(Mini Series) Blood Message [Chapter 4]

bm

Blood Message

by Park Soojin

Jessica—Sooyoung—Chanyeol—Tiffany

Supranatural, Angst, Horror, Romance | PG-13

poster by pearlshafirablue

previous: Teaser | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

a.n.: maaf kalau chapter ini kurang memuaskan ._.v jangan lupa RCL ya. selamat membaca~!

@@@Ÿ

 

Sore yang cukup dingin di stasiun. Taeyeon, Sunyoung, Yura, dan Yoonjo melancarkan aksinya membuntuti kencan pertama Jongin dengan sahabat mereka, Jessica. Sebenarnya tidak bisa disebut kencan karena mereka bahkan belum punya hubungan khusus, tapi mereka berempat berpresepsi seperti itu.

Penyamaran yang buruk. Jaket, celana panjang, topi, kaca mata hitam, dan masker. Penampilan seperti itu membuat keempatnya lebih terlihat seperti teroris daripada sekawan yang memata-matai sahabatnya.

“Oh lihatlah! Mereka berdua terlihat canggung dan malu-malu. Bukankah itu sangat cute~?” heboh Taeyeon yang notabenenya kakak sepupu Jongin, disusul anggukan oleh Yoonjo.

“Mereka sangat serasi. Aku bisa membayangkan betapa serunya kalau mereka berpacaran..” celetuk Yura sambil memakan snack yang dibelinya di kantin stasiun.

Sunyoung yang awalnya asik menonton kedua manusia kaku itu pendekatan, kini mengerutkan keningnya. Dia memposisikan jari telunjuknya di dagu sehingga terlihat seperti seorang detektif, “Aneh. Sedari tadi Jessica berulang kali melihat ke arah rel. Sebenarnya dia kesini untuk menunggu kereta atau pendekatan dengan Jongin?”

Ketiga sahabatnya menatapnya bingung.

 

@@@
Jessica POV

 

Kali ini aku benar-benar merasa canggung. Bukan karena Jongin adalah orang pertama yang menyukaiku, bukan. Tapi karena aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan sekarang. Ditambah posisi tidak nyaman—duduk berdua di kursi tunggu kereta, lebih parahnya tidak ada makanan. Hanya ada dua kaleng cola, dan yang milikku tinggal seperempat isinya.

Aku berulang kali memeriksa ke arah rel. Jujur, aku benar-benar takut. Kalau Sooyoung tidak memintaku untuk menyaksikan kematian Tiffany, aku memilih untuk menghadiri bimbingan khusus dan berhadapan dengan 400 soal memuakkan seperti hari-hari biasanya. Kasihan juga dengan Jongin, sekarang sudah mendekati ujian akhir. Harusnya dia menghadiri bimbingan khusus setiap hari. Sahabat-sahabatku? Oh, mereka tidak perlu dikasihani. Aku yakin mereka sedang memata-mataiku sambil sakit perut karena menahan tertawa melihatku dan Jongin yang canggung seperti ini.

Omong-omong aku sudah tau posisi Tiffany dan eommanya. Tapi aku belum tau dimana Sooyoung sekarang. Dia sama sekali belum memberi kode.

Sialnya, semakin sering aku melihat ke arah rel, semakin besar keraguan untuk membiarkan Tiffany mati begitu saja. Bila dari sudut pandangku, sebenarnya Tiffany tidak bersalah. Hanya Chanyeol saja yang salah. Si brengs*k itu membuat Tiffany akan menanggung akibatnya juga. Entah bagaimana dari sudut pandang Sooyoung.

Suara bel yang memberi tanda bahwa kereta akan segera tiba menggema di seluruh penjuru stasiun. Jantungku berdetak semakin cepat.

 

@@@
Author POV

 

Itsumo yori sukoshi hiroi heya tadahitori
It’s over, guess it’s over
Futari de tsukuri ageta sutōrī mo munashiku
Kon’nani kantan ni kuzure teshimau nante
One mistake, got a one regret
“Dare mo kanpeki janai” tte
Sō iikikasete mite mo
Nani o shite mo kizu wa iyasenakute

 

Tiffany memejamkan matanya sambil bersenandung lagu yang sekarang sedang diputar di handphone-nya. Kira-kira sudah hampir setengah jam earphone ini menemaninya sejak sampai di stasiun, dan sampai sekarang kereta yang ditunggu belum juga datang. Dia menarik kasar earphonenya dan menghembuskan napas, sebal.

“Eomma, kenapa lama sekali?”

“Tunggu sebentar, Fanny. Sebentar lagi juga datang.”

Akhirnya dia memutuskan untuk memasang lagi earphonenya ke telinganya. Dia memutar lagu yang bertempo lebih cepat. Setidaknya itu sedikit membantunya untuk menghilangkan bosan.

 

Pengelihatan Tiffany menangkap suatu objek di seberang sana. Seorang yeoja tinggi, dan wajahnya cantik… sebelah. Matanya membelalak dan segera dia tutup mulutnya agar tidak memekik.

“Choi Sooyoung…” lirih Tiffany.

Tiffany yakin, sosok itu tengah menatap tajam kearahnya sambil menyeringai. Yeoja blasteran itu terus menatap tepat di mata sosok tinggi itu. Entah sejak kapan, tatapannya seolah terkunci. Tidak ada lagi ekspresi tegang terlihat di wajahnya, wajahnya datar.

Bel tanda kereta segera tiba telah berbunyi.

“Fanny, eomma kedalam sebentar. Sepertinya eomma meninggalkan sesuatu di loket.” Belum Tiffany mengangguk, Nyonya Hwang langsung kembali untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.

Masih dengan tatapan lurus ke arah hantu Sooyoung, Tiffany perlahan melangkah ke rel. Semantara kereta melaju kencang dari sisi kanannya.

“TIFFANY HWANG!”

 

Ÿ

 

Jessica menggigit bibir bawahnya gelisah. Gara-gara bel itu, detak jantungnya tidak terkontrol. Dapat dirasakan tangannya digenggam oleh Jongin.

“Nuna, gwaenchanna? Kau berkeringat, apa kau sedang sakit?” Tanya Jongin khawatir. Jessica megangguk menanggapinya.

“Aku tidak apa-apa.” Yeoja itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jongin, tapi dia malah merasa Jongin memperkuat genggamannya. Dia melempar pandangan ‘WTH’ kepada Jongin yang tidak tau apa-apa itu.

“Lepaskan.” Sekuat apapun Jessica menghentakkan tangannya, dia tidak akan menang melawan namja.

“Hajiman—,”

“Jongin, jebal. Lepaskan atau temanku akan mati.” Pinta Jessica, tapi terdengar seperti perintah karena nada bicaranya yang meninggi. Akhirnya, Jongin melepaskannya.

Jessica segera berlari mendekat ke posisi Tiffany, di sebelah rel. Sialnya, Tiffany sudah mulai melangkah untuk ke bawah, ke rel. Jessica tau, pasti Tiffany sedang di bawah pengaruh hipnotis Sooyoung.

“TIFFANY HWANG!” Jessica memekik kesal karena dia merasa larinya tidak cukup cepat untuk menahan Tiffany. Dia menambah kecepatan larinya dan.. Got it! Jessica berhasil menarik tangan kiri Tiffany tepat sedetik sebelum kereta itu benar-benar menghancurkan tubuh yeoja ber-eyesmile itu.

Tubuh Tiffany mendadak limbung. Jessica yang berposisi jongkok karena terjatuh setelah menarik Tiffany, langsung tanggap menahan tubuh Tiffany yang hampir jatuh dengan tangannya. Dilihatnya wajah Tiffany yang pucat dan berkeringat dingin.

Jongin beserta teman-teman Jessica segera menuju tempat Jessica sekarang.

“Omo, itu kan Tiffany?!” Kaget Yoonjo.

“Eommanya harus diberitau. Aku segera kembali.” Ujar Yura kemudian segera melesat ke loket.

Tubuh Tiffany telah diambil alih oleh Jongin, sementara Sunyoung menelfon ambulans. Taeyeon menepuk pundak Jessica pelan. Jessica tidak terlihat terkejut ataupun terganggu dengan banyaknya orang yang mengerumuni mereka berenam.

“Bagaimana kau bisa tau kalau Tiffany berusaha bunuh diri?” Bisik Taeyeon.

“Dia bukan berusaha bunuh diri,” Jessica tersenyum kecil, “kau tidak akan mengerti.”

Taeyeon memutar bola matanya kesal. Dia mengguncang bahu Jessica hingga mata foxy itu menatap kearahnya, “Bukankah kita sudah berjanji, tidak akan ada rahasia diantara kita?”

Jessica menatap Taeyeon ragu.

 

@@@
at Hospital

 

Jessica menggigit bibir bawahnya melihat betapa terkejutnya eomma Tiffany mengetahui putri tunggalnya hampir mati. Perempuan paruh baya itu terus menerus berterimakasih kepada Jessica dengan air matanya yang terus mengalir.

“Jessica-ssi, aku benar-benar berterimakasih kepadamu. Kau telah menjadi malaikat bagi putriku. Entah bagaimana seandainya kau tidak menyelamatkannya. Aku memang ibu yang bodoh, tidak seharusnya aku meninggalkan Fanny seorang diri.. hiks..”

“Imo, gwaenchannayo. Yang penting sekarang Tiffany selamat ‘kan? Lagipula tadi aku hanya kebetulan lewat dan melihatnya hampir jatuh. Aku bukanlah manusia jika aku tidak menolongnya.” Jelas Jessica memberi alibi murahan.

.

.

Jessica dan Taeyeon duduk berdampingan di kursi tunggu rumah sakit di depan kamar Tiffany, sementara keempat temannya berada di mobil Jongin. Tidak ada bahan pembicaraan sehingga keduanya hanya diam.

“Maaf, aku tidak bisa menceritakannya kepadamu.” Ujar Jessica seraya menunduk. Taeyeon hanya membalasnya dengan anggukan. Gadis yang biasanya ceria itu kini terlihat bersungut-sungut karena Jessica tidak mau menceritakan masalahnya kepadanya.

“Yura mengirimiku pesan. Katanya sebentar lagi Chanyeol akan kesini.”

Jessica langsung menoleh Taeyeon, “Bagaimana Chanyeol bisa tau?”

Taeyeon hanya mengedikkan bahunya. Jessica paham, kawannya yang satu ini pasti sedang kesal, dan penyebabnya adalah dia.

“Kita ke mobil saja?” Tawar Jessica hati-hati. Taeyeon mengangguk, kemudian beranjak dan menarik Jessica bersamanya.

.

.

“permisi,”

Seorang pria tinggi tiba-tiba menyenggol bahu Taeyeon dan Jessica. Taeyeon merengut. “Apa tidak ada jalan lain hingga orang itu lewat diantara kita berdua?” Protesnya.

Jessica tertawa kecil, “Entahlah. Tapi kurasa dia sangat terburu-buru.”

“Tetap saja. Huh.”

Sesampainya di mobil Jongin, keempat manusia itu malah tidur dengan nyamannya. Jessica mengetuk jendela tempat bersandar kepala Jongin. Lelaki hitam itu terbangun dan segera membuka pintu mobil. Taeyeon dan Jessica mundur selangkah.

“Kita pulang sekarang?” tanya Jongin setelah turun dari mobil.

Taeyeon melirik Jessica, kemudian menangguk, “Boleh.”

“Jessica-ssi!”

Jessica mencari asal suara yang memanggilnya. Seseorang yang berdiri di depan pintu rumah sakit.

“Eommanya Tiffany memanggilku. Kalian silakan pulang duluan.” Bisik Jessica kepada Jongin.

Jessica segera berlari ke arah eomma Tiffany.

“Ada apa, ajumma?” Tanyanya setelah berada di hadapan nyonya Hwang.

“Tiffany meminta untuk bertemu denganmu. Apa kau tidak keberatan?”

“Tentu saja, ajumma.”

Nyonya Hwang tersenyum lega, kemudian mengajak Jessica ke ruang VIP yang ditempati Tiffany.

Jessica melihat seisi ruangan. Disamping ranjang Tiffany, Chanyeol sedang berdiri menemaninya. Pria tinggi itu menoleh ke arah pintu. Dia sedikit terkejut melihat Jessica ada bersama eomma Tiffany.

“Oh, Chanyeol sudah datang?” Tanya Jessica. Nyonya Hwang menoleh, tersenyum sembari mengangguk.

“Iya, belum lama.”

Jessica melirik Tiffany yang berbaring sambil menatap kosong ke depan. Kelihatannya dia terganggu dengan keberisikan yang dibuat orang-orang itu di ruangnya.

“Aku mau bicara dengan Jessica. Tolong eomma dan Chanyeol keluar dulu.” Kata Tiffany tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya. Sepertinya tembok kamar ini lebih menarik dari apapun.

“Fany—,”

“Turuti saja.” Tiffany segera memotong ucapan Chanyeol. Sedari tadi lelaki itu memaksa Tiffany untuk mengizinkannya ikut bicara dengan Jessica. Dia penasaran dengan apa yang akan kekasihnya bicarakan. Eomma Tiffany langsung menurutinya, dan Chanyeol dengan berat hati keluar kamar.

Jessica menutup pintunya kemudian berjalan mendekati Tiffany.

“Duduklah.” Ujar Tiffany. Jessica duduk di kursi sebelah ranjang Tiffany.

Tiffany melihat Jessica yang terlihat agak gugup, tertawa kecil kemudian. “Apa aku semenakutkan itu?”

“Eh?” Jessica tersenyum canggung, menggeleng kemudian.

“Kalau kau mengira aku akan membahas tentang pesan yang diperlihatkan temanmu, itu tidak benar. Dan masalah itu tidak penting lagi.”

“Kau benar-benar tidak masalah dengan itu?” tanya Jessica ragu.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu,” Tiffany menatap Jessica. “Aku dengar dari Yuri kalian habis bertengkar. Aku sungguh minta maaf, bukan maksudku membuat kalian bertengkar.”

Jessica menggeleng, “Itu bukan salahmu.”

Tiffany mengangguk, “Bisa kita langsung ke inti?”

“Aku sedang menunggu.”

Yeoja ber-eyesmile itu mengalihkan pandangannya—kembali melihat tembok, dan menghela napas panjang.

“Aku ingin sedikit bercerita tentang Choi Sooyoung.”

Jessica gelagapan, “A-ap.. k-kau serius?”

“Tentu, aku ingin menceritakan kronologisnya dari awal.”

“Pada saat itu, hari pengumuman ujian tengah semester. Chanyeol dan Sooyoung tepat 6 bulan menjalin hubungan. Sooyoung sedang di mading sekolah untuk melihat hasil ujiannya dan Chanyeol sementara Chanyeol sedang menemuiku,

“Tepat seminggu sebelumnya, Chanyeol telah menyatakan perasaannya kepadaku, tapi kutolak karena dia masih berpacaran dengan Sooyoung. Lalu saat itu, dia bilang akan memutuskan Sooyoung setelah pengumuman ujian. Akhirnya aku menerimanya. Tapi sialnya, saat Chanyeol memintaku menjadi kekasihnya untuk kedua kalinya, Sooyoung sudah selesai melihat nilai dan melihat kami berdua di kantin. Sepertinya dia juga mendengar apa yang kami bicarakan, karena dia langsung berlari sambil menangis,”

“Aku tau..” sela Jessica. Tiffany menatap mata foxy disebelahnya.

“Apa yang kau tau, Jessica?”

“Setelah berlari dan menangis itu, dia masuk kelas. Kebetulan saat itu ada aku. Dia langsung mengambil tasnya dan berlari ke arah gerbang. Karena aku penasaran, aku mengikutinya. Sayangnya dia berlari sangat cepat dan tidak melihat kanan-kirinya, hingga dia tertabrak tangki minyak dan meninggal di tempat.”

Tiffany mengangguk lemah, “Ya, karena itu aku sangat menyesal. Melihat separuh wajahnya yang hancur membuatku menangis, bukan ngeri, melainkan sedih.”

Mata indah milik Tiffany menatap lurus mata tajam milik Jessica. “Dan kau tau apa yang membuatku lebih menyesal?”

Jessica menggeleng.

“Chanyeol masih mencintainya.”

 

Ÿ

 

“Ajumma, kami pamit dulu.” Ujar Jessica dan membungkuk kepada eomma Tiffany.

“Ne, Jessica-ssi. Hati-hati dijalan. Oh, Chanyeol-ah, antarkan Jessica juga. Kalian berdua sama-sama akan ke asrama, ‘kan?”

Chanyeol mengangguk, “Ne, ajumma.”

 

Setelah berpamitan, Jessica dan Chanyeol bergegas keluar rumah sakit. Jessica mencari-cari dimana mobil Jongin. Dia tiba-tiba menepuk keningnya. Tadi kan aku menyuruh mereka pulang duluan, batin Jessica.

“Aku pulang naik taksi saja.”

Chanyeol menggeleng, “Kau tidak mendengar tadi eommanya Tiffany menyuruhku mengantarmu ke asrama? Pulang denganku saja.”

Akhirnya, Jessica mengangguk lemah, “Okay. Aku menurut saja.”

Tanpa ada debat lagi, mereka pun pulang.

 

TBC

37 thoughts on “(Mini Series) Blood Message [Chapter 4]

  1. kayak nya Yeolli udah mulai suka sama Jessie….
    terus gimana nanti nasib Jessie setelah ini?? di teror gak sama Sooyoung?? mudah mudahan Soo nya gak marah!!
    btw,, ff nya bagus thor!! cepat di lanjut yaa?!!
    FIGHTTING ne ^_^’

  2. Misterius.__. Abis itu sooyoung bakal gmna lagi ya ‘-‘. D tunggu next chaptny ini kekny kependekkan :v wkwk

  3. Oh my Miyoung! Syukurlah dirimu selamat ;A;
    *pelukciumTiffany* Kok disini sedih ya baca penderitaan Tiffany? :’
    Semoga aja Sooyoung tahu, terus berhenti mengganggu Tiffany :’
    Lagi, Chanyeol mah gitu. Jadi cowok plin plan banget -_- *digamparfanschanyeol*
    And Jessica, semoga kamu bilang yang sebenarnya sama Sooyoung ya :’
    Next Chapter ditunggu, author-nim~

  4. huwah, kok deg”an gini yah abis baca. tengah malem pula ._. sooyoung serem bgt deh, suer. syukurlah fany selamat. tpi gawat, bisa” sooyoung marah ke sica >,< smoga sica baek" aja yah~ chanyeol, plin plan bgt sih -_- sooyoung-fany-sooyoung lagi-jessica (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s