[Freelance] DON’T STOP ME! baby don’t Cry (Oneshot)

jessica snsd9 sehun

Author: S.Y.M

Title: Don’t Stop Me, Baby Don’t Cry

Lengt: Oneshot

Rating: G

Genre: Romantic, Agst

Main Cast: -Oh Sehun- Jessica Jung

Other Cast: -Luhan-Yoona

OST: BABY DON’T CRY -EXO

Note: Anyeong….terima kasih untuk readers yang udah baca ff More Than…Author bawa FF lama yang udah aku publish di blog pribadi aku. Dan author minta ma’af sebelumnya karena disini ada karakter yang aku bikin setengah antagonis dari sisi Jessica Jung. Jangan Bashing ya…this just fiction.

Jangan lupa kunjugi blog pribadi aku ya http://farahkimjaegirl.wordpress.com

Jangan lupa comment ya Sorry for typo…ENJOY IT!

________________________________________________

Sehun POV

“Jangan bertanya kenapa aku sedingin ini, Jangan Bertanya kenapa aku seacuh ini, jangan bertanya kenapa aku seperti ini. JANGAN BERTANYA”
Semua kalimat itu selalu terlintas di otakku. Saat aku ingin mengeluarkan setumpuk hal yang ada di otakku. Melihat keadaan saat ini, salahkah aku yang ikut merasakan terluka? Salahkah aku jika aku ingin membantunya? Tapi ia tak pernah mengatakan bagaimana dia.

Aku menatapnya nanar, gadis itu duduk di depanku dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Setidaknya dia menyapaku jika ia tahu keberadaanku. Dia pasti menyadari kedatanganku.

Kebiasaan buruknya adalah menebar sensasi es dimanapun ia berada. Termasuk saat ini.

Aku memutuskan untuk melambaikan tanganku agar pelayan café di ujung sana tak lagi memperhatikan kami karena tak kunjung memesan sesuatu. Alih-alih kami bisa diusir karena hanya numpang duduk di tempat mereka.

“Choco white cream dan chococheese masing-masing dua” aku cukup mengucapkannya tanpa melihat pelayan itu.

Mata ini masih tak mau terlepas dari sosok di depanku saat ini. Aku tahu aku tak perlu bertanya padanya saat ia terdiam seperti ini. Kebiasaan yang satu ini sudah banyak yang mengetahuinya. Jika ia marah ia akan diam sepanjang waktu yang ia mau, sampai ia bisa meredam emosinya yang menyulut. Seakan ujung tenggorokan itu mampu terkunci dengan sendirinya, membuat suara indahnya bersembunyi begitu saja. Pasti ia takut jika suara itu berubah menjadi suara kasar yang tak seharusnya ia keluarkan.

Jadi bagi siapapun itu, sangatlah percuma jika mengajukan pertanyaan di saat seperti ini.

Aku hanya menunggunya untuk berbicara. Saat ini entah kenapa aku benar-benar ingin disampingnya, meskipun sebenarnya aku bisa meninggalkannya sendiri seperti yang biasa aku lakukan. Dan menunggu sampai ia kembali bertingkah konyok seprti biasa, membuatku tertawa seperti biasa, menghiburku, bahkan aku tidak aka nada kesempatan untuk marah jika ada dia disekitarku. Sikapnya yang seperti itu sangat berbanding terbalik dengan dia yang saat ini. Yang tak bisa membuatku berbuatbuat apa-apa saat ia marah dan sedih. Yang bisa kulakukan hanya menunggu seolah dialah pengendali terkuat itu, ia akan melakukannya sendiri, mengendalikan dirinya sendiri.

Aku meminum minuman yang sudah diletakkan pelayan di meja kami. Meskipun ia tetap diam dan tak mengalihkan pandangannya, aku tetap meletakkan minuman kesukaannya itu di depannya. Dan aku, aku meraih satu majalah yang tersedia di tempat itu, membacanya seraya menikmati hidangan. Aku sudah sangat mahir mengendalikan keadaan ini. Semua kutiru darinya, dia tidak suka diperhatikan saat marah, maka lebih baik jika aku juga berpura-pura seperti tidak ada dia di sekitarku.

SREK

Suara gerakan tangannya, bahkan sangat terdengar karena keheningan yang ia ciptakan. Aku tersenyum simpul dan terus membaca. Aku masih menunggunya untuk bicara.

Ia menggeser cangkir di depannya. Mengangkatnya perlahan dan sudah pasti ia meminum Choco White creamnya yang mulai dingin itu.

Aku kembali menatapnya, aku lemparkan senyum khasku padanya, jika ia sudah membaik ia akan berkomentar pada senyum maut dan tatapanku padanya

sok cool” itu komentar yang selalu ia ucapkan.

“Sok COOL” Ucapnya, ia tersenyum simpul, seperti yang kuduga, tidak ada kosakata lain selain itu.

“Kau sudah melumasi tenggorokanmu? Apa masih kering?” tanyaku, ia terkekeh lalu mengalihkan pandangannya.

“Kalau belum cukup, aku bisa membantu” imbuhku.

Sontak ia melirikku tajam dan menemukan evil smirk ku. Ia terlalu pintar untuk mencerna kata-kata singkatku.

“Menciummu sekarang atau kita pergi ketempat yang lebih sepi, aku rasa bibirmu tertempel lem? Hum?” imbuhku menggodanya. Jika ia mulai berteriak berarti ia benar-benar baik-baik saja.

“Hyak! Sehun_ah!” tangannya terangkat hendak menoyorku.

“Hahahaha. Noona!”

Bibirnya mengerucut, lalu mengangkat kasar cangkirnya, menelan semua isinya.

“Hoach!!” ia menatapku. Pandangannya kini berubah, ia tipe gadis yang berbicara lewat mata.

“Ice Cream!” ucapnya lalu tersenyum  seperti anak kecil yang menggodaku. Ini Favoritku, saat ia bersikap manja, membuatku seolah lebih dewasa darinya. Membuatku menjadi laki-laki untuknya.

“Ara! My Little noona!” aku berdiri dan menulurkan tanganku, Kulihat bibirnya kembali mengerucut, matanya memicing tak terima

“My Little noona?” protesnya.

Ia meraih tanganku dan HAP aku sudah menggenggamnya erat. Aku bukan orang bodoh yang akan melepaskan gadis seperti dia. Jessica, dia gadis Spesial ku.

“Hya! Sehun_ah.. kau mau menghentikan aliran darahku?” protesnya.

Aku terkekeh dan tetap menggenggam erat tangannya. Tapi ia tetap menurut dan tak mencoba untuk melepas genggamanku.

“Diamlah! Atau tidak ada Ice Cream!” ancamku.

Ia terdiam menurut.

Dasar, dia benar-benar gadis yang dewasa bagiku. Dada ini selalu sesak dan menendang-nendang jika ia bersikap seperti ini.

_____________________________________

Kami mendapatkan Ice Cream itu, Noonaku ini sedang menikmati Ice Creamnya. Ia duduk disampingku dan menikmati Ice Creamnya sambil mengayun-ayunkan kakinya seperti anak kecil. Jika melihatnya seperti ini kalian tidak akan percaya jika ia mempunyai tatapan menakutkan seperti yang kulihat.

Aku kembali teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Saai itu aku mengira ia seorang Shcryzofenia, atau mungkin Psico, atau mungkin autis atau mungkin gila. Dia begitu aneh sehingga rasanya aku ingin lari dan menjauh darinya.

Tapi itulah uniknya, dia seprti gadis kecil begitulah sikapnya, menyukai kartun, selalu berbicara tentang sejarah beberapa dinasti Korea, bernyanyi dengan nyanyian daerah dan lagu anak-anak. Sampai ia punya gerakan dan lagu aneh yang katanya untuk mengusir hujan. Dan aku tahu jika lagu itu berasal dari film kartun yang sering ia tonton.

Tapi siapa sangka dia adalah salah satu Ketua yang dikagumi dari Organisasi Mahasiswa di Universitas kami. Begitu meragukan tapi siapa sangka jika semua tunduk padanya. Ia bisa dengan baik bersikap sebagai pemimpin. Aku terkesima dibuatnya.

Dan satu lagi, dialah yang membuatku bangkit dari keterpurukanku. Dia satu-satunya alasanku sampai seperti saat ini. Mencintainya adalah kekuatanku.

“Wae?” tanyaku saat kusadari ia menatapku dengan tatapan aneh.

“Mwo?”

“Kenapa menatapku seperti itu?”

“Any” ia menggelengkan kepalanya dan kembali sibuk dengan Ice Creamnya. Aku masih menatapnya, ada sesuatu yang ingin ia katakan.

“Mianhae!’ ucapnya lirih

“Wae”

“Mianhae, karena kau selalu disampingku, aku jadi ingin marah, tapi juga berterima kasih padamu!”

“Mworago?”

“Berhentilah, seolah kau mampu menjagaku” lanjutnya dengan kedinginan yang kembali ia tebar.

“Maksud noona?”

“Kau bisa melepasku mulai sekarang, aku tidak ingin kau lebih terlibat jauh dengan ku, sebentar lagi aku akan menyelesaikan kuliahku dan aku tidak akan tinggal di Negara ini lagi, aku akan menjalani hidup normalku!” jelasnya.

Aku mengalihkan pandanganku

“Aku tidak bisa!” jawab ku singkat.

Ia menatapku penuh harap. Sudah lama ia berusaha melepaskan diri denganku, Dia mendengus mungkin karena kekeraskepalaanku.

“Mianhae karena kau selalu menjadi korbanku saat marah, aku tahu kau akan bosan dengan sikapku, aku_”

“itu tidak masalah bagiku, aku memahamimu, apa kau tidak menyadarinya, kau yang mengajariku tentang dirimu, dan aku melakukannya, memahamimu, menjadi yang kau mau, meskipun kau tak mengungkapkannya tapi aku memahami apa maumu!”

“Kau hanya merasa bertanggung jawab karena aku menolongmu!”

“Aniy….Aku Mencintaimu, Baiklah… mungkin awalnya seperti itu. Tapi AKU MENCINTAIMU!” aku tetap bersikeras. Bahkan hal ini sering kami perdebatkan.

Dia terdiam… dan menunduk

“Gadis itu, …bukankah kau pernah mencintainya?” ucapnya lirih.

Aku terdiam, dia tahu tentang Yoona Noona?

Dia tersenyum simpul melihatku terdiam.

“alasan kenapa amarahku menyulut selama ini adalah saat aku teringat kejadian itu. Baiklah… mungkin kau tidak mengetahuinya selama ini, aku selalu ingin membunuhnya ketika melihat gadis itu. itulah sebabnya aku selalu menahannya, dan memilih untuk diam!”

Aku tersentak, mataku melebar, mungkinkah Yoona noona adalah….dan jika seperti itu berarti Jessica noona adalah…Ah..ini tidak masuk akal.

“Kau!_ saat itu kau bukankah sangat mencintainya? Dan kau membahayakan dirimu sendiri , bukankah itu juga karena dia?”

“Apa maumu Noona?” tegasku, aku menangkap ada hal lain yang dimaksud olehnya.

“Dia yang membuatku kehilangan Luhanku, kecelakaan tragis yang merenggut keluargaku, membuatku menjadi seorang diri. Konspirasi yang dilakukan keluarganya membuatku marah. Kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku merenggut keduanya, Ayahku masih bisa diselamatkan, namun saat ia melihat gadis kecil yang sekarat itu, ayah menyerahkan hidupnya pada Tuhan dan membantu gadis kecil itu. Membantu orangtuanya yang menabrak mobil kami.. Aku tumbuh besar dengan Ny. Lee, orang kepercayaan ayah yang kuanggap seperti ibuku. Tak lama karena usianya yang merapuh, membuatku kembali kehilangan seseorang yang kusayangi. Aku benar-benar sendiri, sampai akhirnya aku bertemu Luhan, laki-laki yang membantuku merasakan kasih sayang, dia sering mengajakku kerumahnya, dan keluarganya menyayangiku, Eommanya, Appanya, Kakaknya. Aku seprti mempunyai keluarga baru. Aku Sangat Mencintainya” Jelasnya panjang lebar.

Aku terdiam memperhatikan suara paraunya saat menceritakan itu semua. Aku tak pernah mendengar cerita ini, karena ia tak mengizinkan seorang tahu tentangnya.

Mungkinkah aku yang pertama ia ceritakan setelah Luhan?

Hatiku terasa sakit saat ia mengucap nama itu. Tidakkah ia tahu siapa Luhan itu? Tidakkah ia tahu siapa aku? Mungkin selama ini aku tidak pernah memperkenalkan keluargaku padanya. Aku tidak punya siapa-siapa itulah yang kukatakan padanya. Itu semua karena aku meninggalkan rumahku karena suatu hal yang juga aku sembunyikan darinya. Aku masih terpaku mendengar ceritanya.

“Im Yoona, itu namanya. Dan aku tahu dia gadis kecil yang sekarat itu. Setelah ayahku, dia merebut Luhanku. Dia mencintai Luhan, sama sepertiku….!” Jessica menutup wajahnya.

DEG

Ia benar-benar menyebutnya. Yoona noona mencintai Luhan Hyung. Satu kenyataan pahit yang mengingatkanku pada masalalu. Mungkin ia tahu jika aku mencelakai diriku sendiri karena Yoona noona memilih Hyung dari pada aku. Sejujurnya kami benar-benar menyedihkan.

“Jika saja dia tidak memaksanya untuk meninggalkanku dan memintanya untuk ikut bersamanya. Luhan akan tetap bersamaku. Aku tahu kalian bersahabat dengannya dan aku tahu Luhan akan memilih sahabatnya. Itulah sebabnya ia lebih memilih untuk menuruti Yoona, lagi-lagi orang yang aku sayangi berkorban untuknya” Jessica tersenyum miris

Aku masih menatapnya tak percaya.

“Luhan meninggal karena menolongnya yang hampir terjatuh bukan? Aku tahu kesehatan Yoona lemah, itulah sebabnya ia mudah sekali lelah dan konsentrasinya melemah, Luhan jatuh dari tebing bukan?….hik..aku tak mampu mengingatnya” Jessica menutup matanya, dan aku tahu pipi itu sudah basah karena air yang keluar dari matanya. Seakan begitu traumanya dia dengan kejadian-kejadian buruk di masalalunya.

“Noona … aku_”

“Dan kau! Saat itu aku benar-benar mau mati karena ulahmu, kau mabuk dan mengendarai mobil dengan laju yang sangat cepat, kau ingin melemparkan mobimu ke sungai tanpa perduli orang yang ada di depan mobilmu!” imbuhnya dan sukses membuatku tak bisa menahan air mataku.

“Lalu kenapa kau menolongku?” suara parauku pecah.

“WAE? KENAPA KAU TAK MEMBIARKAN AKU YANG SEKARAT ITU?” aku membentaknya, untuk pertama kalinya aku membentak noona yang kucintai ini. Semua ceritanya membuatku sesak.

“Karena aku berharap aku seperti ayahku, bisa menukarkan nyawanya yang sekarat untuk orang lain!”

“Kau ingin bunuh diri dengan cara seperti itu?” aku membuka lebar mataku, mendengar jawabannya yang seperti itu.

Dia tersenyum, Berapa banyak alagi ia membawaku pada masalalu yang menyesakkan itu.

“Sejak kematian Luhan, aku mengutuk diriku sendiri, aku tidak bisa memaafkan Yoona,…. Luhan dan Kasih sayang yang aku impikan, aku kehilangan itu semua karena Yoona”

“Dan Kau!” ia menatapku tajam dan penuh kesedihan.

“Kau juga orang yang bahkan ingin mati karena Yoona? Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku yang masih berdiri disini, kenapa aku tak hidup bersama mereka? Hidup seperti apa ini jika aku selalu hampa heoh? Kau pernah merasakannya bukan?” Jessica mulai tak mampu menahan emosinya.

“Noona jangan lakukan itu”

“Melihatmu mengingatkanku pada Luhan, Bukankah kau adiknya? Kau masih ingin menyembunyikannya dariku?” Jessica memukul dadaku.

Ya. Sekarang ia tahu semuanya, dan aku juga tahu semuanya, ini sangat rumit.

Dia benar benar membenci Yoona, dan Yoona adalah gadis yang aku cintai dulu.

“Lepaskan aku dan aku akan melupakan semua, aku akan melupakan Luhan dan Yoona dan tentunya kau juga”

“Shireo! Aku tidak akan melakukan itu!” aku menarik tubuhnya, aku memeluknya erat.

Tangisnya meledak seketika, ia memukul dadaku, aku membiarkan dia meluapkan emosinya. Tidak akan aku melakukan hal yang sama seperti Hyung.

Aku meninggalkan rumah karena aku iri dengan Hyung, eomma dan appa sangat menyayanginya, dia pintar dan tampan, dia juga dicintai oleh banyak gadis, termasuk Yoona. Aku tahu karena kami bersahabat sejak kecil. Aku juga sering mendengar ia membawa seorang yeoja ke rumah saat aku mulai menjauh dari rumah, tak ku sangka itu adalah Jessica. Kami selalu mencintai gadis yang sama, hanya saja saat itu Hyung melepas Yoona dan memilih mempertahankan persahabatan kami. Aku meninggalkan rumah saat Tn Im berusaha menjodohkan Hyung dan Yoona. Mulai saat itu aku memilih untuk jauh dari rumah.

Dan kepergian Hyung, semakin membuatku tersiksa dan sesak. Kesedihan Yoona membuatku sakit. Bahkan setelah Hyung meninggal pun ia masih tetap mencintainya. Betapa beruntungnya Hyung.

“Lepaskan aku! Kumohon berhentilah mencintaiku, aku takut kehilangan lagi!” Jessica terisak di pelukanku.

“Shireo!”

“Sehun_ah! Kumohon, aku ingin melupakan ini!”

“Jangan hentikan aku!” aku memindahkan bahunya untuk menhadapku, aku ingin ia menatap mataku, melihat ketulusanku.

“Anggaplah aku Luhan keduamu, karena sama-sama mencintaimu! Aku tidak bisa melepasmu noona!” dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Hiduplah bersamaku dengan baru, beri aku kesempatan!” Aku tak sanggup melihatnya menangis seperti ini.

CHU

Dia menutup matanya, aku merasakan air mata yang juga membasahi bibirnya, aku merasakan kehangatan lewat bibir tipisnya itu. aku melakukan semua ini karena aku mencintainya dan aku membutuhkannya.

Aku kembali menatapnya

“Beri aku kesempatan! Jangan menangis lagi! Joaheo noona,… Saranghae!” aku kembali merengkuhnya di pelukanku. Dia terdiam dan aku menganggap dia setuju dengan ucapanku, aku tidak perlu menunggu dia mengucapkan sesuatu, apapun itu aku tetap tidak bisa melepasnya, aku akan terus berusaha untuk membuatnya bahagia, aku dan dia akan bahagia.

Mungkin ini rencana Tuhan. Jessica, aku, Hyung dan dia Im Yoona.

Tuhan jagalah senyumnya dan aku akan tetap di sampingnya.

_THE END_

 

 

Eotte???

Ini ff jadul yang aku nggak tahu bagus atau nggak…(curcol)

Untuk sequel More Than…emhh….entar ya…(#masih mikir)

Emang sengaja endingnya author bikin gantung…biar penasaran..hahahaha #PLAK

26 thoughts on “[Freelance] DON’T STOP ME! baby don’t Cry (Oneshot)

  1. Ceritanya penuh emosi..😀
    Kasian jessica semua orang meninggalkan nya😦, tenang eonnie masih aku disini ({})😀

  2. Luhannya bego sih, jessica pacarnya sendiri malah milih yoona… kalo emang cinta ama jessi buat apa berkorban buat yoona.. huukh
    Terus jessi harusnya udah bisa nerima sehun, soalnya sehun udah milih jessi kan…
    Aku harap yoona mati. Wkwkwkk.. #kejam

    Sequel…..

  3. uwaa author ff more than nih? ff yg ini jg bagus! aku berasa bisa ngerasain emosi jessica juga. jadi ikut berapi” pengen gorok yoona>:D jessica kehilangan smua krna tu org -_- suka hunsica happy end ^^ gausah sequel, takut yoona mncul ngerusak suasana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s