[Freelance] MORE THAN..(Chapter 8)

Author: S.Y.M

Title: More Than…

Lengt: Chaptered

Rating: G

Genre: Romantic, friendship

Main Cast:  -L Myungsoo- Jessica Jung.

PART V

DON’T STOP ME, I LOVE YOU

Note: Ma’af karena hiatus lama, dan ma’af untuk cerita yang semakin gaje.

Sorry for typo and Enjoy it.

Ini udah end di blog pribadi aku, bisa dikunjungi kog di blog pribadi aku http://farahkimjaegirl.wordpress.com

____________________________MORE THAN____________________________

.

.

Lagi, Jessica harus menahan segala hal yang mungkin saja bisa ia lakukan saat ini. Ia mungkin saja bisa melompat dari atas gedung saat itu juga, atau berjalan tanpa arah di jalan raya, atau menjatuhkan dirinya tanpa perduli dimana saat ini ia berada.

Ia masih terpaku dengan kertas yang ia bawa, di bawah kertas itu terdapat satu kotak yang berisi sebuah gaun untuknya. Gaun  yang diberikan untuknya, untuk menghadiri acara pernikahan Lee Ki Kwang dengan gadis bermarga Hwang yang ia ketahui namanya adalah Hwang Miyoung itu.

Jessica mendongakkan wajahnya, ia ingin menghentikan laju air mata yang ingin menerobos keluar dari matanya itu. Ia tidak ingin menangis, sungguh tidak ingin menangis.

Ia sungguh berterima kasih dengan Myungsoo atau yang lainnya yang  mengajaknya berlibur ke Jeju, meskipun pada akhirnya dia harus menganga tak percaya ketika ke-enam namja itu sungguh hanya tertarik dengan Love Land dimana ditempat itu terdapat museum dan taman hiburan yang sering disebut erotic outdoor sculpture park itu yang…yahh…kalian harus cari sendiri bagaimana indahnya Love Land.

Namun sungguh, kertas ini membuat kebahagiannya saat berlibur musnah seketika. Hatinya kini benar-benar hancur. Ia sungguh merutuki sikap Ayah Lee Ki Kwang yang sengaja mengirimkan gaun untuknya menghadiri pernikahan Lee Ki Kwang. Apa dia bahagia melihatnya yang hancur itu?

Jessica merasakan kakinya melemah, air mata yang keluar begitu saja itu membuatnya kehabisan nafas. Pandangannya pun sudah mulai kabur,…namun ia tetap melangkah. Ia harus menepi, atau sampai ke rumahnya, jika tidak ia bisa saja pingsan di tempat umum.

Jessica mencoba menghirup udara dari hidung kecilnya, namun hidung itu sudah buntu dan mengharuskan ia bernafas dengan mulut agar ia bisa mengisi oksigen di paru-parunya.

BUK

Dan seketika matanya tertutup.

.

.

.

“Sooyeon_ah”

Jessica mendengar samar namanya tersebut, dan ia bisa menebak jika itu adalah Myungsoo. Ia  berusaha membuka matanya, kali ini ia dapat merasakah udara yang lebih hangat, serta tempat yang lebih empuk dari pada tempat ia terakhir sadar.

“Gwenchana? Jangan bertanya kenapa kau bisa ada di kamarmu setelah kau pingsan di pinggir jalan. Karena sudah pasti aku yang membawamu kesini.” tanya Myungsoo ketika ia berhasil membuka matanya dan membuatnya sadar sepenuhnya.

Jessica mengangguk lemah, ia membuat paksa lekukan di bibirnya, bermaksud agar wajah Myungsoo bisa berubah sedikit lembut dan berkurang rasa khawatirnya.

“Jangan berfikir aku merendahkan rasa khawatirku, kau memang selalu membuat masalah”

Jessica mengerucutkan bibirnya, ia menarik selimut yang ia pakai untuk menutupi wajahnya, sedangkan Myungsoo malah beranjak dan mengambil sesuatu di dekat Jessica.

Jessica yang menyadari itu segera mendongak dan benar, Myungsoo membawa kertas dan kotak berisi gaun itu keluar kamar.

“EL…” bahkan suaranya pun belum kembali pulih, suaranya masih selemah tubuhnya. Namun ia harus mencegah segala kemungkinan gila yang bisa dilakukan Myungsoo.

“EL__” Jessica beranjak dari tempat tidurnya. Ia bersyukur ia masih mempunyai kekuatan untuk bangun dan mengikuti langkah Myungsoo.

Dan tepat seperti yang ia perkirakan, Myungsoo membuang undangan dan kotak berisi gaun itu ke tempat sampah.

“Wae? Kau akan datang ke pernikahan itu?”

Jessica terdiam, ia tidak berfikir untuk tidak datang ke pernikahan itu. ia sendiri tidak yakin apa yang akan ia lakukan.

“Haljima! Haljima sooyeon_ah” Myungsoo meraih pundak Jessica, meletakkan dan mengeratkan genggaman pada pundaknya.

“berhentilah membuat hatimu sakit , lupakan semua hal yang membuatmu sakit”

“Kau juga akan meninggalkanku? Aku tahu…semua orang akan meninggalkan aku nantinya, pada akhirnya aku akan sendiri, Ayahku, eommaku, dan kau tahu…satu satunya harapanku juga meninggalkanku, apa ini yang dinamakan hidup? Oh… ini memang kehidupanku, selalu dan selalu ditinggalkan”

“Kau tidak pernah melihatku? Apa aku tidak cukup untukmu? Apa aku tidak bisa kau jadikan harapan untuk kehidupanmu? “

Kalimat itu seperti pukulan untuk Jessica, sungguh ia tidak menyangka Myungsoo mengatakan itu.

“EL… Apa yang kau_”

“Lupakan segala hal yang membuat mu sakit, aku benci melihatmu menangis”

“Aku muak…. Bukankah wajar jika aku muak…? apa aku harus mati?”

“Cukup! Kau berencana untuk membuat kekejaman pada dirimu sendiri? Aku bisa menjadi harapanmu, tetaplah bersamaku dan jangan berpaling dariku”

Myungsoo menarik tubuh Jessica dalam pelukannya, ia sudah membaca semua e-mail yang selama ini dikirimkan Jessica padanya ketika ia berada di Jepang. Dan ia sadar, sikapnya yang diam selama ini adalah salah. Jika ia mencintai Jessica, ia harus memperjuangkannya. Meskipun Jessica tidak pernah melihat cinta sebagai seorang pria darinya ia tidak akan mempermasalahkan itu, ia hanya ingin Jessica tersenyum dan bahagia. Ia akan melakukan apapun untuknya.

CHU

Lagi, Myungsoo menautkan bibirnya pada bibir tipis Jessica, ia dapat merasakan air mata yang mengalir dan membasahi bibir Jessica, entah apa yang membuatnya kembali berani mencium bibir Jessica itu. ia tidak mengelak jika hatinya memanas setiap Jessica menangis karena namja lain. Ia tidak berharap banyak dengan tanggapan Jessica dengan apa yang ia lakukan saat ini. Setelah cukup lama mencium bibir Jessica, Myungsoo beralih pada keningnya dan menciumnya singkat. Lalu ia kembali menarik tubuh Jessica dan memeluknya. Jessica masih terdiam, ia masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Myungsoo padanya. Namun ia juga tidak menolak dengan apa yang dilakukan Myungsoo padanya. Saat ini mungkin Myungsoo lah yang bisa memberikan kehangatan dan kenyamanan untuknya.

“Joahaeyo, neomu joahaeyo Sooyeon_ah…”

DEG

Jessica membuka matanya lebar, apa yang baru saja ia dengar? Apa yang Myungsoo katakan padanya? Bisakah Ia mendengarnya lagi? Apa ada yang salah dengan ini?

Jessica mendorong tubuh Myungsoo, ia menatap tajam sosok itu, dan menuntut penjelasan dari sorot matanya.

“Apa yang_”

“Joahaeyo…”

“EL ada apa ini?”

“Saranghaeo Sooyeon_ah…itulah kenyataannya. ..meskipun bertahun-tahun aku berusaha menghapusnya, namun aku tidak bisa, aku tahu apa yang kau pikirkan… apa pun itu, jangan pernah meninggalkanku, aku tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang terjadi padamu, jadikan aku alasanmu  untuk bertahan dengan semua ini. . . “

“Mianhae…aku takut…jangan katakan itu padaku…jika pada akhirnya kau meninggalkanku, aku tahu orang-orang sepertimu pada akhirnya akan meninggalkanku, jangan mengatakan apapun tentang cinta padaku…jangan katakan itu” Jessica merosot, ia bersimpuh…mendengar Myungsoo mengatakan itu semakin membuatnya takut jika suatu saat Myungsoo meninggalkannya.

“Andwae…andwae..” Jessica menolak  uluran tangan Myungsoo padanya, namun Myungsoo tidak tahan dengan keadaannya yang lemah itu. Mungkin ia terlalu cepat untuk mengatakan perasaannya pada Jessica, sehingga membuat kondisinya semakin buruk. Ia akhirnya memilih untuk mengangkat tubuh Jessica dan memaksanya untuk berbaring di tempat tidurnya.

“Apa kau marah?” tanya Myungsoo, Jessica memalingkan wajahnya. Apa yang terjadi padanya membuatnya tidak tahu harus menerima seperti apa pernyataan Myungsoo padanya. Ketakutan selalu melanda perasaannya.

“Baiklah , aku akan meninggalkanmu sendiri jika itu membuatmu tidak nyaman, mulai sekarang tidak ada pertanyaan tentang cinta diantara kita, hapus segala hal tentang cinta dalam persahabatan kita, tidak ada dunia cinta yang bisa kita bicarakan, dan jangan katakan apapun dengan apa yang aku lakukan setelah ini. cukup tunggu aku menyelesaikan semuanya” Myungsoo menyerah, jika ia teruskan untuk ada disamping Jessica, ia akan semakin egois dan memaksa Jessica untuk menerima perasaannya. disamping itu ia tidak ingin persahabatan yang ia jalani selama ini renggang karena pernyataan perasaannya dan Jessica tidak bisa menerimanya.

“Aku pergi, istirahatlah!”

CHU,

Myungsoo mencium singkat kening Jessica dan ia dapat merasakan Jessica sedikit berontak dengan tindakan tiba-tiba itu. ia menggenggam tangan Jessica yang siap untuk mendorong tubuh Myungsoo itu.

“Jangan menolak apapun dariku, jangan memberontak…lupakan apa yang aku katakan sebelumnya tentang perasaanku, aku bisa gila jika setelah ini kau menjauhiku… bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa…tentang kehidupan cintamu…aku tidak perduli lagi”

“Aku kecewa, namun apa yang harus aku kecewakan? Apa aku harus menyalahkanmu? Harus menyalahkanku? Menyalahkan semua hal yang terjadi padaku? Menyalahkan takdirku? Semuanya … aku harus bagaimana?”

“itu terserah padamu” hanya itu yang dikatakan Myungsoo lalu ia membenahi selimut Jessica dan mengacak singkat rambutnya.

Jessica tertegun, sungguh jika ia bisa meminta pada Tuhan, ia meminta untuk tidak pernah bertemu dengan malam ini. Dadanya bergemuruh, kepalanya serasa ingin pecah. Dan ketakutan kembali menyerangnya. Ia hanya mampu menatap punggung Myungsoo yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya, ia juga mendengar pintu rumahnya tertutup itu artinya Myugsoo benar-benar meninggalkannya.

Tuhan, apa lagi yang harus aku hadapi sekarang? Aku tidak bodoh jika tidak tahu seperti apa keluarga Myungsoo… apa aku akan mendapat masalah jika Myungsoo mempertahankan perasaannya? jika aku menolaknya, apa aku berdosa karena telah menyakitinya? Apa aku terlalu egois? Aku tidak ingin dia meninggalkanku seperti orang-orang meninggalkanku Tuhan…

 

 

 

 

 

Bagaimanapun , pernikahan mewah itu tetap terjadi, dan Jessica hanya diam, dia dilarang untuk datang kepernikahan itu. Hanya Myungsoo yang datang ke pesta pernikahan itu karena keluarganya diundang sebagai relasi perusahaan milik ayah Lee Ki Kwang. Dan setelah itu Myungsoo tidak berminat untuk menceritakan apa saja yang terjadi di pernikahan Ki Kwang pada Jessica. Dia tidak perduli bagaimana Jessica penasaran dengan apa yang dilakukan Myungsoo pada Ki Kwang.

Hanya itu yang ditakutkan Jessica. Ia terlalu tahu bagaimana Myungsoo dan perkiraan apa saja yang akan ia lakukan pada namja  yang membuat Jessica terpuruk itu.

 

“ Kau bisa melakukan lebih dari pada aku, tolong jaga dia”

“Aku bukan orang bodoh yang akan melakukan hal sepertimu”

Ki Kwang terkekeh mendengar jawaban Myungsoo. Ia tahu dan ia sadar ia slah telah membiarkan Jessica sakit hati karena ulahnya dan juga ayahnya.

“itu lebih baik, kau orang baik, Sooyeon gadis yang baik. Dia harus bahagia”

Myungsoo mendongak, cukup lama ia duduk di bilik hotel tempat acara resepsi pernikahan Ki Kwang diadakan.

“Cukup, aku merasa tidak enak karena bersma pengantin pria terlalu lama seperti ini. Kurasa urusanku sudah selesai, kau beruntung karena menjadi pengantin pria hari ini, jika tidak mungkin aku sudah melakukan hal yang buruk”

 

 

“Aku percaya Jessica akan bahagia, aku sangat berharap padamu!” Ki Kwang memandang punggung Myungsoo yang semakin menjauh dari tempat itu.

__________________________MORE THAN_______________________

Dan ini keputusan Myungsoo

Lupakan segala hal yang membuatmu sakit.

Tahun ke-8 persahabatan Myungsoo dan Jessica. Tepat hari ini, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.

Setelah pernikahan Ki Kwang, dan Myungsoo  tak lagi mau mencampuri urusan percintaan Jessica, mereka membuat jarak mereka sendiri. Kedewasaan membuat mereka semakin egois dan tidak mau memulai lagi. Mereka memilih menjalani kehidupan yang mereka bentuk itu.

Myungsoo menjauhi Jessica, dan itu semakin nyata saat Myungsoo mulai sering bersama gadis lain. Mereka tak lagi saling menunggu untuk berangkat ke kampus bersama. Mereka bertemu, saling menyapa, saling bicara, membicarakan hal yang membosankan, dan mereka kembali pada kesibukan mereka. Meskipun mereka tetap satu kelas.

Persahabatan mereka lebih dingin dari yang mereka bayangkan. Mereka akan bersama dalam waktu yang lama ketika berkumpul bersama Yong Guk dan lainnya.

Jangan tanyakan bagaimana reaksi Yong Guk , jangan pula Young Jae yang merasa bahwa kehidupan Jessica semakin sepi, ia jelas prihatin dengan gadis yang ia anggap adiknya sendiri itu. Himchan dan Ren pun semakin sering membuat perkelahian bohongan mereka di depan Jessica maupun Myungsoo, hanya sekedar memancing keceriaan mereka lagi. Dan Jin… ia bahkan tak tanggung-tanggung dan bersedia menjadi pengantar Jessica atau lebih tepatnya ia memposisikan dirinya sebagai bodyguard Jessica, namun tetap mereka tidak bisa menggantikan bagaimana hangatnya Myungsoo pada Jessica.

Berbulan-bulan setelah kejadian malam itu, mereka jalani dengan penuh kedinginan. Entahlah, apakah Myungsoo memang menyerah untuk membuka pintu hati Jessica agar bisa melihatnya sebagai seorang pria yang mencintainya. Atau Myungsoo berusaha untuk menghapus perasaan spesialnya pada sahabat karibnya itu.

Menyesal..

Memang seperti itulah yang akhirnya dirasakan Myungsoo. Cinta sepihak dalam persahabatan, keegoan untuk tetap mempertahankan perasaan apalagi keinginan untuk memiliki, membuat hangatnya persahabatan mereka retak.

Jelas ia tidak ingin menjauh dari sosok Jessica, namun apa yang terjadi saat ini? Baik dia, ataupun Jessica. Mereka dingin, sangat dingin.

“Gomawo” Jessica turun dari boncengan, ia membungkuk pada Seokjin.

“Jika siang ini aku tidak menjemputmu, mungkin Yong Guk Hyung akan ada di depan gerbang ini tepat setelah kau selesai”

Jessica tersenyum, ia mengacak puncak kepala Seokjin. Dan dibalas dengan hal yang sama dengan Seokjin.

“Gomawo Hyung!” ucap Jessica. Begitulah cara Jessica memanggil Seokjin, tidak dengan panggilan Oppa seperti pada Young Jae atau pun Yong Guk.

“Cheonma pretty sica”  Seokjin menyalakan mesin motornya, dan berlalu tak lama setelahnya.

Jessica berjalan gontai, ia mengangkat lengannya. Dilihatnya tanggal yang ada di jam tangannya. Ia menyunggingkan sedikit ujung bibirnya. Ia ingat hari apa ini. Dan untuk ketiga kalinya, ia merasa tidak akan merayakan tahun persahabatannya bersama Myungsoo.

Delapan tahun lalu, di tanggal yang sama, ia pertama kalinya bertemu dengan Myungsoo. Hari itu bukanlah saat Jessica menjadi murid baru dan satu kelas dengan Myungsoo. Namun hari dimana Jessica pertama kali melihat Myungsoo. Dan ia memperingatinya sebagai hari ulang tahun persahabatannya.

Ia menghela nafas panjang, ia ingat bahwa kemungkinan untuk merayakannya adalah 5%. Myungsoo tidak ada di sampingnya. Myungsoo memiliki seseorang yang menjadi prioritasnya. Bukan lagi dia, Jung Sooyeon. Siapa lagi, jika bukan kekasih Myungsoo saat ini. Dia sering bersama kekasihnya itu dan semakin jauh dengan Jessica.

“Anyeong”

Jessica sontak menghentikan langkahnya, suara itu membuat sensoriknya bekerja lebih cepat dan spontan membuatnya berhenti.

Ia menoleh, dan orang yang sebenarnya ia rindukan itu tersenyum padanya. Kim Myungsoo… dia menyapa Jessica pagi ini. apa dia ingin memberikan ucapan atas hari ini?

“ Anyeong” Jessica membalasnya dengan senyum.

“Berapa hari kita tidak bertemu?” tanya Myungsoo dan mendekat tepat di sebelah Jessica.

Jessica tersenyum,   ia kembali dengan langkah kakinya. Dan begitu pula Myungsoo yang mengikuti di sebelahnya.

“Jika kita sering berbicara di dalam kelas, mungkin hanya beberapa jam yang lalu kita tidak bertemu, Ah…15 jam “ jelas Jessica.

Myungsoo terkekeh, ia mengalihkan pandangannya. Menatap Jessica dalam waktu yang lama jika ia ada di sampingnya seperti ini adalah pantangan baginya. Bisa-bisa ia menarik tubuh kecil itu dalam pelukannya saat ini juga.

“Bagaimana tugasmu?”  tanya Myungsoo.

“Haruskan aku mengatakannya padamu? Kau selalu jadi rivalku untuk masalah nilai” jawab Jessica, dan saat ini yang lebih menguasai keadaan adalah Jessica. Ia tak terlihat secanggung Myungsoo.

“Malam ini aku akan kerumah mu, buatkan aku pancake dan ramyun! Aku pergi” ucap Myungsoo. Ia menepuk singkat bahu Jessica lalu berlari meninggalkan Jessica yang kini terpaku.

Entah kenapa, kata-kata itu membuat jantungnya menjadi tak karuan. Seukir senyum terbentuk di pipinya. Sungguh ia merindukan Myugsoo yang bersikap seenaknya seperti itu.

Sudah beberapa bulan terakhir Myungsoo tidak pernah ke rumahnya. Mereka hanya bertemu di kampus, di tempat Yong Guk, dan di rumah Young Jae saat semuanya berkumpul.

Saat ini mungkin pipi Jessica sudah bersemu merah, ia sendiri bingung dengan hal yang tiba-tiba ia rasakan ketika Myungsoo mengatakan itu.

Aku berharap ini pertanda baik untuk persahabatan kita.

________________________MORE THAN_________________________

Jessica menatap dingin beberapa orang yang ada di gerbang kampusnya. Dilihatnya Seokjin dengan cengiran andalannya. Tadi pagi ia mengatakan jika ia tidak bisa menjemputnya, maka Yong Guk lah yang ada di depan gerbang itu. namun apa yang ia lihat kali ini?. Tidak hanya Seokjin,tapi Yong Guk, Young Jae, Himchan dan juga Ren yang kini juga melempar senyum andalan mereka untuk meruntuhkan tatapan dingin Jessica.

“Sica noona” Ren berlari kecil dan menggiring Jessica untuk cepat mendekat.

“Mwoya?” tanya Jessica. Selanjutnya ia melangkah mundur ketika ia melihat Myungsoo sudah diantara mereka. ia terpaku, dan untuk yang kesekian kalinya ia benar-benar terpaku. Sedangkan Myungsoo, kini tersenyum padanya, ia menggerakkan tangannya, tanda bahwa ia juga tidak tahu rencana mereka.

“Kita berangkat, dan kau Myungsoo… kau harus ikut berjalan bersama kami” Yong Guk merangkul pundak Myungsoo dan menggiringnya untuk berjalan lebih dulu.

Disusul dengan Ren yang langsung menyambar lengan Jessica dan menariknya untuk berjalan bersama. Young Jae, Jin dan Himchan kompak menggelengkan kecil kepala mereka melihat Ren yang belum berubah menjadi lebih dewasa. Jika seperti ini ia lebih mirip dongsaeng yang manja pada eonninya. Bukan pada noonanya.

“ Hya! Kalian belum menjelaskan padaku, ada apa ini?” protes Jessica, ia mengerucutkan bibirnya.

Lagi pula, ia juga sudah lelah karena terus berjalan dan bergurau di sepanjang perjalanan.

“Sebenarnya mau kemana kita?” teriak Jessica lagi.

“Sebentar lagi kita sampai,,, kita akan makan ramyun seperti biasa” Jelas Yong Guk.

“Ramyun? ! Kita sudah melewati lebih dari 10 kedai..dan kita tidak juga berhenti?”

“tenanglah Sica, kita makan Ramyun yang sering kita makan saat kau masih di sekolah menengah” imbuh Young Jae

“Mwo? Kita berjalan sejauh ini? bahkan kita melewati beberapa halte” rengek Jessica, ia memukuli lututnya yang pegal. Namun apa yang ia dapatkan, mereka tetap berjalan dan tak menghiraukan Jessica yang mulai pegal,

“Kau harus sering berolah raga Sica” Himchan menepuk pundaknya dan sama dengan yang lainnya, meninggalkannya tanpa membantunya.

Memangnya bantuan apa yang ia butuhkan?

“Kalian ini” gerutunya.

_________________________MORE THAN_____________________

Dan benar, mereka makan di kedai ramyun yang biasa mereka datangi saat masih di sekolah menengah. Jessica bisa bernafas lega, namun ia hanya mendapat ekspresi datar pada Myungsoo. Mungkin ia juga menikmati kebersamaan yang sering ini, namun tidak kali ini. Jessica lebih merasakan hal aneh pada dadanya ketika melihat Myungsoo yang seperti ini. tak mengacuhkannya dan hanya bercanda dengan Yong Guk dan lainnya, tidak dengannya.

Seperti biasa, rasa pegal itu hilang karena Jessica bahagia bisa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya itu. tidak dipungkiri mereka adalah orang-orang yang membuat harinya sedikit ramai. Ia mengalami kesepian yang mendalam karena keluarga yang berantakan, dan jangan tanyakan hal yang lainnya, pasti kalian memahaminya. Harinya begitu sepi ditambah Myungsoo yang menjauh darinya.

Setelah 2 jam mereka menghabiskan waktu ditempat itu, mereka memutuskan untuk mengantar Jessica pulang kerumahnya. Namun kali ini Myungsoo mulai angkat bicara, ia yang mengajukan diri untuk mengantarkan Jessica pulang ke rumahnya dan meminta mereka kembali ke tempat mereka masing-masing.

Seakan merasa rencana mereka berhasil, tak perlu waktu lama bagi mereka untuk menyetujui hal itu. Jessica dan Myungsoo memang butuh waktu untuk bersama agar kedinginan yang akhir-akhir ini terbentuk diantara mereka runtuh.

“Hya! Selamat atas 8 tahun persahabatan kalian!” teriak Seokjin, dan sukses membuat 2 orang itu menoleh. Mereka dapat melihat raut kebahagiaan dari wajah 5 namja itu. Mereka ikut senang dengan 8 tahun persahabatan mereka.

Mereka memang merencanakan ini dari awal. Dan yang paling membahagiakan adalah, ada titik terang dari hubungan mereka yang mulai dingin itu.

“Gomawo “ ucap mereka bersamaan. lalu Myungsoo dan Jessica kembali pada langkah mereka.

.

.

.

Hening, dan itulah yang mereka alami saat ini. tinggal beberapa blok lagi mereka sampai di rumah Jessica.

“Mian” ucap Jessica lirih.

“wae?”

“Aku tidak membuat makanan yang kau pesan saat kau datang kerumahku malam ini”

Myungsoo terkekeh, ia menggaruk kepalanya yang mendadak gatal itu. perlukah ia secanggung ini pada Jessica? ia harus bisa bersikap biasa, ia harus bisa mengembalikan semuanya. Ia tidak memungkiri bahwa semua ini juga menyiksanya.

“Kita sudah makan bersama-sama”

“Apa kau tahu rencana mereka?”

“Any, kita sama sama korban kejahilan mereka”

Jessica tertawa, ia memang sering menjadi korban kejahilan 5 namja itu. sungguh ini yang kesekian kalinya ia kembali menjadi korban kejahilan mereka.

“Kita sampai” ucap Jessica.

“eoh”

“Gomawo! Beristirahatlah” Jessica melambaikan tangannya, yang ia pikirkan kali ini adalah Myungsoo akan segera pergi dan tidak masuk ke rumahnya. Namun kenyataannya Myungsoo masih terdiam menatapnya.

PLETAK

“Appoo!” Jessica memegangi keningnya, ia menatap tajam Myungsoo. Entah kenapa Myungsoo tiba-tiba saja memukul keningnya.

“Jangan pukul kepalaku!” protes Jessica.

“Setidaknya buatkan aku coklat panas malam ini, kau tidak sopan pada tamu mu” Myungsoo melangkah mendahului Jessica untuk masuk ke rumahnya.

Jessica terdiam, pipinya kini bersemu merah, ini diluar dugaannya. Myungsoo sedikit demi sedikit mencair dan mulai bertingkah seenaknya. Ini Myungsoo yang ia rindukan.

_________________________MORE THAN_________________________

Myungsoo masih melihat lihat keadaan rumah Jessica, sedang Jessica membuatkannya coklat panas. Rasanya sudah lama ia tidak keluar masuk seenaknya ke rumah kecil ini. Keadaan dan tata letaknya masih sama seperti saat terakhir ia ke rumah ini.

Ia mulai masuk ke kamar Jessica, masih berserak buku-bukunya seperti biasa. Jessica memang tidak bisa membiarkan bukunya rapi di rak. Jika dia mulai bersemangat untuk membaca maka disekitarnya akan ada buku-buku yang ia baca.

Jessica menggeser pintu kamarnya, ia membawakan secangkir coklat panas seperti yang diminta Myungsoo.

“tidak bisakah kau sedikit rapi pada buku-buku ini?” Myungsoo meraih cangkir yang dibawa Jessica.

“Berhenti protes, aku belum selesai membacanya”  Jessica mengubah raut wajahnya, ia memang paling tidak suka jika Myungsoo memprotesnya untuk masalah ini.

Namun ia mulai memunguti buku di sekitar tempat tidurnya, menumpuknya jadi satu dan ia letakkan di atas meja.

“Tempat ini membosankan, kau tidak ingin merubahnya?”

“Aku tidak ada waktu untuk melakukannya” Jessica keluar kamar dan Myungsoo mengikutinya.

“Sooyeon-ah” panggil Myungsoo lirih.

Myungsoo meletakkan cangkirnya di meja, lalu menarik tangan Sooyeon agar lebih dekat.

“Eoh?” Sooyeon mendongak, dia sedikit terkejut karena myungsoo tiba-tiba menariknya, kini yang ia lakukan adalah memalingkan wajahnya karena ia merasa wajah Myungsoo begitu dekat dengan wajahnya, sampai-sampai ia bisa merasakan suara nafas Myungsoo yang lirih.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Myungsoo. Dan jujur, itulah kalimat yang selama ini ditahan olehnya. Ia sangat rindu mendengarkan kabar Jessica secara langsung darinya. Ia merindukan cerewetnya Jessica yang bercerita tentang kesehariannya.

“Gwean_cha..na” jawab Jessica gugup.

“tatap aku saat aku sedang bicara, kau tidak sopan” protes Myungsoo.

Jessica mengambil nafas dalam,  bagaimana mungkin ia menatap Myungsoo dengan posisi seperti ini. Ia masih diam dan tak juga menatap wajah Myungsoo.

Namun sial, bukan Myungsoo jika ia tidak bisa membuat Jessica menurut padanya. Myungsoo malah menarik pinggang Jessica dan ia memeluknya.

“Bogoshipo, Sooyeon_ah” ucap Myungsoo.

Dapat ia rasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat, mungkin Jessica bisa merasakannya. Begitu pula dengan Jessica, iapun merasakan jantungnya berpacu lebih cepat dan membuatnya sesak .

Ada apa ini? EL sering memelukku, tapi kenapa ini berbeda?

“EL! Kau  berlebihan, aku kesulitan bernafas”

Myungsoo melepaskan pelukannya. Ia terlihat kikuk setelah memeluk Jessica, lalu ia mengambil kembali cangkir coklat panasnya dan menjauh dari Jessica.

“Bagaimana keadaanmu?” kini Jessica yang bertanya, ia duduk di depan Myungsoo.

“Baik, seperti yang kau lihat sekarang”

“Baiklah…lalu dengan Naeun? “

Myungsoo mendongak, Jessica menanyakan tentang Naeun yang tak lain adalah kekasihnya saat ini. Naeun adalah dongsaeng yang menyukainya sejak sekolah Menengah dan di Universitas.

“Kami baik-baik saja”

“Aku pikir, kalian akan bertunangan, itu kabar yang beredar”

Myungsoo terdiam, bahkan ia tidak berfikiran sampai seperti itu. Kabar tentangnya yang mau menjalin kasih dengan gadis lain memang menjadi hal yang Wah… pasalnya selama ini dia selalu bersama Jessica. Dan itu juga yang ia takutkan, memilih untuk menerima perasaan Naeun adalah salah satu hal yang membuatnya takut , ia takut jika eommanya memintanya untuk bertunangan dengan Naeun, mengingat latar belakan Naeun yang hampir sama dengannya. Lalu jika sudah seperti itu, ia akan semakin menjauh dari Jessica. Itu tidak boleh terjadi.

“Any…aku tidak berfikiran untuk seperti itu, kau tahu banyak gadis yang mengantri untukku. Manamungkin aku menghabiskan waktuku dengan satu gadis” jawab Myungsoo.

PLETAK

“Hya! Kau memukul kepalaku?” Myungsoo mengusap kepalanya karena Jessica tiba-tiba memukulnya.

“Jangan coba-coba jadi Bad boy!”

“Kau bisa Tanya dengan Naeun, sebelumnya aku sudah berkencan berapa kali dengan gadis lain”

“Kau harus menghargai perasaan mereka EL”

Myungsoo terdiam, ia menatap tajam Jessica. Membuat Jessica merasa ada yang salah dengan apa yang baru saja ia katakan.

Myungsoo menggeser posisi duduknya, ia mendekat pada Jessica. Perubahan sikap Myungsoo yang begitu tiba-tiba membuat Jessica sedikit takut dan bingung. Hal ini membuatnya canggung.

“Emh..El..apa aku salah bicara?” Jessica ingin menjauh namun Myungsoo menariknya dan ia kini berada tepat di depan Myungsoo. Lebih tepatnya ia hanya beberapa centi di depan Myungsoo.

“Mian-mian…” Jessica memalingkan wajahnya namun tangan Myungsoo mencegahnya, ia menyentuh dagu Jessica dan CHU…

Myungsoo menciumnya. Dan ini untuk yang kesekian kalinya Myungsoo berani menciumnya.

Jessica terdiam, tangannya memberontak namun Myungsoo selalu menahannya. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia serasa ingin pingsan. Ia berharap Myungsoo cepat menghentikannya. Namun nyatanya tidak, Myungsoo bukan namja seperti itu. Jessica berhenti memukul dada Myungsoo. Nafasnya semakin menipis dan ia kehabisan tenaga.

Melihat Jessica yang sudah tidak memberontak, Myungsoo melepaskan ciumannya. Ia mengambil nafas dalam, ditatapnya lekat mata Jessica.

“Kau juga harus tahu perasaanku” ucap Myungsoo dingin, lalu ia melepaskan Jessica.

“Dan sepertinya memang butuh waktu yang sangat lama untukku melepas perasaan ini, aku bodoh karena berusaha terlalu keras melepasmu, semakin aku berusaha perasaan ini semakin tumbuh dan menyiksaku. Jangan salahkan aku yang melakukan ini padamu. Kembali acuh padamu itu berarti aku harus selalu disampingmu Sooyeon_ah, dan aku berjanji padamu”

___KIM MYUNGSOO__

 

 

10 thoughts on “[Freelance] MORE THAN..(Chapter 8)

  1. Waaaa……
    Akhirnya di publish juga..
    Udah lama banget nunggu kelanjutan ff ini, sampe lupa cerita sebelumnya gimana😀
    Jessica…. tolong bukalah sedikit hatimu buat myungsoo, kasian myungsoo dia itu beneran cinta sama kamu, jangan digituin kasian😦
    Chap selanjutnya jangan lama2 ya thor..😀

  2. suwerr thor~ aku nungguin ini FF lamaaa bangett /lebay/

    okeh kembali ke FF..
    Gikwang udh nikah?? aku kagett ..
    kelakuan Ren sama Jin lucu bangett >.<
    Jessica bukalah hati mu buat Myungsoo😦

    aku tunggu chapter selanjutnya
    Keep Writing😀

  3. bagus thorrrrr*bukannyathoryangpunyapaluya?* abaikan~
    ini kereeennn kok~~aku suka banget sama ff nyaaa..dapet banget feel nya.. kek drama drama gimanaaaa gituuu..
    btw mian ya thor aku koment nya baru pas chap ini~~aku keasikan baca soalnya~~
    daebak thorr~~

  4. yaaampun kenapa mereka makin aneh aja sih ?-____- gasabar kapan mereka bakal bersatu (?) :v kkkk~ next chapt ditunggu yaa ya yaaa

  5. Kenapa kehidupan jessi sangat menyedihkan sekali? Apa takdirnya harus kesepian yah?

    Kenapa juga myungsoo ga mikir dulu sebelum berpacaran ama naeun, bukan kah dia sangat mencintai jessi.

    Aku harap keluarga myungsoo bisa nerima jessi deh… biar jessi ga kesepian lagi..
    Jangan sad ending…

  6. Daebakk thor!!
    Myungsoo akhirnya berani ngungkapin perasaannya ke Jessica
    Itu Jessica kayaknya udah mulai cinta deh sama Myungsoo
    Agak kecewa sih waktu mereka saling dingin+cuek,, untungnya cuma sebentar🙂
    ditunggu next chap nya thor,, fighting!!

  7. Horeeee myungsica is back.. Ice princess and ice prince ini diapa apain tetep aja cocok yakk.. Wkwkwkwk.. Makin seneng ama mereka berdua, walau sempet sebel soalnya mereka jauh jauhan gitu.. Fighting

  8. Endingnya sedih😦 ffnya nano nano, ada sedihnya, senengnya, lucunya, dll😀 banyak pembelajaran juga dari ff ini😀 daebakk !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s