[Freelance] Wind – OneShoot

1497504_622238961146091_177223246_n

WIND

Tittle: Wind

Author: HP (Hyerin Park)

Cast:

Jessica Jung

Oh Sehun

Other Cast:

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Genre: Sad, Romance, Angst

PG: 13+

Disclaimer: Ini ff hasil karya saya sendiri. saya hanya meminjam nama mereka. bagi yang tidak suka pairingnya tidak usah baca ^^. jika sudah baca tinggalkan komentar.

Don’t be silent Reader !

Pernah di post di http://littlebubbletea.wordpress.com/

Happy Reading ^^

“Yeoboseyo”.

“Kami dari pihak kepolisian memberitahu bahwa terjadi kecelakaan yang menimpa tuan Oh Sehun”

“Maaf mungkin anda salah sambung. Nama Sehun itu tidak hanya satu di korea. Tolong di cek kembali nomor yang hendak anda hubungi”.

“Tidak, kami menemukan kartu nama Oh Sehun kelahiran 12 April 1994. Dan kami juga menemukan kontak ponsel anda di ponsel tuan Oh Sehun yang paling sering di hubungi”.

“Ani. Hiks..Hiks. Andwe”.

Yeoja itu langsung membanting ponselnya hingga terdengar serpihan-serpihan material yang berada pada ponsel itu.

****

Seorang yeoja berdiri di balkon rumah hanya menatap nanar pemandangan yang ada di depannya. Menatap kosong seperti orang yang tidak punya harapan. Menyedihkan. Sesekali ia menyapu kristal bening yang mengenang di pelupuk matanya.

“Kenapa kau meninggalkanku ?”

“Kenapa kau tega melakukan ini. Kenapa ?”.

Yeoja itu bergumam tak jelas. Setetes air mata mulai jatuh kembali bahkan lebih deras. Semenit kemudian dia beringsut jatuh.

“Neo. Paboya. Hiks..hiks. saranghae”.

Yeoja itu terduduk memegangi lututnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Terisak di dalam dekapan lututnya agar orang tidak menyadari tangisannya. Tanpa di sadari ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari yeoja itu yang menatap sendu. Sedih melihat sang yeoja seperti itu.

 

‘Jangan begini. Kau membuatku semakin sedih’.

 

“Hiks..hiks”. Isakan dari yeoja itu semakin memilukan. Orang yang berada di samping yeoja itu hanya menatap hampa yeoja di hadapannya. Tidak dapat berbuat banyak. Hanya melihat si yeoja.

****

Sang surya mulai menampakkan sinarnya. Sinar yang cerah tetapi tidak secerah gadis yang sekarang sedang tertidur di sofa sambil memegangi sebuah figura.

“Heuhh”.

Yeoja itu menggeliat pelan dan membuka mata secara perlahan-lahan hingga terbuka sepenuhnya. Beranjak dari sofa tersebut dan kemudian menuju kamar mandi. Sampai di kamar mandi dilihatnya keadaan yang berantakan dengan rambut yang tidak tahu model apa dan terdapat sebuah kantung hitam di pelupuk mata dengan mata yang sembab.

“Kau siapa ?”. ucapnya pada pantulan dirinya di sebuah cermin yang berada di wastafel. Sungguh ini bukan dirinya. Berantakan. Mengambil handuk dan segera mandi.

****

Sekarang yeoja itu telah selesai lengkap dengan dress peach selutut yang membuat dirinya semakin cantik. Penampilan yang cantik tetapi tidak dengan hatinya. Sakit. Yeoja itu melangkahkan kakinya pada sebuah cermin. Di ambilnya sisir kemudian menyisir rambutnya yang panjang dan indah itu di biarkan tergerai.

“Selesai, lebih baik dari yang tadi”. Ucapnya tersenyum lirih memandangi dirinya di pantulan cermin.

Sekarang tujuan nya hanya satu. Pemakaman. Tempat dimana ia bisa berjumpa dengan seseorang yang sangat dicintainya.

****

RIP. Oh Sehun.

“Hey, namja jelek. Apa kabar ?”.

“Kau tahu, aku sekarang ingin memukulmu. Kau tega telah membiarkanku sendiri”.

Yeoja itu mengeluarkan sebulir kristal bening dari pelupuk matanya.

“Kau..kau jahat. Kau jahat Oh Sehun. Hiks..hiks”. terdengar isakan lebih keras.

“Sekarang siapa yang akan menemaniku membeli bubble tea. Huh ?”.

“Siapa yang akan mengejekku dengan kata-kata menyebalkan ?”.

“Siapa yang akan menjagaku ?”

“Siapa huh ?. jawab !”. teriak yeoja itu frustasi.

 

‘Jangan mengatakan itu. Itu membuatku semakin sakit’.

****

“Jess, jangan seperti ini”. Ucap seorang yeoja di sampinya.

“Wae ? Aku merasa seperti biasa saja Fany-ah”. Jawab Yeoja yang di panggil Jessica itu.

“Apanya yang biasa ? Kau menjadi pemurung seperti ini”. Ucap yeoja yang satu nya lagi.

“Ani. Aku hanya merasa sedih kehilangan dia Yuri-ah”. Ucap Jessica dengan nada bergetar.

“Jika kau begini terus Sehun akan sedih melihatmu”. Ucap Tiffany.

“Tiffany benar Jess. Sehun pasti sedih dan tidak akan tenang disana”. Kata Yuri.

Yuri dan dan Tiffany menatap khawatir Jessica –sahabat mereka sedari kecil. Mereka juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Di tinggalkan oleh orang yang di cintai itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.

“Jangan khawatirkan aku. aku bisa menjaga diri”. Ucap Jessica pada kedua sahabatnya. Jujur ia tak ingin kedua sahabatnya itu khawatir. Memang sebagai sahabat kekhawatiran adalah wujud rasa peduli tetapi ia tidak ingin kedua sahabatnya itu juga terlarut dalam kesedihannya.

“Terima kasih karena kalian sudah peduli padaku”. Ucap Jessica tersenyum sambil memeluk kedua sahabatnya.

“Tentu saja kita kan sahabat. Kami menyayangimu Jess”. Kata Tiffany dan Yuri membalas pelukan Jessica.

Mereka menangis bersama menumpahkan segala kepedihan yang ada.

 

‘Benar kata mereka. Jangan bersedih. Aku tahu itu pasti menyakitkan’.

****

Jessica berdiri di balkon rumah menikmati indahnya sinar rembulan dan terpaan angin malam. Sangan dingin. Sesekali ia menggosok-gosokkan telapak tangannya berharap hangat menghampiri. Sedetik kemudian ia tersenyum kecut.

“Andai kau disini. Pasti sekarang terasa hangat”.

“Jangan di luar. Cepat masuk kedalam. Di luar sangat dingin”. Kata seorang namja.

“Tidak. Aku ingin disini melihat bulan yang sangat indah”. Jawab si yeoja.

“Huh ? Kenapa kau keras kepala sekali huh ?”.

“Biarkan saja”.

“Kalau begini tidak ada cara lain”. Namja itu memeluk erat si yeoja berharap bisa menyalurkan rasa hangat.

“Bilang saja kau ingin memelukku. Tapi harus kuakui ini memang hangat”. Jawab si yeoja tersenyum pada si namja. Melihat itu si namja juga ikut tersenyum.

Jessica menghapus bulir-bulir kristal yang jatuh dari matanya. Sial. Dia teringat lagi kenangan itu. Kenangan yang begitu indah tetapi sulit untuk di lupakan.

Tanpa sadar seorang namja sedari tadi melihat Jessica. Sambil tersenyum lirih. Perlahan dia mengampiri Jessica.

 

‘Kau harus tetap hangat. Di luar sangat dingin’.

 

Perlahan ia memeluk Jessica dari belakang. Mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Jessica. Seolah mengerti bahwa Yeoja di hadapannya ini kedinginan.

“Kenapa anginya mulai terasa hangat ?”. ucap Jessica menegrutkan dahi.

“ Apakah anginnya tahu kalau aku sedang mengingat namja itu ? ah molla. Tapi sekarang aku merasa seperti dia sedang memelukku seperti dulu”. Batin Jessica.

“Oh Sehun. Kau memelukku ? aku merasa hangat dan merindukan pelukan itu”. Kata Jessica tersenyum sambil menatap indahnya rembulan. Sama seperti yang mereka lakukan dulu.

 

‘Iya. Aku disini. Aku ingin kau merasa hangat’.

****

RIP. Oh Sehun.

“Kau tahu Sehun-ah. Hari ini ulang tahunmu. Kau ingat?”.

“Kau tahu. Aku membuatkan cup cake kesukaanmu. Dan tada~ satu cup bubble tea kesukaanmu”.

“Demi dirimu. Aku harus rela mengantri demi satu cup bubble tea ini. Menyebalkan. Tapi aku senang karena ini untukmu. Aku tahu kau sangat menyukainya”.

“Nah, sekarang cepat katakan harapanmu. Dan semoga harapanmu itu terjadi”.

“Kau tahu. Aku berharap kau disini dan kita memakan kue dan meminum bubble tea bersama”. Ucap Jessica dengan nada lirih.

“Ah, mianhae. itu hanya hal bodoh. Lupakan saja”. Jessica tersenyum lirih dan mengelus nisan yang bertuliskan ‘Oh Sehun’.

“Kalau begitu aku pulang dulu Sehun-ah. Aku akan menghabiskan kue dan bubble tea ini sendiri”.

Jessica beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Namja itu –Sehun menatap punggung Jessica yang semakin menjauh.

 

‘Harapanku adalah melihatmu tersenyum seperti dulu. Itu saja’

****

Jessica terlihat rapi dengan pakaian kasualnya. Celana Jeans dan kemeja cream. Sederhana tetapi tetap terlihat cantik. Dengan rambut yang di biarkan tergerai dengan indahnya. Setelah selesai ia langsung beranjak keluar rumah. Ke tempat ia dan Sehun sering berkunjung ‘Bubble tea Cafe’. Membeli satu cup bubble tea.

Setelah 15 menit perjalan menuju cafe yang dimaksud.

“Aku minta satu cup Chocolate bubble tea”.

“Baik. Silahkan tunggu sebentar”.

“Ini nona. 7 won”.

“Ini uangnya. Terima kasih”.

Jessica melangkah pergi meninggalkan kedai bubble tea. Jessica menyeruput bubble tea sambil berjalan. Sangat nikmat. Rasanya tidak jauh berbeda seperti ketika Sehun masih ada.

 

“Ingin mencicipi punyaku ?”.

 

Jessica menoleh. Kenangan dengan Sehun kembali berputar. Ia tak ingin bersedih lagi. Jessica memantapkan dalam hatinya bahwa

‘Sehun walau fisikmu tidak disini tetapi hati dan perasaanmu akan kekal bersamaku’.

Jessica tersenyum manis ke arah bayangan Sehun. Sehun membalas senyuman Jessica.

 

‘Aku ingin melihatmu seperti ini. Jadilah Jessica yang selalu ceria’.

 

Wussh.

Angin bertiup menandakan sebuah harapan baru.

Harapan bagi seorang Jessica Jung yang ingin melangkah tanpa ada seorang Oh Sehun di sampingnya.

Dan harapan seorang Oh Sehun yang hanya bisa menjadi tiupan angin. Tiupan angin yang membawa seorang Jessica Jung melangkah maju.

****

 

 

Biarkan aku menjadi angin.

Bisa di rasakan tetapi mustahil untuk dilihat maupun disentuh.

Biarkan aku menjadi angin berhembus di tempatmu.

Aku adalah angin yang melindungimu tanpa bisa menyentuhmu.

 

 

 

 

Jika mau membaca sequel kunjungi WordPress pribadi saya

http://littlebubbletea.wordpress.com/

5 thoughts on “[Freelance] Wind – OneShoot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s