[Chapter 1] Things Never Think

cover-248

 

 

Title : Things Never Think | Author : yulkim98 | Rating : PG-13 | Length : Chaptered | Genre : Romance, Fluff, Angst | Main Cast : Kim Jaejoong, Jessica Jung | Other Cast : Find by your self

Poster by
Hanhyema | http://jacobsquincy.wordpress.com/

Check the prologue first!

Prologue

JUST HAPPY READING
***
Kim Jaejoong, aktor yang karirnya sedang naik daun akhir-akhir ini terlihat sedang merayakan kesuksesannya dalam pembuatan film terbarunya di sebuah club malam berkelas. Hingar bingar kehidupan malam jelas terlihat di dalam tempat tersebut.
“Apa kalian tahu bagaimana reaksi mereka?” tanya seorang lelaki berbadan gemuk pada Jaejoong dan beberapa orang lainnya “mata mereka membulat seperti ini” orang itu mencontohkan sebuah mimik wajah terkejut, dengan kedua bola mata yang membesar “dan mulut mereka terbuka seperti ini” orang tersebut kembali mecontohkan sebuah ekspresi, dan berhasil membuat orang-orang yang sedang diajak berbicara tertawa, sedangkan Jaejoong memepertahankan sisi cool pada dirinya ia hanya tersenyum miring.
tidak semata-mata hanya untuk mempertahankan sisi cool nya, namun sebenarnya lelaki yang saat ini sedang menuangkan red wine pada gelasnya itu memang tidak tertarik pada topik pembicaraan mereka kali ini.
Dering ponsel terdengar dari saku celana milik Jaejoong, ia meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut. Meminta izin? Yah, hal tersebut dilakukannya karena ia masih menyadari adanya tenggang rasa untuk mereka yang berbeda usia, terlebih hampir semua orang yang bersamanya berusia diatas dirinya.
Yoboseyeo
Oppa! Ini aku, Jiyeon” jawab seorang gadis di ujung sambungan telepon, dari suaranya kita dapat mengetahui bahwa gadis tersebut sungguh antusias memulai percakapan dengan Jaejoong
Mendengar pernyataan gadis tersebut, Jaejoong menegakkan badannya dan sedikit membenarkan genggamannya pada ponsel canggih miliknya. “Jiyeon?”
Ne, ini aku oppa” mengetahui Jaejoong yang meragukan keberadaan dirinya, gadis itu kembali meyakinkannya. Pria tersebut memang ragu, pasalnya Jiyeon adalah juniornya saat ia berada di bangku sekolah, lebih tepatnya lagi Jiyeon dan dirinya pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, gadis itu menghilang begitu saja di saat dirinya telah merasakan apa itu arti cinta yang sesungguhnya.
***
Jessica memasuki sebuah club malam di kawasan kota seoul, tempatnya bekerja pada malam hari.
Eoh, kau sudah datang?” seorang gadis dengan rambut yang diikat satu ke atas terlihat sedang merapihkan apron yang digunakannya.
Ne, kelihatannya kau juga baru datang Hara-ssi
“Begitulah, ada tugas kuliah yang tidak bisa kutunda untuk diselesaikan” jawab Hara sambil mengurai kembali rambut panjangnya “Cepatlah bersiap-siap, bantuanmu sangat dibutuhkan, aku duluan~”
Ne” jawab Jessica singkat, dan ia segera bersiap untuk bekerja di tempat yang semakin malam akan semakin ramai ini.
***
Setelah memarkirkan mobilnya, Jaejoong keluar dari mobilnya dan memasuki sebuah restoran, musik bernuansa Italia memasuki panca inderanya. Namun, bukan itu tujuannya mendatangi tempat ini.
Pria berkulit putih tersebut mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan terhenti ketika ia melihat seorang perempuan yang duduk membelakanginya. Ia sangat mengenali pemilik punggung itu, seseorang yang sangat dirindukannya.
Perlahan tapi pasti Jaejoong semakin mendekati meja perempuan itu, ia sendiri tidak mengetahui apa yang membuat ia harus memperlambat langkahnya. Kini Jaejoong telah berada di hadapan Jiyeon, perasaannya terasa campur aduk ketika ia dapat melihat dengan jelas wajah tersebut.
Oppa!” tanpa berpikir panjang, Jiyeon berhambur ke dalam pelukan Jaejoong “Aku sangat merindukanmu” ucap gadis itu lembut.
Apa yang dirasakan Jaejoong ketika Jiyeon memeluknya sekarang, berbeda dengan apa yang dirasakannya dulu. Ia sangat lega dapat bertemu dan melihat wajah gadis itu lagi, namun pria tersebut tidak merasakan apa-apa ketika Jiyeon memeluknya.
Jaejoong yang tengah dilanda kebingungan, tidak bergerak sedikit pun bahkan hanya untuk meletakkan tangan, membalas pelukan itu pun tidak ia lakukan.
Oppa, wae?”
Merasa tidak mendapatkan respon balasan, Jiyeon kembali memanggil Jaejoong “Oppa!”
Eoh?” Jaejoong mencoba menutupinya dengan senyuman khasnya
Sillyehamnida Tuan dan Nyonya, apa anda ingin memesan?” seorang pelayan dengan ramahnya menghampiri dan menanyakan pesanan Jaejoong dan Jiyeon.
Ne” Jaejoong menduduki tempat duduknya, yang juga diikuti oleh Jiyeon. Jaejoong memesankan makanan untuk dirinya dan juga untuk Jiyeon. Mengetahui Jaejoong yang masih mengingat menu makanan Italia kesukaannya, Jiyeon gadis bermata indah itu tersenyum penuh arti.
Jaejoong POV
Dia memelukku dengan sangat erat, tapi apa yang kurasakan? Aku hanya merasa lega bahwa dirinya ternyata baik-baik saja, tidak ada perasaan lebih seperti yang kurasakan beberapa tahun lalu.
Oppa, wae?”
Sungguh aku tak berbohong, aku tak dapat merasakan perasaan itu lagi. Semuanya terasa biasa saja saat ini. Apa sebenarnya yang terjadi?
Oppa!” Jiyeon memanggil namaku dengan cukup keras, terlihat guratan kesal pada wajah cantiknya
Sillyehamnida Tuan dan Nona, apa anda ingin memesan?” kulihat wanita yang berprofesi sebagai pelayan di restoran Italia ini, Ia terlihat cukup kaget saat melihat wajahku. Kenapa, kau mengenaliku eoh?
Segera aku menduduki tempat dudukku, yang lalu diikuti oleh Jiyeon. Sejenak aku memutar memori saat aku dan gadis dihadapanku ini juga pergi ke restoran yang sama beberapa tahun yang lalu, aku masih sangat mengingat makanan kesukaannya. Dapat kulihat wajahnya yang menjadi ceria setelah aku mengatakan beberapa menu makanan kesukaannya pada pelayan.
Oppa, bagaimana kabarmu?” Jiyeon memulai pembicaraan diantara kami yang sedang menunggu pelayan untuk membawakan pesanan. Kau baru mempertanyakan kabarku saat ini, seharusnya kau menanyakan itu di saat kau pergi meninggalkanku.
Aku memberikan senyum terbaikku untuknya “Baik, sangat baik”
“Syukurlah, aku senang mendengarnya” Jiyeon memegang dam mengusap cincin-cincin yang berada di jari-jari lentiknya itu. Aku tidak mungkin lupa dengan kebiasaannya yang satu ini, setiap dia merasa gugup, cemas, maupun takut dia pasti selalu melakukan hal itu.
Sepertinya ada sesuatu penting yang ingin disampaikannya, yang membuatnya menjadi gugup seperti sekarang ini.
“Sebenarnya, a-aku ingin mengatakan sesuatu” Jiyeon menarik napasnya dalam bersiap untuk melanjutkan kalimatnya yang terlihat sangat berat itu. Aku dapat melihat mulutnya yang mulai terbuka untuk mengatakan sesuatu namun terhenti, ketika pelayan yang sama membawakan makanan Italia pesanan kami.
“Ini makanan dan minuman anda Tuan dan Nona, selamat menikmati” Pelayan wanita itu mengedipkan matanya padaku, sebelum benar-benar menghilang dari meja kami. Aku menolehkan pandanganku pada Jiyeon yang kembali terlihat kesal dan .. cemburu, sepertinya dia melihat perlakuan pelayan tadi padaku.
Aku berniat mengatakan sesuatu untuk memperjelas apa yang dipikirkannya saat ini, namun sebelum aku hendak membuka mulut, ia terlebih dahulu mengeluarkan suara yang meyakinkanku bahwa ia sungguh kesal dan cemburu padaku. Aish, anak ini.
Oppa, lebih baik kau menyantap hidanganmu, itu terlihat lezat”
Ya, lezat sungguh lezat. Tapi aku merindukan vodka kesukaanku.
***
Jessica POV
Kembali pada pekerjaan malam hariku, menjadi seorang bartender di salah satu club ternama di kota yang kutinggali. Setelah memastikan penampilanku yang terlihat rapih, aku mulai melayani para pelanggan yang mayoritas adalah orang-orang berada.
Sayangnya orang-orang tersebut tidak mengetahui bagaimana caranya mensyukuri apa yang telah mereka miliki, sehingga membuat mereka menjadi penghuni tempat malam yang menyedihkan ini.
Vodka
Seorang pria menduduki bangku yang berada dihadapanku. Aku segera menuangkan vodka pesananya ke dalam gelas kecil, dan mengarahkan padanya “Pesananmu, Tuan” ucapku dengan sopan. Meskipun tempat ini adalah tempat yang dapat dikatakan tabu, namun kesopanan tetap dijunjung tinggi terlebih oleh seorang pelayan sepertiku.
Pria itu meminum vodka-nya dalam sekali teguk, aish jinjja! sepertinya dia sangat haus. Dia menuangkan kembali segelas dan meminumnya sampai habis. Aku berpikir, bagaimana ia dapat dengan mudahnya meminum cairan pembunuh itu? Apa ia tidak merasa tenggorokan dan perutnya memanas? sepertinya aku mulai mempercayai sebuah pepatah yang mengatakan ‘ala bisa karena biasa’.
Berkata soal kebiasaan, sepertinya aku baru melihat pria ini. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, karena itu dapat kupastikan bahwa dia adalah pendatang baru. Sama seperti beberapa pemuda yang kutemui, mereka mengatakan bahwa perpindahan mereka ke kota ini dikarenakan harus mengurusi beberapa cabang perusahan ayahnya.
Andai saja aku yang berada di posisi mereka, mungkin dengan senang hati aku akan menerimanya dan menjalankannya dengan baik. Mungkin.
Tak terasa pria ini sudah menghabiskan sebotol vodka, ia memberiku isyarat untuk memberinya sebotol lagi. Aku segera mengambil sebotol vodka yang berada di rak terdekat, dan ketika aku berbalik untuk memberikannya, aku melihat pria itu tengah menggoda wanita di dekatnya. Tak lama pria tersebut menyentuh wajah wanita itu, dan menciuminya yang berakhir dengan bibirnya berada dibibir sang wanita.
Aku segera memalingkan wajahku, memang bukan kali pertama aku melihat orang yang sedang berciuman tapi tetap saja perasaanku tak enak seperti ada sesuatu yang menyuruhku untuk tak melihatnya lebih lama.
Aku tak tahu harus melakukan apa. Jadi, kuputuskan untuk meletakan botol vodka pesanan pria itu di samping gelas miliknya.
“Jessica-ssi
Kudengar Hara memanggilku dari bagian belakang pantry, dan memberikan isyarat untuk segera menghampirinya.
“Ada apa?”
Manager oppa memanggilku, sepertinya urusan penting. Jadi, aku ingin kau memberikan pesanan ini pada mereka”
Aku melihat jari telunjuk Hara mengarah pada sekumpulan lelaki muda yang tengah tertawa bersama-sama. Letak tempat duduk mereka tidak terlalu jauh dari pantry. Sebenarnya aku sama sekali tak memiliki nafsu untuk menjadi seorang pelayan pengantar, tapi sepertinya Hara benar-benar dalam keadaan terdesak.
“Baiklah” Aku baru saja hendak mengambil nampan yang berada pada Hara ketika suara benturan sesuatu terdengar dari tempat lelaki asing tadi.
Aku berlari menuju tempatnya, dan kulihat lelaki asing itu sudah terkapar di lantai keras club.
Arghh” erangnya kesakitan, dia menyentuh luka pada sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
Lelaki itu mencoba untuk berdiri dengan sempoyongan―sepertinya pengaruh vodka yang sudah ia minum. Kejadian selanjutnya, aku tak percaya. Dia memukul perut pria yang sudah memukulnya.
“Sialan! Kau sudah mencium gadisku, dan sekarang kau malah memukulku?!”
Jadi perempuan yang telah berciuman dengannya adalah gadis lelaki itu, pantas saja dia dipukuli.
Namun, kini keadaannya sudah tak seimbang. Lelaki itu telah digerayangi oleh empat pria sekaligus yang bergantian melayangkan pukulan dan tendangan.
Keringat dingin menuruni pelipisku, aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Wajah lelaki asing itu sudah penuh luka―darah segar mengalir dari pelipis, hidung, dan sudut bibirnya. Aku tak dapat menahannya lagi, aku membuka apron yang kukenakan dan menaruhnya asal di meja pantry.
“Tuan-tuan tolong hentikan” aku mencoba melerai mereka meskipun sepertinya mereka tak berniat mendengarkanku. Sepertinya aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan bersiap “Hentikannnnnn!”
Oops sepertinya berhasil, karena kini orang-orang terdiam dan memandang kearahku.
“Arghh
Aku melihat lelaki itu yang lagi-lagi mengerang kesakitan. Segera aku mendekatinya dan memapahnya untuk berdiri.
“Jessica, kau mengenalnya?” tanya maneger oppa yang berusaha untuk melihat wajah lelaki itu namu, tak berhasil karena lelaki yang berada di sampingku ini menunduk―tak dapat lagi menyanggah kepalanya sendiri.
“Iya, ta-tapi tidak―maksudku”
“Sudahlah, lebih baik kau membawa dia keluar dari tempat ini sebelum keadaan akan benar-benar menjadi buruk”
“Ta-tapi―”
“Cepatlah!” manager oppa menyapukan pandangan pada seluruh penjuru ruangan “cepat” maneger oppa mendorongku untuk segera keluar.
Dengan menahan beban berat pada sebagaian tubuhku, akupun keluar dari club.
Uh, lelaki ini sangat berat dan bau alkohol tentunya. Sebuah taksi dengan kecepatan normal menuju ke arahku berada.
“Taksi!”
Taksi yang kupanggil pun berhenti, dan aku pun membukakan pintu untuk lelaki asing ini. Dengan seluruh tenagaku, aku memasukan lelaki asing itu, dan membungkuk untuk membenarkannya. Lalu aku kembali berdiri tegak untuk masuk melalui pintu yang satunya
KREK
Aw, aku merasakan sakit pada bagian punggungku yang membuatku harus berjalan dengan hati-hati dan memasuki taksi.
***
Anonymous POV
Aku membidik mereka dengan kameraku untuk terakhir kalinya. Hasilnya sungguh memuaskan. Aku tak menyesal berjalan-jalan malam ini, karena apa yang kudapatkan kini sungguh bernilai tinggi.
Dan yang terpenting adalah Kim Jaejoong itu akan merasakan akibatnya.
***
Jessica POV
Uh, sugguh menyusahkan sekali lelaki asing ini. Dan sekarang bagaimana aku akan mengantarkannya jika alamat rumahnya saja aku tak tahu?
Aishh, jinjja!
Kulihat dia tertidur dan meracau tak jelas―mungkin karena efek dari alkohol yang diminumnya. Aku terus memperhatikannya keseluruhan hingga kedua bola mataku berhenti pada bagian bokongnya.
Em, maksudku saku celana bagian belakangnya―jika kalian ambigu. Lebih tepatnya lagi aku melihat dompet kulit berwarna hitamnya.
Sungguh, aku melakukan ini dengan sangat terpaksa dan tidak ada maksud untuk apapun. Justru yang kulakukan saat ini telah merugikanku dan membuatku kerepotan.
Aku mengambil dan membaca kartu pengenal yang dimilikinya.
Kim Jaejoong
Jadi itu namanya, yah setidaknya terdengar seperti nama seorang lelaki.
Kuakui dia 1 tahun lebih tua dariku. Nah, ini dia alamat rumahnya.
Gold apartement lantai delapan belas no. 1002
Ahjussi, tolong antarkan kami ke Gold apartement
Sesampainya di apartemen mewah di mana lelaki ini tinggal, aku kembali membopongnya menuju lift terdekat. Hampir semua orang yang kutemui memandangku dengan pandangan tak suka.
Memangnya apa yang salah denganku? Aku tidak melakukan sesuatu yang salah bukan? Ah, masa bodohlah.
Mengapa waktu terasa begitu lama ketika berada di dalam sini?
Aku dapat mencium bau alkohol yang berasal dari mulut lelaki bernama Jaejoong ini, pastinya karena ruangan lift yang terbilang kecil inilah penyebab mengapa bau itu sangat menyengat.
Jaejoong ini sebenarnya dapat dikatakan sempurna. Matanya, bibirnya, bentuk wajahnya hanya saja dia melakukan kebodohan yang menjadikannya sama seperti lelaki-lelaki biasa di luar sana.
Aish, apa yang kau pikirkan Jessica Jung!
Aha! Finally, lift ini sudah berada di lantai delapan belas sesuai dengan yang tertera di kartu pengenalnya. Sekarang yang perlu kulakukan hanyalah mencari apartemennya yang bernomor 1002.
998
999
1000
1001
1002
Ini dia, menemukan sebuah pintu saja dapat membuatku bahagia karena mungkin penderitaanku malam ini dapat segera terselesaikan.
Aku mohon tidak lagi. Oh, sial. Bagaimana aku dapat mengantarkan lelaki ini jika aku sendiri tidak mengetahui kode verifikasinya.
***
Disinilah Jessica sekarang, disamping sebuah pintu bernomorkan 1002 bersama Kim Jaejoong―lelaki asing yang dengan tak diundang datang dan merepotkan dirinya. Duduk terdiam, berharap siapa pun datang untuk menolongnya.
Yang diinginkannya saat ini adalah kembali ke apartemen sederhananya, mengisi perut yang kosong dan bercinta dengan ranjang kesayangannya. Namun, mengapa hal sederhana seperti itu sangat sulit untuk diwujudkan. Seperti itulah pemikiran Jessica―seorang gadis lugu yang terjebak di dalam sebuah Destiny Game.
Yang menguntungkannya adalah keadaan lorong yang sangat sepi sehingga tak ada seseorang yang melihat fenomena ini. Mungkin yang menjadi penyebabnya adalah karena lantai delapan belas ini termasuk lantai-lantai puncak apartemen.
Jessica melirik Jaejoong yang tertidur pulas meskipun sesekali ia meracau tak jelas.
Sepertinya dia akan melewati malam ini dengan tidur beralaskan ubin keras dan dingin, karena menurutnya tak mungkin ia meninggalkan Jaejoong sendirian―dirinya tak sekejam itu.
***
Bulan tergantikan oleh Sang Surya, gelap tergantikan oleh terang. Pagi ini alam memerankan perannya masing-masing seperti biasa. Tapi ada satu yang membuat pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.
Jessica tertidur dengan pulas, bagimana ia dapat tertidur dengan pulasnya? Bukannya ia dan jaejoong masih berada di depan pintu apartemen?
Jawabannya adalah karena Jessica menyenderkan kepalanya pada bahu Jaejoong, sementara Jaejoong menyenderkan kepalanya di atas kepala Jessica. Jadi tak aneh, jika keduanya dapat tertidur dengan nyenyak.
Sebuah ringtone penanda panggilan masuk pada ponsel Jaejoong berhasil membuat lelaki tampan itu menggeliat dan membuka matanya perlahan demi perlahan.
Matanya membulat seketika
Ya-yah!”
Jessia terbangun karena mendengar seruan seseorang di dekatnya, menyadari jarak mereka yang sangat dekat Jessica segera menjauhkan dirinya.
Jaejoong bangkit dari tempatnya dari semalam, masih dengan sedikit sempoyongan.
“Kau siapa?”
“Aku yang menolongmu dari kejadian semalam”
“Ke-kejadian semalam? Apa maksudmu? Kau mencoba membohongiku?”
Jessica yang tak terima dituduhi membohong segera bangkit, kini keduanya dapat dengan jelas memandang satu sama lain.
“Bukannya sudah kukatakan? Aku yang menolongmu bukannya membohongiku” Jessica mulai naik pitam karena watak pria berkulit putih ini
Jaejoong tersenyum menyeringai “Sudahlah, kau tak perlu berbohong sampai seperti itu. Kau mau apa? Tanda tanganku atau berfoto denganku?” dengan percaya dirinya Jaejoong berkacak pinggang di hadapan Jessica.
Jessica terkejut mengetahui watak asli Jaejoong “Mwo?”
“Ah, aku tahu. jika kau tak menginginkan semua itu, kau pasti menginginkan ini. Tapi berjanjialah setelah kuberikan kau segera pergi dari sini” Jaejoong mengambil dompet kulitnya dan mengeluarkan beberapa lembar won dalam pecahan yang besar
Jessica hanya dapat memperhatikan gerak-gerik Jaejoong dengan mata yang tetap membulat karena keterkejutannya.
“Ambilah” Jaejoong menyodorkan kertas bernilai tinggi itu pada Jessica
Ringtone tanda panggilan masuk ponsel Jaejoong kembali berbunyi. Jaejoong segera menjawabnya, sementara Jessica terpaku di tempatnya sambil berusaha mengontrol emosinya.
“Jaejoong, kau di mana?!” tanya seseorang di ujung telepon, terdengar dari suaranya orang tersebut sangatlah panik.
Baru saja Jaejoong akan menjawabnya, namun orang tersebut kembali berucap.
“Para wartawan telah mengepung Gold Apartement, mungkin mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemenmu. Jadi jangan keluar dari tempatmu, kukatakan sekali lagi tetaplah di dalam sana”
Panggilan pun terputus. Jaejoong melayangkan pandangan pada pintu lift, bukanlah tidak mungkin jika bencananya akan datang dari dalam sana.
Tanpa berpikir panjang Jaejoong memegang lengan Jessica dan menariknya memasuki apartemennya.
Yah! Ada apa denganmu?” Jessica melepaskan paksa pegangan Jaejoong pada lengan kananya
“Sebentar lagi mereka akan datang, kau tak akan selamat jika mereka melihatmu”
“Apa sebenarnya maksudmu? Jangan gila!”
Jaejoong memandang Jessica dengan tatapan menyelidiknya “Kau tak tau siapa aku?”
Sebenarnya Jessica mengetahui beberapa informasi mengenai lelaki itu dari kartu pengenalnya, namun ia tak akan memberitahukan itu pada Jaejoong. Karena mungkin saja lelaki itu berpikiran yang bukan-bukan akan Jessica.
“Aku tak tahu siapa dirimu Tuan yang terhormat. Aku hanya membawamu kemari setelah kau dipukuli oleh beberapa orang di club tempatku bekerja kemarin malam”
Jaejoong terkejut, bagaimana bisa gadis ini tak mengetahui siapa dirinya. Dia mulai mencurigai bahwa gadis itu tak memiliki televisi atau alat elektronik apapun di rumahnya atau mungkin Jessica berasal dari dunia lain.
“Baiklah, aku Kim Jaejoong. Aku adalah aktor dan penyanyi” aku Jaejoong.
Jessica tak mempercayainya. Rupanya lelaki sombong ini adalah aktor terkenal yang sedang ramai diperbincangkan saat ini.
Jaejoong meninggalkan Jessica yang masih diam terpaku menuju ruang tengah, dia menyalakan televisinya dan menjatuhkan diri di sofa.
Kim Jaejoong aktor dan penyanyi tampan yang sedang menapaki puncak karirinya kini, kemarin malam terlihat sedang bersama seorang wanita menaiki sebuah taksi. Banyak orang berspekulasi bahwa wanita itu adalah kekasih baru dari lelaki tampan itu. Hingga saat ini―”
Jaejoong tak mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya itu, begitu juga dengan Jessica yang baru saja memasuki ruang tengah.
Jaejoong menatap Jessica, meminta penjelasan gadis itu.
“I-itu saat aku sedang membantumu masuk ke dalam taksi” Jessica merasa penglihatan tajam Jaejoong itu mengganggunya “Sudah kukatakan, semalam kau mabuk berat!”
Jaejoong menghela napasnya berat, tak tau lagi harus berbuat apa. Semuanya terasa begitu rumit baginya, dia mulai mengutuki siapa saja yang dengan sengaja mengambil foto tersebut dan menyebarkannya ke publik.
***
Suasana hening di antara keduanya terpecahkan oleh suara bel.
Jaejoong segera beranjak dari tempat duduknya, berdiri di depan layar yang menunjukkan wajah sang manager lalu menekan beberapa angka untuk membukakan pintu. Tetap dengan gaya coolnya―kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana, Jaejoong memimpin managernya ke ruang tengah.
Saat itu jugalah Jessica bertemu dengan manager Jaejoong yang juga tengah memandangnya.
“Perkenalkan, namaku Kim Heechul manager dari Kim Jaejoong”
Penilaian pertama Jessica pada orang itu adalah ramah, ya sepertinya pria bernama Kim Heechul itu sangat bersahabat.
“Aku Jessica Jung”
“Baiklah, kita akan membicarakan yang menimpa kalian berdua”
Suasana di sekeliling mereka mulai memanas menambahkan kesan serius dalam pembicaraan penting pertama ini.
“Sebenarnya selama perjalanan menuju kemari, aku telah memikirkan satu solusi”
“Beritahu kami” pinta Jaejoong tak sabaran
“Jessica akan menjadi asisten pribadimu”
Mwo?!” baik Jaejoong maupun Jessica sangat terkejut akan ide gila dari Heechul
“Dengarkan aku, jika Jessica menjadi asisten pribadimu. Maka besar kemungkinan publik akan mengira kejadian kemarin malam itu hanyalah sekedar hubungan pekerjaan atau formalitas biasa”
Jessica dan Jaejoong akui dalam hati, ide Heechul tersebut bisa saja berhasil.
“Lalu jika keadaan mulai mendingin kembali, kita hanya tinggal memberikan alasan bahwa Jessica dipecat atau yang lainnya dan semua akan kembali seperti normal”
Heechul melihat Jaejoong dan Jessica yang sama-sama sedang berpikir.
“Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tak mungkin melalaikannya” sanggah Jessica
“Untuk itu, kau tak perlu khawatir. Aku akan membicarakannya dengan pihak tempatmu bekerja, dan kau juga akan kami bayar jadi kau tetap dapat memenuhi kebutuhanmu”
Dapat Jessica akui itu adalah tawaran yang menggiurkan yang pernah ditawarkan seseorang untuknya.
“Sudah kau terima saja, tak ada cara lain lagi untuk menyelesaikan masalah ini” setelah berkata seperti itu Jaejoong segera pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
“Dia memang seperti itu, jadi harap kau maklumi”
Jessica tersenyum menanggapi kebaikan hati Heechul yang mau menjelaskan sifat Jaejoong padanya.
Sepertinya ia harus mempersiapkan diri untuk menjadi asisten pribadi mahluk abstrak itu.
Jessica memalingkan wajahnya dari Heechul dan menghembuskan napas berat yang sudah sedari tadi ditahannya. Sesudahnya ia tersenyum miris sambil berkata di dalam hatinya,

 

Jessica Jung Fighting!
***
TO BE CONTINUED

22 thoughts on “[Chapter 1] Things Never Think

  1. Kok tiba2 Jae bisa mabuk diclubo_O bukannya tadi dia makan malam ama Jiyeon? Apa yg terjadi sebenarnya?
    Aigo… sifat Jae kok gitu seh ke Sica -,- udah dibantuin juga.
    Apa Sica bisa betah jadi asistennya Jae?
    Dilanjut ya thor^^ fighting

  2. Lah . . . Kan tdi lgi sma jiyeon ko bisa tiba2 lg mabuk ? ? ? Nah loh siapa tuh yg main motret sembarangan :->

    ecie yg mau jadi asisten pribadi . . . Siap2 aja deh bkal cinlok. . . Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s