The Bloody Luv (Chapter 2)

the-bloody-luv.

Author :

XYZ Hyura

Title : The Bloody Luv

Genre : Romance, Friendship, Fantasy

Rating : PG – 15

Lenght : Chapter

Cast :

Jessica Jung | Park Chanyeol | Oh Sehun | Luhan | Byun Baekhyun

Seolhyun of AOA

ooo

Jessica mengetukan jemarinya di atas meja kantin tersebut. Ia tak sengaja melihat sunbae favorite-nya juga berada di kantin tersebut. Gadis itu sekarang mulai salah tingkah karena mengetahui namja idamannnya berada di satu tempat dengannya.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol yang melihat Jessica mulai tersenyum sendiri.

Jessica masih mengetukan jemarinya di meja kantin seraya melihat seseorang yang tidak jauh berada di sana. 

“Sooyeon!” Chanyeol menjentikan jarinya di depan mata Jessica.

“Oh?” Jessica mengalihkan pandangannya dan sekarang ia menatap Chanyeol. “Ada apa?” Jessica mencoba terlihat biasa saja dihadapan Chanyeol.

Chanyeol menoleh ke belakang, lalu kembali ke posisi awal sembari mengangguk paham. Ia tahu siapa yang Jessica perhatikan hingga gadis tersebut tersenyum sendiri bak orang gila. Siapa lagi kalau bukan Luhan – sunbae mereka.

“Masih menyimpan perasaan terhadapnya, uh?” Chanyeol menyeruput minumannya sambil sesekali melirik Jessica yang rupanya mulai mencuri pandang ke arah Luhan lagi.

Chanyeol memutar bola matanya, “Mulai?” gumamnya saat Jessica kembali tersenyum sendiri.

“Maafkan aku. Aku memang memalukan,” ujar Jessica saat ia tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Chanyeol mengernyit menatap Jessica. Lelaki itu hanya terkekeh setelah berhasil mengetahui apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Jessica.

“Hey! Kau tidak memalukan. Aku hanya bertanya apakah kau masih menyukainya?” Chanyeol terkikik geli menatap sahabatnya itu. Jessica merengut lucu layaknya anak kecil. Tanpa ba..bi..bu, gadis itu langsung pergi untuk mengambil pesanan yang belum datang juga.

Seorang gadis lewat tepat di depan dua orang laki-laki berambut ungu dan berambut cokelat keemasan. Si rambut ungu terus memandangi setiap gerak gerik gadis tadi. “Luhan hyung!” panggilnya kepada lelaki berambut cokelat keemasan, “Kau kenal dia, tidak?” tanyanya pelan.

Lelaki yang dipanggil Luhan tadi hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan temannya. “Baekhyun! Jaga pandanganmu!” ujar Luhan pelan namun cukup membuat Baekhyun menuruti perkataan tersebut. Luhan kembali membaca bukunya seraya meminum kopinya.

Baekhyun menggaruk tengkuknya kaku setelah menyadari bahwa Tiffany berjalan ke arah Luhan dan dirinya dengan wajah yang begitu suram. Baekhyun memiliki firasat yang buruk akan hal tersebut. Ia memilih pergi ke toilet secepatnya sekarang.

Hyung! Aku ke toilet sebentar!” Baekhyun langsung berlalu dari hadapan Luhan dan Tiffany berhasil menggantikan sosok Baekhyun dihadapan Luhan. Gadis itu berdiri di depan Luhan dengan wajah yang ditekuk tidak senang.

Oppa! Daddy tidak mengizinkan aku pergi ke pesta besok malam,” kesal Tiffany merajuk kepada sang pacar. Luhan hanya diam saja. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia bukan lah penasihat yang handal. Lagipula, Luhan juga tidak begitu tertarik dengan pesta yang disebut oleh Tiffany tadi.

“Kau benar-benar ingin pergi?” tanya Luhan lembut.

“Tentu saja!” jawab Tiffany keras dan bersemangat, “Aku ingin pergi karena aku belum pernah pergi ke sana.”

Luhan membuang napasnya pelan dan hati-hati – takut jika Tiffany akan salah mengartikan hal itu. “Aku lelah, Tiff. Kau ingin berangkat tanpa diriku?” Luhan menatap Tiffany. Tiffany balik menatap sang pacar dengan pandangan kesal.

“Kau jahat!” Tiffany menggebrak meja pelan, lalu begitu saja pergi dari hadapan Luhan.

Luhan memandang kepergian Tiffany dan menyambut kedatangan Baekhyun dengan senyuman tipis. Baekhyun menatap Tiffany bingung, lalu duduk di kursi sebelah Luhan. “Lagi?” Baekhyun menatap Luhan.

Luhan mengangguk pelan tanpa merasa bersedih. “Sebaiknya kita kembali ke kelas. Setelah ini adalah Park saem, ‘terlambat’ berarti kita tidak lulus.” ingat Luhan; Baekhyun mengangguk mengerti

ooo

Jessica berkali-kali memeriksa jam tangan yang dengan manis melingkar di pergelangan tangannya. Ia berjalan menyusuri lorong sekolah dengan wajah yang terlihat bingung. Ia berjalan sendiri karena Chanyeol harus bertemu dengan band miliknya.

BUK

Tanpa sengaja Jessica menabrak seseorang karena ia sibuk menatap jam tangganya. “Maaf,” Jessica membungkuk 90 derajat kemudian berlalu pergi tanpa mengetahui siapa yang ia tabrak. Ia memejamkan matanya saat ia sampai di depan mobil yang ia kendarai.

‘Sehun – ah!’ batin Jessica dalam hati. Ia menunggu kedatangan Sehun, karena biasanya Sehun yang akan mendatangi sekolahan Jessica.

Noona!” panggilan itu mampu membuat Jessica membuka matanya karena terkejut. Sehun sudah tiba di depan pintu mobilnya yang berada di seberang.

“Jangan mengejutkanku!” ketus Jessica seraya membuka pintu mobilnya. Sehun hanya tersenyum mendengar perkataan ketus Jessica. Lelaki tersebut sebenarnya sudah sampai di sekolah Jessica sedari tadi. Hanya saja ia memilih untuk menatap Jessica dari kejauhan sebelum ia menemui Jessica secara lebih dekat.

“Aku tidak suka menunggu. Jadi lain kali kau harus tepat waktu!” ujar Jessica dingin kepada Sehun.

Ne, arraseo~” jawab Sehun seraya mengangguk paham. Sebenarnya, Sehun yang terlalu lama menunggu Jessica. Saking sayangnya Sehun kepada Jessica, ia tak pernah ingin mengatakan bahwa ia yang selalu menunggu Jessica.

“Kau sudah makan, Noona?” tanya Sehun; Jessica menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah begitu terbuka kepada Sehun, entahlah mengapa. Walaupun Sehun begitu baik terhadap Jessica, gadis itu tetap saja memperlakukan Sehun layaknya orang yang asing di hidupnya.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu?” usul Sehun yang disambut dengan belalakan mata Jessica. Tentu saja Jessica terkejut seperti itu. Tidak biasanya Sehun mengajaknya makan siang bersama.

‘Oh, bodoh! Aku jarang pulang bersama Sehun.’ pikirnya saat teringat bahwa ia tidak begitu sering pulang bersama Sehun.

“Aku ingin makan di rumah saja,” elak Jessica.

“Tetapi tidak ada yang memasakan kita berdua, Noona! Kau yakin akan memasak untuk dirimu sendiri?” Sehun menatap Jessica yang masih sibuk mengendarai mobilnya.

Jessica merengut saat mengetahui bahwa Sehun meragukan dirinya dalam masak memasak. Yah, memang ia akui bahwa ia tidak begitu sering memasak karena ia tidak boleh pergi ke dapur – salah satu persyaratan dalam keluarganya. “Kau meragukanku?”

Sehun hanya menahan tawanya, “Bukan begitu. Hanya saja, memasak adalah hal yang melelahkan,” terang Sehun mencoba menyenangkan Jessica.

“Aku suka memasak,” kata Jessica pelan.

Sehun terkekeh, “Sebaiknya kita makan siang di luar untuk sekali ini saja, Noona,” kata Sehun tenang dan Jessica juga mengiyakan ajakan Sehun.

Jessica merebahkan dirinya di kasur empuknya. Ia membiarkan pintu kamar yang menghubungkan kamarnya dengan balkon terbuka begitu saja. Angin malam masuk begitu saja ke dalam kamar gadis cantik itu. Jessica menghirup udara yang begitu sejuk itu, lalu ia menghembuskannya melalui mulut.

“Menyenangkan~” gumamnya pelan seraya mengukir senyuman di wajahnya.

FIBRA PHONE

Jessica menatap layar ponselnya sebelum ia menjawab telepon dari seseorang tersebut. Setelah mengetahui siapa yang menelpon, gadis itu segera mengangkat telepon tersebut. “What?” tanya Jessica to the point.

‘Unnie! Kemarilah!’

“Ada apa? Aku lelah,” jawab Jessica singkat. Gadis itu sibuk melepas kaos kakinya.

‘Aku tahu kau belum pernah pergi ke klub, benar bukan? Maka aku ingin mentraktirmu malam ini. Datang lah ke klub bersama Sehun~’

Jessica mendengus kesal, “Bilang saja sebenarnya kau ingin mengajak Sehun ke klub. Kenapa kau harus menelponku? Kau punya nomor Sehun, bukan?”

‘Ah, Unnie.. Aku benar-benar menginginkanmu untuk datang ke klub. Aku tidak hanya mengajak Sehun!’

“Ya, ya, whatever! Aku tetap tidak akan pergi,” tegas Jessica.

‘Unnie! Apa yang salah denganmu?’

“Akan ku pastikan bahwa aku mengatakan kepada Sehun jika kau mengundang dirinya ke klub. Terimakasih telah mengundangku. I’m hang up.”

KLIK

Jessica memutuskan sambungan sebelum gadis di seberang sana mulai mengoceh panjang lebar. Ia menaruh ponselnya di dalam saku celana kemudian berjalan keluar kamar. Jessica mengedarkan pandangannya dan mendapati Sehun sedang duduk di sofa ruang tengah.

Jessica berjalan kemudian duduk di sebelah Sehun. Ia mengambil majalah fashion lalu membuka halaman demi halaman. “Kau diundang untuk pergi ke klub oleh Seolhyun,” ucap Jessica tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah fashion yang sedang dibacanya.

Sehun menoleh menatap kakak tirinya dengan wajah heran, “Sejak kapan kau mengenal Seolhyun, Noona?” tanya Sehun bingung. Lelaki itu terus memerhatikan gerak – gerik Jessica sampai Jessica menjawab pertanyaan yang ia ajukan.

Jessica menutup majalahnya, “Kau penasaran?” tanya Jessica yang sekarang menolehkan kepalanya menatap Sehun. Sehun menjadi sedikit salah tingkah saat ditatap oleh Jessica.

Sehun mengalihkan pandangannya. “Katakan saja, sejak kapan kau mengenalnya, Noona?

“Sebaiknya kau cepat pergi sebelum Seolhyun kembali menelponku,” kata Jessica kemudian beranjak dari duduknya.

“Tunggu, Noona! Apakah kau juga diundang?” tanya Sehun cepat.

“Tidak. Hanya dirimu,” jawab Jessica. Ya, gadis itu berbohong kepada Sehun. Entahlah mengapa, tetapi gadis itu tidak suka Sehun mengetahui begitu banyak urusannya.

“Aku tidak akan pergi karena kau tidak pergi,” ucapan Sehun berhasil membuat Jessica menghentikan jalannya. Gadis itu hanya menghela napas pelan.

“Terserah saja!” Jessica berjalan ke kamarnya.

Seseorang memerhatikan gerak-gerik Jessica dari luar jendela kamar gadis tersebut. Bayangan Jessica yang sedang berjalan bolak-balik di depan jendela membuat orang yang sedang mengawasinya semakin memfokuskan tatapannya. Ia begitu senang memerhatikan bayangan gadis yang cantik itu setiap malam.

Sehun keluar menuju halaman belakang karena ia merasakan udaranya terasa aneh. Benar saja, ia mendapati seorang lelaki berdiri sedikit jauh dari taman belakang rumah Jessica. Lelaki itu hanya diam dan terus mendongak menatap jendela kamar Jessica.

Jika Sehun terus merasakan dan mencium udara di sekitarnya, Sehun yakin bahwa lelaki itu semacam werewolf. Yah, walaupun sebenarnya Sehun lupa bagaimana bau werewolf, tetapi ia masih dapat meyakinkan dirinya bahwa bau yang ia cium ini adalah bau werewolf.

Sudah lama Sehun tidak menemukan werewolf semenjak ia lari dari kepungan sesama vampire yang memperebutkan dirinya. Ia diincar dan ia memutuskan keluar serta menghapus jejaknya. Memang sulit menghapus jejak seorang vampire, namun lelaki ini begitu yakin bahwa ia mampu melakukannya. Buktinya, ia sekarang benar-benar menyerupai manusia pada umumnya. Tidak ada kulit yang akan berkilau saat terkena sinar matahari. Tidak pula suhu tubuh yang terus menerus lebih rendah dari 0 derajat.

“Apa yang kau lakukan disini?” tegur Sehun membuat lelaki yang sedari tadi sedang mengamati Jessica sekarang berganti memandang Sehun.

Lelaki itu tahu betul siapa Sehun. Bau seorang vampire tidak akan pernah hilang dari penciuman dan indra perasa seorang werewolf, apalagi Luhan yang seorang ketua werewolf. Luhan hanya memandang Sehun secara mendetail. Lalu ia kembali menatap wajah Sehun.

“Kenapa kau berada di sini?” tanya Luhan pelan.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kau seorang… vampire?” tanya Luhan sopan, takut ia akan menyinggung perasaan Sehun.

“Apakah kau seorang werewolf?” tanya Sehun cepat. Lelaki ini terkejut saat Luhan menanyakan soal ‘vampire’ kepadanya. Bukannya ketakutan, bahkan ia saja sudah tidak tahu bagaimana kehidupan vampire pada umumnya. Akan tetapi Sehun takut jika Luhan akan melukai Jessica – kakak tirinya.

“Ya, aku adalah werewolf. Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah vampire tidak seharusnya berada di sini?” terdengar jelas dari nada Luhan, bahwa dirinya sedang menyindir Sehun.

“Aku tidak pernah mengangap diriku seorang vampire setelah aku merubah diriku menjadi seorang manusia biasa,” terang Sehun berusaha sebisa mungkin menahan emosinya.

Luhan terkekeh pelan bermaksud mengejek. “Sejak kapan vampire bisa berubah menjadi manusia? Yang ada yaitu manusia berubah menjadi vampire. Jangan mengada-ada! Apa yang kau lakukan terutama di rumah ini?” Luhan melacak Sehun.

Sehun hanya diam. Memang benar apa kata Luhan tersebut. Akan tetapi dia sudah menganggap bahwa dia adalah seorang manusia.

“Aku adalah adik dari gadis yang memiliki rumah ini,” jawab Sehun tidak menghiraukan ejekan Luhan tadi.

Luhan yang mendengar itu merasa bahwa itu tidak mungkin. Jessica adalah manusia, manusia dengan darah incaran werewolf dan darah kebanggaan vampire. Tidak mungkin jika Jessica memiliki adik vampire seperti lelaki yang ada dihadapannya saat ini.

“Jangan berbohong!” Luhan manatap tajam Sehun.

“Apakah kau kekasih dari Jessica noona?” tanya Sehun tanpa menghiraukan perasaan Luhan sama sekali.

Luhan terdiam. Fakta bahwa ia bukan lah seseorang yang berarti di hidup Jessica, dan bukan pula seseorang yang menjalin hubungan khusus dengan gadis tersebut adalah hal yang membuatnya terdiam. Ia berdiri, menatap bayangan Jessica dari tempat tersebut, dan berusaha meresapi setiap oksigen yang memasuki pernafasannya saat menatap Jessica adalah hal yang paling berharga. Hanya itu.

“Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, kemudian aku menatap Jessica dan aku berhenti. Ternyata ini rumah Jessica,” jawab Luhan berusaha menutupi kebohongannya.

“Tentu saja kau berbohong…eumm..”

“Panggil aku Luhan, dan aku tidak berbohong!”

“Luhan – ssi, aku menatap bagaimana kau memandangi jendela kamar Sica noona. Dan aku tahu kau menyukainya.”

“Siapa namamu?” tanya Luhan dengan nada dingin.

“Namaku Sehun,” jawab Sehun singkat.

“Senang bertemu denganmu, Sehun – ssi. Aku harus pergi..” dan Luhan pun berlalu, menghilang dari hadapan Sehun yang masih menerka apakah lelaki itu benar-benar teman dari Jessica atau bukan.

“Darimana saja kau, Hyung?” tanya Baekhyun yang sadar bahwa Luhan baru saja memasuki kamar tidurnya.

“Berkeliaran, mencari mangsa, dan kabur,” ujar Luhan begitu singkat.

Baekhyun menatap Luhan dengan intens. Baekhyun tahu bahwa saat ini Luhan sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. “Bukankah kau harus menemani Tiffany ke sebuah pesta?”

“Aku tidak bisa, aku lelah..” jawab Luhan yang sekarang merebahkan dirinya di kasur Baekhyun.

Baekhyun hanya diam mendengar jawaban Luhan. Ia tidak terlalu suka berbicara kepada Luhan di saat Luhan sedang benar-benar menginginkan dirinya diam dan suasana menjadi tenang. BRAK. Seseorang membuka pintu kamar Baekhyun secara paksa.

Hyung!” seru Baekhyun mengetahui seseorang yang sangat dirindukannya datang.

oo To Be Continued oo

Hai readers😀 Lama sudah kita tidak berjumpa.. haha.. Maaf aku baru bisa post FF ini hari ini. Yah, hitung-hitung sekalian buat hadiah adik-adik yang baru aja selesai UN *saya baik(?)* hahaha.. Gimana UN kalian??? Semoga hasilnya memuaskan yah.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan komentari apa yang harus dikomentari ‘-‘)b hehe

Thanks for Read This Fanfiction😀

66 thoughts on “The Bloody Luv (Chapter 2)

  1. aku lupa udah ngoment atau belum thor,ya udah aku ngoment lagi.sehun disini berasa jadi pembantu,hoho sehun dengan saya saja!*abaikan.sepertinya sica eon suka luhan dah*sok tau.uwaaa cerita vampire seru thor.next chap KEEP WRITING!!

    • Gapapa kok kamu komentar lagi, aku suka baca komentar kalo boleh jujur (?)😀 hehe
      Yah, Sehun harus menuruti kakaknya wkwk
      Sica eonni kan emang suka Luhan di ff ini :3
      Makasih banyak🙂

  2. Well yaahh ternyata hampir semua cast namja disini suka sm jessica asiiikk :3 termasuk luhan :3 dan yg aku suka sehun yg kena forbidden love ke sica uuuu :3 bagus thor!! Sukasukasuka :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s