Gift (Chapter 2)

gift2

Title                       : Gift

Author                  : Flawless Jung

Main Cast            : Kris Wu ; Jessica Jung

Genre                   : Life ; Romance

Length                  : Chapter

Rate                       : PG 15

Disclaimer           : I just own the story and plot. The cast belongs to their self.

Note                      : This is Krissica fanfiction. If you don’t like this pair, just leave this page. And for the readers, please “pay” author hardwork by comment and like this story. Lets respect each other. ILY my readers /heartheart/❤

Summary             : i will always wait and wait, until the fate bring us to each other.

Jessica dan Kris larut pada perkenalan mereka. Kris yang sangat berusaha untuk tidak lari dan menghammbur kepelukannya pada gadis itu duduk dengan perasaan bahagia bercampur penasaran. Yah, lagi lagi ia penasaran dengan takdir yang mengikat mereka. Seolah hidupnya ini seperti kelinci percobaan bagi si penulis takdir.

“ah.. jadi wanita yang menyelamatkan nyawamu memiliki marga dan nama yang sama persis denganku?” kata Jessica sambil menikmati potongan sandwichnya.

“tidak. Keseluruhan. Wajahmu, wajah kalian. Terlalu mirip. Aku jadi berharap.” Kata Kris menatap Jessica tajam, ia seperti bertemu kembali dengan belahan jiwanya.

“berharap? Berharap apa?” Tanya Jessica balik.

“berharap kembali pada takdir.” Tambah Kris lalu menyeruput americanonya yang tinggal setengah. Jessica yang belum begitu menangkap maksud dari ucapan Kris itu menoleh kebelakang karena ia merasa di sentuh pada bagian bahunya.

“hei nyonya Lu, bukannya pulang malah berselingkuh dengan pasien tampan?” seru seorang pria berjas putih. Tak lain dan tak bukan, pria itu Luhan.

“nyo..nyonya Lu? kalian sudah menikah?” Kris kembali terbelalak. Hari ini ia menerima banyak kejutan sepertinya.

“secepatnya Kris, terimakasih atas doamu.”balas Luhan sambil tersenyum kearahnya.

“huh. Tidak akan sesuai harapanmu jika menikah nanti Lu. Jangan berharap lebih padaku.” Balas Jessica sengit. Kapan Jessica tidak akan bersikap dingin padanya seperti ini ? batin Luhan.

“sepertinya kalian sedang membahas sesuatu yang menyenangkan? Boleh aku bergabung?” Tanya Luhan setelah suasana hening menghinggapi mereka.

“kalian bisa membahasnya tanpa aku. Ayah sudah menelfonku. Aku pasti akan di terror lagi setelah ini. Huhh.. baiklah. Aku pulang dulu, bye Lu. Dan Kris Wu, senang berkenalan denganmu.” Pamit Jessica pada keduanya. Dan senym yang baru saja dilemparkan pada Kris membuat Luhan yang meliriknya sedikit sakit hati, yah hanya sedikit.

“sepertinya aku tau kemana arah pembahasan kalian barusan” kata Luhan setelah Jessica pergi dari hadapan mereka.

“maksudmu?” Tanya Kris.

“Jessica Jung. Tunanganku dan wanita yang selalu kau sebut dalam mimpi. Kurasa, takdir sedang bermain denganmu, ah bukan. Takdir bermain dengan kita.” Jelas Luhan. Kris sudah tidak terkejut kali ini. Bukan rahasia umum jika Luhan mengetahuinya, karena Luhanlah yang selama ini merawatnya, paling tidak Luhan pasti tau penyebab lambatnya mentalnya pulih.

“kurasa begitu. Maaf Lu..” kata Kris kemudian.

“tidak. Tidak perlu minta maaf, ini takdir bukan salahmu.”

“bukan. Maafku bukan untuk itu..” tambah Kris. Luhan yang bingung hanya menatapnya heran lalu mengerutkan keningnya, membuat alisnya nyaris saja bersatu.

“maaf, sepertinya aku menginginkan Jessica-mu untuk menjadi takdirku.” Imbuh Kris pada akhirnya.

Luhan menatap pria didepannya yang dengan santainya menyeruput kembali americanonya hingga habis. Ia tidak marah akan pengakuan Kris yang seolah seperti gendering perang. Ia malah tersenyum kepadanya.

“baiklah, mari bersaing secara sehat Kris.” Kata Luhan seolah ia baru saja menerima tawaran menggiurkan. Kris yang meliriknya dari ekor matanya membuang tatapannya kelantai kafetaria.

“jangan menyesal.” Tambah Kris.

“tidak akan.”

Wanita itu menghempaskan tubuh kecilnya pada sofa ruang keluarganya yang amat empuk itu, ia lalu meraih iphonenya yang bergetar disampingnya. Ia melirik sekilas untuk melihat siapa yang menelfonya. Ayah. Dengan sekali sentuh ia mengangkat panggilannya.

“ ya ayah..”

“….”

“ya .. aku sudah memastikan ia akan datang”

“….”

“tenang saja. Calon menantumu itu akan kuperlakukan dengan baik.”

“….”

“mana aku tau. Memangnya aku baby sitternya.”

“….”

“yaya. Tapi aku tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang baik. Okay Dad, Bye.”

Putus Jessica secara sepihak. Ia tau, ayahnya akan mengomel seharian diujung telefon tadi. Bagaimana mungkin ia mengetahui apakah Luhan sudah makan atau belum hari ini. Mengapa ayah tidak menanyakan saja sendiri. Dan mereka itu sekantor. Terkadang Jessica kesal bukan main. Ia merasa ayahnya telah dicuri oleh pria cantik itu.

Ia mendengus kesal yang lalu langsung terdengar oleh Krystal yang kebetulan juga berada pada ruangan yang sama. Krystal, sang adik meutarkan badannya menghadap sang kakak. Ia tau persis apa yang membuat hari sang kakak menjadi buruk seperti ini.

“mengapa bukan kau saja yang dijodohkan dengan pria tampan itu Krys? Kau kan fansnya.” Lenguh Jessica lemah. Krystal yang mendengarnya lalu menggeleng cepat.

“Luhan oppa lebih cocok dengan unnie, unnie jangan berpikir seperti begitu.” Tolak Krystal cepat.

“sudahlah, aku ini unniemu , orang yang besar bersamamu hingga detik ini. Aku tau kau menyukai pria cantik itu bukan? Nanti biar kukatakan pada ayah. Aku juga tidak ingin melukai perasaanmu. Ayah pasti akan mengerti , kita ini kan anaknya.” Piker Jessica yang secara tidak sadar juga diucapkannya.

“unniee-“ Krystal hendak memotong lagi tetapi Jessica memutuskannya.

“stt! Jangan membohongi perasaanmu Krys. Aku juga tidak mencintai pria itu. Disini kebahagian seumur hidup kita dipertaruhkan Krys..” jelas Jessica. Krystal terdiam sekarang. Otaknya ingin menolak, tapi perasaannya tidak.

Ia memang menyukai pria cantik itu, sudah sejak lama. Sejak Luhan masih magang di rumah sakit ayahnya. Mereka bertemu secara tidak sengaja karena Krystal tersesat dan Luhanlah yang menolongnya kembali pada sang ayah. Dan sejak saat itu Krystal menyukai pria cantik itu hingga sekarang.

Sekarang, bahkan sang kakak dan pria yang disukainya telah bertunangan. Sakit memang, tapi ia berpikir bahwa perasaannya itu kian lama akan pudar, jadi Krystal diam saja akan gejolak didalamnya.

Jessica yang menatap adiknya yang terdiam itu lalu bangkit dan kemudian mengelus puncak kepala sang adik ringan lalu tersenyum kearahnya. Jessica amat mencintai adiknya semata wayang ini. Dengan Krystal-lah ia berbagi keluh kesah, dengan adiknya itu juga ia tumbuh besar. Mereka bahkan lebih mengerti satu sama lain daripada diri mereka sendiri.

“kau harus bahagia. Karena bahagia hak semua orang Krys..”

Sore itu sang dokter muda, Luhan membereskan lapak kerjanya. Mejanya dirapikan dan berbagai kertas resep yang bertebaran disusunnya rapi disebelah kanan meja. Ia berhenti sejenak lalu memperhatikan sebuah botol kaca dengan sangat banyak bintang kertas warna warni didalamnya. Ia mengamatinya sejenak lalu tersenyum kecil. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa dibaca dari tatapannya itu.

“hei..! ternyata sedang melamun. Dasar kau ini.” Sebuah suara mengagetkan Luhan yang sempat terlena dalam lamunannya. Pria dengan jas putih itu lebih dikenal sebagai Park Jungsoo. Kepala bagian UGD.

“ah hyung. Maaf.” Sesal pemuda cantik itu lalu membungkukkan badannya sedikit.

“tidak apa apa. Aku hanya ingin menawarimu untuk menikmati coffee break bersama. Kau tertarik anak muda?” Tanya pria yang lebih tua darinya itu.

“maaf hyung. Aku sudah ada janji. Lain kali aku yang akan mentraktirmu.” Sesal Luhan dengan ekspresi yang ia setting menjadi perasaan sedih bercampur penyesalan.

“makan malam dengan direktur? Hah.. lama-lama kau akan  jadi direktur  sibuk dan kita akan sangat jarang minum berdua lagi.” Sedih Jungsoo. Luhan yang mendengar kekecewaan Jungsoo hanya bisa tersenyum sedih.

“tidak. Kita pasti selalu bisa minum berdua, asalkan aku sedang tidak ada janji. Sudah ya hyung, aku sudah harus pulang dan bersiap. Hyung juga. Mandilah sebelum ke café, kau akan tampak 10 tahun lebih muda jika kau mandi sehari 3 kali.” Kata Luhan yang lebih pantas disebut penghinaan.

“yak! Dasar rusa kurang ajar!” Jungsoo hanya bisa memakan makiannya dalam hati mengingat Luhan telah jauh hilang dari pandangannya.

“larinya benar-benar seperti rusa.”

Tidak seperti malam malam biasanya yang diisi dengan suara dentingan sendok beradu dengan garpu dan piring. Atau suara dari ruang televise serta teriakan Jung Sister. Malam ini acara makan malam di kediaman keluarga Jung berjalan dengan damai. Tidak terdengar barang sehela pun nafas dari kelima orang yang sedang duduk di ruang makan itu.

Jessica yang duduk disebelah sang ayah dan berhadapan dengan sang ibu. Sedangkan Luhan disebelahnya dengan Krystal di seberangnya. Krystal tampak canggung. Ekspresi yang ia buat sesantai mungkin malah terlihat gusar. Luhan yang menyadari perubahan air muka Krystal itupun langsung mencoba mencairkan suasana.

“ada apa Krys? Apa ada masalah di kampus? Wajahmu tidak terlihat sedang baik-baik saja.” Tanya Luhan yang diselipi bumbu kecemasa. Krystal yang mendadak bahagia karena luhan mengkhawatirkannya hanya menggeleng cepat lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sang kepala keluarga yang mulai menyadari perubahan air muka Krystal mulai ikut mencoba mencari tau. “apa kau tidak suka makanannya Krys?”

Dan lagi-lagi Krystal menggeleng. Luhan yang merasa empati mulai mencoba untuk mengajak Krystal bercanda dengan candaan yang tidak lucu sama sekali. “yahh, atau kau sudah punya pacar ya? Dan kau sedih karena tidak bisa keluar karena dipaksa untuk ikut makan malam bersama kami?” Tanya Luhan.

Jessica yang duduk disebelah Luhan mengangkat wajahnya dan memasang tampang yang seolah mengatakan “dasar tidak peka. Krystal menyukaimu. Rusa bodoh!”

“ah, benarkah Krys? Lalu kenapa tidak kau ajak saja kemari. Jadi rumah ini bisa sedikit lebih ramai.” Sambung sang ibu.

Krystal kemudian dengan cepat mengangkat kepalanyanya dan menggeleng keras. Ia mengarahkan tatapannya pada sang ibu seolah meyakinkannya.

“Dasar tidak peka!” Jessica tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Semua mata tertuju kepadanya, termasuk Krystal.

“apa maksudmu Jess?” Tanya sang ayah yang mengernyit heran.

“kalian semua tidakkah merasakan sesuatu?”

Ketiga dari mereka menggelengkan kepala kecuali Krystal dan Jessica tentunya.

“Krystal itu-“

TBC

ini chapter 2nya yaaa ^^

oh ya, buat yang uda greetings ke aku, makasih banget yaaa. aku menghargai banget, walaupun aku ga sempet bales satu satu. aku makasii banget :’.

dan seperti biasa, aku ga nuntut banyak, yang penting ini FF kalo jelek yah bilang jelek, yang penting komen🙂

dan mohon maklumin typo yaa, author malas ngedit :p

sampai ketemu di chapter 3 ^^

26 thoughts on “Gift (Chapter 2)

  1. duhh rumit ya crita cinta.nya😀 tapi malah keren eonn😀 aku penasaran sama perjodohannya bsok .. apa jessica jdi dijodohin sama luhan .. apa luhan malah dijodohin sama krystal ..😮 (?) duhh penasaran😀 hwaiting eonn😀

  2. luhan disini itu sebenernya suka sama sica ya??😀 tp sica siinis sama luhan-.- aku kasian sama luhan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s