The Destiny of Us – Chapter 7

poster-the-destiny-of-us-copy_41

The Destiny of Us – Chapter 7

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun

Genre: Romance

Rated: PG15

Poster by: Afina23

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 |Chapter 3 |Chapter 4 | Chapter 5 |Chapter 6

© Amy Park

Goodbye may seem forever. Farewell is like the end.

But in my heart is a memory, and there you’ll always be.”

WidowTweed – Fox & The Hound       

***

Angin sore berhembus sehingga membuat Jessica sedikit menggigil. Wanita itu sesungguhnya tidak tahu harus melakukan apa berhubung dia sedang dibebaskan dari tugas oleh para dosen di pekan ini. Pada akhirnya yang bisa dilakukan oleh Jessica adalah berdiri di balkon kamarnya sambil memandang langit sore.

“Jess?”

Jessica berbalik kemudian tersenyum setelah mendapati kehadirah Luhan. “Hmm?”

“Kau tidak sedang sibuk, kan?”

“Tidak. Mengapa?”

“Mau pergi ke supermarket bersamaku? Ibumu menyuruhku membelikan bahan-bahan untuk memasak makan malam.”

“Oh, seharusnya eomma menyuruhku saja untuk membelinya. Kenapa dia malah menyuruhmu, ya?”

Luhan tersenyum. “Mungkin lebih jelasnya dia menyuruh untuk mengantarmu belanja.”

Jessica mengangguk. “Ah, kau benar. Lalu, kita berangkat sekarang?”

Pertanyaan Jessica pun dijawab oleh anggukkan kecil Luhan.

***

“Ibumu tidak memberitahu dia akan memasak apa untuk makan malam.” Ujar Luhan ketika mereka sudah sampai di dalam supermarket. Keduanya kini sedang berkeliling mencari bahan apa yang harus mereka beli.

Jessica mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Luhan tersenyum dengan spontan. Entah mengapa, di mata Luhan Jessica terlihat sangat lucu ketika sedang mengerucutkan bibir. Jessica pun kemudian berkata, “Jika eomma tidak memberitahumu, itu tandanya dia menyuruh kita untuk memilih hidangan makan malam sendiri. Di rumah, eomma tinggal memasaknya saja.”

“Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika kita makan bibimbap saja?”

Bibimbap? Bukankah itu terlalu sederhana untuk makan malam bersama kedua orangtuaku?”

Luhan menggeleng. “Justru karena malam ini kita makan malam bersama orangtua, bibimbap merupakan menu yang tepat. Bibimbap memang makanan sederhana, tetapi rasanya akan terasa sangat mewah jika dimakan bersama keluarga.”

Jessica mengerutkan kening. “Kenapa rasanya tiba-tiba menjadi mewah?”

Luhan tampak berpikir kemudian menjawab, “Hmmm mungkin bibimbap ini akan dibuat oleh tangan ibumu yang penuh cinta dan ketulusan untuk suami, anak, dan menantunya sehingga rasa bibimbap akan sangat mewah karena dibumbui oleh sebuah kasih sayang.”

Jessica hanya terdiam setelah mendengar jawaban Luhan. Wanita itu sebenarnya heran karena jawaban manis itu keluar dari mulut Luhan yang setahu Jessica memiliki sifat yang dingin. Ah, bukan, jawaban Luhan tersebut dua kali lipat lebih aneh dari pesan-pesan singkat penuh emoticons yang pernah dikirimkan oleh pria itu. Entah sosok Luhan yang dingin telah berubah menjadi manis—and a little bit cheesy–, atau sebenarnya sifat Luhan memang manis—and creepy—tapi selama ini dia berpura-pura menjadi sosok yang dingin. Jika sudah menyangkut sifat Luhan, Jessica benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Jess?”

“Oh, ya?” ucap Jessica yang baru saja tersadar dari lamunannya.

“Bagaimana? Kita beli bahan-bahan untuk bibimbap saja?”

Jessica mengangguk. “Ya. Jika memang bibimbap adalah menu yang tepat, kita beli bahan-bahan untuk makanan itu saja.”

“Kau tahu bahan apa saja yang harus kita beli?”

Jessica menghentikan langkah lalu menoleh dan menatap Luhan dengan heran. “Kau tidak tahu bahan-bahan apa saja yang harus kita beli?”

Langkah Luhan pun terhenti. Senyuman kaku Luhan terlihat sebelum pria itu menjawab, “Aku tidak tahu. Tapi tidak masalah karena kau ada di sini.”

Kali ini Jessica mengusap tengkuknya dengan kaku, “Bukan begitu, masalahnya aku juga tidak tahu bahan apa saja yang harus kita beli.”

Luhan mengangguk. Raut wajahnya terlihat seakan dia teringat suatu hal, “Ah, benar juga. Kau tidak bisa masak. Tidak heran jika kau tidak tahu bahan untuk membuat bibimbap.”

Jessica berdecak. “Kau salah. Aku bisa mamasak… ramen.”

Luhan terkekeh seraya mengacak-ngacak rambut Jessica gemas. “Baiklah… baiklah… kau koki ramen yang hebat.”

Dan perkataan Luhan membuat Jessica tersenyum seketika.

***

Beruntung karena teknologi sudah semakin canggih sehingga Jessica dan Luhan bisa menemukan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bibimbap lewat internet. Kali ini Luhan dan nyonya Jung sedang berada di dapur untuk membuat bibimbap, sedangkan Jessica dan ayahnya duduk manis di meja makan sambil memerhatikan. Keadaan seperti itu tidaklah aneh mengingat kemampuan Jessica yang hanya bisa memasak ramen saja.

“Maafkan aku, Luhan. Anakku sangat bodoh dalam hal memasak sehingga kau harus berada di dapur untuk membantuku.” Ucap nyonya Jung seraya meletakkan telur setengah matang ke dalam mangkuk yang sudah berisi nasi, tauge, bayam, wortel dan sayuran lainnya.

“Itu bukan masalah. Aku tidak apa-apa,” ujar Luhan seraya membawa mangkuk berisi bibimbab dan meletakkannya di meja makan.

“Seharusnya kau bisa memasak, Jessica. Tidak terbayang jika Luhan yang harus selalu memasak untukmu.”

Jessica merengut pada ayahnya, “Ini juga salah ayah yang tidak bisa memasak.”

Mwo? Mengapa kau menyalahkan aku?”

“Karena hal itu menurun padaku. Ini faktor genetik, appa.”

Tuan Jung merasa tidak setuju dengan perkataan Jessica, “Ibumu pintar memasak, gen itu harusnya menurun padamu juga.”

“Masalahnya, segala sifat dan keahlianku identik dengan appa.”

Luhan terkekeh melihat perdebatan ayah dan anak tersebut. Dia segera duduk di samping Jessica. “Aboji, Jess, lebih baik kita mulai makan saja.”

“Luhan benar. Kita mulai makan saja. Perdebatan kalian membuat kepalaku pusing,” kata nyonya Jung yang kini sudah duduk di sebelah tuan Jung. Wanita itu kemudian memasukkan gochujang[1] ke dalam mangkuk dan mengaduknya bersama bahan-bahan yang lain sehingga tercampur.

“Nah, ayok makan.” Ucap nyonya Jung lagi seraya membagikan sendok kepada tuan Jung, Jessica, dan Luhan.

“Selamat makan!” ujar ketiganya hampir bersamaan.

Mereka pun menikmati hidangan malam tersebut. Lima menit berikutnya tuan Jung teringat suatu hal yang ia ingin tanyakan kepada Jessica dan Luhan. “Mengingat umur pernikahan kalian masih muda, aku ingin bertanya satu hal. Apa kalian pernah bertengkar?”

Luhan dan Jessica lekas berhenti menyantap hidangan. Keduanya tampak bingung menjawab. Namun, Luhan segera tersenyum dan menjawab, “Kami tidak pernah bertengkar, aboji. Anda tidak usah khawatir.”

Tuan Jung mengangguk. “Syukurlah kalau begitu. Hanya saja, jika suatu saat kalian bertengkar, selesaikan secara bijaksana.”

Aigoo, sudahlah, kau lihat mereka baik-baik saja. Teruskan makan dan berhentilah memberikan petuah.” Ujar nyonya Jung karena ia tahu suaminya itu akan terus memberikan nasihat jika tidak dihentikan.

“Tapi aku hanya ingin memberitahu mereka.”

“Aku tahu, tetapi ini waktunya makan.”

“Baiklah… baiklah,” tuan Jung pun mengalah.

***

Jessica terbangun. Dengan perlahan, dia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dia melihat jam dinding dengan mata yang masih setengah terpejam, masih pukul dua dini hari. Ketika ia menengok ke samping, Jessica sadar bahwa Luhan tidak ada, bahkan meja kerjanya pun kosong.

“Kemana dia?” gumam Jessica seraya beranjak dari tempat tidur. Dia pun segera keluar dari kamar.

Ketika dia sudah menuruni anak tangga terakhir, Jessica bisa melihat Luhan yang sedang berkutat dengan laptopnya di sofa ruang keluarga. Wanita itu pun menghampirinya.

“Kenapa kau ada di sini?”

Luhan tampak terkejut akan kehadiran Jessica. “Oh? Jess, kenapa kau masih terjaga?”

“Lebih tepatnya, aku terbangun karena kau menghilang. Kenapa kau ada di sini?” tanya Jessica lagi seraya duduk di samping Luhan.

“Menyelesaikan pekerjaan.”

“Tapi biasanya kau menyelesaikan pekerjaanmu di kamar.”

Senyuman manis tersungging dari bibir Luhan, “Aku tidak ingin membangunkanmu. Kau terlihat lelah.”

“Justru karena kau tidak ada, aku tidak bisa tidur,” keluh Jessica.

Luhan mengerjap, “Benarkah?”

Jessica menanggapinya dengan helaan napas seraya mengalihkan pandangan dari Luhan. Wanita itu memejamkan matanya sejenak kemudian berucap, “Boleh aku mengatakan suatu hal padamu?”

Luhan meletakkan laptop di meja lalu menatap Jessica, “Mengatakan apa?”

“Sa-sara… sa-sa—“ Jessica menghela napas, merasa tak sanggup mengatakan hal tersebut. Bukan tidak sanggup, lebih tepatnya tidak yakin. Dia tidak yakin apakah perkataan yang ingin ia katakan memang senada dengan isi hatinya atau tidak.

“Jess?”

Bagus. Ketika dia menoleh, matanya langsung bertemu dengan mata Luhan, membuat Jessica menahan napas dan merasakan hal aneh di dalam dadanya. Dia pun tidak bisa mengalihkan pandangan karena matanya sudah terkunci oleh mata Luhan. Jessica rasanya ingin menjerit, tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Jessica pun merasa seluruh badannya membeku ketika sadar Luhan sudah mencium bibirnya. Kehangatan langsung menjalar ke seluruh tubuh Jessica sehingga ia segera memejamkan mata. Detik itu juga, Jessica berharap waktu berhenti berputar.

***

“Jessica? Jessica?!”

Seohyun harus menggebrak meja kantin terlebih dulu untuk menyadarkan Jessica dari lamunannya. Seusai sadar, Jessica langsung berkata, “Oh? Ada apa?”

“Kau sedang memikirkan apa? Sedari tadi aku bicara tapi kau sama sekali tidak medengarkan.”

“Oh… aku tidak sedang memikirkan apa-apa.” Bohong Jessica.

Wanita itu sebenarnya sedang memikirkan kejadian semalam. Kejadian di mana Luhan menciumnya. Jessica tahu ini bukan kali pertama mereka berciuman, tapi rasanya sungguh berbeda. Ada kehangatan di dalamnya, tetapi ada pula kesedihan. Jessica benar-benar tidak mengerti.

“Baiklah jika kau tidak mau cerita.” Ujar Seohyun yang sebenarnya tahu bahwa ada hal yang tak beres dengan temannya itu. “Tiga puluh menit lagi kelas dimulai, mungkin sebaiknya kita ke kelas saja.”

“Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini.”

“Kau yakin?”

Jessica mengangguk seraya tersenyum, “Aku yakin.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan terlambat masuk kelas, ya!” perintah Seohyun kemudian beranjak pergi.

Tak lama setelah kepergian Seohyun, seorang pria menghampiri Jessica. Seorang pria yang tidak ia sangka akan datang menemuinya di sini.

“Luhan?”

Pria itu tersenyum lalu duduk dihadapan Jessica. “Kau pasti terkejut dengan kehadiranku.”

“Mau apa kau ke sini?”

“Bertemu perwakilan dosen. Fakultasmu mengajukan kerja sama dengan perusahaan periklanan tempat aku bekerja, sekalian melihat potensi para mahasiswa di sini. Oh, kau tidak masuk kelas?”

“Tiga puluh menit lagi.”

Luhan mengangguk. Jessica segera meneguk teh hangat miliknya karena tiba-tiba saja dia gugup. Keadaan keduanya pun terlihat sangat canggung sampai akhirnya Luhan berucap, “Maaf untuk yang semalam. Aku… tidak sengaja.”

Jessica meletakkan cangkir teh terlebih dahulu sebelum menanggapi perkataan Luhan, “Maaf untuk apa?”

Luhan tampak bingung menjelaskan. Dia berkata dengan terbata-bata, “Semalam… emmm… our… kiss?”

Perkataan Luhan membuat Jessica buncah. Bagaimana bisa Luhan membahas hal itu sekarang. Apakah Luhan tidak tahu bahwa kejadian semalam itu menjadi beban pikiran Jessica pagi ini?

“Tidak apa-apa.” Ucapan itu yang pada akhirnya keluar dari mulut Jessica. Luhan pun hanya menanggapinya dengan senyuman. Berhasil membuat Jessica sedikit kesal.

“Kau pulang pukul berapa?”

“Pukul satu. Hanya ada satu kelas hari ini.”

“Kita pulang bersama, ya? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

Luhan tersenyum tipis. “Nanti kau akan tahu.”

***

“Baekhyun!”

Baekhyun tersadar dari lamunanya kemudian tersenyum kepada Taeyeon. Wanita itu membalas senyuman Baekhyun seraya duduk di sampingnya.

“Banyak tugas yang kau lewatkan ketika seminggu tidak masuk.”

Mwoya ~ aku baru sembuh dan kau bertanya tentang tugas ketika bertemu? Tidak bertanya tentang keadaanku?”

Taeyeon terkekeh. “Kau belum benar-benar sembuh, terlihat dari wajahmu yang seditit pucat, jadi aku tidak bertanya tentang keadaanmu.”

“Aku sudah sembuh. Hanya saja—“

“Suatu hal mengganggumu?” potong Taeyeon yang membuat Baekhyun menatapnya heran. Taeyeon tersenyum tipis. “Apa karena Jessica?”

“Maksudmu?”

“Aku melihat Jessica sedang berbincang dengan seorang pria di kantin. Pria yang tampan dan terlihat bukan mahasiswa fakultas kita. Apa karena itu wajahmu menjadi pucat? Khawatir jika Jessica berpaling darimu karena pria itu?”

Baekhyun menanggapinya dengan senyuman pilu. Mungkin dia harus mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Taeyeon. Hal yang mungkin akan membuat wanita itu kecewa kepadanya.

“Jessica tak akan berpaling dariku… karena sesungguhnya Jessica tidak pernah melihatku. Aku bukan siapa-siapa di hati Jessica. Pria yang kau lihat adalah suami Jessica.”

“Byun Baekhyun, kau tidak sedang bercanda, bukan?”

“Aku serius.”

Taeyeon menghela napas. “Baekhyun—“

“Ya, aku tahu bahwa aku brengsek. Tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga dan membuat rumah tangga mereka berantakan. Dari awal pun aku sudah salah. Mencintai Jessica karena sosok Soojung. Ya, kau benar, aku memang kurang ajar.’’

“Aku mengerti perasaanmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan segeralah berpikir untuk menemukan jalan keluar yang terbaik.”

Baekhyun tersenyum, “Bahkan kau masih bersikap baik padaku padahal aku sudah menyakiti hatimu.”

“Wajar jika seorang teman bersikap baik, bukan?” tutur Taeyeon seraya membalas senyuman Baekhyun.

“Terima kasih, Taeyeon.”

Taeyeon mengangguk. Wanita itu menghela napas kemudian berbicara mengenai topik lain. “Mengapa lab foto masih sepi? Bukankah kelas fotografi kita di sini, ya?”

“Ya, kau benar. Tapi kelas itu masih satu jam lagi.”

“Ah, iya, aku lupa.”

***

“Maaf karena aku tidak jadi pulang bersamamu. Kelas tambahan dari Mr. Park tidak bisa aku lewatkan. Maaf…” Ujar Jessica kepada Luhan ketika mereka sudah sampai di depan mobil Luhan.

Luhan tersenyum, “Tidak apa-apa. Kuliahmu lebih penting. Lagipula kita bisa pergi di lain waktu.”

Jessica mengangguk. “Sampai jumpa di rumah!!”

“Jangan lupa makan siang.”

Jessica terkekeh, “Kau tampak peduli padaku hari ini. Tenang saja, aku belum pikun sehingga akan selalu ingat makan siang. Ah, kalau begitu aku pergi dulu, kelas tambahan akan dimulai lima menit lagi. Kau hati-hati di jalan!”

Eoh, good luck!”

Jessica melambaikan tangannya kepada Luhan sebelum ia berbalik pergi. Luhan tersenyum kecil akan hal itu. Dia hendak memasuki mobil, tetapi sebuah suara menghentikan niatnya.

“Luhan-ssi.”

Luhan menoleh dan mendapati Baekhyun. Ia menghela napas sebelum menjawab sapaan Baekhyun, “Ada apa?”

“Hanya memastikan bahwa kau benar-benar Luhan.”

Baekhyun memalingkan wajahnya dari Luhan, hendak berjalan memasuki mobilnya yang—lagi-lagi—terparkir di samping mobil Luhan.

“Baekhyun-ssi.” Kali ini Luhan yang memanggil.

“Hmm?” jawab Baekhyun.

“Apa kau sedang sibuk?”

***

“Kenapa kau memilih taman sebagai tempat mengobrol?” keluh Baekhyun kepada Luhan.

“Kau tidak mau mengobrol denganku di taman ini?”

“Bukan begitu… ini siang hari, sangat panas di sini. Mengapa tidak memilih cafe saja? Tempatnya sejuk dan ada minuman juga makanan enak di sana.”

Luhan tersenyum tipis, “Kau mau kita berbincang di cafe? Apakah kau juga mau meneraktirku di sana?”

Baekhyun mendelik. “Jika kau ingin ditraktir, aku akan membayar semua makanan dan minuman yang kau pesan.”

“Cih, memangnya seberapa banyak uang yang dimiliki oleh mahasiswa ingusan sepertimu, huh?”

Ya!! Jangan mentang-mentang kau sudah bekerja sehingga menghina—“

“Pakailah saja uangmu untuk belajar. Lagipula, aku tidak akan berlama-lama berbincang denganmu.”

Baekhyun menghela napas, sekaligus menahan amarahnya. Kalau saja ini bukan tempat umum dan banyak anak-anak yang bermain di sekitar taman, emosinya mungkin saja sudah meledak dan Luhan sudah tergeletak di tanah karena pukulan mentah Baekhyun.

“Baiklah… kau ingin membicarakan apa?”

Luhan terdiam sesaat kemudian mulai berbicara. “Tolong jaga Jessica.”

Baekhyun mengerutkan kening, “Mwo?”

Luhan tersenyum lirih, “Karena mungkin aku akan meninggalkan Jessica. Dan taman ini hanya akan menjadi kenangan masa laluku bersamanya.”

“Maksudmu?”

“Taman ini merupakan tempat pertamaku bertemu dengan Jessica. Ketika itu aku masih berusia dua belas tahun dan Jessica sudah mengambil hatiku. Sampai pada akhirnya ketika tumbuh dewasa, aku dan Jessica menikah. Namun, sepertinya takdir menentang kami untuk bersama karena—“

“Aku hadir dan merusak hubungan kalian, huh?” tanya Baekhyun dengan nada sedikit sinis.

Luhan mengangguk. “Bisa jadi, tapi kau bukan satu-satunya alasan mengapa takdir menentang kami untuk bersama. Ada banyak hal yang tidak mengizinkan kami bersama sehingga mungkin aku akan meninggalkannya.”

Baekhyun tertawa mengejek, “Kau memilih untuk menyerah dan merelakan rumah tanggamu berakhir begitu saja?”

“Secara kasar, perkataanmu benar. Kau akan menyebutku sebagai pengecut karena hal itu?”

“Tidak, aku hanya akan mengecapmu sebagai manusia terbodoh di dunia ini. Dan… apa selama ini kau mencintai Jessica?”

“Ya.”

“Kau mencintai Jessica, tetapi apa yang kau bilang barusan? Tolong jaga Jessica karena kau mungkin akan meninggalkannya? Kau… bukankah tindakanmu itu cukup untuk dibilang brengsek?”

“Menjadikan Jessica kekasih karena dia mirip kekasih lamamu, apa tindakan itu juga cukup untuk dibilang brengsek?”

“Setidaknya aku telah mencoba untuk tulus mencintainya, tanpa ada bayangan Soojung. Kini, aku sadar bahwa aku telah mencintai sosok Jessica walau kenyataan berkata bahwa dia telah dimiliki orang lain. Yang lebih menyakitkan, orang yang berhasil memiliki hatinya akan meninggalkannya begitu saja karena pikiran bodoh mengenai takdir itu? Huh, siapa yang lebih brengsek?” ungkap Baekhyun sambil menatap Luhan dengan tajam.

Luhan hanya bisa terdiam mendengar setiap perkataan Baekhyun.

Baekhyun menghela napas, “Jika kau benar-benar mencintai Jessica, setidaknya berusahalah untuk pertahankan dia.”

***

“Oh, Luhanie?”

Luhan tersenyum kepada Jieun kemudian menghampiri wanita itu. Dia duduk di kursi kecil yang terletak di samping ranjang pasien yang ditempati Jieun.

“Aku sudah membeli tiga tiket pesawat. Untukmu, Hyungsik, dan aku.”

“Luhan, sudah aku bilang padamu bahwa aku tidak lagi menghiraukan—“

“Tidak apa-apa.” Potong Luhan.

“Jika kau seperti ini, kau akan membuatku terlihat lebih buruk dan lebih kejam di mata Jessica.”

“Aku melakukan ini untuk kebaikan Jessica. Dan aku akan mengantarmu, sebagai seorang teman.”

“Kau hanya akan menyakitinya,” ujar Jieun dengan jengkel.

Luhan menghela napas, “Kau tidak akan mengerti.”

Jieun mengangguk. “Seberapa lama aku sudah mengenalmu pun aku tidak akan mengerti jalan pikiranmu, Lu.”

“Ya, bahkan aku sendiri tidak mengerti mengapa aku seperti ini.”

***

Jessica memutar-mutar ponselnya di meja makan. Dia sesekali melihat jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Mengapa dia belum datang?” gumam Jessica.

Wanita itu berdesis dan meraih ponselnya. Ia hendak menghubungi Luhan, tetapi pintu rumah terdengar dibuka sehingga ia mengurungkan niatnya. Wanita itu tersenyum kemudian segera menuju ruang tamu.

“Kenapa baru datang?” tanya Jessica kepada Luhan yang tampak sedikit kaget dengan kehadiran Jesica yang terbilang tiba-tiba.

“Ada suatu hal yang harus aku urus, Jess. Bagaimana pelajaran tambahannya?”

“Membosankan. Ah, eomma dan appa sudah pulang ke Jeju.”

Luhan menaikkan alis, “Mengapa tiba-tiba?”

Jessica mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu, tetapi mereka menitipkan salam untukmu dan juga sebuah hadiah.”

“Hadiah?”

Jessica mengangguk kemudian meraih lengan Luhan. “Ikuti aku. Hadiahnya ada di kamar.”

Luhan pun hanya bisa mengikuti perkataan Jessica. Sesampainya di kamar, Jessica melepas genggamannya lalu meraih kotak berukuran sedang di kasur dan menyerahkannya pada Luhan.

“Mereka hanya memberikan hadiah untukku?”

Jessica mengangguk. “Bukalah. Aku penasaran isinya apa.”

Luhan pun mengikuti perkataan Jessica. Pria itu membuka pita yang menghiasi kotak bewarna coklat emas tersebut kemudian membukanya.

“Astaga!!”

“Isinya apa?”

Luhan segera menutup kotak itu, tidak membiarkan Jessica melihatnya. “Bu-bukan apa-apa.”

“Mengapa wajahmu mendadak menjadi merah ketika melihat isinya? Berikan padaku, aku ingin lihat.”

Jessica hendak mengambil kotak tersebut tetapi Luhan mencegah dengan cara menaikkan tangannya yang memegang kotak tersebut sehingga Jessica tidak bisa meraihnya.

“Kau tidak perlu tahu, Jess. Sungguh.”

Aishh… mengapa aku tidak boleh tahu? Itu pemberian dari orang tuaku.” Ujar Jessica yang masih bersikeras untuk mengambil kotak tersebut.

“Percayalah… kau tidak akan mau melihat isi kotak ini.”

Jessica menghela napas seraya melipat kedua tangan di dada. “Terserah.”

“Jess..”

Luhan hanya terdiam ketika Jessica melangkah pergi meninggalkannya. Wanita itu kesal, tentu saja. Namun, demi apa pun juga Luhan tidak akan membiarkan Jessica mengetahui isi kotak tersebut. Ya, Jessica tidak boleh tahu bahwa kedua orangtuanya memberikan ia alat pengaman untuk “berhubungan” suami-istri sebagai hadiah.

“Aku tidak mengerti jalan pikiran orang tua.” Desah Luhan sedikit frustasi.

***

“Jess, kau marah padaku?”

“Menurutmu?” ucap Jessica sambil mendelik kesal pada Luhan yang kini duduk di hadapannya.

“Maaf.”

“Jika kau ingin dimaafkan, aku ingin tahu isi hadiah yang diberikan orang tuaku.”

Luhan menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena sesungguhnya ia bingung akan berbuat apa. “Tidak ada cara lain agar kau bisa memaafkan aku?”

Jessica tampak berpikir. “Makan malam di luar? Setelah itu ajak aku jalan-jalan.”

“Setelah itu kau akan memaafkanku?” Tanya Luhan sambil tersenyum.

“Tergantung.” Perkataan Jessica membuat senyuman Luhan pudar seketika. Wanita itu menghela napas lalu melanjutkan perkataannya. “Bawa aku makan malam di luar dan jalan-jalan terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan mempertimbangkannya.”

“Baiklah. Kau ingin makan malam di mana?”

***

Banpo Hangang Park

Setelah makan malam, Jessica meminta Luhan untuk membawanya ke Banpo Hangang Park. Kini, mereka sedang duduk di salah satu bangku yang ada di sana.

“Waktu kecil, ayah sering membawaku ke sini untuk bermain sepeda, mengajariku menggambar, atau sekadar duduk-duduk dan menikmati pemandangan sungai Han.” Tutur Luhan sambil memandang kearah banpo bridge dan sungai Han. Bibir pria itu tertarik untuk tersenyum ketika mengingat kenangan indah bersama sang ayah, tapi kesedihan juga terlihat dari senyuman itu.

Jessica menatap Luhan. Ada perasaan sedih dalam diri Jessica karena perkataan Luhan. Pria itu pasti sangat merindukan sang ayah sekarang. Rasa bersalah pun menyelimuti Jessica karena telah mengajak Luhan ke tempat ini.

Perlahan, tangan Jessica menggenggam tangan Luhan. Pria itu menoleh pada Jessica dan sedikit kaget atas tindakan tersebut. Jessica tersenyum, “Ayahmu pasti bahagia melihatmu tumbuh sebagai pria yang baik dan sukses. Ayahmu juga pasti mengharapkanmu bahagia di sini. Jadi, jangan bersedih lagi.”

Luhan tersenyum seraya mengangguk. “Apa kau ingat, Jess. Kau pernah menenangkanku juga sebelumnya? Ketika ayahku baru saja meninggal.”

“Tentu saja, oppa tampan.”

“Kau mengingatku?”

Jessica mengangguk. “Aku tidak sengaja menemukan foto masa kecilmu. Ketika itu, aku sadar bahwa kau adalah oppa tampan yang pernah aku temui. Itulah alasan mengapa aku memintamu untuk menemui aku di taman kota, tempat pertama kali kita bertemu. Namun, sayangnya kau tidak datang dan malah Baekhyun yang datang menemuiku,” kata Jessica sambil tersenyum lirih.

“Jessica. Maaf—“

“Woah!!! Banpo bridge rainbow fountain show!!”

Ucapan Luhan terpotong dan Jessica mengalihkan perhatiannya kepada pertunjukan air mancur bewarna-warni dari sisi jembatan banpo. Luhan pun mengalihkan perhatiannya pada pertunjukan air mancur itu, tetapi sesekali ia menoleh kepada Jessica yang masih antusias menyaksikan air mancur.

Maafkan aku, Jess… ujar Luhan dalam hatinya

***

Tengah malam tepat keduanya baru tiba di rumah. Jessica langsung duduk di tempat tidur sambil meregangkan otot-ototnya.

“Jess, aku sudah menemanimu makan malam di luar dan jalan-jalan. Apa kau memaafkan aku?”

“Memaafkanmu?”

Luhan mengangguk seraya duduk di samping Jessica. “Ya, memaafkanku karena ‘insiden’ hadiah itu?”

“Ah, karena itu, ya.” Jessica tampak berpikir kemudian menatap Luhan dengan jahil. “Aku akan memaafkanmu jika kau mau bermain denganku.”

Luhan mengangkat sebelah alis. “Bermain?”

Jessica mengangguk dengan antusias kemudian beranjak menuju meja kerja. Ia mengambil sesuatu dari tas merah yang berada di atas meja kemudian kembali ke tempat semula.

“Mari bermain truth card until morning! Apa kau tahu permainan itu?”

“Tidak.”

“Tidak heran jika kau tidak tahu karena permainan ini dibuat oleh Yejin. Ketika SMA, aku dan Yejin sering memainkan permainan ini jika kita sedang bosan dan banyak masalah.”

“Lalu cara mainnya?”

Jessica menunjukkan beberapa kartu yang baru saja dibawa. “Nah, cara mainnya simpel. Kita hanya perlu menceritakan sebuah kejujuran kepada lawan main kita berdasarkan kategori atau semacam tema yang ada di kartu yang aku pegang ini. Pertama, kita lakukan kertas-gunting-batu untuk memilih siapa yang duluan mengambil kartu dan bercerita. Aturannya, kita harus bermain permainan ini sampai pagi. Jika di antara kita ada yang tidur duluan, berarti dia yang kalah.”

“Kategori atau temanya semacam apa?”

“Ada tentang cinta, sahabat, masa kecil, keluarga, dan lainnya. Kau harus bercerita secara jujur mengenai tema yang terpilih olehmu. Kau mengerti?”

Luhan mengangguk. “Kita mulai permainannya sekarang?”

Of course!!” ujar Jessica senang.

Wanita itu mengocok kartu terlebih dahulu kemudian melakukan kertas-gunting-batu bersama Luhan. Pria itu menghela napas karena ia kalah dan itu berarti dia yang harus mengambil kartu duluan. Dia memilih kartu bewarna merah lalu membalikannya. Dia terkaget dengan tema yang dia pilih.

“Kau dapat apa?” tanya Jessica.

Luhan menunjukkan kartunya. “Mantan kekasih.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi, ceritakan tentang mantan kekasihmu.”

“Mantan kekasih yang mana?”

Mwo?!! Kau mempunyai mantan berapa memangnya?”

Luhan menggeleng. “Bukan.. maksudku. Oh, oke, aku hanya punya satu.”

“Jieun?”

“Ya.” Jawab Luhan dengan nada ragu.

“Kalau begitu ceritakan tentang dia.” Ujar Jessica santai.

Well, Jieun, Song Jieun. Aku pertama kali bertemu dengannya ketika SMA. Kami teman sebaya dan, kau tahu, menjadi teman akrab kemudian menjadi sepasang kekasih seiring berjalannya waktu. Sampai akhirnya, dua tahun yang lalu, dia pergi meninggalkan aku tanpa kabar apapun sehingga aku menganggap hubungan kami telah berakhir. Dan ya.. ketika aku sudah menikah denganmu, dia kembali.

Sesungguhnya dia orang yang baik, walau sedikit keras kepala dan menyebalkan. Mungkin perlakuannya padamu tidak jauh berbeda dengan tokoh wanita antagonis yang ada di film, tetapi sesungguhnya dia wanita yang rapuh dan membutuhkan banyak perhatian dari orang terdekatnya.”

Jessica menunduk. Sebenarnya dia agak tidak nyaman dengan pembicaraan Luhan mengenai Jieun. Entahlah, hanya saja hati Jessica sedikit perih mendengarnya. Mungkin dia cemburu?

“Jess?”

“Hmm?”

“Giliranmu?”

Jessica tersadar. “Oh, ya.”

Wanita itu pun segara mengambil kartu bewarna hitam dan membalikannya. Dia tersenyum kecil ketika membaca tema yang ia dapat, “Hal yang paling dibenci.”

“Wow.”

You!”

Me?!”

Jessica terkekeh melihat reaksi Luhan yang kaget sambil menunjuk dirinya sendiri. “Yes, you. Atau lebih tepatnya kata-katamu yang berbunyi ‘oh, baiklah’ itu. Kau tahu, kau sangat menjengkelkan ketika berkata seperti itu dan aku bersyukur karena akhir-akhir ini kau tidak pernah mengatakannya lagi. Permintaanku, jangan pernah mengatakan kata-kata itu lagi karena aku membencinya!”

“Oh, baiklah.”

Ya!!!”

“Tidak sopan berteriak seperti itu pada suamimu, Jess.” Ungkap Luhan seraya tertawa yang membuat Jessica mengerucutkan bibirnya. “Oke, aku tidak akan mengatakannya lagi. Itu yang terakhir kali. Aku berjanji.”

“Giliranmu.” Ujar Jessica ketus.

“Hey, jangan marah.” Luhan mengacak rambut Jessica sambil terkekeh.

“Aku tidak marah.”

Then, smile.”

Jessica pun tersenyum, tetapi dipaksakan. Membuat Luhan menggeleng kemudian berkata, “Jelek.”

“Ambil saja kartumu dan berceritalah.” Perintah Jessica.

“Oke.” Ungkap Luhan menuruti perintah Jessica.

“Apa yang kau dapat?”

“Hobi!” senyum Luhan. Ia kemudian mulai bercerita. “Aku sangat suka melukis. Disaat banyak pekerjaan yang membuatku stres, ketika masalah menyerangku, aku selalu menenangkan diri dengan melukis. Jika musisi menuangkan isi hatinya lewat musik, aku menuangkan isi hatiku lewat lukisan. Namun, itu hanya hobiku. Yah.. tidak heran jika sekarang aku tidak menjadi seorang seniman.”

“Tapi kenapa aku belum pernah melihat hasil lukisanmu atau hasil gambarmu dan semacamnya?”

Luhan menatap Jessica lembut. “Suatu hari kau akan melihatnya.”

Can’t wait.” Ujar Jessica yang kini tersenyum kepada Luhan. Wanita itu pun langsung mengambil kartu berikutnya. Dia menghela napas ketika melihat kartu yang ia dapat.

“Kau dapat apa?”

Love story.”

Tell me.” Ujar Luhan antusias.

Jessica kembali menghela napas. Dia memalingkan wajahnya dari Luhan kemudian mulai bercerita. “Ketika aku masih anak-anak, aku selalu mengharapkan kisah cinta layaknya fairytale. Jatuh cinta dengan pangeran dan menjalani hidup bahagia selamanya, tanpa masalah yang rumit. Namun, kenyataan yang terjadi tidak seperti apa yang aku impikan. Kau tahu, aku dijodohkan denganmu oleh eomma dan appa. Menikah di usia muda seperti ini, bagiku merupakan hal yang sulit, apalagi jika kehidupan rumah tangga tersebut digoncang dengan berbagai masalah. Aku tidak tahan untuk menghadapinya sehingga memilih untuk mengakhiri ini semua.

Kau memintaku untuk tidak berpisah denganmu selama satu bulan, kan? Menjalankan kehidupan rumah tangga kita selama satu bulan tanpa mengungkit masalah yang kita alami. Well, aku mengikuti permintaanmu. Namun, karena hal itu… aku tidak tahu, aku tidak tahu mengapa rasanya bebanku semakin berat. Aku rasa, aku tidak ingin waktu cepat berlalu. Aku… ingin tetap bersamamu. Aku selalu ragu dengan perasaanku selama ini, tetapi sekarang aku tidak bisa memungkiri bahwa… aku mencintaimu, Luhan.”

Jessica memejamkan matanya sejenak dan seketika itu juga air matanya menetes. Dia menghela napas kemudian menoleh pada Luhan yang sedari tadi tidak merespon. Jessica tersenyum kecil ketika melihat Luhan yang sudah tertidur pulas di kasur.

“Menyebalkan. Aku sudah bercerita panjang lebar tetapi kau malah tertidur?”

Jessica mendekatkan tubuhnya dan memandang wajah Luhan yang tengah tertidur pulas. Dia mencium kening Luhan sekilas dengan lembut kemudian berucap lagi, “Maaf telah merepotkanmu selama ini. Saranghaeyo.”

***

“Selamat pagi, Jess.”

Jessica mengerjapkan matanya. Wanita itu pun tersadar bahwa kini ia terbaring dalam pelukan seorang pria yang tidak lain adalah Luhan. Pria itu tersenyum seraya mengelus rambut Jessica perlahan.

“Kau kalah dalam permainan.” Ujar Jessica dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.

“Maaf. Aku—“

“Tidak apa-apa. Semalam kau terlihat sangat lelah dan kau membutuhkan istirahat. Aku yang harus minta maaf padamu karena mengajakmu bermain truth card.”

Luhan menggeleng. “Kau tidak perlu minta maaf, Jess. Ah, ya, aku tidak mendengarkan cerita tentang kisah cintamu. Kau mau menceritakannya lagi sekarang?”

No!!”

“Kenapa?” tanya Luhan kecewa.

“Aku tidak akan menceritakannya dua kali. Salah siapa semalam kau malah tidur, huh?”

“Kau sungguh tidak ingin menceritakannya lagi?”

“Sungguh. Sudahlah, aku ingin kembali tidur.” Jessica menjulurkan lidahnya sesaat kepada Luhan sebelum ia kembali memejamkan mata.

“Jessica, kau tidak pergi ke kampus?”

“Aku kuliah sore hari ini.” Jawab Jessica seraya membuka matanya lagi. “Kau tidak ke kantor?”

“Mungkin aku akan bolos hari ini.”

“Kenapa?”

“Hanya ingin menemanimu.”

Jessica tersenyum lalu memeluk Luhan lebih erat. Ia menyandarkan kepalanya di dada Luhan. “Aku akan bangun pukul dua dan kau harus tetap di sini sampai aku bangun.”

Luhan terkekeh. “Baik, tuan putri.”

***

Few weeks later

Aish, stress!! Aku belum siap menghadapi ujian akhir semester ini.” Ujar Sulli seraya mengacak rambutnya frustasi.

Sulli, Jessica, Kai, Seohyun, dan Taemin sedang berkumpul di meja bundar bewarna biru yang berada di taman jurusan. Mereka sedang membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan minggu depan.

“Aku bahkan sama sekali belum mengerti tentang mata kuliah Komunikasi Visual.”

“Kau tidak sendiri, Kai. Semua mahasiswa sepertinya tidak mengerti tentang mata kuliah itu. Yeah, semua karena dosen yang malas mengajar itu,” ungkap Taemin.

“Tapi mungkin Jessica mengerti. Nilai ujian tengah semester Komunikasi Visual Jessica B, tidak C seperti kita—atau mahasiswa lainnya.” Ujar Seohyun.

“Benarkah? Berarti kau mengerti materi mata kuliah itu? Kau belajar dari siapa?”

Jessica berdehem mendengar pertanyaan Sulli. Dia tidak mungkin secara gamblang memberitahu Sulli bahwa ia belajar Komunikasi Visual bersama Luhan, suaminya. Mereka pasti akan langsung berteriak kaget akan hal itu. Apalagi status Jessica dan Baekhyun masih berpacaran, menurut mereka—dan mungkin menurut seluruh mahasiswa yang ada di fakultas tersebut.

Sepupu Jessica seorang creative producer di perusahaan periklanan. Kurasa dia belajar dari sepupunya. Iya, kan, Jessica?” tanya Seohyun dengan penekanan khusus dalam kata ‘sepupu’.

“Eh? I-i-ya.”

“Kalau begitu, ajak kami bertemu sepupumu dan mari bealajar bersama!”

Andwe!!”

“Kenapa?” tanya Kai heran.

Jessica menggaruk tengkuknya, bingung akan menjawab apa. Dia menghela napas dan pada akhirnya menjawab pertanyaan Kai dengan berbohong, “Dia sedang di luar negeri.”

Aish, benarkah? Padahal aku ingin belajar Komunikasi Visual mengingat mata kuliah itu belum aku pahami dan ujian tinggal seminggu lagi.” Ujar Kai.

“Jika kalian ingin belajar, aku punya catatan mengenai mata kuliah itu. Kalian bisa mempelajarinya dan percayalah, catatan hasil belajarku dengan sua—maksudku, sepupuku, lebih mudah dipahami daripada omongan tidak jelas Mr. Park mengenai mata kuliah ini di kelas.” Senyum Jessica yang sedikit kaku karena hampir saja ia keceplosan.

“Kau bawa catatannya?”

Jessica mengangguk. Dia kemudian mengeluarkan buku berukuran kecil lalu menyimpannya di meja. “Kalian bisa menggunakan ini.”

“Kami pinjam dulu, ya. Besok dikembalikan.” Ujar Sulli yang dibalas anggukan Jessica.

“Hai, semua!!”

Sulli, Kai, Taemin, Seohyun, dan Jessica pun menoleh karena seseorang menyapa mereka. Seseorang itu ternyata Baekhyun. Pria itu tersenyum pada adik tingkatnya kemudian melanjutkan berkata, “Aku pinjam Jessica sebentar. Ada yang harus aku katakan padanya.”

“Kalian akan berkencan, eh?” goda Taemin.

“Mungkin.” Jawab Baekhyun dengan senyum jahilnya. Dia kemudian menatap Jessica. “Kau bisa pergi denganku sebentar?”

“Oh? Oke.”

***

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

Jessica dan Baekhyun mengucapkannya berbarengan. Baekhyun tersenyum tipis, “Kau duluan.”

“Oh? Aku?” tutur Jessica dengan gugup. Dia menyesap cappucinonya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengatakan, “Maaf. Mungkin ini akan membuatmu marah, tetapi kau harus tahu yang sesungguhnya tentangku.”

“Tentang apa?” tanya Baekhyun. Sebenarnya, dia sudah tahu arah pembicaraan Jessica. Namun, dia hanya ingin Jessica menceritakannya lagi.

“Kau tahu Luhan, kan? Seorang pria yang aku sebut sebagai sepupuku. Sebenarnya…. sebenarnya dia bukan sepupuku. Luhan… Luhan adalah suamiku.” Jessica melihat reaksi Baekhyun yang hanya terdiam.

“Sungguh. Maafkan aku. Bukan maksudku untuk berbohong atau pun menyakitimu. Yah, walau memang aku sudah berbohong sekaligus menyakitimu. Hubunganku dan Luhan sedang ada masalah pada waktu itu dan aku ingin berpisah dengannya, tetapi dia tidak melepaskan aku sehingga mungkin dengan menerima sebagai kekasihmu, Luhan akan membiarkan aku pergi. Maaf… maaf telah menarikmu ke dalam masalah ini.”

Jessica menghela napas sejenak kemudian melanjutkan berkata, “Aku sempat berpikir bahwa sedikit demi sedikit aku bisa melupakan Luhan jika bersamamu—of course sebagai kekasihmu. Namun, entahlah, itu tidak mengubah apa-apa dan malah membuatku semakin sadar bahwa.. aku mencintainya. Maafkan aku, Baekhyun. Maafkan aku.”

“Aku sudah tahu semuanya, bodoh.” Ujar Baekhyun sambil tersenyum tipis.

“Kau sudah tahu? Luhan adalah suamiku, kau sudah tahu?”

“Kau ingat ketika aku sakit dan sedang dirawat di rumah sakit? Di sana ada Chanyeol dan berkata sesuatu padaku?”

Jessica menaikkan alisnya, mencoba mengingat hal itu.

“Aku hanya tidak ingin ibumu tahu bahwa kekasihmu itu sudah memiliki suami, Baekhyun-ah.”

“Ini salahku, Sica. Aku yang memberitahunya.” Ujar Baekhyun

“Tidak apa-apa.” Senyum Jessica. Wanita itu lalu berucap, “Aku keluar sebentar.”

Jessica mengerjap dan menatap Baekhyun dengan pandangan kosong. Baekhyun pun menghela napas lalu berucap, “Aku pikir, saat itu juga, kau akan menjelaskan semuanya tentang hubunganmu dengan Luhan padaku, Sica. Namun, semenjak itu kau bersikap biasa saja padaku, bahkan kau tidak bertanya dari mana aku tahu bahwa kau telah memiliki suami. Yah, ku pikir kau tidak ingin membahasnya, tetapi ternyata kau tidak sadar bahwa aku sudah tahu semuanya, eh? Kau sungguh bodoh.”

“Baekhyun, aku sungguh—“

“Tidak apa-apa. Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu. Kau ingat tentang seorang gadis yang dibunuh oleh ayahnya sendiri karena menolak untuk dijodohkan? Ya, itu adalah Soojung. Dan.. kekasih Soojung yang membuat sang ayah membunuhnya, itu adalah aku. Aku juga yang menyaksikan Soojung terbunuh.

Aku belum bisa melupakan Soojung sehingga menjadikanmu kekasihku karena kau mirip dengannya. Ya, kau mirip dengannya sehingga aku berniat mengubahmu menjadi Soojung. Memberikan ponsel beserta gantungan yang mirip dengan milik Soojung, memaksamu ikut UKM fotografi hanya agar kau menyukai fotografi, sama seperti Soojung. Aku pun menyukaimu karena kau mirip dengannya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa sesungguhnya kau dan Soojung berbeda, tetapi entah mengapa aku tidak ingin melepaskanmu. Dan entah mengapa ketika kau bilang bahwa kau mencintai Luhan, hatiku terasa perih.”

“Baekhyun—“

“Oke, mari kita anggap ini impas. Aku bersalah padamu dan kau pun bersalah padaku. Mari kita mulai dari awal lagi, Sica-ya. Anggap semua ini tidak pernah terjadi.”

Mata Jessica tampak berkaca-kaca. Wanita itu sungguh merasa bersalah pada Baekhyun. Dia pun tidak menghiraukan kesalahan Baekhyun yang menjadikannya seperti Soojung karena dia sadar bahwa dia juga telah melukai perasaan Baekhyun.

Baekhyun menghela napas kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Jessica. “Hai, aku Byun Baekhyun dan aku adalah seniormu di kampus. Kau mau berteman denganku?”

Jessica tertawa kecil mendengar hal itu kemudian menjabat tangan Baekhyun, “Hai, aku Jessica Jung. You’re my friend now.”

Thanks.”

***

“Kau tidak akan ke kampus lagi?” tanya Baekhyun ketika mereka sudah keluar dari Cafe dan kini mereka sudah berada di halaman depan Cafe tersebut.

“Tidak ada jadwal. Kau sendiri?”

“Masih ada mata kuliah Komunikasi Politik. Aku sudah tidak bisa bolos karena jatah absenku sudah habis.”

Jessica terkekeh. “Kalau begitu pergilah ke kampus. Kau tidak boleh terlambat.”

Baekhyun mengangguk. “Mau aku antar kau pulang terlebih dulu?”

“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”

“Oke. Sampai bertemu lagi.”

Jessica tersenyum kecil kemudian hendak pergi, tetapi Baekhyun tiba-tiba saja mencium pipinya dengan kilat sehingga wanita itu terdiam.

“Untuk yang terakhir kali dan aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Maaf, teman.”

You’re really a jerk, Baek.”

Yes i am.” Ucap Baekhyun yang dibalas oleh tawa kecil Jessica. Baekhyun pun kembali berkata. “Aku pergi.”

Pria itu memasuki mobilnya yang terparkir di sana kemudian pergi meninggalkan Jessica. Jessica menghela napas, “Terima kasih, Baekhyun sunbae.”

***

Pada waktu yang bersamaan Luhan pun akan mengunjungi Cafe tersebut bersama Sehun. Namun, mereka enggan turun dari mobil karena melihat Baekhyun yang dengan manis mencium pipi Jessica di halaman depannya.

Hyung, kau tidak apa-apa?” tanya Sehun yang duduk di sebelah Luhan.

Luhan tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa. Untuk kedepannya, Baekhyunlah yang akan menjaga Jessica.”

Hyung, tidakkah sebaiknya kau—“

“Sebaiknya kita pergi saja, Sehun-ah. Aku tidak punya banyak waktu.”

Sehun menghela napas, walaupun berat ia pun mengemudikan mobilnya, menuruti perintah Luhan untuk meninggalkan tempat ini.

***

Jessica tersenyum kecil menatap box es krim berukuran sedang yang baru saja dibeli olehnya. Sambil bersenandung, ia membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya. Ini sudah satu bulan tepat ketika Luhan membuat perjanjian dengannya. Jessica pun hari ini berniat untuk membatalkan perjanjian tersebut. Ya, dia tidak ingin berpisah dengan Luhan karena dia sadar bahwa hanya Luhanlah yang ia cintai.

“Luhan!! Aku membelikanmu es krim.” Teriak Jessica. Wanita itu mengerutkan kening karena tidak ada jawaban, “Apa dia belum pulang? Tapi mengapa pintu rumah tidak dikunci?”

Jessica meletakkan box es krim di meja makan kemudian segera pergi ke kamar. Di dalam kamar pun ia tidak mendapati kehadiran Luhan. Namun, ia mendapati sebuah kotak yang berukuran cukup besar bewarna ungu di atas kasur. Jessica pun membuka tutup kotak tersebut dan mendapati sebuah sketch book dan sebuah surat di dalamnya.

Jessica mengambil surat itu. Entah mengapa hati Jessica menjadi tidak tenang seketika. Dia membuka surat tersebut dan mulai membacanya.

To: Jessica

Maaf. Maaf karena selama ini aku telah menyusahkanmu, Jess. Maafkan aku juga karena tidak bisa menjadi sosok pria yang kau inginkan. Aku selalu membuatmu jengkel, membuatmu marah, dan membuatmu menangis. Aku belum bisa membuatmu bahagia, maafkan aku karena hal itu juga, Jess.

Dan… terima kasih karena kau telah memberikan aku kesempatan untuk bersamamu dalam satu bulan ini. Terima kasih juga karena kau telah menjadi bagian dari hidupku. Aku senang bisa bertemu denganmu, Jess. Namun, aku harus pergi. Semoga kau bahagia. Selamat tinggal.

Luhan

Luhan pernah mengatakan pada Jessica bahwa pria itu mencintainya, bukan? Tetapi mengapa kini dia pergi begitu saja? Ini sungguh mendadak dan Jessica tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin tetap bersama Luhan, tetapi pria itu malah meninggalkannya? Apakah Luhan benar-benar mencintainya? Dan apakah Luhan akan mengakhiri rumah tangga mereka yang baru beberapa bulan saja? Berbagai macam pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Jessica.

Dengan gemetar, tangan Jessica mengambil sketch book yang ada di dalam kotak tersebut. Air matanya pun tidak berhenti menetes ketika dia melihat isi dari sketch book tersebut. Seluruhnya berisi gambar Jessica yang dibuat oleh Luhan. Dan… bahkan Jessica sendiri pun tidak tahu kapan Luhan menggambar sosok dirinya. Mengapa semua ini harus berakhir dengan cepat dan secara mendadak?

Jessica terduduk dan mengeluarkan tangisnya. “Kau jahat, Luhan. Kau… sungguh jahat.”

== The Destiny of Us ==

Hai!! Maaf baru posting ff ini lagi. Maaf juga jika banyak typo. Maaf juga jika jalan ceritanya makin aneh *oke, ini banyak minta maafnya -_-

Oh, iya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan. Marhaban ya ramadhan ya… maaf jika aku banyak salah ke kalian. Dan….. sampai jumpa di chapter ending hehehe ^_^

 

 

[1]Bumbu pasta cabai yang biasa dipakai di masakan korea.

120 thoughts on “The Destiny of Us – Chapter 7

  1. ih kesel, aku nangis bacanya thor ih luhan so sweet bangett tapi dia juga jahat ninggalin sica gitu aja:””””’aku nangis sekejer-kejernya-_,- cepet lanjut thor ffnya daebak, fighting!!!!!

  2. Chingu, mian ya langsung komen di chapter ini. Mana mau abis lagi -.-

    Emang benar ini semua salah Jessica. Salah dia sih gamau denger penjelasan Luhan. Coba kalo dia ga motong penjelasan Luhan, kehidupan mereka ga akan serumit ini (tapi ga bakal jadi cerita -.-). Tapi untung Jessie sadar akan kesalahannya seperti di chap 5 “Dia tidak datang… semua ini adalah salahku, Baekhyun-ah”. Jadi paling tidak dia tidak hanya menyalahkan satu pihak. Karena dia orang yang ikut andil dalam takdir yang terjadi di keluarga kecil mereka. Tapi di lain sisi aku bisa paham kenapa Jessie bersikap kaya’ gitu. Itulah pemikiran remaja 18 taun yang udah diadepin sma masalah pernikahan. Pasti dia masih pengin have fun daripada punya masalah rumit kaya’ gini. Karena itu dia milih ga berurusan sma Jieun. Tapi semuanya terlambat. Huaa, Luhan pergi T.T

    Luhan karakternya gentle banget, bisa ngemong Jessie. Selalu ngalah, asal Jessie bahagia. Bisa jadi tameng lagi buat Jessie, memastikan kalo Jessie harus baik-baik saja. Huhu.. #pengin_suami_kaya_gini
    Tapi jengkel juga sama ini orang, giliran Jessie ngungkapin perasaannya, nih orang malah tidur. Duhh! >.//////<

    Woaahhh, komenku puanjangnyoo~ Hufh! Chingu pasti capek bacanya #biarin ^^v
    Btw, chingu kuliah di jurusan Jurnalistik & Komunikasi ya? Pengetahuan kamu tentang Jurnalistik bagus banget. Jadi fanfic ini ga terkesan kaku pas bagian penjelasan Jurnalistik..

    Aku tunggu updatean chap selanjutnya ya. Jangan lama-lama please~ ^^

  3. Ya!!! Wae Luhan? Kenapa disaat jessie udah mau ngebatalin perjanjian itu, kamu malah pergi?? Kebawa emosi kan, pas Luhan ninggalin jessie tanpa pamit secara langsung itu(?)
    Ohh.. okey, aku ngaku kalo ini ff favoritku yang cast-nya Luhan&Jessica. Dan aku juga ngaku kalo ini satu-satunya ff yg bisa bikin aku emosi/nangis/marah” sendiri.
    Ff ini berasa banget feel-nya, konfliknya juga banyak, dan aku suka bagian konflik. Hehe :V . Ff ini juga panjang,, ahh.. Bukan panjang, tapi terlalu panjang, yang bikin aku baca dari awal sampe akhir 2jam nonstop!!
    Sempet ngira sihh, kalo di chapter ini bakalan end. Tapi ternyata enggak, hehe. Mungkin endingnya di chapter berikutnya, ya thor? Semoga aja dehh, FF ini bakalan happy ending, bukan buat Luhan sama Jessica aja, tapi aku juga mengharapkan baekhyun sama taeyeon kembali lagi jadi pasangan, trus menikah. Hehe, terlalu konyol ya? mian.

  4. ihh kok luhan kayak gitu sih -_-
    kamu udah nyia nyiain sica 2x😦

    pdhal jessica udah mau memperbaiki hubungan mereka.

    akhirnya baekhyun mengakui ke sica kalo jessica itu cma pelampiasan😀
    hehehehe :v

    yg pling greget itu pas jessica nyeritain bagaimana nasib cintanya. ehh luhan malah tidur -.-

  5. Kyaaa aku baru baca lagi loh tor. Aku shock pas liat ada update ending nya. Omai Allah, akhirnya buru2 nilik chap ino nya. Dan huwaa nyesekkk asdfghjkl. Oke, penasaran sama ending nya. *ke chapter 8*

  6. luhan jahat banget yakkk maen pergi aja sekarang sica nyeselkan kamu coba gk buat ulah mulu dan kasih luhan kesempatan dr awal pasti gak kayak gini akhirnya huhhh

  7. huaaaaa~ T^T
    lama bnget nungguny.., dan akhirny bru keluar…, xD
    akhirny luhan dan jessica bsa trsenyum brsama walaupun akhirny luhan ninggalin jessica :’D
    mianhae bru bsa ngoment skarang.., soalny ak udh jarang bka wp, thour~
    Bekhyunny jail bnget smpe smpe nyium jessica.., tpi sneng jga akhirny msalah baekhyun ama sica selesai😀
    penasaran sma alasan luhan kok ninggalin jessica..,
    dtunggu klanjutanny thour dan smangat ne ^.^ /

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s