180° – Chapter 11

tumblr_n20xx9MP0a1rgwas2o1_500

Yura Lin proudly presents;

180°

Genre:

Angst – Family – Romance

Length:

Series

Cast:

SNSD Jessica | BAP Daehyun

Other cast:

ZE:A Junyoung | f(x) Krystal

Previous:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 89 – 10

Credit poster:

Aiden Top @ Coup d’etat

Daehyun ingin sekali membuktikan bahwa ayahnya salah, bahwa dia sudah sangat siap untuk bertanggung jawab akan kehamilan sang Sooyeon noona dan menjadi seorang ayah. Akan tetapi, pada akhirnya, mulutnya akan tetap terkunci rapat.

Saat Jessica terbangun, sisi kasur lainnya sudah kosong. Dia sudah terbiasa tidak melihat Daehyun di pagi hari akhir-akhir ini. Di hari-hari sebelum Daehyun mengetahui segalanya, biasanya pria itu membangunkan Jessica setelah mandi dan mengajaknya sarapan bersama. Sekarang, bahkan Daehyun tidak berpamitan kepadanya sebelum pergi ke tempat pencucian mobil.

Ketika Jessica keluar dari kamar, dia melihat Krystal sedang membaca majalah, mengabaikan televisi yang sengaja dibiarkan menyala. Sepertinya Daehyun lah yang menonton acara itu sebelum berangkat dan Krystal membiarkannya tanpa niat mengganti channel karena channel di televisi saat itu adalah channel favorit Daehyun, bukan Krystal. Dia menghampiri adiknya dan memeluknya dari belakang. Walaupun kaget, Krystal tidak mengatakan apapun. Matanya tetap tertuju kepada halaman majalah.

“Sudah sarapan?” tanya Jessica.

“Tentu saja. Oh ya, suamimu tercinta sudah menyiapkan sarapan khusus untukmu,” balas Krystal lalu menunjuk meja dapur dengan dagunya tanpa mengalihkan tatapan.

“Dia yang membuatkannya?” tanya Jessica terkejut.

Krystal mendesis. “Bukan itu maksudku. Dia mempersiapkan daftar makanan yang harus Heo ahjumma masakkan untukmu. Katanya, itu bagus untuk kehamilanmu. Ku akui, dia memang suami yang perhatian.”

Heo ahjumma adalah seorang wanita lanjut usia yang biasa merapikan apartemen itu sejak pagi hari. Tidak jarang, Heo ahjumma juga menyiapkan makanan untuk Daehyun dan Jessica jika sempat. Dengan adanya Heo ahjumma, Jessica tidak perlu memaksakan dirinya untuk merapikan apartemen tersebut karena dia terlalu malas untuk sekedar mengambil sapu dan semacamnya. Terlebih setelah kehamilannya, dia bahkan hampir tidak mau bangun dari kasurnya jika tidak ada yang mendesaknya untuk keluar dari kamar, seperti kebutuhan untuk ke kamar mandi maupun perutnya yang meminta untuk diisi hampir setiap jam.

Jessica membalasnya dengan gumaman sambil melepaskan pelukannya. Dia tidak beranjak dari posisinya. Matanya memperhatikan layar televisi yang menayangkan berita pagi. Kebetulan saat itu adalah berita cuaca.

“Hari ini Seoul benar-benar dingin,” gumam Jessica.

“Lalu?”

“Aku tidak bisa keluar.”

Akhirnya Krystal mengalihkan pandangannya dari majalah, mendongak ke atas untuk melihat wajah kakaknya. “Kau punya jadwal hari ini? Untuk apa? Mengajar? Ku pikir sekolah sudah libur selain murid-murid yang mengikuti remedial dan semacamnya. Lagipula, natal sudah di depan mata. Apa sekolah tidak membiarkanmu libur lebih awal?”

Jessica mendesis. “Kau terlalu banyak bertanya. Aku hanya ingin keluar untuk membeli sesuatu.”

“Kau bisa menyuruh Daehyun oppa. Kau bisa memintanya apapun. Itu adalah salah satu keuntungan dari menikah,” sahut Krystal, kembali membaca majalah.

“Pasti lama! Aku ingin memakannya sekarang!” Jessica menggerutu kesal. “Aku ingin bakpao daging sekarang. Soojung-ah, belikan itu untukku, ya?”

Krystal menolaknya dengan cepat sambil berbaring di sofa. Dia baru menginap 3 hari dan sudah disuruh-suruh, ugh, dia tidak mau! Lagipula, seperti yang dikata Jessica tadi, diluar sangat dingin. Dia sudah terlalu nyaman dengan kehangatan di apartemen itu. Dia tidak mau diganggu sedikitpun.

Krystal menoleh saat mendengar suara aneh dari kakaknya. Dia melompat bangun melihat Jessica menangis. “Waeyo? Apa kau baik-baik saja, Eonni? Perutmu sakit?”

“Bakpao daging. Soojung-ah, aku ingin bakpao daging,” pinta Jessica sambil terisak pelan.

Krystal mengerang pelan. Dia tahu dia tidak bisa menolaknya lagi sekarang.

***

Daehyun terkejut melihat ayahnya berada di ambang pintu kantornya. Sang ayah tidak datang datang ke tempat ini sebelumnya. Jika ada yang ingin dibicarakan, mereka bertemu di rumah sakit atau mendiskusikannya lewat telepon. Dia segera bangkit dari duduknya, membungkuk, dan mempersilahkan ayahnya duduk.

Daehyun benar-benar bingung harus melakukan apa. Ini adalah pengalaman pertamanya bertemu dengan ayahnya di kantornya sendiri. Dia tidak pernah kedatangan tamu sebelumnya. Paling-paling, pekerjanya lah yang datang ke kantor untuk melaporkan sesuatu lalu kembali ke perkerjaan mereka. Daehyun pun memilih untuk menawarkan minum terlebih dahulu tapi sebelum ia sempat membuka mulut, ayahnya sudah berbicara.

“Kebetulan aku sedang dalam perjalanan menuju tempat seminar jadi aku memutuskan untuk berhenti sebentar dan memberitahumu sesuatu secara langsung,” kata ayahnya.

Daehyun mengangguk. “Oh begitukah? Tentang apa?”

“Tempat ini diliburkan mulai besok jadi kau harus segera mempersiapkan gaji mereka. Oh ya, hari ini juga adalah hari terakhirmu mengurus tempat ini. Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi manager baru,” jawab ayahnya.

Sejujurnya, Daehyun kebingungan. Ya, dia memang menjadi manager sementara, ayahnya sudah menegaskannya dari awal karena beliau tidak ingin pekerjaan ini mempengaruhi kuliah Daehyun. Akan tetapi, Daehyun tidak pernah dengar apapun tentang manager baru. Mendengar ayahnya membuka lowongan kerja untuk manager baru saja tidak. Tiba-tiba ayahnya datang dan memberitahunya tentang ini.

“Oh..”

Hanya itu lah yang bisa ia katakan dan membuat suasana semakin canggung.

“Bagaimana kabar istrimu?” tanya ayahnya.

Daehyun menjilat bibirnya gugup. “Baik.”

“Berapa umur kandungannya sekarang?”

Daehyun terpaku mendengar pertanyaan tersebut. Dia mungkin bisa menjawabnya dengan tegas, “4 bulan!” tapi dia tahu itu adalah kebohongan. Dia mau saja berbohong tapi dia merasa itu tidak benar. Dia tidak ingin berbohong kepada ayahnya, terlebih saat tatapan ayahnya terasa seperti sedang menghakiminya. Jika dia ikut berbohong dan ayahnya tahu kebenarannya, dia yakin itu akan menjadi masalah besar.

“Aku tidak tahu,” jawab Daehyun akhirnya.

Tuan Moon berdecak pelan. “Kau memang belum siap dengan semua ini. Tidak ada suami yang tidak tahu tentang calon anaknya sama sekali. Kau benar-benar sial karena satu kesalahan yang bisa dicegah.”

Tentu saja ada. Kau adalah contohnya!, Daehyun menggertakkan giginya tapi dia tidak menjawab apapun. Sedetik kemudian, dia pun bersyukur karena tidak mengatakannya secara langsung. Ayahnya tidak tahu tentangnya karena ibunya tidak memiliki hubungan resmi dengan ayahnya. Alasan yang bagus mengapa dia baru mengetahui statusnya saat umurnya 9 tahun.

“Mungkin jika Junyoung lah yang berada di posisimu, semuanya akan lebih baik.”

Betapa muaknya Daehyun dengan nama itu. Akan tetapi, tak peduli apapun yang terjadi, nama itu akan tetap muncul di hidupnya dan akan selalu dibandingkan dengannya. Dia ingin sekali membuktikan bahwa ayahnya salah, bahwa dia sudah sangat siap untuk bertanggung jawab akan kehamilan sang Sooyeon noona dan menjadi seorang ayah. Akan tetapi, pada akhirnya, mulutnya akan tetap terkunci rapat.

“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Seminar akan dimulai 20 menit lagi,” pamit ayahnya setelah melirik jam tangannya.

Daehyun hanya membalasnya dengan gumaman lalu kembali membungkuk kepadanya ayahnya. Dia menghempaskan dirinya setelah pintu kantornya kembali tertutup rapat. Akhirnya dia sendiri lagi. Dia menghela napas panjang. Namun kesendirian itu tidak berlangsung lama karena handphonenya berdering. Dia mengangkatnya dengan malas.

Yobo—“

Oppa, tolong aku!!”

Daehyun menjauhkan handphone dari telinganya untuk melihat nama sang penelepon. Krystal! Tepat seperti tebakannya.

“Ada apa?” tanyanya, sedikit kesal. Dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.

“Istrimu menyiksaku!”

Daehyun segera menegakkan tubuhnya dengan wajah panik. “Heh? Apa yang terjadi?”

“Dia menangis seharian karena aku gagal menemukan bakpao daging! Telingaku benar-benar sakit! Cepatlah pulang dan berikan semua yang dia minta! Aku kabur ke rumah temanku untuk sementara. Semoga beruntung!”

Krystal pun menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Daehyun. Daehyun kembali menghela napas panjang. Jessica menangis bukan lagi hal aneh baginya. Hampir setiap hari istrinya menangis karena berbagai alasan. Kebiasaan baru Jessica mulai membunuhnya secara perlahan.

***

Daehyun terpaksa menutup tempat pencucian mobil lebih cepat dan menghubungi hampir seluruh kontak di handphone untuk menanyakan dimana dia bisa membeli bakpao daging. Beruntung Taemin mengetahuinya. Temannya yang satu itu memang tahu banyak tempat karena dia pernah bekerja hampir di setiap toko di distrik Gangnam. Dia bahkan tidak sempat mengurusi gaji dan sebagainya sehingga dia meminta semua pekerja untuk datang lagi besok untuk mengambil gaji mereka.

Sesampainya dia di apartemen, keadaan sangat sepi seakan tidak ada seorangpun di rumah. Namun ketika dia membuka pintu kamarnya, dia melihat sesosok orang sedang tertidur di kasurnya dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Orang itu tidak mungkin Krystal karena gadis itu bahkan tidak masuk ke kamarnya dan dia juga sedang berada di rumah temannya. Akan tetapi, bukan fakta itu yang meyakinkan orang yang tertidur di kasurnya bukanlah Krystal tapi karena… entahlah, mungkin karena dia sudah terlalu familiar dengan sosok itu, Jessica, istrinya. Bahkan saat Jessica berdiri di titik butanya, selama masih berada di radius dekat, dia bisa merasakan kehadiran wanita itu.

Daehyun meletakkan tas plastik berisi beberapa bakpao daging di atas meja rias lalu menghampiri sang istri. Dia hanya berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan sosok di balik selimut itu. Beberapa detik kemudian, Jessica menyibak selimut sampai ke bawah dadanya seraya berbalik badan, matanya tetap tertutup. Daehyun tersenyum kecil melihatnya. Dia mengambil kembali tas plastik di atas meja rias dan meletakkannya di atas bantal yang biasa ia gunakan untuk tidur.

“Tidur yang nyenyak, Sooyeon noona,” gumamnya pelan. “Jangan menyusahkan ibumu, ya. Kasihan,” tambahnya sambil mengelus perut istrinya.

***

Jessica tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih lewat sms ke Krystal karena adiknya tidak kunjung mengangkat teleponnya untuk bakpao daging yang ia temukan di kasur ketika dia membuka matanya. Sayang sekali, keinginannya untuk  bakpao daging sudah tidak terlalu menggebu-gebu seperti ketika ia menangis sampai tertidur karena kelelahan. Namun dia tetap  berniat untuk memakannya dengan lahap. Perutnya yang belum diisi dari pagi sebab dia menolak untuk memakan apapun selain bakpao daging. Namun sebelumnya, dia memutuskan untuk mandi dan merapikan diri. Setelah itu, dia membawa sisa bakpao keluar dari kamarnya.

Jessica tersedak melihat Daehyun berada di ruang tengah, duduk di lantai sambil mengecek beberapa data dengan laptop menyala di meja. Batuknya berhasil mendapatkan perhatian dari suaminya tapi Jessica segera berlari ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil sebotol air dingin, memanfatkan pintu kulkas untuk menyembunyikan tubuhnya karena dia bisa merasakan tatapan Daehyun masih tertuju kepadanya walaupun pria itu tidak mengatakan apapun.

Sial, mengapa dia sudah pulang? Memang jam berapa sekarang? gerutu Jessica dalam hati seraya melirik ke jam dinding lalu kembali meruntuki dirinya setelah sadar hari sudah malam. Dia tidur hampir 6 jam setelah dia tertidur hampir 12 jam semalam. Wow!

“Kau baik-baik saja, Noona?”

Jessica yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri sambil meneguk segelas air dingin itu pun kembali tersedak. Dia sama sekali tidak menyadari Daehyun yang kini sudah berada di belakangnya! Daehyun menepuk punggung Jessica dengan wajah cemas.

“Ada denganmu?” tanya Daehyun lagi.

“Uhuk, aku baik-baik saja. Tenang saja. Uhuk!” jawab Jessica yang masih terbatuk-batuk.

Kini Jessica bersyukur Daehyun sibuk dengan tempat pencucian mobil itu. Dia tidak menyangka hanya berdua dengan Daehyun di satu tempat dengan skinship di antara mereka terasa sangat tidak nyaman. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak memiliki hubungan yang baik dan itu benar-benar menyiksa batinnya.

Jessica terbatuk cukup keras yang membuat perutnya sedikit sakit. Dia memegang perutnya sambil meringis pelan. Melihat wajah kesakitannya, Daehyun pun menjadi panik dan ikut menyentuh perutnya.

“Perutmu juga sakit? Apa perlu ke dokter?” cemas Daehyun.

Jessica mengelak tangan Daehyun sambil menggeleng pelan. “Sudah ku bilang, aku baik-baik saja. Tidak perlu ke dokter.”

“Tapi tadi perutmu—“

“Perutku baik-baik saja. Hanya sedikit sakit karena batuk terlalu keras. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Lagipula dokter mengatakan kondisi kehamilanku baik-baik saja jadi tidak mungkin terjadi sesuatu yang buruk hanya karena batuk!”

Dia bohong. Jessica pergi ke dokter kemarin tanpa mengatakan apapun kepada Daehyun. Dia tidak mau ditemani siapapun. Bahkan ketika Krystal bertanya, dia beralasan ingin bertemu dengan Sandara. Untung saja Krystal tidak mengenal Sandara jadi Krystal tidak bertanya lebih lanjut. Dokter Park mengatakan kondisi bayinya tidak terlalu baik. Ukurannya tidak begitu ideal. Tubuh Jessica pun terbilang terlalu kurus untuk seseorang yang hamil 2 bulan karena berat badan Jessica tidak naik sama sekali, malah turun. Itu semua membuat sang dokter sangat cemas sehingga dokter Park menyarankan banyak hal kepada Jessica dan menyuruhnya untuk kembali minggu depan. Oleh karena itu, Jessica tidak ingin siapapun tahu. Dia tidak mau seorangpun mencemaskan dirinya.

Daehyun tidak begitu yakin dengan jawaban Jessica. Dia tahu raut wajah Jessica sekarang. Wanita itu menyembunyikan sesuatu. “Kau yakin?”

“Jung Soojung pulang! Adakah yang merindukanku? Aku siap untuk memberikan pelukan gratis~”

Jessica sedikit mendorong Daehyun menjauh darinya lalu berlari untuk menyambut adiknya. Diam-diam, dia berterima kasih kepada Krystal. Dia terbebas dari Daehyun sekarang, setidaknya untuk sementara waktu hingga Daehyun ingin membahasnya kembali, walaupun kemungkinannya kecil.

“Hoa, tumben sekali kau memelukku seerat ini,” seru Krystal kaget.

Jessica melepaskan pelukannya dengan cemberut di wajahnya. “Aku selalu memelukmu saat kau pulang.”

“Setiap aku pulang dari Amerika, ya. Kecuali saat kepulanganku yang mendadak kemarin, kau bahkan tidak tersenyum menyambut kepulanganku. Akan tetapi aku hanya pergi sebentar lalu—“

“Aku lapar! Bagaimana kalau kita makan di luar?” ajak Jessica cepat, memotong omongan Krystal.

Walaupun bingung dengan sikap kakaknya, Krystal tetap menganggukinya dengan penuh semangat. Tidak peduli dengan Daehyun yang masih berdiri di depan kulkas, tangan menutup pintu kulkas, matanya menatap Jessica penuh tanda tanya. Jessica cukup bersyukur semua setuju. Selain untuk menghindari pertanyaan Daehyun, dia juga kelaparan. Dia baru memakan satu gigitan bakpao daging tapi ia muntahkan karena tersendak tadi. Artinya, perutnya belum diisi selama seharian.

Maaf ya, Baby. Kamu pasti lapar, lirih Jessica dalam hati sambil menepuk perutnya.

***

Jessica yang mengajak mereka untuk makan di restoran tersebut. Namun kenyataannya, Jessica menjauh dari Daehyun dan Krystal seakan tidak ingin mengganggu mereka. Keduanya merasakan hal ini tapi mereka berusaha cuek terhadap Jessica dan mencari topik-topik baru untuk dibicarakan selama perjalanan menuju restoran yang ditunjuk oleh Jessica. Jika wanita itu tidak ingin diganggu, baiklah.

Jessica cemberut dan harus menerima kenyataan bahwa lantai restoran di bawah penuh sehingga mereka ke lantai atas untuk mendapatkan meja kosong. Sebenarnya dia malas sekali untuk menggunakan tangga tapi dia benar-benar ingin mecicipi beberapa makanan di restoran tersebut sehingga dia harus memaksakan kakinya menaiki setiap anak tangga.

“Jika kau tidak mau—“

“Aku hanya ingin makan di sini dan saat ini juga,” tegas Jessica, tidak memberikan Daehyun kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.

Daehyun hanya menghela napas panjang sedangkan Krystal menepuk punggung Daehyun untuk memberikan semangat. Keduanya pun setuju jika selain menjadi sangat cengeng, Jessica menjadi sangat menyebalkan karena hormonnya.

Restoran saat ini memang sedang sangat ramai. Meja kosong hanyalah yang berada di dekat kamar mandi dan di samping tangga. Jessica segera memegang kursi yang paling dekat dengannya untuk menegaskan dia menginginkan kursi itu sehingga Daehyun mengambil kursi di sampingnya dan Krystal duduk di kursi di hadapan Jessica.

Akan tetapi dia tidak langsung duduk. Setelah memperhatikan dua orang lainnya duduk manis di kursi masing-masing, Jessica memperhatikan meja di dekat jendela. Dia menginginkan meja itu tapi dia tahu dia tidak akan mendapatkan dengan cepat, apalagi keluarga di meja itu juga baru saja datang, hanya terpaut 1 menit dari kedatangannya.

Jessica memperhatikan keluarga tersebut. Wanita yang sepertinya di pertengahan 30-an itu sedang hamil besar dan suaminya terlihat sangat cemas. Dia cemburu. Daehyun bahkan tidak pernah secemas itu terhadapnya, setidaknya itulah menurutnya walaupun dia tidak tahu apa saja yang sudah dilakukan oleh Daehyun untuknya. Dan 2 anak laki-laki dari pasangan tersebut tidak mau diam di kursi mereka masing-masing. Mereka saling menjahili, mengejar, dan memukuli satu sama lain dan tak mau berhenti walaupun kedua orangtuanya sudah meneriaki mereka berkali-kali. Mereka bahkan tidak sengaja hampir menabrak pelayan yang berlalu-lalang sambil membawa piring-piring pesanan sehingga piring-piring tersebut hampir terjatuh. Untung saja pelayan itu berhasil menyelamatkan dirinya dan piring-piring tersebut. Selama orangtuanya meminta maaf kepada pelayan itu, kedua anak itu kembali berlarian.

Kau tidak boleh senakal itu! Itu sangat mengganggu orang lain dan sangat berbahaya. Mengerti? ceramah Jessica kepada anaknya yang belum lahir itu dalam hati sambil mengelus perutnya. Walaupun Jessica sudahberniat untuk tidak menyayangi anaknya, sudah berkali-kali dia mengajak ngobrol anaknya dengan penuh sayang tanpa sadar.

“AAA!! Sakit, Hyung!” protes si kecil karena kepalanya ditoyor oleh kakaknya lalu mengejar kakaknya dengan wajah penuh amarah.

Bruk!

Noona!”

Eonni!”

***

Daehyun berjalan mondar-mandir di depan ruangan emergency room yang hanya ditutupi tirai. Suara ramai di dalam ruangan membuatnya semakin berkeringat dingin. Pada akhir, Daehyun dipaksa duduk di luar emergency room oleh seorang suster karena tindakannya yang dinilai mengganggu. Di luar rumah sakit, Krystal dengan berbicara dengan orangtua dari 2 anak yang tidak sengaja menabrak Jessica ketika kegiatan saling mengejardi restoran tadi. Akibatnya, Jessica jatuh dari tangga dan mengalami pendarahan.

“Mengapa kau di luar?” tanya Krystal begitu urusannya dengan keluarga itu selesai.

“Aku diusir karena mengganggu,” jawab Daehyun lemas. “Bagaimana—“

“Mereka meminta maaf dan berjanji akan menghukum berat kedua anaknya,” jawab Krystal sambil terkekeh kosong. Dia benar-benar ingin menertawainya karena hukuman berat dari orangtua tidak mungkin sekejam hukuman yang sudah direncanakan Krystal di dalam otaknya untuk 2 anak tengil yang menyebabkan kakaknya masuk rumah sakit. Betapa ia ingin menghukum 2 anak laki-laki itu dengan tangannya sendiri.

“Hanya itu?!”

Krystal melirik Daehyun sinis. “Kau menginginkan apa? Hukuman mati untuk mereka? Demi Tuhan, mereka masih 5 dan 7,5 tahun, oppa!”

Daehyun tidak menjawab apapun. Dia bahkan tidak tahu apakah itu semua cukup atau tidak. Dia tidak memikirkannya. Dia hanya merasa semua itu tidak cukup untuk membayar apa yang terjadi kepada Jessica.

“Mereka juga menawarkan untuk membayar tagihan rumah sakit. Namun karena eonni dibawa ke rumah sakit ini…” Krystal berhenti sejenak untuk memperhatikan bangunan tempat ayah dan kakak tirinya Daehyun bekerja. “…ku rasa tidak perlu. Mungkin keluargamu yang akan membayarkannya secara otomatis.”

Daehyun hanya terdiam. Ucapan Krystal hanya mengingatkan Daehyun untuk menyiapkan diri sebelum berita ini terdengar oleh ayahnya. Dia hanya menyiapkan diri untuk direndahkan lebih parah sebelumnya karena gagal melindungi istrinya walaupun istrinya tepat di depan matanya. Tidak lupa dengan Junyoung! Pasti dokter yang juga bernotabene sebagai temannya Junyoung akan memberitahukan ini kepada kakak tirinya.

Habislah aku!

Daehyun dan Krystal semakin panik saat dokter mengatakan mereka harus segera tindakan yang memerlukan alat dan beberapa hal yang cukup mahal untuk menyelamatkan bayinya ketika ayahnya datang. Ayahnya yang menjabat sebagai ketua tim dokter penyakit dalam di rumah sakit itu menginstruksi kepada semua dokter untuk melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan calon cucu pertamanya itu.

“Mereka pasti baik-baik saja,” gumam Daehyun sambil memeluk Krystal yang sudah terisak parah tapi terdengar seperti dia sedang meyakini dirinya sendiri, bukan Krystal.

Keadaan semakin memanas ketika ayahnya Jessica datang dan mendengar apa yang terjadi dari Krystal. Tuan Jung menyalahkan Daehyun secara frontal sedangkan ayahnya tidak mengatakan apapun walaupun tatapan penuh kecewa selalu beliau pancarkan setiap mata mereka bertemu. Beruntung ibunya Junyoung datang dan berhasilkan mendinginkan suasana.

***

Jessica dipindahkan ke ruang inap setelah dokter Kim gagal menyelamatkan janinnya. Perut Jessica terbentur anak tangga cukup keras dan membuat sang janin yang sudah lemah, menjadi semakin lemah. Sementara itu, Jessica dibius untuk menghindari rasa sakit dari kegiatan kuretasi untuk mengeluarkan janin dan sisa jaringan lainnya. Untung saja Jessica tidak makanan apapun sehingga bisa langsung dibius dan “dibersihkan”.

Daehyun menarik kursi ke dekat jendela agar dia bisa memandangi lampu-lampu kota malam itu sambil menyesali banyak hal. Dia benar-benar frustrasi sekarang. Sudah berkali-kali dia mengeluarkan handphonenya untuk menelepon ibunya di Busan atau sekedar Youngjae yang tinggal sekitar 12 km dari rumah sakit tersebut untuk menceritakan segala yang terjadi tapi tidak pernah benar-benar ia lakukan. Youngjae dan ibunya pasti akan menyalahkannya, sama seperti semua orang yang datang ke rumah sakit malam ini. Dia terlalu lelah disalahkan. Dia sangat lelah karena dia pun menyalahkan dirinya sendiri.

Aku tepat di depannya!

Aku bisa menangkap tangannya!

Atau memaksanya duduk?

Mengapa aku membiarkannya duduk di dekat tangga? Tentu saja itu berbahaya!

Kau benar-benar tidak berguna, Jung Daehyun!

Bodoh! Sangat bodoh!

Sepanjang malam dia merasa mati rasa, akhirnya air matanya mengalir juga ketika kepalanya bersandar ke kaca jendela.

***

Jessica sempat terbangun sebentar. Rasanya seperti bermimpi. Tubuhnya terlalu ringan akibat efek obat bius. Walaupun begitu, dia panik karena berada di tempat yang asing. Dia memperhatikan  sosok yang tertidur di kursi dengan kepala bersandar di jendela. Setelah diperhatikan lebih cermat, dia pun sadar itu adalah Daehyun. Wajah suaminya terlihat lelah dan suram. Hanya dengan melihat wajah suaminya yang tertidur, itu cukup untuk membuat Jessica tenang dan kembali tidur.

Aku ingin dipeluk Daehyun lagi, tapi ya sudahlah. Selamat malam, Baby! Terima kasih karena tidak membuat ibumu menangis lagi di malam hari.

***

Rasanya ada yang aneh! Jessica berani bersumpah.

Daehyun sudah menghilang saat ia terbangung, bukan sesuatu yang baru. Dia berada di rumah sakit, ya dia tahu alasannya karena dia terjatuh semalam. Krystal menemaninya sekarang dengan wajah sedih, dia bahkan sedih ketika Jessica masuk rumah sakit karena demam berdarah saat ia masih kecil dulu. Ayahnya juga menjenguk, walaupun sedang ada masalah di antara mereka tapi ayahnya tetap lah ayahnya. Ibunya menelepon dan menanyakan kabarnya, tentu saja seorang ibu tidak ada yang tenang setelah mendengar anaknya jatuh.

Lalu apa?

“Apa kata dokter semalam?” tanya Jessica.

Krystal menoleh linglung. “Huh?”

“Pasti dokter beritahu sesuatu tentangku. Apa semuanya baik-baik saja? Aku tidak geger otak, ‘kan?”

Krystal menggigit bibirnya. “Keningmu memang terluka cukup parah tapi hebatnya kau tidak geger otak.”

Jessica mengangguk. “Lalu?”

“Lalu…?”

“Anakku? Apa dia baik-baik saja?” tanya Jessica memastikan.

Krystal tertegun mendengarnya. Dia menatap Jessica dengan mulut terbuka tanpa tahu harus mengatakan apa.

“B-bukan berarti aku peduli dengannya…” Jessica mencoba menjelaskan lalu dia ingat bahwa Krystal tidak tahu apa-apa tentang masalahnya, Daehyun, Junyoung dan bayi itu sendiri dan segera meralatnya. “M-maksudku, ya, aku peduli. T-tapi aku… aku tidak terlalu peduli. Eh.. aku peduli tapi tidak sepeduli.. uh… apa yang ku bicarakan sih? Kau pasti tidak mengerti, ‘kan, Soojung-ah?”

Jessica salah. Krystal tahu tentang masalah mereka. Krystal tahu segalanya dari Junyoung. Itulah alasan utama Krystal kembali ke Korea saat Junyoung pergi ke Australia, untuk melindungi dan membantu sang kakak. Dia tahu bagaimana niat Jessica terhadap anaknya, ya dia tahu. Namun dia juga tahu bagaimana perasaan kakaknya sebenarnya. Awalnya dia marah karena dia tidak tahu semua dari awal tapi Junyoung berusaha untuk membujuknya dan sekarang dia malah berakhir dengan mengasihani kakaknya. Ditambah keguguran yang harus diterima oleh Jessica, hati Krystal hancur hanya dengan membayangkan bagaimana respon kakaknya nanti.

Eonni.”

“Aku juga tidak mengerti sih dengan apa yang ku bicarakan.”

Eonni, dengarkan aku—“

“Ini benar-benar sulit untuk dijelaskan. Dan aku tahu kau pasti akan marah jika kau tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aku tahu.”

“Percayalah, kau tidak tahu. Aku benar-benar minta maaf karena tidak memberitahumu lebih cepat tapi—“

“Aku tahu! Aku tahu semuanya! Junyoung oppa memberitahuku segalanya! Jadi sekarang kau harus mendengarkan aku!” bentak Krystal frustrasi.

Jessica menatap Krystal tak percaya. Dia merasa lega dan kesal di saat yang bersamaan. Lega karena dia tidak perlu menjelaskan semuanya dan kesal karena Junyoung lah yang memberitahunya. Huh, dasar payah! Tidak bisa menyimpan rahasia! gerutunya dalam hati.

Eonni,” panggil Krystal untuk meminta perhatian dari kakaknya. “Anakmu.. dia.. kau keguguran karena kecelakaan  semalam.”

Krystal menutup matanya. Dia tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan kakaknya di saat sepertinya. Namun setelah beberapa detik dia tak kunjung mendapatkan jawaban apapun, Krystal membuka matanya. Wajah kakaknya sangat pucat.

Eonni, aku ini berat tapi—“

Jessica tersenyum. “Tidak. Ini lebih baik. Aku memang tidak pernah menyayanginya. Ini semua lebih baik. Daehyun pasti lega saat mengetahuinya, ‘kan?”

Kenyataannya Daehyun pamit pergi dengan wajah amburadul saat Krystal datang tadi pagi dan belum kembali sampai sekarang. Krystal mencoba menelepon Daehyun tapi pria itu tidak menjawab sama sekali. Tanpa harus diberitahu secara langsung, dia tahu Daehyun benar-benar shock karenanya. Sama seperti Jessica sekarang walaupun kakaknya berusaha menyangkal.

“Sica eonni,” lirih Krystal.

Jessica menggeleng cepat. Hidungnya memerah dan tenggorokannya sakit karena menahan tangis. “Tidak sekarang, Soojung-ah. Aku ingin sendiri.”

Krystal mengangguk mengerti. Dia segera menurutinya tanpa kata lainnya keluar dari mulut Jessica.

***

Daehyun tidak tahu harus membawa mobil kemana. Dia hanya berputar di kota sambil berusaha menjernihkan pikirannya. Cara yang berbahaya dan tidak efektif. Dia malah semakin frustrasi karena di jalan-jalan utama kota Seoul. Pada akhirnya, dia memilih jalan aman walaupun menyebalkan.

Rumah Youngjae.

Tidak ada orang lain yang tahu tentang Jessica selain keluarga, termasuk Junyoung dan ibu kandungnya. Tidak juga sahabatnya yang sudah ia kenal sejak jaman sekolah karena tidak terlalu sibuk memikirkan kondisi keluarga kecilnya. Dia juga tidak berani untuk memberitahu orang lain.

“Kau benar-benar kacau!” kalimat pertama yang dilontarkan sahabatnya tanpa salam atau sapaan terlebih dahulu.

Daehyun menyetujuinya dengan mengangguk. “Sangat.”

“Ada kabar buruk?”

“Sangat buruk.”

“Junyoung hyung kembali ke sini setelah baru 4 hari di berada di Australia karena tidak tahan dengan musim panas dan meerindukan salju di sini?” canda Youngjae.

“Sangat lucu.”

Bicara tentang salju, dia bahkan melupakan jaketnya di mobil dan dia tidak merasakan apapun saat melewat tumpukan salju. Dia benar-benar mati rasa sepertinya.

“Baiklah, aku panik sekarang, Jung Daehyun. Jika kau sudah seperti ini, pasti ini benar-benar buruk! Ceritakan kepadaku sekarang atau aku tidak akan mau berteman denganmu lagi!”

Daehyun tersenyum kecut. Itu memang niatnya dari awal tapi Youngjae saja yang memulai dengan candaan garing.

***

Krystal segera bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Daehyun. Setidaknya ia bersyukur melihat kakak iparnya sudah terlihat lebih baik dari terakhir mereka bertemu. Daehyun terlihat segar,  memakai baju dengan rapi dan rambut yang ditata seperti biasa. Walaupun dia tidak tersenyum seperti biasanya.

“Bagaimana keadaan Sooyeon noona?” tanya Daehyun.

Krystal merengut sedih. “Buruk. Dia mengusir semua orang yang masuk ke kamarnya. Dia bahkan belum makan sama sekali. Mungkin dia belum makan dari kemarin.”

“Dari kemarin?”

“Dia benar-benar menginginkan bakpao daging dan tidak mau memakan apapun selain bakpao daging,” jelas Krystal.

Daehyun teringat bakpao daging yang ia beli kemarin. Jumlahnya masih utuh dengan satu bakpao dengan bekas gigit kecil di pinggiran. Dia melihatnya karena Jessica meletakkannya di meja dapur saat sibuk batuk karena tersedak. Bibirnya semakin melengkung ke bawah.

“Kau sudah memaksanya makan?” tanya Daehyun.

Krystal terbelalak mendengarnya. “Kau bercanda? Bahkan ayahku pun gagal! Tidak seorangpun berhasil memaksanya makan.”

Ayah mertua datang lagi? Bagus! Daehyun semakin cemberut mendengarnya.

“Tapi ayahku sudah pulang,” lanjut Krystal.

Lebih baik!

“Aku akan mencobanya,” ujar Daehyun, tidak begitu yakin, tapi dia tetap berjalan melewati Krystal dan meraih kenop pintu.

“Kau yakin?”

Pertanyaan Krystal berhasil menghancurkan keyakinan yang sangat kecil di hati Daehyun. Pria itu menghela napas panjang. Terpaksa… dia sangat terpaksa harus mengeluarkan handphonenya dan meminta tolong.

***

“Ku bilang aku ingin sendiri!”

Daehyun menarik napas dalam sambil memperhatikan Jessica yang menutupi seluruh tubuh dengan selimut. “Aku tahu.”

“Lalu tunggu apa lagi?” kesal Jessica, suaranya terdengar serak dan pecah walaupun dia tidak menangis. Dia masih berusaha menahan tangisnya.

“Junyoung hyung ingin berbicara denganmu.”

“Bohong!  Junyoung tidak mungkin pulang.”

Daehyun menekan tombol speaker, meletakkannya di meja night stand lalu meninggalkan Jessica sendiri. Jessica tidak bisa melihat apakah Daehyun sudah keluar atau belum karena pintu keluar ditutupi kamar mandi tapi suara pintu tertutup cukup untuk meyakininya bahwa dia sudah sendiri.

“Bodoh!” gerutu Jessica pelan.

Siapa yang bodoh?

Jessica terlompat kaget di kasurnya saat mendengar suara Junyoung. Dia baru sadar Daehyun meninggalkan handphonenya di sana.

Orang bodoh tidak boleh mengatakan orang lain bodoh!” lanjut Junyoung lalu mendesis.

Ill hang up if you—“

Tapi kau membutuhkanku, ‘kan?

Air mata yang susah payah ditahan dari siang pun jatuh juga. Jessica meringkuk sambil mengutuk Junyoung dengan beribu kata dan bahasa tapi ia bisa merasakan Junyoung tersenyum.

Kau menyayanginya, ‘kan?

“Tidak.”

Pfft, masih mengelaknya? Huh, sayang sekali. Itu berarti aku tidak bisa menjadi ayah tirinya.

“Aku tidak akan menikahimu. Kau menyebalkan.”

Junyoung terkekeh mendengarnya. “Kau sangat menyayanginya, Jess. Akui itu. Kau akan merasa lebih lega.

Jessica menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara isakan dari mulutnya. Dia tidak mau mengakuinya.

Kau pasti kesepian sekarang. Biasanya setiap melihat sesuatu, kau akan membicarakannya dengan bayimu. Tapi sekarang kau sudah tidak bisa melakukannya lagi,” cibir Junyoung.

“Bagaimana kau, hiks, tahu?! Aku tidak pernah memberitahumu! Hiks. Menyebalkan. Junyoung, hiks, kau benar-benar menyebalkan!” protes Jessica sambil terisak. Tangisannya pun semakin keras. Mungkin terdengar sampai keluar ruangan.

Junyoung hanya diam sambil mendengarkan tangisan sahabatnya. Hampir 10 menit Junyoung tidak berbicara sama sekali, Jessica mengira telepon sudah terputus tapi ternyata pria itu masih mendengarkannya.

“Aku benar-benar menyayanginya,” gumam Jessica pelan. Dia sudah tidak punya tenaga lagi. “Aku tidak tahu mengapa. Aku sudah berniat untuk tidak menyayanginya. Toh, saat aku dan Daehyun bercerai nanti, hak asuhnya akan kuserahkan kepada Daehyun.  Ini semua karena aku melihat seorang ibu hamil yang mengobrol dengan perutnya sendiri. Kelihatannya sangat mengasyikkan. Aku mencoba melakukannya dan rasanya hebat. Aku merasa sesuatu benar-benar hidup di dalam perutku.”

Dia pasti juga sangat menyayangimu,” balas Junyoung.

Jessica menghapus air mata di pipinya. “Ya, dia pasti juga menyayangiku. Tidak tahu bagaimana tapi aku tahu dia mendengarkanku. Karena itu, aku sangat menantikan saat dia bisa bergerak, lalu menendang, dan akhirnya lahir. Aku akan mendidiknya dengan baik. Aku merawatnya dengan kasih sayang. Tapi kenapa?”

Tuhan selalu memiliki rencana terbaik.

“Tapi aku sudah sangat siap!”

Jess—“

“Aku tahu. Kau benar. Kau selalu benar.” Jessica terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya. “Mau bagaimana lagi?”

Kau merelakannya?” tanya Junyoung dengan nada yang sangat lembut.

“Mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Entahlah. Setidaknya tidak sekarang.”

Junyoung segera menjawab. Dia menggumam pelan. “Bagus itu.” Junyoung terkekeh pelan. “Kau sudah lebih tenang?

Jessica menjawabnya dengan gumaman.

Kalau begitu, kau harus makan.” Sebelum Jessica bisa protes, Junyoung segera melanjutkannya, “Kau harus makan. Jika tidak, kau akan merepotkan banyak orang. Kasihan, ‘kan?

Walaupun enggan, Jessica menuruti Junyoung karena sahabatnya memang benar. Mengapa sahabatnya selalu benar? Ugh.

***

Jessica tertidur setelah Junyoung menyanyikan sebuah lagu. Daehyun sebenarnya tidak pernah kemana-mana. Dia duduk di dekat pintu, kepala disandarkan ke tembok, sambil mendengarkan percakapan antara 2 sahabat tersebut. Dia mengintip dari sela-sela tirai untuk memastikan istrinya memang sudah tidur lalu mengambil handphonenya dan mengembalikan suaranya ke mode normal.

“Kau masih hidup?” canda Daehyun.

Junyoung mengerang. “Kau harus bersyukur kita hanya berbeda 1 jam! Bagaimana jika aku berada di Eropa atau Amerika?

“Aku yakin kau tetap membantuku, Hyung.” Daehyun tersenyum tipis. “Terima kasih banyak. Aku bersungguh-sungguh. Kau sangat mengenalnya dan bisa mengontrolnya. Hebat. Dia mencintaiku tapi bukan berarti—“

Kau mengharapkan simpatiku?” sungut Junyoung.

Daehyun tertawa pelan. Tidak, dia tidak mengharapkan apapun. Kalau boleh jujur, dia sedang protes. Jessica mencintainya tapi mengapa dia tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Junyoung? Mengapa Junyoung selalu berhasil tapi Daehyun tidak?

Aku tahu kau juga sama hancurnya dengan Jessica,” ucap Junyoung.

Daehyun terkejut mendengarnya. Dia tahu apa yang dirasakan dan dia tidak orang yang selama ini membencinya untuk berkomentar seakan orang itu tahu segala tentangnya. Dia segera menutup telepon lalu mengusap wajahnya. Tangannya bergemetar hebat ketika air matanya kembali mengalir. Walaupun dia sudah menceritakan segalanya kepada Youngjae, mengapa dia tetap seperti ini? Dia tidak suka dirinya menjadi cengeng. Daehyun meninju dinding di depannya dan langsung menyesalinya karena itu menimbulkan suara yang cukup keras. Untung saja Jessica tidak terbangun.

*

To Be Continued

*

Panjang kan? Lumayan buat bayar 2 chapter terakhir yang pendek. Muehehehe.-.

Maaf angstnya tidak separah yang aku janjikan. Tadinya sih sedih banget sampe aku nangis sendiri di mobil tapi aku harus edit di sana-sini karena ga masuk akal dan jadinya seperti ini deh. Maaf ~ maaf~

Btw, chapter ini percampuran dari Begin With A Mistake dan Calling Out. Awalan Begin With A Mistake dan akhir ya pencampuran ._. ya, kalian memang belum tahun lanjutan BWAM kayak gimana jadi lupakan. Ga usah dibahas. Kenapa? Karena ff itu ga akan aku lanjut. Aku aja udah lupa sama muka anak exo. Gimana caranya lanjutin coba? Untung aja aku udah buat kerangka ceritanya.

Terus, kalian pasti ga asing dong sama scene-scene terakhir? Di calling out, Jessica nangis terus nelpon Luhan tapi ternyata Kris ngedengerin :”

75 thoughts on “180° – Chapter 11

  1. Kapan lanjutannya thor,,
    Daehyun harus sama jesicca ya thor,,
    D tunggu kali lo thor kelanjutan nya,,,
    Cerita nya sedih tapi Daebak thor,,
    Buat Ff terbaru daehyun la thor,,
    Lagi tergila-gila nie ma alien KekeMato hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s