(Mini Series) Blood Message [Chapter 5]

bm

Blood Message

by Park Soojin

Jessica—Sooyoung—Chanyeol—Tiffany

Supranatural, Angst, Horror, Romance | PG-13

poster by pearlshafirablue

previous: Teaser | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

a.n.: maaf lanjutannya lama, penjelasan ada di bawah ._. Happy reading~

@@@

Hening merambat ke seluruh sudut mobil. Chanyeol sibuk menyetir sedangkan Jessica sedang berjuang melawan kantuk. Sesekali gadis itu hampir tertidur, tapi tidak jadi setelah mengingat dia sedang di mobil orang.

“Jessica,”

Panggilan Chanyeol membuatnya batal tertidur untuk kesekian kalinya. Jessica hanya menoleh tanpa menjawab apapun.

“Ehm.. aku ingin tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Tadi apa yang Tiffany katakan kepadamu?”

Jessica mengalihkan pandangannya kemudian memainkan kukunya, “Tidak terlalu penting sih.”

“Kalau tidak penting untuk apa Tiffany mengajakmu hanya berdua dan melarangku ikut berbincang?”

“Ingin tau sekali. Urusan perempuan, benar-benar tidak ada hubungannya denganmu.”

“Aku tidak percaya,”

Lampu lalu lintas menyala berwarna merah. Chanyeol menginjak rem dan langsung melihat Jessica dengan tatapan mengintimidasi. “Apa sangat buruk jika kau memberitahukannya kepadaku? Tiffany itu yeojachinguku jadi aku berhak mengetahui apapun yang terjadi dengannya.”

“Kenapa tidak tanyakan langsung kepada Tiffany?”

“Dia tidak akan mau.”

“Lantas kenapa tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi?”

“Tidak bisa percaya. Kita rival.”

Jessica meniup poninya kesal, “See? Kau bilang sendiri kalau kau tidak percaya kata-kataku karena kita rival. Jadi apapun yang aku katakan meskipun aku jujur, kau tidak akan mempercayaiku.”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, “Oh, benarkah? Aku lupa.”

Jessica mengacak rambutnya gemas.

“Jessie~ kenapa lama sekali??”

Baru memasuki kamar asramanya, Jessica sudah disambut dengan rengekan Taeyeon.

“Maaf, Taeng. Tadi aku membicarakan sesuatu dengan Tiffany dan ikut mengembalikan mobil dengan Chanyeol, jadi lama. Maaf ya~”

Taeyeon mengerucutkan bibirnya, berusaha aegyeo dan berhasil. Jessica menekan pelan pipi Taeyeon dengan telunjuknya. Kedua gadis itu tertawa bersamaan.

“Bagaimana keadaan teman-teman?”

“Apa yang kau maksud ‘teman-teman’ itu juga termasuk Jongin?”

Jessica pura-pura berpikir, “Hmm.. bagaimana ya? Terserah penafsiranmu saja.”

Taeyeon terkikik, “Sunyoung, Yura, dan Yoonjo sudah pulang. Jongin sedang dihukum oleh gurunya karena melewatkan kelas bimbingan Fisika.”

Jessica hanya membulatkan bibirnya, kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Taeyeon duduk di sebelahnya.

“Nanti jam 7 ada bimbingan. Kau ikut atau tidak?” tanya Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Tentu saja. Sekarang kan sudah dekat ujian akhir. Huaah~ aku gugup sekali!”

Taeyeon memantul-mantulkan kepalanya tanda setuju, “Iya aku juga. Kau beruntung dianugerahi otak cemerlang, jadi saat nanti ujian pasti tidak terlalu susah. Aku? Huft~”

“Yah, cemerlang apanya? Memang sudah pernah melihat otakku?” cibir Jessica, Taeyeon hanya tertawa mendengarnya.

“Okay aku kalah. Yasudah tidur saja dulu. Dua puluh menit lagi aku akan membangunkanmu.”

Jessica mengangguk, kemudian mulai berlayar di alam mimpi.

@@@

“Tiffany atau aku?”

Chanyeol mematung, baru saja ingin menjawab gadis berbadan tinggi di hadapannya berbalik badan dan berlari. Belum sempat Chanyeol mengejar, suara tabrakan terdengar sangat menyakitkan. Namun gadis yang tertabrak itu segera berdiri dan berjalan dengan menunduk ke arah Chanyeol.

Lelaki itu susah payah menelan ludah. Dia ingin berlari, tapi kakinya serasa menempel di tanah yang dipijaknya.

Gadis tinggi itu mendongakkan wajahnya hingga terlihat bagian kiri wajahnya yang hancur. Chanyeol hendak kabur, sayangnya tangan kurus milik gadis itu langsung menawan lehernya.

Chanyeol gelagapan karena kehabisan napas. Gadis satu ini mencekiknya sangat kuat. Lelaki jangkung itu mengumpulkan seluruh tenaganya untuk berteriak.

“CHOI SOOYOUNG! LEPASKAN AKUU!”

“Yah, pabo! Bangun!”

Chanyeol membuka matanya, dan terlihat wajah Baekhyun—teman sekamarnya—sedang menatapnya horor.

“Kenapa melihatku seperti itu?”

Baekhyun menggelengkan kepalanya, “Kau ini baru sekitar dua menit tidur, langsung bisa bermimpi. Aku tercengang.” Ujar Baekhyun sinis.

“Aku tidur? Jam segini?”

“Iya, bodoh. Kau tiba-tiba masuk dan langsung tidur begitu saja tanpa menghiraukanku yang kesusahan ingin mencontek catatanmu. Dan saat aku akan membangunkanmu kau malah berguling-guling sambil memegangi lehermu, dan berteriak seperti orang bodoh.”

Chanyeol menggaruk pelipisnya, jadi tadi itu mimpi..

“Ayo berikan catatanmu! Lalu cepat mandi, setengah jam lagi bimbingan dimulai.” Omel Baekhyun.

Dengan ekspresi kurang peduli, Chanyeol bangkit dan mengambil handuk di gantungan kecil dekat kamar mandi, “Ambil saja sendiri di tasku. Aku ingin mandi dulu.”

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya heran. Tumben temannya satu ini tidak membalas setelah dia ceramahi.

@@@

Bimbingan malam sudah usai. Segerombolan siswa terlihat berdesakan di gerbang sekolah untuk menunggu jemputan, sementara sisanya ada yang sudah berada di asrama dan ada yang masih di kelas untuk mencontek catatan teman yang mereka anggap cerdas. Tidak ketinggalan Chanyeol, catatannya pun menjadi rebutan.

Sementara teman-temannya berebut catatannya di bangkunya, dia menunggu di salah satu bangku yang kosong. Baekhyun mengambil posisi duduk di meja sebelahnya.

“Chanyeol-ah, kau dengar tentang kunci jawaban yang beredar?”

Chanyeol mengangguk sambil memainkan handphonenya, “Uh-hu.”

“Kau sudah tau? Dari mana?” Heran Baekhyun. Seingatnya dia belum menyinggung apapun tentang kunci jawaban.

“Kau tanya aku ‘dengar’ ‘kan? Ya tentu aku sudah ‘dengar’ saat kau bertanya tadi.”

Satu pukulan mendarat mulus di kepala Chanyeol, sementara si korban hanya dapat meringis dan mengumpat dalam hati. Entah kenapa jika dengan temannya yang satu ini, dia selalu kalah.

“Aku heran bagaimana bisa orang menyebalkan sepertimu bisa menyandang gelar peringkat satu paralel kenaikan kelas tahun lalu.” Sindir Baekhyun.

“Tahun lalu kan aku punya penyemangat.” Jawab Chanyeol asal.

“Oh, begitu? Jadi tahun ini tidak ada penyemangat?”

Chanyeol menaikkan alisnya, “Tidak juga, tahun ini malah semakin semangat.”

Baekhyun mengangguk tanpa membalas lagi. Dia ikut memainkan handphonenya di sebelah Chanyeol.

“Chanyeol-ah, ini apa?” Tanya salah satu temannya yang sedang mencontek catatannya. Dilihatnya namja itu mengangkat selembar kertas kusut. Chanyeol segera menghampirinya.

“Apa kertas yang kau simpan itu, Yeol? Ugh.. baunya anyir sekali.”

Tanpa menanggapi ucapan temannya, Chanyeol segera mengambil kertas yang tadi diangkat oleh temannya. Ternyata kertas itu terlipat. Dia membuka lipatannya dan terlihat sebuah kalimat yang ditulis dengan sesuatu berwarna merah.

‘tertarik dengan kunci jawaban, Channie?’

Chanyeol tersenyum kecut, “Siapa yang menulis ini?”

“Tidak ada siapapun yang menulisnya, kami menemukan itu terselip di buku catatanmu tadi.” Ujar salah satu temannya.

Namja jangkung itu menyeringai tipis, “Bodoh. Aku tidak akan mempan diteror murahan seperti ini.” Bisiknya.

Chanyeol menoleh saat merasa seseorang menepuk pundaknya, dan ternyata itu adalah Baekhyun.

“Teror apa?” tanya Baekhyun menyelidik.

“Kau salah dengar.” Chanyeol meremas kertas itu dan membuangnya sembarangan. Chanyeol meraih tasnya dan memasukkan handphonenya, “Ayo pulang. Sudah malam.”

“Ada apa denganmu, Chanyeol-ah?” tanya seorang temannya yang bermata bulat.

“Aku? Kenapa?”

“Sepertinya sekarang pukul setengah sembilan itu ‘sudah malam’ bagi Chanyeol. Jangan bilang kau mulai takut hantu?” teman-temannya tertawa menanggapi candaan Baekhyun yang menurut Chanyeol tidak lucu.

Dia tidak takut hantu, tetapi mulai percaya dengan adanya hantu.

“Sudahlah kembali ke asrama saja. Kita perlu banyak istirahat mendakati ujian akhir.” Chanyeol langsung melangkah keluar kelas tanpa menunggu teman-temannya. Bahkan dia lupa mengambil buku catatannya.

Teman-temannya ikut keluar saja meskipun heran. Yang dikatakan Chanyeol memang benar, tapi itu bukan gaya Chanyeol sama sekali.

@@@

Tiffany menguap lebar. Dia hampir tidak tidur sama sekali. Setiap memejamkan mata, selalu terproyeksi seolah Sooyoung sedang ada di hadapannya dan memarahinya. Dia sama sekali tidak protes, malah dia semakin merasa bersalah.

Keadaannya yang berada di kamar VIP semakin membuatnya kesepian. Eommanya sudah tidur sejak tadi, sementara appanya tidak menemaninya karena sibuk. Tidak ada yang bisa dia harapkan.

Gadis ber-eyesmile itu menoleh ke arah jendela. Tirainya berkibaran, padahal angin disekitarnya malah terasa hangat. Jendela itu tertutup, tapi angin berhembus dari arah jendela dan membawa bau aneh yang sangat mengganggu Tiffany.

Tiffany menangkap sesuatu di kaca jendela. Dia memfokuskan tatapannya. Didapatinya itu adalah serentetan kata.

‘cepat sembuh Fany-ssi, kita bermain-main di sekolah.🙂’

Gadis itu tersenyum. Tidak jelas apa yang dia gambarkan dari senyuman itu. Dia langsung berbaring, mencari posisi senyaman mungkin. Tiffany mulai memejamkan matanya.

Tuhan, berilah kami jalan terbaik. Semoga semua ini segera selesai..

@@@

Kamar Jessica dan Taeyeon dipenuhi suara berisik, padahal ini sudah pukul sebelas malam. Kedua gadis itu sibuk membolak balik halaman bukunya dan hafalan. Sesekali terdengar suara protesan dari Jessica karena Taeyeon melafalkan isi bukunya terlalu keras dan mengganggu konsentrasi Jessica.

“Ah jeongmal.. aku bosan sekali Jessie~. Aku sudah membaca buku-buku ini setiap hari tapi aku tidak juga paham isinya. Aah nan baboya~” rengek Taeyeon sambil berguling-guling di kasur atas.

Jessica yang di kasur bawah, memutuskan untuk ikut belajar bersama Taeyeon. Dia mengambil bukunya, kemudian menaiki tangga ke kasur Taeyeon.

“Supaya cepat paham, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan saja?” usul Jessica setelah duduk di kasur Taeyeon.

Taeyeon mengangkat sebelah alisnya, “Tebak-tebakan ya.. baiklah! Main gunting batu kertas dulu!”

“Okay, yang menang memberi pertanyaan.” Taeyeon menjawabnya dengan anggukan.

“Gaui, Baui, Bo!” Taeyeon mengepalkan tangannya, sementara Jessica mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Okay, aku duluan!”

Mereka berduapun mulai bertanya-jawab. Tidak terasa, sudah satu setengah jam mereka tebak-tebakan. Sekarang sudah kelewat tengah malam tapi mereka belum juga tidur, padahal besok kelas mereka dimulai sangat pagi.

Tidak ada satupun dari keduanya yang menyadari bahwa di luar jendela kamar asrama, sesosok (bukan manusia) yang sedari tadi memperhatikan mereka sambil menyeringai. Sosok gadis bertubuh tinggi itu menyentuh bagian kiri wajahnya yang sudah tidak berbentuk dengan jari-jari kurusnya.

“Jangan kira kau akan baik-baik saja setelah menggagalkan rencanaku, mantan sekutuku..” bisiknya.

@@@
Next day.

“Kau yakin sudah baik-baik saja, Fany?” Tanya Yuri khawatir. Sepertinya semua yang sedang di kamar VIP ini mengkhawatirkan Tiffany, padahal yang sedang dikhawatirkan sendiri merasa tidak perlu dikhawatirkan.

“Aku bahkan tidak terluka sedikitpun, Yuri-ya. Aku hanya pingsan sekitar dua jam, tapi harus diisolasi disini selama dua hari.” Ujar Tiffany sambil mengerucutkan bibirnya dan melihat ke arah eommanya.

“Kata dokter kau trauma, Fany..” eommanya sudah berulang kali mengatakan ini kepada Tiffany karena gadis itu selalu menganggap semua ini berlebihan.

Tiffany tertawa pelan, “Arasseo, nae saranghaneun eomma~ jadi aku boleh sekolah sekarang kan?”

Setelah eommanya mengangguk, Tiffany kemudian menggandeng tangan Yuri.

“Kajja! Kita sudah ketinggalan satu jam pelajaran.”
.
.
“Tiffany sudah masuk sekolah ya?”
“Iya, memangnya dia sakit apa sampai diopname tapi hanya dua hari?”
“Ada yang bilang dia stres.”
“Bukannya dua hari lalu dia pergi untuk acara keluarga?”
“Ada yang bilang dia tiba-tiba pingsan karena depresi.”

Tiffany mendengus sebal. Baru masuk sekolah, para siswi kelas tetangga sudah menggosipkannya yang tidak-tidak. Dia mempercepat langkahnya dan segera masuk ke kelasnya.

“Tidak usah dipikirkan, Fany-ah.” Kata Yuri setelah duduk di bangkunya sebelah bangku Tiffany.

“Tentu saja, untuk apa aku pikirkan?”

“Tiffany, bagaimana keadaanmu?” tanya seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Tiffany menoleh dan ternyata itu adalah kekasihnya, Chanyeol.

“Oh, kau.. Em, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” entah kenapa, dua hari saja tidak bertemu dia merasa canggung dengan kekasihnya sendiri. Sebenarnya bukan waktu penyebabnya, melainkan apa yang dia pikirkan selama dua hari itu.

“Tentu saja aku baik-baik saja. Yang harusnya dikhawatirkan itu kau. Apa kau benar-benar sehat fisik dan mental?”

Tiffany memicingkan matanya. Chanyeol kira dia sakit mental? “Aku benar-benar sangat sehat, Yeol. Kalau aku sakit mental pastinya aku sudah ditahan di rumah sakit.”

Chanyeol meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Maaf, aku hanya khawatir denganmu.”

“Tidak perlu khawatir. Sana kembali ke bangkumu. Sebentar lagi jam istirahat habis.” Ujar Tiffany sambil tersenyum.

“Siap bos!” Chanyeol berlari kecil kemudian duduk di bangkunya.

Jessica baru saja kembali dari kantin bersama teman-temannya. Dia langsung duduk di bangkunya. Sayangnya, suasana hatinya yang sedang ceria terganggu oleh tulisan darah yang muncul di papan tulis.

‘kau menyelamatkan Tiffany bukan berarti urusan selesai. Aku pastikan dia tidak akan selamat.’

Jessica menunduk. Sooyoung benar, masalahnya sama sekali belum selesai. Bahkan mungkin malah menambah masalah baru karena dia menyelamatkan calon korban Sooyoung.

Mata foxy milik gadis itu menatap Tiffany yang duduk di bangku depan. Sejujurnya, dia merasa kalut juga iba. Ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya benar-benar kacau.

Bayangkan saja. Kau masih siswa SMU, tapi kau telah direkrut oleh arwah penasaran untuk menjadi anteknya membalas dendam. Tatapan Jessica semakin sendu.

Entah angin apa yang membawa Tiffany menghadap belakang dan tatapannya bertemu dengan milik Jessica. Tiffany mengerutkan keningnya karena Jessica menatapnya sangat sendu.

“Ada apa, Jess?” Tanya Tiffany.

Jessica mengerjap, “Aniyo.”

Jessica mengalihkan pandangannya, sementara Tiffany hanya dapat menyimpan rasa penasarannya.

TBC

Aku minta maaf sekali buat semua readers ff ini karena sudah bikin kalian menunggu lama. sebenernya chapter ini udah selesai tapi karena wifi rusak, jadi harus diundur dulu. ini aja minjem modemnya sepupu /curcol/

Intinya aku minta maaf lah, dan sepertinya chapter selanjutnya juga akan sedikit lama karena masalah wifi ini dan kesibukan inagurasi /deepbow/

Baiklah, sampai jumpa di chapter selanjutnya^-^

24 thoughts on “(Mini Series) Blood Message [Chapter 5]

  1. omg sooyoung bakal nyelakain jessica juga??? ;(((
    semoga chapter depan banyakan momen chansica nyaaaa
    it’s ok author-nimmm aku sabar menunggu update-an story mu ;)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s