[Twoshot] Gone – The First

gone1

 

 

Title : Gone ǀ Author : yulkim98 ǀ Genre : Sad, Romance, Angst ǀ Rating : PG-13 ǀ Length : Twoshot ǀ Main Cast : Jessica Jung, Oh Sehun ǀ Other Cast : Bae Suji, Kim Taeyeon

A/N :
Ide untuk ff ini aku dapetin saat sedang melamun -_-
Aku ga maksa kalian untuk meninggalkan jejak, yaa cuman yang aku minta kejujuran dari diri kalian masing-masing saja.

Poster by
ICE @Exo Kingdom Fanfiction

HAPPY READING 
88
“Terkadang aku mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti tak kan ketumui dimanapun jawabannya. Bahkan, aku sendiri tidak yakin bahwa itu adalah sebuah pertanyaan karena sepercik cahaya saja tidak dapat dipastikan terlihat meskipun hal itu sudah terjawab. Namun, di saat aku menyadarinya aku menjadi kehilangan diriku yang selama ini kukenal”
-Jessica jung
“Sekian lama aku mencari dan di saat aku mendapatkannya, semua yang berada padanya membuatku tak dapat berkutik. Aku tak ingin melepasnya, ia bagaikan sehelai bulu yang sangat lembut dan rapuh bila tidak dijaga. Mencoba dan pantang menyerahlah yang dapat kulakukan demi menyadarkannya”
-Oh Sehun
88
“Lee Sangchon, resmi terpilih menjadi Perdana Menteri. Ia akan segera menduduki jabatan terbarunya setelah-“
Seorang wanita dengan umurnya yang diakhir dua puluh bersama gadis kecil berumur tiga tahun sedang terduduk di sofa ruang tengah lebih tepatnya ibu dan anak tersebut sedang menonton seraya menunggu kepulangan sang ayah.
“I Cang .. chon, ma .. ti” ucap gadis kecil itu sembari memukul kepala boneka yang berada dipelukannya.
Sang ibu terkejut mendengar ucapan putri kecilnya, ia yang tengah serius menancapkan tatapannya pada layar televisi pun beralih pada putrinya, ia merasakan sesuatu yang ganjil pada ucapan yang baru saja dikatakan putrinya “Aigoo, Sica-ah putriku yang cantik” wanita itu memindahkan putrinya untuk duduk di dalam pangkuannya “apa yang kau katakan, sayang? Eoh?”
Eomma, I Cangchon .. mati” kembali kata-kata itulah yang keluar dari bibir mungil Jessica kecil dengan tatapannya yang kini tertuju pada layar televisi yang tengah menampilkan wajah Lee Sangchon dalam salah satu sesi wawancaranya.
Sungguh, Sang ibu benar-benar merasakan sesuatu buruk yang akan terjadi. Ia menatap putrinya khawatir dan mengecup keningnya penuh kasih sayang untuk sekedar mengenyahkan perasaannya saat ini.
Minggu pagi sangatlah cerah menyapa keluarga kecil bermarga Jung di dalam rumah hangat dan nyaman mereka. Nyonya Jung tengah mempersiapkan perbekalan yang akan mereka bawa untuk acara piknik kecil mereka kali ini, sementara Tuan Jung membaca koran sambil meminum kopi yang disediakan istrinya, hal itu adalah salah satu dari banyak kebiasaan yang dimilikinya.

Jessica masih dengan baju tidurnya menyantap sarapan yang disediakan di meja makan khusus untuk tubuh mungilnya. Garis wajahnya sungguh menenangkan, bahkan terkesan dingin untuk ukuran anak kecil seumuran dirinya, tapi jangan lupakan beberapa serpihan kecil biscuit pada ujung-ujung bibirnya yang masih meninggalkan kesan child.
KYAAA!
Mendengar teriakan sang istri dari ruang tengah, Tuan Jung segera meninggalkan koran dan kopinya untuk melihat keadaan sang istri tercinta. Namun, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut, istrinya berlalu dengan menabraknya menuju ruang makan. Tuan Jung tidak mengerti mengapa istrinya berlari seperti dikejar sesuatu hanya untuk memeluk Jessica, dan menangis histeris seperti tak ada hari esok.
Keringat dingin menuruni pelipis Tuan Jung, di tengah-tengah kebingungannya ia segera mendekap istri dan putrinya “Chagi-ah, apa yang terjadi? Jangan seperti ini” namun, apa yang didapat sang suami hanyalah raungan histeris istrinya yang semakin memenuhi ruang makan rumah tersebut.
Dari ruang tengah yang ditinggalkan oleh pemiliknya hanya dapat terdengar sebuah berita yang mengabarkan kisah duka kematian seseorang
“Lee Sangchon, 55 tahun ditemukan tewas terbunuh di dalam ruang kerjanya. Diduga ia dibunuh oleh sekelompok orang yang-“
88
Hari demi hari dilalui keluarga Jung dengan normal, meskipun sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal hati Tuan dan Nyonya rumah tersebut. Tekanan yang tak biasa dialami oleh Nyonya Jung, setelah kejadian beberapa tahun lalu yang mengaharuskan dirinya berkeyakinan bahwa ‘anak sulung’nya memiliki kemampuan yang tak biasa. Ya, benar. Anak sulung, karena saat ini Nyonya Jung sedang mengandung tujuh bulan yang mengharuskannya untuk semakin berhati-hati dalam setiap tindakan yang diperbuatnya.
Suara bel rumah terdengar menggema menandakan, seorang tamu yang menunggu untuk dibukakan pintu.
“Sica-ah, tolong bukakan pintu, ne?” Nyonya Jung mengelus lembut rambut panjang dan indah putrinya yang dibalas dengan anggukan patuh sang putri. Jessica segera berlari menuju pintu dan membukakannya, ia disambut oleh senyuman hangat seorang wanita yang juga tengah hamil seperti ibunya. Namun, yang menarik perhatiannya bukanlah kesamaan fisik tersebut tetapi seorang anak laki-laki yang tengah digandeng oleh perempuan itu. Anak laki-laki tersebut memandang Jessica ramah dan bahkan tersenyum memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
“Jessica sayang, siapa yang datang?”

Nyonya Jung menghampiri Jessica yang tak kunjung kembali untuk memberitahukan padanya siapa yang bertamu di pagi secerah ini. “Dara? Sandara Park itukah kau? Aigoo, lama tidak berjumpa” Nyonya Jung dengan gembira memeluk sahabat lamanya semasa sekolah dulu.
“Ne, ini aku Hyomin-ah” pandangan Sandara tertuju pada Jessica yang masih belum juga melepaskan tatapan dari bocah laki-laki yang notabenenya adalah putranya sendiri “Ah, dia pasti putrimu bukan? Dia cantik sekali” puji Sandara dengan tulus
“Terimakasih, Jessica kenalkan dirimu, nak” ucap Hyomin seraya memberi tepukan pelan untuk menarik perhatian putrinya.
Jessica segera mengalihkan pandangannya dan dengan sopan membungkuk untuk memperkenalkan diri “annyeonghaseyeo, namaku Jessica Jung salam kenal, ahjumma”
“Sungguh manis dan sopan, Hyomin-ah ternyata kau berhasil mendidik anakmu sesuai dengan impianmu sejak kita masih sekolah dulu” Sandara membuka beberapa kenangan yang dulu dijalani keduanya
“Jinjja! Kau masih mengingat impian konyolku itu, eoh? Dan, aha! Kau pasti Oh Sehun bukan, anak tampan?” Hyomin mengelus lembut wajah Sehun dan mencubitnya gemas
Ne, ahjumma Oh Sehun imnida” Sehun tak lupa membungkuk menandakan ia menghormati wanita dihadapannya. Itu bukanlah hal yang sulit bagi anak-anak yang sudah duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Sikap dan tata krama tentunya sudah diperkenalkan bahkan saat masih berada di Taman Kanak-kanak.
khaja, masuklah” Hyomin melebarkan pintu agar sahabatnya dapat memasuki Home Sweet Home miliknya
“Sehun-ah, kau bermainlah dengan Jessica. Ingat! Jangan jahil apalagi sampai membuatnya menangis karna Sica adalah temanmu, arraseo?” Sandara yang kenal betul dengan sifat putranya memberikan peringatan, putranya tersebut memang terkenal jahil dan nakal dalam waktu yang bersamaan sehingga tak jarang masalah timbul akibatnya.
Ne, eomma. Geokjeonghajima
Sehun menahan tangan Jessica yang hendak pergi ke dalam rumah
“Hai, Jessica. Aku Sehun, mulai sekarang kita adalah teman.” seharusnya kata-kata yang diucapkan Sehun adalah sebuah permintaan atau ajakan, namun beginilah yang terjadi bila bocah tampan itu telah berucap, sebuah pernyataan yang tak dapat dibantahlah yang keluar.
Sehun segera melepaskan genggaman tangannya saat ia melihat wajah ketakutan seseorang yang ia sebut teman baru “Ya-yah tidak perlu takut, aku tidak akan menggigitmu kita kan saling berteman sekarang” Sehun tersenyum lebar pada Jessica berharap bahwa gadis kecil dihadapannya dapat mengetahui ketulusannya saat ini. Rupanya usaha Sehun membuahkan keberhasilan, Jessica tersenyum kecil dan terkesan malu pada Sehun “Senyummu indah. Ayo kita main!”
Sehun dan Jessica berlarian kesana kemari, memainkan boneka maupun mobil-mobilan yang dibawa Sehun. Mereka telah bermain sepuasnya, puas sekali hingga keduanya merasa sangat lelah seperti saat ini duduk tepat di samping kipas angin yang tengah menyala
“Bagaimana, enak bukan?”
Jessica mengangguk riang menjawab pertanyaan Sehun
“Jessica kau ingin punya adik laki-laki atau perempuan?” Sehun bertanya seperti itu saat ia melihat ibunya dan ibu Jessica tengah tertawa bersama
“Perempuan .. mungkin. Ah, molla. Kau?”
“Aku ingin adik laki-laki agar dia dapat menemaniku bermain sepuasnya. Hehe”
Jessica tersenyum melihat Sehun tersenyum tiga jari padanya. Sehun sungguh berbeda ia tidak seperti teman-temannya di sekolah yang selalu menjauhi dirinya. Teman- teman sekolahnya selalu menatap ia tidak suka, tidak pernah mengajaknya untuk bermain. Oleh karena, itu Jessica memilih untuk tidak banyak berbicara, menghabiskan waktu istirahatnya dengan memakan bekalnya di bawah pohon rindang kesukaannya.
“Sehun-ah, mari kita pulang nak”
Ne” Sehun segera berdiri dan merapihkan pakaiannya
“Jessica cantik, ahjumma dan Sehun harus pulang sekarang. Terimakasih karena sudah mau bermain dengan bocah nakal ini”
“Ne, sama-sama. Sehun tidak nakal kok, ahjumma
“Benarkah? Baguslah kalu begitu. Em, Hyomin-ah terimakasih karena telah menerimaku bertamu”
“Kau ini, tidak perlu seformal itu padaku. Hati-hati dijalan, ne?”
Ne, kau juga hati-hati merawat kandungannmu”
Jessica memandangi Sehun yang sudah digandeng oleh ibunya. Jessica sungguh tidak ingin Sehun pergi, ia seperti merasa bahwa ia tak akan berjumpa dengannya lagi.
Sehun mengucapkan ‘sampai jumpa’ tanpa suara dan melambaikan tangan dari kejauhan pada Jessica. Jessica hanya dapat membalas lambaian tangan Sehun tanpa mengetahui kata apa yang harus ia ucapkan untuk membalas ‘sampai jumpa’ bocah lelaki tersebut.
“Sica, ayo masuk” ajak Hyomin pada putrinya
Jessica kecil pun menuruti ajakan ibunya untuk memasuki rumah, dia naik ke atas sofa dan duduk tenang di sana.
Hyomin dengan perutnya yang sudah terlihat membuncit membersihkan rumahnya dari kotoran-kotoran kecil. Dia memang tidak tahan berlama-lama berada di tempat yang kotor.
“Sica, apa kau senang bermain dengan Sehun?” tanya Hyomin di sela-sela pekerjaannya.
Ne, dia baik padaku” aku Jessica dengan jujur
“Aigoo, sepertinya kau sangat menyukainya” goda Hyomin yang berhasil membuat Jessica diam terpatung tak tahu harus menjawab.
Hyomin berlutut untuk membersihkan noda pada lantai rumah dengan kain lap kecil.
“Sica-ya, eomma memiliki feeling bahwa adik Sehun nanti adalah perempuan. Menurutmu bagaimana? Apa Sehun memberitahumu tentang adik seperti apa yang diinginkannya?”
Hyomin menanti Jessica untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya, namun ia tak kunjung mendapatinya. Dia menoleh dan beranjak menghampiri putrinya, ia melihat bahwa putrinya itu sama sekali tak melakukan pergerkan apapun dan pandangan matanya yang tetap lurus ke depan.
Ia mengenali keadaan ini, dan ia tak mau Jessica mengalaminya lagi. Namun, semua berbanding terbalik dengan apa yang diharapkannya.
“Sehun tidak akan memiliki adik, eomma
Perkataan Jessica tersebut sukses membuat Hyomin merinding.
“Si-Sica!” Hyomin mengguncang-guncangkan bahu putrinya pelan, dan memeluknya erat persis seperti apa yang dilakukannya 3 tahun lalu.
Apa yang putrinya katakan membuat ibu cantik dengan satu anak itu tak tenang, bahkan ketika ia terbangun oleh sinar matahari pagi pun yang ada di pikirannya hanyalah kondisi sahabatnya―Dara.
Yeobo, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu resah”
Hyomin baru menyadari bahwa suaminya itu telah berpakaian rapi, sebagaimana orang-orang kantoran pada umumnya.
A-aniya” elak Hyomin, dia berdiri dari duduknya dan segera menghampiri suaminya yang tengah berada di depan cermin. Dia merapihkan kerah dan dasi yang digunakan suaminya.
“Aku harus segera berangkat, ada rapat mendadak pagi ini”
Ne, aku akan memasakan makanan kesukaanmu untuk makan malam nanti”
“Terimakasih. Aku mencintaimu”
Hyomin tersenyum, menerima kecupan lembut dari pria yang sangat dicintainya.
Setelah suaminya berangkat untuk bekerja. Hyomin segera menghampiri Jessica di kamarnya.
Dia kembali tersenyum, melihat putri kecilnya yang masih tertidur lelap. Ternyata kebiasaan buruk suaminya itu menurun pada Jessica.
Hyomin beranjak ke ruang tengah rumahnya―dimana telepon satu-satunya di rumah itu berada. Dengan tanpa keraguan dia menekan beberapa telepon dan menunggu hingga tersambung pada yang ditujunya.
Yoboseyeo
“…”
“Dapatkah aku berbicara dengan Sandara?”
“…”
Dengah satu hentakan Hyomin menutup sambungan teleponnya. Tangannya yang bergetar menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut. Dia terjatuh dan terduduk di sofa ruang tengah, mulutnya terbuka namun tak ada satu pun kata yang terucap.
“Ya Tuhan, ada apa dengan putriku? Mengapa kau melakukannya pada keluargaku?”
Hyomin menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Dara-ya, maafkan aku”
***
Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu belajar yang telah usai. Anak-anak berlarian keluar dari kelasnya dengan riang―merayakan kebebasan setelah setengah hari suntuk belajar.
Jessica yang kini telah menduduki bangku kelas 8 itu tengah berjalan seorang diri di lorong sekolah. Rambutnya yang panjang dan berwarna coklat selaras dengan iris matanya diikat kuda, dia semakin terlihat menggemaskan karena poni yang menutup keningya.
Namun, seorang Jessica tetaplah Jessica yang berwajah dingin dan cuek seperti panggilannya―ice princess
“Teman-teman, lihat dia!” seru seorang gadis sepantaran Jessica dengan 2 orang lagi di samping kanan dan kirinya “Sungguh kasihan kau tak memiliki teman, bukan begitu?”
“Ya, sepertinya hidup menjadi dirinya akan sangat membosankan. Aku tak mau sepertinya!”
Ketiga orang itu kini telah menutupi jalan yang seharusnya dilalui Jessica.
“Menyikirlah, aku mau lewat” ujar Jessica dengan sikap tenangnya
Eo, begitukah?” gadis yang berada di tengah itu memberikan kode kepada teman-temannya untuk menyingkir.
Jessica diam-diam menghembuskan napasnya panjang, berpikir bahwa penderitaannya mungkin akan segera berakhir walaupun itu untuk sementara.
Saat Jessica berjalan melewati mereka, salah satu dari ketiga gadis itu menjulurkan kakinya iseng sehingga membuat Jessica tersandung dan mencium kerasnya lantai sekolah.
Sontak, ketiga gadis itu tertawa puas mengetahui rencana mereka berhasil dengan terjatuhnya Jessica.
“Mari kita pergi, dia sungguh tidak asyik”
Begitulah keseharian Jessica, pergi sekolah lalu belajar dia melewati hari-hari dengan sendiri―tak berniat untuk membangun hubungan pertemanan dengan siapa pun itu. Dan karena sifatnya itu juga tak sedikit orang yang geram dan berniat untuk mengerjainya.
Jessica melempar tasnya ke sembarang tepat dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah. Suasana rumahnya kini sangatlah sepi karena tak ada satu orang pun selain dirinya di sana.
Telepon rumahnya berdering, dia beranjak bangkit dan menjawab teleponnya.
Yoboseyeo
“Sica, ini eomma. Eomma appa dan krystal sedang dalam perjalanan menuju Busan, karena appamu ada tugas mendadak yang mengharuskan eomma untuk ikut. Kau tidak apa-apa kan sayang?”
Ne, tidak apa-apa eomma
Eomma telah memasakan makananmu. kau hanya perlu memanasinya saja atau jika kau mau, kau dapat menginap di rumah Paman Choi”
“Tidak, itu tidak perlu”
“Baiklah, berhati-hatilah di rumah. Eomma sangat dan selalu menyangimu”
Jessica tersenyum medengar perkataan terakhir sang eomma sebelum sambungan panggilannya tertutup “Aku juga menyayangimu”
Jessica terbiasa bersikap tegar pada siapa pun dan kapan pun itu. Terlebih lagi karena dia anak pertama, dia pikir dirinya harus dapat melindungi adiknya―Krystal yang telah berusia 7 tahun.
Jessica tertidur di saat ia tengah membaca novel kesukaannya. Cahaya rembulan terlihat mengintip dari sela-sela gorden jendela. Hari ini bulan nampak kesepian karena tak banyak bintang yang berada di sekelilingnya, hanya langit gelaplah yang terlihat sejauh mata memandang.
Eo-eomma, Appa, Soojung-ah
Keringat dingin nampak mengalir dari dahi menuruni pelipis matanya. Kepalanya pun mulai bergerak ke kanan dan ke kiri menandakan tidurnya kali ini terganggu karena sesuatu.
Andwae
Jessica terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Matanya mebulat lain dari biasanya.
“Itu tak boleh terjadi”
Jessica berlari membuka pintu kamarnya dan membantingnya keras, ia tak peduli akan hal itu. Tujuannya saat ini adalah mengetahui kabar keluarganya, dengan melakukan panggilan.
Tut tut tut
“Ayolah” mohon Jessica dengan suaranya yang parau, dia mengulangi satu kali lagi panggilannya.
Suara yang menandakan panggilannya terjawab membuatnya lega sesaat, namun mendengar suara asing di ujung panggilannya mengembalikan kembali rasa cemas di hati Jessica.
“Kau siapa? Di mana keluargaku?” tanya Jessica dengan suara yang bergetar
“Kami dari pihak rumah sakit, sebelumnya kami ingin menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya atas me―”
Jessica tak lagi dapat mendengar apapun yang dikatakan oleh pihak rumah sakit itu. Saat ini, semua yang berada di kepalanya hanyalah wajah eomma, appa, dan adiknya. Air mata yang mengalir dengan deras dari kedua sisi matanya pun tak lagi dihiraukannya, namun mulutnya tetap berucap―memanggil nama orang-orang yang disayanginya tanpa henti.
Sungguh miris hidupnya saat ini, ia harus menjadi seorang yatim piatu di saat umurnya yang masih tergolong belia itu. Hidup sendiri di tengah-tengah kehidupan yang setiap saat berubah ini bukanlah hal yang mudah yang dapat dijalani oleh orang-orang pada umumnya.
***
Jessica memasuki sebuah super market, kedatangannya tersebut langsung disambut oleh wanita penjaga super market itu.
Eo, kau rupanya. Apa persediaan ramenmu telah habis? Pantas saja kau kemari”
Jessica menanggapi sapaan dan pertanyaan wanita itu dengan senyuman tipisnya. Setelah ia merasa cukup akan berbungkus-bungkus ramen yang diambilnya, dia memberikan beberapa lembar won sesuai dengan harga semua ramen itu.
Dengan tanpa mengucapkan apa-apa Jessica mengambil semua belanjaannya dan berjalan keluar menaiki sebuah bus yang kebetulan tengah mengambil penumpang.
Aishh, dia dingin sekali” gerutu wanita penjaga itu.
Jessica duduk dalam diam, memandangi keluar jendela bus. Suasana pagi ini sangatlah cerah sehinggga mengundang banyak orang-orang keluar dari rumahnya walaupun hanya untuk sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar.
Keadaan seperti ini sangat jarang dilihat oleh Jessica. Gadis yang tumbuh dengan sempurna itu memang hampir tak pernah keluar dari rumahnya jika tak ada sesuatu yang terbilang penting baginya.
Itu jugalah yang membuat hubungan sosialisasinya tidak berjalan dengan lancar. Jessica telah menyelesaikan kuliahnya satu tahun yang lalu dengan jurusan kesastraan yang diambilnya.
Hidupnya terpenuhi oleh bayaran sebagai penulis dan juga penerjemah. Memang pendapatannya itu tidaklah besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pintu rumahnya terbuka setelah Jessica memasukkan dan memutar kunci pada lubangnya.
Wangi khas rumahnya itu menyerang indera penciuman siapa saja yang memasukinya. Wangi itu adalah wangi yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu―di mana ia harus menelan bulat-bulat kenyataan pahit yang diterimanya.
Jessica menyalakan komputernya, membuka kelanjutan novel yang dibuatnya. Lama berdiam, Jessica kembali mematikan komputernya karena tak kunjung mendapatkan ide yang tepat yang selanjutnya akan dirangkai dengan kata-kata khas buatannya.
Kini yang dilakukannya adalah memasak sebungkus ramen sebagai menu sarapannya.
Seperti itulah kerutinan yang dilakukan Jessica sehari-harinya.
Ya, dia memang terjebak di dalam kesedihan hidupnya sehingga ia tak dapat melihat dan menerima lagi apa itu kehidupan yang sesungguhnya―yang seharusnya semua orang jalani.
***
Alunan musik hip hop terdengar memenuhi suatu ruangan, sementara seorang lelaki dengan lidah topi yang menghadap ke belakang tengah menari dengan lihainya.
Dia tak lagi mempedulikan wajah dan tubuhnya yang dibasahi oleh keringat. Bagi lelaki itu menari adalah sebagian dari hidupnya.
Tiba-tiba lelaki itu memberhentikan tariannya, penyebabnya adalah seorang gadis berparas cantik yang menghentikan musik yang tengah mengalun.
“Yah! Oh Sehun, kapan kau akan berhenti eoh?”
Gadis itu melempar handuk kecil yang langsung digunakan Sehun untuk mengeringkan wajahnya yang basah oleh keringat.
“Kau selalu menggangguku, Bae Suji” gerutu Sehun, mengungkapkan kekesalannya pada Suji
Suji menghentikan niatnya yang tadinya ingin memberikan air mineral pada Sehun.
“Jadi begitu? Kau hanya menganggapku penggangu saja, eoh? Baiklah aku akan pergi―”
A-aniyo, bukan seperti itu maksudku Suji yang baik hati”
Suji berusaha menampilkan wajah datarnya, meskipun sebenarnya ia sangat ingin tertawa melihat Sehun memelas seperti itu.
“Sepertinya air itu sangat segar untuk diminum” tanpa seizin pemiliknya, Sehun mengambil dan meminum air mineral yang dibawa oleh Suji itu.
Suji hanya tersenyum melihat tingkah laku Sehun―lelaki yang dekat dengannya dan dapat membuat perasaannya tak karuan itu.
Lama suasana hening melanda, Suji mengingat tujuannya menghampiri Sehun di ruang latihan club dance ini.
“Aku kemari untuk menyampaikan pesan dosen Son, bahwa kau harus menemuinya di ruangannya”
Sehun menghela napas berat
“Ada apa? Kau tidak membuat masalah lagi bukan?” tanya Suji yang mengetahui kebiasaan buruk Sehun “Oh, ayolah. Ini adalah semester akhirmu, tidakkah terpikir olehmu untuk membuatnya menjadi satu-satunya semester yang tenang dan lancar?”
Sehun tersenyum tiga jari dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidaklah gatal.
***
Siang ini Jessica kembali harus keluar dari sarangnya untuk mengantarkan beberapa lembar hasil terjemahannya pada salah satu dosen di Doksaeng University.
Setelah satu tahun tak melihat suasana kampus yang selalu ramai, kini Jessica disuguhkan oleh pemandangan itu. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang tengah berlalu-lalang, Jessica sampai di pintu masuk ruangan dosen Son.
Annyeonghaseyeo” sapa Jessica
“Oh, Jessica-ssi. Masuklah”
Jessica memasuki ruangan yang tak terlalu besar itu
“Duduklah, bagaimana apa kau telah menyelesaikannya?”
Ne
“Baguslah, karena dalam jangka waktu dekat ini materi tersebut sudah harus tersebar. Aku sangat berterimakasih padamu Jessica-ssi
“Itu memang pekerjaanku Tuan Son, jadi kau tak perlu seperti itu”
“Selain cantik, kau ini baik juga” puji dosen Son “Baiklah, untuk hakmu akan aku kirimkan ke rekeningmu”
“Ya, kalau begitu saya permisi Tuan”
“Hati-hatilah di jalan”
Jessica membungkuk hormat sebelum membalikkan badan
BRUK
Jessica bertabrakan dengan lelaki yang tak lain adalah Sehun, membuat beberapa map yang dibawanya terjatuh. Dia segera merapihkan kembali map-map itu dan bangkit berdiri.
“Mianhamnida”
Dengan itu Jessica pun pergi meninggalkan ruangan dan juga Sehun yang masih diam terpaku setelah pertemuan tak terduga dengan Jessica barusan.
Yah, Oh Sehun. Sampai kapan kau akan berdiri di sana?”
Tersadar dari pemikiran singkatnya, Sehun berjalan menghampiri meja dosen Son dan membungkuk kecil. Sesudah memberi salam, apa yang dilakukan Sehun memang tak biasa namun hal tersebut sudah tak aneh bagi dosen Son.
“Kau pikir dengan senyumanmu itu, kau dapat kuampuni eoh?!”
Dan apa yang tak diinginkan Sehun pun terjadi saat ini juga, dosen Son kembali mengomelinya panjang lebar seperti waktu-waktu yang lalu.
Selama lelaki setengah baya itu mengeluarkan uneg-unegnya, pikiran Sehun tetap melayang memikirkan gadis yang ditemuinya tak lama tadi. Sebuah senyuman menyeringai tercetak dibibirnya.
Tentunya hal itu menandakan akan terjadi sesuatu yang tak dapat dihentikan oleh siapapun itu, karena dia adalah Oh Sehun.

Ya, Oh Sehun.
***
TO BE CONTINUED

 

43 thoughts on “[Twoshot] Gone – The First

  1. Wah… kasihan sekali dirimu jessica…. untungnya km pintar yah…
    Sehun kenapa yah? Apa dia playboy saat melihat jessica yg cantik? Ckckkkk ~ di tunggu kelanjutannya yaaa

  2. Aigoo kasian banget Sica eonni, punya kemampuan lebih tidak selamanya membuat bahagia… disaat kita mengetahui ada hal buruk yang akan terjadi pada keluarga kita, tapi kita sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk membantu…

    Sica eonni hidup sendiri, syukur aja dia pintar jadi setidaknya dia bisa menghidupi dirinya…
    Suzy eonni itu siapa Sehun oppa?? Jngan sampai dia pacar Sehun oppa,,

    apa Sehun oppa masih ingat dengan Sica eonni??
    Ditunggu kelanjutan ceritanya yaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s