[Freelance] On You : I found lowliness (chapter one)

on you

 

Title : On You ǀǀ Author : yulkim98 ǀǀ Genre : romance, drama, angst ǀǀ Rating :  ǀǀ Length : chaptered ǀǀ Main cast : Kim Myungsoo, Jung Sooyeon ǀǀ Other cast : Park Chanyeol, Lee Dongwook

Poster by

Wuu @EKF

 

HAPPY READING ^0^

***

Hari senin adalah salah satu dari hari-hari sibuk di Korea, tak terkecuali pada salah satu kantor Intelejen Pusat Seoul.

Orang-orang di dalamnya tidak akan berhenti melakukan aktivitas mereka selama kejahatan dan pelanggaran masih terus berlangsung di kota tersebut.

“Agen Kim Myungsoo sudah tiba, Pak”

“Persilahkan dia masuk”

Lelaki paruh baya dengan board name ‘Lee Dongwook’ yang menjababat sebagai kepala bagian itu menegakkan tubuhnya untuk menyambut tamu yang memang sengaja di undang ke ruangannya.

Kim Myungsoo memenuhi undangan untuk memasuki ruangan, hal yang pertama di lakukannya adalah menghormat. Menghormat adalah hal wajib yang harus dilakukan seseorang pada atasannya sebagai tanda bukti bahwa diantara mereka tercipta tenggang rasa yang wajar.

Berjalan beberapa langkah mendekati Lee Dongwook, barulah Seungho membungkuk―memberikan penghormatan berdasarkan tradisi negaranya.

“Em, duduklah”

Myungsoo menduduki kursi yang tersedia tepat dihadapan meja kebesaran Lee Dongwook.

“Bagaimana kabarmu, Seungho” Lee Dongwook menanyakan keadaan anak buah ‘kesayangannya’.

Ya, kesayangan. Kim Myungsoo memang dikenal sebagai agen Intelejen yang memiliki kemampuan khusus pada bidang yang digelutinya, tidak salah bagi Lee Dongwook untuk menjadikannya sebagai anak buah ‘kesayangan’nya.

“Sejauh ini baik, Pak” Myungsoo menjawabnya dengan senyuman tipis, sebenarnya ia tak sabar untuk mengetahui apa maksud atasan memanggil dirinya. Namun, ia sudah memiliki beberapa kemungkinan dan ia sungguh tidak ingin satu dari semua kemungkinan terburuk yang dibayangkannya terjadi.

“Baiklah, sepertinya kau sudah mengetahui bahwa aku memang sangat tidak pandai dalam hal berbasa-basi”

Myungsoo menanggapi perkataan Lee Dongwook dengan tertawa kecil

“Mengenai kasus terakhir yang kau tangani”

Myungsoo menarik nafas berat, mengetahui kemungkinan terburuk yang diharapkannya tidak terjadi akan segera terbahas saat ini

“Aku tidak akan membahasnya lagi. Berdasarkan permintaan langsung dari pimpinan, kau akan mengalami pemindahan bidang. Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku yakin kau pasti bisa menghadapinya lagi pula Kim Myungsoo yang kukenal tidak pernah gegabah dalam bertindak”

Myungsoo tersenyum kecut mendengar pemberitahuan atas pemindahan bidangnya. Apa ia sanggup melepaskan bidang yang saat ini digelutinya? Bidang yang bersusah payah ia capai.

Lee Dongwook sebagai seseorang yang selalu mengamati perkembangan Kim Myungsoo merasa tidak enak hati karena harus memberitahukan kabar tidak menguntungkan itu. Dilihatnya Myungsoo menarik nafas berat menandakan kefrustasiannya “Mengenai bidang apa dan kapan kau memulainya akan kuberitahukan setelah kami menentukannya nanti, sekarang kembalilah bertugas”

“Baik, terimakasih atas rasa pedulimu padaku” setelah membungkuk kecil Myungsoo menginjakkan kaki keluar dari ruangan.

Ia berjalan di lorong kantor, namun pikirannya melayang entah kemana. Sesekali ia juga hampir menabrak orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.

DUG

Seseorang memukul kepala Myungsoo dari belakang, membuat Myungsoo harus menyentuh bagian yang terpukul hanya untuk mengharapkan bahwa rasa sakitnya akan berkurang sedikit. Ia sudah mengetahui siapa pelakunya, siapa lagi yang berani seperti itu padanya selain Park Chanyeol―sahabat terkutuk yang dimilikinya.

Yak! Kau ini. Ada apa denganmu? Kupanggil berkali-kali tapi kau tidak menyahut” Chanyeol merenggut pada Myungsoo dengan suara yang dibuatnya agar terdengar cute

Myungsoo tetap berjalan, tidak berniat sedikit pun untuk berhenti karena kedatangan Chanyeol “Maaf, aku sedang tidak baik”

“kalau seperti itu, aku akan membuatmu agar merasa lebih baik” Chanyeol menyunggingkan smirk andalannya, pertanda bahwa ia memiliki sesuatu yang baik―untuknya.

***

PRANG!

Serpihan gelas kaca yang baru saja terpecah berceceran di lantai, serpihan kecil maupun besar tentunya akan sangat membahayakan bila terinjak oleh kaki.

“Sudah kukatakan padamu, seharusnya kau menerima pekerjaan itu!” karena meluapkan seluruh emosinya, pria paruh baya yang merupakan pemecah gelas kaca tersebut terengah-engah menghirup oksigen bebas yang berada di sekitarnya.

Sedangkan, gadis berambut coklat yang merupakan lawan bicaranya terlihat pucat. Keringat dingin mengalir dan membasahi wajahnya. Ia baru saja pulang setelah seharian penuh mencari pekerjaan. Bukannya ia tidak memiliki pekerjaan, pagi hari ia akan bekerja di sebuah cafe siang harinya ia mengajar renang anak-anak yang berusia dibawah 9 tahun dan pada malam hari gadis cantik itu akan bekerja pada salah satu pengisian bensin. Terbukti, tidak ada waktu hidup yang ia sia-siakan bahkan waktu istirahatnya dengan sukarela ia korbankan untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya dan ayahnya yang adalah seorang pengangguran.

“Sampai kapanpun aku tidak akan menerima pekerjaan seperti itu, ayah”

“Dasar anak sialan!”

Rasa perih terasa menjalar dari wajah hingga ke hatinya, tidak ada yang lebih sakit dari tamparan ayahnya itu. Bukan hanya luka pada fisiknya, namun pada jiwanya juga ia merasakan kepedihan yang mendalam

“Sekarang, berikan aku uangmu!”

Gadis itu tetap diam pada pijakan kakinya, sebagai manusia normal ia tentu tidak rela harus memberikan uang hasil jerih payahnya pada seseorang yang bahkan baru saja menyakitinya.

“Jung Sooyeon, cepat kemarikan” dengan tidak sabaran karena tak mendapatkan respon yang diinginkannya, pria tersebut merampas tas yang berada pada tangan putrinya. Dengan kasar ia menjatuhkan semua isi dari tas itu dan mengambil dompet milik gadis itu―Sooyeon.

“Ayah! Ayah, kumohon jangan” pinta Sooyeon, ia berusaha menggapai dompetnya yang berada pada tangan kekar sang ayah. Ia menangis, berharap ayahnya akan merasa iba dan menghentikan semua tindakan buruknya padanya.

Namun, apa yang terjadi? Dengan satu hentakan Sooyeon sudah terduduk di lantai keras rumahnya sementara ayahnya mengambil semua dari uangnya yang berada di dalam dompet dan berlalu dengan melemparkan dompet Sooyeon tepat dihadapannya.

Sooyeon semakin menjerit dalam tangisnya, memang ini bukanlah kali pertama ia dikasari oleh ayahnya. Namun,  tetap saja rasa sakitnya semakin hari semakin menjadi membuatnya tak tahan hidup dengan keadaan yang seperti ini.

Hanya satu bayangan yang diharapkan Sooyeon akan benar-benar hadir saat ini juga, yaitu ibunya. Ibunya adalah tipe ibu idaman yang selalu mengerti perasaan anaknya dan mengetahui bagaimana cara menangani dan menyelesaikan suatu masalah. Saat kecil jika Sooyeon terjatuh ketika bermain maka ibunya akan datang dengan wajah penuh dengan kekhawatirannya, ia akan segera mengobati luka Sooyeon dan menenangkannya dari tangisan kecil.

Miris sekali bila dibandingakan dengan keadaan Sooyeon sekarang jauh dari kata bahagia, untuk saat ini.

***

Myungsoo menyirup pelan kopi hangatnya, sesekali tangannya terangkat keatas untuk memijat kepalanya yang masih terasa pusing akibat dari usaha Chanyeol―sahabatnya untuk membuat kondisi dirinya lebih ‘baik’

Ya, Chanyeol mengajak Myungsoo untuk minum―menghilangkan pikirannya di sebuah bar terkenal di Seoul. Bukannya Myungsoo tak terbiasa untuk minum, tapi mengingat kondisinya yang memang sedang tidak baik maka yang terjadi adalah Myungsoo akan menghabiskan minuman di atas batas kewajaran.

Terdengar suara ketukan pintu ruangannya

“Masuk”

Lelaki dengan kacamata yang bertengger di hidungnya memasuki ruangan Myungsoo “Kim Myungsoo, kasus pertama dibidang yang baru sudah menantimu”

“Benarkah?” hanya itu yang dapat dikatakannya untuk menanggapi pemberitahuan tersebut

“Ya, ini keterangan yang kau butuhkan” lelaki dengan kacamata itu menyerahkan beberapa kertas yang direkatkan menjadi satu “Dan kau diharapkan untuk segera ke ruangan ***

***

Kim Myungsoo memasuki sebuah ruangan berbentuk persegi empat yang tidak terlalu luas. Ruangan itu hanya terisi oleh beberapa bangku yang saling berhadapan dengan sebuah meja di tengah-tengahnya. Pencahayaan di dalam ruangan pun dapat dikatakan minim.

Myungsoo dapat melihat seseorang yang sedang memunggunginya. Ia berjalan menuju bangku yang berhadapan dengan seseorang yang akan diajaknya berbicara saat ini. Barulah ia dapat melihat dengan jelas wajah seseorang itu. Seorang gadis dengan rambut coklat dan wajah cantik namun dinginnya. Sangat disayangkan sekali, karena pada wajahnya terdapat beberapa luka memar dan lebam.

Myungsoo mendudukkan dirinya dan segera membuka satu per satu lembaran mengenai kasus yang harus ditanganinya saat ini. Keadaan sungguh sunyi mengingat gadis itu hanya terdiam dan Myungsoo yang sedang membaca dengan serius

“Baiklah nona Jung Sooyeon” Seungho memberi jeda akan perkataannya, sebenarnya ia melakukan itu untuk melihat reaksi gadis di depannya. Dan yang Myungsoo dapat adalah tidak ada, gadis itu tetap diam tak bergeming dan pandangannya tetap lurus ke depan. “em, aku telah membaca dan memahami kasus yang telah dialamimu. Ayahmu memiliki kegemaran yang tak lazim yaitu menganiaya dirimu, beruntung ketika malam di saat ayahmu melampiaskan amarahnya salah satu tetangga memasuki rumah dan menolongmu dan tetangga itu jugalah yang melaporkan perkara ini pada pihak berwajib”

Kedua tangan Sooyeon yang berada di atas meja terlihat bergetar hebat. Seungho melirik khawatir pada gadis itu.

“Nona Sooyeon?” Myungsoo bermaksud memastikan keadaan Sooyeon

Namun, Sooyeon makin merasa terancam akan keputusan Myungsoo menyebutkan namanya itu. Sooyeon menarik kedua tangannya yang bergetar dan menyembunyikannya dari pandangan Myungsoo di bawah meja.

Inilah yang tak disukai Myungsoo dari bidang barunya, ia bukanlah tipe orang yang dapat selalu bersikap manis dan sabar saat menginvestigasi seseorang. Itulah kendala yang sedang dihadapinnya saat ini.

“A-aku mohon, jangan kau apa-apakan ayahku”

Untuk pertama kalinya Myungsoo mendengar gadis itu membuka suaranya dan apa yang diucapkan oleh Sooyeon membuat Myungsoo terkejut. Berdasarkan apa yang dibacanya, Sooyeon tidak jarang dianiaya oleh ayahnya sendiri lalu bagaimana bisa ia memohon agar orang yang telah menyiksanya untuk tidak diapa-apakan.

“Apa yang kau maksud, Sooyeon-ssi?”

“Biar bagaimanapun dia adalah ayahku. Satu-satunya keluarga yang kumiliki, jadi kumohon agar kau tidak melakukan apapun padanya”

Sungguh, Myungsoo sangat tidak mengerti jalan pikiran gadis di depannya. Emosinya sedikit terpancing mendengar Sooyeon yang tetap mempertahankan ayah yang selalu menyiksa dirinya sendiri.

“Tapi hukum harus tetap berjalan disini, dan karena ayahmu telah melakukan pelanggaran maka ia sudah selayaknya untuk menerima hukuman yang sepadan” tegas Myungsoo pada  Sooyeon yang kini tengah berlinang air mata.

“Kau tidak mengerti. Kau tidak mengerti apapun!” Sooyeon menangkup wajahnya dengan kedua tangan, ia menangis dengan perasaan yang telah bercampur aduk menjadi satu

Di dunia ini Sooyeon memang hanya memiliki satu keluarga yaitu ayahnya, oleh karena itu ia benar-benar tak mau bila ayahnya akan meninggalkan dia untuk selama-lamanya karena hukuman yang akan diberikan.

“Aku rasa, kau masih memerlukan waktu untuk menenangkan pikiranmu Sooyeon-ssi” Myungsoo beranjak dari tempat duduknya menuju pintu, namun tertahan karena Sooyeon yang memegang pergelangan tangannya. Sungguh sebuah skinship yang tak terduga.

“Tolong bantu aku”

Hanya tiga kata namun berhasil membuat hatinya terenyuh saat itu juga.

Sebenarnya apa yang terjadi padanya saat ini, mengapa ia menjadi lemah hanya karena ketulusan seorang gadis pada seseorang yang telah menganiayanya?

“Aku akan sangat berterimakasih padamu” Sooyeon melepaskan genggamannya, tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia telah menyentuh bahkan memegang seorang pria yang baru dikenalnya.

Myungsoo tetap berjalan keluar dan menutup kembali pintunya―menghiraukan permintaan gadis itu.

“Dia terluka, apa kalian tak berniat mengobatinya?” Myungsoo bertanya pada bawahannya yang hanya dibalas dengan permintaan maaf mereka.

“Maafkan kami, kami akan segera mengobatinya”

“Baguslah, dan ingat jangan macam-macam padanya” peringat Myungsoo dengan tegas.

Myungsoo pulang ke apartemen miliknya dengan mengendarai mobil, sesampainya di sana ia segera membersihkan badannya di kamar mandi.

Setelah beberapa waktu, Myungsoo keluar dengan bagian pinggang hingga ke lutut terbalut oleh handuk. Rambutnya yang basah menghasilkan tetesan-tetesan kecil air.

Myungsoo keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana jeans dan kemeja putih yang tidak terkancing sepenuhnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tidak heran ia merasakan lapar saat ini.

Meskipun Myungsoo adalah seorang lelaki yang sibuk, namun ia selalu menyisihkan waktu untuk membersihkan apartemennya dengan tangannya sendiri. Myungsoo juga terbiasa memasak makanannya sendiri, karena ia memang tinggal sendiri tanpa keluarga di Seoul.

Ketika Myungsoo membuka kulkasnya, ia mendapati bahwa hanya seperempat kulkasnya yang terisi dan itupun tidak akan menghasilkan sebuah makanan yang lezat bila dipadukan. Maka satu-satunya solusi adalah ia harus keluar untuk membeli bahan-bahan makananya yang telah habis.

***

“Berapa liter yang anda butuhkan?” Sooyeon bertanya pada pelanggan pengisian bensin tempatnya bekerja.

Malam ini Sooyeon kembali bekerja, melupakan sejenak pikirannya akan sang ayah yang masih berada di kantor kepolisian.

“Terimakasih” ucap Sooyeon dengan suara riangnya sambil  membungkukan badannya kecil.

Sooyeon bersiap untuk menyapa sebuah mobil lain yang baru memasuki kawasan pengisian.

“Annyeong haseyeo, berapa―” Sooyeon menatap tak percaya pada siapa yang dilihatnya saat ini.

Ia masih mengingat wajah lelaki yang siang tadi ditemuinya. Seseorang yang diharapkannya dapat membantu permasalahannya saat ini.

***

Myungsoo tersenyum kecil melihat Sooyeon yang sudah melahap ramyeonnya. Ia sendiri mengambil sumpit dan memotongnya menjadi dua bagian dan mulai menyantap ramyeon yang sama seperti Sooyeon.

Myungsoo meminta izin atasan Sooyeon agar memperbolehkan gadis di sampingnya itu pergi keluar bersamanya. Myungsoo ingin mengajak Sooyeon untuk menemaninya makan malam karena sepertinya gadis itu memang belum mengisi perutnya, namun Sooyeon menolak dan lebih memilih membeli ramyeon di super market terdekat.

“Tenanglah, tidak akan yang memakan ramyeonmu itu”

Sooyeon menunduk malu dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Maaf, aku sangat lapar” aku gadis tersebut dengan jujur

“Jika kau lapar, seharusnya kau tidak memakan ramyeon karena kau tidak akan merasa kenyang meskipun sudah menghabiskan semuanya” Myungsoo mengatakan yang sebenarnya

Ramyeon saja sudah cukup kok, daripada tidak terisi sama sekali, bukan? Lagipula .. aku tak memiliki uang yang cukup” aku Sooyeon dengan volume suara yang cukup kecil pada akhirnya.

Tiba-tiba Sooyeon merasakan tangannya ditarik untuk menjauhi tempatnya saat ini “Ya-yak! Apa yang kau lakukan?”

“Ikuti saja aku” Myungsoo menarik Sooyeon keluar dari super market dan membukakan pintu mobilnya untuk Sooyeon, lalu memutari bagian depan mobil dan membuka pintu untuknya sendiri.

“Sebenarnya kau mau membawaku kemana Tuan Kim?”

Myungsoo tertawa geli mendengar pertanyaan Sooyeon, ia tertawa seperti tidak pernah tertawa saja.

“Ada apa Tuan Kim? Kenapa kau tertawa? Apa aku mengatakan yang salah?”

“Bukan, bukan begitu. Hanya saja, jangan memanggilku dengan sebutan itu”

“Sebutan yang mana? Eo, maksudmu ‘Tuan Kim’?” tanya Sooyeon menebak-nebak

“Ya, jangan memanggilku seperti itu” tegas Myungsoo “Panggil saja aku dengan namaku”

“Ta-tapi―”

“Jangan bilang kau tidak mengetahui namaku” canda Myungsoo

“I-itu benar”

Myungsoo terdiam sejenak, bila diingat kembali ia memang belum pernah mengenalkan dirinya pada Sooyeon. Jelas saja Sooyeon tidak mengetahui namanya dan memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan Kim’ yang menurutnya terdengar menggelikan itu.

“Baiklah, kita mulai dari awal. Namaku Kim Myungsoo”

“…”

Myungsoo menoleh untuk melihat Sooyeon yang sedang memandangnya

Eo-eoh, namaku Jung Sooyeon”

“Jadi siapa aku?”

“Myungsoo―Kim Myungsoo”

“Gadis pintar” Myungsoo mengelus lembut kepala Sooyeon tetap dengan pandangan yang lurus ke depan, mengawasi sepanjang jalan yang dilaluinya.

Dan , tentu saja Myungsoo tidak melihat wajah Sooyeon yang sudah semerah kepiting rebus itu.

Myungsoo memberhentikan mobilnya dan ia mengajak Sooyeon untuk berjalan kaki menuju kedai makanan tradisional korea yang berada di pinggir jalan.

“Wah, tak kusangka kau mengajakku ke tempat favoritku” Sooyeon menduduki salah satu bangku, dan Myungsoo menduduki bangku lainnya.

Setelah memesan keduanya menanti dalam diam, menikmati dinginnya kota Seoul di malam hari.

Pandangan Myungsoo jatuh kepada luka-luka memar di wajah Sooyeon

“Bagaimana dengan luka-lukamu?”

Sooyeon menyentuh luka yang berada pada sudut bibirnya, salah satu luka yang terlihat lebih merah dari yang lainnya “Hanya luka kecil, sebentar lagi juga akan hilang”

Ahjumma pemilik kedai pun mendatangi mereka dengan pesanan yang sudah siap saji

“Kalian berdua adalah anak muda yang tampan dan cantik”

“Terimakasih atas pujianmu” balas Myungsoo yang bingung harus mengatakan apa.

Ne, silahkan nikmati pesanan kalian”

Gamsahamnida” ucap keduanya bersamaan

Hal pertama yang dilakukan Sooyeon adalah menuangkan soju pada gelasnya dan menghabiskannya dalam satu tegukan “ahh..”

Myungsoo melakukan hal yang sama seperti Sooyeon.

Keduanya menikmati pesanan mereka masing-masing. Namun, bila sedari tadi diperhatikan Sooyeon lebih banyak meminum soju dibandingkan memakan makanan utamanya.

“Seharusnya aku membencinya .. ya, aku harus membencinya―hikk. Dia .. dia selalu memukulku bila ia tak mendapatkan apa yang di maunya. Aku lelah harus bekerja setiap waktu, hanya untuk―hikk me-menuhi keinginannya”

Sooyeon kembali menuangkan soju dan meminumnya hingga habis, sesekali air mata mengalir di pipinya―menandakan Sooyeon yang juga menangis.

Malam ini Myungsoo sedang tidak bernafsu untuk menghabiskan beberapa botol minuman tradisional korea itu. Myungsoo mengamati wajah Sooyeon yang memerah terutama di bagian hidungnya karena efek dari cuaca dingin dan soju yang diminumnya. Ia memperhatikan semua gerak-gerik yang dilakukan gadis itu.

“Ta-tapi aku tak dapat membencinya. Aku juga tak mengerti mengapa untuk membencinya saja aku tak bisa. Apa kau―hikk tahu mengapa aku tak dapat melakukannya?” tanya Sooyeon  yang sebenarnya tak jelas ditujukan kepada siapa.

Sooyeon berniat menuangkan kembali soju, dan hal yang selanjutnya terjadi membuatnya sangat kecewa. Tidak ada yang keluar dari botol yang dipegangnya. Merasa tak percaya, Sooyeon mengangkat botol dan mengarahkan pada mulutnya berharap cairan tersebut dapat membasahi tenggorokannya.

“u-uh, ahjumma-ya tolong bawakan aku .. sebotol .. lagi―”

BRUK

Myungsoo dengan refleks berdiri dari tempat duduknya―terkejut, gadis yang sedang bersamanya ini sungguh tak dapat diprediksi keadaannya.

Setelah berpikir beberapa saat, hal yang harus dilakukan saat ini adalah mengantarkan Sooyeon pulang ke rumahnya.

Ne, ini soju yang kau min―lho, apa yang terjadi dengannya?” tanya ahjumma pemilik kedai saat melihat Myungsoo yang tengah berusaha membopong Sooyeon untuk berdiri.

“Dia telah berada di batasnya ahjumma” Myungsoo merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa kertas uang yang cukup untuk membayar semua pesanan mereka di kedai ini “Terimakasih atas pelayananmu, kami permisi” ucap Myungsoo setelah memberikan uangnya

“Hati-hatilah di jalan, anak muda”

***

Kini Myungsoo sudah berada tepat di depan rumah sederhana milik Sooyeon. Jika ada yang bertanya dari mana Myungsoo mengetahui alamat rumah Sooyeon, maka jawaban yang paling tepat adalah Myungsoo mendapatkan semua tentang gadis itu sebagai salah satu informasi untuk penanganan kasus terbaru yang harus ditanganinya.

Sekarang satu kendala agar Myungsoo dapat membawa gadis itu memasuki rumahnya adalah ia tidak memiliki kunci rumah itu sendiri.

Tidak mungkin ia mendobrak pintunya, terdengar konyol apalagi jika sampai dilakukan. Maka satu-satunya jalan adalah menemukan kunci rumahnya yang pasti berada pada Sooyeon.

“Arghh” lelaki tampan itu mengerang frustasi “Aku tak percaya akan melakukan ini” ucapnya setengah putus asa

Myungsoo mengambil tas yang ada pada gadis yang tengah pingsan di sampingnya, lalu merogoh dan tak berapa lama menemukan kunci dengan gantungan boneka panda yang berukuran cukup kecil.

Myungsoo mengendong Sooyeon di punggungnya dan menutup kembali pintu mobil miliknya. Setelah membuka pintu rumah sederhana itu, Myungsoo pun membawa Sooyeon ke dalam kamarnya―menurutnya dan menidurkan Sooyeon di ranjangnya.

Kini perasaan Myungsoo sudah dapat dikatakan  tenang karena telah mengantarkan gadis yang belum lama dikenalnya itu dengan selamat, meskipun dalam keadaan yang tidak baik.

Sooyeon bergerak ke sana ke mari di atas ranjangnya, ia juga tertawa sendiri. Namun, berbeda dengan tawa biasanya karena tawaannya kali ini lebih dapat dikatakan seperti senandung kesedihan seseorang.

Myungsoo duduk di tepian ranjang dan meletakan jari telunjuknya pada bibir ranum Sooyeon “Shut, tidurlah”

Ajaibnya apa yang dilakukan Myungsoo itu berhasil, Sooyeon berhenti dengan senandungannya dan mulai tertidur dengan pulas dengan dengkuran halusnya.

Myungsoo tersenyum, mengetahui kenyataan bahwa gadis itu ternyata hanya gadis lemah yang mencoba untuk tetap kuat di hadapan semua orang. Myungsoo tidak dapat menerima jalan pemikiran Sooyeon yang masih saja menyayangi ayahnya, padahal ia telah melakukan banyak kesalahan yang tentunya menyakiti menyakiti dirinya sendiri.

Dia menyadari bahwa Sooyeon bukanlah gadis biasa seperti yang banyak dijumpainya. Sooyeon memiliki keistimewan tersendiri, meskipun itu tak terlihat secara langsung. Banyak hal baru yang didapatkannya dalam diri Sooyeon―seorang gadis biasa yang hidup di tengah-tengah ketidak adilan dunia.

Dan saat ini dia telah menemukan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi oleh Sooyeon. Ya, solusi. Hanya itu yang dapat dilakukannya saat ini.

***

Seberkas cahaya memasuki kamar Sooyeon dengan malu-malu, membangunkan Sooyeon karena silaunya.

“Eunghh” dia meregangkan satu per satu bagian tubuhnya, entah kenapa rasa pegal yang tak biasa menyerangnya pagi ini.

Di liriknya jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh.

Sepuluh?!

Sooyeon terduduk di ranjangnya “Ayah!” serunya menyadari sesuatu yang ganjal dengan suasana pagi ini. Tidak ada ayahnya yang selalu menggedor dan membangunkan paksa dia untuk bekerja “Ayah” dia mengingatnya, ayahnya kini masih ditahan oleh pihak yang berwajib―bukan ditahan untuk waktu yang sudah ditetapkan namun, ditahan untuk menunggu tindakan apa yang seharusnya dilakukan.

Sooyeon bangkit dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sebelum dia pergi ke tempat ‘itu’ lagi.

***

Myungsoo tersenyum mengetahui bahwa rencananya sebentar lagi akan terwujud, dan yang terpenting dia berharap Sooyeon akan merasa lebih baik akan keputusannya.

“Kim Myungsoo! Myungie~”

Seketika senyumnya memudar tergantikan oleh poker facenya setelah mengetahui siapa yang baru saja memasuki ruangannya tanpa izin itu.

Yah, ada apa dengan wajahmu itu eoh? Apa kau tidak rindu pada sahabatmu yang tampan ini” Chanyeol merajuk dengan wajahnya yang dibuat agar terlihat cute yang hanya akan membuat perut Myungsoo merasa mual seketika. “Tapi saat aku baru masuk tadi kau terlihat seperti sedang tersenyum. Katakan padaku apa yang membuatmu segembira itu?”

“Kau ini, tidak pernah berubah selalu saja ingin mengetahui masalah orang.”

“Apa salahnya? Lagian seingatku kau bukanlah orang” celetuk Chanyeol

Neo!”

Chanyeol tersenyum tiga jari yang menandakan bahwa dia sedang bercanda. Setidaknya tindakan Chanyeol itu menambahkan kefrustasian Myungsoo yang ditandakan dengan hembusan berat nafasnya.

“Jadi kau tak ingin memberitahuku? Baiklah―”

“Sebenarnya apa yang membuatmu jadi seperti ini Park Chanyeol?” Chanyeol tersenyum lebar sehingga gigi-gigi putih dan rapihnya terekspos mengetahui Myungsoo yang sudah mulai terbuka kembali padanya.

Meskipun Myungsoo terkenal sebagai orang yang dingin, namun sejauh ini Chanyeol selalu berhasil mencairkan suasana di antara mereka. Salah satu faktor terbesarnya adalah karena mereka berdua telah menjalin pertemanan sejak kecil.

Usaha Chanyeol berhasil, Myungsoo menceritakan semuanya pada sahabatnya itu.

***

“Jadi apa yang membuatmu datang kemari, Jung Sooyeon”

Ya, Sooyeon mendatangi kantor Intelejen Seoul hanya untuk menemui Myungsoo. Setelah bertanya di mana ruangan Myungsoo pada beberapa staff yang berbaik hati padanya, dia pun segera melesat dan di sini dia sekarang―ruangan Myungsoo.

“Em―”

“Apa soal ayahmu lagi?”

Sooyeon yang tadinya menunduk, melayangkan pandangannya pada Myungsoo. Bagaimana bisa dia mengetahui maksud kedatangannya kemari. Tapi jika dipikirkan lagi memang hanya itu bukan keperluan di sini?

“Itu benar. Di hari pertama kita bertemu aku pernah memohon bantuan padamu, bukan? Aku sungguh-sungguh akan itu, hingga sekarang aku masih menunggu” aku Sooyeon sejujurnya.

Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat bagi Myungsoo untuk memberitahukan rencananya.

“Aku telah memikirkannya, dan hanya ada satu solusi yang dapat kulakukan untukmu”

Mata Sooyeon bersinar cerah, mengetahui kenyataan bahwa mungkin segalanya akan segera berakhir.

“Ayahmu akan dilepaskan dengan syarat kalian harus hidup terpisah, atau dengan kata lain kau harus menjauhinya”

“Ba-bagaimana bisa?” Sooyeon tercekat

“Dengar, ayahmu adalah seorang pengangguran dan pemabuk yang tega menyiksa putrinya sendiri. Maka dari itu, satu-satunya jalan adalah membuatmu terpisah darinya agar tindakan kriminalnya itu terhenti”

Sooyeon dapat meneria pemikiran Myungsoo yang tidak ingin agar dirinya terluka kembali. Namun, karena ayahnya adalah seorang pengangguran dan pemabuk bagaimana dia akan menghidupi dirinya sendiri?

“Tapi, dia tak bisa menghidupi dirinya sendiri.”

“Itu tidak akan terjadi. Naluri seorang manusia adalah melakukan apapun untuk menghidupi dirinya sendiri. Aku yakin naluri itu masih ada pada diri ayahmu.”

Ya, itu memang benar. Tapi masih ada satu lagi yang mengganjal di hati gadis cantik itu.

“Tapi, aku tak memiliki apa-apa lagi sekarang. Aku tak akan bisa menyewa tempat tinggal yang baru”

Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Myungsoo

“Tinggalah bersamaku”

***

TO BE CONTINUED

Ini chapter pertama dari project baruku yang absurd ini -_-

Semoga pada suka ^^

Dan kalau pada suka, ga salah dong kalau aku ngingetin untuk pada ninggalin coment kekeke

Paii paii

32 thoughts on “[Freelance] On You : I found lowliness (chapter one)

  1. Dari kemaren cuman kesimpen di draft dan baru baca ini, baguuusss~ aiihh suka sama myuuung~ sooyeon-myung tinggal bareng? Aiih, baru kenal udah ngajak tinggal bareng wkwkwkk.. Papinya sooyeon kejem deh -_- semoga dia cepat tobat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s