The Shadow – chapter 4

image

Author  :  Kim Jemi

Title  :  The Shadow

Cast (s)  :
    –  Jessica Jung
    –  Byun Baekhyun
    –  Xi Luhan
    –  And Other

Genre  :  Mystery, Horror,  Romance, Angst

Rating  :  PG – 13

Length  :  Chaptered

★ ★ ★

     Pria dengan surai kecoklatan itu kembali menghela napas. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal tersebut. Kedua bahunya terasa berat. Kantung matanya mulai menebal dan menghitam. Ia melirik jam tangan peraknya, pukul 21.30. Dengan malas ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Benar, mungkin jabatan sebagai direktur memang terlalu berat untuk ia hadapi. Tapi mau bagaimana lagi? Siapa yang akan menggantikannya? Ia satu – satunya harapan sang ayah, tidak mungkin ia tega membiarkan ayahnya untuk mengurus semua cabang perusahaan keluarga Xi.

     Ia mengusap wajahnya dengan kesal. Bisa saja semua pekerjaan ini ia serahkan kepada sekretarisnya, tapi ia tak tega pada Chanyeol. Pasalnya akhir – akhir ini perusahaannya mengalami sedikit masalah. Setiap hari ia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan semuanya. Bahkan sejak pernikahannya bersama Jessica, ia dan istrinya tak pernah berbulan madu. Jangankan untuk merasakan yang namanya bulan madu, jalan – jalan berdua saja tak pernah.

Drrt. Drrt.

     Ia terkesiap pelan saat merasakan ponselnya bergetar. Dengan segera ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengernyit membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya.

New Message From Sica.

     Jessica? Jadi istrinya itu belum tidur? Tanpa pikir panjang ia membuka pesan itu dengan cepat.

Annyeong, Oppa^^
Apa kau sudah makan malam? Kalau belum, aku akan membuat makanan kesukaanmu. Semoga pekerjaanmu cepat terselesaikan. Jangan khawatir, aku akan menunggumu. Jangan melarangku untuk menunggu dengan alasan aku harus banyak istirahat! Tenang, keadaanku sudah jauh lebih baik. Hmm, baiklah, aku takbingin mengganggumu lebih lama. Saranghae^^

     Seulas senyum nampak mengembang di bibir pria itu. Entah mengapa, hanya dengan membaca pesan singkat dari istrinya itu mampu membuat hatinya terasa hangat. Tapi rasanya ada yang aneh. Bahasa yang digunakan Jessica masih terkesan formal. Apa hubungannya dengan Jessica bisa dikategorikan sebagai hubungan suami istri? Ia juga baru sadar, ia dan Jessica tak pernah mengobrol banyak. Tidak, tidak. Ia dan Jessica menikah bukan karena dijodohkan. Menikah adalah pilihan mereka berdua. Tapi mengapa rasanya masih ada jarak diantara mereka berdua? Mungkin, ia memang harus cuti sebentar daru pekerjaannya dan melaksanakan yang namanya bulan madu.

     Luhan memijit pelipisnya pelan dan beranjak dari kursi kerjanya. Ia meraih tas dan kunci mobil. Setelah keluar dari ruangannya, ia berjalan di lorong yang menghubungkan beberapa ruangan di peusahaannya. Ia baru sadar semua karyawannya sudah pulang. Bahkan Chanyeol sudah meninggalkan kantor pukul lima tadi. Berarti hanya dirinya sendiri yang bekerja lembur.

Kriet.

     Pria itu menghentikan langkahnya saat melewati sebuah pintu berwarna coklat tua. Ia menoleh ke pintu itu, nampaknya tidak dikunci. Pintu itu sedikit terbuka. Seingatnya, ia tak pernah memasuki ruangan itu. Memang ia adalah direktur di perusahaan itu, tapi jika ditanya tentang seluk beluk perusahaannya, ia tak tahu. Diputarnya knop pintu itu pelan.

Ctik. Ctik. Ctik.

     Kedua matanya sedikit membulat saat melihat sebuah mesin ketik tua berada di salah satu meja dari keempat meja di ruangan itu. Bukannya tadi mesin ketik itu bergerak sendiri? Sebuah kertas yang tergeletak di samping mesin ketik itu jatuh begitu saja. Aneh, padahal tidak ada angin yang menerbangkannya. Dengan penasaran, Luhan mendekati kertas itu dan mengambilnya. Tulisan di kertas itu tak terlalu jelas, namun masih bisa terbaca.

Begitu indah masa lalu yang dilewati bersamanya. Atau mungkin ‘bersamanya’ kurang tepat. Walupun begitu, wajah masam itu selalu ada. Setiap hari. Sama halnya dengan matahari yang terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Saat menghampirinya pun wajah itu tetap masam. Seperti tak ada kebahagiaan sedikit pun. Semua tetap begitu, hingga peristiwa itu datang. Peristiwa yang-

     Luhan mengernyit saat membaca bagian akhir kertas itu. Sebagian hurufnya hilang, mungkin terhapus. Dengan segera ia meletakkan kembali kertas itu dan hendak meninggalkan ruangan, namun

Krieet.

     Dengan perlahan pria itu membalikkan tubuhnya, menghadap sebuah kursi tua. Ia hampir tak mempercayai dirinya sendiri.

Bayangan itu lagi.

     Walau hanya penerangan yang minim, bayangan itu terlihat jelas. Kini bayangan itu bangkit. Sosok asli bayangan itu terlihat sedikit demi sedikit. Seorang pria dengan surai coklat dan memakai kemeja serta celana panjang putih. Wajahnya kusut, bibir merahnya pucat, kantung matanya tebal dan menghitam. Ia bisa melihat sosok itu mengangkat tangannya. Oh tidak, yang benar saja! Sosok itu memegang pisau!

     Dengan cepat sosok itu melemparkan pisau tadi ke Luhan, namun dengan sigap ia menghindar. Kini Luhan memang harus meninggalkan ruangan itu. Sebelum Luhan berhasil memegang knop pintu, sosok itu kembali memegang pisau. Entah darimana ia dapatkan. Sebelum sosok itu melemparkan kembali pisaunya, Luhan berhasil membuka pintu dan berlari sekuat tenaga menuju tangga darurat. Bisa saja ia menggunakan lift, tapi ia tak mempunyai waktu untuk menunggu pintu lift terbuka.

     Saat ia hampir sampai di lantai dasar, kakinya sudah benar – benar lelah. Ia menengadah ke atas, tampaknya sosok itu sudah berhenti mengejarnya. Ia menghela napas lega dan kembali menuruni tangga dengan langkah tertatih. Luhan hampir tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Sebenarnya pria itu siapa? Apa itu sosok yang mengganggu Jessica akhir – akhir ini?

★ ★ ★

Ting. Tong.

     Dengan sigap Jessica membuka pintu apartemennya. Itu pasti Luhan. Setelah ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ia menghela napas. Ternyata tetangga barunya. Pria itu tersenyum dan menyodorkan bingkisan.

“Noona, aku membawakanmu kue.”

“Kau tak perlu repot – repot, Tao-ssi.” Tao tersenyum dan memegang tangan Jessica lalu menyerahkan bingkisannya.

“Gwaenchana, kalau untuk noona cantik tak apa. Ngomong – ngomong suamimu dimana, noona?” Jessica kembali menghela napas panjang.

“Ia belum pulang kerja. Terima kasih atas bingkisannya. Sebaiknya kau kembali, di luar dingin.” Sebelum Jessica menutup pintu, Tao menahan tangannya.

“Aniyo, di sini tidak dingin. Ayolah, temani aku mengobrol.”

     Jessica memutar matanya jengah. Ia jengah menghadapi pria ini. Menurutnya pria ini sedikit lancang karena memegang atau malah menggenggam tangannya seperti ini.

“Lepaskan tanganku, Tao-ssi.”

“Jessica?” Sontak Jessica dan Tao menoleh. Dilihatnya Luhan berdiri dengan pandangan bingung.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Luhan melirik bingkisan di tangan Jessica dan menghela napas. Ia kemudian masuk ke apartemennya, meninggalkan istrinya dan tetangga barunya.

“Sepertinya dia marah. Baiklah, aku kembali dulu. Annyeong!” Tao lalu berbalik dan berjalan ke apartemennya.

     Jeaaica menutup pintu apartemen dengan perasaan bersalah. Ia meletakkan bingkisan yang dibawa Tao tadi di meja ruang tengah. Memang yang dilihat Luhan tadi hanya salah paham, namun tetap saja ia merasa bersalah. Ia berjalan ke dapur dan melihat Luhan tengah menyantap makan malamnya.

“Kau sudah makan?” Tanya Luhan.

Jessica mengangguk, “Kau tak marah, oppa?”

“Aku tahu kau hanya menerima bingkisan yang ia bawa, itu saja. Jadi untuk apa aku marah?” Ia kembali melanjutkan makannya. Diliriknya Jessica yang masih berdiri di ambang pintu dapur.

“Tidurlah, aku tahu kau lelah. Aku akan segera menyusul.” Lanjutnya sambil tersenyum. Jessica membalas senyumnya dan berjalan ke kamar. Untung saja Luhan tak marah. Ia pikir Luhan akan marah karena mengiranya berduaan dengan Tao sedari tadi.

     Setelah merebahkan tubuhnya di ranjang, ia baru sadar hari ini bayangan itu tak pernah muncul. Apa mungkin bayangan itu sudah berhenti mengganggunya? Ia harap begitu.

TBC

Annyeong!
Aigoo, baru nyadar udh hampir tiga bulan gk ngepost ff. Sampe dapet warning lagi😄 Ini kayaknya karena efek galau *ehem* galau karena bias ketiga katanya udh hengkang😦 Tapi katanya tanggal 28 Juni pas happy camp, exo akan kembali 12^^ Aa~ good news ever kalo itu bukan sekedar rumor.

Mian kalo chapter ini kurang memuaskan. Malah gak ada yang memuaskan ._. Udah pendek, gak ada yang ‘wow'(?) dari chapter empat ini. Aku janji akan post chapter 5 secepatnya. Aku harap kalian akan terus nunggu dan tetep setia baca kelanjutan dari ff ini :’) Apa udh ada yg bisa nebak akhirnya ff ini kyk gimana?😀

Annyeong!

With love :* :*
*cipok readers*

35 thoughts on “The Shadow – chapter 4

  1. aku nunggu ff ini akhirnya dilanjut juga.iya aku juga meresa lusica udah menikah tp masih ada jarak.itu apa maksud pesan dari hantu a.k.a baek?apa dia masa lalunya sica?tp jika masa lalunya kenapa sica ga kenal wajahnya baek?dtnggu lanjutannya thor,next chap KEEP WRITING!!

  2. Uuh serem banget ceritanya thor:/
    Kenapa bayangan itu ngeganggu rumah tangga Lusica??
    apakah bayangan itu punya dendam di masa lalu??
    penasaran sama klanjutannya ^^
    di tunggu next chaptnya🙂

  3. akhirnya dilanjut ._. ini ff yg paling kutunggu loh. soalnya aku suka yg horror” gt. masih blm bsa nebak endingnya. apa sih dendamnya baekhyun smpe neror lusica? pke bawa pisau pula, merinding deh. makin seru nih, jdi bete pas tbc #digorokauthor

  4. Daebak… thor ceritax bikin bulu kudukku merinding hehehehe🙂 ditunggu chap 5nya thor…., Shadowx tuh Baekhyun ya!!. Soalx Baekhyun gg muncul2!! And kenapa sih tuh bayang ngeganggu Jessica sm Taeyeo juga??

  5. Ngeri banget, siapa sih sosok itu? Kenapa dia mau membunuh Luhan? Apa salahnya Luhan gege sampai sosok itu mau bunuh Luhan? Ahh aku benar-benar kepo: >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s