Second Life ( Chapter 3-END )

image

Title : Second Life
Author : Flawless Jung
Main Cast : Jessica Jung x Kris Wu Yi Fan
Genre : Life, Married life
Rate : PG 15
Length : Series
Diclaimer : FF ini hanya meminjam nama dari setiap pemeran. Cerita beserta isinya adalah milik author.

Dikediaman keluarga Jung inilah Kris menghabiskan hamper 4 bulannya disini. Selama itu pula ia tidak tau bagaimana ceritanya ia bias disini. Siapa Jessica yang kini ia ketahui sebagai istrinya, lalu bagaimana juga masa lalunya. Orang tuanya? Tentu saja ia teramat merindukan sosok yang bahkan tidak ia ketahui rupanya itu.
Pagi ini Jessica berkutat di dapur. Mencoba resep pancake dengan isi coklat yang melumer. Ia ingin mencoba resep terbarunya ini. Kris yang sedari tadi berdiri di pintu dapur hanya dapat berkacak pinggang karena sang istri tak jua merasakan kehadirannya.
Jessica bergidik kaget setelah sepasang lengan kekar milik suaminya melingkar sempurna pada pinggangnya. LAlu ia juga merasakan sebuah benda tajam yang menumpu pada bahunya, siapa lagi kalau bukan dagu runcing milik suami tiang listriknya?
“Kr- ..”
“sshhh.. biarkan begini saja sebentar. Aku merindukanmu” potong Kris sebelum Jessica mengomel karena kelakuannya.
“hei.. kita bertemu setiap hari. Dan aku baru 30 menit meninggalkanmu di kamar kau sudah begini manjanya. Bagaimana jika aku perginya lama sekali?” oceh Jessica yang sedikit kesal karena kegiatan eksperimennya terganggu.
“aku tidak akan pernah mengijinkanmu pergi. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisi seorang Kris Wu. Paham?” Tanya Kris . atau lebih tepatnya ancaman. Sejak kapan Kris mulai hobi mengancam seperti.
“paham Mr. nah sekarang, minggirlah sebentar. Pancakenya hamper gosong.”
“baiklah. Buatkan yang enak untukku Nyonya Wu.” Kata Kris sebelum meninggalkan jejak bibirnya pada pipi Jessica. Jessica yang sempat kesal akhirnya mengalah pada perasaan senangnya karena kelakuan suaminya. Ia merasa sangat diistimewakan. Andai ini semua nyata..

Kris sedang tidur siang setelah menikmati makan siang bersama Jessica di rumah makan dekat kediaman mereka. Sedangkan Jessica, sekarang ia berada di ruang keluarga, bersama sang ayah. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya lalu menumpukan kepalanya diatasnya. Sesekali ia mengerutkan keningnya, tampak seolah sedang berpikir sangat keras.
Jessica yang duduk disebelahnya tak jauh beda. Ajahnya yang selalu ceria bersama Kris sekarang tampak muram. Ia tak banyak tersenyum jika bersama sang ayah. Jessica mendengus pelan tapi bias didengar oleh ayahnya.
“kita tidak bias begini Jes, sudah saatnya ia pulang. Keluarganya sudah menunggu.” Kata sanga ayah setelah lama berdiam diri.
“tapi ayah, aku mencintainya.” Potong Jessica.
“kalau kau mencintainya, biarkan ia hidup semestinya Jessica. Disana, banyak keluarga yang menunggu kepulangannya. Ayah tau kau yang menyelamatkan nyawanya, tapi tidak dengan begini kau bias mendapatkan hatinya.”
“ayah.. dia mencintaiku. Kami saling mencintai..” lirih Jessica. Sedangkan sang ayah hanya bias memandang prihatin pada Jessica yang tampak sangat sedih. Ia bias merasakan bagaimana besar putrinya mencintai sosok pria yang bernama Kris Wu itu. Ia pun sebenarnya tidak tega mengambil paksa kebahagiaan sang anak, tapi ini yang terbaik menurutnya.
“lalu apakah ia akan tetap mencitaimu jika ia tau yang sebenarnya Jess? Cepat atau lambat ia akan kembali, karena ini belum saatnya ia disini.”kata pria separuh baya itu seraya beranjak dari kursi tuanya lalu berjalan kearah pintu dan meninggalkan sang putri kesayangannya sendirian.
Jessica sedih. Ia sakit hati akan perkataan ayahnya, tapi logikanya membenarkan setiap kata yang terlontar dari bibir sang ayah. Memang Kris tidak seharusnya berada disini. Ia harus pulang, dan itu berarti ia akan kehilangan Kris.

Kris terpaksa membuka matanya karena seseorang telah mengganggu jam tidurnya yang paling berharga itu. Tapi rasa kesalnya mendadak hilang setelah maniknya menangkap sosok Jessica yang menjadi dalang dari semuanya. Senyuma manis Jessica seakan menular pada Kris. Kris berbalik lalu bangun dari tidurnya dan menatap kearah istrinya.
“dasar pemalas, jangan tidur terus. Kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mebuat kenangan!” omel Jessica pada Kris.
“waktu yang tersisa, apa mak-..”
“bagus yang mana ? yang biru apa yang kuning pastel ini?” Tanya Jessica yang secara langsung memotong pertanyaan Kris. Kris yang masih heran akhirnya mengalihkan perhatiannya pada kedua dress yang ditunjukkan Jessica.
“yang kuning pastel. Kau akan kelihatan sangat cerah.”
“ah, begitukah? Baik. Dan kau pakai yang ini Mr. Wu. Kau akan terlihat sangat tampan” seru Jessica sambil menyampirkan setelan kemeja putih dengan celana berwarna coklat muda di bahu Kris. Kris selalu memakai apapun yang disiapkan Jessica, karena Jessica punya selera fashion yang baik menurut Kris.
“cepat bertukar. Kita akan ke taman bermain dekat rumah. Aku sangat ingin cotton candy!” kata Jessica lagi sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu toilet untuk berganti pakaian. Kris yang menatap punggung Jessica, hanya bias tersenyujm kecil sedangkan otaknya yang terus berputar untuk memecahkan teka teki panjang nan rumit ini.

Dan disinilah kedua insan itu. Saling bergandengan seperti pasangan pada umumnya. Sesuai kata Jessica, ia sudah mendapatkan cotton candynya ditangannya. Taman bermain ini memberikan semua hal secara Cuma-Cuma kepada setipa pengunjung ynag dating. Kris tetap bingung bagaimana sebenarnya system perekonomian yang stabil seperti ini ada. Dimana semua orang tidak perlu bekerja dan kebutuhannya sudah tercukupi secara alamiah.
Jessica menyeret Kris kearena cable car. Sudah lama ia ingin mencoba cable car ini. Jessica yang antusias dengan senyum yang tercetak jelas itu tak ayal juga mencerahkan mood Kris. Dengan senang hati Kris menemani kemanapun Jessica pergi.
“sebenarnya aku sedikit takut, tapi aku penasaran.” Kata Jessica sambil menekankan dua kata terakhirnya.
“ kau punya GALAXYMAN disini, taka da yang perlu kau takuti. “ kata Kris sambil menepuk dadanya bangga. Jessica yang melihat tingkah Kris yang terkadang tidak cocok dengan wajah dinginnya itu terkekeh kecil.
Saat cable carnya jalan membelah luasnya taman dikota ini Jessica dan Kris memandang takjub. Ini pertama kalinya Kris serta Jessica melihat kotanya dari atas. Mereka mendapati banyaknya kincir angina dan juga beberapa anak sungai yang mengalir sepanjang kota yang mereka diami ini.
“AKH!” teriakan Kris mengangetkan Jessica. Kris tiba-tiba terduduk dan memegangi kepalanya. Persis kejadian beberapa hari lalu. Jessica yang berada didepannya terkesiap. Perkataan sanga ayh tadi memenuhi otaknya. Ia panic, takut, kesal semuanya bercampur.
Kris tetap memegangi kepalanya yang serasa akan jatuh sambil mengigit bibirnya. Ia menahan keluh yang mungkin akan keluar dan membuat Jessica semakin panic. Ia tidak ingin membuat Jessica khawatir seperti hari kemarin.
Perlahahn pegangan di kepalanya mengendur. Kris merasa sudah tidak sesakit tadi. Matanya akhirnya terbuka dan mendapati Jessica yang duduk bersimpuh didepannya dengan wajah yang tak bias ia deskripsikan. Ada beberapa butir air yang siap menggenang kapan saja. Dengan kedua belah tangan yang masih sedikit bergetar Kris meraih kedua belah pipi istrinya.
“aku sudah tidak apa-apa. Aku baik baik saja sayang. Jangan cemas. Aku disini.”  Tepat diakhir kalimatnya ia meraih Jessica kedalam pelukannya. Dada bidangnya seperti menjadi tempat favorit Jessica. Ia membenamkan seluruh wajahnya pada dada suamninya itu untuk mencegah air matanya terjun bebas.

“apa kau pernah bertemu keluargaku? Ayah dan ibuku maskudku..”
Kata kata yang baru saja keluar dari bibir Kris hamper membuat Jessica tersedak dari kopinya. Ia kemudian menaruh segelas kopi itu hati-hati pada meja tempat mereka beristirahat.
“tentu saja. Mereka baik. Ibumu cantik dan ayahmu tampan. Kau mewarisi gen mereka dengan baik.” Balas Jessica sekenanya.
“benarkah? Dimana mereka sekarang? Bisakah kau membawaku bertemu mereka?” Tanya Kris dengan mata berbinarnya. Sesungguhnya ia sudah sangat penasaran akan keberadaan kedua orangtuanya.
“baiklah. Tapi tidak sekarang. Kau akan segera menemui mereka Kris..” kata Jessica. Tanpa Kris ketahui, Jessica mereasa sangat sesak saat mengucapkan kalimat barusan. Baginya , jika Kris bertemu orang tuanya, berarti ia sudah tidak ada harapan lagi untuk tetap bersama pria-nya.
Kris yang tersenyum lebar sambil menikmati kopinya membayangkan rupa kedua orang tuanya. Jessica menjadi sangat bersalah. Seakan kebahagiaan Kris saat ini sangat semu baginya. Logikanya mulai berjalan semestinya. Ia tau, bahwa Kris layak bahagia. Tapi tidak disini, tidak dengannya.

Malamnya , Kris melanjutkan hobi barunya, meletakkan kepalanya pada paha Jessica. Dan membiarkan jari-jari lentik Jessica bermain dikepalanya. Matanya terpejam say ia merasa sebutir air mengenai wajahnya. Kelopak matanya terbuka dan mendapati Jessica yang sedang menatap keatas dengan ujung hidung memerah. Jessica menangis.
“ada apa??” Tanya Kris begitu melihat Jessica menatapnya.
“ah! Tidak. Ada debu yang masuk kemataku. “ elak Jessica. Sebenarnya Jessica sednag bertarung dengan egonya. Egonya untuk mempertahankan Kris disini, atau logikanya yang menginginkan kebahagiaan sejati untuk Kris.
“Kris..” panggilnya.
“ehm..?”
“jika sampai saatnya kita tak bias bersama lagi, maukah kau tetap mengingatku? Berjanjilah tidak membenciku.” Kata Jessica tanpa melihat kearah Kris.
Kris yang mengerutkan keningnya bingung hanya bias menjawab seperlunya. “tentu saja. Dan kata siapa aku bias membenci malaikat tercantikku satu ini? Dan kata siapa juga kita akan berpisah?”
Jessica tak mampu membalas perkataan Kris. Ia hanya memancarkan senyumnya tulus. Bahagianya saat Kris bersamanya. Yang ia inginkan selama ini telah terpenuhi. Ia telah mengerti bagaimana rasanya dicintai oleh pria yang dicintainya. Sudah cukup. Jessica sudah bulat akan tekadnya.

Kris menatap bingung pada keadaan sekitar. Semuanya berubah menjadi sangat berbeda. Tak ada lagi matahari yang setia menembus tirai setiap paginya. Tak adalagi mawar yang berdiri anggun didalam pot kamarnya. Yang ia dapati adalah suasana muram diseluruh kamar. Dimana-mana ia menemukan seolah ruangan ini tak terawatt sekian lamanya. Barang yang seharusnya tersusun rapi jatuh berantakan tak berbentuk.
Seingatnya semuanya baik-baik saja saat kemarin malam ia memejamkan matanya pada paha Jessica. Bagaimana dalam semalam saja keadaan bias porak poranda seperti ini? Otaknya langsung merespon kehadiran Jessica diujung pintu kamarnya. Jessica yang masih sama dengan senyum cantiknya.
“pagi sayang.. ayo ikut aku..” kata Jessica sembari menarik tangan Kris untuk bangun dan mengikutinya. Langkah mereka berdua terhenti saat mereka berdua berada dipagar rumah. Jessica memperbaiki posisi Kris hingga mereka saling berhadapan.
“kau mau tau hal paling indah dalam hidupku? Kau. Kau anugrah tiada batas yang Tuhan berikan untukku. Kau adalah sesuatu yang bahkan tak kuijinkan terluka barang seincipun. Kau adalah pria yang perasaan yang kurawat setiap harinya. Kau sumber dimana aku bias bertahan hingga detik ini. Kau kebahagiaanku Kris.” Ucap Jessica panjang lebar sambil menciumi kedua belah punggung telapak tangan Kris. Ia tak berani menatap Kris, karena ia tau pasti, air matanya akan tumpah setelah ia menilik sedikit saja.
“Jess..”
“maukan kau berjanji padaku? Pada kehidupan kedua tetaplah menjadi suamiku. Tetaplah menjadi belahan jiwaku. Tetap menjadi seseorang yang selalu membuatku jatuh cinta. Bersediakah?” Tanya Jessica.
“tentu saja. Bahwa tidak hanya kehidupan kedua. Ketiga, keempat, kelima.. bahkan seribu kali aku bereinkarnasi, aku tetap akan mencarimu hingga keujung dunia. Tak peduli bagaimana rupamu. Aku adalah AKU yang akan tetap mencintai KAMU hingga jutaan kehidupan.”
Jessica mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum bahagia. Perkataan Kris barusan membuatnya semakin bersyukur. Ia bahagia, Kris tulus mencintainya. Bahkan bersedia menjadi miliknya alaupun jutaan tahun telah berlalu. Sekarang perasaan semakin mantap untuk melepaskan Kris. Membiarkan Kris kembali pada bahagia nyatanya.
“jangan bergerak. Tetaplah disini.” Kata Jessica sembari melepaskan pegangannya pada kedua tangan Kris.
“mau kemana?” potong Kris cepat.
“ketempat yang seharusnya aku kembali. Dan kau juga harus kembali. Aku mencintaimu Kris Wu. Amat teramat mencintaimu. Sampai jumpa” sebuah kecupan ringan mendarat dibibir Kris yang membuat pria itu berdiam hingga ia baru tersadar bahwa Jessica tak lagi berada dihadapannya.
Perlahan semuanya memudar. Bangunan yang selama ini ia sebut sebagai rumah kediaman keluarga Jung menghilang. Hamparan hijau juga menghilang. Awan putih dilangit biru juga menghilang. Semuanya memutih. Putih disepanjang mata memandang. Kris hanya dapat berdiri memandang semuanya hilang. Putih.

Suasana diruang serba putih itu mendadak ramai. Beberapa orang menggunakan seragam putih namapak keluar masuk ruangan itu. Beberapa yang lain tampak duduk da nada pula yang berdiri cemas dalam ruangan putih itu.
“JESSICA!” teriak pria yang masih memejamkan matanya itu. Sontak seluruh orang diruangan itu kaget dan berbalik menatap pria yang barusan berteriak kencang itu.
“ia sadar dok!” sorak tertahan seorang yang berpakaian serba putih.
“sebuah keajaiban. Tolong yang tidak berkepentingan mohon menunggu diluar. Kami akan melakukan pemeriksaan.” Kata seseorang yang tampak paling berpengaruh pada ruangan itu. Seorang pria dengan name tag Dr. Lu Han.
Beberapa dari mereka akhirnya keluar. Mereka menunggu cemas diruang tunggu. Begitu pula dengan sepasang paruh baya yang terus berpelukan. Mereka, orang tua pemuda yang berteriak tadi.

Kris membuka kelopak matanya perlahan. Pupilnya mengecil karena sinar lampu kamar begitu terang. Ia memandang sekeliling. Kali ini yang ia temui bukan Jessica yang selalu disinya, melainkan barang-barang perlengkapan yang biasa ia temui dirumah sakit. Tunggu! Jadi ia dirumah sakit?
Kris berusaha bangkit dari baringnya. Kegiatannya berpindah sontak membangunkan seseorang yang tengah tertidur disebelahnya.
“anakku !” seorang wanita paruh baya berteriak histeris dan langsung memeluk pria yang baru bangun tadi. Kris menatapnya heran sebelum saraf sensoriknya mengatakan bahwa wanita ini adalah ibunya.
“ma..mama ..” balasnya terbata-bata.
“ya sayang.. ini keajaiban sayang. Kau koma selama 4 bulan. Dokter hamper mencabut seluruh alat bantu hidupmu.. aku merindukanmu.” Kata sang ibu panjang lebar. Kris menatapnya tak percaya. Otaknya bersikeras bahwa selama 4 bulan ini ia bersama Jessica. Bukan koma.
“Jessica…” itu kata yang akhirnya terlontar dari bibirnya.
“Jessica?” kini sang ibu yang heran.
“Jessica. Jung Jessica.. aku bersamanya selama 4 bulan. Bagaimana bisa mama mengatakan bahwa aku koma?”
Sang ibu merosot dari pelukan anaknya. Pengakuan anaknya barusan bagaikan sebuah palu yang menghantam pundaknya. Ia tau siapa Jessica. Ia tau pasti siapa wanita yang disebut-sebut anaknya.
“dimana Jessica mama? Aku merindukannya..” Tanya Kris lagi.
Ibu Kris ingin menjelaskan. Tapi ia takut bahwa kenyataan malah akan menampar balik Kris dan membuat anaknya kembali drop. Dengan perlahan ia meraih kedua belah tangan anaknya. Mengusapnya lembut seolah memberi kekuatan.
“dengarkan mama ya sayang. Jessica, Jung Jessica yang kamu sebut tadi sudah kembali. Ia pulang kepada sang pencipta..”
Kris yang benar-benar kaget menghempaskan dekapan sang ibu pada tangannya. Kenyataan apa lagi kali ini. Ia butuh bahagianya, ia butuh oksigennya. Ia butuh Jessica.
“jangan berbohong mama. Ini tidak lucu. Aku hamper setiap hari bersamanya. Dimana Jessica. Katakana padaku. Jessica! Dimana dia..?!” amuk Kris. Sang ibu hanya dapat mengelus dadanya pelan . ia tidak tau apa yang diracaukan oleh Kris, tapi dalam hatinya ia berterimakasih pada wanita yang bernama Jessica itu.
“dengar. 4 bulan lalu, saat kau menyebrang pada perempatan apgujeong. Kau hamper tertabrak mobil. Seorang wanita cantik dengan beraninya memelukmu dan akibatnya ia yang menerima benturan dasyat itu. Darah bercucuran dari hidungnya, ia meninggal ditempat. Dia Jessica Jung, penyelamatmu. Sedangkan kau mengalami keretakan pada kepala setelah terbentur keras pada dinginnya aspal.” Jelas sang ibu panjang lebar. Wanita paruh baya itu mencoba untuk membuat Kris percaya pada kenyataan.
Pada kenyataannya memang demikian, Jessica yang menyelamatkan Kris dan menerima benturan. Ialah yang memeluk Kris hingga pria itu selamat. Tanpa Kris ketahui, Jessica pada dasarnya, wanita itu memang mencintai Kris. Cinta yang bahkan belum bisa diungkapkan secara gamblang didepan pria yang teramat dicintainya.

Beribu kehidupan yang akan berlalu,
Berjuta jiwa yang akan tercipa,
Tetap kau yang terindah.
Terima kasih malaikatku.
Aku mencintaimu.
Dan cintaku tak memandang dimensi
Aku akan menemukanmu,
Dan kita akan bersama bahagia selamanya
Dari AKU yang akan tetap mencintai KAMU hingga jutaan kehidupan
Kris Wu

FIN¬
TSAHHHHHH. Ending nih masbro mbaksis. Gimana? Ada feelnya kah? Aku tau sih ini FF jelek , tapi yahh hargai dikiiittttt dengan meninggalkan jejak atau aku ga akan bikin FF Krissica lagi /ngancem/. Hweewe..
Aku tau kita lagi melewati masa masa sulit, tapi percayalah GALAXIES, DRAGONS, ROYAL ICE , Duizzhang itu udah 25 tahun. Dia itu leader terpilih bukan karena alasan ga bermutu. Dia pasti punya alasan khusus dibalik semua peristiwa. Tetap dukung KRIS dan EXO. Ini kehidupan mereka., kita ga berhak ngatur. Apa yang dia inginkan untuk dijalani, dan dia bahagia aku sebagai ultimate GALAXIES DRAGONS akan selalu mendampingi. I DO LOVE YOU WU YI FAN..
Dan bagi yang ingi Tanya Tanya, bisa langsung ke ask.fm ku yaaa ^^
Invite : mrs_galaxy06
Sekian dari sayaa.. byebye

23 thoughts on “Second Life ( Chapter 3-END )

  1. Nyesek bget terakhirnya😥
    Author harus tanggung jawab, aku udah nangis bombay sekarang😀
    Tpi keren bget ya ff buatan author ._.

  2. Huaaa nangis ughh.ceritanya keren ,bikin terharu,miris banget jadi jessica eonni :’) keep writing ne!!! Hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s