LOVE YOU / Chapter 2

Author: S.Y.M

Title: LOVE YOU …

Length:Chaptered

Rating: G

Genre:  Romance, Angst

Cast: – Jessica Jung

jessica24

     – Xi Luhan

luhan 2

Other Cast:

Jia MISS A= kakak Luhan

Yogeun = Gaozhan

Note:

Yuhuu… ah aku kembali tapi malah bawa Chap 2 nya Love You… but..ENJOY IT.

*

*

“Aku bisa menyayanginya seperti anakku sendiri, yang aku khawatirkan adalah, bagaimana dengan hatimu?”

“Entahlah..”

 .

“Bagaimana keadaan Jessica? Apa dia tahu apa yang terjadi di JEASIN?”

“Kita bisa bertahan sampai dia kembali lagi ke JEASIN, yang terpenting adalah,,, apa yang harus kita lakukan untuk JEASIN dan saat dia kembali semuanya akan tetap menjadi milikku”

.

.

Aku harus pastikan Jessica tetap aman, jadi kumohon jagalah dia”

Laki-laki itu terdiam, ia masih mengaduk secangkir kopinya. Lalu ia mendongak dan memberikan senyuman sinisnya.

“Jangan berharap terlalu banyak padaku”

.

.

.

“Kyaa….. Hya….pergi kau Lamboorrraaaa….”

“Mommy…. “

“Daddy…”

Sooyeon berusaha membuka matanya, ia melihat jam alarm digital di meja kecil sampingnya.

Oh tidak! Pukul setengah 3 pagi

Sooyeon beranjak dari tempat tidurnya dengan sedikit malas, yang benar saja ia harus terbangun di jam sepagi ini.

“Mommyy!!!!”

Teriakan terakhir itu membuatnya membuka lebar matanya.

“Gao?”  spontan ia berlari ke arah sumber suara itu, ia berlari ke kamar Gaozhan yang berjarak 1 ruang dengannya.

.

Sooyeon menghela nafas lega, putranya kini telah memeluk dirinya dengan tenang, ia kembali tertidur setelah membuatnya tergopoh ke kamarnya.

Luhan terhenyak ketika melihat Gaozhan sudah tenang dan memeluk Sooyeon. Ia berada di ruang kerjanya dan ia tidak mendengar dari awal Gaozhan berteriak memanggilnya.

Sooyeon yang menyadari kehadiran Luhan, melemparkan senyum padanya.

“Lihatlah,,, dia sangat lucu. Jika saja aku tidak hilang ingatan, pastilah dia yang paling aku rindukan ketika aku tidak sadarkan diri, oohhh dia seperti penyemangat hidupku”  ucap Sooyeon sedikit berbisik pada Luhan.

Namja itu hanya tersenyum simpul lalu mendekati Sooyeon dan membelai rambut putanya itu.

“Dia selalu seperti ini jika ia sudah bermain larut malam, dia akan bermimpi seolah-olah dia sedang berhadapan dengan musuh-musuhnya di Gamenya” Jelas Luhan.

Sooyeon mengangkat kedua alisnya lalu bibir mungilnya membentuk huruf O , kali ini menurut Luhan,  Sooyeon lah yang terlihat lucu. Matanya jelas tidak terlepas dari Sooyeon yang saat ini sedang meniup lembut puncak kepala Gaozhan, memberikan sensasi lembut agar Gaozhan tetap terlelap dalam tidurnya. Ia membelai-belai rambut putranya itu, Sooyeon mencurahkan semua kasih sayangnya dengan membelai puncak kepala Gaozhan sambil sesekali tersenyum gemas melihat wajah polos putranya saat tidur.

.

.

.

“Luhan…Luhan… Luhan..”

Hfuuuuuuhhhhh

Luhan sontak membuka matanya, baru saja ia merasakan ada seseorang yang meniup telinga dan tengkuknya, sensasi geli yang seketika membuatnya harus terbangun dari tidurnya. Diedarkan pandangannya pada sosok yang sedang membungkuk melihatnya dengan seksama dan tersenyum manis. Ia masih dalam posisi yang sama, hanya saja matanya masih menerawang siapa yang ada di hadapannya, kenapa ada sosok seperti bidadari muncul di depannya? Apa dia yang meniup telinga dan tengkuknya?

Sosok berambut panjang itu terkena sinar lembut dan tersenyum manis, matanya yang menyipit membuatnya semakin terlihat manis.

“Luhan! …. Irona ppalliwa!” sosok itu mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Luhan. Luhan membuka lebar matanya, Oh tidak! Dia bukan bidadari. Dia Sooyeon, istrinya.

“Ah… jam berapa sekarang?” Luhan segera mengalihkan pandangannya, ia mencari cari letak jam dinding di ruangan itu.

“Bangunlah atau kau akan terlambat mengantarkan Gao ke sekolah”  Sooyeon mengulurkan tangannya.

Luhan masih menatap tangan mungil yang ingin membantunya untuk bangun itu. Rasanya ia masih belum bisa benar-benar tersadar, entah apa yang ia impikan tapi jelas ia belum bisa sadar sepenuhnya.

“Mommyyy!”

Luhan hendak meraih tangan itu namun detik berikutnya tangan mungil itu sudah tak lagi didepannya.

“Aku harus membantu Gao, cepatlah mandi dan sarapan” Sooyeon tergopoh meninggalkan Luhan. Gaozhan tidak akan berhenti berteriak sebelum Sooyeon datang.

”Daddyyy!!! WAKE UP PLEASE! !”  teriak Gaozhan selanjutnya.

Ya, kali ini dia harus benar-benar bangun, putranya itu sudah berteriak kesana kemari.

.

.

“Usssddd!” Sooyeon berusaha membuat putranya itu berhenti berteriak.

“Wae Mommy? Daddy harus bangun”

“Dia sudah bangun, dan Mommy pastikan 10 menit lagi dia akan ada disini”

“Jeongmal? Mommy bisa sulap”

Sooyeon tersenyum kecil, sepertinya ada yang salah dengan kalimatnya, kenapa Gaozhan bertanya ia bisa sulap?

“Owhh…sulap ya?” Sooyeon sadar baru saja ia memastikan sesuatu pada Gaozhan, ia harus belajar berhati-hati dengan kalimatnya, Gaozhan adalah tipe anak yang sangat teliti dengan setiap kalimat yang ia dengar.

“Mommy bilang, 10 menit lagi Daddy akan ada disini, apa Mommy bisa sulap? Mommy bisa membuat Daddy ada disini dan disana dan kapanpun Mommy mau?”

Sooyeon mengangkat sebelah alisnya, Oh tidak… ini sebuah curahan hati anak kecil yang selalu ingin ditemani Daddynya dimanapun dan kapanpun ia mau.

“Emhh… Mommy akan tunjukkan tapi kau harus habiskan sarapanmu, jika Mommy bilang Daddy ada disini, dia akan ada disini!”

“Jeongmal?” Gaozhan semakin bersemangat

Sooyeon mengangguk kecil dan sedikit memaksakan diri, sebenarnya ia ragu, sedetik kemudian ia menyesali kata-katanya, tidak seharusnya ia mengatakan itu pada Gaozhan, bagaimana jika itu tidak sesuai dengan apa yang ia katakan.

“E’EM… cepat habiskan sarapanmu, Mommy akan membuat Daddy ada disini”

Gaozhan mengangguk semangat, ia melahap satu persatu potongan sandwich yang telah ia siapkan di piringnya.

Sooyeon melirik pintu kamar, berharap Luhan segera sadar pukul berapa sekarang agar ia segera keluar.

“Mommy, aku harus menunggu 5 menit lagi bukan? Apa bisa lebih cepat?”

Sooyeon tersenyum, ia masih menatap pintu kamar Luhan. Lalu ia menundukan kepalanya.

“Mommy tidak mengucapkan mantra? Bukankah sulap harus ada mantra?”

Mantra ya?

Sooyeon tersenyum, lalu ia menggerakkan mulutnya untuk mengucapkan sebuah kalimat yang disebut mantra oleh putranya.

“ hana, dul, set, datanglah” ucap Sooyeon lirih. Ia berharap ia tidak mengulangi kalimat itu untuk kesekian kalinya sampai Luhan datang ke meja makan.

Sooyeon menatap Gaozhan yang menunggu reaksi dari kalimat yang disebut mantra olehnya.

Apa mantraku tidak berhasil? Aku membodohi anak kecil… oachhhh

Sooyeon menghela nafas, sepertinya ia harus mengucap kalimat itu lagi.

Ekspresi Gaozhan berubah seketika saat Sooyeon hendak mengucap kalimat itu lagi.

“Mommyy!” ucap Gaozhan sedikit berteriak.

“Selamat pagi jagoan, kau sudah menyelesaikan sarapanmu?”

Sooyeon sontak menoleh ke sumber suara itu, Oh… selamatlah… Luhan datang tepat waktu.

Luhan menatap Sooyeon aneh, karena Sooyeon kini sedang terpaku menatapnya, seolah Sooyeon barusaja menemukan seseorang yang lama tidak ia jumpai.

“Ada yang salah?”

“Ahhh any” Sooyeon segera membuyarkan pandangannya pada Luhan, lalu ia meraih piring didepannya, dan mengisinya dengan sandwich buatannya.

“Selamat makan” ucapnya pada Luhan.

“Mommy daebak!” ucap Gaozhan

Sooyeon tersenyum, sekarang ia berharap Gaozhan tidak menceritakan kalimat yang ia sebut mantra tadi di depan Luhan

“Daddy tahu? Mommy baru saja membaca mantra dan membuat Daddy cepat datang kepada kami!”

Ya mantra… aku membodohi anak kecil..

Luhan berhenti memakan Sandwichnya, lalu beralih pada Gaozhan.

“Jeongmal?”

“E’emh… Mommy mengucapkan mantra…hana, dul set datanglah, dan Daddy datang, Mommy bisa memanggil Daddy kapanpun ia mau”

“Benarkah?” kini pertanyaan itu beralih pada Sooyeon.

Sooyeon tersenyum simpul dan sedikit terpaksa. “Kau tahu itu hanya sebuah kebetulan” jelas Sooyeon.

“Mungkin saja….tidak, mungkin saja aku datang karena panggilanmu”

Sooyeon menatap Luhan bingung, oh ayolah Luhan…. Jangan meledekku jangan membuat Gao semakin percaya dengan mantra bodoh itu.

“Mungkin saja juga kebetulan, tapi bukankah keajaiban itu ada?” Luhan tersenyum lalu melanjutkan sarapannya. Sedangkan Sooyeon hanya tersenyum simpul.

Kalimatnya sulit dimengerti.

.

.

.

Hana, dul, set, datanglah”

Luhan terlihat meletakkan tubuh Sooyeon pada tempat tidurnya, ia memandangi wajah istrinya itu. Ini sudah kesekian kalinya Sooyeon pingsan karena sakit di kepalanya. Sudah 2 hari ini Luhan selalu memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa kesehatan Sooyeon. Ia meletakkan kantong plastic yang berisi obat penenang untuk Sooyeon.

Dokter sudah menjelaskan tentang kemungkinan yang akan terjadi pada Sooyeon, tentang ingatan yang seharusnya segera ia bangun pada diri Sooyeon atau membuat Sooyeon harus kehilangan semua memori  masa lalunya.

Ia memandangi istrinya itu. Terbesit rasa iba pada Sooyeon. Tidak seharusnya Sooyeon mengalami nasib seperti ini, namun apa yang bisa ia lakukan untuk Sooyeon? Mengembalikan ingatannya? Sepertinya itu yang harus ia lakukan. Namun itu semua harus Sooyeon yang memulai. Sedangkan saat Sooyeon mulai mengingat satu persatu puzzle ingatannya, mungkin ia yang harus lebih khawatir.

Luhan meletakkan satu persatu obat pada piring kecil agar Sooyeon dengan mudah meminumnya ketika sadar nanti. Setelah selesai dengan obatnya, Luhan meraih Smartphone silvernya. Ia harus memberitahu sekretarisnya untuk bisa menggantikannya sementara waktu saat ia tidak bisa pergi bekerja.

“Aku harus menjadi bapak rumah tangga sementara waktu, aku percayakan kantor padamu” sambungan itu terputus ketika Luhan melihat Sooyeon bergerak dari tidurnya.

Ia mulai menggerakkan tangan dan matanya. Mata itu perlahan terbuka dan menjelajahi sekitarnya sampai akhirnya menemukan sosok Luhan yang berjalan mendekatinya.

“Kau sadar?” Luhan tersenyum pada Sooyeon. Lalu tangan itu perlahan tanpa sadar menyentuh puncak kepala Sooyeon.

Namun sedetik kemudian Sooyeon menepis tangan Luhan. Ia menatap Luhan tajam, seolah ia baru mengenal Luhan. Dan mungkin ia berfikir Luhan akan berbuat buruk padanya. Dia melihat Luhan dengan mata penuh ketakutan dan kemarahan.

“Gwenchana?” tanya Luhan lembut. Ia masih berusaha untuk mendekati Sooyeon

Sooyeon masih menatapnya tajam, sedangkan Luhan berharap Sooyeon segera sadar dengan keadaannya saat ini.

“Nuguseyo?” tanya Sooyeon lirih dan sontak membuat Luhan lemas karena pertanyaan itu.

Jung Sooyeon

.

.

Sooyeon masih menatap tajam dua sosok yang ada di depannya saat ini, satu diantaranya adalah seorang dokter yang sedang memeriksa keadaanya, sedangkan satu lagi yang ia tidak tahu namanya itu sedang memperhatikannya dengan tatapan khawatir.

Beberapa kali Sooyeon berusaha mengingat siapa mereka namun ia menyerah karena sama sekali ia tidak mengingat apa yang terjadi sehingga ia bisa bersama dengan orang-orang ini.

“Luhan, kita perlu bicara” kata dokter itu kepada Luhan.

Luhan? Aku pernah mendengarnya… tapi dimana?

Luhan mengangguk dan mengikuti sang dokter keluar kamar itu, sedangkan Sooyeon mengacak rambutnya frustasi. Hingga rasa nyerinya kembali, kepalanya kembali nyeri… sangat nyeri..

“Uhhhhkk…” Sooyeon meringkuk, dan  memegangi kepalanya, menahan betapa sakitnya ketika kepala itu seperti dipukul oleh palu besar dengan berat beberapa kilo itu.

.

.

Luhan terdiam, apa yang dijelaskan oleh dokter kali ini sungguh rumit baginya. Kenapa Sooyeon kembali tidak mengingat dirinya? Itu semua karena Sooyeon memaksakan ingatannya. Ia memaksakan diri untuk mengingat bagaimana dirinya dulu. Akibatnya syaraf di otaknya yang masih sangat lemah untuk usaha keras itu, membuatnya kembali seperti saat ia baru saja sadar dari komanya, ia tidak tahu apa-apa dan menjadi linglung.

“Aaggghhhtt…” Luhan segera membungkukkan setengah badannya setelah ia rasa penjelasan dari sang dokter sudah cukup, lalu ia segera berlari ke kamar Sooyeon. Sooyeon sedang meringkuk di tempat tidurnya dan memegangi kepalanya, rambutnya acak-acakan, ia menjambak sendiri rambutnya.

Luhan segera memegang lengan Sooyeon. Ia memeluknya, lalu sang dokterpun memberinya suntikan agar ia bisa tenang.

“Sa_kkiiiit” bahkan suaranya itupun tertahan.

Luhan masih memeluknya, ia ikut berbaring di tempat tidur, mendekapnya dari belakang, menahan kedua tangannya agar Sooyeon tidak memberontak.

“Biarkan dia istirahat” sang dokterpun selesai dengan suntikannya.

Ia membereskan barang-barangnya ke dalam tas, dan meninggalkan satu resep lagi padanya di atas meja.

“ Ingatannya masih labil, ia mungkin akan kembali mengingatmu, namun jika ia memaksakan diri, ia akan kembali seperti ini. Ia hanya perlu menemukan masalalu seperti apa yang ingin ia ingat. Dan jika ia gagal… resiko itu harus kami ambil”

Luhan mengerti. Ia mengangguk paham. Dan dokter itupun berpamitan untuk pergi setelah tugasnya selesai.

Sedangkan Luhan… ia mengambil nafas dalam. Ia masih memeluk Sooyeon di tempat tidur itu. Perlahan nafas Sooyeon mulai beraturan, itu tandanya Sooyeon sudah tenang. Perlahan Luhan melepaskan pelukannya, ia sedikit mengangkat kepala Sooyeon, membenarkan posisinya dan sedikit membebaskan lengannya yang tertindih tubuh Sooyeon.

Iba, itulah yang ia rasakan. Ia menyentuh puncak kepala Sooyeon, disilakkannya rambut panjang kecoklatan itu. Pipinya lebih tirus, matanya juga tak sebening dulu. Jika seperti ini ia menjadi merasa bersalah, karena tidak merawat Sooyeon dengan baik. Jika ibu Luhan berkunjung ia pasti mendapat omelan karena Sooyeon yang semakin kurus dan terlihat tidak terurus.

“Mommy…” suara lirih itu bersumber dari anak kecil yang berdiri di pintu kamar Sooyeon. Sudah pasti itu adalah Gaozhan. Anak kecil itu ternyata sudah sampai di rumah.

Ia membalik tubuhnya dan menjemput putranya yang hanya berdiri kaku itu.

“Kau bersama siapa?”

“Apa mommy sudah baikan? Neomu Bogoshippo” sungguh menggemaskan jika anak kecil ini yang mengucapkan kalimat itu. Di wajahnya tersirat kekhawatiran, namun itu membuatnya semakin terlihat lucu dan menggemaskan.

“Dia harus istirahat, tentu saja dia baik-baik saja” Luhan mencium pipi Gaozhan.

“Kau harus istirahat juga” Luhan merayu Gaozhan.

“Shireo! “ Gaozhan mengerucutkan bibirnya, dan seketika Luhan sedikit terkesiap, darimana anak kecil ini mendapat ekspresi yang menggemaskan seperti ini? Dengan mengerucutkan bibirnya seperti ini ia semakin lucu.

“Owwhhh anak Dady.. kau sudah mulai bandel?” Luhan mencubit hidung Gaozhan.

“I miss her Dad”

Luhan tersenyum simpul, ia harus mengalah kali ini.

“Ayolah Luhan… kau tega membuat anak mu sendiri merindukan mommynya seperti itu?” dan benar Jia lah yang membawa Gaozhan pulang ke rumah. Sementara Luhan masih bersikeras untuk membiarkan Gaozhan tetap di rumah neneknya selama Sooyeon masih dalam perawatan.

“Baiklah!” dan Luhan membawa putranya itu mendekati tempat tidur Sooyeon. Dengan girang Gaozhan menaiki tempat tidur yang lumayan tinggi untuknya. Dan bertaburan memeluk Sooyeon yang tertidur.

“Jangan membuat mommy mu bangun okey?”

“Okey Dad” Gaozhan menunjukkan ibu jarinya. Lalu ia memeluk tubuh Sooyeon. Ia menenggelamkan kepalanya diantara lengan Sooyeon dan memejamkan matanya. Sungguh menggemaskan.

“Lihatlah, bukankah dia sangat bahagia bersama Mommynya?”

Luhan melirik Jia, dan kini ia menarik lengan Jia untuk keluar dari kamar Sooyeon.

“Hyah… Xi Luhan”

CKLEK

Luhan menutup pintu itu dengan hati-hati. Ia kembali menggiring Jia untuk menjauh dari depan kamar.

“Kita harus bicara”

“ ada apa? Apa kondisi Sooyeon memburuk?”

“Mungkin”

“Ayolah Luhan… ceritakan padaku” Jia memohon

“Ini rumit, kita harus lihat hasilnya setelah ia sadar, kondisinya sangat Labil dan aku tidak bisa mendeskripsikan kondisinya seperti apa, apa aku harus meminta ibu untuk menemaninya di rumah?”

“Ibu tidak akan keberatan”

“Jangan sering berkunjung jika kau membuat kekacauan”

“Hya!!! “

PLETAK Seketika Jia menjitak kepala adiknya itu

“Kau pikir aku siapa? Selalu membuat kekacauan? Aku menyayangi dia” Jia mendelik dan memukul kepala Luhan lagi.

“Jangan memukul kepalaku? Kau tahu kepalaku ini sangat berharga” Luhan meringis kesakitan

“Kau yang terlalu khawatir”

“Aku harap dia baik-baik saja, “ ucap Luhan lirih, kali ini wajahnya lebih serius.

Tidak dipungkiri bahwa Luhan pun khawatir dengan keadaan Sooyeon, bagaimana nantinya saat Sooyeon bisa mengingat kembali? Bagaimana jika tiba-tiba ia mengingat bagaimana kehidupannya sebelum ia kecelakaan dan hilang ingatan seperti ini?

“Aku harap dia mema’afkanku” imbuhnya dan seketika Jia menatap haru adiknya itu. Kemudian ia memeluk adiknya. Ia harus memberi semangat pada Luhan.

“Mungkin kau perlu istirahat, dan meninggalkan urusan perusahaan sementara waktu” Jia melepas pelukannya.

“Aku tidak bisa, kau tahu perusahaan sedang dalam fase pemulihan. Masih banyak yang harus aku lakukan, sepeninggal Ayah.. semuanya kacau”

“Bagaimana jika, aku berhenti dari pekerjaanku dan membantumu di perusahaan?” Tawar Jia matanya melebar dan berbinar.

Namun berbeda dengan Luhan.

“ Aku tidak yakin akan hal itu, aku tidak mau kau merengek untuk kembali ke pekerjaanmu lagi setelah tahu apa yang terjadi di perusahaan”

Jia merengut. Ia memang tidak pernah mau ikut campur di perusahaan , ia sibuk dengan dunia fashionnya. Ia lebih suka menjadi seorang designer daripada ikut campur dengan keadaan perusahaan. Ia juga tidak tertarik sebagai seorang pewaris, ia selalu melimpahkannya pada Luhan. Dan ketika perusahaannya di bawah kendali salah satu Grup terbesar di Korea, ia barulah sedikit melirik dengan keadaan perusahaan. Karena ayahnya yang sangat tertekan, ayahnya selalu berusaha untuk merebut kembali saham yang telah dimiliki oleh JEASIN Group, ia masih dalam bagian dalam perusahaan namun saham dan ruang geraknya dibatasi oleh pihak JEASIN. Sampai pada akhirnya ia harus menghembuskan nafasnya sebelum sempat merebut kembali kendali perusahaannya. Semuanya di ambil alih oleh Luhan. Dan kali ini, saat ia kembali bisa merebut perusahaannya dan lepas dari JEASIN. Ia juga harus dihadapkan oleh kondisi Sooyeon yang menghawatirkan.

“Kami akan selau membantumu Luhan, jangan terlalu menghawatirkan Sooyeon, bukankah Gaozhan membutuhkannya?”

Luhan tersenyum, ia memang membutuhkan dukungan keluarganya.

“Mulailah semuanya dari awal” Jia menepuk pundak Luhan.

Sedangkan Luhan terdiam, Memulai dari awal?  Ia sedikit tersenyum. Bagaimana bisa dia memulai dari awal? Sooyeon, Perusahaan, dan semuanya yang membuatnya sakit kepala.

“aku menyayanginya seperti adikku sendiri, kau juga harus membuka matamu”

Luhan menunduk, saat ini ia menanyakan pada hatinya, bagaimana perasaannya pada Sooyeon?

“Aku tidak ingin membahasnya saat ini, pulanglah”

Jia merengut, adiknya tidak pernah bisa bersikap sopan padanya, dan ia gemar sekali mengusirnya.

“Baiklah… tapi biarkan aku berpamitan pada adik ipar dan keponakanku”

Jia berlari kecil dan membuka pintu kamar Sooyeon perlahan, ia tersenyum mendapati Gaozhan yang memeluk Sooyeon. Lalu ia mendekatinya dan mencium singkat puncak kepala Gaozhan.

“Semoga kau bahagia …Jung Sooyeon” Jia tersenyum

 

Jangan tanyakan lagi tentang perasaanku, aku benci memikirkan itu. Cukup kalian merasakan nyaman dan biarkan aku yang menanggungnya” _ Luhan_

.

.

.

Sooyeon memandangi pemandangan diluar jendela kaca besar itu, ia hanya memperhatikan laju mobil yang melewati jalanan itu. Sudah beberapa hari ini, ia sering ketempat ini, ketempat dimana ia harus mencium bau obat yang mungkin sudah biasa ia minum walaupun di rumah. Ia membenci obat, namun karena keadaannya yang membuat ia tidak bisa menghindari obat, dan obat pereda rasa sakit adalah favoritnya. Kepalanya sering merasakan sakit yang luar biasa ketika ia secara sengaja memaksakan diri untuk mengingat beberapa hal.

 

Ia menunggu Luhan yang masih mengurusi administrasinya. Ia masih mengingat ketika ia memaksa ingin melihat tempat sekolah Gaozhan. Disana pertama kalinya ia pergi tanpa sepengetahuan Luhan. Sebenarnya itu sudah berulang kali ia lakukan ketika ia jenuh berada di rumah. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar rumah lalu kembali sebelum Luhan sampai di rumah mereka. Dan kemarin, ia bersikeras dan meyakinkan Jia untuk ikut ke sekolah Gaozhan. Dia adalah Mommy nya wajar ia ingin tahu tempat sekolah anaknya, ia hanya berfikir bahwa mungkin sebelum ia hilang ingatan dialah yang selalu mengantarkan Gaozhan ke sekolah, bukan Jia. Mungkin saja ia bisa mengingat sesuatu di tempat itu.

Dan kenyataannya adalah, guru dari Gaozhan tidak satupun yang mengenalnyanya sebagai wali murid. Hal itu membuatnya berfikir bahwa ia tidak pernah  mengantar Gaozhan ke sekolah, atau memang ia tidak pernah menemui guru Gaozhan walaupun hanya sekedar menyapa.

Seperti apakah aku?

“Kau sedang apa?” kehadiran Luhan membuatnya berhenti melamun. Sementara Luhan sudah ada di dekatnya dan ikut memandang ke luar Jendela kaca, sama seperti yang ia lakukan.

“ melihat mobil-mobil itu?” tanya Luhan.

Sooyeon tersenyum, sebenarnya mobil-mobil itu membuatnya takut dan pusing. Ia hanya berfikir dan tidak memperhatikan mobil-mobil itu dengan seksama.

“mereka membuatku pusing”

Luhan tersenyum simpul.

“Kita akan jemput Gao di rumah eomma”

Sooyeon mengangguk, mereka memang menitipkan Gaozhan dirumah neneknya saat mereka chek up ke dokter.

Jia tidak mungkin bisa menemaninya, karena saat ini Jia sedang keluar kota untuk acara Fashion show nya.

.

.

.

“Halmonim, aku bosan” Gao mendekati neneknya, ia merangkak dan naik dipangkuan neneknya yang sedang merajut itu.

“Aaahhh waeyoo?”

“Tidak ada Mommy, tidak ada Jia ahjumma, tidak ada Dady, dan mainanku ada di rumah”

“Kenapa tidak membawa mainanmu kemari?”

“Ini salah Dady, dia terlambat dan kami harus terburu-buru, aku jadi lupa dengan mainanku.” Gao mengerucutkan bibirnya setiap ia sebal. Sedangkan Halmoninya hanya tersenyum, sungguh tidak ada yang takut jika Gaozhan sedang merengek atau pun marah. Ia membuat orang ingin tertawa karena kelucuannya saat marah.

“kau mau membantu nenek merajut?” Ny Xi menunjukkan hasil rajutannya pada Gaozhan, dan mendapat respon negatif dari cucunya itu.

Ia menghela nafas, ia rasa cucunya sudah semakin besar dan tidak akan tertarik dengan hal-hal yang lembut seperti ini. ia sadar jika bocah seusia Gaozhan saat ini akan lebih tertarik pada mainan anak laki-laki ataupun Game Online.

“Itu pekerjaan anak perempuan Halmonim” Gaozhan melipat tangannya di dada.

“Hahaha Ara..ara.. mari kita keluar rumah, kita akan tunggu mereka datang menjemputmu”

“Jinjayoo….”

“Tentu” Ny Xi mengangkat tubuh cucunya yang semakin berat dan menuntunnya keluar rumah, menyambut kedatangan Mommy dan Dady nya.

“cucu Halmoni semakin berat, apa kau makan banyak?”

“Tentu, Mommy sering memasakkan ku makanan, meskipun terkadang masakannya tidak berhasil dan harus Dady yang menggantikannya”

“Ohoohohoho…Mommy mu bisa memasak?”

“Aniyoo…Mommy suka memasak sambil menonton siaran di Televisi”

“Baiklah Halmoni tidak akan tanya lagi”

TIN

TIN

Dan benar, mereka datang sebelum Gaozhan menunggu lama di teras rumah Ny Xi.

Ia langsung berhamburan memeluk Sooyeon.

“Mommy! Ayo kita pulang, aku ingin bermain Game” rengek Gaozhan.

Sooyeon hanya tersenyum dan mengangkat tubuh anaknya itu. Ia mengacak rambut Gaozhan dan membuat Gao kembali menunjukkan ekspresi lucunya lagi, ia mengerucutkan bibirnya karena rambut yang selalu ia tata seenaknya saja di acak oleh Sooyeon.

“Mommy… aku meminta Gel pada Dady agar rambutku rapi seperti Dady, jangan di rusak” protesnya.

Dan tawa mereka pun tak mampu terbendung lagi. Tidak disangka anak sekecil itu sangat cerewet dan perhatian dengan penampilannya.

 

“Eomma” Luhan mencium singkat kedua pipi eommanya. Disusul dengan Sooyeon yang dipeluk oleh Ny Xi, mereka memang jarang bertemu setelah eommanya tidak lagi memasakkan makanan untuk mereka. Hanya Jia yang sering keluar  masuk rumah mereka tanpa ijin.

“Makan malamlah dulu dirumah” usul Ny Xi

“Sepertinya kami harus segera pulang, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan, dan aku harus mengantar mereka  ke rumah”

“Baiklah, kau harus sering-sering mengajak Sooyeon kesini”
“Ne” Sooyeon mengangguk dan masuk ke dalam mobil, di susul Luhan dan Gaozhan yang berlari ke kursi belakang.

.

.

Luhan memesankan makanan untuk diantarkan ke rumah. Sedangkan dia harus kembali ke kantor karena ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan.

Sooyeon memperhatikan rumahnya, ia mengingat beberapa hari lalu saat ia menonton sebuah acara tentang sepasang suami istri, dan ia menangkap hal aneh di dalam rumahnya. Ia tidak menemukan foto pernikahannya seperti yang ia lihat di televisi. Ia tidak berani menanyakan dimana foto pernikahan mereka, kenapa tidak di dinding atau bahkan di meja rumah mereka. Hanya ada foto Gaozhan saat kecil yang terpajang di meja dekat dapur rumah ini.

Foto pernikahan adalah hal penting, tidak mungkin tidak ada foto itu.

Sooyeon terus mengitari setiap ruangan di rumahnya, ia membiarkan Gaozhan bermain dengan Gamenya, ia hanya menyiapkan beberapa kotak susu untuk Gaozhan ketika ia merasa haus. Selanjutnya ia sibuk menjelajahi isi rumahnya. Termasuk saat ini ia berdiri di depan ruang kerja Luhan yang bahkan jarang sekali ia dekati.

Luhan lebih memilih tidur di kamar ini daripada tidur bersamanya. Bukankah mereka suami istri? Mungkin sejak Sooyeon hilang ingatan Luhan tidak pernah tidur satu kamar dengannya, itulah yang selama ini dipikirkan Sooyeon.

“Mungkin dia menyimpannya di sini” Sooyeon melangkah ragu, namun ia sendiri tidak inggin menghentikan keingintahuannya dengan foto pernikahan mereka.

Tangannya meraih daun pintu di depannya dan yang membuatnya kecewa adalah, ruangan itu terkunci dengan pasword, yang mungkin hanya Luhan yang tahu.

”Tempat apa ini? kenapa harus ada pasword?” Sooyeon bedecak kesal. Mereka hanya tinggal bertiga dan kenapa ruangan kerjanya harus berpasword. Apa begitu banyak dokumen rahasia di tempat itu?

Sooyeon mengacak rambutnya kesal. Ia paling benci ketika rasa penasarannya sudah di ujung kepalanya dan ia tidak bisa memecahkan rasa penasarannya. Baginya itu sangat melelahkan.

“Apa aku harus menanyakannya sendiri? Aahhh bagaimana jika Luhan malah menertawakanku? “

“Siapa yang menertawakanmu?”

Dan sontak Sooyeon ingin memuntahkan isi perutnya ketika Luhan tiba-tiba ada di belakangnya.

Sooyeon menggaruk tengkuknya. Ia tidak tahu harus berkata apa, yang ada dipikirannya kali ini adalah, apakah Luhan mendengar semuanya? Tentang rasa penasarannya

“Aku memanggilmu berulang kali dan kau tidak menjawab, Apa Gao di kamarnya?”

“Hem” Sooyeon mengangguk

“ Kau sudah makan?”

“Hem” Sooyeon kembali mengangguk

“Sedang apa kau disini? Kau tidak istirahat?”

“Hem” Sooyeon kembali mengangguk.

Luhan menatapnya datar, ada yang dipikirkan oleh Sooyeon dan itu membuatnya terdiam seperti ini.

“Apa kau sakit?”

“Any” Sooyeon menggelengkan kepalanya.

“Lalu?”

“Tidak ada”

“ Baiklah,” Luhan mendekati pintu ruang kerjanya, dan benar… pintu itu benar-benar ia pasword.

Kali ini Luhan menekan paswordnya untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Setelah berhasil masuk ke dalam ia kembali menengok Sooyeon yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Sedang apa? Kau tidak ingin masuk?” tawar Luhan.

Sontak Sooyeon mendongak, apa dia tidak salah dengar? Luhan memperbolehkannya masuk ke ruangan itu. Dengan semangat ia masuk ke dalamnya.

Dan benar, betapa kagumnya Sooyeon dengan ruangan yang luas dan dihiasi oleh 3 rak tinggi dengan banyak buku yang ada namun tidak memenuhi rak itu. Di tengahnya terdapat meja dan benda-benda milik Luhan. Di sana juga terdapat banyak dokumen yang berserakan di meja.

“Kau berusaha mengingat tempat ini?”  Luhan memberinya segelas air. Ruangannya dilengkapi dengan kulkas kecil. Pantas Luhan sangat betah di dalam ruang kerjanya.

“Aku tidak ingat apa-apa”  Sooyeon mengedarkan pandangannya, ia menangkap ada kamar tidur di balik rak tinggi ruangan itu. Lengkap dengan tempat tidur king size, lemari pakaian dan perabotan lainnya.

“Kau sering tidur di tempat ini?”

“Tempat tidurku adalah mejaku” Luhan menunjuk pada meja kerjanya bukan tempat tidur king size miliknya.

Sooyeon mengangguk kecil. Detik berikutnya ia ingat kenapa ia ada disini.

“Apa urusanmu sudah selesai? Apa banyak masalah di kantor?”

“Hanya tanda-tangan dokumen penting dan Sekretaris Hwang tidak bisa mengantarkannya kepadaku. Aku harus mempelajarinya dulu dengan data yang kupunya. Baru aku bisa menandatanganinya”

“Oh..”

Ruangan itu kembali hening, Sooyeon tidak tahu harus berbicara apalagi. Tidak dipungkiri ia pun sering bingung dengan sikap Luhan yang terkadang dingin namun juga sangat perhatian saat merawatnya. Ia jarang mengajaknya bicara hal-hal yang penting, ia hanya mengajaknya bicara jika menanyakan tentang Gaozhan dan apa kegiatan Sooyeon seharian dirumah. Selanjutnya ia akan kembali mengurung diri di ruangan ini sampai esok hari mereka bertemu di meja makan.

“Ada yang ingin kau bicarakan?”

“Ah..emm”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kau di depan ruang ini?”

“Aku hanya penasaran dengan ruangan ini, kenapa kau jarang tidur di kamar dengan ku namun setelah aku tahu kamar ini mempunyai pasword aku jadi ragu, pasti di dalam sini banyak dokumen penting, tapi setelah aku tahu bagaimana ruangan ini, aku jadi memaklumi kenapa kau suka di ruangan ini”

Luhan tersenyum, ia meraih gelas air minum yang telah kosong dari tangan Sooyeon.

“Kenapa kau menpaswordnya? Apa aku dulu tahu paswordnya? Apa aku sering ke ruangan ini?”

“Kau berbohong, kau belum menjawab dengan benar, apayang membuatmu keruangan ini?”

Sooyeon tersentak, Luhan selalu tahu jika ia berbohong. Ia hanya menghela nafas, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya

Hanya bertanya, apa itu sulit?

“Ah..sebenarnya aku hanya sedang mencari dimana kau meletakkan foto pernikahan kita, aku tidak pernah melihat foto itu” Sooyeon menatap lekat mata Luhan, dan kini giliran Luhan lah yang terkejut dengan pertanyaan Sooyeon.

Bakka

Ia mengumpat dalam hati, betapa bodohnya dia yang tidak memajang foto pernikahan mereka, ia lupa jika suatu saat Sooyeon pasti menanyakan foto pernikahan mereka.

Sooyeon masih menunggu jawaban Luhan, sedangkan Luhan terlihat berfikir. Mungkin ia berfikir dimana ia meletakkan foto pernikahan mereka.

“Luhan?”

“Aku pikir disinilah kau menyimpan foto pernikahan kita”

Luhan mendekati Sooyeon. Ia mendorong tubuh Sooyeon dan merapat di dinding. Membuat Sooyeon menghindari kontak mata dengan Luhan, ia tidak terbiasa dengan kontak yang sangat dekat dengan Luhan. Itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dan tidak normal seperti biasanya.

“K_kkau juga belum menjawab pertanyaanku, kenapa_?”

“Kau bertanya apakah kau tahu pasword ruangan ini? jawabannya tidak, hanya aku yang tahu”

“Lalu, foto pernikahan kita? Aku ingin lihat..bukankah setiap pasangan suami istri mempunyainya”

“dan kau tahu kenapa aku mempasword ruangan ini, karena disini tempat kita bercinta, kau tahu ruangan ini kedap suara, jadi ketika kau sedang mengeluarkan suaramu, tidak akan ada yang tahu kegiatan kita di dalam sini. Dan kenapa hanya aku yang tahu paswordnya, itu agar kau tidak bisa keluar begitu saja ketika masuk ke ruangan ini, hanya aku yang memperbolehkanmu keluar dari ruangan ini jika kau sudah ada di dalam sini bersamaku, ” Luhan semakin mendorongnya ke dinding, kini hanya 5cm jaraknya dengan Luhan, dan Luhan semakin mendekatkan wajahnya pada Sooyeon, tangan kirinya sudah melingkar di pinggang rampingnya. Ia tidak memperdulikan pertanyaan Sooyeon.

Sedangkan Sooyeon hanya membatu, bukan itu jawaban yang ia inginkan, tapi benarkah harus ada ruangan khusus untuk mereka melakukan itu? Di ruangan ini? lalu Foto pernikahan mereka?
“Apa kau ingin melakukannya?” Luhan berbisik, suara yang begitu dekat dengan telinga Sooyeon itu membuatnya merinding, jantungnya pun berdegup kencang, bukankah wajar untuk pasangan suami istri? Namun kali ini hatinya menolak, benar-benar menolak, ia tidak ingin melakukan apapun itu dengan Luhan.

“Any…tidak…aku hanya bertanya apa kau menyimpannya disini?”

“aku akan mengatakannya setelah ini”

Luhan memeluknya, tanpa memberi ruang untuk Sooyeon memberontak. Ia mendorong Sooyeon sampai akhirnya Luhan mendorong tubuh Sooyeon ke tempat tidur king size itu.

“Ma_mau apa kau Luhan?”

“bukankah kita suami istri? Kau tidak ingin memberikan Gaozhan adik? Dia pasti suka”

Luhan menyeringai, kali ini bukan wajah dingin yang ia lihat, namun wajah menyeramkan yang seolah ingin menerkam Sooyeon.

Sooyeon  berusaha berdiri namun Luhan menahannya.

“Any…Luhan, aku tidak ingin melakukannya, jangan gila” Sooyeon menepis tangan Luhan.

Detik berikutnya Luhan tersenyum sinis. Ia menatap tajam Sooyeon. Lalu dengan cepat mencium bibirnya. Cukup lama ia mencium bibir Sooyeon, itu ciuman antar suami istri, dan tidak membuat Sooyeon ikut larut dalam permainan Luhan. Karena lelah dan tidak mendapat balasan dari Sooyeon Luhan melepaskan ciuman itu.

“Apa kau menjadi gila karena ingatanmu yang hilang itu? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan foto pernikahan kita?” kali ini Luhan sedikti membentaknya.

“Aku hanya,  hanya merasakan hal aneh, jika aku istrimu, kenapa tetangga tidak mengenalku? Kenapa mereka hanya mengenalmu dan Gaozhan, mereka juga mengenal Jia dan Eomma, tapi tidak mengenalku, apa aku tidak pernah keluar rumah? Atau begitu angkuhkah aku sehingga orang-orang tidak mengenalku? Apa aku tidak pernah mengantar Gaozhan ke sekolah? Bahkan gurunya pun tidak mengenalku , itu membuatku merasa … seolah-olah aku orang lain dan bukan istrimu, aku hanya ingin tahu foto pernikahan kita, itu saja”

“Kau harus melihat saat ini, Gao memanggilmu Mommy, Jia menyayangimu seperti adiknya sendiri, dan eomma yang menganggapmu seperti anaknya sendiri, tidakkah itu cukup??”

“A_aakku”

“Tidurlah, aku tidak ingin kau semakin sakit, kau terlalu keras untuk memulihkan ingatanmu”

Luhan mengangkat tubuh Sooyeon, kali ini Sooyeon hanya menurut, mungkin benar yang dikatakan Luhan, semua itu hanya muncul dalam pikirannya saja.

Ia hanya berusaha terlalu keras untuk memulihkan ingatannya.

.

.

.

 

Suasana canggung sekarang ada di meja makan, Gaozhan yang sibuk dengan telor dadar dan susu di gelasnya, Luhan yang sibuk dengan koran dan secangkir kopinya, Sooyeon yang sibuk hanya sekilas duduk di meja makan, memberikan sandwich untuk Jia dan Luhan lalu kembali ke dapur. Kini giliran Jia yang menatap mereka satu persatu.

“Apa terjadi sesuatu? Apa sesunyi ini setiap pagi?” Tanya Jia

“Tidak, kenapa tidak bertanya kenapa kau ada di rumahku sepagi ini?” jawab Luhan, namun ia masih sibuk dengan Koran yang ia baca dan membolak baliknya, tanpa sedikitpun menatap Jia.

“Kau ini… bersikap lembutlah pada kakakmu Luhan, tentu karena aku merindukan keponakanku dan adikku yang cantik ituuu” Jia mencubit singkat pipi Gaozhan, niatnya ingin memeluk Sooyeon surut ketika melihat Luhan mentapnya datar dan jengah.

“Kau datang pada jam 3 pagi dan membuatku merelakan waktu tidurku. Membuat kami menemanimu dan sekarang kau ada di meja untuk sarapan bersama kami, kau membuat pagiku sedikit buruk hari ini”

Jia tersenyum kecut, ia ingin melempar piring yang ada di depannya ini pada Luhan. Entah kenapa adiknya itu tidak pernah bosan membuatnya gemas dan ingin menendangnya, ingin menjambak rambutnya, ingin melemparnya,… itu semua yang ia ingin lakukan pada Luhan.

“ Hya!! Xi Luhan… kau tidak kasihan dengan kakakmu ini? Aku baru saja dari luar kota dan aku pikir di rumahmulah yang terdekat, aku tidak ingin pulang kerumah karena tidak ingin mengganggu tidur eomma”

“tidakkah kau memegang kunci rumah?”

“tidak setelah aku sering keluar malam ke Club malam bersama teman-teman, eomma mencabut kunci yang kubawa”

“Itu salahmu”

“tapi aku hanya istirahat disini…” Jia merengek, persis seperti anak kecil. Ia sangat kesal dengan Luhan.

“Kau bisa menginap di hotel”

“Kau ini benar-benar”

PLETAK

Dan yapzz…. Jia secepat kilat mendekati Luhan dan memukul kepalanya, menyentil keningnya dan menginjak kakinya.

“AGgght.. Aishhh… “ Luhan menggerang kesakitan. Dan Jia berdecak pinggang dengan tatapan horror yang ia tujukan pada Gaozhan.

Sooyeon terkikik geli, begitu juga dengan Gaozhan. Ia seperti melihat perkelahian kakak beradik seperti yang sering ia lihat bersama teman-temannya di sekolah.

“Kalian seperti temanku” kata Gaozhan dan Sooyeon semakin tertawa.

Sooyeon mengatupkan kedua bibirnya ketika mendapat tatapan tajam dari Luhan dan Jia.

Oh tidak, dua orang ini sangat seram jika marah

“Aku tidak tertawa” ucap Sooyeon dengan tangan yang terangkat.

Ia berlari kecil dan mengangkat tubuh kecil Gaozhan.

“Ne…. kami tidak tertawa, tapi kalian sangat lucu, kami jadi ingin tertawa” ucap Gaozhan dengan polosnya. Bukankah itu sama artinya mereka tertawa.

Luhan memimun kopi yang masih setengah cangkir itu, ia sudah mulai tenang ketika Jia kembali ke tempatnya.

“Apa rencanamu pagi ini eonni?” Sooyeon membantu Gaozhan membereskan piringnya.

“Emhhh entahlah… aku ingin mengunjungi temanku, dia akan menikah dan aku yang diminta untuk mendesign baju pengantinnya” Jia pun menyeruput Kopi Americano miliknya.

Mendengarnya, seketika tangan Sooyeon berhenti bergerak, ia terlihat berfikir, lalu detik berikutnya ia kembali membereskan piring di meja makan.

Jelas Luhan tahu gerak gerik aneh Sooyeon. Mendengar kata pesta pernikahan dan gaun pengantin, mengingatkannya pada kejadian tadi malam.Saat Sooyeon menanyakan dimana foto pernikahan mereka, dan mendengar Jia yang mendesign baju pernikahan temannya, pasti Sooyeon juga berfikir bahwa Jia lah yang mendesign baju pernikahannya juga. Mungkin saja.

Sooyeon masih terdiam dan membawa piring-piring kotor itu ke pantry. Hanya menaruhnya dan ia kembali ke meja makan.

Luhan masih memperhatikan Sooyeon, sedangkan Jia.. ia pun merasa aneh dengan sikap Sooyoen yang tiba-tiba berubah.

“Ehem..emhh… Sooyeon_ah, apa kau baik-baik saja? Kau ingin ikut denganku ke rumah temanku? Kau pasti ingin jalan-jalan… hfuuuhhh setidaknya kau harus sering-sering melihat dunia luar, jika Luhan tidak ada waktu untuk mengantarkanmu, aku akan senang hati mengantarmu berkeliling kota semaaaaauuuummmuuuu” ucap Jia penuh semangat, tangannya pun ikut bicara dengan membentuk gambar lingkaran yang besar.

Sooyeon tersenyum , lalu ia beralih ke Luhan yang hanya menanggapinya datar. Kedua matanya menangkap tatapan Luhan. Mereka saling mengikat pandangan mereka. Melihat Luhan yang seperti ini membuatnya ingat bagaimana menyeramkannya wajah Luhan semalam. Namun ia juga sangat ingin bertanya pada Jia, apakah Jia juga mendesign baju untuknya?

Ayo… bertanyalah… bertanyalah dan kau akan mendapat jawabannya.

Jia menatap mereka bergantian, lalu ia menatap Gaozhan, kepalanya mendongak menanyakan pada Gaozhan, apakah terjadi sesuatu?

Sedangkan anak kecil itu, hanya mengangkan bahu dan kedua tangannya.

“Ahjumma,,, itu urusan orang dewasa, mana mungkin aku tahu” ucap Gaozhan dan spontan membuat Jia melemas karena malu. Terlihat sekali bahwa ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Mommy dan Dadynya.

Dan bersamaan dengan itu Luhan melepas tatapannya pada Sooyeon, ia beralih pada Koran yang ia pegang.

“eonni, apa eonni juga mendesign baju pengantinku?” dan benar, pertanyaan itu keluar juga dari bibir mungil Sooyeon.

Jia berhenti meneguk Americanonya, ia terdiam.. detik berikutnya ia tersenyum pada Sooyeon. Ia menatap Luhan yang seakan tidak perduli dengan pertanyaan Sooyeon padanya.

“Tentu saja, aku yang mendesign baju pengantin untuk mu” jawab Jia.

Luhan hanya menggerakkan bibirnya sehingga sedikit terangkat, ia tersenyum tipis mendengar jawaban Jia.

“Kau ingin melihatnya? Gaun mu adalah gaun terbaik yang pernah kubuat, karena aku membuatnya dengan penuh cintaaa, dan aku menyimpannya di lemari kaca agar setiap client ku tertarik akan keindahan gaun itu. Owhhh kau pasti sangat cantik mengenakan gaun itu”  tangan Jia mengatup sempurna di bawah dagunya, ia memejamkan matanya seperti membayangkan betapa indahnya gaun pengantin itu.

Penjelasan Jia membuat Luhan ingin menelan kertas Koran yang ia pegang, selalu berlebihan dan terlalu bersemangat.

“Jangan terlalu percaya, dia terlalu berlebihan” Luhan melipat korannya dan menghabiskan sisa kopinya.

“Hya! Tidak bisakah sedikit memuji kakak mu ini?” Jia mengernyit.

“ aku memujimu, kau berlebihan, dan itu kenyataan”

“Aishhh….” Jia sudah siap memukul kepala Luhan lagi namun Luhan berhasil menghindar dan menggendong tubuh Gaozhan.

“Coba saja kalau berani, “ Luhan menjulurkan lidahnya. Jia hanya bias menghentakkan kakinya geram, mana mungkin ia memukul Luhan sedangkan ada Gaozhan dalam pelukannya.

“Sudahlah… aku akan mengantar mereka keluar, kita lanjutkan setelah ini eonni”

Jia mengangguk, namun dimatanya masih penuh dendam untuk memukul Luhan..

.

.

.

Sooyeon selesai merapikan seragam Gaozhan dan ia sudah masuk kedalam mobil. Luhan menghampirinya setelah menutup bagasi mobil. Sooyeon mengerjap ketika tiba-tiba saja Luhan ada di depannya. Ia sedikit mundur, ia masih trauma dengan kejadian semalam.

“Wae? Kau masih penasaran dengan foto pernikahan kita?”

Sooyeon menunduk tak menjawab.

“berhenti memikirkan hal kecil yang tidak penting seperti itu, bukankah Jia sudah bercerita yang berlebihan tentang gaunmu itu”

Tidak penting? Bahkan karena itu aku merasa tidak nyaman dan aneh

Sooyeon masih terdiam. Ia tidak berani menatap Luhan, ia takut Luhan tiba-tiba menciumnya seperti semalam.

Bukankah dia suamiku? Tidak-tidak.. jangan berfikir macam-macam Sooyeon.

“ yang terpenting adalah kesehatanmu, jika kau ingin segera memulihkan ingatanmu, jangan membuat berat hal kecil seperti ini”

Sooyeon mengangguk kecil, mungkin Luhan benar, hal itu sangatlah tidak penting, mungkin saja foto itu tertinggal di rumah eommanya atau mungkin mereka lupa menyimpan foto itu karena pindah rumah. Atau…ah.. Sooyeon masih memikirkan beberapa alasan kenapa Luhan tidak bisa menunjukkan foto itu.

“tatap wajah ku Jung Sooyeon! ”

Ia merasakan Luhan menghela nafas, mungkin ia sedikit marah karena Sooyeon. Kali ini Sooyeon menurutinya.

“ pasangkan dasiku” Luhan memberikan dasi merah yang ia pegang pada Sooyeon

 Tuhan dadaku terasa sesak. Bukankah ini wajar

Sooyeon meraih dasi itu, ia tersenyum. Sebenarnya ia malu karena ia sudah berfikir macam-macam pada Luhan. Ia memang takut Luhan menciumnya tiba-tiba, sedangkan ia takut Gaozhan melihatnya, ia masih terlalu kecil untuk melihat hal seperti itu.

Tidak butuh waktu lama, ia selesai memasangkan dasinya. Namun yang membuatnya salah tingkah adalah, Luhan tak berkedip menatapnya. Sedangkan Sooyeon berusaha meredam gemuruh di dadanya.

“Gaozhan menunggumu” Sooyeon kembali menunduk.

Ia merasakan nafas Luhan, ia tersenyum karena Sooyeon yang tiba-tiba canggung.

“Masih ada satu prosesi lagi” Luhan menyentuh dagu Sooyeon dan mendongakkan wajahnya. Sedangkan tangan kirinya menyentuh bibirnya. Itu tandanya Luhan meminta Sooyeon menciumnya.

Sooyeon membelalak tidak percaya, sontak ia menggelengkan kepalanya, tandanya ia menolak prosesi yang dimaksud Luhan.

“Ini permintaan Gao, ia bertanya kenapa Mommynya tidak pernah mencium dadynya” Luhan menunjuk kea rah mobil dan benar, Gaozhan sudah mendongak keluar pintu mobil.

“Hurry up please, “ rengek Gaozhan.

“aku tidak akan pergi sebelum prosesi itu kau penuhi Sooyeon”  ucap Luhan dan masih dengan wajah dinginnya.

Sooyeon menghela nafas,

Dia suamimu, kenapa kau canggung? Kau harus bersikap sebagai istri yang baik, mungkin saja kau mengingat sesuatu ketika melakukan ini. Ayolah Sooyeon ..

Sooyeon berjinjit, ia menyamakan tingginya dengan Luhan dan

Chu

Dia mencium singkat bibir Luhan dan berlari menjauh.

“Hati-hati dijalan” ucapnya dan tak lupa melambaikan tangannya, bermaksud agar Luhan segera pergi ke mobilnya.

Luhan tersenyum, dan kali ini Sooyeon kembali termenung, kenapa seolah-olah senyum itu menyihirnya untuk tersenyum juga.

Senyum dengan aura yang berbeda dari Luhan. Dan ia segera masuk ke dalam rumah sebelum ia pingsan karena terpesona dengan aura baik Luhan pagi ini.

.

.

.

Luhan segera memutar laju mobilnya dan keluar dari halaman rumah. Ia sendiri bingung kenapa melakukan hal seperti itu pada Sooyeon. Bukankah baru saja ia mempermainkan istrinya itu. Ia tidak biasa bersikap jahil seperti tadi pada Sooyeon.

“Dady”

“Eumm?”

“ Kau mencintai Mommy?”

Luhan menoleh dan menatap putranya itu dengan heran. Ada apa dengan anak kecil ini?

“Wae?  Kenapa tiba-tiba seperti ini?”

Gaozhan hanya menyeringai, ia tahu pertanyaannya aneh untuk anak kecil seusianya.

“ Tentu Dady mencintai Mommy” ia menjawab pertanyaannya sendiri. Lalu ia memalingkan wajahnya, menatap lurus jalanan di depannya.

Luhan hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putranya itu, itu bukan pertanyaan, apa itu juga pernyataan? Luhan bahkan belum menjawab pertanyaannya.

 

“Aku mencintainya? Aku hanya tidak ingin ia tersakiti”

 

TBC..

 

 

emhh… sempat berfikir aku nggak mau posting FF ini lagi karena ternyata respon chapter 1 sedikit. Tapi…karena aku belum bisa memposting IF YOU…sepertinya memang FF ini yang harus aku posting..

GOMAWO karena udah baca..

jangan lupa komentarnya.

28 thoughts on “LOVE YOU / Chapter 2

  1. wah thor keren bangettt,,,cuman aku masih bingung, di chap selanjutnya gao bersikap seakan2 mereka emang gk punya hubungan sedangkan skarang gao bersikap dia bener2 anak kandung lusica -_-
    luhan juga sikapnya aneh, dia masa gk tau perasaannya sendiri ke sica sih? aku juga bingung dimana emangnya foto lusica.nikah? klo emang bener ada kenapa gk di pasang?
    kejadian di ruang kerja horro bangettttttt tapi deg2an deh bacanya hahahaha
    ayo thor lanjut terusss lambat laun pasti banyak yang komen kokkk hehehe

  2. huaaa !!! penasaran bnget !!!!!!! xD
    sbenerny luhan itu ada ikut andil dlm masa lalu jessica ??? akkhh.., pokokny susah deh jelasinny…
    luhanny tiba tiba agresif bnget…, n becandany tuh.., wkwk :3
    dtunggu krya athour yg lainny dan smangat ne😉

  3. Makin seru,ini gao masih tk ? Tapi kok kata katanya dewasa,kalau saran aku mending ucapan si gao disamaiin sama umurnya thor.Luhan ini sebenarnya baik apa jahat sih ? Dugaan aku ini jessica bisa jadi istri luhan karna campur tangan ibu nya jessica

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s