The Destiny of Us – Last Chapter

poster-the-destiny-of-us-copy_41

The Destiny of Us – Last Chapter

Main Cast: Jessica Jung – Luhan – Byun Baekhyun

Genre: Romance

Rated: PG15

Poster by: Afina23

Previous: Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

© Amy Park

Goodbyes are not forever

Goodbyes are not the end

They simply mean i’ll miss you

Until we meet again

***

Jika kau berharap ada kisah menarik selepas kepergian Luhan, kau salah besar. Hanya ada kisah menyedihkan seorang Jessica Jung yang tersisa. Ya, hanya ada aku yang tidak pernah bisa melupakan seorang pria menyebalkan bernama Luhan. Setelah kami resmi bercerai, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dia bagai lenyap ditelan bumi, dan itulah yang membuat hidupku kacau.

Tiga hari sebelum ujian semester, aku memutuskan untuk berhenti kuliah, lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah dengan isak tangis yang tidak berguna. Semua orang khawatir padaku, tentu saja. Namun, aku tidak menghiraukan mereka—mengunci diri dan tidak membiarkan seorang pun mengganggu. Sampai akhirnya Baekhyun berhasil membobol pintu rumah, menerobos masuk ke kamar, dan menenangkanku dengan caranya sendiri.

Kau benar, kehadiran Baekhyun tidak akan pernah menyembuhkan luka yang telah diberikan Luhan padaku sehingga aku memutuskan untuk mulai melupakan Luhan dengan caraku sendiri. Berubah menjadi pribadi yang buruk—serta berbanding terbalik dengan kepribadianku sebelumnya—dan meninggalkan seluruh tempat kenangan bersama Luhan untuk sesaat, merupakan cara yang ampuh untuk melupakan pria tengil yang pernah menjadi suamiku tersebut.

Namun, usahaku berakhir sia-sia. Karena sampai saat ini, hari ini, menit ini, dan detik ini, aku belum bisa melupakannya.

***

Seven Years Later        

Daily Seoul merupakan koran harian yang memuat berita aktual dan akurat berdasarkan ilmu jurnalistik. Berita yang disajikan pun hanya seputar ekonomi, politik, kebudayaan, olahraga, dan ilmu pengetahuan, yang membuat kantor redaksi Daily Seoul hanya didatangi oleh para politisi, ekonom, dan profesor terkenal yang berpenampilan rapi sekaligus resmi.

Maka dari itu, tak heran jika orang-orang yang berada di kantor redaksi Daily Seoul langsung dibuat heboh ketika wanita beralas kaki killer heels merah yang terlihat seksi dengan hanya mengenakan kaos putih ditutupi jaket kulit serta celana jeans ngetat, berjalan masuk dan menghampiri meja resepsionis. Ini cukup lucu, tetapi kenyataannya Daily Seoul tidak pernah kedatangan tamu selebriti—atau minimal tamu yang berpakaian seperti selebriti seperti wanita beralas kaki killer heels merah tersebut.

“Apa Byun Baekhyun ada?”

Alis sang resepsionis wanita itu terangkat. Byun Baekhyun adalah atasannya dan beberapa menit sebelumnya atasannya itu menitipkan pesan bahwa ada seseorang yang akan menemuinya hari ini. Apakah seseorang yang dimaksud atasannya itu adalah wanita berpenampilan model yang kini sedang berdiri tegap di hadapannya?

“Hey, kau mendengarku?”

Resepsionis itu tersadar kemudian tersenyum kaku. Untuk memastikan apakah wanita di hadapannya adalah seseorang yang dimaksud oleh atasan Byun, ia harus menanyakan nama wanita itu. Nama yang sebelumnya juga sudah diberitahu oleh atasan Byun. “Anda Jessica Jung, bukan?”

“Ya, saya Jessica Jung dan saya ingin segera bertemu dengan Byun Baekhyun!”

Sang resepsionis langsung membeku ketika menerima jawaban Jessica yang penuh dengan penekanan dan ketidaksabaran. Ia pun langsung berucap, “Ada rapat evaluasi yang harus dihadiri tuan Byun. Anda sebaiknya menunggu di ruang kerja tuan Byun saja.”

Jessica memerhatikan raut wajah resepsionis wanita yang tampak ketakutan. Jessica pun segera berkacak pinggang karena hal itu, “Kau tidak usah menampakkan wajah kaku dan ketakutan seperti itu. Kau tahu, aku tidak akan membunuhmu!”

“Maaf, Nona.” Resepsionis tersebut terus meminta maaf kepada Jessica sambil membungkuk hormat berkali-kali. Hal yang dilakukan resepsionis itu sama sekali tidak membuat hati Jessica luluh, malah membuat kejengkelan Jessica bertambah.

“Berhenti minta maaf dan antar aku ke ruang kerja Baekhyun!”

*** ‘

Sambil menunggu Baekhyun, Jessica menikmati es krim stroberi sambil bersantai di atas sofa putih nun empuk. Wanita itu juga bersenandung ceria sambil menggoyang-goyangkan kedua kaki yang bersilang lurus di atas meja sambil sesekali memerhatikan jam tangannya.

“Kalau sepuluh menit lagi dia tidak datang, lebih baik aku pulang saja.” Gumamnya seraya menyendok es krim dari cup lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan lahap.

Panjang umur, semenit kemudian pintu ruangan dibuka dan Jessica langsung tersenyum ketika mendapati Baekhyun yang kini tampak kaget melihatnya. Pria itu menghampiri Jessica lalu menyingkirkan kaki Jessica dari meja dengan ujung kaki kanannya.

“Adakah cara yang lebih sopan untuk menurunkan kakiku?”

“Meletakkan kedua kaki di atas meja orang lain adalah hal yang tidak sopan. So, aku tidak perlu menyingkirkan kakimu dengan cara sopan seperti yang kau inginkan.”

Jessica mendengus kesal, “Kau masih saja menyebalkan.”

Baekhyun tersenyum seraya duduk di samping Jessica. “Setidaknya sikapku tidak berubah sepertimu.”

“Maksudmu apa?”

“Kau sudah tahu jawabannya, Sica-ya.” Baekhyun menghela napas ketika melihat Jessica memalingkan wajah darinya. Pria itu melanjutkan, “Luhan tidak akan kembali walau kau berbuat onar sekalipun.”

Jessica melempar sembarangan cup es krim ke atas meja sehingga membuat kaca meja itu kini dihiasi es krim stroberi yang belum dimakan habis olehnya. Wanita itu melipat kedua tangan di dada, mendesis kesal, dan mencibir perkataan Baekhyun yang terdengar begitu menyebalkan di telinganya.

Jessica sadar kepergiannya ke New York bukan hanya ajang untuk melupakan Luhan. Di kampus barunya yang terletak di sana, Jessica sengaja bergaul dengan anak-anak keren yang hanya tahu akan bersenang-senang untuk mengeluarkan dirinya dari dunia penuh keterpurukan karena Luhan. Jessica pun sadar dirinya telah menjadi anak yang liar karena pergaulannya. Namun, dia tidak berniat untuk mengubah dirinya yang liar, kembali menjadi sosok Jessica Jung yang penurut, ramah, sopan, dan baik seperti sedia kala.

Jessica tahu ini hal yang bodoh, tetapi mungkin saja Luhan akan datang jika Jessica berperilaku seperti sekarang. Jangan salahkan Jessica, karena sesungguhnya sikap Jessica berubah 180 derajat karena ulah Luhan. Perpisahannya dengan pria itu yang terbilang tiba-tiba telah membuatnya sangat terpukul dan ia melampiaskan rasa sakitnya dengan cara mengubah dirinya sendiri menjadi seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

Ia hanya ingin membuat Luhan menyesal, sedih, dan merasa bersalah karena telah mengubahnya seperti ini, tetapi usaha Jessica sungguh sia-sia karena sampai detik ini Luhan tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Jessica. Hal itu tentu saja sangat menyakitkan bagi Jessica, dan perkataan Baekhyun barusan membuat rasa sakitnya semakin parah.

“Oke, maaf karena perkataanku menyinggungmu, Sica. Namun sungguh, kembalilah menjadi dirimu sendiri!”

Jessica menatap Baekhyun tajam. “Aku tidak akan berubah karena sekarang aku sudah menjadi diriku sendiri.”

“Emosian, tidak sopan, dan pecandu minuman alkohol, aku tidak menemukan hal itu dalam dirimu yang sesungguhnya, Jessica Jung. Di mana Jessica Jung yang dulu pernah aku kenal, huh?”

People change, Byun Baekhyun! Kau seharusnya mengerti!”

“Kau hanya berharap agar Luhan kembali padamu, Sica. Perubahan sikapmu tidak dilandaskan oleh isi hatimu. Kau hanya berusaha menjadi orang lain.”

Jessica tahu ini menyedihkan, tetapi matanya tetap kering dan ia sama sekali tidak berniat untuk menangis. Ia sudah terlalu lelah mengeluarkan air mata untuk pria yang telah meninggalkannya begitu saja. Jessica tidak ingin membahas hal ini lagi sehingga ia memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraannya dengan Baekhyun.

“Bahkan di edisi akhir pekan pun Daily Seoul tidak pernah menampilkan rubrik fashion. Kau tahu, hal itu membuat Daily Seoul terasa sangat membosankan!”

Baekhyun menghela napas, sangat tahu akan niat Jessica yang ingin mengalihkan pembicaraan. Pria itu beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri lemari kecil yang berada di pojok kiri ruangan, mengambil kotak tisu. Setelah itu, Baekhyun berbalik kemudian meletakkan kotak tisu di atas meja, mengambil beberapa tisu lalu membersihkan noda es krim yang ditumpahkan Jessica di atas kaca meja.

“Kegiatan jurnalistik bukan hanya menyampaikan hard news saja, bukan? Entertaiment news seperti rubrik fashion, music, movie, dan lainnya juga termasuk ke dalam kegiatan jurnalistik. Sebagai redaktur pelaksana yang baik, kau sudah sepatutnya tahu akan hal itu dan buatlah Daily Seoul menjadi koran yang tidak membosankan.”

Baekhyun terkekeh karena penjelasan Jessica. “Walau sekarang latar belakang pendidikanmu di bidang fashion design, tetapi kau lumayan juga di bidang jurnalistik.”

“Setidaknya aku pernah kuliah di jurusan itu walau hanya sebentar.”

Senyum Baekhyun mengembang. Setelah membersihkan meja dan membuang cup es krim ke tempat sampah yang berada di samping meja kerjanya, ia kembali duduk di sofa yang berhadapan dengan Jessica seraya berkata. “Aku sangat ingin membuat Daily Seoul menjadi koran yang tidak membosankan, tetapi sayangnya aku tidak bisa karena sebentar lagi aku akan mengundurkan diri.”

“Kenapa?”

“Pemilik Daily Seoul terlalu partisan. Aku tidak ingin bekerja sama dengan seseorang yang mempergunakan media massa untuk kepentingan partai. Tidak sesuai dengan kode etik yang pernah aku pelajari.”

Jessica tertawa karena jawaban Baekhyun. Hal itu tentu saja membuat Baekhyun mengerutkan keningnya karena bingung akan sikap Jessica. “Hey, Byun Baekhyun, zaman sekarang mana ada media yang tidak bersikap partisan. Jika kau menginginkan berita-berita berimbang dari para jurnalis, sebaiknya kau mulai membangun media sendiri. Mengundurkan diri dan mendaftar di media lain sama saja dengan bohong.”

“Sepertinya kau mengikuti perkembangan dunia jurnalistik di negara ini, eh? Bukankah kau pernah bilang bahwa kau amat membenci jurnalistik sehingga memilih keluar dari jurusan itu dan melanjutkan kuliah di jurusan lain?”

Pertanyaan Baekhyun membuat Jessica membeku. Sesungguhnya itu hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh Jessica agar dirinya lebih mudah meninggalkan Seoul, atau lebih tepatnya meninggalkan seluruh tempat kenangannya dengan Luhan. Menempuh pendidikan di bidang ilmu komunikasi dan jurnalistik hanya akan membuatnya teringat kepada Luhan yang pernah mengajarinya tentang komunikasi visual, suatu hal indah yang kini telah kandas. Tidak mau mengingatnya, Jessica lebih memilih kuliah di jurusan lain. Walau demikian, Jessica selalu mencuri waktu untuk mempelajari ilmu jurnalistik karena ia tidak dapat memungkiri bahwa sesungguhnya bidang itulah yang dia sukai.

“Kau bahkan rela mengubur impianmu hanya karena Luhan.”

Kali ini, pernyataan Baekhyun salah besar. Kuliah dan lulus dari bidang fashion design tidak akan memengaruhi impian Jessica, malah akan mendorong impian terbesar wanita itu. Benar, impian Jessica adalah menjadi seorang jurnalis fashion sekaligus menjadi pemilik majalah fashion terkenal sekelas Elle dan Harper’s Bazaar. Jessica akui impiannya itu belum terwujud karena kini dirinya malah berprofesi sebagai perancang sekaligus CEO dari brand fashion kecil-kecilan miliknya, tetapi ia yakin suatu saat nanti ia bisa mewujudkan impian terbesarnya itu.

Jessica berdehem setelah sekian menit tidak menggubris perkataan Baekhyun. “Aku tidak akan mengubur impianku begitu saja hanya karena seorang pria. Kau salah menilaiku, Byun Baekhyun.”

“Aku tahu, Jessica, tetapi sikapmu itu—“

“Oh, ayolah, aku baru datang dari New York dua hari yang lalu tapi kau malah sudah menyuguhi aku dengan petuah kolotmu itu. Tidak cukup apa kau mengomel lewat telepon selama tujuh tahun ini? Dan, ugh, aku mengutuk Yejin yang selalu mengabari keadaanku padamu.”

Baekhyun tersenyum mendengar keluhan Jessica. “Oke, maafkan aku.”

“Permintaan maaf ditolak. Aku mau pulang saja!”

Jessica berdiri lalu berjalan cepat menuju pintu keluar. Baekhyun menatap punggung wanita itu yang menjauh pergi. Ketika pintu telah ditutup kembali oleh Jessica, pria itu menghela napas berat lalu menyandarkan diri di sofa.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tujuh tahun merupakan waktu yang cukup lama bagi Jessica untuk memikul sakit hatinya terhadap Luhan. Tujuh tahun juga bukan waktu yang singkat bagi Baekhyun untuk berusaha membuat Jessica melupakan Luhan dan jatuh hati padanya tanpa menemukan keberhasilan apapun. Tujuh tahun. Baekhyun harus segera membuktikan bahwa perpisahaan Jessica dan Luhan adalah sebuah takdir yang salah.

***

Jessica tersenyum getir ketika melihat sebuah keluarga kecil tampak sedang asik piknik di taman sungai Han, sedangkan dirinya hanya bisa memerhatikan seorang diri dari kursi taman yang sudah mulai berkarat. Jika saja dirinya tidak berpisah dengan Luhan, mungkin kini ia akan merasakan kebahagiaan keluarga kecil tersebut. Memiliki suami yang amat dicintainya serta dua anak—perempuan dan laki-laki—dalam hidupnya yang akan terasa amat sempurna.

Jessica ingat betul ketika ia memaki Luhan saat ia terjaga tanpa mengenakan apapun di samping pria itu, padahal Jessica sadar bahwa saat itu Luhan hanya melucuti pakaiannya saja tanpa menyentuhnya. Sungguh, Jessica tidak selugu itu dan memercayai tindakan bodoh Luhan untuk mempertahankan Jessica. Jika saja Jessica tahu bahwa kehilangan Luhan akan begitu menyakitkan seperti sekarang, ia sungguh berharap agar Luhan benar-benar menyentuh dan membuatnya hamil agar bisa—setidaknya terpaksa—mempertahankan pernikahan mereka.

“Ternyata aku benar, kau ada di sini.”

Jessica mendongkak dan langsung melipat kedua tangan di dada ketika mendapati Baekhyun. “Mau apa kau ke sini?”

“Menyusulmu, tentu saja. Aku takut jika kau memutuskan untuk kabur dan bunuh diri karena Luhan.”

“Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu, ya!” cibir Jessica yang membuat Baekhyun terkekeh.

Pria itu segera duduk di samping Jessica dan mulai menikmati pemandangan taman. “Taeyeon akan menikah besok.” Ujar Baekhyun tanpa melihat ke arah Jessica.

Jessica menoleh lalu memerhatikan Baekhyun seksama. “Apa kau bersedih?”

Pertanyaan Jessica dibalas oleh tawa kecil Baekhyun. Pria itu menatap Jessica dengan jenaka, “Kenapa aku harus bersedih ketika kedua sahabatku akan menikah?”

“Kedua sahabatmu?”

Baekhyun mengangguk. “Taeyeon dan Chanyeol. Mereka akan menikah. Kau tidak menyangka ini akan terjadi, bukan?”

“Benarkah? Sungguh? Aku pikir setelah kau putus denganku, kau akan kembali pada Taeyeon mengingat wanita itu tampak mencintaimu dan kau juga tampak memiliki perasaan kepadanya.”

“Cinta tidak bisa diprediksi, kau tahu. Dan, hey, dari mana kau tahu bahwa dulu aku pernah menjalin hubungan dengan Taeyeon?”

Jessica tersenyum tipis. “Gosip kampus.”

Alis Baekhyun terangkat. “Aku rasa, dulu kau bukan tipe mahasiswa yang peduli pada gosip.”

“Aku memang tidak peduli pada gosip kampus, tetapi bukan berarti aku tidak mengetahui hal-hal yang heboh dibicarakan teman-temanku.” Jawab Jessica mantap. Ia kembali bertanya pada Baekhyun, “Apa kau masih menyimpan perasaanmu pada Taeyeon?”

“Semenjak kami putus, aku sudah menganggapnya sebagai sahabat terbaik yang pernah aku punya, sama seperti Chanyeol. Aku menyayanginya, tetapi hanya sekadar sahabat. Jika kau bertanya apa aku merelakan pernikahan Taeyeon dan Chanyeol, tentu saja aku rela dan sangat mengharapkan kebahagiaan mereka.”

Jessica mengangguk. “Kau masih mencintai Soojung, ya?”

“Tidak. Selagi aku masih hidup, tidak seharusnya aku terjebak dalam bayang-bayang Soojung. Aku sudah merelakan kepergiannya.”

“Lalu, sekarang kau sedang menyukai siapa? Apa jangan-jangan kau menyukaiku, ya?”

Baekhyun tertawa mendengar pertanyaan konyol Jessica. Dia mengacak rambut Jessica sesaat seraya berkata, “Aku pernah menyukaimu by the way, tetapi aku memilih untuk menyerah karena kau tidak bisa melupakan Luhan. Well, kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.”

“Lalu, sekarang kau sedang menyukai siapa?” Jessica kembali bertanya.

Baekhyun tampak berpikir. Beberapa menit kemudian ia tersenyum seraya menjawab, “Seseorang yang tidak aku sangka akan memasuki kehidupanku. Seseorang yang akan aku cintai dan aku jaga, tidak akan membiarkannya lepas.”

“Benarkah? Siapa? Siapa? Siapa wanita beruntung itu?”

“Kau penasaran?” tanya Baekhyun dengan nada menggoda.

“Tentu saja. Katakanlah siapa wanita yang ada di hatimu!”

“Aku akan memberitahumu, tetapi tidak sekarang. Lagipula, aku belum menyatakan perasaanku pada wanita itu. Setelah aku berhasil mengambil hatinya, akan kuberitahu padamu.”

Jessica mengibaskan tangan. “Eiii, ternyata kau belum menyatakan perasaanmu. Jika kau sudah berhasil meluluhkan hatinya, kau harus mengabarinya padaku, ya, oppa!”

Baekhyun menatap Jessica dengan mata melebar. “Oppa? Kau memanggilku oppa? Oh, aku tak menyangka kata itu akan terdengar aneh sekaligus menjijikan jika kau yang melontarkannya saat ini.”

“Kenapa? Tidak suka jika aku memanggilmu oppa?”

“Panggil saja aku dengan sebutan Baekhyun, Byun, atau apapun yang kau mau tapi jangan panggil aku oppa.”

Jessica menatap Baekhyun jahil. “Baekhyunie oppa!!! Oppa!! Oppa!!! Oppa!! Oppaaaaaaa!!!”

“Tutup mulutmu atau akan kuhajar kau, Jessica Jung!”

Jessica tertawa puas kemudian segera kabur sebelum Baekhyun mengerjarnya. Terima kasih telah menghiburku selama ini, Baekhyun-ah, semoga kau bahagia dengan wanita pilihanmu, ujar Jessica dalam hati di tengah gelak tawanya.

***

Di altar pernikahan, Chanyeol tampak mencium Taeyeon dengan lembut. Jessica bisa melihat jelas kebahagiaan yang terpancar dari pasangan baru itu, membuat bibirnya terangkat untuk tersenyum, turut bahagia atas pernikahan mereka.

Wanita yang kini memakai gaun bewarna coklat selutut itu pun mengalihkan pandangannya pada sepasang kekasih yang juga tampak bahagia, tengah duduk sambil bertepuk tangan di bangku depan. Mereka adalah Sulli dan Kai. Jessica tersenyum kecil, mengingat Kai dan Sulli pernah tidak berhenti meminta ampunannya saat mengakui bahwa mereka telah menjadikan hubungan Jessica dan Baekhyun sebagai bahan taruhan. Well, siapa sangka taruhan bisa membuat kedua insan itu bersatu? Dan, tentu saja, Jessica sama sekali tidak marah jika Sulli dan Kai pernah menjadikannya bahan taruhan. Ia tahu kedua temannya itu sama sekali tidak ada maksud untuk menyakitinya.

Banyak teman-teman Jessica dari Universitas Kyunghee yang hadir di pernikahan Chanyeol dan Taeyeon. Namun, ia sama sekali tidak mendapati Seohyun. Tak heran, karena Jessica tahu sahabatnya itu tengah menikmati bulan madu di Jepang bersama seorang pria bernama Kikwang, suaminya. Ya, Hubungan Seohyun dan Sehun memang tidak berhasil. Mereka sepakat untuk berpisah dan menjalankan hidup mereka masing-masing. Benar apa yang dikatakan Baekhyun, cinta memang tidak bisa diprediksi.

Ketika Jessica masih menempuh pendidikan di New York, wanita itu menerima secarik surat dari Jieun. Song Jieun, mantan kekasih Luhan yang pernah berseteru dengannya. Jessica tersenyum kecil, mengingat isi surat dari Jieun yang meminta maaf padanya dan juga memohon doa karena wanita itu akan segera melakukan operasi terkait penyakit yang dideritanya. Jessica memaafkan Jieun dan dia pun sangat berharap agar Jieun diberikan harapan untuk sembuh. Jessica berharap Jieun baik-baik saja.

Akhirnya, Jessica sadar bahwa orang-orang di sekitarnya telah menemukan kebahagiaan masing-masing, sedangkan ia masih terjebak di dalam lubang gelap yang tidak bisa mengeluarkannya dari kepedihan akan kepergian Luhan. Apa Jessica harus tetap menderita? Tidak bisakah ia melupakan Luhan dan hidup bahagia seperti teman-temannya? Sesungguhnya Jessica telah berusaha, tetapi Luhan terlalu kuat untuk didepak dari hatinya.

“Jessica Jung?”

Suara seorang pria menyadarkan Jessica dari lamunanya. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berambut coklat yang duduk di sampingnya, tengah tersenyum. Jessica tidak mengenal pria itu, tetapi wajah pria tersebut terasa familiar di matanya.

“Aku Sehun. Kita pernah bertemu beberapa kali di kampus, walau tidak pernah saling bertegur sapa.”

“Sehun?”

Pria itu mengangguk, “Mantan kekasih Seohyun sekaligus rekan kerja Luhan.”

Jessica mengangguk mengerti. “Oh, hai.”

“Tidak ikut menangkap bunga?”

Pertanyaan Sehun membuat Jessica sadar bahwa bangku-bangku yang berada di tempat upacara pernikahan outdoor itu sudah kosong, tinggal mereka berdua yang ada di sana, sedangkan yang lain sudah berpindah tempat ke dekat panggung kecil bersebelahan dengan kolam renang yang tak jauh dari tempat Jessica dan Sehun berada, antusias mengikuti acara lempar bunga yang akan dilakukan Taeyeon.

“Wanita yang tidak memiliki pasangan seperti aku, percuma saja ikut acara seperti itu. Hanya akan memberikan harapan terlalu besar jika berhasil menangkapnya.”

Sehun terdiam mendengar jawaban Jessica. Ia kembali bertanya, “Kau masih mencintai Luhan?”

“Aku benci berbohong, maka akan aku jawab iya. Bagaimana denganmu? Masih mencintai Seohyun?”

Senyuman Sehun mengembang. “Masih, sebagai sahabat. Lagipula, ada seorang wanita yang harus lebih aku cintai, juga janin dalam perutnya.”

“Kau juga telah menikah? Istrimu juga tengah mengandung?” tanya Jessica dengan mata terbelalak, membuat Sehun terkekeh. “Mungkinkah aku mengenal istrimu?”

Sehun tersenyum. “Kau tidak mengenalnya, tetapi aku bisa memperkenalkanmu dengan Hyemi. Mampirlah ke rumah kami suatu saat.”

Jessica membalas senyuman Sehun. “Ide yang bagus.”

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Jessica menghela napas seraya berkata, “Semua orang tampak bahagia, ya. Aku iri dengan kalian.”

“Kau juga pasti akan bahagia.”

“Bagiamana aku bisa bahagia jika sumber kebahagiaanku sendiri tidak ada, menghilang tanpa kabar, dan mungkin…sudah tidak mencintaiku lagi,” tutur Jessica dengan lirih.

“Percayalah, Jessica, Luhan hyung masih mencintaimu.”

***

Percayalah, Jessica, Luhan hyung masih mencintaimu.

Sial. Sudah seminggu berlalu tapi perkataan Sehun masih saja terngiang di telinga Jessica. Bagaimana bisa pria itu tahu tentang perasaan Luhan padanya? Apa Luhan bercerita langsung kepada Sehun? Apa Sehun mengetahui keberadaan dan kabar Luhan saat ini? Dan mengapa Jessica tidak bertanya tentang hal itu pada Sehun? Jika Sehun memberitahu keberadaan Luhan pada Jessica, wanita itu pasti akan segera menyusul Luhan. Namun, hal itu sepertinya tidak akan mungkin terjadi, mengingat nyoya Lu—ibu Luhan—sendiri tidak bersedia memberitahu Jessica mengenai keberadaan anaknya itu. Luhan benar-benar tidak ingin bertemu dengan Jessica lagi, rupanya. Namun, mengapa Sehun berkata bahwa Luhan masih mencintainya? Jika memang benar Luhan mencintai Jessica, mengapa pria itu tak kunjung menemui Jessica?

“Ini belanjaanmu, Nona.”

Penjaga kasir wanita itu berhasil membuat kesadaran Jessica kembali. Ia tersenyum kaku seraya mengambil kantong kresek hitam berisi tiga botol soju dari tangan si penjaga kasir. Ia akan menghabiskan malam ini dengan meminum soju. Ia pun segera berbalik, lekas keluar dari mini market.

Jessica terlonjak kaget ketika seseorang bertubuh jangkung menghalangi jalannya di depan mini market. Seorang pria, mengenakan masker dan topi sehingga wajahnya tidak terlihat. Jessica memeluk kantong kresek dengan erat. Wanita itu takut. Takut jika manusia di hadapannya itu akan menculik dan membunuhnya.

“K-kau mau apa?”

Pria itu tidak menjawab. Ia segera mengambil kantong kresek yang dipegang Jessica secara paksa, membuat Jessica semakin takut dan tidak berani melihat pria itu. Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar menjauhi Jessica. Wanita itu memberanikan diri untuk mendongkak, ia pun tersadar bahwa pria bermasker itu telah pergi, membuat dirinya bisa bernapas lega.

“Ternyata dia hanya menginginkan soju milikku. Apa soju terlalu mahal buatnya sehingga harus mencurinya dariku? Huh, dasar pria menyeramkan sekaligus aneh!”

***

Sama seperti kelab malam lainnya, kelab malam yang ada di Gangnam ini dipenuhi oleh pengunjung. Dentuman musik up-beat terdengar dan di lantai dansa banyak orang yang tengah menari dengan bebasnya. Ada juga orang-orang yang sedang asik mengobrol sambil menikmati berbagai macam minuman di desk-bar, dan ada pula pasangan muda-mudi yang asik bercumbu di setiap sudut ruangan. Pemandangan yang sudah tidak aneh lagi di kelab malam. It’s all about freedom. Suasana penuh kebebasan seperti itu juga cocok untuk merayakan suatu hal, seperti merayakan keberhasilan Baekhyun, Taeyeon, Chanyeol, dan Hyoyeon atas majalah yang akan segera mereka luncurkan.

Empat sekawan itu memang sudah merencanakan pembuatan majalah ketika mereka baru lulus dari Kyunghee, dan baru sekarang impian mereka terwujud. Mereka telah berhasil memiliki salah satu media massa yang akan mereka isi dengan karya-karya jurnalistik bermanfaat dan tidak membosankan untuk masyarakat luas, terutama remaja—karena segmentasi utama majalah mereka adalah para remaja.

Cheers!!”

Empat sekawan itu, ditambah Jessica—yang sengaja diundang ke perayaan tersebut, meneguk wine dengan senang hati setelah bersulang. “Ayo berharap agar grand opening besok sukses!” ujar Hyoyeon riang.

“Semoga majalah kita bisa bertahan selamanya!!!” teriak Taeyeon yang disambut tepuk tangan heboh suaminya.

Sunbaenim, bolehkah aku mendaftar menjadi salah satu jurnalis di majalah kalian? Aku akan dengan senang hati mengisi rubrik fashion,” ujar Jessica sambil tersenyum manis, mencoba merayu para seniornya di Kyunghee tersebut.

“Kau akan terus-menerus menulis advetorial[1] produkmu sendiri jika ditempatkan di rubrik fashion, Sica-ya.”

Jessica mencibir perkataan Baekhyun. “Brand fashion milikku akan menjadi pemasukan besar untuk majalah kalian jika aku sering menulis advetorial. Itu adalah salah satu keuntungan kalian menjadikan aku sebagai salah satu pengisi rubrik fashion di majalah kalian!”

“Ide yang bagus, Jessica. Tapi sekarang bukan waktunya membicarakan perekrutan jurnalis, sekarang saatnya berpesta. Siapa yang mau ikut aku menari?”

“Aku!!!” Chanyeol dan Taeyeon langsung menyetujui ajakan Hyoyeon berbarengan. Tanpa basa-basi lagi, ketiga insan itu langsung pergi ke lantai dansa dan menari-nari di sana. Tinggal Baekhyun dan Jessica yang tersisa di sofa hitam empuk yang berada di pojok ruangan kelab.

“Kau sudah menyatakan cintamu pada wanita itu?”

Baekhyun yang sedang meneguk wine hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Jessica yang tiba-tiba. “Menyatakan cinta?”

“Yep! Pada wanita yang waktu itu kau bilang padaku. Sudah berhasil?”

Baekhyun berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jessica. “Sudah.”

Mata Jessica berbinar mendengar jawaban Baekhyun. “Beritahu aku siapa wanita itu!”

“Tidak perlu. Kau sudah mengenalnya.”

Alis Jessica terangkat. “Sudah mengenalnya? Siapa? Apa dia ada di sini?”

Baekhyun menggeleng. “Dia sedang sibuk. Pekan ini di Singapura, pekan berikutnya berada di Jepang, dan pekan ketiga baru tiba di Seoul. Menjadi kekasih seorang penyanyi memang sulit, ya?”

“Penyanyi? Satu-satunya penyanyi terkenal super sibuk yang aku kenal adalah Yejin.” Mata Jessica pun membulat ketika melihat Baekhyun yang kini tengah tersenyum tipis. “Oh, ya ampun, Byun Baekhyun, wanita itu adalah Yejin.”

“Terkejut, huh?”

Jessica langsung meremas rambutnya. Dia menatap Baekhyun khawatir, “Matilah aku. Jika kalian bersatu, aku bakal menjadi bahan omelan kalian selamanya!!!”

“Persiapkanlah dirimu, Jessica-ssi.”

“Kalian adalah pasangan yang paling aku takuti!”

Tawa Baekhyun pun tidak bisa tertahankan ketika Jessica melontarkan pernyataan tersebut.

***

Akal sehat Jessica sudah dikubur dalam-dalam oleh minuman alkohol yang diteguknya, sehingga dia tidak keberatan ketika orang asing membawanya pergi dari kelab, meninggalkan Baekhyun, Taeyeon, Chanyeol, dan Hyoyeon. Bahkan, orang asing itu tengah memapahnya menuju sebuah kamar apartemen. Bukan apartemen asing, melainkan apartemen Jessica sendiri. Keheranan semakin memenuhi isi kepala Jessica ketika orang asing itu berhasil membuka pintu apartemennya dengan password yang benar.

Ketika orang asing itu sudah membawanya masuk, dengan mata yang tidak bisa ia buka dengan sempurna, Jessica mendongkak dan menatap wajah seorang pria yang hendak membawanya menuju kamar. Hati Jessica berdesir. Walau penglihatannya agak buram karena pengaruh alkohol, dia masih mengenali sosok pria yang sedang susah payah memapahnya.

Jessica mencengkram lengan pria itu. Menghentikan langkah mereka di depan pintu kamarnya. “Luhan!!”

“Kau selalu membuatku khawatir, Jess. Sungguh.”

Jessica tersenyum seraya menyentuk wajah Luhan dengan kedua tangannya. “Kau Luhan. Kau benar-benar Luhan menyebalkan itu.”

Luhan membalas senyuman Jessica. “Kau butuh istirahat.”

Pria itu kembali memapah Jessica, memasuki kamar. Dengan perlahan, ia membaringkan Jessica di tempat tidur, “Sebentar, ya, aku akan mengambilkan air putih untukmu.”

Jessica mengubah posisinya menjadi duduk lalu memegang lengan Luhan agar pria itu tidak pergi. “Aku tidak butuh air putih dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”

“Maafkan aku, Jess.”

Jessica menggeleng kuat. Dirinya mulai terisak. “Kau adalah makhluk paling jahat di bumi ini! Bagaimana bisa kau mengucapkan selamat tinggal lewat secarik kertas, huh?! Kuno, klasik, basi, sekaligus menyakitkan, kau tahu!! Anehnya, walau kau telah menyakitiku, aku sama sekali tidak bisa melupakanmu. Kutukan apa, sih, yang kau pakai sehingga membuat aku tersiksa karena tidak bisa berhenti mencintaimu??!!”

Luhan segera duduk di tepi tempat tidur, menatap Jessica sendu. “Aku salah. Maafkan aku.”

“Aku tidak akan membiarkan kau pergi untuk yang kedua kalinya. Titik.”

Jessica segera melingkarkan kedua tangan di leher Luhan kemudian mencium bibir pria yang sudah lama tidak ditemuinya itu. Akal sehat Jessica memang sudah hilang, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Yang terpenting baginya sekarang adalah kehadiran Luhan yang telah lama ia nantikan.

Jessica pun kini merasakan kedua tangan Luhan melingkar di pinggangnya. Merengkuh dirinya ke dalam pelukan hangat pria itu. Kedua insan tersebut saling melepas kerinduan, lewat sebuah ciuman lembut tapi terbilang tergesa-gesa.

Jessica merenggut kesal ketika Luhan melepaskan ciuman mereka. Pria itu tersenyum lembut, “Tidurlah.”

Wanita itu mengangguk patuh kemudian kembali berbaring. Matanya kembali menangkap pergerakan Luhan yang hendak beranjak dari tempat tidurnya. Dengan sigap, ia menarik lengan Luhan. Tindakan Jessica hampir saja membuat tubuh Luhan menindihnya jika saja tangan kanan pria itu tidak sigap menahan tubuhnya.

“Sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!”

Luhan tersenyum kecil. “Aku tidak akan pergi.”

“Jika kau menyuruhku tidur, kau juga harus tidur!”

Kali ini Luhan terkekeh. Ia mengangguk seraya membaringkan diri di sebelah Jessica. Wanita itu tersenyum senang kemudian memeluk Luhan amat erat, tidak akan membiarkan pria itu pergi. Sungguh. Jessica berharap waktu berhenti saat ini juga. Jessica enggak menemui pagi, takut jika mentari membawa Luhan pergi lagi.

***

Jessica terbangun dari tidurnya dengan rasa pusing yang luar biasa di kepala. Semalam ia benar-benar banyak meneguk alkohol sehingga dirinya mabuk berat. Wanita itu menghela napas seraya tersenyum lirih, bahkan ia memikirkan Luhan saat mabuk. Luhan tidak mungkin mengantar dirinya pulang, bukan? Dia pasti sangat mabuk semalam sehingga menganggap seseorang yang telah mengantarnya pulang sebagai Luhan.

“Aneh. Aku bahkan ingat kejadian semalam meskipun aku mabuk. Aish, itu hanya mimpi, Jessica. Hanya mimpi.”

Jessica hendak beranjak dari tempat tidur, tetapi langkahnya tertahan ketika mendapati jaket coklat di bagian tempat tidurnya yang kosong. Jaket yang jelas-jelas bukan miliknya. Penasaran, Jessica meraih jaket itu lalu segera mencium aroma familiar dari jaket tersebut.

“Luhan?”

***

“Bisakah kalian langsung beralih pada inti pembicaraan?”

Kedua orang tua Jessica menatap heran ke arah putrinya yang kini tampak terburu-buru menyantap hidangan makan siangnya. Wanita itu memang sedang dikejar waktu. Ia ingin pergi dari restoran mewah ini dan segera mencari Luhan. Ia yakin aroma mint di jaket coklat itu adalah milik Luhan dan orang yang mengantarnya pulang dari kelab memang benar-benar Luhan. Ugh, kalau saja semalam Jessica tidak mabuk, mungkin ia akan terus terjaga agar pria itu tidak kabur lagi seperti sekarang.

“Jessica, aku rasa ini adalah hal yang terbaik untukmu.”

“Katakanlah. Katakan hal terbaik apa yang dimaksud oleh kalian,” ujar Jessica santai menanggapi perkataan ayahnya.

“Kau sudah sepantasnya memiliki pendamping. Di usiamu yang sekarang, kau harus menikah—“

“Apa kalian berencana menjodohkan aku lagi?” pertanyaan Jessica membuat kedua orang tuanya kembali membeku. Jessica tersenyum sinis, “Apa kalian tidak kapok membuat putri kalian menderita kalian perjodohan bodoh yang telah kalian buat? Eomma dan appa sendiri yang menyuruhku untuk menikah dengan Luhan pada waktu itu, dan sekarang kalian juga yang menyuruhku untuk melupakan Luhan dengan menjodohkan aku dengan orang lain!”

“Kami tidak menyuruhmu melupakan Luhan, Jessica.” Ujar ibunya lembut.

“Dengan menyuruhku segera menikah, kalian sama saja menyuruhku untuk melupakan Luhan.”

“Aku pikir kau harus mendengar penjelasan kami terlebih dahulu, Jessica.”

“Kurasa tidak. Cukuplah kalian membuatku menderita sekali saja.”

“Jessica—“

“Kau tidak pernah mengerti penderitaanku selama ini, appa!” Bentakan Jessica cukup keras, tetapi mereka tidak perlu khawatir akan ditegur pelayan restoran karena keluarga kecil tersebut kini berada di ruang VIP yang terpisah dari pengunjung restoran lainnya. Jessica menghela napas lalu melanjutkan, “Tidak mudah bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus menikah di usia remajaku. Tidak mudah juga bagiku untuk kehilangan orang yang aku cintai dalam waktu singkat dan tiba-tiba. Jadi, kumohon agar kalian tidak menambah penderitaanku. Aku sudah dewasa. Biarlah aku memilih jalan hidupku sendiri, tanpa campur tangan kalian.”

“Kau salah memahami pembicaraan kami, Jessica. Kami—“

“Aku tidak akan mendengarkannya. Aku pergi!!” tutur Jessica memotong ucapan sang ibu sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan restoran.

***

Setelah mengelilingi kota Seoul tanpa tujuan yang jelas—dan usaha untuk mencari Luhan berakhir nihil—Jessica tiba di sebuah taman yang sudah lama tidak ia kunjungi. Wanita itu menyeka air matanya yang mengalir saat melihat pertunjukan air mancur dari banpo bridge. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan malam ini adalah menangis sepuasnya, tanpa khawatir akan ada orang yang memandangnya aneh karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Jessica tahu, sekarang dirinya tampak miris karena berdiri seorang diri di pinggir sungai Han sambil terisak.

Wanita itu merasakan kehadiran seseorang yang kini tengah berdiri di belakangnya. Namun, Jessica tidak berniat menoleh ke arah orang itu, apalagi menyapanya. Bahkan, dia tidak peduli jika orang asing yang di belakangnya tersebut berniat untuk membunuhnya. Ia hanya ingin menangisi nasibnya. Itu saja.

“Mau aku belikan teh hangat?”

“Jangan ikut campur urusan orang lain!” cibir Jessica atas pertanyaan seseorang di belakangnya. Dari suaranya, Jessica kini tahu bahwa seseorang di belakangnya adalah pria.

“Angin malam akan membunuhmu jika kau berada di sini dengan baju tanpa lengan yang kau pakai.”

“Sudah aku bilang, jangan ikut campur urusan orang lain!!” bentak Jessica, masih enggan berbalik dan menatap pria tersebut.

“Apa yang membuatmu menangis?”

Jessica mengepalkan kedua tangan karena mulai kesal. “Ugh, aku hanya benci pada seseorang yang tidak pernah kembali walau sudah tujuh tahun lamanya aku menunggu. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena akulah yang membuat orang itu pergi! Seandainya dari awal aku tidak melakukan hal bodoh dan mempertahankan hubunganku dengannya, aku tidak perlu memikul beban seperti sekarang. Aku juga benci diriku sendiri karena baru sadar bahwa aku sangat mencintainya ketika ia pergi dari hidupku. Aku hanya benci pada diriku sendiri yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku yang sesungguhnya.”

Jessica kembali terisak. Ia pun tidak mengerti mengapa dirinya harus bercerita tentang perasaannya pada pria asing yang masih berdiri di belakangnya. Jessica pasti sudah gila.

“Maafkan aku, Jess.”

Wanita itu langsung terdiam ketika pria tersebut memeluknya dari belakang. Jessica kenal akan kehangatan pelukan ini. Pelukan yang sudah lama ia rindukan. Pelukan dari seseorang yang amat dicintainya. Apakah Jessica terlalu serius meratapi nasib sehingga ia tidak menyadari bahwa pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya adalah Luhan?

Don’t hate yourself. Aku hanya terlalu bodoh karena menganggap takdir tidak ingin kita bersama, menentang hubungan kita. Namun, setelah sekian lama waktu berputar, aku sadar bahwa perpisahan kita malah membuat diri kita tersakiti.”

Luhan melepaskan pelukannya. Pria itu memutar tubuh Jessica sehingga kini mereka berdiri berhadapan. Hati Jessica tiba-tiba menghangat ketika melihat senyuman manis Luhan. Pria itu melepaskan jas hitam dari tubuhnya kemudian menyampirkan jas itu di tubuh Jessica. Sungguh, Jessica tahu ini berlebihan, tetapi Luhan tampak semakin tampan di matanya, walau pria itu hanya mengenakan kemeja putih polos.

“Aku pikir, dengan kepergianku, kau akan hidup lebih bahagia. Namun, ternyata aku salah, dan malah menyakitimu seperti ini. Maafkan aku, Jess.”

“Dari mana kau tahu password apartemenku?” Di samping menanggapi pernyataan Luhan barusan, wanita itu malah menanyakan sebuah pertanyaan yang memang membuatnya penasaran setengah mati.

Luhan terkekeh seraya mengacak rambut Jessica gemas. “Dari Baekhyun.”

Alis Jessica terangkat, “Baekhyun?”

“Aku sangat berterima kasih pada Baekhyun karena telah mengawasimu selama ini. Aku juga sangat berterima kasih pada Baekhyun karena telah membuatku yakin bahwa aku adalah orang paling pengecut di dunia ini, sehingga membuatku memberanikan diri untuk menemuimu lagi. Selama ini aku salah, Jess. Dan maafkan aku karena telah menyakitimu,” ujar Luhan seraya menyeka air mata Jessica dengan tangan kanannya. Menatap penuh harapan agar wanita yang paling dicintainya itu memaafkannya.

Jessica hanya terdiam. Hal itu sungguh membuat Luhan khawatir. Pria itu mengehela napas, “Aku mengerti jika kau tidak ingin memaafkanku—“

“Aku bersedia memaafkanmu, asal kau harus kembali menikah denganku dan menjadi suami yang baik untukku.” Jawab Jessica pada akhirnya, tersenyum manis sekaligus tersipu akan permintaannya.

Luhan membalas senyuman Jessica, “As your wish, Jess.”

Pria itu pun segera meraih Jessica ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang luar biasa pada wanita itu. Beberapa saat kemudian, Jessica sadar akan suatu hal lalu berkata, “Tapi, Luhan, kurasa ada satu masalah lagi yang akan mengganggu hubungan kita.”

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Jessica heran. “Masalah?”

Jessica mengangguk. “Orang tuaku berniat menjodohkan aku lagi. Menyebalkan, bukan?”

Tawa Luhan terdengar, membuat Jessica bingung. “Sebenarnya, kau sudah menerima perjodohan mereka.”

“Maksudmu?”

“Dengan memintaku sebagai suamimu, kau sudah menerima perjodohan mereka.”

Mata Jessica membulat ketika ia mengerti apa yang Luhan katakan. “Kau adalah pria yang akan mereka jodohkan denganku?”

Luhan mengangguk. “Ya. Di restoran, sebenarnya orang tuamu berusaha membujuk agar kau bisa menerimaku kembali, tetapi rupanya kau terlalu emosian sehingga menyalah artikan maksud orang tuamu. Dan, ya, aku yang memohon pada orang tuamu agar mereka bisa menjodohkanmu denganku lagi.”

Jessica mengerucutkan bibirnya. “Kau yang membuatku membuatku emosian seperti itu, tahu!”

“Aku tahu. Aku juga yang membuatmu menjadi wanita pecandu alkohol, bukan? Maka dari itu, mulai sekarang aku akan mengubahmu seperti Jessica yang dulu.”

“Dari mana kau tahu bahwa sekarang aku hobi minum?”

Luhan mengangkat bahu. “Hanya tahu saja.”

“Selama ini kau mengawasiku, ya? Aish, jika benar kau mengawasiku, kenapa kau tidak menunjukkan batang hidungmu di depanku, huh? Hey, Luhan, apa kau tidak merasakan bahwa—“

Ucapan Jessica terpotong ketika Luhan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessica, kemudian mencium wanita itu dengan lembut. Jessica pun tidak dapat memungkiri bahwa ia menikmati tindakan Luhan saat ini. Dia memejamkan mata seraya melingkarkan kedua tangan di leher Luhan. Membuat ciuman mereka semakin mendalam.

Jadi, inilah takdir yang mereka temui setelah beberapa tahun berpisah. Kini, biarkanlah mereka melepas kerinduan di bawah cahaya bulan dan pertunjukan air mancur dari banpo bridge yang indah. Biarkanlah mereka menikmati kebahagian setelah semua hal yang telah terjadi.

 

That’s the story of you and me. From the beginning, we were meant to be.

 

*The Destiny of Us – End*

Sorry for the late post everyone!!! Dan akhirnyaaa cerita ini tamat juga. Maaf jika endingnya gak memuaskan ya :’) dan, oh, iya. Sesuai dengan janji, aku sudah membuat dua versi ending dari ff ini. Bukan dua versi sih sebenernya, tapi lebih ke ending version dari sudut pandang Luhan. Di sini kan Luhan muncul di akhir-akhir dan tidak dijelaskan kemana dia pergi dan kenapa gak balik-balik selama tujuh tahun.

Nah, bagi yang ingin tahu mengapa Luhan pergi dan bagaimana caranya dia bisa balik lagi menemui Jessica, Silakan klik di sini untuk membaca another version dari ending the destiny of us ini. Sengaja tidak aku post di blog ini karena versi itu lebih menceritakan keadaan Luhan setelah berpisah dengan Jessica. Bagi yang berniat baca versi itu, jangan lupa tinggalkan komentar, kritik dan sarannya juga ya di sana ^^

Terima kasih bagi para pembaca The Destiny of Us yang udah rela meluangkan waktu untuk membaca dan mengisi kolom komentar. Dan terima kasih karena kalian bersedia menunggu chapter demi chapter ff ini yang selalu aja terlalu lama aku posting ;’) Sesungguhnya ff ini gak bakal tamat tanpa semangat dari kalian. Walau aku jarang membalas semua komentar karena faktor jarang online di pc, tapi aku selalu membaca setiap komen kalian dan hal itu membuat aku lebih terpacu untuk melanjutkan ff. Pokoknya, terima kasih, thank you, gomawo, arigatou buat kalian semuaaa ^^ love you all😀

 

 

 

 

 

[1] Sebuah tulisan periklanan yang ditulis dengan gaya bahasa jurnalistik. Bersifat persuasif. Mempromosikan suatu barang atau jasa kepada para masyarakat.

71 thoughts on “The Destiny of Us – Last Chapter

  1. Great ending!! Walau luhannya kurang greget. Seneng banget akhirnyaff ini dilanjut, sedih juga ini last chapter :[ pas baca rasanya dag dig dug gitu xD author keep writing !!

  2. oh yaampunn mereka …

    mengharukan banget endingnya , terus tadi juga sempet sedih banget pas di bagian temen temen jessie sudah bahagia semuaa ToT

    yaampunn sumpah simpah endingnya keren , aku kehabisan kata kataaa , authoorrrrr gatau mau bilang apaàaa yang jelas iini keren bangettttttsss

    berasa banget gitu feelnya , huhuu keren dah kereennn

    dan eum ini ada sequel kan ?’-‘ iya sequel pas jessie sama luhan udah nikah lagi terus bikin anak *plakk :v

    okay okay good job authorr ^^ thankyou ~~

    • Iyaaa…. kasian ya jessica. Berasa jadi jomblo ngenes gitu. Ah, semua ini gara-gara luhan T-T
      Aduh, kalau sequel aku bisaa… nanti kalau bikin sequel jadinya malah absurd u,u
      Hahahaha thank youuuu ^^

  3. wahhhh !!!!!!! kerennn !!!!!!!!!
    jessica akhirny kmbali brsama dngan luhan xD
    dan baekhyun bserta tman tmanny jessica yg lain pnya pndamping masing masing dan bidup bahagia xD
    dtunggu krya athour yg lainny dan smangat ne😉

  4. ya ampunn aku suka bgtt lho sama ini ff😀 nunggu nya lama sih sbnernya😮 tp gakpp akhirnya skrng lanjut dan ending😀 baguus bgtt thor😀 aku kasian sama keadaan jessica yg kek gtu😦 aku suka kata baekhyun ” cinta tak dapat diprediksi ” wkwkwk😀 aaaaa serrruu ceritanya😀 sebenernya aku pengen ini ff panjng dn masih lanjut😀 hahaha

  5. Happy ending~ Horray~~~~😀

    Aku juga udh baca Luhan ver. Hehe
    Tapi Jessie perubahannya drastis banget ya. Terkesan menakutkan bagiku. Tapi masih untung dia punya teman kaya’ Baekhyun-Yejin -pasangan menakutkan baginya- yang masih mau nyeramahin ini anak. Hehe

    Hmph! Tapi 7 tahun itu terlalu lama buat Luhan sadar. Menyedihkan!
    Kasihan Jessie juga yang harus terpuruk selama itu >o<
    Mana dia tetep cinta lagi sama Luhan. Gampang maafin juga. Padahal Luhan yang udah bikin dia kaya' gini. Salut buat Jessie ^^

    Ditunggu karya Lusica yang lainnya ya..
    Kalo bisa buat ff Haesica ataupun Kyusica -ini pasti sulit buat kamu- Hehe..
    I'm sorry cause I'm too biased T.T

    Chingu fighting!! ^^

    #sorry_baru_komen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s