180° – Chapter 10

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | f(x) Krystal

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 89

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

“No miracle in December for her.”

*

Junyoung hampir mengira kesedihan di wajah sahabatnya diakibatkan kepergiannya beberapa menit lagi jika Jessica tidak memberitahunya tentang Daehyun. Dia tidak akan bohong dengan mengatakan dia ikut merasa sedih dengan keputusan Jessica. Dia senang. Hatinya tidak akan hancur berulang kali saat pekerjaannya di Australia selesai nanti hanya karena melihat kebersamaan Jessica dengan adiknya. Namun tetap saja, dia merasa bersalah.

Keberadaan Jessica sebagai satu-satunya orang yang datang untuk menemaninya pun membuat menit-menit sebelum Junyoung meninggalkan Korea menjadi buruk. Ayahnya sedang menghadiri seminar di Beijing bersama ibunya dan tentu, Daehyun dilarang datang. Teman-temannya memiliki kesibukan masing-masing karena hari ini adalah hari kerja. Andaikan ada orang lain bersama mereka, Jessica pasti tidak akan memperlihatkan kesedihannya secara terbuka sepenuhnya.

Junyoung yang sedari tadi duduk di samping Jessica, memutuskan untuk bangkit dan pergi meninggalkan kopernya bersama sahabatnya yang masih melamun. Faktanya, Jessica sudah melamun sejak ia duduk di kursi tersebut. Junyoung tidak pergi terlalu lama. Dia hanya pergi ke sebuah mini market dan kedai kopi di bandara Incheon untuk membeli sebungkus keripik kentang dan 2 caramel macchiato. Dia langsung membuka bungkus keripik kentang tersebut dan meletakkannya di pangkuan Jessica sesaat setelah dia duduk di tempat semula.

“Oh,” Jessica menggumam seraya mengambil beberapa keripik kentang dan memasukkannya kepada mulutnya. “Thanks,” imbuhnya setelah selesai mengunyahnya.

Junyoung mengambil tangan kiri Jessica dan membuatnya menggenggam segelas caramel macchiatonya. Dia hanya diam memperhatikan Jessica yang kini memiliki hal lain untuk diperhatikan. Setelah yakin sahabatnya tidak akan melamun lagi, dia menyesap kopi miliknya.

“Tetaplah hangat saat aku tidak ada,” gumam Junyoung, matanya memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka.

Jessica tertawa pelan, seakan dia tidak mampu tertawa tapi tetap memaksakan diri untuk tertawa. “Tentu saja. Jika tubuhku dingin, artinya aku mati. Kau dan idiom medismu,” cibirnya sambil mendesis.

Junyoung tidak membalas. Dia hanya terkekeh pelan. Namun, bahkan tawa pun terasa salah saat ini. Dia ingin membunuh Daehyun untuk ini, tapi ini bukan salah Daehyun.

Ketika terdengar suara pemberitahuan bahwa pesawat yang akan membawa Junyoung ke salah satu negara di selatan itu akan lepas landas beberapa menit lagi, Jessica pun memeluk sahabatnya. Wanita itu sempat membisikkan sesuatu yang tidak terdengar jelas tapi Junyoung tidak mau repot untuk meminta kejelasan. Dia menepuk kepala Jessica dan menjanjikannya kesehatannya.

“Aku pergi,” ucap Junyoung untuk terakhir kalinya sebelum dia menarik kopernya ke tempat seharusnya dia berada sekarang bersama caramel macchiatonya.

“Junyoung!”

Junyoung berhenti lalu menoleh. Jessica berlari menghampirinya dan berhenti di hadapannya. Dia memang tidak mengatakan apapun tapi matanya memberikan kesempatan Jessica untuk mengatakan segala yang ia ingin sampaikan.

“Apakah kau mau menjadi ayah tiri dari anakku saat aku dan Daehyun bercerai nanti?” tanya Jessica.

Junyoung tersenyum. “Cobalah untuk mencintai anakmu dahulu, baru kita bicarakan tentang ini suatu hari nanti.”

“T-tapi…”

“Jangan menolak kehadirannya lagi. Apapun yang terjadi, jangan salahkan dia karena dia tidak salah sama sekali. Mengerti?”

Jessica menatap Junyoung. “Aku tidak janji.”

“Kalau begitu, aku juga tidak bisa janji.”

***

Gadis itu bersumpah tidak akan pernah lagi membeli tiket pesawat murahan setelah pengalaman buruknya berada di pesawat yang tidak nyaman itu. Dia memperbaiki letak kacamata hitamnya dengan tangan kiri, tangan kanannya menarik koper. Mulutnya masih belum berhenti untuk menggerutu. Alasan ia kembali ke Korea pun membuat kondisi hatinya semakin buruk. Seminggu lagi natal dan semua kejadian buruk terjadi.

No miracle in December for her.

Sesampainya dia di tempat taksi-taksi berbaris, dia segera memberikan kopernya kepada supir  yang datang menghampirinya. Namun tangannya menarik kembali kopernya saat ia melihat sosok familiar yang berjalan melewatinya dengan pandangan tak fokus. Dia menurunkan sedikit kacamata hitamnya agar ia bisa melihat sosok itu lebih jelas.

Oh yeah, tentu keajaiban Desember masih berlaku untukku, girangnya.

Eonni!”

Dia berteriak sambil berlari mengejar orang itu bersama kopernya. Orang itu masih tetap berjalan seakan ia tidak dengar apa-apa.

“Sooyeon eonni! Jessica Jung!”

Orang yang ia panggil akhirnya memperlihatkan sebuah respon. Jessica berbalik untuk mencari orang yang memanggilnya. Matanya terbelalak.

“Soojung—“

Krystal sudah memeluk Jessica sebelum kakaknya berhasil menyelesaikan kata-katanya.

“Whoa, aku tidak menyangka kau akan menjemputku! Padahal aku tidak memberitahu siapapun tentang kepulanganku!” seru remaja itu dengan senyuman lebarnya.

Sementara itu, Jessica masih menatap Krystal horor.

Kumohon, hentikan. Cukup. Jangan lagi. Apa penderitaanku masih belum menyedihkan?

***

Saat sampai di apartemen milik Daehyun dan Jessica, Krystal segera menarik Jessica untuk duduk di sampingnya dan mengeluarkan semua snack yang tersedia. Tak lama, Daehyun pulang dari tempat pencucian mobil milik keluarganya yang kini menjadi tanggung jawabnya lalu menyambut Krystal dengan wajah kaget dan mulut terbuka lalu duduk di depan mereka.

“Aku masih marah dengan kalian. Semua ini tidak akan berhasil memenangkan hatiku.” Mata Krystal masih fokus kepada layar handphonenya sedangkan tangannya sibuk menyuapi mulutnya dengan berbagai snack yang disiapkan oleh kakaknya. “Akan tetapi, aku butuh tempat tinggal sampai sidang perceraian orangtua kita selesai. Jadi aku harus memaafkan kalian.”

Jessica terlalu malas untuk membalas. Dia hanya diam sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Punggung terasa panas di sepanjang tulang belakang dan dia bahkan tidak tahu mengapa. Sepertinya dia harus menemui dokter Park untuk berkonsultasi. Sudah hampir 2 minggu sejak ia mengetahui kehamilannya dan sudah hampir 2 minggu pula, Jessica tidak mendatangi dokter Park lagi.

Sementara itu, Daehyun masih belum mengerti apa yang terjadi. Yang dia ingat, Jessica pergi tadi siang untuk mengantarkan Junyoung ke bandara, tapi mengapa ia kembali bersama Krystal? Mengapa Jessica tidak mengatakan apapun tentang kepulangan adiknya? Dan tunggu, perceraian orangtua mereka? Jessica juga tidak menceritakan hal itu kepadanya! Apa Junyoung tahu tentang ini? Apa hanya dia yang tidak tahu? Atau memang semua orang tidak tahu selain keluarga Jung itu sendiri? Akan tetapi, bukankah dia juga kini sudah menjadi keluarganya Jessica pula? Daehyun tidak bisa menerimanya.

“Hei, apakah kalian begitu merasa bersalah sehingga kalian tetap diam?” kesal Krystal karena omongannya diabaikan.

“Mengapa kau kembali?” tanya Daehyun bingung.

Krystal sangat terkejut mendengarnya. Matanya hampir keluar dari tempatnya seakan dia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Ini memang mustahil!, pikir Krystal histeris.

Oppa, kau tidak senang aku kembali? Biasanya kau yang selalu memaksaku untuk pulang ke Korea!” pekik Krystal, ekspresi syok masih belum meninggalkan wajahnya.

Jessica ingin sekali membentak Krystal karena suara adiknya membuatnya pusing. Akan tetapi, dia terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Krystal. Dia ikut menatap Daehyun tak percaya.

Sementara itu, Daehyun terlihat tidak nyaman di tempatnya duduk. Dia mendeham cukup keras. Dia senang Krystal pulang. Dia senang dapat melihat Krystal kembali. Dia senang. Namun aasanya canggung sekali jika dia harus memperlihatkan kesenangannya. Lagipula, dia cukup sadar dengan perasaan Jessica kepadanya. Dia tidak mau menyakiti sang noona lagi.

“A-aku…” Daehyun masih berusaha mencari kata yang cocok. “Aku…uh…”

“Oh ya, tentu saja kau tidak senang. Kalian adalah pengantin baru. Aku hanya akan jadi pengganggu. Baiklah, aku sadar diri,” runtuk Krystal, mengambil toples snack dan menumpahkan isinya yang tinggal sedikit ke mulutnya.

Daehyun hanya diam. Dia tidak menyetujuinya maupun membantahnya. Dia malah mempertanyakan itu kepada dirinya sendiri. Di sisi lain, Jessica melemparkan kepalanya ke belakang sambil menghempaskan napas penuh frustrasi yang membuat Daehyun ikut frustrasi saat mendengarnya.

Seriously, apa aku tidak diterima di sini?” protes Krystal, yang ternyata ikut frustrasi saat menyadari kedua empunya rumah frustrasi. Ternyata hanya dengan helaan napas, frustrasi bisa menular dengan cepat.

“Tentu saja kau sangat diterima di sini! Akan tetapi, bukankah lebih baik kau pulang dan menemui appa?” elak Jessica.

Krystal mengerucutkan bibirnya menandakan dia sungguh-sungguh tidak suka dengan saran itu. “No, thanks. Dont want to. I’d rather to make your husband falling for me once again.” Krystal menyeringai main-main kepada Jessica.

Jessica menepuk belakang kepala Krystal sambil mendesis, tak lupa ia juga memberikan adiknya pelototan andalannya. Untuk kali ini, Daehyun kembali memasang wajah bingung karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Krystal. Sedikit banyak, kini dia tahu beberapa kata dalam bahasa Inggris, terima kasih kepada Jessica yang selalu membantunya dengan menerjemahkan makalah luar negeri ke dalam bahasa Korea, tapi Krystal berbicara terlalu cepat. Bahkan dia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Krystal tadi.

“Uhm, aku lapar. Kalian mau makan?” alih Daehyun untuk mencegah terjadinya peperangan bahasa Inggris terjadi di antara sepasang adik-kakak yang akan membuatnya muntah-muntah pada akhirnya.

Krystal bersorak girang. “Mengapa tidak bertanya dari tadi? Makanan di pesawat sangatlah buruk!”

Jessica tersenyum dan bangkit saat dua orang lainnya sudah berdiri. Krystal dan Daehyun berjalan di depannya sambil saling bertukar kisah. Jessica sudah terlalu terbiasa dengan itu walaupun hatinya tetap terasa sakit.

Jessica menabrak Krystal dan dia pun sadar adiknya sedang memperhatikannya, lebih tepatnya memperhatikan perutnya. Tangannya pun menyentuh perutnya tanpa sadar.

“Seingatku, umur kandunganmu sekitar 4 bulan, ‘kan? Mengapa kau masih sangat kurus?” tanya Krystal.

Jessica menelan air liurnya. Dia bisa melihat Daehyun ikut berkeringat dingin sepertinya. Hanya mereka ditambah Junyoung, Sandara dan Youngjae lah yang tahu tentang kebohongan Jessica dan kehamilan Jessica yang baru menginjak bulan ke 2. Mereka tidak berani memberitahukan Krystal yang sebenarnya. Setidaknya tidak sekarang.

Krystal melompat ke arah Daehyun dan mengampit kepala pria itu dengan tangannya, membuat Daehyun merintih kesakitan. “Kau gagal menjadi suami yang baik untuk kakakku! Pasti kau hanya sibuk memberi makan dirimu sendiri, huh?”

***

Krystal menghempaskan tubuhnya ke kasur. Beruntung apartemen itu memiliki 2 kamar sehingga Krystal tidak perlu menjadi pengganggu pasangan pengantin baru itu, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh gadis remaja itu. Jessica duduk di ujung kasur, dekat kaki Krystal. Sebenarnya Jessica tidur di kamar ini sejak ia membatalkan perjanjian mereka, tapi Krystal tidak perlu tahu itu. Kini dia bingung memikirkan dimana dia akan tidur malam ini. Dia hanya bisa berdoa Krystal memohon untuk tidur bersamanya.

“Jadi bagaimana hubungan kalian?” tanya Krystal, wajahnya masih berada di atas bantal lalu membalikkan badannya saat ia tidak mendapatkan jawaban.

“…baik,” Jessica menjawabnya 2 menit kemudian.

“Aku memang tidak di sini untuk tahu apa yang terjadi hingga kau hamil karena pria bodoh tukang makan itu. Aku juga tidak ada di sini saat pernikahan kalian dikarenakan kuliahku. Akan tetapi, aku adalah adikmu dan aku sangat mengenal Daehyun oppa seperti kau mengenal Junyoung oppa. Aku tahu ada masalah di antara kalian,” ujar Krystal.

Jessica membuka mulutnya hanya untuk menutupnya kembali. Untung saja dia sedang memunggungi Krystal jadi adiknya tidak melihat ekspresi wajahnya saat ini. “Kami baik-baik saja. Daehyun adalah suami yang baik,” yakin Jessica.

“Oh ayolah, kapan kau akan jujur kepadaku? Aku bicara membaca keadaan hubungan kalian hanya dengan melihat gelagat si bodoh itu saat kita makan di restoran tadi.”

“Percayalah kepadaku, kami baik-baik saja!”

Krystal terdiam sejenak. “Apa yang terjadi hingga kau bisa hamil dan membuat kalian menikah tiba-tiba?”

“I-itu…”

“Apa benar… dia memperkosamu?”

Jessica terhenyak mendengarnya. Tidak. Bukan. Kami menikah karena idenya Sandara. Aku hamil karena idenya Sandara. Semuanya karena Sandara…

No!! He did not rape me. We were making love,” jawab Jessica menggumam. “Kami saling mencintai.”

Dalam setiap mimpiku tentangnya, tambah Jessica dalam hati.

Krystal menggeram pelan. Dia jelas tahu kakaknya berbohong, atau setidaknya kakaknya berkhayal terlalu tinggi. Jawaban Jessica hanya meyakinnya bahwa tebakannya benar. Dia menutup wajahnya dengan bantal untuk mencegah dirinya untuk mengatakan sesuatu yang akan  menghancurkan khayalan kakaknya.

Tidak satupun dari mereka yang berbicara. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Bolehkah… aku menghancurkan khayalanmu, Eonni?” tanya Krystal, memecahkan keheningan panjang di antara mereka.

Napas Jessica tercekat. Dia tidak menjawabnya walaupun hatinya berteriak melarang Krystal untuk melakukannya.

“Dia, Daehyun, tidak mencintaimu,” suara Krystal sangat pelan dan dalam. “Dia adalah tipe seorang pujangga yang jatuh cinta kepada cinta itu sendiri. Secara alami, dia akan memanjakan orang yang ia cintai dengan kasih sayang. Dia senang bersentuhan dengan wanita yang ia cintai. Aku bahkan harus menggigitnya berulang kali agar dia tidak melakukan yang lebih dari berpegangan tangan.”

Jessica merasa seseorang baru sadar menembak hatinya dan meninggalkan lubang yang sangat besar.

“Untuk sekali saja, aku tidak lihat dia menyentuhmu,” lanjut Krystal.

“Dia hanya memperhatikanmu tapi dia bahkan tidak menggenggam tanganmu.”

Aku tidak mau mendengarnya lagi. Hentikan!

“Maaf, Eonni—“

Bruk!

Jessica berlari keluar dan membanting pintu. Krystal mendengar suara Daehyun memanggil kakaknya dan ia pun sadar kakaknya tidak hanya meninggalkan kamar, tapi juga meninggalkan apartemen. Krystal kembali dikagetkan dengan suara pintu, kini pelakunya adalah Daehyun.

“Apa yang kau lakukan?!” geram Daehyun.

Krystal menatapnya tajam. “Aku menyelamatkannya dari imajinasinya tentangmu. Agar dia berhenti menyakiti dirinya sendiri hanya karena pria bodoh yang bahkan tidak pantas untuk kakakku. Puas?”

***

Setelah perdebatannya dengan Krystal, Daehyun kembali berdiri di depan apartemen Junyoung dan memohon agar Jessica keluar. Dia juga merasa sedikit kecewa karena Jessica tetap kabur ke apartemen Junyoung walaupun pemiliknya kini sedang di pesawat melewati perbatasan Malaysia-Singapura menuju Jakarta untuk transit.

Noona, ku mohon keluar agar kita bisa diskusikan bersama. Berhenti mengunci diri,” teriak Daehyun, berharap suara dapat didengar oleh Jessica.

Daehyun menyandarkan punggungnya di pintu sambil menekan bel tanpa henti. Kepalanya sakit karena drama yang tidak henti-hentinya datang ke dalam kehidupannya. Dia harus mengeluarkan Jessica dari apartemen Junyoung sebelum wanita itu melakukan hal berbahaya. Jessica memang sudah dewasa tapi sejak kehamilannya, mental Jessica bahkan dapat dibandingkan dengan anak TK.

“Keluarlah! Jika kau keluar sekarang, aku akan mengabulkan apapun keinginanmu! Aku berjanji!”

Daehyun masih belum meenyerah waktu sudah hampir 1 jam lamanya dia menekan bel terus-menerus. Dia mengeluarkan semua udara dari paru-parunya dan mengisinya kembali dengan cepat. Dia berhenti menekan bel. Kini dia berdiri tegap berhadapan dengan pintu.

“Buka pintunya atau aku akan mendobraknya!” ancam Daehyun.

Sebenarnya Daehyun bisa saja meminta bantuan ke pihak apartemen tapi ia tahu Jessica akan semakin marah jika ia melibatkan orang lain. Dia hanya bisa berharap ancamannya berhasil atau—

Daehyun tidak perlu memikirkan langkah selanjutnya karena ancamannya berhasil.

“Jangan lakukan itu. Junyoung akan semakin membencimu karena kau merusak apartemennya saat dia tidak ada,” gumam Jessica saat pintu terbuka sedikit.

Daehyun mendorong pintu agar terbuka lebih lebar lalu mengecek apakah ada sesuatu yang aneh dari Jessica. Syukurlah tidak ada, artinya Jessica tidak melakukan sesuatu yang berbahaya di dalam sana. Dia pun memeluk Jessica erat.

“Syukurlah…”

Jessica memikirkan kata-kata Krystal tadi. Kenyataannya, dia sedang berusaha keras menahan tangis karena dia sudah terlalu sering menangis akhir-akhir ini. Akan tetapi, pelukan Daehyun hanya membuat pertahanannya runtuh dalam sekejap dan Jessica bisa menangis cukup keras. Entahnya mengapa, Daehyun merasa sudah terbiasa dengan ini semua.

Daehyun melepaskan pelukannya dan mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap wajah istrinya yang basah saat tangisannya mulai mereda. Jessica meniupkan udara lewat hidung untuk mengeluarkan segala hal yang membuatnya sulit untuk bernapas ketika Daehyun memposisikan sapu tangannya di depan hidungnya.

“Sudah lebih tenang?” tanya Daehyun, tersenyum lembut.

Sebenarnya tangan Daehyun sudah gatal untuk menarik Jessica masuk ke apartemen mereka karena mereka kini menjadi tontonan para penghuni apartemen di lantai itu. Krystal adalah salah satu penonton mereka, dia bersandar di daun pintu sambil memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran. Tangisan Jessica lah yang mengundang mereka keluar dari tempat nyaman mereka masing-masing.

Jessica merengut sambil menatap Daehyun balik. Dia melihat Krystal di belakang Daehyun. Tiba-tiba dia merasa sangat marah. Dia menarik kerah baju Daehyun dan menciumnya. Sang suami harus memegang daun pintu untuk mencegah dirinya menabrak badan Jessica yang bisa menyebabkan mereka jatuh.

Daehyun kira itu hanya ciuman sederhana tapi dia salah. Saat Jessica melingkarkan tangannya di leher Daehyun, pria itu tahu ciuman mereka kali ini akan berlangsung cukup lama.

“Pfft, dasar tukang pamer. Mereka mempertontonkan terlalu banyak drama kepada para tetangga,” gumam Krystal, terkekeh pelan lalu masuk ke dalam kamarnya. “Mereka memang harus didorong,” desisnya.

***

Mungkin karena Krystal menempati kamar sebelah dan Jessica masih marah kepadanya, wanita itu memutuskan untuk kembali tidur di kasur mereka. Jessica masih malu dengan kejadian tadi tapi kekesalannya mengalahkan rasa malunya. Mungkin ini pertama kalinya Jessica lebih memilih Daehyun daripada Krystal.

Jessica berpura-pura tidur saat Daehyun masuk ke dalam kamar, dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dia merasakan sisi kasur lainnya ditempati oleh Daehyun. Pria itu sepertinya kesulitan mendapatkan posisi yang nyaman. Setelah 30 menit kemudian, Jessica sudah tidak merasakan pergerakan sama sekali.

Dia tidak bisa tidur. Dia masih tidak habis pikir dengan tindakannya tadi. Mengapa pula dia termakan kata-kata Krystal tadi? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ini aneh sekali. Dia masih tidak bisa menerimanya.

Jessica menurunkan selimutnya sedikit agar dia bisa melihat Daehyun. Ini pertama kalinya ia bisa melihat Daehyun saat tidur. Wajahnya sangat manis dengan bibir terbuka sedikit. Jessica tertawa melihatnya. Melihat tawanya tidak mengganggu Daehyun sama sekali, dia kembali menurunkan selimut sampai sebatas dada.

Jessica memperhatikan lanngit-langit kamarnya sambil memikirkan banyak hal, salah satunya adalah masa depan hubungannya dengan Daehyun. Dengan keberadaan Krystal yang tidak tahu apa-apa di sini, Jessica sulit mengambil aksi untuk menyelesaikan masalah mereka. Mereka tidak tidak bisa membicarakan tentang perpisahan mereka atau semacamnya di depan Krystal. Sudah cukup Krystal dipusingkan dengan masalah perceraian orangtuanya. Jessica tidak mau menambah masalah bagi Krystal.

Tiba-tiba tubuhnya terasa dingin tapi selimut tak berguna sama sekali. Jessica melirik Daehyun untuk memastikan apakah dia benar-benar tertidur pula. Saat dia yakin, Jessica menggeser tubuhnya mendekat. Dia semakin mendekat karena Daehyun tidak terlihat terganggu sama sekali. Jessica menarik tangan kiri Daehyun dan meletakkannya di atas tubuhnya.

Ini terasa lebih baik.

Jessica tersenyum. Saat dia menutup matanya, dia langsung sukses tertidur pulas. Kini bagian Daehyun yang membuka matanya. Dia memperbaiki posisi mereka dan memeluk istrinya lebih erat. Kini dia sadar alasan mengapa dia merasa tidak nyaman saat tidur selama beberapa hari.

Memeluk Jessica selama tidur adalah kebiasaan baginya.

*

To Be Continued

*

Pendek ya? Sengaja😛

KRYSTAL JUNG IS BACK~~ apa yang terjadi kepada pasangan ini nantinya? Apakah Daehyun akan memuja Krystal lagi? Pokoknya chapter selanjutnya akan dibanjiri angst, angst, angst, angst, angst. Kenapa angst? Karena krystal kah? Rahasia. Sediain aja tissue ya :3

Udah chapter 10 loh~ artinya endingnya sudah terlihat di depan mata. 2 chapter lagi? 3? 4? 5 udah maksimum kali ya fufufu

Kalian sadar ga kehadiran Krystal ini mirip sama pas Krystal datang ke rumah Jessica dan buat Jessica marah-marah sampai Jessica masuk rumah sakit di Calling Out? Yah aku cuma mau ngingetin kalian aja kalo ff ini adalah pencampuran dari Almost Have You,  Begin With A Mistake dan Calling Out. Jadi bagi kalian yang mau nebak jalan cerita selanjutnya, silahkan pikiran ketiga ff itu😉

70 thoughts on “180° – Chapter 10

  1. Chapter ini seru skaai dgn kpergian junyoung datangah krystal, kayaknya daehyun sdh mlai merasakan sica ,,semakin tipis harapan ku untuk jessica sma junyoung deh . Smoga endingnya out of the prediction haha:D

  2. Daehyun bener2 labil doh. Pas bagian trakhir so sweet, apa daehyun dah mulai nerima jess tros dah lupain si krys ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s