[FREELANCE] (Someday, Will you?) (chapter 2)

lala 

 

 

@anndtlarasati PRESENT

“Someday, will you?””

(2 of 3 shot)

||||Main Cast: Jessica Jung of SNSD as Jessica Jung ~ Kris Wu as Kris Wu||||Support Cast:, Krystal Jung,, Jessica’s mom, Jessica’s dad Xi Luhan, Park Chanyeol, Kim Suho, and others||||Genre: Romance, Marriage life, Bit Angst||||Rating: PG-13||||Length:Short story in Three shot||||Languange: Indonesian||||Disclaimer: The cast/character belong to God, themselves, their family, and their company. I just own of the storyline. Please no plagiat or rewrite to respect on me. Enjoy and remember to subscribe, okay?||||

***HAPPY READING***

Suatu hari, maukah kau?

 

Selalu penuh harapan, begitulah Jessica, gadis berkekurangan fisik yang tak mau menyerah memperjuangkan cintanya pada seorang Kris Wu suami sah yang membenci-nya setengah mati itu. Dan Pagi itu, Jessica yang baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk Kris dan kedua temannya yang menginap semalam itu berniat menanyakan foto gadis di dompet Kris. Ia harus tahu siapa gadis ini. Baru ia melangkah, seorang teman Kris menghadang langkahnya. Namja cantik itu tersenyum sambil membuka mulut membentuk kalimat ANNYEONG HASEYO. Luhan membungkuk, Jessica pun mengikuti. Dengan modal kertas dan bolpoin, keduanya pun bisa mengakrabkan diri. Diam diam, Luhan mengagumi sosok Jessica yang cantik, percaya diri walaupun dengan kekurangan, dan sangat cerdas menurut Luhan.
apa kau mengenali gadis di foto ini?” tulis Jessica sembari menunjukkan foto gadis di dompet Kris. Luhan menunjukkan ekspresi aneh ketika melihat foto itu.
“dia.. dia masa lalu Kris. Tepatnya masa lalu aku, Chanyeol, dan Kris. Dia salah satu sahabat kami sejak kecil. Tapi setamatnya dari SMU, kami kehilangan kontak dengannya. Tak ada kabar apapun, tak ada petunjuk sedikit pun. Seolah-olah kami dijauhi. Padahal, Kami semua jatuh cinta pada Seohyun. Lucu! Tapi aku dan Chanyeol beruntung mampu melupakannya. Sayang, Kris masih menunggu Seohyun. Kau harus lebih berusaha demi Kris. Jika kau menyerah—“ Luhan menggantungkan kata-katanya
“apa?” Tanya Jessica dalam isyarat
“jika kau menyerah pada Kris, akulah yang akan berusaha untukmu Jessica-ssi!” ungkap Luhan membuat Jessica terpaku, mematung, namun Jessica segera tersenyum dan membungkuk tanda terima kasihnya. Dalam hati, Jessica merasa beruntung. Di kondisinya yang serba kekurangan—begitu menurutnya—rupanya masih ada yang tulus mencintainya. Walaupun bukan Kris, namja yang sangat ia cintai.
“kenapa kau selalu mengenakan masker? Kau melepasnya hanya ketika memasak. Apa kau alergi debu?” Tanya Luhan membuat Jessica terkekeh
“kurasa begitu”

Tak lama, dua sosok jangkung memasuki ruang makan dimana Jessica dan Luhan sedang berinteraksi. Tak lain dan tak bukan adalah Kris dan Chanyeol. Kris memberika tatapan tajamnya pada Jessica. Seolah paham maksud tatapan Kris, Jessica bangkit, ia sadar Kris tidak ingin ia disini. Akhirnya, Jessica masuk ke kamarnya. Dan merenung disana.

#someday, will you?#

Siang itu, Jessica berkutat dengan kuas dan kanvas di galeri pribadinya. Ia ingin sekali melukis wajah Kris yang tersenyum. Tapi, ia belum pernah melihat Kris sedang tersenyum. Belum pernah sama sekali. Akhirnya, wajah datar dan marah Kris lah yang sukses mengisi kanvas kosongnya. Kris rupanya sudah berdiri di sisi daun pintu galerin pribadi Jessica. Menyadari kehadiran seseorang, Jessica mengangkat wajahnya, mendapati sosok Kris disana. Dengan cepat, Jessica mengenakan maskernya.
“hari ini, aku-yang-tidur-dikamar. Ingat itu!” tegas Kris, Jessica mengangguk semangat. Tiba-tiba ia memberanikan diri menahan tangan Kris, ia memberikannya sebuah memo
besok adalah 18 april, hari ulang tahunku. Bolehkah aku meminta beberapa hal sederhana? Aku tak butuh barang mahal atau apapun yang terdengar menyulitkan. Hanya hal sederhana dan aku tak menuntut waktunya. Hanya suatu hari, Maukah kau tersenyum untukku?
suatu hari, maukah kau memanggilku dengan namaku? bukan dengan Nona Jung?
Maukah kau duduk bersamaku di danau belakang rumah suatu hari?


suatu hari, maukah kau melakukan semuanya untukku, Kris—suamiku?”

Kris mendesah dan menatap jijik pada Jessica “ini yang kau sebut dengan sederhana. Oh konyol sekali!!!” pekik Kris muak. Sejenak ia terdiam menetralkan emosinya yang sudah meluap-luap, kemudiania kembali menatap Jessica, kali ini dengan sangat intens

“nah, Bagaimana jika aku juga meminta hal sederhana?! Suatu hari nanti, maukah kau menganggapku bukan siapa-siapamu?! Bagaimana?!Otthe?!Apa kau mampu, bodoh?” teriak Kris kasar. Jessica menunduk. Ia sempat menyesali semua yang ia perjuangkan dari awal. Ia hamper putus aa pada Kris.
Akhirnya, sebelum berakhir lebih buruk lagi, Jessica segera meninggalkan Kris yang masih berurai amarah disana. Ia nyaris lelah dengan sikap Kris, ia tak pernah tahu bahwa semuanya akan sesulit ini. Rupanya, Jessica harus lebih berjuang lagi,

Keesokan harinya, ucapan selamat ulang tahun dari eomma, appa, Krystal, dan teman-teman Jessica yang lain menyemarakkan kediaman Jessica. Bahkan Luhan ikut berkunjung, tapi Kris seolah tak peduli pada Jessica.
“Sica-yaah! Kris memberimu apa?” Tanya Suho, mantan kekasih Jessica yang juga sudah menikah. Dengan gadis pemilik eyesmile, Tiffany Hwang beberapa bulan yang lalu. Jessica menjawab pertanyaan Suho dengan menunjukkan memonya.
“seuntai liontin”. Bohong—Kris bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Jessica hanya tak ingin orang-orang memandang sebelah mata namja yang ia cintai itu.
“kemana suami mu Kris, Sica-yaa?” eomma Jessica bertanya pada anak sulungnya itu, Jessica bingung harus mengatakan apa. Jadilah ia harus berbohong bahwa Kris sedang menyelesaikan deadline ujian akhir nya yang menumpuk.
“aku akan menemuinya dulu jika begitu!” eomma Jessica berniat menemui Kris ke kamarnya, namun Jessica menahan eomma nya dengan alasan Kris tidak bisa diganggu. Namun eomma nya bersikeras.
“aku hanya sebentar. Tidak salah kan, jika seorang mertua menemui menantu nya?” tanpa peduli dengan halauan Jessica, Eomma menaiki lantai dua dan langsung masuk ke kamar Kris yang kebetulan tidak dikunci.
Betapa bingungnya eomma Jessica melihat Kris yang sedang terbaring dibalik selimut, dan lagi, tak ada tanda-tanda kesibukan tugas atau apapun itu namanya.
“kris…” eomma berujar pelan. Jadi, Kris yang sesungguhnya tidak benar-benar tidur itu melepas selimutnya. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok mertua wanitanya di depan mata.
“kau tidak mengerjakan tugas?” Tanya Eomma, Kris hanya menggaruk tengkuk karena bingung dengan jenis pertanyaan semacam itu. Karena memang ia sedang free dari tugas apapun        “aku tak ada tugas” gumam Kris lebih kepada dirinya sendiri. Eomma Jessica mulai menghirup aroma keganjilan di rumah tangga anaknya itu.

“lalu, kenapa tidak menemani Jessica menyambut tamunya? Hari ini dia ulang tahun. Dan kau hanya berbaring nyaman disini, seolah-olah tidak peduli apapun. Sekarang eomma Tanya, apa kau sudah memberinya hadiah? Atau sekedar memberi ucapan selamat pada Sica?” tegas eomma Jessica dengan nada menyelidik. Hal ini cukup membuat wajah Kris pucat ketakutan, belum lagi mengingat bahwa mertuanya itu adalah seorang psikolog. Ia bisa saja menangkap kebohongan Kris, bukan?. Sial!-maki Kris dalam hati.
“aku sudah melakukannya eomma. Sungguh!” ujar Kris meyakinkan mertuanya
“bagus sekali—“ tukas eomma Jessica
“ahh, itu bukan apa-apa eomma. Jessica kan..”
“bagus sekali kebohongan mu, Kris” eomma Jessica memotong cepat perkataan Kris. Dan apa yang terlontar dari bibir sang mertua membuat Kris malu setengah mati. Ia tidak sadar bahwa Mertuanya itu terlalu cerdas. Kini Kris hanya menunduk karena terlalu bingung.
“jangan menyakiti Sica terlalu jauh, Kris. Atau aku akan mengambil paksa ia kembali pada kami. Aracci?” tegas eomma Jessica dengan sorot mata yang tajam pada Kris. Kris baru bisa ernapas lega setelah mertuanya meninggalkannya

“mengambil paksa gadis cacat itu? Baguslah. Aku mungkin harus menyakitinya terus menerus kalu begitu” ungkap Kris pada dirinya sendiri. Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada smartphone miliknya yang sedang berbunyi. Rupanya, Appa Kris yang menelepon.
“nde Appa?” Kris menjawab teleponnya
“Kris, kau tahu apa kesalahanmu?” suara appa Kris menajam di seberang telpon. Kris tahu, eomma mertuanya tentu sudah melaporkan perlakuan Kris kepada Appa-nya
appa, kau tak mengerti. Aku sejak awal sudah bilang bukan? I never got the feeling to her. Can you understand me?”
“baiklah, appa memahamimu Krisseu, itu kenapa appa menyukai Jessica untuk berada disisimu. Tapi rupanya kau yang tidak mau dimengerti. Ah, sepertinya kau memang harus dikirim kembali ke Ontario, Kris!” ancam appa Kris secara tidak langsung.

Kris, pemuda itu tak pernah ingin kembali ke Kanada, kota kelahiran yang sudah lama ditinggalkannya. Baginya,memori panjang di Korea membuatnya terlalu cinta pada negeri gingseng itu. Ia memiliki impian sederhana, ia ingin lulus sekolah di Korea, Bekerja di Korea, menggelar pernikahan (yang benarbenar pernikahan yang ia harapkan) di Korea, memiliki anak-anak di Korea, dan menghabiskan sisa hidupnya di Korea, serta menjadikan Korea sebagai tampat peristirahatan terakhirnya.
andwae Appa. Aku akan berusaha lebih baik. Aku janji!” seru Kris dan memutus telepon secara sepihak. Mendadak ia semakin muak dengan Jessica. Gadis itu membuat hidupnya semakinkacau saja.

Malam hari, tepat Sepulangnya Kris makan malam diluar, ia menghampiri Jessica yang akhir-akhir ini sibuk di galeri nya. Entah itu menulisi buku, mebaca buku, dan yang paling sering lagi yaitu melukis.
“kau sudah pulang?” Jessica melakukan isyarat jari menyaksikan kehadiran Kris
“kau sengaja kan, memberitahu ibu tentang kelakuanku padamu. Apa kau bisa sadar diri gadis cacat? Aku terpaksa menikahimu, tanpa cinta. Dan dengan serakahnya kau masih mengemis cinta padaku, bahkan saking egoisnya kau tega melaporkan kelakuan burukku pada eomma-mu. Apa menikahimu saja belum cukup? kau harusnya bersyukur , gadis cacat. Begini saja nona Jung, jika kau ingin tabiat burukku hilang, sebaiknya jaga jarak dariku. Aracci?” maki Kris panjang lebar, Jessica dengan cekatan menulis sesuatu di memo-nya, lalu menunjukkannya pada Kris

“kau salah paham, Kris. Aku tak pernah memberitahu apapun soal kau pada eomma. Percayalah!”

“menjauhlah kalau begitu!” tutup Kris semakin muak dan lelah, Jessica tersenyum dan membungkuk. Kemudian membentuk hati dengan jarinya pada Kris yang hanya menatap tanpa ekspresi. Masih dengan senyuman, Jessica menuliskan beberapa baris kata untuk Kris

“aku mencintaimu. Sampai kapanpun”
membaca itu, Kris hanya memutar bola matanya geram. Kata-kata itu malah semakin membuatnya membenci gadis itu.

#someday, will you?#

Pagi yang cerah-pikir Kris. Mentari yang sangat terik pagi itu terasa langka sekali, itu mengapa Kris pikir ini adalah pagi yang tercerah sepanjang hidupnya. Ia melirik meja dimana Jessica selalu menyiapkan keperluannya. Betapa terkejutnya ia melihat jam yang menunjukkan pukul 2 siang.
“ini sih bukan pagi lagi. Pantas saja terik!” rutuknya. Ia mulai menyalahkan Jessica, akibatnya ia harus bolos kuis penting dari Zhang Songsaenim.
tak sengaja, mata Kris menangkap keperluan yang sudah Jessica siapkan. Ada kemeja putih, jeans, dan dua buah post it.
“kudengar kau ada kuis penting. Apa oppa siap? Siap?”

“yak Jessica. Aku tidak perlu ini semua. Aku ingin dibangunkan!” teriak Kris. Tapi ia tahu percuma saja teriakannya. Bagaiman mungkin Jessica yang tuli mendengarnya

“kau harus diberi pelajaran!” ujar Kris menelepon Jessica secara triji, namun ponsel Jessica tidak aktif. Kris kembali geram. Dengan kesal, ia hendak melangkah keluar kamar menemui Jessica, namun post it yang tak sempat dibaca—yang masih stay calm di meja—menahan langkah kakinya.
“tidak biasanya, ada dua post it” batin Kris sembari meraih post it itu
“aku akan menjaga jarak, Kris oppa. Selamat tinggal!”
jleb! Ada perasaan aneh yang menyelimuti batin Kris membaca post it dari Jessica itu. Otaknya mencoba berpikir keras. Bukankah itu bagus?-ia mencoba menyenangkan dirinya, tapi hatinya sulit menerima. Ada yang mengganjal didasar hatinya. Yang ia sendiri tak mengerti.
“baguslah, jika ia sudah menjauh. Nah, mari kita sarapan!” gumamnya sambil berjalan menuju ruang makan. Ia menemukan sehelai roti isi disana.
“maaf, aku tak sempat menyiapkan persiapan sarapan mu untuk hari –hari berikutnya. Tapi kau pasti bisa melakukannya sendiri, bukan? fighting eeh!”
Kris menghabiskan roti isinya dalam dua gigitan, otaknya kembali berpikir keras. Ia akan meninggalkan rumah ini juga segera.
“sepertinya, aku harus cepat-cepat menikmati tempat-tempat di sudut rumah ini yang belum pernah kusambangi” gumam Kris menuntun lanhkahnya masuk ke galeri Jessica.

Ada beberapa lukisan yang masih ditutupi kain, Kris pun membuka kain itu. Dan pa yang diliatnya adalah sosok yang mirip dengannya, bukan! itu memang lukisan diri Kris.
“aku?” lirih Kris

Tbc

My note ;
Dear readers, ada yang menunggu FF pasaran bin gak jelas ini? Jangan bosen yah. Satu chapter lagi tamat kok. Tentang segala kekurangan + typo saya akui sebagai kekhasan saya hihi^^Ayo ramein dengan like atau komentar-komentarnya. Love u…

21 thoughts on “[FREELANCE] (Someday, Will you?) (chapter 2)

  1. Hayolohhh../?? Kris merasa kehilangan nih.. Ciyeeee.. (cuit-cuit).
    Jessica pergi kemana tuh?? Jangan” sma Luhan lgi!!.. Ksihan deh Kris.. Wkwkwk…
    Haha.. Aku suka nih.. Udh mau end yaa??? T_T… Fighting!!

  2. Sica pergi😦
    Krisnya seh jahat banget >_<
    Ternyata Luhan suka ama Sica ya😀
    Penasaran ama endingnya '_' akankah Sica meraih kebahagiannya? Akankah Kris menyesali sikapnya itu?
    Next chapt chingu😉 hwaiting!

  3. Ya allah kris oppa benar2 kejam amat sih,, Sica eonni cuman hal kecil aja dihari ulang tahunnya tapi Dia gak mau memenuhinya…

    Kris oppa dicerita ini bener2 minta ditabok ngeselin banget sama sifat dia ke Sica eonni…

  4. nah kan sica eon pergi,kamu sih yang minta! *lirikKris.itu sicaeon pergi kemana?apakah kris akan menyesal? apakah kris akan merasa kehilangan?ati2 diambil luhan,luhan kan udah bilang.kris bener2 keterlaluan,kalo aku jadi sicaeon aku udah pergi dari kemarin2 ga kuat.menurutku lebih baik sicaeon sama luhan aja,yang dapat menerima segala kekurangannya😀 next KEEP WRITING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s