[Freelance] Under Your Shade (Oneshot)

under your shade

 

  • Judul                      : Under Your Shade
  • Author                   : channim
  • Rating                    : PG-13
  •  Length                  : Oneshot
  • Genre                     : friendship, romance, school-life
  • Main Cast             : EXO Kris, EXO Chanyeol, SNSD Jessica, SNSD Seohyun
  • Support Cast        : EXO Members
  • Author Note          : ff ini sebenernya udah pernah aku post di wp-ku http://evilsmirkyu.wordpress.com (((please visit for more jessica jung fanfiction ^^)))

 

Hidup di bawah bayang-bayang orang lain sudah menjadi takdir bagiku. Entah sejak kapan, namun hidupku selalu bergantung pada kesuksesan hidup orang lain. Memang hanya dengan cara inilah mereka bisa menganggap keeksistensianku, dan inilah caraku untuk bertahan diri di lingkungan yang selalu tak acuh dan tak mau repot-repot untuk menyadari keberadaanku.

Seo Joo Hyun. Seorang gadis dengan berjuta talenta. Ia pintar, cantik, mahir bermain berbagai alat musik. Dan yang membuat semua orang jatuh hati padanya adalah kerendahan hatinya. Bagiku, dia adalah malaikat. Malaikat yang harus kujaga.

*~*~*

Tahun terakhirku di sekolah menengah pertama sudah berakhir. Inilah saatnya aku memasuki lingkungan baru lagi. Terkadang aku berpikir untuk menjadi sosok yang baru di lingkungan yang baru. Itu lebih mudah, bukan?

Namun, sekeras apapun aku mencoba tetap saja aku hanyalah sebutir debu yang takkan pernah terlihat. Aku ingin menjadi seseorang yang keberadaannya disadari. Aku lelah, aku muak harus terus berada di bawah bayang-bayang Seo Joo Hyun. Ya, malaikatku. Tapi aku tak bisa lepas. Dialah satu-satunya orang yang ‘melihatku’. Dia seperti segalanya bagiku. Aku tetap harus berada di bawah bayangnya, melindunginya. Sama seperti dia melindungi keberadaanku di dunia ini.

“Sooyeon-ah, kita satu sekolah lagi tahun ini,” ucap Joohyun dengan senyum aristokratnya.

Ne,” jawabku pelan.

“Kita nanti harus satu kelas lagi, ya!”

Aku hanya bisa mengangguk.

 

Hari pertama sekolah sangat ribut. Banyak murid baru sepertiku dan Joohyun yang memenuhi halaman sekolah. Aku mendesak kerumunan untuk melihat papan pengumuman di mana kertas pembagian kelas ditempel.

X-1. Seo Joo Hyun. Jung Soo Yeon.

Aku tersenyum lalu segera kembali menghampiri Joohyun.

“Kita satu kelas, Joohyun!” seruku.

Joohyun memekik senang sambil memelukku. Lalu ia mengajakku menuju kelas baru kami.

*~*~*

Seharusnya aku sudah mengira bahwa popularitas Joohyun akan tetap sama saat di sekolah menengah pertama dulu. Bahkan kini meningkat. Aku menyadari kebodohanku bahwa tak seharusnya aku berkhayal akan menjadi seseorang yang sejajar dengan Joohyun. Berada di bawah naungan bayang-bayang Joohyun seharusnya sudah membuatku sangat bersyukur. Ya, aku harus bersyukur atas Joohyun.

Aku hanya menatap hampa ke arah Joohyun dengan banyak orang yang mengelilinginya. Tatapan-tatapan itu. Tatapan mengagumi. Yah, siapa yang tidak kagum pada seorang malaikat seperti Joohyun?

Aku mendengus geli. Bukankah aku sangat beruntung bisa menjadi teman dari seorang malaikat sepertinya? Tidak seharusnya aku berkeluh kesah. Dan mulai sekarang aku harus tetap melindunginya apapun yang terjadi.

“Seo Joo Hyun!”

Sebuah seruan menarik perhatianku. Suara itu berasal dari ambang pintu kelas.

Seorang murid laki-laki dengan seragam yang berantakan dan bisa kupastikan dia bukan murid yang berperilaku baik.

“Aku mencari Seo Joo Hyun! Mana dia?” serunya sekali lagi.

Seluruh kelas spontan menoleh ke arah Joohyun yang kini tengah terpaku karena kedatangan lelaki itu.

Lelaki itu menyipitkan matanya menatap Joohyun sambil menarik sudut bibirnya. Ia melangkah menghampiri Joohyun. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju tempat Joohyun.

“Jangan ganggu Joohyun!” pekikku tepat di depannya.

Bisa kulihat dari badge-nya, dia adalah kakak tingkatku. Kris, XII-5.

Lelaki bernama Kris itu sontak mengerjap lalu memandangku sinis.

“Ada masalah, nona mungil?”

Rahangku mengeras mendengar ucapannya. “Ada urusan apa kau mencari Joohyun?”

Kris melipat tangannya di depan dada. “Well, bisa kulihat kau adik kelas yang sangat tidak sopan, huh? Aku punya urusan dengan Joohyun, dan itu sama sekali bukan masalahmu.”

Aku merangsek maju namun Joohyun dengan cekatan menahan lenganku.

“Tahan dirimu, Sooyeon,” bisiknya.

Kris terkekeh sinis. “Temanmu ini ganas juga, Joohyun-ah. Apakah kau juga sama ganasnya seperti dia?”

Aku melebarkan mataku. “Jaga bicaramu!”

“Oke, oke. Aku sepertinya harus menunda pertemuan kali ini. Sampai bertemu lagi, Joohyun.” Kris mengedipkan sebelah matanya pada Joohyun.

Setelah Kris pergi, aku membalikkan badanku ke arah Joohyun. Ia terlihat pucat.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir.

Joohyun memaksakan sebuah senyum. “Tidak perlu khawatir, Sooyeon. Terima kasih.”

Yah, apalagi yang bisa kuperbuat untukmu? Hanya ini caraku.

*~*~*

Oh, jadi Kris adalah ketua dari sebuah perkumpulan murid-murid berandalan di sekolah ini. Aku baru mengetahuinya. Dan perkumpulan itu beranggotakan duabelas orang. Jumlah yang cukup besar bagiku. Dan lagi, aku baru saja melawan ketuanya. Kuulangi, KETUANYA. Kali ini sepertinya aku dalam masalah besar.

Aku dan Joohyun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Kami berencana untuk belajar bersama setelah ini. Namun derap kaki beberapa orang terdengar dari arah berlawanan. Spontan kami menghentikan langkah.

Kris dan gengnya. Memblokir jalan kami dari ujung hingga ujung. Mati kau, Jung Sooyeon.

Kris maju mendekati Joohyun dan berdiri tepat di depannya.

“Hai, cantik.”

Joohyun terlihat pucat pasi. Ia tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.

“Kenapa kau terlihat tegang? Apa aku terlihat seperti ingin memakanmu, hm?”

Joohyun menggeleng kaku. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Aku menguatkan batinku. Aku tak bisa diam saja. Aku harus menlindungi Joohyun.

Seketika aku merangsek maju mendesak posisi Joohyun hingga ia berada di belakang punggungku. Kugenggam tangannya yang dingin.

“Kubilang jangan ganggu Joohyun, atau kau berurusan denganku!” pekikku dengan suara yang bergetar.

Kris menepukkan tangannya tiga kali.

You see, guys? Kita punya lawan yang menarik di sini,” ucapnya sambil menatapku lekat.

Teman-temannya yang lain mulai menertawaiku dan memandang sinis ke arahku. Aku menatap mereka satu persatu dengan tajam. Dan tatapanku terkunci oleh seseorang yang menatapku sama tajamnya.

Dia tidak tertawa sinis atau memandang remeh ke arahku. Entahlah, tatapan tajamnya terasa berbeda. Dan tiba-tiba tubuhku terasa merinding. Aku mengalihkan tatapanku ke arah Kris.

“Beri kami jalan. Permisi!” ucapku sambil menarik tangan Joohyun dan mendesak barikade sebelas orang itu.

“Sayang sekali. Bye, Joohyunnie. Aku akan merindukanmu. Sampai bertemu besok!”

Suara Kris samar-samar terdengar di belakang. Aku tak peduli. Yang terpenting sekarang adalah melindungi Joohyun. Namun aku bisa merasakan sepasang mata yang masih menatapku tajam menembus punggungku. Dan sekali lagi aku menggigil.

*~*~*

Gangguan-gangguan dari Kris serta sekumpulan temannya yang menyebalkan kini terasa makin menjengkelkan. Seperti pagi ini, saat kelas kami akan memulai jam olahraga tiba-tiba saja Joohyun panik sambil mencengkeram bahuku.

“Seragam olahragaku tidak ada!” bisik Joohyun sambil menggigit bibirnya.

Aku yang baru saja berganti seragam olahraga sontak mengerutkan kening bingung.

“Bagaimana bisa? Kau lupa membawanya?” tanyaku. Namun sepertinya mustahil orang serajin Joohyun lupa membawa seragamnya.

Joohyun menggeleng cepat. “Aku yakin aku menaruhnya di dalam laci.”

“Lalu…” ucapanku terputus oleh celetukan seseorang.

“Mencari ini, nona?”

Kris. Dengan seragam olahraga Joohyun di tangannya.

“Seragamku!” Joohyun spontan berlari ke arah Kris untuk merebut kembali seragamnya. Namun tak semudah itu Kris akan memberikannya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Joohyun tak dapat menjangkaunya. Didukung postur tubuh Kris yang tinggi, mustahil rasanya Joohyun bisa meraih seragamnya.

“Kau mau ini?” tanya Kris sembari mematahkan setiap usaha Joohyun.

“Tolong, kembalikan…” lirih Joohyun memelas.

“Akan kuberikan. Asal, kau menjadi milikku,” ucap Kris enteng.

Aku ternganga. Tak percaya dengan tindakan kakak tingkatku ini. Sama halnya dengan Joohyun. Ia tampak sangat syok.

“AKH!” pekik Kris lalu menatap nyalang padaku. Ya, aku baru saja menginjak kakinya kuat-kuat. Seragam olahraga Joohyun terlepas dari tangannya dan sebelum sempat terjatuh ke lantai aku dengan sigap menangkapnya.

Segera kuberikan seragam itu pada Joohyun dan kusuruh ia untuk segera pergi sebelum Kris mengambilnya lagi. Joohyun tampak ragu untuk meninggalkanku namun akhirnya ia berlari kecil menuju toilet.

“Kau!” desis Kris sambil mencengkeram lenganku kuat.

Aku meringis menahan ngilu di lengan atasku. Aku balik menatapnya tajam. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Atau aku akan semakin diremehkan. Dan aku tak mau itu terjadi. Sudah cukup keberadaanku dianggap sebagai bayang semu semata.

Tiba-tiba tubuh Kris terdorong keras ke belakang seiring cengkeramannya lepas dari lenganku. Aku terkesiap. Kudongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang berani melawan Kris selainku yang yah, kuakui merupakan tindakan terbodohku.

Dia…dia adalah lelaki itu. Lelaki yang selalu menatapku tajam. Ya, salah seorang anggota geng Kris sendiri. Namun aku tak mengetahui namanya. Well, aku tak mengenal mereka semua dan tak ingin untuk mengenal bahkan sekedar mengetahui nama mereka. Kecuali Kris, itu adalah keterpaksaan.

“Apa-apaan, Park Chanyeol?!” seru Kris marah.

Oh, jadi namanya adalah Park Chanyeol.

“Dia bukan targetmu. Tak perlu mengurusinya,” ucap Chanyeol dingin.

Kris menghela napas keras, seakan tersadar bahwa perkataan Chanyeol memang benar. Yang diincarnya adalah Joohyun, bukan aku.

“Baiklah, aku pergi.” Akhirnya Kris membuka suara. “Tapi hati-hati dengan tingkahmu, Chanyeol.”

Chanyeol hanya menatap dingin ke arah Kris. Setelah memastikan Kris sudah menghilang di ujung koridor, ia membalikkan tubuhnya ke arahku.

“Kuberitahu padamu. Jangan sampai berurusan dengan Kris lagi.”

Aku hanya terdiam. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah aku harus melindungi Joohyun. Dan jika itu harus membuat keributan dengan Kris, aku bisa apalagi?

“Jam olahragamu sudah mulai lima menit yang lalu. Bergegaslah,” suruhnya.

Aku tertegun saat merasakan kepalaku ditepuk dua kali sebelum ia pergi meninggalkanku. Rasanya…aneh. Sekaligus menenangkan. Aku merasa seperti terlindungi. Biasanya aku yang selalu melindungi Joohyun. Apakah sedamai ini rasanya dilindungi oleh seseorang?

*~*~*

Semenjak itu pandanganku pada lelaki bernama Park Chanyeol itu berubah. Dia adalah “Joohyun”-ku yang lain. Malaikatku? Entahlah, aku tak tahu pasti bagaimana menyebutnya. Yang pasti sekarang aku menganggapnya suatu bagian dari hidupku yang berharga, meskipun aku tak tahu apakah ia benar-benar menganggapku atau sama halnya seperti yang lain. Menganggapku sebagai sebuah bayangan.

Sudah berkali-kali aku menahan diriku untuk tidak berurusan dengan Kris. Namun gangguan Kris pada Joohyun tetap tidak berhenti. Dan kali ini mungkin puncaknya.

PLAK!

Suara telapak tangan yang beradu dengan wajah itu terdengar sangat nyaring. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu seketika menoleh terkejut.

Apa yang sudah kulakukan?

Kutatap tangan kananku yang bergetar. Aku…aku menampar Kris. Hampir di hadapan semua orang. Jung Sooyeon, kali ini kau benar-benar mati!

Kris memegang wajahnya yang memerah sambil berusaha bangkit. Ia merangsek ke arahku dengan kilatan matanya yang menyeramkan. Aku terpaku di tempatku.

Siapapun tolong aku! Aku melirik ke arah Joohyun yang masih syok di tempatnya atas perlakuan Kris sebelumnya. Ia tak bisa melakukan apapun. Dan aku tak mungkin menyalahkannya.

Aku hanya bisa pasrah saat Kris menyeretku paksa ke gudang belakang sekolah. Tamat sudah riwayatku. Namun aku masih mengharapkan kehadiran seseorang yang menjadi malaikatku. Park Chanyeol. Akankah dia datang?

BRUK!

Kris mendorong tubuhku hingga punggungku membentur papan kayu. Nyeri langsung menjalari tulang belakangku. Aku memejamkan mataku kuat-kuat untuk menahan sakitku.

“Jung. Sooyeon.”

Kris mengeja namaku dengan nada suaranya yang rendah dan tajam. Seketika aku langsung menggigil.

“KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH?!” bentaknya sambil menggebrak papan kayu di sebelahku.

Aku terlonjak sejenak. Semakin kupejamkan mataku erat-erat. Chanyeol, tolong aku….

“BERANINYA KAU MENAMPARKU DI DEPAN BANYAK ORANG!”

PLAK!!!

Ia menamparku dengan sekuat tenaga. Sudut bibirku terasa perih. Bisa kurasakan asin dari darah di bibirku. Bibirku bergetar. Chanyeol, kumohon datanglah…

Kris mencengkeram daguku lalu mendongakkan wajahku agar bisa menatapnya.

“Buka matamu dan tatap aku!” perintah Kris.

Aku tetap bergeming.

“Kubilang buka matamu!”

Dengan segenap keberanian kubuka pelan-pelan kelopak mataku dan menatap wajah garangnya. Chanyeol, kau tak mungkin datang kan? Ya, kau tak akan datang…

“Kau…” kalimat Kris tak berlanjut karena tiba-tiba ia membungkam mulutku dengan bibirnya. Ia menciumku dengan kasar.

Aku memberontak. Kupukul dadanya berulang-ulang agar ia melepaskan diri dariku. Namun tenaganya jauh lebih besar dariku yang memang sudah melemah sedari tadi.

Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol….

BUGH!

Tubuh Kris terdorong keras ke depan hingga menghimpitku. Lalu ia terjatuh di tanah. Pandanganku tak fokus ke arah Kris yang kini terkapar dan sesosok siluet di depanku. Penglihatanku semakin mengabur dan kemudian sekelilingku menggelap.

*~*~*

Dunia terasa berputar saat aku mencoba membuka mata. Aku berada di ruangan yang gelap. Namun lama-kelamaan ruangan itu menjadi terang. Dan aku menyadari aku berada di ruang kesehatan sekarang.

Aku melihat ke sisi kananku. Kutatap punggung lelaki itu yang duduk membelakangiku. Aku mengenali punggung itu. Ingin rasanya aku menghambur memeluknya. Dan merasakan rasa terlindungi itu lagi.

“C-Chanyeol…” suaraku terdengar lebih lirih dari yang kuduga.

Namun Chanyeol dapat mendengarku. Ia langsung membalikkan badannya dan mengangkat alisnya kaget.

“Sooyeon?! Kau sudah sadar?”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Kerongkonganku terasa seperti terbakar.

Seakan mengerti, Chanyeol langsung meraih segelas air di meja dekat tempat tidurku dan menyodorkannya padaku. Aku mencoba bangkit dari tidurku. Chanyeol membantuku untuk bangun.

Kuteguk air itu hingga tandas. “Terima kasih…”

Chanyeol menatapku tajam seperti biasa.

“Bodoh,” desisnya. “Kenapa kau tak mau mendengar ucapanku, huh?!”

Aku menunduk. “Aku harus melindungi Joohyun.”

“Seo Joo Hyun? Dan apa dia pernah memikirkan posisimu? Perasaanmu? Pernahkah?!” nada suara Chanyeol meninggi.

“Jangan menyalahkan Joohyun!” sentakku. “Dialah yang membuatku merasa masih dianggap. Jung Sooyeon, teman dari Seo Joohyun. Jika bukan karenanya, aku hanyalah Jung Sooyeon yang tak pernah disadari keberadaannya.”

Chanyeol mengeraskan rahangnya. “Lalu apa dengan begini keberadaanmu akan diperhitungkan?! Apa kau mau berlagak menjadi pahlawan? Jung Sooyeon, yang dengan bodohnya mau melakukan apapun demi sahabatnya tersayang, Seo Joohyun! Apa itu yang kau inginkan?”

“Aku…aku hanya…” aku tak dapat meneruskan kalimatku. Tenggorokanku serasa tercekat. Air mata mulai membendung di sudut mataku.

Dengan sekali raih, Chanyeol menarik kepalaku ke dalam pelukannya. Ia mendekapku erat.

“Kau bodoh, Jung Sooyeon. Kau bodoh,” ucapnya tertahan.

Lagi-lagi perasaan ini melanda hatiku. Rasa aman dan terlindung.

“Kau membiarkan si brengsek itu merebut ciumanmu dariku. Aku tak bisa memaafkannya. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.”

Aku mematung mendengar setiap ucapan Chanyeol. Tanpa sadar air mataku meleleh membasahi kedua pipiku.

Chanyeol melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua sisi wajahku dan mengusap air mataku. Tatapannya yang selalu dingin kini berubah melembut dan penuh kehangatan. Perlahan, bisa kurasakan bibirnya menempel pada bibirku. Ciuman ini berbeda dengan yang diperbuat Kris. Chanyeol menciumku dengan lembut, membuatku kembali melelehkan air mata.

“Jung Sooyeon, biarkan aku memilikimu agar aku bisa menjagamu selamanya.”

*~*~*

Sejak saat itu Kris tak pernah lagi mengganggu Joohyun. Ia lebih sering terlihat bersama gengnya. Chanyeol masih ada di antara kumpulan itu. Namun aku tak peduli. Aku percaya padanya, karena aku sudah melihatnya dengan cara yang berbeda.

Aku berjalan bersama Joohyun saat kusadari aku meninggalkan sesuatu di kelas. Aku meminta izin pada Joohyun untuk mengambil barangku sebentar. Dengan secepat kilat aku menuju kelasku dan melewati lapangan basket yang luas. Sudut mataku langsung menangkap sosok yang tengah duduk di tepi lapangan itu.

Chanyeol. Dan satu temannya yang kuketahui bernama Kai.

Kai-lah yang pertama kali melihatku. Ia mengisyaratkan dengan matanya pada Chanyeol saat aku melintas. Chanyeol langsung menoleh dan menatapku. Aku sontak menunduk dan cepat-cepat meneruskan langkahku menuju kelas.

Untung saja kelas belum dikunci, aku segera mengambil barangku yang ketinggalan dan secepat mungkin kembali menemui Joohyun di gerbang depan.

“Kris berulah lagi?”

“Apa Joohyun baik-baik saja?”

Aku mendengar beberapa suara yang ribut berkasak-kusuk.

Kris? Joohyun? Ada apa lagi ini?

Aku berlari sekuat tenaga menuju gerbang depan. Saat sampai di sana bisa kulihat Kris ada di sebelah Joohyun. Namun tak kulihat tanda-tanda ia berulah.

“Joohyun kau tak apa-apa?” tanyaku langsung.

Joohyun hanya tersenyum sambil menggeleng. “Aku baik-baik saja.”

Lalu aku mengalihkan pandangan ke arah Kris. Sejujurnya aku masih agak ngeri untuk bertemu Kris lagi semenjak kejadian itu. Namun tiba-tiba Kris merekahkan senyumnya.

“Aku hanya meminta maaf pada Joohyun. Dan juga padamu, Sooyeon,” ucapnya.

Aku terbelalak. Lalu segera aku mengangguk sambil memasang senyumku yang kaku.

“Sekarang tolong bantulah temanku, Sooyeon,” ujar Kris sambil menunjuk ke arah lain.

Aku mengikuti arah yang ditunjuknya. Dan di sana sudah ada sebelas anggota gengnya yang lain. Termasuk Chanyeol.

Chanyeol maju selangkah dari barisan itu. Ia terus menatapku. Lalu ia membalikkan badannya. Aku mengkerutkan keningku bingung. Apa yang dilakukannya?

Chanyeol membuka jaket merah yang dipakainya. Ia memakai kaos di balik jaket itu. Dan, tunggu. Ada tulisan di bagian belakang kaosnya.

I LOVE YOU

SARANGHAE

Aku terkesiap. Chanyeol membalikkan badannya lagi menghadapku. Kali ini dengan senyum di wajahnya.

“Jung Sooyeon, be mine?”

Kesebelas anggota geng yang lain sontak bersorak riuh.

“Terimaaa! Terimaaa!”

“Terima saja si bodoh itu, Sooyeon!”

Aku menggigit bibirku bingung. Haruskah aku menerimanya?

Chanyeol menatapku dengan harap-harap cemas. Wajahnya terlihat tegang. Haha lucu juga.

Aku menarik napas lalu berucap, “Aku akan menerimamu kalau kau mau mengantarku sampai ke rumah!”

Senyum lebar langsung tercetak di bibir Chanyeol. Ia mengangkat tangannya ke pelipis untuk memberi hormat. “Siap, nona Jung!”

Sekali lagi kerumunan itu bersorak-sorai. Wajahku memanas karena malu. Joohyun menyenggol sikuku.

“Sekarang kau sudah menemukan cahayamu sendiri, kan? Kau bukanlah sekedar bayangan, Jung Sooyeon.”

Ucapan Joohyun mau tak mau membuatku tersenyum. Ya, Park Chanyeol adalah cahayaku. Ia-lah yang menerangiku hingga orang lain dapat melihatku. Tak lagi sebagai sebuah bayangan. Namun sebagai diriku, Jung Sooyeon.

*~*~*

 

How??? :3

I really need your comment guise. Please tell me your opinion or anything about this story. I’ll really appreciate it! J

Thankyou!

channim out~ ppyong~ 

17 thoughts on “[Freelance] Under Your Shade (Oneshot)

  1. ahhh ini bagus sekali. Daebak Author. .. Nggak tau harus ngomong apa. Yang pasti aku suka bgt. Walaupun aku berharap ending nya krissica, tapi yeolsica juga okeeeee.

  2. Ah unni jeongmal daebak!!>..<
    Minta sequel boleh?._.
    Ohiya unn kalo menurut aku ya seharusnya ini jadi chapter biar dapet feel yg fantastis/?
    Wkwkw semoga unni bales ya. Fighthing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s