenya. Jika tidak, dia pasti sudah berhasil menemukan jalan pulang dengan bantuan GPS.

Dia lelah berpikir karena dia tak kunjung mendapatkan ide dan memutuskan untuk seseorang lewat agar dia bisa bertanya jalan pulang. Dia hanya bisa berharap dia bertemu dengan orang baik jadi dirinya akan tetap baik-baik saja. Walaupun kemungkinannya kecil karena hari sudah sangat malam.

Dia bersenandung pelan sambil menggerakkan ayunannya pelan. Tangannya memeluk tubuhnya erat. Jaketnya memang tebal tapi jika dia berada terlalu lama di tempat dingin tanpa melakukan apapun, tubuhnya merasa dingin juga. Hatinya tidak berhenti berdoa agar orang baik melintasi jalan di depan taman.

Bingo!

Sooyeon berlari kecil menghampiri seseorang yang berjalan melewati taman.

J-jogiyo!” serunya.

Sooyeon menghela napas panjang saat orang itu berhenti. Dia tinggal berharap orang itu adalah orang baik. Saat orang itu berbalik badan, dia terhenyak kaget melihat siapa orang tersebut.

Kim Seokjin sunbae! Aku bahkan tidak tahu aku ini beruntung atau malah sial.

“Apa maumu?” tanya Seokjin dingin.

Seketika Sooyeon pun menyesal sudah memanggilnya. Dia tidak mau mencari masalah dengan orang yang bisa menyewa pembunuh bayaran. Tidak. Tidak. Tidak. Dia masih menyayangi nyawanya. Mencari masalah dengan Seokjin di malam hari yang sepi bukanlah hal yang cerdas untuk dilakukan. Tidak ada yang bisa dimintai tolong.

Jung Sooyeon, tetaplah selamat sampai matahari terbit! Ayo kabur!

Sayang sekali, sebelum Sooyeon bisa melarikan diri, Seokjin menarik tangannya dan menatapnya tajam. Kini gadis itu hanya bisa berdoa untuk keselamatan nyawanya.

“Kau… sepertinya aku mengenalmu,” gumam Seokjin.

“Tidak! Kau tidak mengenalku! Kau tidak pernah melihat wajahku dimana pun. Kau hanya berkhayal. Kau pasti tidak mengenalku. Jadi biarkan aku pergi dan kau boleh pergi kemanapun kau mau. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” celoteh Sooyeon ketakutan.

“Kau—“

“Kau tidak mengenalku! Kau tidak pernah melihat wajahku dimana pun!!!”

“Aku ingat! Kau yang masuk seenaknya ke dalam ruangan klub basket dan mengganggu tidurku lalu aku mengirimmu ke ruang kepala sekolah, bukan? Apakah kau memanggilku karena kau masih ingin memaksaku untuk memberikan klub basket kepadamu, uh?”

Sooyeon menggeleng mantap. Menyadari Seokjin tidak mungkin mempercayai segala alasan yang akan ia lontarkan, Sooyeon pun berusaha melepaskan tangannya agar bisa melarikan diri.

“Berhenti memberontak. Aku tidak akan menyerangmu atau melakukan sesuatu yang tidak pantas kepadamu jadi tenanglah. Jika kau berlari pergi sekarang dengan muka ketakutan, orang-orang akan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Aku tidak bisa mendapat masalah di tahun terakhir sekolah,” omel Seokjin.

Seokjin melepaskan tangan Sooyeon setelah melihat wajahnya yang mulai tenang tapi ditahan lagi karena gadis itu kembali mencoba melarikan diri.

“Aku tidak akan melakukan sesuatu kepadamu tapi kau harus menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak akan ada orang yang curiga,” desah Seokjin, mengacak rambutnya gemas.

Seokjin menarik Sooyeon ke tempat tadi gadis itu duduk. Dia mendorong Sooyeon pelan agar duduk di ayunan lalu dia duduk di sebelahnya. Ketika dia memperhatikan sekitar, dia baru sadar dia berada di taman bermain. Sebuah senyuman sedih terkulas di wajahnya. Dia teringat masa kecilnya saat ibunya masih lebih memilih dirinya daripada karirnya.

“Kau mempunyai masalah berat, ya?” tanya Sooyeon, hati-hati untuk tidak membuat Seokjin tersinggung atau semacamnya.

Seokjin hanya menoleh sebentar lalu menatap ke depan.

“Setiap kali aku mempunyai masalah, aku senang melihat langit. Terkadang, langit punya cara tersendiri untuk menghibur orang-orang,” ujar Sooyeon. “Dan beruntungnya, hari ini adalah bulan mati. Tidak begitu banyak awan pula. Hanya saja, udaranya cukup lembab. Namun kau tetap bisa melihat bintang. Bintang cukup ekslusif untuk dilihat dengan mata telanjang karena mereka terlalu sering mengalah kepada matahari dan bulan.”

Seokjin menatap Sooyeon seakan dia sedang menatap orang aneh tapi gadis itu sedang asik menatap langit sambil tersenyum.

“Kau pasti sangat menyukai bintang. Kau langsung tersenyum begitu melihatnya padahal beberapa detik yang lalu, wajahmu ketakutan,” cibir Seokjin.

Sooyeon menoleh sejenak lalu menatap langit kembali. “Sudah ku bilang, aku senang melihat langit. Aku sangat menyukai langit dan benda apapun yang ada di langit. Satu-satunya alasan mengapa aku tidak pernah protes kepada orangtuaku karena memaksakanku ke jurusan IPA agar bisa bersama kakakku adalah pelajaran astronomi.”

“Ku tebak kau pasti juga menyukai hujan.”

Seokjin tersenyum melihat gadis di sampingnya mengangguk. Sooyeon mudah ditebak baginya. Perempuan memang senang hal-hal yang dramatis seperti itu. Hujan, mobil dan lagu sedih dijadikan satu adalah hal favorit para perempuan.

“Tanpa sadar, kita selalu merendahkan bumi, menginjak-injaknya dan merusaknya. Tapi kita memuja langit, berusaha menggapainya dan mencari cara untuk menyentuhnya tapi selalu gagal. Walaupun begitu, langit tidak merendahkan bumi. Keduanya memang tidak bisa menyatu tapi langit tetap berusaha untuk berhubungan dengan bumi. Hujan adalah satu-satunya cara. Hujan adalah satu-satunya bukti bahwa langit sangat menyayangi bumi walaupun manusia merendahkannya,” jelas Sooyeon.

Sekitar beberapa detik pertama, tak ada satupun yang membuka mulut. Suasana begitu hening sampai akhirnya tawa Sooyeon pecah. Seokjin menatap gadis itu bingung.

“Kau pasti menganggapku orang aneh, ‘kan, Sunbae? Kau menganggapku anak kecil karena masih berpikir seperti itu. Namun aku tetap mempercayainya karena langit mengajariku banyak hal. Dan yang paling penting, langit selalu mengingatkan aku akan ayah dan adikku,” lanjut Sooyeon.

Seokjin menjilat bibirnya. “Memang ada apa dengan ayah dan adikmu?”

“Mereka meninggal. Kecelakaan pesawat. Di hari ulangtahunku. 10 tahun yang lalu. Tapi aku tidak sedih sama sekali. Mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi tapi mereka tetap hidup di hatiku.” Sooyeon tersenyum kecil lalu mengibaskan tangannya. “Huh, apa ini? Tidak seharusnya aku menceritakan kisahku sendiri. Maaf karena sudah terlalu cerewet—“

“Jadi kau tinggal bersama ibumu sekarang?”

Sooyeon mengerjap, tak menyangka Seokjin akan tertarik dengan kisah hidupnya. “Uh… tidak. Ibuku baru saja menikah lagi sebulan yang lalu. Aku juga mempunyai kakak laki-laki yang seumuran denganku. Hanya saja dia lebih tua dariku 2 bulan.”

“Kau tidak marah ibumu menikah lagi? Bukankah artinya ibumu tidak mencintai ayahmu lagi?”

“Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang itu. Itu adalah perasaan ibuku dan biarkan ibuku sendiri yang mengurusnya. Lagipula ayahku sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Walaupun ayahku baru meninggal tahun lalu pun, aku tidak akan keberatan dia menikah lagi. Aku hanya ingin melihatnya bahagia karena membesarkan anak seorang diri itu sulit.”

“Perhatian ibumu pasti terbagi-bagi.”

“Walaupun perhatian ibuku tidak lagi hanya terfokus kepadaku, tapi ada orang lain yang kini ikut memperhatikanku. Jadi bukanlah masalah bagiku. Lagipula tak peduli sebanyak apapun dia membagi perhatiannya, aku akan menjadi orang yang paling dia perhatikan karena aku adalah anaknya. Seorang ibu tidak akan bisa berhenti menyayangi anak. Jadi sebagai balasannya, apapun yang membuatnya senang, aku pun akan senang.”

Seokjin hanya mengangguk-angguk selama Sooyeon berbicara. Secara tak langsung, dia merasa seperti diceramahi oleh adik kelasnya sendiri. Untuk pertama kalinya, dia merasa berterima kasih kepada seseorang selain orangtuanya dan Kim Ahyoung.

“Sudah malam. Kau tidak pulang?” tanya Seokjin sambil menatap jam tangannya.

Sooyeon mengusap tengkuk. “Uh… sebenarnya… alasanku memanggilmu tadi karena…“

“Karena?”

“Uh, karena… aku ingin bertanya jalan. Aku tersesat.”

 

***

 

Seokjin sengaja menelepon supir ibunya untuk menjemputnya karena dia pun tidak mengerti jalan-jalan di Seoul. Dia jarang keluar dari rumahnya. Dia menyuruh supirnya untuk mengantarkan Sooyeon terlebih dahulu sebelum kembali ke pesta. Setelah mengantarkan Sooyeon pulang, supir membawa mobil kembali ke gedung tempat pesta perilisan buku ibunya diselenggarakan.

Sepertinya mereka sampai tepat saat pesta selesai. Seokjin tidak melihat wartawan di pintu masuk dan beberapa tamu sibuk berpamitan, tidak terkecuali ibunya. Dia tidak tertarik untuk turun. Dia hanya menunggu ibunya di dalam mobil.

Seokjin hampir saja ketiduran karena terlalu lama menunggu ibunya yang tak kunjung masuk ke dalam mobil. Untung saja ibunya masuk tepat sebelum ia terlelap pulas.

“Seokjin-ah?” kaget ibunya. “Kau kembali? Kau masih marah kepadaku?”

Pria itu tidak menyangka ibunya akan sekaget itu. Dia juga tidak merasa Lee Soyeon sedang beraksi dengan aktingnya yang menawan sebagai ibu yang baik. Dia hanya merasakan aura ibunya.

“Tidak. Aku tidak marah kepadamu,” jawab Seokjin pelan sambil menatap keluar jendela. Dia tidak berani menatap ibunya.

“Aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf. Aku sangat menyesal. Aku tidak—“

“Dengar! Aku marah kepada diriku sendiri karena sudah menyakiti ibuku sendiri. Jadi jangan dipikirkan.”

Seokjin bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak mendengar respon apapun. Dia juga tidak mendengar suara tangis atau apapun.

“Ibu?”

Seokjin menoleh mendengarnya. “Ya. Apa ada yang salah, Eommonim?”

Seokjin tidak bisa melihat wajah ibunya terlalu  jelas. Cukup gelap di dalam mobil karena semua kaca dilapisi kaca film dan tidak ada yang menyalakan lampu. Aksi diam ibunya membuatnya ketakutan.

Yyah! Jangan diam saja! Katakan padaku apa yang terjadi?” desak Seokjin.

Soyeon memeluk Seokjin erat. “Bayiku yang manis, kau membuatku terharu. Aigo, kau jago membuatku panas-dingin. Bayi tampanku~”

“Aku bukan bayi lagi!”

 

***

 

Namjoon melirik teman setimnya yang melamun. Hoseok tidak biasanya melamun, apalagi saat pertandingan tim lain berlangsung. Namjoon selalu menekannya agar selalu memperhatikansetiap langkah tim lain agar tahu kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

“Hei.” Namjoon menyikut Hoseok. “Ada sesuatu di pikiranmu, Hope?”

Hoseok menggeleng pelan. Dia tidak mau membicarakan apa yang membuatnya melamun sedari tadi. Dia tidak mau Namjoon tahu dia telah mengerjai adik tirinya sendiri. Walaupun teman setimnya itu tidak tahu Sooyeon adalah adik tirinya, Namjoon selalu membela Sooyeon dan mengatakan bahwa dia dan kelas sudah berlebihan. Bisa-bisa dia diceramahi habis-habisan jika dia cerita dia sengaja berkeliling perumahannya agar Sooyeon tidak bisa mengikutinya.

“Dia datang! Dia datang! Dia datang!”

Hoseok melirik Namjoon bingung seakan bertanya siapa yang datang hingga membuat suasana begitu riuh. Namjoon mengangkat bahunya.

“Siapa yang datang?” tanya Namjoon saat G-Dragon melintas di depannya.

G-Dragon menyeringai lebar. “Phantom datang. Berniat melawannya? Aku akan memberikan diskon untukmu.”

“Pasti. Aku akan mengurusnya nanti.”

Hoseok menatap Namjoon tak setuju. “Jika kau bermain sendiri, bagaimana denganku?”

“Kau bisa melihat pertandinganku melawan orang yang membuat kita semua heboh. Dia tidak sering datang jadi melawannya adalah kesempatan langka. Aku tidak bisa melewatkannya,” jelas Namjoon.

Hoseok memutar mata lalu mengambil jaketnya yang diletakkan di salah satu drum. Kali ini pertandingan diadakan di basement sebuah gedung jadi suhu tidak terlalu dingin.

“Jangan pulang! Kau harus melihat permainannya!” larang Namjoon.

Hoseok memutar matanya. “Lebih baik aku pulang. Aku tidak sejeniusmu jadi aku harus belajar untuk ulangan biologi besok.”

“Nam seonsangnim sudah mengadakan ulangan di kelasku jadi aku bisa memberikanmu bocoran soalnya jadi kau harus menonton pertandingan kami! Kau bisa belajar banyak trik darinya.”

“Tidak mau.”

Hoseok tetap pergi meninggalkan Namjoon. G-Dragon menahannya di pintu masuk saat dia sedang melakukan transaksi dengan seseorang yang baru Hoseok lihat untuk pertama kalinya.

“Yo, J-Hope! Kau mau pergi? Phantom baru saja datang. Aku menceritakanmu kepadanya dan dia tertarik untuk melawanmu,” seru G-Dragon.

Hoseok memperhatikan orang yang dipanggil Phantom itu. Phantom memakai jaket kebesaran dan celana longgar. Tudung jaket menutupi kepalanya dan tak lupa, dia memakai masket. Penerangan yang seadanya membuat Hoseok tidak bisa melihat matanya. Penampilannya sudah seperti seseorang yang sedang dikarantina karena sebuah virus.

Hoseok mengibaskan tangannya. “Terima kasih, aku tersanjung tapi aku tidak bisa. Aku ingin tidur. Kau bisa melawan Rap Monster. Dia tidak sabar untuk melawanmu.”

 

***

 

Dia menutup mulutnya saat menguap untuk ke sekian kalinya. Semalam dia dan Seokjin harus menunggu mobil Seokjin datang menjemput sekitar 30 menit. Ternyata dia hanya berada sekitar 4 blok dari rumahnya. Dia masuk melewati jendela kamarnya dan tidak langsung tidur karena harus belajar biologi.

“Kau tidur semalam, Noona?” tanya Taehyung.

Sooyeon hanya mengangguk. Dia menyesal karena tidur jam 3 sehingga dia berangkat bersama Hoseok dan dijemput oleh Taehyung setelah diturunkan di tengah jalan. Mengingat Hoseok tetap menurunkannya di tengah jalan, dia yakin kelasnya akan membullynya kembali.

Noona, kau serius tidak pergi ke penyihir untuk membeli racun cinta?” tanya Taehyung lagi.

Yah! Ku bilang tidak ada penyihir di dunia modern ini!” kesal Sooyeon.

“Tapi semua orang memperhatikanmu lagi seperti beberapa hari yang lalu!”

Sooyeon memperhatikan sekitar dan baru menyadari para murid sedang memperhatikannya. Dia tidak ingat masalah apa yang dia perbuat hingga membuat sekolah kembali gempar karenanya.

Deg!

Jantung Sooyeon berdetak kencang saat sang ketua OSIS berjalan ke arahnya. Dia berusaha menenangkan diri dan berpikir orang itu hanya kebetulan melewatinya. Akan tetapi dia harus menelannya ludahnya saat Ahyoung berhenti di hadapannya. Pikirannya mulai paranoid. Dia menggenggam tangan Taehyung erat hingga pria di sampingnya itu meringis kesakitan.

“Jung Sooyeon,” panggil Ahyoung.

Oh tidak! Oh tidak! Oh tidak! Apa yang kau perbuat, Jung Sooyeon?!

Sooyeon tersenyum paksa. “Uh.. hm… ne?”

“Cepatlah ke kelasmu. Dia tidak suka menunggu terlalu lama.”

Mulut Sooyeon terbuka lebar. Kata-kata itu tidak hanya membuatnya kaget tapi juga takut. Dia tidak tahu siapa ‘dia’ yang dimaksud oleh Ahyoung. Dia semakin paranoid. Genggamannya semakin kuat. Mau tak mau, Taehyung menarik tangannya dan mengibaskannya.

“Tunggu apa lagi? Kau ingin membuatnya marah? Cepat!” sentak Ahyoung.

Sooyeon spontan berlari menuju kelasnya. Beberapa orang berkumpul di depan kelasnya tapi tidak ia pikirkan. Dia menerobos masuk dan melihat siapa yang duduk di kursinya. Mejanya entah hilang kemana.

“Kim Seokjin?!” pekiknya.

Beberapa orang menggeleng tak setuju dengan respon Sooyeon yang kurang sopan, beberapa orang tegang dan sisanya terlihat kebingungan.

“Mejamu tidak aman, Sooyeon-ssi. Bagaimana bisa ada banyak semut di lokernya? Untung saja aku hanya digigit semut yang kecil,” komentar Seokjin santai. “Tapi tenang saja, aku sudah menyuruh seseorang untuk menggantinya. Kau harus berterima kasih kepadanya nanti.”

Sooyeon mengabaikannya. Dia menghampiri Seokjin dan berdiri di depannya. Dia masih tidak percaya sang pangeran sekolah duduk di kursi. Dia mulai merasa ada kata yang tidak pantas ia katakan semalam dan membuat kakak kelasnya itu marah. Dia berdoa agar hukumannya tidak akan terlalu berat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Sunbae? Itu adalah kursiku,” kata Sooyeon, hampir menggumam.

Seokjin bangkit dari duduknya, meraih tangan kanan Sooyeon dan meletakkan sesuatu di tangannya. “Ini adalah kunci ruangan klub basket tapi kau baru boleh merekrut pemain minggu depan. Aku ingin membuat pesta perpisahan dahulu dengan ruangan tersebut jadi—“

“Mengapa tidak kau menjadi anggota pertama tim basket jadi kau tidak perlu membuat pesta perpisahan?” usul Sooyeon dengan senyuman lebar.

Seokjin menyentil kening Sooyeon sambil tersenyum masam. “Jangan berharap terlalu tinggi. Harusnya kau bersyukur aku mau memberikan ruangan itu secara cuma-cuma.”

Sooyeon hanya mengangguk sambil mengelus keningnya. Huh, pria macam apa yang kasar kepada perempuan?

“Sebentar lagi bel jadi aku harus pergi,”  pamit Seokjin sambil melangkah pergi tapi berbalik saat sampai di pintu. “Oh ya, jika kalian mengganggu Jung Sooyeon, sama saja kalian mencari masalah denganku, Kim Ahyoung, para staf guru dan kepala sekolah. Mengerti?”

Oh betapa Sooyeon mencintai setiap ekspresi di wajah teman-teman sekelasnya saat mendengat perkataan Seokjin. Akan tetapi ada yang kurang dari kelas ini. Apa ya?

Sunbae, ini meja… dia sudah pergi?”

Sooyeon menoleh ke pintu lain di kelasnya. Dia harus menutup mulutnya untuk menahan tawa saat melihat Hoseok membawakan meja untuknya. Kapan lagi dia bisa melihat Hoseok melayaninya? Hari ini pasti hari keberuntungannya.

 

To Be Continued…

Untuk soal PDF, aku mau jelasin dulu. Kalian bisa mendownloadnya di link yang tersedia tapi link itu akan dipassword. Prosedurnya sama aja kayak download lagu dan PSD. Iya aku tau aku emang ribet. Maaf ya

Aku ga tau bakal mulai kapan, tapi buat jaga-jaga aja agar aku tahu siapa aja yang perlu aku kirim password,  jangan lupa kasih email kalian setelah komentar tentang ceritanya ya.

Maaf merepotkan. Aku emang author ribet. HAHAHAHA

Dan bagi yang menunggu 180 degrees, maaf banget aku ga bisa lanjut sekarang. Filenya ada di flashdisk dan flashdiskku ketinggalan di salah satu panitia acaraku. Maaf😦

Aku lagi bete nih. Hibur aku dong😦 hehehe

BhiJ9T_CYAA491w

click the picture for more info

140 thoughts on “Hot Shot – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s