[Freelance] GAME (Ficlet)

azzahrayoonasposter

GAME

YumiDay storyline©

Ficlet | PG

Horror

Staring by Jessica Jung – Krystal Jung – Victoria Song

Disclaimer : Saya hanya memiliki jalan cerita!

 

Hari ini penghuni apartementku bertambah satu orang. Victoria—sahabat baik Krystal—meminta untuk menginap beberapa hari karena apartementnya sedang direnovasi. Sebenarnya aku tidak keberatan, karena Krystal yang akan berbagi kamar dengan Victoria, tapi aku menjadi kurang nyaman sebab sebelumnya belum pernah ada orang lain berkunjung kesini.

Aku sedang di dalam kamar mengerjakan tugas sekolah. Sementara Krystal dan Victoria sepertinya sedang menonton televisi dalam diam.

Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar bunyi bel apartement. Siapa yang datang? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun. Mungkin Krystal mengundang temannya. Aku dan adikku—Krystal—memang jarang membiarkan orang lain masuk ke apartement kecuali ada hal penting dan mendesak.

Aku menggerakan tubuhku untuk menengok apa yang terjadi dari dalam kamar. Aku hanya membuka sedikit pintu kamarku dan menyembulkan kepalaku keluar melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya Krystal telah membuka pintu dan menerima tamu.

Seorang kurir pengantar barang? Aku tidak pernah memesan barang untuk diantar. Sudahlah mungkin itu ulah Krystal lagi.

Krystal sudah menutu pintu dan berjalan menuju sofa di depan telvisi dengan raut wajah bingung. Rasa penasaranku bangkit ketika melihat Krystal. Aku memutuskan untuk menunda sebentar tugasku dan menghampiri Krystal.

“Apa yang ada di tanganmu itu, Krys?”

“Aku tidak tahu. Apa eonni memesan barang?” Aku menggeleng pelan.

“Buka saja dan lihat apa isinya!” perintahku. Krystal membuka bungkusan yang melapisi barang misterius itu.

Aku, Krystal, dan Victoria memandang benda yang aku anggap misterius itu. Rupanya hanya sebuah permainan anak-anak. Tapi siapa orang yang mengirim permainan ini?

“Permainan apa ini?” Tanya Krystal bingung. Aku hanya mengangkat kedua bahuku karena aku pun tidak tahu mainan apa itu. “Hanya mainan anak-anak, kupikir sesuatu yang penting. Kalau begitu aku akan kembali mengerjakan tugas.”

Sudah beberapa menit, tapi belum ada soal yang bisa aku kerjakan. Krystal dan Victoria terlalu berisik memainkan mainan itu. Oh ayolah mereka terlalu dewasa untuk memainkannya. Sekarang ku dengar Victoria berteriak. Aku benar-benar kesal! Tugas ini harus dikumpulkan besok.

“Jangan berisik!” teriakku dari sini. Biasanya cukup ampuh untuk membuat Krystal diam. Tapi Victoria malah berteriak lagi membuat amarahku muncul. Memang harus aku tegur mereka agar tidak berisik lagi. Aku bergegas keluar kamar dan membanting pintu dengan cukup kasar.

“Ya! Victoria, Krystal!”

Belum sampai aku memarahi mereka, mungkin aku tidak akan bisa memarahi mereka sekarang. Dan memang benar aku hanya bisa memarahi Krystal. “Krystal! Apa yang kau lakukan?!” tanyaku sambil meraih tubuh Victoria yang telah terkapar lemas tak berdaya dengan darah berceceran di bagian perutnya.

Apa yang terjadi? Krystal membunuh sahabatnya sendiri? Satu-satunya yang membuat aku yakin adalah pisau yang ada di tangan Krystal.

“A… aku tidak tahu. Eonni aku mohon jangan laporkan aku ke polisi. Aku mohon!” pinta Krystal sambil menangis. Pisau itu telah terjatuh dari tangannya. “Mengapa kau membunuh sahabatmu sendiri? Ini kasus pembunuhan dan aku harus melaporkanmu ke polisi!”

Krystal semakin terisak. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Dan sekarang Victoria benar-benar sudah meninggal karena ulah adikku.

“Aku dan Victoria hanya memainkan mainan itu, lalu semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak mengerti eonni,” ucap Krystal disela-sela tangisnya.

Aku membaringkan tubuh Victoria di lantai. Beralih ke mainan misterius yang datang tiba-tiba (bayangkan seperti mainan monopoli). “Bagaimana tadi kalian memainkannya?” tanyaku tidak mengerti.

“Kami mulai dari start disini. Lalu menggunakan dadu untuk menunjukan nasib kami selanjutnya. Ada beberapa petak yang harus dihindari, yang seperti ini neraka dan yang seperti ini kematian. Aku berhasil melewati semua itu dan sampai ke finish. Tapi dadu yang dilempar Victoria menunjuk angka 3 dan dia menempati petak kematian. Lalu tiba-tiba tanganku sudah menusuk Victoria dengan pisau,” jelas Krystal. Aku mengerenyit, mainan seharusnya untuk bersenang-senang bukan menjadi petaka seperti ini.

Sudut mataku menangkap sebuah kertas yang masih terlipat rapi disekitar mainan itu. Aku meraihnya dan membuka lipatan itu.

  1. Untuk berusaha hidup kau harus menghindari petak neraka dan kematian yang berjumlah delapan petak.
  2. Seluruh penghuni rumah harus ikut bermain.
  3. Lemparlah dadu yang telah disediakan untuk menentukan langkah kalian.
  4. Hanya ada satu pemenang dalam permainan ini.
  5. Jika seseorang menempati petak neraka, dia akan dilempar langsung ke neraka. Dan jika menempati petak kematian lawan mainlah yang akan membunuhnya.

Permainan macam apa ini!

“Krystal, sudah baca kertas ini?” tanyaku. Krystal mengangguk lemah. Aku menghela napas berat. Bodoh sekali! Permainan seperti ini masih saja dimainkan. “Sebenarnya apa yang kau pikirkan, bodoh?!”

Mianhae eonni, aku pikir itu hanya semacam bualan saja,” jawab Krystal menyesal. Tapi sama sekali tidak berguna sekarang. Victoria sudah menjadi korban permainan sialan ini. “Kau tunggu disini, kabari orang tua Victoria sekarang!” suruhku.

Krystal terlihat murung dan hanya diam mendengar perintahku. “Apa yang kau tunggu?”

“Memberi tahu keluarga Victoria sama saja menyerahkan diri ke penjara,” jawabnya dingin. “Jadi kita apakan dia? Jika terus disimpan akan semakin membusuk! Bau anyir, kau menciumnya? Ini karena perbuatan bodoh kalian!” balasku tidak kalah dingin dengan menggunakan sedikit tekanan.

“Aku atau eonni akan menguburkannya dengan layak. Setelah itu baru beritahu keluarganya,” ucap Krystal dengan wajah serius dan tatapan tajam pada mainan pembawa bencana itu.

“Tentu saja kau! Kau yang membunuhnya dan kalian yang memainkan benda itu!”

Krystal tersenyum sinis padaku. Aku bahkan baru melihat raut wajah yang seperti itu. Seperti orang picik. Dan darah Victoria yang ada di wajah Krystal itu menambah kesan menakutkan untukku.

“Itu artinya kau akan mati, Jessica Jung.”

Aku terperenjat kaget. Krystal benar jika dia yang menguburkan jasad Victoria itu artinya aku mati. Karena mainan itu harus dimainkan oleh semua penghuni rumah. Sial! Bagaimana bisa ini terjadi, aku terlalu menyayangi diriku sendiri tapi juga tidak ingin Krystal mati. Kesunyian melanda kami, hanya ada suara dari televisi yang mengisi ruangan ini.

“Aku tidak berminat memainkannya, lebih baik aku buang mainan ini.”

Baru saja aku hendak melangkah untuk membuang mainan itu, tapi Krystal lebih dahulu menahan lenganku. “Wae?” Aku mendelik. “Sudah cukup satu korban!” Bentakku sambil menghempaskan tangan Krystal.

Kurasakan hawa yang berbeda setelah aku mengucapkan kalimat terakhirku tadi. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Entahlah aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikan kami saat ini. Tapi cepat-cepat kuhapus perasaan itu dan segera berjalan keluar gedung apartement untuk membuang mainan itu.

Aku sudah berjanji pada orangtuaku untuk menjaga Krystal dan aku tidak ingin mengingkari janji itu hanya karena mainan tidak berguna ini.

“Aaaa…” Rambutku ditarik oleh seseorang ketika melemparkan mainan itu ke tong sampah yang berada diluar gedung apartement. Dia mencengkram rambutku sangat kuat sehingga tubuhku juga ikut tertarik. Aku berusaha memberontak dan menggerakan tubuhku dengan arah yang berlawanan, namun aku hanya mendapatkan rasa sakit yang lebih dari sebelumnya. Kakiku terpeleset dan tubuhku terjatuh. Orang itu masih menyeretku masuk kedalam gedung apartement. Aku berusaha berteriak sekencang-kencangnya berharap ada orang lain yang mendengar dan bersedia menolong. Namun sepertinya apa yang aku lakukan sia-sia karena apartement ini begitu sepi tidak ada petugas yang biasanya berkeliling dan tembok apartement disini kedap suara.

Kepalaku sangat sakit. Siapapun aku mohon tolong aku. Apakah aku akan mati sekarang? Tidak! Aku tidak mau! Tugasku masih belum selesai. Meskipun aku harus mati sekarang, aku tidak mau dengan cara seperti ini.

Orang yang menarik rambutku itu membuka pintu apartement. Dia membuatku berdiri lalu dengan kasar mendorongku masuk kedalamnya. Disana sudah ada Krystal menungguku. Syukurlah ternyata aku dibawa ke apartementku sendiri.

“Kita tidak bisa menghindar lagi sekarang eonni,” ucap Krystal dengan nada penuh ketakutan. Sikapnya sangat berbeda dengan beberapa menit lalu. Ada apa dengannya? Sebelum aku meninggalkan apartement sikapnya tidak begini, Krystal bahkan berani menunjukan senyum sinis dan menyebut namaku dengan tajam. Sekarang dia terlihat amat ketakutan dengan semua yang terjadi.

Aku berjalan cepat ke arah Krystal yang sedang terduduk di lantai sambil memeluk lututnya ketakutan. Aku mencengkram kerah bajunya menyuruhnya untuk berdiri. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi, tapi aku masih sangat berharap ini semua hanya mimpi buruk. “Ya! Semua ini karenamu!” bentakku tepat di depan wajahnya. Aku melepaskan kerah baju Krystal dengan kasar.

Krystal menangis. Aku tahu dia pasti menyesal telah memainkan permainan itu. Raut wajahnya sangat menyedihkan dengan bercak darah di pipinya.

Kami terdiam beberapa saat. Sekarang ini aku sedang memikirkan cara agar kami berdua selamat.

Ting Tong

Bel apartement ini berbunyi. Mungkinkah orang yang menekan bel adalah pengirim mainan itu? Aku berjalan perlahan untuk membuka pintu. Clek. “Benda ini….”

“Sekarang kita harus bermain,” ucap Krystal kembali menggunakan nada sinis. Mengapa perubahan emosinya seperti ini? Apa mungkin mainan itu berpengaruh padanya?

“Mengapa kau begitu ingin kita memainkannya?”

“Hmm, bukan aku tapi peraturan dalam permainan ini menyatakan seperti itu. Kau sudah menyaksikannya sendiri mainan ini kembali lagi setelah kau membuangnya.”

“Ayo, kita main,” ucapku pelan. Krystal tersenyum aneh dan menatapku. Kami duduk berhadapan, di tengah-tengah kami adalah mainan pembawa petaka itu. Aku berkeringat, bagaimana jika aku kalah? Bagaimana jika aku dilempar ke neraka? Bagaimana jika aku dibunuh adikku sendiri, orang yang sangat aku sayangi?

Krystal mulai melempar dadu, hasilnya menunjukan angka 6, dia berhasil selamat. Tunggu, aku bisa selamat jika menempati petak yang genap. Sekarang giliranku melempar dadu. Aku mohon keluarkan dadu yang berangka genap, pintaku dalam hati. Hasilnya angka 4. Huh, sungguh melegakan. Kini giliran Krystal kembali untuk melempar dadu, dan hasilnya kembali mengeluarkan angka 6. Bagaimana bisa dia memiliki keberuntungan seperti itu? Giliranku lagi, kuharap aku bisa seberuntung Krystal dalam permainan ini. Hasilnya 2. Aku bisa bernapas lega lagi kali ini. Krystal menatapku tajam sebelum mengambil gilirannya, seakan mengatakan padaku bahwa aku akan mati. Aku bergidik ngeri melihatnya.

Jika dadu yang dilempar Krystal menunjukan angka 4, itu artinya dia berhasil memenangkan permainan ini. Krystal melempar dadunya. Sial, dia sangat beruntung, dadu yang dilempar Krystal benar-benar menunjukan angka 4. “Aku sudah menyelesaikannya, sekarang tinggal giliranmu,” ucapnya, dia menunjukan seringai yang menakutkan. “Jika…” “aku berhasil sampai finish apa yang terjadi?”

“Mari kita lihat nanti.”

Aku memainkan giliranku sampai akhir. Nampaknya aku juga memiliki keberuntungan yang sama seperti Krystal. Sudah tiga kali aku melempar dadu itu dan selalu menunjukan angka genap. Sekarang aku sudah menyelesaikan permainanku juga. Ya, aku berhasil sampai finish tanpa menginjak petak kematian ataupun neraka. “Aku sudah menyelesaikan giliranku. Sekarang apa?”

“Tetap saja hanya ada satu pemenang dalam permainan ini. Walaupun kau sudah mencapai finish tapi aku yang lebih dulu menginjaknya.” Krystal kembali menunjukan seringainya.

“Maksudmu, aku akan mati?” tanyaku langsung pada intinya. Krystal melempar pisau yang ada di tangannya ke arahku. Dengan sigap aku segera menghindarinya dengan memiringkan tubuhku ke kanan. Tapi tangan kiriku tergores pisau itu. Aku tidak tahu sejak kapan Krystal memegang pisau itu. Sekarang dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku berusaha berdiri untuk mengimbanginya, sebelum aku berhasil Krystal telah menginjak kakiku sehingga aku tidak bisa berdiri.

Krystal membungkuk mendekatkan wajahnya padaku. Tangannya kini mencekik leherku. “Hentikan! Aku adalah kakakmu!” Tidak berguna berbicara seperti itu, Krystal yang sedang mencekik leherku bukanlah Krystal adikku. Ya, aku yakin.

Tubuhku sudah terbaring di lantai karena Krystal mencekikku begitu kuat. Aku menggerakan kedua tanganku untuk mencekik Krystal—meskipun sebenarnya aku tidak ingin—sekarang aku benar-benar harus melawan. Dengan sisa tenaga yang ada aku menendang tubuh Krystal sehingga dia menjauh dan melepaskan tangannya dari leherku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, aku melarikan diri dari Krystal, masuk ke kamar dan segera mengunci pintu. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku tak bisa berdiam diri terus di kamar.

Lampu dalam kamar meremang, lalu berkedip beberapa kali. Aku menatap sekitar untuk berjaga-jaga. Sementara Krystal menggedor pintu dengan keras.

Kulihat sekelebat bayangan di salah satu sudut kamar. Apakah itu sejenis makhluk halus, roh, atau semacamnya? Oh, aku benar-benar tamat jika itu benar. Aku tidak bisa menghindar lagi sekarang, Krystal menungguku di luar dan aku mendapat terror dari makhluk halus di sini.

Bayangan itu mendekat padaku. Aku sangat ketakutan, bahkan aku sempat lupa bahwa tanganku tergores pisau dan berdarah. Dia hanya sekelebat bayangan berbentuk manusia tanpa wujud yang nyata, tapi hal itulah yang membuatku sangat takut.

“Kenapa? Kenapa kau ada disini?”

Aku gemetar. Aku lebih takut pada makhluk seperti itu daripada Krystal. Maka dari itu, aku memutuskan untuk keluar kamar dan bertemu Krystal. Clek. Pintunya sudah terbuka dan sesuatu yang tajam sudah tertanam di daerah perutku dengan sempurna. Mengapa adikku sendiri yang membunuhku? Tiba-tiba pikiranku memutar sebuah kejadian antara seorang pria dan seorang wanita. Aku tidak mengenali nama dan wajah mereka.

Keduanya sedang berada di sebuah cafe, tapi kemudian pria itu meminta izin untuk pergi ke toilet. Ponsel milik laki-laki itu tertinggal di meja dan bergetar. Wanita itu melihat ada sebuah pesan masuk, disana tertulis dari eomma isinya menanyakan tentang keberadaan anaknya. Kemudian wanita itu membalas pesannya. Dia sedikit melihat-lihat pesan masuk pada ponsel itu, hampir semuanya dipenuhi oleh pesan darinya dan sisanya dari teman dan orangtuanya. “Hm, aku belum memiliki photo oppa dalam ponsel baruku,” gumamnya.

Wanita itu membuka gallery ponsel milik sang pria dan kemudian menemukan sebuah folder berjudul Jessica Jung—namaku. Seketika raut wajahnya yang ceria berubah menjadi muram, dia terlihat sangat kesal. Pria itu bahkan tidak memiliki photo kekasihnya, tapi dia banyak menyimpan potret-ku.

Sang pria sudah kembali dan melihat kekasihnya menunjukan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. “Wae?” tanya pria itu. “Oppa, siapa itu Jessica Jung?”

“Dia…, wanita yang aku sangat aku cintai.”

Mwo? Lalu selama ini apa kau tidak pernah mencintaiku?”

Mian. Jessica berhasil membuatku mencintainya melebihi cintaku padamu.”

Air mata wanita itu jatuh begitu saja saat mengetahui bahwa kekasihnya lebih mencintai orang lain. Mungkin dia merasa kecewa, sedih, dan juga dikhianati. Wanita itu berlari keluar sambil menangis.

Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah berada di atas sebuah jembatan penyebrangan jalan. Dia masih menangis, tapi tangisannya berbeda dengan yang sebelumnya. Sebuah tangisan yang penuh dengan dendam dan kebencian. Dan semua itu pasti ditujukan padaku.

“Kau juga akan mati Jessica Jung! Kau akan mati oleh orang yang sangat kau sayangi!” geramnya sebelum akhirnya dia melompat dan tertabrak mobil.

Perutku terasa sakit, tanganku juga berlumuran darah. Tubuhku melemas dan seketika ambruk ke lantai. Perlahan bagian-bagian dari tubuhku tidak dapat kurasakan lagi. Apa ini sudah waktunya? Aku yang kalah dalam permainan lelucon ini. Mataku terasa sangat berat, namun samar-samar dapat aku lihat bayangan yang sama dengan yang aku lihat beberapa menit lalu tersenyum puas. Juga Krystal yang mulai menangis terisak. Jangan menangis! Kumohon aku pantas mendapatkan ini. Aku telah membuat seseorang bunuh diri, dan sekarang aku pantas mendapatkan semua ini.

“Maaf karena membuatmu merasa sakit yang seharusnya tidak kau rasakan. Aku senang sekarang, kau sudah tenang karena aku mati oleh orang yang sangat aku sayangi.”

 

 

 

o0o

Hari ini adalah hari pemakaman Jessica dan Victoria. Berita mengenai pembunuhan yang dilakukan Krystal sudah menyebar ke semua kalangan, teman satu kampusnya, keluarga, dan juga masyarakat Korea karena kejadian itu diberitakan di televisi. Krystal menjadi penghuni baru di sebuah rumah sakit jiwa. Dia memberi keterangan yang sebenarnya pada pihak kepolisian, tentang mainan dan semua yang terjadi. Namun, alasan itu tidak cukup logis, juga tidak ditemukan mainan misterius itu dalam apartement.

Krystal hanya bisa berdiam diri di dalam kamar barunya. Percuma melakukan sesuatu karena tidak ada lagi yang mempercayainya dan juga percaya bahwa dia tidak gila. Rasanya dialah yang paling menderita atas peristiwa itu. Dia harus mengabiskan hidupnya di dalam ruangan putih dan dipenuhi dengan orang-orang yang tak waras.

Perasaan bersalah selalu menyelimuti dirinya. Apa yang dia lakukan pada orang-orang yang selalu memberinya kasih sayang dan kekuatan? Membunuhnya? Tidak, itu bukan dilakukan olehnya. Terkadang Krystal melihat Jessica di sudut kamarnya dan tersenyum seakan mengatakan ‘aku tidak apa-apa’. Setelah itu hatiya sedikit tenang. Tapi itu tidak bertahan lama, dia terus mengingat kenangan tentang Jessica dan Victoria yang sudah banyak membantunya, ketika itu dia akan merasa bersalah kembali.

Sepertinya keadaan seperti itu akan terus berlanjut sampai membuatnya benar-benar menjadi gila.

Fin

13 thoughts on “[Freelance] GAME (Ficlet)

  1. wow keren banget ceritanya, kesan horrornya kerasa banget, aku kaget pas vict teriak karna dibunuh krysieee
    sumpah aku deg2an pas krysie mau bunuh jessi dan nangis pas krysie nyesel sama perbuatannya…ditambah kehadiran roh jessi di kamar dia dirawat sambil bilang dia gk kenapa2 huhuhuhu
    jessi mulia banget, masih mau maafin hantu cewe ituuuuuuuu, malah dia yang minta maaf😥
    klo boleh saran bikin sequel dong thor, trus jelasin siapa cowo itu(berharap luhan) dan siapa cewe itu, gimana awal cowo itu dan jessi ketemu, pasti seru thor…jadi sequelnya kaya nge flashback gtuuuuu…yaaaa pleaseee cowonya luhannnn hehehe, kutunggu dengan sangat thor sequelnya🙂

  2. Merinding aku bacanya… Bacanya malam dan lagi hujan makin melengkapi kesan horornya…

    Harusnya cewek itu kalo mau marah ke cowok itu kenapa malah ngebunuh Sica lewat Krystal…

    Krystal jadi hampir gila kan gara2 dihantui rasa bersalah karena telah membunuh Sica sama Victoria….

    Ditunggu cerita Jessica yang lainnya yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s