180° – Chapter 9

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | Ninemuses Hyemi

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 –

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

“Aku setuju dengan segala permainanmu, Daehyun-ah. Namun, tolong, jangan muncul di depanku sampai keberangkatan Junyoung ke Australia.”

Tangan kiri Daehyun asyik memainkan pulpen di atas meja sedangkan matanya menatap kosong ke depan. Beberapa kertas dan komputer yang menyala di hadapannya tak kunjung mendapatkan perhatiannya. Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengirimkan laporan keuangan yang tertunda akibat berbagai kejadian.

Ah, laporan keuangan…

Daehyun melirik kertas-kertas yang menjadi bahan untuk menyusun laporan keuangan. Karena mencari kertas-kertas itu di kamarnya, dia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu. Dia mulai bertanya-tanya, bagaimana jika dia tidak pernah menemukan surat dari Sandara itu? Apakah mereka akan tetap baik-baik saja?

Dia mengerang pelan. Niatnya untuk menyelesaikan semua tugas yang terbengkalai pun lenyap. Dengan gerakan cepat, tangan kirinya meraih semua kertas dan menyimpannya di laci lalu mematikan komputer. Setelah semuanya rapi, dia keluar dari ruangan.

Daehyun memperhatikan pemandangan di depannya. Beberapa orang yang seumuran dengannya sedang sibuk mencuci mobil diselingi canda-tawa. Dia kenal dengan mereka walaupun tidak terlalu dekat. Mereka menikmati hidup tanpa masalah yang terlalu berarti. Masalah mereka hanya kuliah dan uang.

Daehyun iri. Dia juga ingin hanya mempermasalahkan tugas, pertemanan dan hal ringan lainnya seperti beberapa bulan yang lalu. Pernikahan terlalu berat untuknya.

***

Sejak pagi, Jessica menghabiskan waktu dengan membaca buku atau menonton televisi. Hari ini, semua channel menyiarkan tentang ujian masuk universitas se-nasional dan berhasil membuatnya merasa sedih karena tidak bisa menemani para muridnya. Sebenarnya dia sudah memohon kepada Junyoung semalam agar bisa menemani para muridnya tapi sahabatnya menolak dengan tegas.

Dan karena Sandara juga merupakan guru yang mengajar murid kelas 3, tidak ada seorangpun yang menemani Jessica di rumah sakit. Junyoung sibuk mengurus kepergiannya. Rasanya bosan juga jika tidak ada kedua orang yang sifatnya bertolak belakang itu.

Mata Jessica beralih saat mendengar suara pintu terbuka. Mulutnya terbuka lebar melihat Sandara membawa cukup banyak murid ke dalam kamar rawatnya. Tentu saja 7 murid yang datang adalah murid di kelas yang diurus oleh Sandara. Berbeda dengan Sandara yang menjadi wali sebuah kelas, Jessica masih berstatus guru baru sehingga belum menjadi wali kelas manapun.

Jessica hanya tersenyum sebagai respon dari salam murid-muridnya Sandara lalu melirik temannya tajam. “Pasti Park seonsangnim memaksa kalian datang, ya?” tanyanya, mencibir.

7 murid tersebut hanya tersenyum canggung tanpa menjawab apapun.

Sandara merengut. “Harusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku tahu kau pasti kesepian jadi aku membawa pasukan untuk menghiburmu.”

Jessica menghela napas panjang dan mengangguk. Dia tidak mau membantahnya karena pasti akan terjadi perdebatan panjang. Dia tidak mau Sandara macam-macam di depan para murid.

“Oh ya, ini bunga untukmu, miss Jung. Selamat untuk kehamilanmu,” kata Junhong, si cowok tinggi yang menjabat sebagai ketua kelas.

Jessica menatap buket yang diberikan kepadanya. Butuh beberapa detik agar tangannya mampu menerima buket tersebut sambil tersenyum kaku. Tentu saja mereka akan memberikannya selamat. Sandara pasti menceritakan kondisinya sekarang kepada murid-murid tersebut.

“Terima kasih.”

***

Jessica tidak bisa menghilangkan senyumannya setelah Junyoung mengatakan dirinya sudah dibolehkan untuk pulang. Sebenarnya dia merasa sudah sehat sejak kemarin tapi Junyoung tetap melarangnya pulang. Dia tidak terkejut dengan larangan Junyoung. Sahabatnya menjadi semakin protektif sejak tahu dia benar-benar hamil.

“Kau bisa tersenyum seperti itu, tapi apa kau sudah menentukan akan pulang kemana?” tanya Junyoung, menyindir.

Jessica yang sedang asyik merapikan barang-barangnya sambil bersenandung pelan pun menoleh. “Apa maksudmu?”

“Aku tahu kau tidak mau bertemu dengan Daehyun dan Daehyun tetap pulang ke apartemen kalian jadi ku rasa kau tidak akan mau pulang ke apartemen. Kau juga tidak bisa pulang ke rumah ayahmu karena selain hubunganmu dengan ayahmu sedang canggung karena perceraian orangtuamu, kau juga tidak ingin orangtuamu tahu keadaan pernikahanmu. Jadi kemana kau pulang?”

Jessica berpikir sejenak lalu mendecak kagum. “Mengapa kau selalu benar?”

Sejak ibunya datang dan menceritakan segalanya, Jessica memang tidak pernah mau berkomunikasi dengan ayahnya lagi. Akan tetapi, ayahnya selalu berusaha untuk bertemu dan menjelaskan segalanya. Jessica tidak siap untuk bertemu dengan ayahnya. Setiap telepon dari ayahnya pun tak ada yang diangkat.

“Karena aku mengenalmu terlalu baik,” jawab Junyoung.

“Mungkin aku bisa menginap di apartemenmu?” celetuk wanita hamil itu dengan senyuman main-main, tapi wajah datar Junyoung membuat senyumannya memudar. “Percuma. Hanya menambah masalah. Okay, aku mengerti. Aku hanya becanda.”

Junyoung menghela napas panjang. “Aku mengerti perasaanmu tapi dengan keadaan seperti ini, akan lebih baik jika kau bersama Daehyun. Setidaknya dia bisa menjagamu. Kau tahu sendiri kalau aku sudah mulai sibuk mengurusi banyak hal.”

“Junyoung-ah—“

“Aku tahu. Aku tahu. Akan tetapi, kau yang memulai semua ini. Bertanggungjawablah. Aku tidak bisa selamanya menjadi malaikat penolongmu. Kau harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri tanpaku,” sela Junyoung.

Jessica menyandarkan punggungnya sembari menghela napas kasar. Dia akui Junyoung benar, tapi hatinya masih belum siap untuk bertemu dengan suaminya.

Anak kecil itu…

Mengapa selalu anak kecil itu yang membuatnya seperti ini?

***

Junyoung membantu Jessica merapikan semua isi koper. Daehyun tidak diketahui keberadaannya. Seharusnya Sandara ikut membantu. Namun karena Junyoung melarang keras kedatangan Sandara, hanya mereka lah yang berada di apartemen milik Daehyun dan Jessica kini.

Setelah mereka selesai, mereka memutuskan untuk bersantai bersama sambil bernostalgia sebelum kepergian Junyoung besok lusa. Walaupun hanya 2 bulan, tetap saja berat bagi Jessica yang tak pernah berpisah terlalu lama dengan Junyoung. Jika boleh, dia sudah merengek agar Junyoung membatalkan kepergiannya. Akan tetapi, berapa umurnya sekarang? Tidak mungkin dia merengek di usianya yang sudah dewasa.

“Kau tahu siapa cinta pertamaku?” tanya Jessica setelah mereka kehabisan topik.

“Idolamu?”

Jessica memutar matanya. “Yang benar saja?”

“Kalau begitu, aku lah jawabannya,” canda Junyoung.

“Benar.”

Tawa Junyoung pun terhenti. “Benar? Kau pasti becanda.”

“Bagaimana jika aku serius?”

“Ku pikir cinta pertamamu adalah ketua OSIS itu!”

Jessica menarik napas dalam lalu menatap sahabatnya. “Kau tidak pernah mengiranya?”

“Uh, kita berteman dan kita memang selalu dekat, siapa yang mengira?”

“Semua orang.”

“Itu hanya gosip belaka.”

“Tidak, jika itu benar-benar terjadi.” Kening Jessica mengerut bingung. “Mengapa sepertinya kau tidak menginginkan itu terjadi?”

Jessica benar-benar bingung sekarang. Dia mengira Junyoung akan membalasnya dengan candaan atau membenarkannya dengan penuh kebanggaan. Akan tetapi, kini Junyoung terdiam dengan ekspresi yang tidak dimengerti olehnya. Seakan pengakuannya adalah sesuatu yang mustahil bagi Junyoung.

“Apa ada yang salah?” tanya Jessica bingung.

Junyoung masih terdiam.

Yah! Kau membuatku bingung. Apa salahku?”

Junyoung hanya menarik napas dalam tanpa menjawab.

Yah, Junyoung-ah~”

Bukannya menjawab, Junyoung malah bangkit dan berjalan menuju pintu. Namun dia berhenti di tengah jalan dan terlihat bingung harus melakukan apa. Dia pun berbalik untuk menatap sahabatnya tersebut.

“Aku harus pergi sekarang. Ada yang harus ku lakukan sekarang. Sampai jumpa besok!” pamit Junyoung.

Jessica masih bingung dengan yang terjadi saat ini. Dia hanya diam menatap kepergian Junyoung. Junyoung memang tidak mengatakan apapun. Akan tetapi, dia tahu pengakuannya telah menyebabkan pria itu pergi.

***

Daehyun tertegun di depan pintu. Dia tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Dia tidak percaya Jessica pulang ke apartemennya, apartemen mereka. Dia mencubit tangannya. Sakit. Walaupun begitu, dia masih tidak mau percaya istrinya berada di depan matanya, sedang meletakkan beberapa makanan di atas meja dengan cemberut di wajahnya seakan ada hal lain yang sedang dipikirkannya. Bahkan Jessica tidak menyadari kepulangan Daehyun.

Noona,” panggil Daehyun.

Remaja itu melangkah cepat menghampiri Jessica, tasnya dilempar ke sofa di tengah perjalanan. Jessica masih tidak berkutik. Dia masih diam sambil memperhatikan makanan di atas meja.

Noona, kau sudah pulang? Kapan?” tanya Daehyun, kini ia sudah berada di samping Jessica seraya menggenggam tangannya.

Mata Jessica beralih ke tangannya yang digenggam oleh Daehyun. Dia terkejut menyadari Daehyun sudah pulang. Dia belum siap menghadapi pria itu.

“D-Daehyun? Kapan—“

“Ku kira kau akan menginap di rumah orangtuamu,” ujar Daehyun pelan lalu tersenyum tipis. “Aku senang kau kembali, Noona.”

Jessica mengerjap. 2 detik kemudian, dia membuang muka dan menarik tangan agar lepas dari tangan Daehyun. “Tadi aku membeli beberapa makanan di perjalanan pulang. Makanlah jika kau lapar.”

Noona, aku—“

“Bisa kita bicara besok? Aku lelah,” sela Jessica cepat.

Daehyun menipiskan bibirnya sambil menahan tangan Jessica. “Kau menghindariku.”

“A-aku—tidak! Aku tidak menghindarimu. Aku hanya ingin istirahat,” bantah Jessica, masih tidak menatap Daehyun. Dia mencoba melepaskan tangannya tapi Daehyun terlalu kuat.

“Kau menghindariku.”

Jessica menghela napas panjang. “Ya, aku menghindarimu. Apa ada yang salah? Apa hanya kau yang boleh menghindariku dan lari dari masalah? Apa hanya aku yang tidak diperbolehkan untuk menjelaskan segalanya?”

Noona, tapi aku—“

“Aku lelah. Ku mohon…”

Daehyun menyerah. Dia melepaskan tangannya Jessica. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Jessica. Wanita hamil itu segera masuk ke dalam kamarnya.

***

Bukan hal yang aneh jika Daehyun sudah pergi saat Jessica masih terlelap dalam tidurnya. Jessica selalu tidur lebih dahulu dan bangun terakhir. Di hari-hari pertama mereka menikah, Jessica sudah mencoba beberapa kali untuk bangun lebih dulu dari Daehyun, tapi dia selalu gagal. Kini, dia tidak perlu mencoba untuk bangun lebih cepat karena dia tidak ingin bertemu dengan Daehyun.

Dia menghindari Daehyun bukan karena marah. Dia tidak marah sama sekali, malah dia mengerti jalan pikiran Daehyun. Hanya saja, dia belum siap menghadapinya. Dia belum siap melihat wajah Daehyun yang kecewa. Selama ini, dia selalu berusaha menjadi kakak terbaik untuk Daehyun dan ini pertama kalinya dia membuat Daehyun kecewa jadi dia tidak tahu cara menghadapi Daehyun.

Jessica turun dari tempat tidur sembari menguncir rambutnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Hari ini adalah hari libur dan dia sendirian di rumah. Dia tidak bisa mengundang Sandara datang karena temannya itu akan mengikuti kencan buta yang disiapkan oleh ibunya. Mengetahui itu, Jessica sempat tidak mempercayainya. Mana mungkin perempuan yang tidak mempunyai pacar bisa memiliki ide gila yang membuatnya kini terikat janji pernikahan dengan Daehyun?

Sandara memang hebat.

“Apa aku mengunjungi Junyoung? Sepertinya dia tidak ada jadwal praktik hari ini,” gumamnya.

Awalnya, itu hanyalah ide yang tidak sengaja terlintas di pikirannya. Namun kini, Jessica menyadari itu adalah ide yang cukup bagus. Junyoung masih berhutang penjelasan kepadanya. Satu-satunya cara untuk membuatnya mengaku hanya dengan menemuinya di apartemennya langsung dan mengunci pintu.

Wah, kau jenius, Sica!

Jessica tertawa geli sambil melangkah masuk ke kamar mandi.

***

Besok lusa adalah hari keberangkatannya tapi Junyoung masih diminta untuk tetap hadir karena dokter penggantinya sedang ada urusan lain dan baru bisa datang di hari ia berangkatke Australia. Jadi, dia masih disibukkan dengan berbagai kegiatan di rumah sakit. Untung saja, hari ini tidak ada jadwal praktik.

Junyoung tidak ingin melakukan apapun hari ini untuk memanfaatkan hari libur ini. Dia ingin diam di rumahnya. Akan tetapi, suara bel mengganggu niatnya dan memaksanya untuk membuka pintu walaupun enggan. Dalam hati, dia menyusun kata untuk mencara alasan yang tepat untuk mengusir siapapun yang menekan bel itu.

Junyoung tertegun melihat orang yang berdiri di depan pintu. Dia tidak mengharapkan wanita itu datang hari ini. Di belakang wanita itu, dia melihat sosok Jessica yang baru saja keluar dari apartemennya dengan pakaian santai yang menandakan dia tidak akan pergi keluar dari gedung karena suhu diluar sangat dingin. Kemungkinanbesar, apartemennya lah yang menjadi tujuan Jessica.

Junyoung segera memberikan jalan untuk sang tamu dan menutupnya sebelum Jessica sempat menyapanya. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan sahabatnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Junyoung setelah tamunya duduk di sofa.

“Seharusnya kau menawarkanku minuman terlebih dahulu,” balasnya.

Junyoung menghela napas. “Hyemi-ssi, aku tidak punya banyak waktu.”

Hyemi menatap Junyoung sejenak lalu menghela napas menyerah. “Baiklah. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Harusnya kau datang ke kantorku setiap 2 bulan sekali, tapi kau sudah melewati jadwalmu 2 kali. Ada apa?”

“Semua baik-baik saja. Aku hanya merasa tidak membutuhkan bantuanmu lagi.”

“Kamu masih menangis saat terakhir kali kunjungan. Kau yakin?”

Junyoung mendesah kasar. “Aku baik-baik saja. Lagipula, aku akan pergi ke Australia selama 2 bulan jadi aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Percayalah.”

Hyemi terlihat sedang berpikir keras. Melihat wajah memohon Junyoung, dia pun mengangguk.

“Temui aku saat kau kembali. Aku yang akan menentukan kau sudah siap atau tidak.”

***

Jujur saja, dia terkejut melihat wanita asing masuk ke dalam apartemen Junyoung. Dia tidak pernah kenal dengan wanita itu. Padahal dia kira selama ini dia mengenal dengan semua teman Junyoung, begitupula sebaliknya. Dia memutuskan untuk menunggu di depan pintu tanpa menekan bel.

Jessica memutuskan untuk menunggu di luar pintu tanpa menekan bel. Dari lirikkan mata Junyoung saat ia keluar dari apartemennya, Jessica tahu sahabatnya tidak ingin diganggu. Seperti dugaannya, wanita asing itu memang tidak lama berkunjung. 10 menit kemudian, pintu sudah terbuka dan wanita asing itu pun pergi. Sebelum pintu kembali tertutup, Jessica segera mendorong pintu dan masuk ke dalam apartemen Junyoung.

Annyeong~” sapanya girang.

Junyoung tersentak kaget. Dia tidak mengira Jessica akan menyusup masuk saat dia membukakan pintu untuk Hyemi.

Yah, siapa tadi? Pacarmu, uh? Mengapa kau tidak pernah mengenalkannya kepadaku?” tanya Jessica main-main.

Junyoung menggigit bibirnya. “Oh, uh… dia adalah mahasiswi jurusan psikologi yang pernah aku ceritakan.”

“Orang yang kau sukai itu?!”

Junyoung membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jessica menyikutnya sambil tersenyum menggoda.

“Bukan.”

Jessica mengerutkan keningnya. Jika bukan, lalu siapa? Mahasiswi jurusan psikologi mana lagi yang diceritakan oleh Junyoung selain gadis yang ia suka?

“Masuklah. Aku akan menceritakannya kepadamu,” kata Junyoung.

Jessica berjalan di belakang Junyoung lalu duduk di sofa single yang selalu ia duduki setiap berkunjung ke apartemen Junyoung. Sementara itu, sahabatnya membuka lemari untuk mengambil sebungkus keripik kentang lalu melemparkannya kepada Jessica. Wanita itu menerimanya sambil menyengir lebar.

“Kau memang yang terbaik!” seru Jessica sambil membuka bungkus keripik kentang tersebut. Junyoung tidak pernah lupa dengan cemilan kesukaannya itu. “Jadi apa yang ingin kau ceritakan?” tanyanya.

Junyoung duduk di sebrang Jessica dengan meja memisahkan mereka. Dia memperhatikan wanita di depannya yang sedang menikmati sebungkus keripik kentang yang ia beli khusus untuknya.

Yah,” desak Jessica.

Junyoung masih terdiam cukup lama sampai akhirnya dia membuka mulutnya, “Aku berbohong.”

Tangan Jessica berhenti dari kegiatannya. Matanya tertuju kepada Junyoung. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai Hyemi. Aku hanya menjadikannya sebagai alasan.”

Jessica mengerjap bingung. “Tunggu, siapa Hyemi? Mahasiswi—“

“Ya. Dia. Dia adalah pengganti ibunya karena ibunya harus pindah ke Jepang.”

“Aku tidak mengerti. Pengganti ibunya? Apa hubungannya denganmu?”

Junyoung menarik napas dalam. “Psikiater pribadiku.”

Jessica kembali menyuapkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya dengan santai. “Mengapa kau berbohong?” tanyanya sambil menguyah keripik kentangnya.

“Karena aku ingin kau berhenti menanyakan kehidupan cintaku.”

Jessica cemberut mendengarnya. “Wae? Waeeee? Aku adalah sahabatmu, Junyoung-ah. Apa salahnya aku menanyakan hal itu?”

“Aku tidak mau kau tahu yang sebenarnya,” gumam Junyoung.

“Yang sebenarnya? Maksudnya kau tidak normal? Kau menyukai sesama jenis? Kau adalah pedofil? Atau kau—“

“Aku mencintaimu.”

“Junyoung.. sejak kapan?” tanya Jessica, hampir berbisik. Dia terlalu kaget hingga tidak sanggup mengeluarkan suaranya.

Junyoung menarik napas dalam. “Aku tidak tahu.”

“Saat kita masih sekolah?”

Junyoung menggeleng.

“Lalu?”

“Aku tidak tahu sejak kapan. Namun aku menyadarinya sejak malam dimana kita memberikan keperawanan kita kepada satu sama lain.”

Seketika Jessica teringat kejadian tersebut. Malam itu, dia belum menyukai Daehyun. Malam itu, hatinya masih dimiliki oleh Junyoung. Kenyataannya, hanya 2 kakak-adik itu yang sanggup membuatnya  jatuh cinta selama ia hidup.

“Mengapa kau tidak mengatakannya?” tanya Jessica, suara terdengar sangat menyesal.

Andaikan Junyoung mengatakannya, mungkin dia tidak akan mencintai Daehyun. Dia tidak perlu melakukan kebohongan ini. Dia tidak perlu merasakan semua rasa sakit ini.

“Aku takut kau akan menjauh.”

“Tapi aku juga mencintaimu saat itu.”

Junyoung menatap Jessica tidak percaya. “Tidak mungkin..”

Jessica tertawa sinis. Dia menertawakan nasib mereka. “Masa lalu itu lucu.”

“Dan kau tidak mencintaiku lagi sekarang?” tanya Junyoung. Matanya terlihat serius, tapi Jessica bisa mendengar nada main-main di kata-katanya.

Wanita itu tertawa pelan. “Aku sudah menikah.”

“Akan tetapi, cinta pertama itu istimewa.”

Jessica memutar matanya. “Kau benar. Mungkin jika aku tidak berhasil membuat adikmu jatuh cinta kepadaku, kau menjadi ayah tiri dari anakku.”

Junyoung menggeleng. “Tidak seharusnya kau menyetujui perjanjian itu. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu jalan pikiran anak kecil itu. Dia melakukan ini untuk mempertahankan hubungan kalian. Bukan karena dia ingin mencintaimu, dia hanya ingin menghindari anaknya akan bernasib sama sepertinya.”

Jessica menjilat bibirnya yang tiba-tibaterasa kering. Junyoung benar. Mengapa dia tidak menyadarinya dari awal?

“Percuma, Jess. Jika kau mengikuti rencananya dan gagal, kau lah yang paling tersakiti. Kalaupun, Daehyun tetap bersikukuh untuk mempertahankan hubungan kalian, apa bedanya kalian dengan orangtuaku?” lanjut Junyoung.

Jessica menggigit bibirnya. “Tidak akan seburuk itu, ‘kan?”

“Sangat buruk. Aku adalah korbannya. Rasanya sangat hampa di dada. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya dan ibuku berusaha untuk mendapatkan perhatian ayahku. Menyedihkan. Hasilnya, aku harus mendatangi psikiaterku setiap 2 bulan sekali karena trauma ini.”

***

Berbeda dengan hari sebelumnya, Jessica duduk di sofa seakan sedang menunggu kepulangan Daehyun. Bahkan, dia meminta Daehyun untuk duduk bersamanya. Sebenarnya Daehyun senang karena akhirnya Jessica mau kembali berbicara dengannya. Dia merindukan hari-hari dimana hubungan mereka masih baik-baik saja.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Daehyun.

Jessica menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Dia tidak yakin harus mengatakan apapun. Dia gugup.

“Kau sudah makan?” tanya Daehyun.

Jessica mengangguk.

Daehyun mengangguk pelan. Dia juga bingung. Topik yang ia ingin tanyakan sebenarnya adalah kehamilan Jessica. Bagaimana perkembangannya? Baik-baik saja? Apa Jessica mengalami morning sickness dan semacamnya? Akan tetapi, semua pertanyaan itu terasa sangat pahit di lidahnya.

“Kau… tidak muntah, ‘kan?” tanya Daehyun lagi.

“Aku baik-baik saja. Aku tidak mengalami morning sickness dan lainnya. Hanya saja, aku menjadi mudah lapar.”

Daehyun tertawa. “Kalau begitu, kita adalah pasangan shikshin.”

Jessica menggembungkan pipinya tidak terima. “Beratku akan bertambah banyak.”

“Itu lebih baik daripada membiarkan bayi kita kelaparan.”

Jessica menoleh kaget mendengarnya tapi segera membuang muka saat tatapan mereka bertemu. Wajahnya merona dan sesuatu menggelitik perutnya. Dia tidak pernah menyangka Daehyun akan mengatakan itu.

Anak kita…

Jessica tersenyum lebar. Jantungnya berdebar kencang. Kemudian dia pun sadar dengan kondisi mereka sekarang. Hatinya kembali sakit.

Kau membuatku semakin berharap, Daehyun.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” gumam Jessica.

Daehyun merasa sedikit lega karena dia bisa berhenti berbasa-basi. Dia sengaja mencari topik pembicaraan saat melihat Jessica sepertinya belum siap untuk mengatakan isi pikirannya. “Katakan saja.”

Jessica melirik Daehyun sekilas lalu menarik napas dalam. “Aku ingin membatalkan perjanjian kita.”

Jessica menutup matanya. Dia takut melihat reaksi Daehyun. Apakah suaminya akan menolaknya? Atau malah akan menyetujuinya dengan senyuman lebar.

“T-tapi… kenapa?”

Jessica membuka matanya perlahan lalu menatap Daehyun. Dia tidak tahu apa yang dirasakan oleh Daehyun sekarang. Tidak ada ekspresi yang berarti di wajahnya.

“Aku tidak yakin perjanjian ini akan memberikan dampak positif untuk kita berdua. Maksudku, aku hanya akan semakin berharap sedangkan kau akan semakin terganggu olehku. Lagipula, aku tidak yakin ini akan berhasil. Mungkin saja, kita akan berakhir dengan menyakiti satu sama lain. Aku lelah.”

Noona, kau belum tahu. Kita belum mencoba.”

Jessica menggeleng cepat. “Percuma. Lagipula, apa sebenarnya tujuanmu dengan perjanjian ini? Kau tidak akan mendapatkan untungan dari ini semua.”

Daehyun terdiam. Jessica benar, dia tidak akan mendapatkan keuntungan dari perjanjian ini. Dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa pula dia sempat terpikirkan ide ini?

“Oh.. aku tahu.”

Daehyun menatap Jessica bingung.

“Pasti karena kau tidak ingin anakmu sepertimu, ‘kan?” tebak Jessica sinis.

Daehyun terkejut mendengarnya. Mungkinkah? Mungkinkah Jessica benar? Mungkinkah ia takut anaknya memiliki nasib yang sama dengannya sehingga dia melakukan ini? Jika dipikir-pikir, dia memang tidak mau anaknya tumbuh dengan kenyataan bahwa orangtuanya berpisah. Dia tahu perasaan itu. Rasanya sangat menyakitkan setiap melihat teman-temannya berkumpul dengan orangtuanya.

“Jadi kau memilih anakmu tumbuh dalam keluarga yang seperti ini? Dengan orangtua yang tidak saling mencintai? Apa bedanya dengan Junyoung kalau begitu? Jika harus memilih, aku lebih memilih anakku hidup sepertimu daripada Junyoung. Aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh dengan rasa hampa saat bersama dengan orangtuanya. Aku tidak mau.”

Daehyun menggertakkan giginya. “Dan kau pikir penderitaanku tidak lebih buruk darinya?”

Jessica menggeleng pelan. Dia tidak bisa menahan air matanya. “Kalian berdua memiliki trauma masa kecil yang berbeda. Akan tetapi, aku pikir, mungkin aku akan lebih kuat jika masa depanku seperti ibumu daripada seperti ibunya Junyoung.”

“Kau tidak tahu penderitaan ibuku.”

“Aku memang tidak tahu. Namun satu hal yang aku tahu, aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini. Mencintai orang yang tidak mencintaiku itu rasanya terlalu sakit.”

Jessica menangis terisak. Akan tetapi, dia lega karena dia menyadarinya. Jika bukan karena perkataan Junyoung tadi, mungkin dia masih seorang masokhis yang membiarkan hatinya sakit terus-menerus hanya untuk mencintai Daehyun.

*

To Be Continued

*

Belum diedit jadi maaf untuk typo. Aku tahu chapter ini krik banget. Aku ngetik ini sekalian membuat artikel untuk sebuah tabloid jadinya konsentrasiku terpecah. Pokoknya kalian wajib belum tabloidnya pas artikelku dirilis! Wkwkwk

Ini hadiah dariku karena selama seminggu ini, aku selalu dapet berita bagus tanpa diganggu satu berita buruk pun~ YUHUU~~~ sekalian minta doanya. Besok aku ikut ujian SIMAK UI. Doain aku supaya ga terlambat ya~

Karakter Junyoung terinspirasi dari kisah nyata loh dan aku jadi “Hyemi”nya. Dia suka nangis setiap ceritain kondisi keluarganya ke aku. Hiks hiks doakan untuk kebahagiaannya T_T

Chapter terakhir dari 180 yang ga dijadikan pdf. Jadi aku saranin kalian mencantumkan alamat email kalian di akhir komentar :*

90 thoughts on “180° – Chapter 9

  1. Timming yang gak tepat. Kalau aja dulu Junyoung ngaku dia suka jessica kan mereka bisa saling suka terus pacaran terus nikah terus hidup bahagia. The end /tapi emang ada yang semulus itu -_-)\
    Aku tahu perasaan junyoung. Itu sakit banget. Pasti.
    Aku berharap sih ya daehyun dan jessica bisa belajar saling mencintai dan menata kehidupan rumah tangga mereka sih ya untuk masa depan anak yang lebih baik. Jangan sampe nasib anaknya kaya daehyun atau apalagi kaya junyoung. Itu miris ㅠㅡㅠ

  2. tuh kan, pasti ada apa-apanya si junyoung itu. Ga mungkin dia mau berkorban segitu besarnya dan ngebela jessica kalo dia ga punya perasaan apa-apa. Yah, meskipun aku nggak tau gimana perasaan dia yang sekarang. Aku juga ga nyangka perbuatan orangtuanya bisa menimbulkan trauma yang segitu besarnya sampe harus datang ke psikiater 2 bulan sekali. Aku berani jamin orangtuanya sama sekali gatau menahu tentang hal ini.
    Daehyun, daehyun. Apa nggak terlalu egois mencoba mempertahankan pernikahan hanya karna gamau anaknya kelak bernasib sama seperti dirinya? Gimana pun juga jessica itu wanita yang hatinya mudah goyah dan rapuh, rasanya pasti sakit, nggak mungkin enggak. Apalagi kita juga belum tahu apakah sampe saat ini daehyun masih mengharapkan krystal begitu pula sebaliknya. Karna krystal belum pernah muncul lagi, jadi kita juga gatau apa yang akan dia lakukan waktu kembali nanti.
    Dan terakhir jessica. Mantapkanlah hatimu. Kamu juga berhak bahagia kok. Pria di dunia ini nggak cuma daehyun😀

    Ini kasi alamat email nih?
    sicadevil@gmail.com

  3. daehyun sebenernya cinta gak sih sama jessica? sikap dia berasa plin plan ._.
    kalau dulu jessica udah sama junyoung mungkin dia gak bakal gini, moga aja daehyun beneran cinta ama jess🙂
    daebak!!

  4. Akhirnya ngaku juga si junyoung,dimanapun gak kan ada cwok sma cwek yg bisa bersahabat :(nantinya pasti ada slah satu yg jatuh cinta dan kasus junyoung sgt rumit ,dri awal aku emg ga yakin junyoung bisa sahabatan sma jess nyatanay dia jtuh cinta jga . Masih berharap jessica bisa jatuh cinta gi sma junyoung*berharap
    oh ya kak ,aku sdh lma nunggu ff ini sampe lupa dan bru inget sekarang, jdi nya telat danname yg lama aj aku lupa smoga kk masih inget ,dan ini emailku putri.sabila111@yahoo.com

  5. Ganyangka junyoung ternyata cinta ama jessie, kirain dia bener2 sama si hyemi tu, taunya cuman alasan. Pantesan dia marah banget pas daehyun ‘gituin’ jess.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s