Hot Game | Chapter 5 |

edit 2_副本

Title : Hot Game

Author : Жin Genie

Cast : Jessica Jung

Xi Luhan

Suport Cast : Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Kris Wu

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : Chapther

Backsound : A-Jax – Hot Game

***Hot Game by Жin Genie ***

Part 5

 

 

 

“Kenapa rumah begitu sepi?”tanya Luhan lalu menghempaskan tubuhnya di sofa putih yang berada di ruang keluarga. Jessica yang masih terborgol dengan Luhan terpaksa duduk di samping Luhan. Seharian berada di Lotte World sangat melelahkan terlebih mereka bertemu Yuri dan Kris dan melakukan double date atas inisiatif Yuri dan Luhan. Bayangkan saja bagaimana Jessica tidak lelah? Hampir semua wahana mereka naiki.

 

Jessica memejamkan matanya untuk menghilangkan penat di kepalanya. “Tadi mommy mengirimku pesan kalau ia dan daddy sedang mengunjungi Yonghwa ahjussi di Busan dan esok mereka baru akan kembali”jelas Jessica dengan mata yang masih terpejam karena terlalu kelelahan.

 

“Ohh”respon Luhan singkat.

 

“APA?!”teriak Luhan dengan mata yang membulat sempurna. Ia menatap Jessica tidak percaya.

 

“YA! Jangan berteriak di telingaku, Xi Luhan!”marah Jessica karena Luhan yang tiba-tiba saja berteriak.

 

Luhan meringis pelan melihat wajah kesal Jessica, ia yakin setelah ini Jessica akan bereaksi sama dengannya. Bahkan mungkin lebih parah darinya.

 

Melihat Luhan tidak bereaksi, Jessica membuang napasnya pelan. “Cepat lepaskan borgol sialan ini!!”perintah Jessica dengan gaya memerintah khas miliknya.

 

Luhan kembali meringis pelan. Tamat sudah riwayatnya setelah ini. Jessica pasti akan menghabisinya.

 

“YA! Kenapa kau masih diam saja, eoh? Cepat ambil kunci borgol sialan ini. Aku sudah sangat lelah dan ingin istirahat”omel Jessica dengan suara yang semakin melemah karena terlalu lelah.

 

“Emm..itu..aaa..kunci..kuncinya..”ucap Luhan menggantung.

 

“Iya, mana kuncinya?”tanya Jessica dengan tangan menengadah kepada Luhan. Memberi isyarat agar Luhan menyerahkan kuncinya.

 

“Kunci cadangannya ada di Victoria ahjumma”ucap Luhan pelan seraya menundukan kepalanya, ia begitu takut melihat wajah marah Jessica yang kali ini ia yakin akan sangat menakutkan.

 

“Ohh”

 

“APA???”Jessica berteriak dengan mata yang membulat sempurna. Menatap Luhan tidak percaya. Setelah itu ia tertawa hambar.

 

“Aku minta maaf jika kemarin aku sudah keterlaluan mengerjaimu, jadi sekarang berikan kuncinya, Luhan-ssi”ucap Jessica masih dengan tertawa hambar.

 

Luhan terdiam. Seketika Jessica menatap Luhan tajam. “Sungguh, ini tidak lucu!”kesal Jessica.

 

“Aku serius”ucap Luhan pelan dengan wajah yang meyakinkan agar Jessica percaya kalau sekarang ia sedang serius dan tidak mengerjainya.

 

Jessica menghentikan tawa hambarnya. “Aku akan membunuhmu jika itu benar terjadi”ucap Jessica dengan aura membunuh.

 

Sekarang Luhan benar-benar tamat karena sudah membuat Jessica semarah ini.

 

Luhan memejamkan matanya. “Lakukan apa yang kau inginkan”ucap Luhan pelan terdenngar begitu pasrah.

 

Jessica benar-benar menatap Luhan tidak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu? Dan kenapa kunci cadangannya harus ada pada mommy nya?

 

“YA! Kenapa kau bisa sebodoh ini?”marah Jessica. kini kesabarannya sudah habis. Luhan benar-benar membuatnya marah.

 

Luhan diam.

 

“Pasti kau dan mommy bekerjasama atas pemborgolan ini!”ucap Jessica sinis.

 

Luhan masih diam. Memang benar adanya, Victoria ahjumma terlibat dan bahkan ide ini dari Victoria ahjumma.

 

 

>>>

 

 

Sudah lebih dari satu jam Jessica terdiam di samping Luhan. Mereka masih duduk di ruang keluarga. Luhan benar-benar tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia melirik Jessica menggunakan ekor matanya. Jessica benar-benar diam tidak bergerak dengan pandangan lurus ke depan sama seperti satu jam yang lalu.

 

“Jess..”panggil Luhan hati-hati. Ia tidak ingin membangkitkan amarah Jessica lagi.

 

“Hm”sahut Jessica pendek dan tanpa minat.

 

“Mianhae..”sesal Luhan.

 

“Lupakan!”

 

Mendengar respon Jessica yang sangat tidak bersahabat itu membuat Luhan kembali terdiam. Suasana diatara mereka kembali hening. Hanya suara napas dari keduanya yang terdengar di rumah yang megah itu.

 

“Kriukkk”

 

Tiba-tiba suara nyaring yang berasal dari salah satu perut keduanya terdengar.

 

“Pfttt”

 

Luhan mati-matian menahan tawanya, ia tidak ingin Jessica semakin kesal padanya. Luhan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya saat tawanya hampir meledak.

 

“Memalukan!”runtuk Jessica kesal dengan wajah yang merah padam karena menahan malu.

 

Rupanya suara nyaring tadi berasal dari perut Jessica yang minta diisi. Jessica melirik Luhan sinis, saat melihat Luhan berusaha mati-matian menahan tawanya. Menyebalkan!

 

“Tertawa lah sepuasmu!”ujar Jessica sinis lalu membung wajahnya.

 

Mendengar kalimat sinis dari Jessica membuat Luhan tidak ingin tertawa. Lagi-lagi suasana diantara keduanya menjadi hening. Luhan yang sudah tidak tahan denngan suasana yang begitu hening, akhirnya berdiri dari duduknya membuat tangan Jessica tertarik—karena borgol yang masih terpasang.

 

“Mau kemana?”tanya Jessica lemas. Ia sudah tidak memliki tenang lebih untuk marah-marah kepada Luhan terlebih dengan kondisi perut yang kosong.

 

“Ke dapur. Bukan kah kau lapar”

 

“Pasti tidak ada makanan, mommy akan selalu lupa menyiapkan makanan kalau sedang terburu-buru”sela Jessica.

 

“Kalau begitu masak”ujar Luhan enteng.

 

Jessica menatap Luhan tidak percaya. “Memangnya kau bisa memasak?”tanya Jessica ragu.

 

Luhan tersenyum tiga jari. “Yahh, setidaknya aku bisa kalau hanya membuat Ramyeon saja”jawab Luhan tidak begitu yakin.

 

Melihat reaksi Luhan yang tidak yakin membuat Jessica takut untuk memakan ‘masakan’ Luhan. “Lebih baik kita pesan makanan saja”usul Jessica.

 

“Kalau memesan makanan di luar akan memakan waktu yang cukup lama”

 

“Tak apa, aku bi—”

 

“Kriukk”

 

Lagi-lagi perut Jessica berbunyi.

 

“Ku anggap itu sebagai sebuah persetujuan”ucap Luhan lalu melangkah ke dapur yang diikuti Jessica di belakangnya dengan wajah yang merah padam karena harus menahan malu untuk kedua kalinya.

 

Saat sampai di dapur Jessica menarik baju Luhan dari belakang. Luhan yang sedang sibuk memilah panci untuk memasak Ramyeon menoleh ke arah Jessica dengan alis terangkat.

 

“Apa?”

 

“Emm..biar aku saja yang memasaknya..”

 

Luhan menatap Jessica ragu. Dan jessica sangat membenci tatapan seperti itu. Tatapan merendahkan.

 

“Kau tidak usah khawatir. Aku seorang yeoja!”ucap Jessica penuh penekanan pada setiap kata.

 

“Ok ok”seru Luhan seraya mengangkat tangannya dan membiarkan Jessica yang mengambil alih untuk memasak makan malam untuk mereka berdua.

 

Luhan mengamati setiap gerak-gerik Jessica. Jessica terlihat begitu bingung dengan apa yang harus ia lakuakan pertama kali. Luhan berani bertaruh bahwa ini adalah pertama kalinya Jessica memasak.

 

“YA! Tidak seperti itu!” seru Luhan saat melihat Jessica memasukan Ramyeon mentah ke dalam air yang baru saja keluar dari keran air.

 

Luhan menatap Jessica tidak percaya. Jessica benar-benar buruk dalam hal memask, bahkan ia yang seorang namja saja bisa memasak ‘lebih baik’ dari Jessica. Yah, setidaknya ia bisa memasak Ramyeon dengan benar.

 

Jessica menatap Luhan bingung, ia tidak mengerti kenapa Luhan berteriak. Apa ada yang salah dengan cara memasknya?

 

Luhan menggeleng kepalanya. “Kau harus menunggu airnya matang terlebih dahulu, lalu memasukan Ramyeon kedalam air yang mendidih”ucap Luhan seraya membuang Ramyeon yang sudah terlanjur Jessica masukan ke dalam air mentah. Ia kembali mengambil alih untuk memasak Ramyeon. Terus membiarkan Jessica memasak hanya akan membahayakan kesehatan mereka berdua.

 

Luhan menaruh panci kecil yang sudah berisi air ke atas kompor gas, lalu menyalakannya dan menunggu air matang.

 

“Bukan kah sama saja”sahut Jessica dengan wajah ditekuk.

 

“Bodoh!”cibir Luhan.

 

Jessica mengerucutkan bibirnya, sebal dengan cibiran Luhan. Dalam hati ia sibuk memaki Luhan yang berani mengatainya bodoh, namun disisi lain ia merasa ia memang benar-benar bodoh dalam hal memasak.

 

Luhan menghela napas, lalu menoleh ke arah Jessica yang sedang menatapnya tajam. “Kau akan sakit perut jika cara memasakmu seperti itu”ujar Luhan dengan tatapan khawatir.

 

“Perhatikan baik-baik. Pertama-tama kau harus merebus air hingga mendidih terlebih dahulu. Kedua, kau memasukan Ramyeon dan tunggu sampai Ramyeonnya matang, lalu yang terakhir kau masukan bumbu ke dalam Ramyeon”ujar Luhan menjelaskan.

 

Jessica menganggukan kepalanya mengerti. Sekarang ia sudah mengerti caranya memasak Ramyeon. Cukup mudah. Pikirnya.

 

“Ternyata kau pintar masak ya”puji Jessica. senyuman tulus terukir di wajah cantiknya. Senyuman yang baru pertama kali Luhan lihat yang Jessica tunjukan untuknya. Selama ini Luhan hanya melihat wajah kesal Jessica karena ulah jahilnya.

 

Luhan hanya tersenyum kecil mendengar pujian Jessica yang terdengar begitu polos. Ayolah, bagaimana bisa hanya dengan bisa memasak Ramyeon saja di katakana pintar memasak? Bahkan seorang amatir saja seharusnya bisa memasak Ramyeon karena di belakang bungkus Ramyeon terdapat cara memasaknya.

 

Luhan mengacak rambut Jessica menggunakan tangan kirinya yang bebas. Terkekeh kecil karena sikap polos Jessica. Ia baru tahu yeoja pemarah seperti Jessica masih mempunyai sisi polos.

 

“Kau lucu”ujar Luhan lalu terkekeh.

 

Jessica mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa Luhan terkekeh dan mengatakan ia lucu? Hey, ia sedang tidak melucu! Dan juga tidak ada perkataannya yang masuk dalam kategori lucu? Lalu apa yang membuat Luhan tertawa?? pikir Jessica bingung.

 

“Hey, lihat Lu! Airnya menggelembung!”seru Jessica histeris.

 

Luhan yang sedang mengambil mangkuk pun terkejut dengan teriakan Jessica yang tiba-tiba. Untung saja mangkuk yang sedang ia pegang tidak jatuh.

 

“Itu tandanya airnya sudah matang”komentar Luhan.

 

“Ah begitu, jadi aku harus memasukan Ramyeonnya sekarang?”tanya Jessica memastikan.

 

Luhan mengangguk kecil.

 

Dengan penuh semangat, Jessica merobek bungkus Ramyeon dan memasukannya ke dalam air yang sedang mendidih.

 

“Akhh!”ringis Jessica ketika ia terkena cipratan air mendidih saat ia memasukan Ramyeon.

 

“YA! Kau harus hati-hati!”omel Luhan. Luhan langsung meniup tangan kanan Jessica yang terkena cipratan air panas.

 

“Apa masih terasa panas?”tanya Luhan khawatir.

 

“Eum”

 

Luhan langsung menarik tangan Jessica ke wastafel dan membasuhnya denngan air agar rasa panasnya berkurang.

 

Melihat luhan yang begitu khawatir akan dirinya, membuat Jessica sedikit tersentuh oleh kebaikan Luhan yang selama ini tertutupi oleh sifat menyebalkannya.

 

“Apa masih terasa panas?”tanya Luhan lalu meniup kembali tangan Jessica.

 

Jessica menggeleng. “Emm..kurasa sudah lebih baik..”ucapnya tersenyum kecil.

 

“Apa kau yakin? Apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja untuk memastikan bahwa lukamu ini tidak akan infeksi atau bertambah parah?”tanya Luhan beruntun.

 

Jessica menarik tangannya. “Berlebihan”cibirnya.

 

“Aku serius!”seru Luhan tegas.

 

“Sungguh. Aku baik-baik saja!”balas Jessica meyakinkan.

 

“Ahh, kurasa Ramyeonnya sudah matang”ucap Jessica mengalihkan perhatian Luhan. Luhan masih terdiam di tempatnya. Ia kesal dengan Jessica yang mengabaikan lukanya.

 

“Cepat Lu, ambil mangkuknya!”perintah Jessica gemas yang melihat Luhan masih berdiam diri dekat wastafel. Jika bukan karena tangan mereka yang terborgol sudah dapat di pastika Jessica tidak mau bekerja sama dan berdekatan dengan Luhan seperti sekarang ini.

 

‘Bodoh! Aku benar-benar khawatir!’ ucap Luhan dalam hati.

 

Luhan menyerahkan mangkuk tanpa mengatakan apapun. Ia kesal dengan Jessica yang mengabaikan rasa khawatirnya.

 

Jessica merasa ada yang aneh dengan sikap Luhan yang tiba-tiba saja berubah menjadi dingin padanya. Apa ia melakukan hal yang salah lagi? Tapi apa? Pikir Jessica bingung. Keadaan menjadi hening sama seperti saat di ruang keluarga. Jessica benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Luhan menjadi pendiam seperti itu.

 

Beberapa saat kemudian Jessica mengangkat bahunya acuh, tidak mau ambil pusing dengan penyebab diamnya Luhan. Memikirkannya saja membuatnya semakin lapar.

 

Luhan menatap Jessica yang berada di hadapannya cukup lama untuk melihat reaksi Jessica atas perubahan sikapnya, namun apa yang ia lihat? Jessica mengangkat bahunya acuh. Membuat hati Luhan mencelos melihatnya.

 

‘Benar-benar yeoja yang tidak peka!’runtuk Luhan dalam hati melihat Jessica yang mulai menikmati Ramyeonnya dan mengabaikannya.

 

Saat Luhan mencoba memakan Ramyeonnya ia bingung harus menggunakan tangan yang mana?  Tangan kanannya terborgol dengan tangan kiri Jessica. Sementara ia tidak bisa menggunakan tangan kirinya untuk makan. Ia bukan seorang kidal, yang bisa melakukan aktivitas normal menggunakan tangan kiri.

 

Luhan menghembuskan napasnya kasar. Terpaksa ia harus makan menggunakan tangan kiri.

 

Percobaan pertama. Gagal! Bahkan untuk memegang sumpit dengan benar saja Luhan tidak bisa. Ini seperti pertama kali ia belajar memegang sumpit saat masih kecil.

 

Luhan menarik napas panjang sebelum melakukan percobaan kedua. Dengan hati-hati Luhan memegang sumpit dan kali ini ia berhasil memegang sumpit dengan benar. Senyum penuh kelegaan terukir di wajah Luhan. Namun, wajah murung kembali menghiasi wajah Luhan saat ia mencoba mengambil Ramyeon dan Ramyeonnya kembali jatuh ke dalam mangkuk. Percobaan kedua. Gagal!

 

‘Ok! Sekali lagi, aku pasti bisa!’ucap Luhan dalam hati menyemangati diri sendiri. Ia tidak mungkin meminta bantuan Jessica untuk menyuapinya. Yang ada ia hanya akan mendapat penolakan dan bonus tatapan sinis dari Jessica.

 

Percobaan ketiga, lagi-lagi Luhan gagal memasukan Ramyeon ke dalam mulutnya. Ini benar-benar menyiksanya. Kali ini ia menyesali atas rencana pemborgolan ini.

 

Tiba-tiba saja Jessica menarik mangkuk Luhan. “Ya! Itu mili—”Luhan tidak jadi protes saat melihat Jessica menyodorkan Ramyeon ke mulutnya—menyuapi.

 

Luhan menatap Ramyeon yang berada di tangan Jessica lalu menatap wajah Jessica bergantian, ia masih Jessica tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

 

“Cepat buka mulutmu!”omel Jessica melihat Luhan yang hanya diam saja.

 

Perlahan Luhan membuka mulutnya dan memakan Ramyeon yang Jessica suapkan untuknya. Ia sepertinya harus menarik kembali pikirannya beberapa saat lalu yang menyesal dengan pemborgolan ini. Kini ia sangat mensyukurinya.

 

“Berhentilah, tersenyum bodoh seperti itu dan habiskan makananmu”cibir Jessica yang kembali menyuapi Luhan.

 

Luhan mengangguk patuh dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Makan malam kali ini terasa begitu nikmat walau hanya dengan Ramyeon.

 

 

>>>

 

 

“Kau tidak boleh melewati batas ini, jika kau melanggar aku akan memukulmu dengan pemukul base ball ini”ujar Jessica seraya mengacungkan pemukul base ball milik daddy nya ke hadapan Luhan.

 

Sekarang Jessica dan Luhan tengah bersiap untuk tidur setelah makan malam dengan Ramyeon yang cukup panjang. Walau hendak tidur sepertinya mereka tidak pernah lelah untuk berdebat. Selalu saja ada yang mereka debatkan.

 

Luhan mengangguk paham. “Ya aku tahu, aku tidak mau mati sia-sia di tanganmu”cibirnya lalu berbaring di kasur queen size Jessica sesuka hatinya dengan posisi membelakangi Jessica. Lupa kalau tangan mereka terhubung oleh borgol yang ia pasang sendiri.

 

“Akh, Sakit!”rengek Jessica yang merasa gesekan terlalu keras di tangannya akibat tarikan Luhan. Luhan langsung kembali duduk tegap menghadap Jessica dan langsung melihat pergelangan tangan Jessica yang memang merah karena ulahnya.

 

Luhan mengangkat tangan Jessica lalu meniupnya pelan. “Apa sakit sekali?”tanya Luhan khawatir seraya menatap ke dalam mata Jessica.

 

Lagi-lagi tatapan mata Luhan yang mengisyaratkan rasa khawatirnya yang berlebihan membuat Jessica sedikit tidak karuan. Jessica merasa tidak enak melihat Luhan yang terlalu khawatir padanya. Memang ia akui kalau tangannya sakit, tapi tidak sampai Luhan harus secemas itu.

 

“Sakit..tapi sudah lebih baik”ujar Jessica lalu menarik tangannya dan perlahan merebahkan tubuhnya di kasur queen sizenya.

 

Melihat Jessica berbaring Luhan ikut berbaring di sebelahnya yang sudah diberi pembatas berupa guling milik Jessica. Kini mereka berbaring. Dengan posisi menatap langit kamar Jessica yang dihiasi warna putih.

 

“Maaf..”ucap Luhan tulus menyesali perbuatannya hari ini yang sudah begitu merepotkan Jessica.

 

“Sudah lah tidak usah dibahas, aku ingin tidur”balas Jessica lalu memejamkan matanya cepat.

 

“Jangan lupa matikan lampunya”lanjutnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

 

“Gomawo..”ucap Jessica pelan. Berharap Luhan tidak mendengarnya, namun dengan kondisi sunyi seperti sekarang mustahil jika Luhan tidak mendengarnya, bahkan suara napas Jessica saja bisa begitu terdengar jelas oleh Luhan.

 

Luhan tersenyum kecil mendengarnya.

 

Tanpa banyak bicara lagi Luhan langsung mematikan lampu tidur dan mulai memejamkan matanya yang memang sudah terasa berat itu.

 

 

>>>

 

 

Luhan merasa terusik tidurnya dengan gerakan dari sampingnya. Dengan keadaan setengah sadar ia bangun untuk memeriksa penyebabnya. Dan saat ia menoleh ke arah Jessica. Ia mendapati Jessica yang menggil dengan keringat dingin yang membasahi bajunya.

 

“Jess..”

 

Luhan langsung tersadar sepenuhnya setelah melihat keadaan Jessica yang menggil. Ia segera menyentuh kening Jessica dan mendapati suhu tubuh Jessica yang tidak normal. Sangat panas.

 

“Ya tuhan..panas sekali”seru Luhan panic setelah memeriksa suhu tubuh Jessica dengan menggunakan punggung tangannya.

 

Dengan keadaan panic Luhan langsung bergegas turun dari kasur, tapi ia segera sadar kalau tangannya masih terborgol dengan Jessica. Ia tidak mungkin turun ke bawah untung mengambil baskom dan handuk kecil untuk mengompres Jessica.

 

“Arghh”Luhan mengacak rambutnya frustasi. Dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa berpikir jernih. Ia terlalu panic melihat keadaan Jessica.

 

“Berpikirlah Xi Luhan, berpikirlah!”gumam Luhan panik.

 

“Mommy..”gumam Jessica dengan suara pelan.

 

Luhan kembali melirik Jessica yang terbaring gelisah di tempat tidurnya. Ia sedang mencari jalan keluar. Jika ia menelpon Victoria ahjumma atau Yunho ahjussi untuk kembali itu terlalu lama. Busan dan Seoul cukup jauh. Terlebih ini sudah pukul dua dini hari. Waktunya orang untuk beristirahat. Sementara semua pelayan di rumah Jessica sudah pulang kerumahnya masing-masing karena sesuai dengan keinginan Victoria para pelayan hanya bekerja dari pukul Enam pagi sampai Delapan malam saja. Namun, jika ia kerumah sakit. Bagaimana dengan borgolnya? Pasti akan membuat orang bertanya-tanya dan mungkin berpikiran buruk tentangnya.

 

“Tenang Luhan, kau harus tenang”ucap Luhan kepada dirinnya sendiri. Ia menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.

 

“Ah!”seru Luhan ketika ia sudah mendapatkan ide.

 

Ia segera menghampiri Jessica lalu mengangkatnya dan menggendongnya ala bridal style. Membawa Jessica ikut dengannya ke bawah untuk mengambil baskom dan handuk kecil. Hanya cara ini yang ada di otak Luhan.

 

Jessica terbangun karena guncangan yang dirasakannya saat Luhan menuruni anak tangga. “Nghh..Lu..”ucap Jessica setengah sadar dengan suara parau. Saat Jessica membuka matanya, ia mendapati wajah Luhan begitu dekat dengannya, namun setelah itu ia kembali tidak sadarkan diri karena kepalanya terlalu pusing.

 

Luhan menoleh pada Jessica lalu tersenyum kecil walau terlihat jelas rasa khawatir di wajahnya. Ia mengelap keringat yang berada di kening Jessica menggunakan tangannya yang terborgol.

 

“Bertahan lah, Jess”ucap Luhan dan mempercepat langkahnya menuruni tangga. Untung saja Jessica memiliki tubuh langsing, jadi ia tidak begitu merasa terbebani menggendongnya.

 

Luhan segera mengambil baskom kecil lalu mengisinya dengan air sementara Jessica ia dudukan di dekat wastafel. Setelahnya Luhan kembali menggendong Jessica menuju kamarnya namun kali ini Luhan tidak menggendong Jessica ala bridal style lagi, melainkan ala piggyback. Mengalungkan tangan Jessica di lehernya agar tidak terjatuh. Ia menahan badan Jessica menggunakan tangannya yang tidak terborgol dan tangannya yang terborgol untuk membawa baskom yang berisi air. Posisi seperti ini cukup menyulitkan untuk Luhan karena ia menahan berat badan Jessica hanya dengan satu tangan dan terlebih lagi kali ini ia harus menaiki tangga. Namun Luhan tidak mau ambil pusing, Jessica adalah prioritas utamanya.

 

Suhu tubuh Jessica yang begitu panas kian terasa di punggung Luhan. Ia semakin khawatir karenanya. Ini semua salahnya. Jika saja ia tidak memborgol lengannya dan Jessica, mungkin sekarang ia bisa membawa Jessica kerumah sakit atau sekedar menelpon dokter agar datang memeriksa Jessica.

 

“Mom”

 

Luhan kembali mendengar suara lemah Jessica yang terus memanggil Victoria. Luhan langsung bergegas membaringkan Jessica di kasurnya. Setelahnya ia langsung mengompres Jessica, tanpa memberi Jessica obat. Ia tidak tahu kotak obat milik keluarga Jung.

 

“Cepat lah sembuh, Jess..aku lebih suka kau yang selalu marah dan kesal padaku, dibanding kau yang sakit seperti ini”gumam Luhan lalu menggenggam tangan Jessica yang terasa panas itu.

 

Luhan memandangi wajah pucat Jessica yang tengah terpejam. Wajah cantik yang akhir-akhir ini menghiasi harinya di Korea Selatan. Luhan tersenyum tipis lalu mengelus kepala Jessica seraya merapikan rambut Jessica yang berantakan.

 

“Mom..”

 

Jessica kembali memanggil Victoria. Seorang anak yang sedang sakit memang selalu memanggil ibunya. Luhan tersenyum tipis melihat Jessica yang begitu menyanyangi ibunya. Ia menjadi teringat dengan mendiang ibunya yang kini telah berada di tempat yang sangat jauh dengannya. Surga.

 

“Mom..mom”Jessica terus memanggil Victoria dengan gelisah.

 

Seketika Luhan menjadi panic. Luhan menggenggam tangan Jessica kuat namun tidak membuat Jessica tenang.

 

“Jess, kumohon tenang lah”pinta Luhan lalu mengecup tangan Jessica lembut, namun Jessica masih nampak begitu gelisah.

 

Luhan mengusap kepala Jessica lalu mencium kepala Jessica lama.

 

“Tenanglah..aku disini..bersamamu”ucap Luhan tulus berbisik di telinga Jessica.

 

Ajaibnya, setelah Luhan mengatakan kalimat itu Jessica berangsur mulai tenang. Setelah Jessica tenang, Luhan mengganti kompres Jessica yang memang terasa panas itu.

 

“Panasnya tinggi sekali”gumam Luhan lemas.

 

Sepanjang malam Luhan terus terjaga untuk merawat Jessica yang sakit. Menenangkan Jessica saat Jessica kembali gelisah dalam tidurnya. Hingga pagi menjelang, Luhan yang kelelahan akhirnya tertidur di samping Jessica dengan keadaan tangan yang menggenggam tangan Jessica erat.

 

 

>>>

 

 

“Nghh”

 

Jessica terbangun karena sinar matahari yang masuk ke kamarnya. Sinar matahari yang begitu menyilaukan membuatnya tidak bisa melihat dengan baik. Jessica menggerakan tangannya untuk menghalau sinar matahari namun tangannya terasa aneh. Seperti ada yang menggenggamnya. Jessica menoleh ke arah tangannya dan mendapati Luhan tengah tertidur di samping kirinya seraya menggenggam tangannya erat.

 

Jessica sedikit mengerutkan keningnya melihat Luhan. Ia belum tersadar sepenuhnya.

 

“Luhan..”ujar jessica pelan.

 

Seketika mata Jessica membulat sempurna melihat Luhan berada satu tempat tidur dengannya. Efek bangun tidur membuatnya lupa kalau dari semalam ia memang tidur bersama Luhan.

 

Jessica berusaha untuk bangun dan memberi pelajaran kepada namja mesum seperti Luhan, namun tiba-tiba saja sesuatu jatuh dari keningnya.

 

“Handuk?”gumam Jessica bingung ketika mendapati handuk kecil jatuh dari keningnya.

 

Seketika ia ingat kejadian semalam. Mulai dari Luhan yang memang tidur bersamanya karena borgol yang menjerat tangan mereka sampai Luhan yang merawatnya saat ia sakit semalam.

 

Jessica tersenyum kecil mengingatnya. Ternyata Luhan adalah orang baik, tidak seperti yang selama ini ia kira. Perlahan tangan Jessica terulur untuk mengelus kepala Luhan dan sedikit merapikan rambut Luhan yang menutupi wajahnya.

 

Jessica terkekeh kecil melihat wajah damai Luhan yang tengah tertidur. Seperti anak kecil. Sangat menggemaskan! Tiba-tiba Jessica ingat kalau hari ini ia ada kelas pagi, ia menoleh untuk melihat jam dinding yang berada di kamarnya. Jam sudah menunjukan pukul 07.50 KST dan ia harus sudah sampai di kampus jam 9 pagi. Itu artinya ia harus bergegas agar tidak terlambat masuk ke dalam pelajaran Yoo Kyosunim.

 

“Borgolnya..”seru Jessica pelan lalu menoleh ke arah tangannya yang terborgol sebelumnya dan kini borgolnya sudah lepas. Itu artinya mommynya sudah pulang dari Busan.

 

“Aku harus cepat”seru Jessica. dengan hati-hati Jessica menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan Luhan. Sebisa mungkin ia tidak ingin membangunkan Luhan, ia yakin Luhan pasti begitu lelah harus menjaganya semalaman.

 

“Ahh”seru Jessica pelan ketika ia sudah berhasil menarik tangannya. Jessica mengambil selimutnya dan menyelimuti tubuh Luhan.

 

“Gomawo”ucap Jessica lalu mencium pipi Luhan cukup lama.

 

“Nghh, Jess”gumam Luhan pelan yang mendapati Jessica dengan jarak yang begitu dekat dengannya.

 

“Opps!”

 

Mata Jessica membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar, serta jantung yang berdetak kencang. Tamat sudah riwayatnya sekarang. Apa yang harus ia katakan kepada Luhan?? Pikir Jessica panic. Namun..

 

“Bruk”Luhan kemballi tertidur. Ternyata tadi Luhan hanya mengigau.

 

“Thank God!”gumam Jessica lalu kabur menuju kamar mandi sebelum Luhan benar-benar sadar.

 

 

>>>

 

 

“Jessica!”teriak Luhan bangun dari tidurnya. Seketika matanya membulat sempurna. Ia kini sepenuhnya sadar.

 

“Loh? Jessica?”seru Luhan bingung tidak mendapati Jessica di tempat tidurnya.

 

“Ahh pasti dia sudah bangun”keluh Luhan. “Jahat sekali tidak membangunkanku”lanjutnya sedih. Luhan bangkit dan mendapati selimut yang semalam menyelimuti Jessica kini berada dipunggungnya.

 

“Apa Jessica yang menyelimutiku?”gumam Luhan. “Ternyata dia perhatian juga padaku”seru Luhan senang.

 

“Ahh, tadi aku bermimpi indah sekali. Aku bermimpi Jessica berterima kasih padaku dan mencium pipiku”ujar Luhan senang lalu terkekeh membayangkan Jessica benar-benar menciumnya.

 

 

 

03:38 AM

Sabtu, 2 Agustus 2014

 

 

 

***Hot Game by Жin Genie ***

 

 

 

 

Hi..diriku kembali setelah sekian lama tidak update ff😀

Sorry banget, gue sibuk kerja u,u #alesan

Gue ga mau cuap2 panjanga, Cuma mau minta maaf aja dan semoga yang baca puas (?) sama chapter ini J

Oh iya, sekarang kan masih suasana lebaran n gue secara pribadi mau ngucapin minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Sorry banget gue pernah bikin kalian kesel, marah atau benci sama sikap gue, sifat gue, ucapan gue or komen gue yang yang emang kadang2 (lebih banyak seringnya) ngeselin banget (tumben sadar). Gue minta dibuka kan pintu maaf yang selebar-lebarnya J Ok, sekian. Bye #kecup basah readers yang baca ff gua😄

 

 

 

43 thoughts on “Hot Game | Chapter 5 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s